What is Love?

What is love?

Nama author: Ailes Lee

Genre: marriage-life.

Length: 5.771

Main cast: Kyuna (OC); Baekhyun

PS: enjoy. Please comment and like J gamsahamnidaaaaa^^

 

-Kyuna

Di jodohkan? Aku rasa perjodohan ini cukup membahagiakanku. Bukan aku dengan senang hati dan suka rela membiarkan masa lajangku di renggut oleh pernikahan konyol ini, tapi aku bahagia karena aku dapat melihat lengkungan sempurna yang membentuk senyuman tulus itu menghiasi wajah kedua orang tuaku yang paling aku cintai saat ini.

Bagai jaman kerajaan dahulu kala saat sang pangeran di jodohkan dengan seorang wanita dari kelas menengah yang cantik dan pintar. Beda sedikit nasib mereka denganku. Sepertinya calon suamiku harus bertangan besi. Ya, tangan besi. Tangan yang di dominasi oleh besi yang kuat karena harus rajin-rajin mengelus dada akibat ulahku. Aku, bukan calon permaisuri idaman yang cantik, pintar juga pendiam. Aku tipikal berontak dan selengean. Selain itu aku seenaknya dan terlalu mementingkan kebutuhanku sendiri, maka dari itu… selamat untuk Byun Baekhyun karena telah mendapatkanku sebagai istrimu.

Aku merapihkan gaunku yang agak kusut karena aku tidak mau diam sejak tadi. Aku terus mondar-mandir mencari makanan tapi puji tuhan aku tidak menemukan sebutir nasi pun menempel di pinggiran pintu masuk.

aiiiissssh!!!!” rengekku kesal.

CK. Seseorang membuka pintu kamar pengantin wanita—kamar yang aku tempati saai ini—lembut.

Pria dengan tampang imut itu melangkah masuk lalu menutup pintunya kembali. Kini ia berjalan mendekatiku, menatapku ketus. “aku lapar.” Curhatnya tiba-tiba. “apa acara pernikahan ini akan berlangsung lama?” tanyanya dengan nada bosan.

Aku mengangkat kedua bahuku. “sepertinya akan berlangsung sampai tengah malam.” Ujarku lemas. “di luar tidak ada makanan layak makan?”

Baekhyun menatapku perih. “aku sudah berusaha untuk menggelapkan beberapa piring makanan untuk di bawa kesini, setidaknya untuk mengganjal perut. Tapi orang tuamu dengan gesit menarikku untuk menyambut para tamu di pintu masuk gereja.” Jelasnya panjang lebar.

Aku tertawa kecil. “yang sabar, ya?”

cih…” lalu Baekhyun terduduk di lantai, meluruskan kedua kakinya dengan ekspresi lega.

Kami terdiam. Aku menatapnya intens memperhatikan tiap lekuk wajah Baconnya dari dekat. “wajahmu… perawatan?” entah apa yang aku pikirkan, tiba-tiba mulutku bergerak melontarkan pertanyaan konyol.

Baekhyun menunjukkan ekspresi terkejut. Apa mungkin ia benar-benar melakukan perawatan wajah?

ani. Buat apa perawatan? Wajahku sudah tampan sejak lahir.” Percaya dirinya patut di acungi jempol kaki.

Aku mendengung panjang. “oooh… aku kira perawatan.”

CK. Kali ini pintu terbuka kasar.

“Baekhyun-ssi, acara akan segera di mulai.” Seseorang menyempulkan kepalanya dari balik pintu.

ne.” Baekhyun bangkit sekaligus lalu merapihkan stelan kecenya hari ini yang agak kusut. “apa kita harus benar-benar kissing nanti?” tanyanya sebelum meninggalkanku dengan nada bicara yang terdengar pervert.

Aku mengerutkan keningku. “sebagai penyambutan, boleh…” jawab ku dengan nada yang lebih pervert. Sebenarnya aku tidak mau mencium bibir Bacon itu.

Baekhyun tertawa konyol lalu menutup pintu ruang mempelai wanita ganas.

Tuhan, lancarkanlah dan percepatlah waktu. Aku benar-benar kelaparan… aku tidak mau mati konyol di hari pernikahanku karena kelaparan.

 

Pernikahan konyol itu ternyata berlangsung saaaaaaaaaaaaaaaaaangat lama, begitu lama sampai aku dan Baekhyun terkapar lemah tak berdaya di atas tempat tidur apartemen baru kami.

Kami sudah meringkuk di lahan tidur masing-masing seusai bebenah diri. Rasanya batreku low parah. Kalau handphone mungkin aku sudah meraung-raung berteriak “lowing battery”.

“HOAAAH… badanku sakit semua.” Baekhyun bersuara dari bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

“badanku juga. Apa harus kita panggil tukang pijat malam-malam begini?” usulku dari lubuk hati yang terdalam, berharap akan dapat sambutan meriah dari alien bertampang Bacon di sebelahku.

Baekhyun keluar dari selimut dengan muka lusuh seperti Bacon korban tabrak lari yang frustasi. “mungkin besok aku bisa menyuruh sekertarisku untuk mengirimkan tukang pijat.”

“besok?” ulangku.

Baekhyun mengangguk. “lebih baik sekarang kita tidur.” Lalu Baekhyun menutup kedua matanya dan mendengkur halus. Secepat itu ia tertidur?! Ah, aku lupa dia Bacon, tentu saja tidak perlu berlama-lama untuk jatuh terlelap.

Aku menggeleng pelan lalu menguap lebar dan memutuskan untuk mengikutinya meluncur menuju alam mimpi, berharap aku akan bertemu tukang pijat yang akan memanjakan seluruh tubuhku di dalam mimpi.

 

Aku membuka mataku pelan ketika suasana tiba-tiba menjadi terang. Sempat berpikir ‘apa aku di surga?’ tapi suara dengkuran halus yang berasal dari seseorang di belakangku menyadarkan pikiranku bahwa di surga itu hening dan tenang tidak ramai seperti ini.

Aku membalikkan tubuhku dan mendapati sosok menghenaskan sedang tertidur terlentang dengan sebelah tangan terlipat di belakang kepala belum lagi mulut yang menganga di tambah ada air terjun di sudut bibirnya juga kaus putih polos yang terlipat sampai membiarkan perutnya terbuka liar menyapa pagi indahku yang kelam.

“kenapa sosok seperti ini yang engkau berikan untuk mendampingi sisa hidupku, Tuhan?” aku menggigit bibir bawahku seraya menatap ngeri figur Baekhyun saat ini. Bacon bangeeeud sih looooo!

Aku memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan pura-pura belum lihat sosok Baekhyun pagi ini. Aku mengatur nafasku lalu menggeliat serentang mungkin. Pegal-pegalku sudah sedikit membaik. Sekarang aku lapar dan aku harus makan dan aku juga harus menyiapkan makanan untuk Baekhyun, itu artinya aku harus memasak untuk porsi 2 orang.

arraseo.” Aku berjalan meninggalkan korban bencana alam entah bencana mimpi—Baekhyun—itu menuju dapur menjalankan kewajibanku sebagai istri yang baik.

My real life is just begin.

Aku tersenyum puas ketika selesai menyiapkan segalanya untuk sarapanku denganNYA pagi ini. Sekarang yang harus aku lakukan adalah membangunkannya sebelum masakanku menjadi dingin dan tidak kece di lidah.

TENGTENGTENGTENG. Aku memukul pantat wajan dengan sendok tepat di samping telinga Baekhyun yang masih tetap pada posisi yang sama.

Ia menggeliat pelan seperti ulat lalu menutup kedua telinganya dengan bantal sekenanya.

“SARAAAPAAAAAN!!!” TENGTENGTENGTENG. Hahahaha aku suka mengerjainya seperti ini.

Baekhyun menoyor kepalaku ganas lalu membuka mata merahnya garang. “tidak ada cara yang lebih manusiawi, HA?” bentaknya kesal.

Aku menggeleng pelan. “ini sudah paling manusiawi untukku. Ayo makan! Aku sudah lapaaaaar.”

Baekhyun bangkit sekaligus dari tempat tidur lalu berjalan mendahuluiku menuju dapur.

Wajahnya terkesima ketika melihat dua gunung nasi goreng Beijing menghiasi meja makan pagi ini. “ini…” Baekhyun menunjuk dua piring nasi goreng itu dengan excited. “kiriman dari surga?” lanjutnya dengan nada dungu.

Aku mengangkat sebelah alisku antagonis. “surga?” aku menarik kursi meja makan lahanku dan segera mendudukinya rusuh. “kebetulan, jatahku yang dikirim dari surga. Itu… jatahmu di kirim dari kebun binatang.”

Baekhyun yang sudah duduk manis di tempat duduknya itu meresponku dengan dengusan mistis yang sulit di artikan. “hmm…” ia mulai menyendokkan suapan demi suapan ke mulutnya hingga penuh lalu berdecak kagum. Ya, masakanku memang tidak ada duanya. Tidak sia-sia aku di masukan secara paksa ke sekolah memasak oleh omma.

Sekarang ritual sarapan kami sudah selesai. Aku dan Baekhyun kembali tepar di atas tempat tidur. Hari ini kami cuti. Hanya sehari, besok kami sudah kembali ke kursi panas masing-masing di balik komputer kantor.

Aku adalah seorang anak gembala, bukan. Aku saat ini sedang memegang proyek agribisnis di kantor appa untuk kedua kalinya setelah sebelumnya aku berhasil menyelesaikan proyek penting yang membuahkan hasil yaitu perjodohan ini. Sempat menyesal karena telah berhasil menyelesaikan proyek itu kalau tahu ternyata hasilnya sekecut ini, tapi setidaknya aku bisa melihat orang tuaku tersenyum tulus… aku mengurungkan niat untuk menyesalinya. Dan Baekhyun, dia adalah CEO utama perusahaan keluarganya saat ini. Hari-harinya padat, berbeda dengan hari-hariku yang renggang walau sedang menjalani suatu proyek penting. Ada bahan nantinya aku akan tetap merasa sebagai jomblo sejati karena Baekhyun pasti selalu lembur.

“kenapa kamu tidak menolak perjodohan ini?” tiba-tiba Baekhyun menanyakan hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan dari sejak kami bertunangan 2 minggu lalu.

Aku menghembuskan nafasku kasar. “karena aku tidak mau melihat wajah appa murung karena aku menolak keinginannya. Apalagi pernikahan ini adalah harapannya yang paling besar untuk bisa menjadi keluarga dengan appamu yang sahabat appaku sejak SMP.” Jelasku datar. “dan kamu?”

nado. Aku juga tidak menolaknya dengan alasan yang sama.” jawabnya juga datar. “apa sebelumnya kamu punya pacar?” pertanyaan ini tiba-tiba membuatku galau. Aku kembali teringat pada sosok Jinki sanbaenim, kecengan abadiku yang tinggal selangkah lagi kalau saja perjodohan ini tidak terjadi.

Aku meringis pelan. “hmm… tidak. Dan kamu?”

“aku sedang menunggu seseorang pulang. Seseorang yang pergi meninggalkanku tanpa pamit.” Aku bergidik ngeri mendengar kalimatnya yang menurutku terlalu puitis untuk di sebut curcol dari seekor Bacon.

Aku berusaha menenangkan diriku dari bergidikan ngeri. “ahem…” aku menggisik hidungku anarkis. “lalu… jika dia pulang?”

Baekhyun menoleh padaku, menatapku dalam. Tatapan yang aneh tapi mampu membuat jantungku tiba-tiba berdetak meriah seperti suara 100 kaki kuda sedang berlari excited mengejar rumput dari surga yang tertiup angin.

wae?” tanyaku memecah keheningan yang membuatku kikuk.

Baekhyun tertawa kecil. “ani.” Lalu dirinya bangkit terduduk di atas tempat tidur. “aku merasa pernikahan ini seperti permainan.” Rasanya aku ingin berteriak a la band-band metal saat benyanyi, mengIYAkan penyataannya itu. “aku benar-benar menikahi orang yang cukup dengan 2 minggu aku mengenalnya.” Tambahnya. YAAAAAAAA!!!! Me too, tambahku dalam hati.

Aku ikut terduduk dan menunduk.

DRRRT. Handphoneku bergetar daaan à Ommonim is calling…

Aku membulatkan kedua mataku ketika mendapati nama yang tertera si screen handphoneku saat ini.

“jawab! Itu ommaku!” Baekhyun memberi isyarat kejam padaku.

Aku menekan tombol hijau pada handphoneku dengan segenap rasa gugup menyelimuti seluruh rasa cintaku pada nusa dan bangsaku. “Y-yeobo-seyo?” suaraku tiba-tiba mengecil.

“Kyuna?”

ne, ommonim?”

“bagaimana malam pertama kalian? Apa menyenangkan?” deretan pertanyaan ommonim membuatku kembali mengingat sambutan pagi hariku dan keluhan sebelum tidurku yang memprihatinkan.

Aku mengerutkan keningku serius. “menyenangkan, ommonim.”

“syukurlah. Sekarang kalian sedang apa?”

Ommonim kepo deh iyuuuwh. “k-kami… sedang mengobrol di kamar.”

“bisa ommonim bicara dengan Baekhyun?”

Aku memberikan handphoneku pada namja di sampingku yang sejak tadi sudah memasang raut wajah kepo abiiiizzzzzz, menatapku. “wanna talk with you.”

Baekhyun meraih handphoneku ganas lalu beranjak meninggalkanku di kamar sendirian. Namja aneh.

Ku lihat handphone Baekhyun tergeletak menggoda di tengah-tengah tempat tidur. Karena imanku yang goyah dan aku tidak cukup kuat untuk menahan tanganku ini untuk tidak menyentuh dan membongkar isi handphonenya, aku memutuskan untuk tidak sopan. Aku meraih handphone itu dengan sentuhan kriminal.

BIP. Baru ku buka kunci layarnya, tak kuasa jantung ini memompa darah anarkis ke sekujur tubuhku membuat tubuhku merinding seketika. Bukan karena Baekhyun menjadikan foto sadako atau foto setan lainnya yang menyeramkan sebagai screen photo handphonenya, tapi sosok yeoja dengan rambut ikal sebahu… dia tersenyum menatap kamera. Manis sekali, apa ini yeoja yang di tunggu Baekhyun? Kalau iya… aku kalah saing. Mukaku bahkan lebih rata dari tanah.

Kenapa aku merasa sesak melihat Baekhyun masih menjadikan yeoja itu screen photonya ya? Apa dia belum tertarik padaku? Kenapa aku memikirkannya? Kenapa aku begini? Apa aku mulai tertarik padanya?

Aku melempar handphonenya pelan lalu segera menutup kepalaku dengan bantal, menenggelamkan seluruh tubuhku—kecuali kepalaku—di dalam selimut. Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat kesal? Kenapa? WHY… WHYYYYY BABY?

Baekhyun kembali mendarat di kamar dengan muka stres akut. Aku bisa menebak apa yang telah di katakan ommonim padanya sampai membuatnya seperti mayat hidup begini.

“pasti minta cucu kan?” tebakku dengan nada excited.

Baekhyun mengangguk cepat. “dan omma menambahkan kata se-ce-pat-nya.”

Aku mengangkat sebelah alisku. “ah, pasti nanti orang tuaku juga mengatakan hal yang seperti itu.”

“hoaaaah… aku bahkan tidak pernah berpikir akan melakukannya denganmu.”

“aku juga. Akan lebih enak jika kita melakukannya dengan orang yang sudah kita cintai dari ujung rambut sampai ujung kaki.”

Baekhyun menyetujui perkataanku dengan bertepuk tangan sekali lalu menunjuk mukaku dengan ekspresi aneh.

Hari pertama kami sebagai sepasang pengantin baru itu berakhir cukup menyenangkan karena pada akhirnya kami habiskan dengan bermain kartu dan catur seharian.

 

Day 4.

Pagi ini aku diantar kerja oleh Baekhyun dan di sapa hangat oleh Jinki oppa yang sudah menungguku di ruangan ku.

“bagaimana pernikahanmu?” tanyanya ramah.

Jujur, hatiku meledak saat mendengarnya menanyakan pertanyaan itu. bagaimanapun ceritanya sekarang, Jinki oppa dulu adalah pria idamanku, kecengan abadiku yang membuatku menolak beberapa pria hanya demi untuk menunggunya. Tapi aku tidak bisa menolak yang terakhir—Baekhyun—karena penawaran datang langsung dari mulut ayah. “berlangsung dengan spektakuler.” Jawabku lirih.

“aku terlambat ya…” katanya random tapi aku mengerti maksud dari perkataannya.

“terlambat? Tidak. Mungkin aku yang terlalu cepat, oppa.”

Kami masih pada posisi berdiri dengan kaku. Aku di depan pintu masuk dan Jinki oppa di tengah-tengah ruangan.

“apa kamu mencintainya?”

JELEGUR. Kenapa harus orang yang aku cintai yang menanyakan apa aku mencintai orang lain—suamiku?

Aku berdehem pelan. “Baekhyun namja yang baik.”

“dan aku bukan namja yang baik?”

“b-bukan seperti itu maksudku… itu—”

“aku mengerti, Kyun.”

Percakapan kami berakhir ketika Baekhyun dengan tanpa angin topan badai meneleponku hanya untuk mengatakan “aku hari ini pulang lebih awal. Dan kau jangan lembut, arra?”.

“aku pamit.” Jinki oppa berjalan mendekatiku lalu mengecup keningku lama. Rasanya nyaman sekali. “mungkin kali ini giliranku yang menunggumu.”

Jinki sudah gila! Tidak mungkin aku akan bercerai dengan Baekhyun dan membuat orang tuaku murka. Tapi tidak mungkin juga aku membiarkan oppa menungguku yang harapan kosong.

Jinki oppa menghilang dari pandanganku meninggalkan aku yang tiba-tiba melankolis akibat perkataan terakhirnya. Andai waktu bisa di putar, pagi ini aku tidak akan pergi kerja jika tahu Jinki oppa akan menemuiku.

 

Aku pulang lebih awal. Bukan karena menuruti permintaan Baekhyun untuk tidak lembur, tapi karena pikiranku kacau akibat perkataan namja idaman hatiku tadi pagi.

TIIT. “aku pulaaaang.”

Betapa terkejutnya aku mendapati Baekhyun sedang masak dengan ekspresi sumringah di dapur. Sosoknya yang jangkung nan bantet itu cukup membuatku lupa seketika akan perkataan Jinki yang membuat hatiku melankolis.

“sejam lagi orang tuaku akan datang berkunjung kemari. Pergi mandi dan ganti baju, berdandanlah aku takut ommaku terkena stroke saat melihat menantunya lusuh seperti gelandangan seperti ini.”

Aku meringis keras menanggapi perkataan Baekhyun yang seronok itu. seenak jidat dia menyamakan muka bidadariku dengan muka gelandangan yang tidak bisa di pastikan kapan terakhir kali mandi.

babo.” Desis ku sangat pelan.

Seusai aku bebenah diri, aku mendengar suara pintu terbuka dan keramaian itu menyambut malamku menandakan akan ada bencana saat aku dan Baekhyun mengobrol dengan ommonim dan aboji.

Benar saja. Begitu kami mulai mengobrol di sela-sela makan malam bersama, pertanyaan keramat yang hukum pelafalannya sama seperti pelafalan nama Voldemort di Hogwarts itu (baca: tidak boleh di sebutkan) meluncur dengan indah dan lihainya dari mulut aboji, membuatku dan Baekhyun speechless tingkat langit ke tujuh.

“apa sudah ada tanda-tanda kami akan memiliki cucu?”

Bukan hanya suara petir yang menjadi backsound kami saat ini. Suara kuda, domba, singa, pesawat jatuh, ledakan bom sampai suara kentut Baekhyun di tengah malam pun terdengar risuh di telingaku dan Baekhyun. Kami terdiam 1000 bahasa.

“kenapa? Apa… kalian belum mela…ku…kannya?” tanya ommonim membuat kami semakin mematung.

Baekhyun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lembut. Terimakasih pria aneh ini akhirnya bisa mewakili suaraku. “kami sedang usaha, omma.” Jawabnya kaku.

“um… apa kalian butuh honeymoon?” tawar aboji.

Aku menggeleng cepat. “di rumah sudah cukup, aboji.”

“tidaaak… kalau di rumah Baekhyun selalu lembur dan pulang dalam keadaan capek berat, itu tidak cukup. Bagaimana kalau kalian pergi bulan madu… hummm… kapan ya?” ommonim.

“besok subuh berangkat, bisa. Kebetulan ada 2 tiket ke Jeju yang belum ada pemiliknya di kantor. Bisa aku berikan untuk kalian, penerbangannya besok subuh. Bagaimana?” aboji.

Have no choices. Checkmate. “gamsahamnida, omma… appa.” dan akhirnya kata-kata itu terlontar dari mulut Baekhyun dengan liarnya.

 

Honey moon event.

Kami mendarat dengan selamat di pulau Jeju dan akan stay di sini selama 7 hari 7 malam. Ya, semoga akan menjadi liburan yang menyenangkan. Liburan, bukan bulan madu.

“biar aku yang bawa.” Baekhyun mengambil alih menggusur koperku dengan gaya manly yang kaku membuatku terkikik geli. Kenapa tiba-tiba dirinya menjadi canggung seperti itu.

good husband.” teriakku lumayan keras.

Baekhyun hanya menoleh lalu meringis kecil.

Aku memperhatikan sosok Baekhyun yang berjalan didepanku dengan gagah. Badannya tegap, kulitnya yang putih semakin menyala terguyur sinar matahari pagi di pulau Jeju di musim panas ini. “perfect.” Aku memujinya secara terselubung. Sebenarnya di bandingkan dengan Jinki oppa, Baekhyun… 11-12lah. Sama-sama bermata sipit, kulit milky, senyum imut dan sering beraegyo juga humoris maksimal.

DEG. Lagi-lagi jantungku berdetak tidak jantungwi (kalau manusia tidak manusiawi). Ah, apa ini tanda-tanda aku berhasil move on dari Jinki?

BIP.

Kami di tempatkan di satu kamar besar dan megah, cocok sekali untuk pasangan pengantin baru berbagi cinta, di satu hotel bintang lima ternama di pulau Jeju ini.

“aihh… bau honey moon” desahku random.

“hoaaaah… aku bahkan belum memberitahu Yera akan cuti selama seminggu.” Baekhyun menaruh koperku dan kopernya di sudut kamar lalu segera menjatuhkan tubuhnya dengan santai di atas tempat tidur yang masih di bumbui bunga-bunga mawar merah yang bertaburan dimana-mana.

“aku juga belum ijin pada appa untuk cuti. Tapi… pasti aboji memberitahunya.” Aku terduduk di samping Baekhyun. “kenapa suasana kamar ini begitu romantis, ya…”

Baekhyun menatapku bingung. “tentu saja karena kamar ini di persiapkan untuk pasangan yang berhoney moon.”

“ayo kita bersihkan?” aku menarik tangan Baekhyun untuk bangkit.

Baekhyun setuju dan kami mulai membersihkan serpihan-serpihan kelopak mawar merah itu dari atas tempat tidur dan dari karpet kamar dengan semangat dan memakan waktu cukup lama.

3 jam kemudian. Kamar sudah bersih mengkilat.

Kami duduk santai di balkon kamar di temani teh dingin di tangan masing-masing. Siang ini Baekhyun tampak mengkilau dalam keadaan berkeringat yang membuat rambutnya semi basah. Wuuuhhhuuuuw…. seksi mameeeeen!

“jangan menatapku dengan tatapan memuja seperti itu.” ujarnya membuatku mematung seketika.

“eh…” aku mengalihkan pandanganku dari wajah Baekhyun ke langit cerah yang terpapar luas. “cih… aku hanya masih memikirkan bagaimana caranya mendapatkan kulit… semulus kulitmu.” Elakku asal.

Baekhyun tersenyum kecil. Sepertinya ia tahu aku berbohong. “ayo kita jalan-jalan di pinggir pantai?”

Aku menyetujuinya.

 

Last night honey moon.

Hubungan kami semakin dekat. 2 hari lalu Baekhyun secara tiba-tiba mengecup pipiku cepat lalu mengelus puncak kepalaku lembut. Terasa hangat dan nyaman. Ia menjadi sering menatapku dengan arti tatapan yang bisa ku tebak, sering tersenyum sendiri dan menjadi misterius. Dasar Baekhyun aneh.

Aku menarik selimut sampai menutupi kepalaku saat Baekhyun keluar dari kamar mandi hanya dengan gulungan handuk yang benar-benar hanya gulungan handuk. Biasanya ia sudah memakai celana pendek di balik gulungannya itu tapi kini pure hanya gulungan handuk.

“kenapa mengubur diri?” aku merasakan gerak-gerik Baekhyun menaiki tempat tidur dan mendarat di lahannya.

Aku keluar dari selimut dengan wajah blushing. “tidak apa-apa.”

Baekhyun tersenyum. Sekarang ia hanya mengenakan kaus putih polos yang tipis di padu dengan celana panjang kotak-kotak, penampilan yang sangat tidak biasa. Biasanya Baekhyun akan tertidur dengan kaus tebal dan celana pendek selutut.

“ada yang salah dengan penampilanku?” suara Baekhyun membuyarkan pikiranku. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku.

“kamu lapar?” ya, itu pertanyaan rutinku. Terkesan aku sangat—terlalu—perduli dengan kebutuhan lambungnya itu.

“hm… lumayan, tapi aku tidak mau makan.” Jawabnya singkat.

Aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan cepat menuju balkon untuk mengatur nafasku yang tiba-tiba tidak normal. Jantungku berdetak dugeun-dugeun dan tidak santai. Ada apa ini… kemarin-kemarin biasa saja.

Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangku membuat tubuhku seketika tegang. Baekhyun menaruh dagunya di bahu kananku lalu mengecup lembut leherku. Nah! Ada apa ini?!

“Kyun…” ucapnya pelan. “bisakah?”

Aku mengangkat sebelah alisku bingung. Baekhyun memutar tubuhku menghadapnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku sampai hidung kami beradu. “ayo kita lakukan?”

Lalu bibirnya mendarat bebas di bibirku. Ia mulai memainkannya dengan lembut dan anehnya tanpa nafsu. Aku merasa nyaman dengan perlakuannya.

Baekhyun melepas ciumannya dan menatapku yang masih membuka mata. “kenapa tidak meutup matamu?”

Aku mengerutkan keningku. “aku lupa.”

Baekhyun tertawa lalu memangkuku secara mengesamping dan melemparku dengan semangat keatas tempat tidur dan melanjutkan ritualnya.

Di hari ke 11 pernikahanku, aku melepas semuanya. Membiarkan Baekhyun memilikiku seutuhnya… dan melupakan Jinki oppa seutuhnya.

 

Pagi ini aku terbangun dengan senyuman. Aku tidak akan melupakan kejadian semalam bersama manusia yang masih meringkuk di sampingku, memeluk pinggangku erat… aku tidak akan pernah melupakannya.

“HOAAAAAH…” aku menggeliat serentang mungkin lalu secara perlahan menyingkirkan tangan Baekhyun dari pinggangku.

Baekhyun tampak menggeliat pelan lalu membuka matanya slow. “good morning.” Sapanya lembut.

“pagiii…” balasku sok imut.

Aku bangkit dari tempat tidur santai seraya meraih pakaian Baekhyun yang masih berserakan di lantai dan melemparnya pada si pemilik. Aku sudah berpakaian sejak kami ‘selesai’ tadi malam, berbeda dengan Baekhyun yang langsung tepar.

gomawo” Baekhyun segera mengcoveri tubuhnya dengan pakaiannya semalam.

Hari ini kami kembali ke Seoul dan kembali kepada aktifitas rutin kami sebelumnya.

 

A weeks later.

-Baekhyun

Seumur hidup aku baru menemukan yeoja tipe 8M seperti Kyuna. Menyebalkan, menyusahkan, merepotkan, mengherankan, menghenaskan, menyenangkan, menggelikan dan menggoda. Untuk kata yang terakhir, tentu saja wajar. Sebagai pria normal, wajar saja jika aku berpikiran macam-macam apalagi melihat pose-pose tidurnya yang terkadang seronok, seakan lupa bahwa dirinya telah menikah, atau sehabis mandi ia lupa membawa pakaiannya dan terpaksa keluar dengan gulungan handuk. Itu cukup membuatku menyebutnya menggoda.

Kyuna benar-benar bisa menjadi anak kecil, tante-tante bahkan nenek-nenek dalam waktu yang sama. Walau kami hanya tinggal berdua di apartemen, tapi keramaian 10 orang selalu terjadi setiap pagi dan malam. Setiap aku berangkat kerja dan pulang kerja. Mulut dan tubuh Kyuna seperti tidak pernah kehabisan energi. Ia membangunkanku dengan cara tidak manusiawi setiap hari, menggedor pintu kamar mandi jika aku mandi lebih dari 20 menit, cara berpikirnya yang unik membuatku selalu berdecak kagum dan aku baru menyadari bahwa mukanya lebih sering memerah akhir-akhir ini, apalagi setelah pulang honeymoon dan kejadian itu.

DRRT. You have one message.

 

Bos, minggu depan ada pertemuan rutin dengan bos dari perusahaan Youiko di Jepang selama seminggu. Aku lupa memberitahu. Terimakasih.

 

“yeaaaaah…” aku pastikan setelah pertemuan itu usai aku akan mengambil cuti 2 minggu untuk menenangkan diri.

TIIT. Aku membuka pintu apartemen pelan. “aku pulaaang.”

Sepi. Tidak ada sambutan meriah seperti biasanya.

“Kyun?”

Tidak ada jawaban.

Aku membuka pintu kamar dan mendapati sosok jangkung itu sudah meringkuk liar di atas tempat tidur dengan laptop di sampingnya yang masih menyala dan beberapa berkas yang tertumpuk seronok di meja kecil samping tempat tidur.

Aku membuka jasku dan menggantungnya di gantungan baju lalu beranjak mendekatinya. Aku menarik selimut yang semula berantakan di sekitar kakinya, sampai menutupi tiga per empat tubuhnya lalu meraih laptopnya untuk di matikan.

cih, yeoja liar.” Desahku pelan.

Aku menaruh laptopnya di atas meja riasnya lalu mensave semua data yang semula terbuka dan tercengang ketika mendapati dekstop background laptopnya menampilkan foto seorang namja tersenyum tulus menatap kamera dan bukan aku. Aku melirik si pemilik laptop yang benar-benar tepar lupa daratan.

Aku membuka documentnya dengan segenap rasa penasaran berlebihan (baca: kepo) menyelimuti otakku. Aku bukan tidak sopan membuka-buka gadgetnya dan mencari tahu privacynya, aku kan suaminya. Aku punya hak.

KLIK. Aku membuka file dengan nama PickPics lalu membuka lagi file di dalamnya dengan nama Me&Hm. Feelingku ternyata benar. Isi file itu adalah foto namja yang sama dengan yang menjadi dekstop background laptop ini. Tiba-tiba hatiku seperti tersiram racun tikus dosis dewa, pedih. Tidak sampai situ rasa kepoku berakhir, aku membuka file-file lain dan ada satu file yang menyambutku meriah. Isinya semua foto pernikahan kami, foto saat honeymoon dan foto kami berdua. Ternyata kami terlihat serasi di foto.

“ummh… Baek, sudah pulang?” suara itu nyaris mencabut nyawaku malam ini. Aku reflek menutup laptopnya dengan kejam. Semoga dia tidak menyadarinya.

Aku memutar tubuhku lalu tersenyum kaku. “tidurlah aku tidak lapar.” Ya, aku tahu apa yang akan ia tanyakan berikutnya. Pertanyaan rutin.

Kyuna kembali tertidur pulas. Aku segera meshut down laptopnya mencari aman lalu mengistirahatkan pantatku di kursi twalet.

DRRT. You have one message.

 

Hey. Bogoshipoyo.

 

“ha?” aku mengerutkan keningku. Siapa yang malam-malam begini menggodaku?

Ku tekan option, call dan panggilan tersambung.

yeoboseyo?” suara lembut itu menyapaku familiar.

nuguseo?”

“kamu melupakan aku?”

eh?

“Yejin. Aku Yejin.”

Aku tidak tahu itu ada suara petir dari mana, tapi suara petir itu terdengar jelas di telingaku dan sampai menyambar hatiku yang semula tidak santai menjadi anarkis.

“j-Yejin?” ulangku gagu.

“em… apakabar Baek?”

Aku tidak menjawab. Air mata menggenang di sudut mataku, rasanya aku sangat merindukan si pemilik suara ini. Aku sangat—terlalu—merindukan Yejin, cinta pertamaku yang selalu aku tunggu kepulangannya, cinta pertamaku yang membuatku mengurungkan niat untuk memiliki yeojachingu dan memilih untuk tetap menunggunya.

“Baek? Apa kamu masih disana?”

“em…” aku menjawab pelan.

Aku tertunduk menahan senyuman yang mekar di bibirku. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya dan memeluknya seerat mungkin, tidak akan pernah aku lepaskan lagi.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekatiku. Aku kembali tersadar dari kegilaanku menerima kenyataan.

“sedang apa?” Kyuna menundukkan kepalanya, mensejajarkannya dengan wajahku.

“suara siapa itu?” Yejin.

Aku menatap Kyuna kosong. Genangan air mataku mengering. Aku lupa bahwa aku sudah menikah ‘seutuhnya’ dengan istriku. Tapi perasaanku pada Yejin belum berkurang sedikitpun.

Call ended. Aku mereject panggilan masuk dari Yejin.

“siapa?” tanya Kyuna penasaran.

“Yera.” Jawabku kaku, dingin.

Kyuna mengangguk pelan. “apa katanya?”

Aku menatap punggung Kyuna yang kini semakin menjauh ke arah kamar mandi kamar.

“aku… ada tugas selama seminggu di Jepang.” Ujarku setelah berpikir cukup lama dan akhirnya mendapatkan solusi tepat.

Kyuna menghentikan langkahnya mendadak. “seminggu? Di Jepang? Meninggalkanku?”

“kalau mau ikut, bisa aku atur jadwalnya.” Jangan… jangan… jangan ikut.

gwaenchanhayo. Aku akan stay di Korea menyelesaikan proyek tercintaku yang tinggal 5 langkah lagi.” lalu Kyuna menghilang dari pandanganku, masuk kamar mandi.

 

Aku akan ke Jepang minggu depan, bisakah bertemu di sana?

 

Aku menekan tombol send dan terkirim. Pada. Yejin.

 

-Kyuna

Malam ini, aku mengantar Baekhyun sampai bandara. Baekhyun mengecup puncak kepalaku lama dan hangat lalu mendaratkan kecupan singkat di bibirku.

“hati-hati. Kalau sekiranya tidak sibuk, bisa kabari aku?” pesanku tulus. Aku benar-benar tidak enak hati melepasnya, entah akan terjadi apa pada manusia dengan status suamiku ini.

Baekhyun mengangguk pelan. “aku usahakan.”

Tak berapa lama pesawat Baekhyun take off meninggalkanku yang masih berdiri di Incheon, galau.

Aku menatap hampa pesawat Baekhyun sambil berdoa dalam hati, semoga tuhan melindunginya selalu. Aku belum siap menjadi janda.

 

Aku mendarat di kamar dengan selamat. Rasanya malam ini sepi sekali, lebih sepi dari kuburan sekalipun. Baru 45 menit Baekhyun pergi, kenapa aku tiba-tiba merindukannya? Tiba-tiba aku ingin menanyakan pertanyaan rutinku padanya.

“apa kamu lapar?” tanyaku entah pada siapa.

“ah, mungkin dia sedang makan sekarang.” Jawabku sendiri. Sedih memang kalau bicara sendiri begini.

Aku menutup mataku dan akhirnya tertidur pulas dengan cantiknya.

Keesokan harinya aku menjalani aktifitas seperti biasanya hanya saja kali ini aku sarapan tanpa Baekhyun menemaniku selama seminggu.

Aku duduk santai di kursi kerjaku di kantor dengan memasang raut wajah lelah. Bukan lelah bekerja, tapi aku lelah memikirkan Baekhyun. Aku merindukannya… aku meriiiiindukannya tanpa sebab. Mungkin aku mulai terbiasa dengan kehadirannya di sisiku. Apalagi setelah kejadian di hari terakhir kami bulan madu. Mungkin. Atau mungkin aku mulai mencintainya?

Next day.

Aku menatap sendu fotoku dengan Baekhyun di meja kerjaku. Kami berdua tersenyum konyol dengan kostum pengantin konyol kami. Aku melirik ponselku, Baekhyun belum mengabariku apa dia sehat atau sakit, susah atau senang sejak kemarin.

 

Yera, apa Baekhyun baik-baik saja?

Send to: Baek’s secretary

 

BIP.

 

Bos sedang makan siang, bos baik-baik saja.

 

Aku mengelus dadaku pelan.

Next day.

Lama-lama aku bisa gila menunggu balasan pesan dari Baekhyun. Kurang-lebih 15 pesan yang aku kirim padanya dan tidak ada satupun yang ia balas. Aku coba menghubunginya, tidak ada jawaban. Manusia itu membuatku jengkel saja.

Demi mengurangi rasa frustasiku karena menahan rindu pada sosok yang tampaknya tidak merindukanku, aku memutuskan untuk migrasi ke rumah orang tua Baekhyun karena orang tuaku sedang mengurus pekerjaan di Washington.

Next day.

Ternyata mertuaku sangat baik dan ramah membuatku betah tinggal di rumahnya, apalagi aku tidur di kamar Baekhyun. Aku berhasil membongkar-bongkar masa remajanya. Aku menemukan beberapa foto mesranya dengan pacarnya ketika SMA, Yejin, dan beberapa tulisan-tulisan random Baekhyun mengenai Yejin. Ternyata yeoja yang dulu ia curcolkan padaku itu, yang katanya ia tunggu dan pergi tanpa pamit, itu adalah Yejin. Di buku journalnya, Baekhyun menuliskan bahwa ia menemukan Yejin yang ternyata mendapat beasiswa ke French untuk sekolah design. Yejin. Apa Baekhyun masih menunggunya?

Next day.

Aku demam dan sendirian. Aku sudah kembali mendarat di apartemenku. Aku hanya migrasi sehari di rumah mertuaku dan pulang dalam keadaan demam tinggi. Aku sangat merindukan Baekhyun…

Tanpa sadar aku menangisinya. Menangisinya kenapa aku harus merindukannya like a crazy seperti ini?

Next day.

Aku demam tinggi dan merawat diri sendiri. Aku tidak masuk kerja dan terkapar lemah di atas tempat tidur dengan foto Baekhyun di tanganku. Aku benci merindukannya!!! Merindukannya sangat menyiksa jiwa dan ragaku.

Last day.

Hari ini Baekhyun pulang. Aku memaksakan diri untuk menjemputnya walau Yera bilang Baekhyun akan di antar pulang oleh mobil kantor, tapi aku ingin sekali memeluknya. Aku terlalu merindukannya sampai aku lupa cara bernafas karena begitu merindukannya.

Aku menginjakkan kakiku di Incheon dan menunggu dengan tidak sabar kedatangan suamiku di pintu kedatangan.

DEG. Hatiku begitu sakit ketika melihat Baekhyun muncul dari balik pintu kedatangan dengan menggandeng seorang yeoja yang familiar di mataku. Yeoja yang di tunggunya dan kini telah pulang. Yeoja yang sejujurnya membuatku khawatir entah khawatir akan apa.

Aku membalikkan tubuhku dan berjalan cepat menuju mobilku yang aku parkir di luar bandara. Kepalaku tiba-tiba sakit. Sangat sakit, tapi aku masih bisa menahannya. Perutku mual sekali. Air mataku tak terbendung dan berangsur-angsur keluar membanjiri kedua pipiku.

Aku benci kenyataan. Kenapa aku dengan bodohnya merindukan orang yang benar-benar tidak merindukanku? Kenapa aku dengan bodohnya menunggu orang yang jelas-jelas sedang bersenang-senang dengan yeoja lain? Kenapa?

Aku membanting pintu mobilku super kasar dan segera tancap gas menuju apartemen sebelum batreku low dan aku pingsan memalukan di tengah-tengah perjalanan.

TIIT. Aku membuka pintu apartemenku rusuh. Kurasakan sakit yang hebat menyelimuti kepala indahku ini. Aku tidak mengerti apa kutu-kutu di rambutku sedang perang atau bagaimana sampai menimbulkan efek sakit kepala hebat begini.

Aku menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur lalu meraih foto Baekhyun dan memeluknya erat. Jinjja bogoshipo… jinjja saranghaeyo…

 

Aku membuka mataku pelan dan mendapati suasana putih di depan mataku. Apa ini surga? Aku menggerakkan tanganku untuk menyentuh matakku pelan. Ternyata ada kain putih menutupi mataku. Aku menyingkirkan kain itu dari pandanganku dan mendapati Yejin sedang duduk di samping kananku dan Baekhyun duduk dengan raut khawatir di samping kiriku.

“pagi.” Sapaku konyol.

Yejin tersenyum lembut. “sudah baikan?”

Aku masih mengumpulkan nyawaku yang bertebaran dimana-mana. “kapan pulang?” aku melirik Baekhyun.

YA! Apa yang kau makan sampai membuatmu seperti ini?” amuknya ganas.

Aku bangkit terduduk sebari memegangi kepalaku yang masih sakit. “aku.. makan… makan… apa ya?”

Baekhyun menarikku kedalam dekapan beruangnya. “tidak ada yang menjagamu?”

Aku menggeleng pelan. “ani, aku baru sakit dari 2 hari yang lalu.” Kalau sakit hati dari 6 hari yang lalu, tambahku dalam hati. “dia siapa?” aku melirik Yejin pura-pura polos padahal bercorak. (baca: mengenal Yejin)

“Yejin. Dia… sahabat lamaku.” Baekhyun mengenalkan Yejin dengan kaku.

Aku tersenyum menyapanya. “annyeong.”

Tak berapa lama Yejin pamit pulang meninggalkan aku dan Baekhyun berdua dalam keadaan kikuk—untukku.

“dia yeoja yang aku tunggu. Yang pernah aku ceritakan dulu.” ujar Baekhyun sepeninggal Yejin. “jangan salah serap, aku memang janjian di Jepang dengannya untuk menyelesaikan masalah kami yang belum beres.” Aku tidak menyangka Baekhyun akan jujur seperti ini. “aku menceritakan bahwa aku masih mencintainya sampai saat aku menikah denganmu. Pada awalnya….”

 

/flashback/

-Baekhyun

5 hari aku mengurus pekerjaanku yang padat, hari ini… 2 hari terakhir, akhirnya aku bisa bertemu dengan Yejin dan memeluknya.

DRRT. You have 20 missed call and 60 messages from Yeobo.

Aku menatap layar handphoneku geram. Aku tidak ingin membaca pesannya atau mengangkat teleponnya. Sangat tidak ingin.

Aku mencabut batrai handphoneku dan meninggalkannya di kamar hotel untuk menemui Yejin.

Kami berbincang cukup lama dan tanpa sadar aku terus menceritakan Kyuna padanya. Aku sudah menjelaskan pernikahanku dan perasaanku pada Yejin yang tidak berkurang sedikitpun—menurutku. Tapi…

“tampaknya sosok Kyuna itu sekarang ini sangat penting bagimu ya?” kata Yejin saat itu membuatku terpaku heran. “apa kamu sadar, sedari tadi yang kamu ceritakan hanyalah Kyuna. Manis tawanya, berisik suaranya… kamu begitu mencintainya ya?”

Anehnya aku seperti mengiyakan perkataan Yejin saat itu. Jantungku berdetak lambat dan ketika aku memikirkan sosok Kyuna, tiba-tiba detaknya menjadi tidak manusiawi. Aku menunduk dan tersadar bahwa aku merindukan Kyuna… sangat.

“aku ingin bertemu dengan istrimu sepulang ke Korea nanti.” Ucap Yejin lembut.

Aku mengiyakan.

Aku kembali ke hotel dengan perasaan campur aduk. Aku menyalakan handphoneku dan mulai membaca semua isi pesan yang Kyuna kirimkan. Ia merindukanku, ia menanyakan kabarku, ia marah karena aku tidak membalas pesannya. Aku tertunduk seraya menutup mataku. Bukan aku benci mendengar ponsel berdering menampilkan namanya atau pesan masuk yang juga menampilkan namanya. Aku takut, aku takut merindukannya. Aku tidak mau memikirkannya, aku takut pekerjaanku gagal karena aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Memikirkan hari-hariku yang terasa sepi tanpa kehadirannya. Aku juga sangat merindukan mu… Kyuna… tapi aku baru sadar itu.

/flashback/

 

Aku tidak menyangka kenapa ceritanya menjadi seperti ini. Aku memeluk Baekhyun erat melepas rasa rindukku. Rasanya aku sangat mencintai namja ini sekarang. Bahkan Jinki oppa pun kalah saing.

 

9 months later.

-Baekhyun

Aku menatap sosok Kyuna dengan perut buncitnya berjalan-jalan lincah di sekitar dapur. Ya, dia sedang mengandung anakku, anak kami maksudnya. Itulah buah honeymoon 9 bulan lalu.

“nah. Ini… Kimbap kiriman omma dan Topoki buatanku.” Kyuna menyajikan 2 piring besar makanan yang baru saja ia sebutkan.

gomawo.” Ujarku sok imut.

Kyuna menarik kursi di hadapanku dan mendudukinya pelan. “ah, semakin hari perutku semakin berat, aku jadi sering sakit pinggang.” Keluhnya sebelum mulai menyuapkan sarapan kami—jatahnya—pagi ini ke mulutnya.

Aku tersenyum. “apa tidak cukup aku elus-elus setiap malam? Tidak mengurangi keluhan?”

Kyuna menggelengkan kepalanya cepat. “oh iya… aku sudah mulai merasa mulas-mulas tapi masih jarang. Kata Yejin itu kontraksi palsu, lalu kontraksi aslinya kapan?”

“sabar, mungkin sehari atau dua hari lagi anak kita akan lahir.”

“tapi prediksi kelahiran masih seminggu lagi.”

Aku hanya bisa terkekeh melihat raut frustasinya. Sepertinya ke excitedan di awal kehamilannya sudah berkurang.

“DUH—” Kyuna menghentikan aktifitasnya menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya, beralih memegangi perut dan pinggangnya. “Baek… ini mules banget… Baek!!!”

Aku panik. Aku langsung menggiringnya menuju mobil dan segera meluncur menuju rumah sakit ibu dan anak terdekat.

 

“sepertinya tidak bisa lahir normal.” Ujar si pa dokter dengan wajah memkau itu.

“kenapa dok?” tanyaku penasaran. “jadi harus di operasi?”

Dokter mengangguk cepat. “tapi kita coba dulu lahir normal. Tampaknya panggul nyonya Kyuna sempit dan tidak memungkinkan kepala bayinya untuk turun.”

“ah…”

“tapi kami coba dulu, sepertinya bayi kalian kecil.”

Dokter masuk ke ruang persalinan atau para suster menyebutnya dengan ruang VK. Aku menunggu dengan gelisah di luar karena tidak cukup berani melihat proses persalinan yang sepertinya menakutkan.

20 menit kemudian.

“Tuan Baekhyun?” seorang suster menyempulkan kepalanya memanggil namaku dari dalam ruang persalinan.

“ya?” jawabku khawatir.

“nyonya Kyuna minta di temani.” Sahutnya ramah.

Ini adalah cobaan terberat bagiku. Aku tidak kuat lihat darah, Kyun. Kenapa tidak mengerti?! “baiklah.”

Aku masuk dan bayiku belum lahir. Aku berlari kecil menghampiri Kyuna yang pucat dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya.

2 jam kemudian. Bayi laki-laki kami lahir secara normal dengan berat 3000 gram dan panjang 50 cm. Alangkah bahagianya aku ketika melihat anakku lahir dengan selamat dan istriku yang berjuang mati-matian untuk mengedan.

Aku melirik Kyuna yang… tertidur?

“dok, ibunya… dok ibunyaaa…” suster menarik tangan si dokter dengan panik.

Tiba-tiba aku diseret keluar dan seketika aku mengetahui ada yang tidak beres dengan Kyuna.

Aku berdoa. Semoga tuhan menyelamatkannya. Aku tidak sanggup hidup bila tanpanya. Aku menutup mataku dan menunduk sebari terus berdoa.

 

 

A years later.

appa… ini buat appa.” Baekyu mengasongkan setangkai bunga tulip yang ia dapat entah dari mana, padaku dengan ekspresi menggemaskannya yang mirip sekali dengan ekspresi muka Kyuna.

gomawo” aku memeluk tubuh kecilnya.

appa apa omma menyayangiku di surga sana? Kenapa omma tidak pulang-pulang?” Baekhyun menatap Baekyu lembut.

“tentu saja omma menyayangimu. Omma sedang sibuk, Yu. Nanti omma akan pulang dan masuk dalam mimpimu.”

 

Done.

 

Extra.

“aku senang melihatnya bahagia dengan siapapun itu.” Yejin memeluk kecil lengan Jinki.

“aku juga senang karena buah aku menunggunya ternyata manis.” Jinji melirik Yejin lembut.

 

KKEUT.

About these ads

About mongguu

one who writes fics for her otp

Posted on April 9, 2013, in Oneshot, Romance and tagged , . Bookmark the permalink. 54 Komentar.

  1. ralat akhirnya dong -..- ga asyik nih

  2. thor udah melayang kesenengan kyuna udah lahirin eh mlah dijatuhin kyunanya meninggal…sakit thor kkkk

  3. Cerita awal-nya bikin ngakak tapi akhirnya kenapa Jlebb banget??
    Kalimatnya nyantai, asik..
    Keren Author!!

  4. kyunany mninggea,,, mnta sequelny donk

  5. sakit bgt sih thor endingnya T____T
    sequel bisa kali ya? ceritain jinki sama yejin kkkk~

  6. ceritanya bagus thor…. tapi ending nya koq gitu…
    apa ada sequel nya??

  7. adduuuuh.. Ujung’nya bikin nyesek !
    Berasa lupa untuk bernapas pas baca endingnya . . .

    Gak bisa happy end aja apa thor ? Gak rela niiih . . . .

  8. thor endinya ngenes banget masaaaaa -_- hua thorT^T

  9. Astagaaaa knapa meninggal…..? T.T kirain nanti bakal hidup bahagia gitu rada lamaan dikit…. (?) Aaaaa ><

  10. My Handsome Devil -sechan

    kenapa kyuna nya meninggal thoooorrrr!
    paling ga suka sama sad ending
    tapi ffnya keren banget!!
    daebak thor!! bikin lagi ya thooor! tapi yang happy ending yaaa!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 10.392 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: