Vampire’s Den (Chapter 5)

Title                : VAMPIRE’S DEN (Chapter five)

Genre             : Romance, Fantasy, a lil’ bit action.

Author           : Beryl

Length            : Multi-chapter

Rate                : Teen

Main cast       : Exo M Kris, f(x) Luna, Exo K Chanyeol.

Another cast  : Exo K Baekhyun, Exo K Sehun, Exo K Kai, 2ne1 Sandara, Exo M Luhan, Exo M Lay, Exo K Suho, f(x) Victoria.

Anyeong readers~ ^^ *nari MAMA* author mau mengucapkan terimakasih banyak buat semua readers yang udah nunggu, baca dan comment2 di FF vampire’s den ini. Maaf, ya chapter five agak lama keluar nya, soalnya author lagi rada2 sibuk *deritaorangsibuk* *ditimpukreaders*. Tadinya chapter five mau dibikin jadi chapter terakhir, tapi kayaknya kurang ‘sreg’ jadi ceritanya di potong lagi~ kkkk. Makasih banyak juga buat para admin yang udah berbaik hati nge-publish FF ini~ kkkk. Happy reading~

VAMPIRE’S DEN (chapter five)

Ap77-eMCEAIN6eW.jpg large_副本_副本

Kris mendapati dirinya berdiri di sebuah jalanan gelap berbatu, sendirian dan kedinginan. Tidak ada setitik pun cahaya dari segala penjuru yang berusaha Kris capai.

Otot – otot Kris menegang, dia mencoba menemukan sosok Kai yang tadi membawanya ke tempat ini tapi Kris tidak melihat pemuda sombong berkulit gelap itu dimanapun. Bau tanah basah dan daun busuk menghantam cuping hidung Kris, mengirimkan gelombang rasa mual yang aneh nya terasa sudah tidak asing lagi. Entah bagaimana Kris merasa sudah pernah berada di tempat antah berantah ini sebelumnya.

Kris membuka kedua kaki nya lebar – lebar dan menyiapkan kuda – kuda bertarung, kemungkinan terburuk adalah dia akan diserang secara membabi buta di tengah kegelapan ini, entah oleh Kai atau musuh lain.

“Kris…” tiba – tiba Kris mendengar suara seorang wanita bergema memanggilnya,

Kris terkesiap.

Kris sangat kenal suara itu. Lembut, hangat, membangkitkan kerinduan yang menyakitkan dalam benak Kris bagaikan nyanyian putri duyung.

“Kris…” panggil wanita itu lagi,

Kris mundur beberapa langkah dengan goyah, kepalanya berdenyut seiring dengan kebingungan yang mulai merajai hatinya.

“Victori… a…” Kris tidak tahan untuk tidak menyahut, mata Kris memanas ketika merasakan nama tersebut di lidahnya.

“Ya, Kris. Ini aku…” jawab Victoria halus, “kau masih ingat aku rupanya,”

Kris menggigit lidahnya keras – keras, dia tidak pernah lupa nama itu, dan tidak akan pernah. Yang tidak di duganya adalah bagaimana suara itu bisa muncul.

Tanpa sadar lengan Kris terangkat, mencari – cari dalam gelap. Entah pikiran apa yang berputar dalam kepala Kris saat ini, keinginan untuk menemukan sosok Victoria yang sudah lama menghilang dari kehidupannya membuncah dalam diri Kris. Kerinduan yang dia tutupi selama berabad – abad kini memaksa untuk keluar dan menemukan pelampiasan.

“Dimana kau Victoria?”

“Aku disini, Kris. Apa kau tidak bisa melihat ku?”

“Tidak, aku tidak bisa melihatmu,” jawab Kris tersendat, “aku mohon, kemarilah… Temui aku…”

“Kau ini bodoh sekali,” sahut Victoria.

Mendadak Kris merasakan hawa dingin disekitarnya menghangat, dan cahaya mengikis kegelapan yang menyelubunginya seolah matahari terbit secara tiba – tiba. Kris menutup matanya sejenak. Dan ketika dia membuka mata, disana lah Victoria, berdiri dihadapan Kris dengan wajahnya yang selalu menghantui mimpi – mimpi Kris selama puluhan tahun. Mata bulat gadis itu menatapnya jengkel dan bibirnya cemberut, membuat Kris terengah tidak percaya. Victoria tampak begitu nyata, begitu hidup.

“Sudah selesai melamun sekarang kau, Kris?” tanya Victoria masam,

“Apa?”

“Dari tadi aku bicara padamu tapi kau tidak mendengarkanku sama sekali. Keterlaluan,”

Kris mengedarkan pandangannya kesegala arah, pemandangan dihadapannya membuat Kris terkejut. Kris berada di kampung halamannya di Cina, Cina ratusan tahun yang lalu. Semuanya tampak persis sama seperti yang selalu ada dalam ingatan Kris, Cina dengan para pedagangnya yang menyeret gerobak kesana – kemari dan orang – orangnya yang berkendara naik kereta keledai yang reyot. Victoria berdiri didepannya mengenakan tunik panjang warna merah kesukaannya, tunik yang menurut Kris terlalu sederhana untuk wanita secantik Victoria.

Dalam diam Kris menghirup aroma tanah basah tempat kelahirannya, mengisi kembali memorinya dengan kenangan – kenangan indah sekaligus menyakitkan. Masa – masa saat Kris masih menjadi manusia.

“Kau masih bersamaku, Kris? Atau pikiran mu itu sudah melayang lagi entah kemana?”

Kris berpaling menatap Victoria yang kini menautkan kedua alisnya kesal, sorot mata kekasihnya itu masih selembut yang Kris ingat. Jika ini semua hanya mimpi, ini adalah mimpi paling nyata yang pernah Kris alami.

“Maafkan aku…” jawab Kris ragu, “apa yang sedang kita bicarakan?”

“Kita sedang membicarakan penjualan arak tahun ini,” sahut Victoria mantap,

“Penjualan arak?”

“Ya, arak Cina belakangan ini kurang laku karena bersaing dengan minuman anggur dari barat,” Victoria berdecak pelan, “aku jadi khawatir,”

Kris memaksakan sebuah senyum kecil, “Kita sedang berduaan, kenapa kita malah membicarakan penjualan arak? Tidak romantis sekali,”

Tiba – tiba saja Victoria mencubit lengan Kris keras – keras, membuatnya mengerang kesakitan.

“Aduh, kau ini bodoh sekali, sih,” gerutu Victoria,

“Memangnya kenapa? Apa hubungannya penjualan arak dengan ku?”

“Jangan bercanda, kalau arak mu tidak laku bagaimana kau bisa dapat uang!?” seru Victoria lagi,

Butuh waktu beberapa saat bagi Kris untuk mengerti seruan marah yang keluar dari mulut Victoria, Kris mengernyit. Baru beberapa detik kemudian dia menyadari kalau dulu pekerjaannya adalah berjualan arak, sudah lama sekali Kris tidak ingat masa – masa saat dia tidak punya apa – apa.

“Kurasa kau tidak perlu mengkhawatirkan ku seperti itu,” bisik Kris sambil mendekatkan tubuhnya,

Victoria mendesah panjang lalu menyandarkan kepalanya pelan di bahu Kris. Mata Kris terpejam, menikmati aroma lembut rambut hitam legam Victoria yang dikepang. Dia sangat merindukan gadis ini. Jika ini memang mimpi, Kris tidak ingin terbangun lagi.

“Kalau kau terus – terusan tidak punya uang, kapan kita bisa menikah….”

“Menikah?”

“Tentu saja. Kau akan melamarku, kan, Kris? Jangan bilang kau akan meninggalkanku,”

Sengatan rasa sakit langsung menghantam hati Kris bagaikan pukulan palu godam, Kris menghela nafas kuat – kuat. Ini jelas hanya mimpi. Kris dan Victoria tidak pernah menikah, kata menikah tidak pernah sempat keluar dari mulut Victoria. Perjalan cinta mereka berdua terlalu cepat berakhir.

“Aku akan menikahi mu, gadisku… Tentu saja…” desah Kris lebih lembut,

Segurat senyum bahagia muncul di wajah cantik Victoria.

***

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini!?” Luna berseru gusar diantara kumpulan para iblis yang kini hanya berdiri mematung di tengah padang rumput setelah Kris menghilang.

Sehun jelas sekali tampak shock, Chanyeol dan Baekhyun terkulai lemah tak sadarkan diri di pangkuan beberapa werewolf yang sudah kembali mengambil wujud manusia, sementara Sandara memandangi Luna dengan tatapan yang sama tidak percayanya.

“Itu tadi teleportasi…” desis Sandara antara takjub dan ngeri.

“Apa itu teleportasi!? Mahluk apa tadi yang membawa Kris pergi!?”

Seluruh vampir dan werewolf yang ada ditempat itu kini hanya saling berpandangan bingung dan waspada, pikiran mereka pasti sedang tertuju pada pihak ketiga yang tiba – tiba merecoki pertempuran mereka. Wajar saja mereka tertegun, Kris menghilang begitu saja di depan wajah mereka tanpa ada portal atau apapun.

Luna merasa perutnya melilit. Ya, ampun Kris!

Kris yang bertubuh tinggi besar, sombong, keras kepala, dingin dan menyebalkan dibawa menghilang seketika oleh seorang pemuda kecil bertudung kedodoran. Bagaimana itu bisa terjadi?

“Aku ingat pemuda tadi…” gumam Sehun lirih, “dia… Kai…”

“Siapa?” tanya Luna,

“Salah satu anggota komisi iblis…”

Luna tersentak.

“Untuk apa komisi iblis…” belum sempat Luna menyelesaikan pertanyaanya, dia menutup mulut dengan kedua tangannya takut,

“Tentu saja pertempuran ini menarik perhatian mereka, Luna. Para were dan vampir sudah lama sekali tidak berselisih,” jawab Sehun lagi,

“Lalu apa yang akan mereka lakukan pada Kris? Kenapa hanya Kris yang mereka bawa?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Luna tersebut, alih – alih dengan sorot prihatin Sandara membimbing pandangan Luna kearah Chanyeol yang kini tampak sangat pucat dengan nafasnya yang terus melambat.

Ada dua bekas luka tusukan di bagian leher Chanyeol, itu adalah luka bekas gigitan Kris. Tapi berbeda dengan luka yang ada di pergelangan tangan Luna, luka di leher Chanyeol terlihat lebih mengerikan, dagingnya terkoyak parah dan darahnya terus mengalir. Luna merinding begitu tahu ternyata Kris bisa menyakiti orang lain seperti itu. Kenapa Kris tiba – tiba menggigit Chanyeol?

“Apa kau bisa menyembuhkan lukanya, Sandara?” tanya Luna agak tersendat, Sandara mengangguk pelan,

“Aku bisa mengobati luka luarnya dengan sihirku, tapi aku tidak bisa mengembalikan kesadaran nya. Vampir itu terlalu banyak mengambil kekuatannya,”

Dengusan jengkel keluar dari mulut Sehun ketika mendengar perkataan Sandara, vampir muda tersebut bergerak menjauh kearah para anggota klan nya yang lain.

“Tetap saja serigala itu bisa pulih,” ujar Sehun sinis, “lalu bagaimana dengan Kris?”

“Cih, aku tidak peduli dengan ketua mu itu. Biarkan saja dia mendapat hukuman yang setimpal dari komisi!” cibir Sandara tak kalah sinis,

“Tidak, tunggu dulu…” potong Luna cepat, “kenapa komisi ingin menghukum Kris?”

“Tentu saja karena vampir itu tidak tahu diri! Dia sudah merebut calon pasangan Chanyeol, membuatnya harus mengadakan pertempuran ini, dan hampir merenggut nyawa nya. Tidak peduli setampan apapun dia, vampir itu pembawa bencana!”

“Jaga bicara mu, Jin!” Sehun berseru sengit,

Luna menunduk, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sepertinya kata ‘merebut pasangan’ tidak cocok untuk di tuduhkan pada Kris, bagaimana pun Luna lah yang awalnya dengan ceroboh meminta perlindungan dari vampir itu. Vampir yang ternyata adalah seorang ketua klan.

Para iblis Troll yang tadi berkumpul di pinggiran padang rumput kini bergerak menjauh perlahan – lahan, iblis – iblis raksasa itu kehilangan minat mereka setelah pertempuran ini terhenti secara tiba – tiba. Dengan hati – hati Luna memperhatikan para prajurit vampir yang kelihatan mulai gelisah, agak sulit karena wajah mereka tampak sama dingin nya dan sama masam nya seperti saat sebelum mereka bertempur.

Luna penasaran apa yang ada di benak para prajurit itu. Kaum vampir terbiasa berada diatas angin, hampir tidak ada iblis yang bisa menyaingi superioritas mereka. Tapi kini dengan menghilangnya ketua klan mereka, mereka berada selangkah dibelakang para werewolf untuk memenangkan pertempuran ini. Harga diri mereka pasti sedikit teruka.

“Eeeerrggh…” tiba – tiba saja terdengar erangan panjang dari arah bawah yang menyedot hampir seluruh perhatian,

“Baekhyun!” jerit Sandara,

Sontak hampir seluruh werewolf yang ada disitu berlarian mendekati tubuh Baekhyun yang mulai sadar. Were berbulu kelabu itu menggerakan tubuhnya yang kini terlihat sangat rapuh, darahnya kembali mengalir dari lukanya yang masih terbuka.

“Uurgh…” erang Baekhyun lagi,

“Bertahanlah, Baek…” pinta Sandara dengan wajah khawatir.

Perlahan Baekhyun mengatur nafas nya, kedua bola mata nya yang sewarna perunggu tampak sedikit berair menahan sakit. Tubuhnya gemetar.

“Master…” gumam Baekhyun lirih, “dimana master?”

Luna tidak heran hal pertama yang dicari Baekhyun adalah master nya, ekspresi semua werewolf yang mengerubungi Baekhyun seketika berubah dari khawatir menjadi murung. Beberapa were bergeser kesamping, membiarkan Baekhyun menemukan sendiri tubuh Chanyeol yang kini masih tergeletak tak jauh darinya.

“Apa yang terjadi?” suara Baekhyun sarat dengan emosi, tapi tubuhnya belum bisa bergerak.

Tidak ada yang perlu menjawab pertanyaan Baekhyun tersebut, dengan melihat luka yang terpampang jelas di leher Chanyeol saja sudah cukup untuk membuat Baekhyun sadar apa yang sudah terjadi.

“Dasar vampir sialan…” desis Baekhyun marah, “apa master masih hidup?”

Sandara mengangguk perlahan,

“Dimana vampir itu sekarang?”

“Kai menjemputnya beberapa menit yang lalu…” jawab Sandara lagi, “menuju markas komisi,”

Otot rahang Baekhyun seketika menegang mendengar nama Kai disebut – sebut, ternyata nama itu bisa membuat iblis manapun jadi waspada. Baekhyun tampak kebingungan selama beberapa saat.

“Bagus,” akhirnya dia berkata tegas, “semoga jasad mayat hidup itu membusuk di penjara komisi,”

Denyutan rasa sakit langsung menusuk – nusuk kepala Luna saat mendengar perkataan kasar Baekhyun, dia mengerti dengan semua kebencian yang diarahkan pada Kris ini, tapi  jauh didalam dirinya Luna merasa amat bersalah. Dirinya lah akar semua kekacauan ini.

“Maafkan aku…” bisik Luna tanpa sadar,

Baekhyun dan Sandara memandangi nya dengan ekspresi yang hampir tidak dapat dibaca.

“Tidak,” sergah Baekhyun, “kau adalah calon ratu kami, Luna. Chanyeol sudah memerintahkan kami untuk mempertahankan mu. Kau tidak bersalah,”

“Tapi… aku yang memulai nya. Aku yang meminta perlindungan dari Kris,”

“Itu benar!” tiba – tiba Sehun berseru tinggi

Baekhyun terdiam sejenak untuk menghujamkan tatapan tajam pada Sehun.

“Omong kosong, Luna” bisik Sandara agak pelan, “gadis – gadis seperti kita pantas diperebutkan,”

“Kris tidak merebut ku,” tegas Luna lagi,

Baekhyun menggeser sedikit tubuhnya dirumput, mencari – cari posisi yang lebih nyaman.

“Sudah terlambat untuk membela vampir itu sekarang, saat ini mungkin dia sedang disidang oleh para anggota komisi,”

“Di sidang?” tanya Luna agak takut,

“Tugas komisi iblis adalah menyidang dan menghukum iblis – iblis yang tidak patuh pada aturan,” jelas Baekhyun lagi, “mereka biasanya memberi masa hukuman untuk satu atau dua abad,”

Rasa sakit dikepala Luna semakin menjadi – jadi mendengar informasi dari mulut Baekhyun, dari sudut matanya Luna juga bisa melihat wajah Sehun yang mendadak jadi lebih pucat. Bagaimana jika seandainya Kris dikurung selama beberapa abad hanya karena masalah ini? mengingat sifat Kris yang arogan, mungkin dia akan mengobrak – abrik markas komisi begitu sidang dimulai.

Tidak, Kris tidak seharusnya menanggung semua ini.

“Ini tidak adil… Kai harusnya tidak membawa Kris kemanapun,” desah Luna sambil menggigit pelan jempol kanan nya, “ kita harus melakukan sesuatu.”

***

Cahaya matahari yang menyorot lembut ke dataraan Cina terasa bagaikan berkah pengampunan dosa bagi Kris, selama ratusan tahun dia tidak pernah lagi merasakan cahaya matahari yang berlimpah seperti ini.

Sebisa mungkin Kris tidak melindungi matanya, dan berusaha fokus pada sosok Victoria yang kini berjalan santai di sampingnya meyusuri pinggiran sungai Yangtze. Kris menggenggam lengan Victoria erat, menikmati sensasi indra manusia biasa yang mengalir di seluruh tubuhnya. Jantung nya yang kembali berdetak, paru – paru nya yang kembali memompa udara, dan suhu tubuh nya yang kembali hangat. Kris bisa merasakan kedua pipi nya sendiri merona pelan melihat senyum malu – malu Victoria.

“Kita akan berjalan sampai kemana, Kris?” tanya Victoria gugup,

Kris hanya mendesah, dia tidak peduli lagi kemana langkah mereka akan berakhir asalkan bisa bersama seperti ini. Kris juga tidak peduli lagi dengan orang – orang yang memperhatikan mereka penasaran, orang – orang itu hanya membuat mimpi ini terasa lebih nyata.

“Kita akan berjalan sampai ke hilir…” jawab Kris tanpa mengalihkan pandangan nya sama sekali,

“Hilir sungai ini jauh sekali, tahu. Berminggu – minggu setelah ini baru kita akan sampai,”

Kris terkekeh pelan mendengar protes setengah hati Victoria.

“Kau tidak akan menyesal berjalan bersama ku…”

“Kau tidak pernah berubah, Kris. selalu saja percaya diri…”

“Bukan kah itu yang kau suka dari ku?”

Baru saja Kris melontarkan kata – kata tersebut, angin dingin mendadak berhembus kencang dari arah depan. Victoria memekik pelan melindungi wajah dan rambutnya dari terpaan angin.

Tiba – tiba saja cahaya matahari surut, dan langit menggelap. Langkah Kris langsung terhenti. Ada apa lagi sekarang? nafas Kris tercekat di tenggorokan.

Kris terjengkang ketika merasakan tanah di bawah kaki nya mendadak bergetar. Rumah – rumah kayu dan aliran sungai di sekitar Kris bergeliat – geliut, berubah menjadi jajaran pohon – pohon tinggi yang suram. Kris terjatuh, semuanya terjadi begitu cepat. Kemudian di hadapan Kris terpampang pemandangan yang sudah tidak asing lagi, gubuk reyot itu, sarang nya.

Victoria sudah tidak lagi berada di sisi Kris, alih – alih Kris melihat kekasih nya tersebut tengah berdiri dengan pandangan sendu jauh di depannya.

“Vic…” panggil Kris,

Perlahan di belakang Victoria muncul segaris bayangan hitam panjang. Kris langsung menyadari kalau tubuhnya tidak dapat bergerak untuk menghampiri gadis itu.

Bayangan hitam di balik punggung Victoria semakin mendekat, sebuah lengan ramping perlahan terjulur menyentuh leher jenjang gadis tersebut. Air mata meleleh dari kedua mata Victoria.

“Kris… Kris,” isak Victoria dengan wajah memohon “jangan tinggalkan aku…”

Darah mengalir pelan dari leher Victoria. Kris merasa seluruh tubuhnya terpaku di tanah, terpaku oleh rasa takut dan rasa bersalahnya, perasaan yang sudah matian – matian Kris kubur jauh di dalam benak nya. Kepala Kris berdentam – dentam, bau amis darah memenuhi udara.

“Kris…” erang Victoria lagi,

Kris tahu lengan siapa yang kini menggenggam leher jenjang itu, kesalahan terbesar Kris yang telah memberinya mimpi buruk selama berabad – abad adalah tidak mampu menahan lengan – lengan itu menyakiti Victoria. Dan sekarang semua itu terulang kembali di depan mata nya. Meski ini hanya mimpi tapi semua nya begitu nyata, begitu persis seperti dalam kenangan Kris. Seluruh tubuh Kris terbakar karena amarah.

“Eeerrrgh!” Kris berusaha menggerakan kedua kaki nya.

Tulang – tulang Kris bergemeretak protes, mengirimkan rasa nyeri luar biasa keseluruh persendian nya. Nafas Kris tersenggal – senggal.

“Vic…”

Kabut asap tebal menghalangi pandangan Kris.

“Hentikan, vampir. Jangan maju lagi,”

Tiba – tiba sebuah suara tenang dan halus menyeruak ke dalam pendengaran Kris seperti bunyi lonceng, suara seorang pria. Tapi itu bukan suara Kai.

“Bangun,” kata suara itu lagi, lebih kearah memerintah.

Rasa bingung merasuk ke kepala Kris. Paru – paru nya masih tidak bisa diajak bekerja sama, dada Kris serasa terhimpit melihat pemandangan Victoria yang terus tersiksa di hadapannya.

“Itu hanya kenangan, vampir, Lepaskanlah… Luhan, hentikan. Seperti nya vampir ini sudah tidak tahan,”

Lu… Han…

Kris meresap nama itu baik – baik di kepalanya, dia punya perasaan ingin merobek jantung pemilik nama tersebut.

Setelah itu, selama beberapa detik yang terasa sangat lama bagi Kris, bayangan Victoria memudar dari pandangan nya secara perlahan – lahan. Kepang rambut nya, sorot ketakutan nya, dan isak tangis nya meninggalkan Kris dengan entah rasa lega atau rasa duka yang mendalam. Yang jelas kini Kris tengah menatap kosong ke sebuah langit – langit tinggi sebuah bangunan, aliran udara sejuk menyapu keringat Kris perlahan.

Kesadaran dengan segera membanjiri otak Kris, pandangan nya langsung berkunang – kunang.

“Argh!” jeritan sakit tertahan di mulut Kris, seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam truk sampah,

“Tahan, jangan bergerak,” suara halus yang tadi menyadarkan Kris mendadak muncul kembali, “pasti berteleportasi dengan Kai telah membuat mu kelelahan,”

Kris dengan susah payah menoleh dan mendapati seorang lelaki yang pasti tidak lebih tinggi darinya kini tengah berlutut rendah di sebelah kanan nya. Kris tidak tahu siapa lelaki itu tapi dia menggunakan jubah bertudung yang sama dengan yang di kenakan Kai, jadi pasti dia seorang anggota komisi.

Berkebalikan dengan Kai, sorot mata anggota komisi yang satu ini tampak sangat menenangkan. Sebuah senyum kecil terukir di wajah nya yang ramah.

“Bagian mana yang terasa sakit?” tanya lelaki itu, lalu tangannya menyentuh bahu Kris perlahan.

Kris menyentak bahu nya keras – keras. Mau apa lelaki ini? Meskipun kini keadaan Kris luluh lantah, Kris bisa mengatasi nya sendiri. Yang ingin Kris tahu adalah kenapa dia berada disini bersama seorang anggota komisi sekarang.

“Sabar…” ujar lelaki itu lagi, “kau tidak ingin terus tergeletak di lantai, kan?”

Kemudian lelaki itu kembali mengusap bahu Kris, mata nya terpejam.

Kris menyentak bahu nya sekali lagi, tapi kali ini lelaki itu tidak melepas Kris. Perlahan – lahan Kris merasakan aliran dingin bergelenyar memasuki setiap ototnya. Aliran itu melepas simpul – simpul tegang dan menghilangkan tekanan di kepala Kris. Kris kini terdiam. Seluruh rasa sakit di tubuhnya berangsur – angsur berkurang, seolah lelaki itu menyerap rasa sakit tersebut. Kris melirik nya sekilas, lelaki itu tengah menggumamkan mantra yang entah apa arti nya.

Keram – keram di tubuh Kris berubah menjadi kesemutan ringan lalu menghilang sama sekali.

“Kau bisa bangun sekarang,” kata lelaki itu puas,

Kris menggerakan tubuhnya, dan tubuhnya itu kini terasa seringan bulu. Tidak ada satu luka lecet pun terlihat di kulit Kris, tidak ada tanda – tanda kalau beberapa menit yang lalu dia baru saja mengadakan pertempuran dengan sekawanan werewolf. Kris memandang lelaki di hadapannya dengan tatapan bingung dan waspada.

“Namaku Lay…” lelaki itu memperkenalkan dirinya sendiri tanpa di minta, “dan itu Luhan,”

Lay menunjuk kearah undakan yang lebih tinggi dari tempat Kris terbaring. Kris akhirnya berusaha bangkit berdiri, Lay disebelah nya mengikuti.

Kris seketika menyadari dirinya sekarang sedang berada di tengah – tengah ruangan luas bergaya gothic, dengan pilar – pilar besar berulir dan jendela – jendela tinggi. Cahaya bulan menyorot masuk dengan bebas keruangan tersebut menerangi lukisan – lukisan setan dan malaikat yang terlukis indah di langit – langit nya yang berbentuk kubah besar. Inikah kantor komisi? Apa mereka tidak punya ruangan yang lebih formal?

Kemudian Kris melihat kearah yang di tunjuk oleh Lay, disana berdiri seorang lelaki yang kira – kira sama tingginya dengan Lay dan juga mengenakan jubah bertudung. Lelaki itu berdiri disana dengan ekspresi datar.

Luhan.

Lay membalikan punggung nya dan berjalan mantap kearah Luhan, tapi Kris tetap bergeming, seperti nya tempat itu hanya untuk para anggota komisi. Segera setelah Lay berada di samping Kiri Luhan, Kai muncul dalam sekejap di sebelah kanan pemuda berwajah datar tersebut. Kris memalingkan kepala kearah lain, tidak suka melihat pamer kekuatan yang dilakukan Kai.

“Dari mana kau?” tanya Lay,

“Bukan urusan mu,” jawab Kai bersungut – sungut,

Kris berusaha menahan tawa dari mulut nya, mungkin saja anggota komisi bertubuh kecil itu baru kembali dari toilet.

“Jadi, vampir. Kau bertempur karena memperebutkan seorang wanita?” tanya Luhan langsung tanpa memperhatikan kedua temannya yang lain,

Kris agak tertegun, ada sesuatu dari suara Luhan yang terdengar sangat dingin. Sesuatu yang membuat wajah pemuda itu tetap datar tanpa emosi.

“Jawab pertanyaan ku, nama gadis itu Victoria?”

“Luna…” sambar Kai,

Tubuh Kris terasa hendak oleng kebelakang, dan itu membuat Kris luar biasa kesal. Dia tidak terbiasa merasa lemah dihadapan siapapun, meskipun Lay telah meyerap seluruh rasa sakitnya, anggota komisi berwajah ramah itu tidak mengembalikan kekuatan Kris sama sekali.

“Luna?” tanya Luhan sambil melirik kearah Kai,

“Luna seorang were berdarah campuran…” Kai menjawab tenang.

“Tapi yang kutemukan dalam kenangan vampir itu hanya Victoria…”

“Mungkin kau menggali terlalu dalam, Luhan. Kris baru bertemu dengan Luna dua hari yang lalu…”

Luhan menatap Kris dengan sorot mata pengertian, Kris memaki keras dalam hati.

“Kau yang menggali memori ku?” tanya Kris geram, “kau yang membuat mimpi – mimpi itu!”

“Aku tidak bisa membuat mimpi, tentu saja. Aku hanya melihat kilas balik ingatan mu, seperti menonton film, semua penyihir bisa melakukannya.”

Jawaban Luhan malah membuat Kris bertambah geram, dilihatnya Kai tersenyum sombong disebelah Luhan.

“Kau bertempur hanya demi seorang gadis yang belum kau kenal?” kini Lay yang bertanya heran,

“Jangan remehkan wanita, Lay…” jawab Luhan dingin, “wanita bisa menjadi pemicu perang yang hebat, seperti dalam perang kerajaan Troya…”

“Kau kebanyakan nonton film,” imbuh Kai cepat.

Kris menahan diri untuk tidak memotong perkataan ketiga anggota komisi yang semua bertubuh lebih kecil dari nya itu. Jelas – jelas mereka memiliki penampilan yang sangat menipu. Seperti Baekhyun, pikir Kris miris, were itu lebih pendek tapi memiliki ketangkasan yang jauh melebihi Sehun. Mungkin sebenarnya Baekhyun berusia lebih tua dari anak kecil itu.

“Jadi, siapa Luna dan siapa Victoria?” Luhan kembali bertanya pada Kris,

Kris mendengus keras mendengar pertanyaan tersebut, “Apa pentingnya bagi mu siapa mereka,”

“Aku harus tahu siapa yang menjadi pemicu sampai kau harus bertempur dengan para werewolf. Untuk sekedar informasi, Chanyeol memiliki hubungan yang baik dengan kami,”

“Jadi aku dibawa kemari karena Alpha male itu adalah anak emas komisi?”

“Bukan anak emas,” sahut Lay cepat, “salah sendiri kau tidak pernah memenuhi undangan kami setiap ada pertemuan,”

Kris memalingkan wajahnya kearah lain, ironis sekali dirinya baru saja memipikan Victoria dan kini para anggota komisi menanyakan Luna. Kenangan akan sosok Victoria di hati Kris tidak bisa di gantikan oleh wanita manapun, tidak selama Kris masih berjalan di muka bumi.

Tapi, yah, sial. Mendengar nama Luna di sebut – sebut membuat Kris ingin merasakan keberadaan gadis itu sekarang juga, kerinduan yang sangat ganjil. Padahal seperti kata Lay, bisa dibilang Kris tidak mengenal gadis itu sama sekali dan lagi mereka baru terpisah kira – kira setengah jam yang lalu.

Setengah jam.

Luhan berdeham.

“Kami membawa mu kemari karena ada seorang vampir yang mengaku kenal baik dengan mu, Kris…”

“Tentu saja sebagian besar vampir mengenalku,” jawab Kris sambil tersenyum, Kai memutar matanya dengan muak.

Wajah Luhan di atas undakan terlihat lebih muram ketika Kris berusaha menekan ketegangan dalam dirinya. Memang benar sebagian besar vampir mengenal Kris, kebanyakan tidak dengan cara baik – baik. Kris dikenal sebagai ketua Klan yang hobi merebut teritori dan membantai klan – klan lain, tapi itu dulu, ketika Kris masih muda dan haus kekuasaan. Sekarang? Kris bahkan tidak bisa menebak vampir mana yang bisa membuat dirinya diseret paksa oleh komisi seperti ini.

Kris menggeser posisi tubuhnya lebih dekat kearah Luhan.

“Sebenarnya kami tidak yakin akan mempertemukan mu dengan vampir yang satu ini, karena kami tahu ada sejarah buruk diantara kalian berdua…” suara Luhan terdengar seperti suara seorang juri pencari bakat yang sedang mengumumkan hasil audisi.

Lay bergerak – gerak gelisah disamping Luhan.

Hening beberapa saat. Kris mengepalkan tangan kuat – kuat disamping tubuhnya. Sial, kalau orang – orang ini punya kejutan untuk Kris, Kris akan lebih terkejut jika kejutan itu bisa mengejutkan dirinya. Kris adalah seorang vampir kuno, hampir semua hal yang bisa dibayangkan para iblis telah dialami oleh Kris. Dari mulai hampir terbunuh dalam perang, menyelamatkan diri dalam pebantaian vampir sampai merecoki politik Negara – Negara adidaya. Memang nya apa yang bisa dilakukan oleh tiga orang bertudung ini?

“Cepat beritahu saja siapa yang ingin menemuiku!” seru Kris mulai tak sabar,

Kris bisa melihat wajah Lay yang semakin resah, lelaki itu menggenggam kalung berbandul Pegasus, lambang abadi mahluk pembawa kesembuhan, yang tergantung dibalik tudungnya.

“Sebaik nya kita tidak buru – buru,” kata lelaki berwajah ramah itu,

Tapi seperti nya Luhan jauh lebih berhati dingin dari pada yang ditunjukan oleh wajahnya, Kris tidak asing dengan orang – orang seperti Luhan. Orang – orang yang terbiasa perintah nya selalu dituruti .

“Kai,” panggil Luhan tegas, “bawa vampir itu kemari,”

Dalam satu tarikan nafas Kris melihat pemuda berkulit gelap itu menghilang dari ruangan, dan dalam detik berikut nya dia kembali. Dengan membawa seorang vampir ber jas serba hitam.

Dalam sesaat itu pula Kris langsung mengencangkan kepalan erat tangannya. Dia tahu dia akan menyesali perkataannya kali ini. Terutama saat dia melihat vampir yang di bawa oleh Kai, dengan tulang rahang tinggi dan gaya rambut klimis nya yang masih sangat Kris ingat seolah bayangan vampir itu sudah tercetak secara permanen dalam otak Kris.

Segurat senyum tulus yang dibuat – buat tersungging di bibir vampir berwajah tampan tersebut.

“Nah, Kris…” Luhan mengangkat tangannya, menyentuh pelan punggung vampir yang kini berdiri di sebelah Kai, “ sekarang temui pencipta mu…”

“Pencipta…” vampir itu mengulangi kata dari mulut Luhan dengan nada puas,

Seluruh otot di tubuh Kris terasa sakit dengan keinginan untuk merangsek maju dan mengoyak tubuh vampire yang ada di hadapannya, menghilangkan senyum palsu di wajah vampir itu yang tidak pernah layu dimakan usia.

“Suho….” desis Kris dengan taring saling bergemeletak,

About these ads

About Nisha_bacon627

백현-영재-예성-혜성 | 엑소, 비에이피, 슈주, 그리고 신화 , ~나는 앞으로 만나서요 , 오빠들 :* ^^ |

Posted on Desember 9, 2012, in Action, Fantasy, Multi Chapter, Romance and tagged , , , . Bookmark the permalink. 18 Komentar.

  1. CIAT!!!!!!! Akhirnya keluar juga nih ff, aku nungguin sampe lumutan baru dipublish tega authornya /plak/

  2. laaaanjooooot…… ih bagus bgt dueeeh… kris geee.. aku padamu *gaje syndrom* poko’a ni panpic bagus bgt thor..

  3. thor ini kenapa lama bgt keluarnya T^T
    jangan cepet” ditamatin dong thor XD
    kkk
    lanjutannya ga pake lama ya thor #maksa .___.v

  4. kalo disearch kok chapter 3-4 gak ada ya ?

  5. /semogadibaca/ thor plis lanjutin. kan kemaren ini blognya eror. jadi mungkin ff yang author kirim kaga kekirim. coba kirim lagi, aku nungguin sampe lumutan ini

  6. thor…. -berlutut- coba chap 7nya dikirim. -pelukcium-

  7. Wah abang kece saya ‘suho’ si bapak pencipta vampire ? Whooo great …

    Lanjutt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 10.141 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: