Last Song

Last Song, Last Love

Langit cerah. Udara hangat membelainya. Ia tersenyum memandangi riak air laut yang bergelombang, tampak begitu indah.

Suasana disini masih persis sama dengan saat ia terakhir kemari tiga tahun yang lalu, sepertinya tak ada yang benar-benar berubah. Seolah waktu selama itu tak mampu merubah apapun termasuk perasaannya.

Ia memejamkan mata sesaat, angin kembali menerpa wajahnya. Ia senang berada di tempat ini. Di pantai ini. Selalu mampu membawa kenangan masa lalu kembali di hadapannya.

Membawa rasa bahagia yang masih sedikit tersisa untuknya.

Walau kenangan tersebut menyakitkan, mengiris hatinya tiap kali mengingat masa itu. Tetap saja, ia lebih memilih untuk mengenangnya ketimbang tidak sama sekali. Karena hanya itu yang ia punya, kenangan.

-Krystal Jung, Kim Joon Myeon/Suho, Jessica Jung-

Copyright & Cross-Posting by Gita Oetary

***

Memandang pria itu tak akan ada habisnya. Tak pernah cukup kata untuk menjabarkan keindahanya. Tiap mata memandang. Tiap hati memuja. Tiap raga mendamba. Itu saja tak cukup. Yang berkaitan dengan lelaki itu selalu lebih dari itu.

Dari sofa yang terletak di sudut ruang café suara lengkingan panjang yang menyayat hati itu terdengar sedemikian indah dan menyentuh. Seolah pria yang saat ini sedang menyanyikannya tengah terbebani perasaan sedih yang mendayu-dayu. Hingga ia pun larut dalam perasaan. Hingga hatinya ikut bersedih terbawa suasana hati sang penyanyi.

Dengtingan piano mengakhiri penampilan pria itu dengan dramatis. Kedua tangannya melayang di udara. Tepukan tangan langsung membahana dari seluruh pengunjung café tersebut.

Lelaki bernama Suho itu segera turun dari atas panggung setelah sorak-sorai penonton mereda. Ia berjalan anggun dan percaya diri, melewati meja-meja menuju tempat duduk yang terletak di ujung paling sudut café miliknya.

“Aku sering melihatmu,” kata Suho seraya duduk di kursi di depan Krystal.

“Aku memang sering kesini.”

“Kau melihat penampilanku barusan?”

“Itu adalah alasan mengapa aku sering datang kemari.”

Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka membuat percakapan tersebut terputus beberapa saat. “Terima kasih,” ujar Suho kemudian menatap Krystal lagi. “Lalu, mengapa kita tak pernah bicara sebelumnya?”

Krystal mengangkat bahunya, sambil tersenyum ia berkata, “permainan pianomu membaik dari hari ke hari.”

“Kau tak menjawab pertanyaanku, tapi terima kasih.”

“Entahlah, kurasa aku sedang menunggumu untuk mengajakku kenalan lebih dulu.” Seulas senyum tersungging indah di sudut bibir Krystal. Menggoda.

Suho tertawa singkat. “Kurasa itu adil, namaku Kim Joon Myeon, tapi aku lebih senang dipanggil Suho saja. Senang berkenalan denganmu.”

“Aku Krystal Jung, senang akhirnya bisa mengenalmu.” Krystal membalas jabatan tangan Suho sambil tertawa.

“Kau cantik.”

Tawa Krystal sekejap menghilang diganti tatapan penuh tanya pada pria yang baru saja dikenalnya itu. “Maaf, apa katamu?”

“Kubilang kau cantik. Aku belum pernah melihat senyum seindah itu sejak…” ucapan Suho terhenti. Perkataannya barusan langsung membawanya ke kilas balik kehidupannya yang ingin ia lupakan.

Ombak memecah tepi pantai. Burung berkicau dan angin berhembus kencang. Senja berwarna kemerahan mewarnai perasaannya yang bahagia melihat tawa di wajah cantik Jessica.

Suho mengambil sesuatu dari dasar kantung celana panjangnya, sebuah kotak persegi berwarna hitam berbahan beludru kini bertengger di atas telapak tangannya. Perlahan ia berjalan menghampiri Jessica.

“Sica,” panggilnya.

Gadis itu mendongak sambil tersenyum indah sekali. Ia datang menghampiri Suho.

“Kau senang?”

“Tentu saja,” jawab Jessica.

“Menikahlah denganku.” Suho menyodorkan kotak cincin yang tadi dipegangnya. “Maukah kau menjadi istriku, Sica?”

Bibir gadis itu bergetar. Angin kembali berhembus membuat tubuhnya menggigil. Senyum di bibirnya memudar. Ketika mendongak menatap mata Suho air mata membuat matanya kabur. Jessica menangis. Namun ditengah-tengah tangisannya bibirnya sedikit tersenyum.

Senyuman terindah yang pernah dilihat Suho. Senyum terindah yang hanya dimiliki Jessica, sampai hari ini…

“Sejak kapan?”

Pertanyaan Krystal serta-merta menarik Suho kembali ke dunia nyata, meninggalkan penggalan masa lalu dalam benaknya. Ia gelagapan namun masih dapat menguasai ekspresinya dengan baik. Sambil tersenyum Suho berkata, “seperti ibuku.”

Krystal tersenyum. “Kuanggap itu pujian.”

“Sayangnya itu memang pujian.”

***

“Aku sekarat, Suho-ya…”

Suho tak berkata apa-apa. Ia hanya bisa tersenyum kikuk mendengar lelucon yang dilemparkan Jessica kepadanya.

“Maafkan aku.”

“Untuk apa?” tanya Suho ketika akhirnya menemukan kejanggalan disuara Jessica. “Kau tak boleh seenaknya bercanda begini, Sica. Itu sama sekali tidak lucu.”

“Aku tak bercanda, Suho… aku benar-benar sekarat. Aku sakit.”

“Jangan berkata begitu. Jessica, kumohon. Maafkan aku, maafkan aku. Kau boleh marah padaku, kau boleh membenciku. Tapi jangan membohongiku seperti ini. Kumohon…”

“Aku juga sakit, Suho… aku juga sakit harus mengatakannya padamu. Tapi aku harus, sebelum terlanjur…”

“Terlanjur apa?” potong Suho cepat. “Terlanjur menikah denganku? Begitu maksudmu?”

“Kau tahu itu tak benar.”

Suho memang tahu hal itu tak benar. Jessica yang cantik, yang selama ini ia sayang tak mungkin membuat lelucon konyol seperti itu. Tak mungkin gadis itu sengaja menyakitinya. Tapi sekali saja, ia ingin meyakinkan dirinya kalau hal itu adalah kebohongan semata. Bukan sesuatu yang harus ia khawatirkan. Sekali saja.

Angin pantai berhembus lembut. Langit masih terang saat ia sampai disana, namun waktu terasa demikian cepat berlalu. Karena ketika tersadar hari sudah sangat sore. Ditangannya, Suho masih memegang kotak cincin yang dulu pernah ia persiapkan untuk Jessica. Gadis itu belum sempat memakainya ketika ia pergi untuk selamanya.

Tiap kali datang ketempat ini, bayangan masa itu selalu kembali lagi. Meskipun menyakitkan, Suho menyukainya. Meskipun ia harus menangis lagi.

“Aku rindu padamu, Jessica…”

Lelaki itu kembali menimang kotak cincin di tangannya, “aku masih rindu padamu.”

***

If the words spoken, between you and me. What would your favorite melody?

Even if the world suddenly changed overnight

With you around, we can sing the duet…

So don’t forget, never forget, my heart is yours

I want you to know, I’ll protect you with my everlasting eternal love

I love you, so love you, my everything is yours…

Ditempatnya yang biasa. Dimana ia sering menyaksikan penampilan Suho, Krystal bertepuk tangan. Tanpa sadar air mata menetes. Ia ingat lagu itu, jadi ia tersenyum.

Suho beranjak menghampirinya, “kulihat kau tersentuh. Apakah juga menangis?” tanyanya sambil mengerling nakal.

Krystal terkikik kecil dan mengangguk, “sedikit. Katakan padaku.”

“Apa?”

“Mengapa nyanyianmu selalu begitu sedih, Oppa?”

“Mengapa kau selalu ingin tahu?”

“Tidak boleh?” Krystal merengut. Membuat tawa menghias di wajah tampan Suho sekali lagi.

“Aku takut kau akan cemburu.”

“Tentang wanita lain?” tanya Krystal serius.

Suho mengangguk. Perasaannya entah mengapa langsung berkecamuk, tapi Krystal sudah tahu jawabannya. Jadi ia tetap mendorong Suho untuk menceritakannya.

“Mau ikut ke suatu tempat?” tanya Suho. Krystal belum sempat mengangguk ketika lelaki itu menarik tangannya.

 

Udara terasa hangat. Tidak sedingin biasa. Di samping Suho yang membisu, Krystal menerawang. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi ia terlalu takut merusak suasan diantara mereka. Lagipula, jika sudah waktunya Suho akan bicara sendiri.

“Kau tak ingin bertanya mengapa aku membawamu kemari?” ungkap suara Suho tiba-tiba.

Krystal sempat tersenyum, “kupikir kau pasti akan segera menjelaskannya kepadaku.”

“Karena kau bilang ingin tahu tentang wanita itu.”

“Sepertinya kau sangat mencintainya dulu, Oppa.”

Suho mendesah, ia menatap Krystal dengan ekspresi tak terbaca. “Aku masih mencintainya, Krys.”

Krystal memandang lekat wajah Suho. Ada sesuatu yang ingin ia cari disana, mungkin seberkas harapan. Atau mungkin sedikit kebohongan. Yang jelas hatinya nyeri saat Suho mengatakan kalau ia masih sangat mencintai Jessica, kakaknya yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena penyakit kanker darah.

“Yah, kurasa juga begitu. Semua orang, yang mengenalmu, bahkan mendengar musikmu pasti akan tahu. Apakah disana, ada kenangan yang menyakitkan, Oppa?”

“Tidak juga.”

“Kalau begitu, adakah celah untuk kumasuki?”

Suho nampak sangat terkejut dengan pertanyaan Krystal barusan. “Apa maksudmu?”

Mata gadis itu berkaca-kaca. Bukan karena perasaannya yang sakit. Tapi karena ia tahu kalau Suho tak mungkin menyediakan celah baginya untuk memasuki hati lelaki tersebut.

“Krystal?”

“Kurasa, aku sudah terlalu jauh. Mungkin, sudah saatnya aku pulang. Karena kau baik-baik saja. Jadi, sudah saatnya bagiku untuk kembali.”

Suho semakin tidak mengerti. “Apa yang sedang kau bicarakan Krys?” Krystal tak menggubris pertanyaan Suho, ia beranjak menjauh dari sana. Tapi Suho sudah menggenggam pergelangan tangannya. “Apa maksudmu berkata demikian, Krystal?” tanya Suho lagi.

“Maafkan aku, Oppa,” bisik Krystal. Setitik air mata berhasil jatuh di wajahnya.

“Krys…”

“Maaf karena aku tak seharusnya mencintaimu. Tapi aku melakukannya.”

Suho mematung. Kakinya terasa kehilangan kekuatan untuk menopang berat tubuhnya. Ia senang sekali mendengar pengakuan Krystal. Tapi bingung kenapa gadis itu justru menangis. “Aku tak pernah bilang kau tak boleh mencintaiku, kan?”

Krystal menggeleng frustasi, “tapi kau tak mencintaiku kan, Oppa?”

“Siapa bilang?”

“Jadi kau mencintaiku?” tanya Krystal.

“Siapa bilang?”

Krystal ingin sekali tertawa, Suho sepertinya sedang bercanda. Tapi hatinya sedang terluka, bagaimana ia bisa mengabaikan perasaannya kala itu.

Suho berjalan mendekat, ia membelai rambut Krystal sesaat. Lalu meraih gadis itu dalam pelukannya. Mendekapnya erat.

***

Hari ini tepat tiga tahun sejak kematian Jessica. Krystal menaruh buket bunga kesukaan Jessica yang di rangkai indah di atas kuburannya, berdoa sebentar sebelum memulai ceritanya seperti biasa.

“Onnie, dia baik-baik saja. Permainan pianonya sekarang jauh lebih bagus. Kau pasti senang melihat perkembangan Suho Oppa.”

Krystal diam sejenak. Menimbang-nimbang apa yang seharusnya ia ceritakan pada Jessica. Yang dapat menyamarkan perasaannya. Gemersik rerumputan yang terinjak langkah kaki seseorang mendekat. Krystal membuka matanya yang tadi sempat terpejam.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya suara lelaki itu. Krystal terenyak dari duduknya. “Siapa kamu sebenarnya?”

Krystal tergagap menyaksikan tubuh Suho yang menjulang di atasnya. Ia bergegas berdiri.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, mengapa kau ada disini Krystal?”

Krystal, gadis itu tidak menjawab. Ia hanya berdiam diri melihat kilatan amarah di mata Suho.

“Katakan padaku, bagaimana kau mengenal Jessica?” Krystal tetap tidak menjawab. “SIAPA KAMU?!”

“Aku adiknya.”

“Apa?”

“Aku adik Jessica.”

Sekarang giliran Suho yang terdiam tak bisa berkata apa-apa. Pantas saja. Pantas saja ia begitu menyukai Krystal, karena sebenarnya pada diri gadis itu ada beberapa bagian yang memang mirip dengan Jessica. Senyumnya, sikapnya, gaya bicaranya, bahkan sifat mereka juga hampir sama. Mungkin Krystal memang sedikit lebih keras kepala dan tangguh ketimbang Jessica yang lemah lembut. Tapi tetap saja mereka mirip.

Suho melepas buket bunga yang ia bawa sembarangan dan segera pergi dari sana dengan perasaan campur aduk yang tak bisa ia artikan.

***

Sudah lewat seminggu Suho tak memberi kabar. Datang ke café miliknya pun percuma. Lelaki itu tidak pernah ada disana. Krystal mulai jengah dengan keadaan yang tak enak begini. Ia ingin bicara pada Suho tentang perasaannya. Atau kalau memang tak boleh mengatakan isi hatinya, ia ingin sekedar mengobrol saja. Seperti biasa. Apa itu juga tak boleh?

“Ada apa kau mencariku?” tanya suara seseorang tiba-tiba.

Krystal mengangkat kepalanya dan memandangi orang itu tanpa ekspresi. Awalnya ia tak ingin datang ke café milik Suho, tapi saat ia keluar dari rumah tanpa tujuan langkah kakinya menuntunnya sampai kesini tanpa sadar.

“Aku sedang sibuk, katakan saja apa maumu.”

Krystal menelan ludah dengan susah payah. “Aku… ada yang ingin kubicarakan.”

“Katakan saja.”

“Aku hanya ingin minta maaf,” ucap Krystal.

“Maaf untuk apa? Karena sudah membohongiku?”

“Aku tak pernah membohongimu, Oppa!” tegas Krystal. “Aku sama sekali tidak pernah membohongimu atau menipumu.”

“Tapi kau tidak pernah bilang kalau kau adalah adik Jessica.”

“Aku ingin mengatakannya. Tapi aku takut…”

“Takut apa?”

Bola mata Krystal yang jernih berair saat ia mengangkat wajah dan menatap Suho, “maafkan aku. Aku tahu kau pasti marah, tapi aku tak kuasa mengatakannya kepadamu, Oppa.”

“Mengapa?”

“Karena aku mencintaimu.”

Sekali lagi meskipun rasanya seperti tersengat arus listrik yang menjalari tiap urat nadi yang membuat hatinya bergetar di dalam, Suho tetap tak bergeming. Walau dengan ini sudah dua kali Krystal mengungkapkan perasaannya. Sejujurnya, ia tak punya jawabannya. Ia senang berada di dekat Krystal, gadis itu selalu membuatnnya merasa nyaman. Tapi, bagaimana ia bisa menerima perasaan adik dari mantan kekasihnya?

“Maafkan aku Krystal…” tanpa sadar Suho mengatakannya. Ia terkejut saat menyadarinya. Tapi sudah terlambat bagi mereka untuk kembali.

Karena setelah mendengar permintaan maaf Suho yang adalah jawaban untuk perasaannya, Krystal mengangguk sambil tersenyum. Sebelum datang kemari, sejak beberapa hari lalu ia sudah berusaha menata hatinya. Kini tidak seharusnya ia terkejut dengan keputusan yang ia terima.

“Aku tahu, selamat tinggal, Oppa…” Krystal tersenyum lagi, kini untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar beranjak pergi dari sana. Beranjak pergi dari hati Suho yang tak pernah sekalipun terbuka baginya.

Mungkin sudah terlambat untuk menyesali semua hal yang ia lewati dengan sengaja. Selama ini ia hanya berpura-pura tidak tahu. Siapa yang ia bohongi sebenarnya? Saat melihat Krystal menjauh darinya, ia sebenarnya ingin menarik gadis itu ke pelukannya sebelum ia benar-benar menghilang. Tapi toh, Suho hanya berdiam diri melihatnya. Sementara punggung Krystal yang nampak lesu beranjak menjauh.

Sekarang, setelah lama termenung Suho akhirnya pergi mengejar Krystal. Mungkin memang terlambat, tetapi lelaki itu tak perduli. Ia terus berlari, tanpa memperhitungkan jarak yang sudah ia tempuh. Ia tak lagi perduli. Tak ada yang bisa membuatnya lebih khawatir ketimbang Krystal yang meninggalkannya.

 

***Five Years Later***

If the words spoken, between you and me made a song

What would your favorite melody?

Even if the world suddenly changed overnight

With you around we can sing the duet.

If the time you and I spend together became a song, I would play a little sad notes

Because happiness prefers friendly people..

I won’t change, will never change, my heart is yours, I want you to know

My everything is yours, so come here and stay with me

Setitik cairan sebening kristal jatuh di ujung matanya. Tatkala hatinya yang gundah kini diliputi kegelisahan. Suho menyelesaikan permainan pianonya yang apik di antara ribuan penonton yang memenuhi gedung pertunjukan.

Ia adalah seorang selebriti sekarang. Hidupnya ia dedikasikan untuk telinga penggemarnya. Seperti permintaan Krystal dulu, yang bilang kalau dia ingin mendengar permainan Suho lebih sering. Sekarang lelaki itu memenuhinya.

Seorang anak kecil berlarian di koridor. Gadis cantik dengan gaunnya yang berwarna ungu dan bando mahkota yang tersemat di telinganya membuatnya nampak seperti malaikat. Suho hanya bisa tersenyum menyaksikan gadis kecil itu berlarian.

Suho menghampiri gadis kecil tadi, “sudah waktunya pulang sayang,” bisiknya lembut.

Anak gadisnya yang cantik itu langsung tersenyum sembari mengangguk. “Appa,” panggilnya.

“Hmm?”

“Appa, aku lapar.”

Suho terkekeh geli, “Appa juga. Omma dimana?”

“Itu,” anak gadisnya yang kini ada dalam pelukan Suho menunjuk kearah seorang wanita berambut panjang yang tengah berjalan tergesa kearah mereka berdua.

Wanita itu yang adalah istri Suho tersenyum kepadanya, “maaf aku tadi keluar sebentar sehabis menonton pertunjukanmu, ada teman yang tiba-tiba menelpon,” ujarnya.

“Tak apa, ayo, Soojung sudah lapar,” kata Suho kemudian.

“Yobo,” cepat-cepat istrinya menahan langkah lelaki itu. “Teman yang tadi kuceritakan mau bertemu denganmu, katanya dia juga penggemarmu.”

Suho memandang istrinya, kedua alisnya terangkat.

“Boleh kan?” tanya istrinya lagi.

“Tentu saja sayang.”

Mereka bertiga lalu berjalan keluar, berbelok ke sebuah ruang tunggu di dalam gedung yang sama. Istri Suho terlihat begitu senang saat memperkenalkan sahabat lamanya kepada Suho.

“Yobo, kenalkan, ini teman yang kuceritakan tadi. Namanya sama seperti nama anak kita.”

“Senang bertemu denganmu lagi, Oppa.”

“Krystal?”

I won’t change, will never change. My heart is yours.

I want you to know, I’ll wrap you with my wholeherated selfless love.

Don’t forget, never forget, my heart is yours

I want you to know, I love you, so love you

My everything is yours…

-THE END-

Beautiful lyrics is “DUET” by HoMin TVXQ

I wish you all enjoy this fanfic. As ussual, DON’T BE PLAGIATOR, DON’T BE SILENT READER

And I hope I can get RCL from everyone

About these ads

About Nisha_bacon627

백현-영재-예성-혜성 | 엑소, 비에이피, 슈주, 그리고 신화 , ~나는 앞으로 만나서요 , 오빠들 :* ^^ |

Posted on Juni 9, 2012, in Angst, Oneshot, Romance and tagged , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. yahh.kirain si krystal nikah sama suho trus punya anak.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 10.424 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: