The Legend Of The Knights (Chapter 5)

The Legend of The Knights :

The Tree of Live PART 5

Cast: Pokoknya semua member EXO ada!

Lee Yoon Hee (OC)

Kwon BoA as Lee BoA

Kangta as Lee Kangta

Lee Soo Man as Lee Aboji

Other

Support Cast:

Suzy Miss A

Zhoumi SJ-M

Genre: Action, Sci-Fi, Fantasy, Romance, Friendship, dll

Author: @riezka03

Rating : PG-15

Length : Chaptered

legend new 2_副本

Disclaimer: The Story isn’t all mine, maybe inspired by Exo’s MV MAMA and some other stories. The casts belongs to SMEnt. If you want to copy, make sure you have my permit! No SIDERS! No PLAGIARISM!

 ______________________

Suara burung berkicau menggema diantara pepohonan di hutan kala itu. Matahari makin menyembunyikan sinarnya seiring dengan berjalannya waktu. Suasana sepi mencekam mendadak terasa di tengah hutan rimbun, dimana sekelompok anak manusia sedang berjalan mencari jalan keluar.

“Kita sudah melewati pohon ini tiga kali. Apa kau yakin ini jalannya?” tanya Sehun dengan santai pada kawannya yang berada di depan. “Aku tak yakin. Aku lupa jalannya.” Jawab anak lelaki itu dengan nada pelan.

“Ya, Kai-ssi! Kau itu bagaiamana sih? Lalu sekarang kita bagaimana? Kita tersesat di tengah hutan! Bagaimana cara kita kembali?!” omel seorang gadis pada anak yang dipanggilnya Kai tadi.

Kai mendengus lalu berbalik mengahadap satu-satunya anak gadis di rombongannya itu. “Ya! Kalau kau merasa lebih baik menunjuk jalan, kenapa tidak kau saja yang menajadi ketua grup! Kenapa aku!” maki Kai kesal pada gadis itu.

“Sudahlah.. tak ada gunanya bertengkar. Yang penting sekarang kita segera keluar dari hutan ini.” Lerai Sehun. Kedua temannya saling diam.

“Lalu bagaimana?” gumam gadis itu lagi. “Ya! Bae Su Ji! Kau dari tadi hanya bergumam tidak jelas. Berpikir donk!” sentak Kai lagi. Suzy, alias gadis itu mberenggut kesal dan tak menghiraukan omelan Kai.

“Bagaimana jika kita istirahat? Aku sudah lelah.” Ajak Sehun. Mereka bertiga setuju untuk istirahat sebentar di bawah pohon terbesar di sekitar mereka.

Malam semakin menyambut. Langit menggelap. Suara-suara hewan hutan masih setia berkumandang dengan nyaring. Membuat bulu kuduk ketiga anak itu meremang.

“Aku takut..” ujar Suzy ketakutan sembari memegang lengan Sehun yang duduk di dekatnya. “Ssshh sudahlah. Ada kami disini.” Balas Sehun menenangkan. Ia balas menggenggam tangan Suzy yang ketakutan –ini kenapa Sehun sweet banget?-.

“Sehun-ah. kau tidak bawa senter atau apapun untuk penerangan?” tanya Kai. Sehun mengangguk. Ia lalu mengeluarkan sebuah senter yang lumayan besar dari dalam tasnya.

“Kajja! Kita tidak boleh terlalu lama disini!” Kai memimpin kedua temannya untuk berjalan lagi.

Berjalan jauh, mereka semakin masuk ke dalam kegelapan hutan. Hanya berbekal sebuah senter yang dibawa Kai, mereka membelah kegelapan malam. Suara jangkrik bersahut sahutan seiring dengan berjalannya mereka memasuki hutan.

“Tunggu.” Kai mengomando kedua temannya untuk berhenti. “Ini tidak benar. Petunjuk ini salah. Kita sudah melewati petunjuk ini berkali-kali.” Ujar Kai lalu menunjuk pada sebuah panah yang tertempel di pohon.

“Sudah kuduga. Sejak tadi kita hanya berputar-putar disekitar sini. Bagaimana ini?” balas Sehun. Suaranya tiba-tiba menjadi panik.

“Kita ambil jalan sebaliknya. Mungkin malah membawa kita kembali ke perkemahan.” Usul Suzy. Sehun dan Kai saling pandang lalu mengangguk. Akhirnya mereka memilih jalan yang berlawanan dari jalan yang ditunjuk oleh panah itu.

Srak srak…

Ketiganya terdiam begitu mendengar sebuah suara aneh dari belakang mereka.

Srak srak.

Lagi, suara itu makin mendekat. Ketiganya memutar tubuh perlahan melihat apa dibelakang mereka. Suzy semakin menempel ketakutan pada Sehun. Ketiganya sekarang tengah bersiap-siap akan bahaya apapun yang datang pada mereka.

Hening. Suara itu tak terdengar lagi. Namun masih belum ada yang dapat bernafas dengan normal. Ketiganya masih diam mematung.

“Suara apa itu?” bisik Kai pada kedua temannya. Sehun menggedikkan bahu. Telinganya ia pasang baik-baik untuk mendengar suara itu lagi.

“Mungkin hanya perasaan. Ayo kita lanjutkan.” Kai mengomando teman-temannya untuk kembali berjalan. Namun ketika mereka berbalik. Mereka kaget melihat sosok manusia berbalut jubah hitam bertudung. Orang itu berdiri tegap dihadapan ketiga anak itu.

“Apa itu?” tanya Suzy panik. Kai dan Sehun berusaha tenang meskipun mereka juga takut. Orang berjubah itu tak bergerak. Wajahnya tertutup oleh tudung hitamnya. Membuat Kai maupun Sehun tak tahu siapa orang itu.

“Nu…nugu-ya?” tanya Kai pelan dan terbata sembari menyorotkan senternya pada orang itu.

Orang itu perlahan menegakkan kepalanya. Sehun dan Kai mundur selangkah. Mengantisipasi pergerakan orang itu.

Orang itu semakin bergerak maju. Lalu, ketiganya dapat melihat separo wajah orang itu. Hal pertama yang mereka lihat adalah seringai menyeramkan seorang wanita. Lalu mereka dapat melihat dua gigi taring wanita itu yang mencuat tajam diantara gigi lainnya. Selanjutnya, wanita itu mengeluarkan suara desisan aneh yang membuat ketiga anak itu berlari ketakutan.

“Waaaaaaaaaaaaaa!!!” teriak ketiganya berbarengan. Mereka lalu berlari sekuat tenaga menjauhi makhluk entah apa itu.

Ketiganya berlari sekencang mungkin menghindari wanita bertaring itu. Namun rupanya suara desisan wanita itu sudah tak terdengar. Dan mereka bertigapun berhenti berlari.

“Hegh heg.. apa itu tadi?” ujar Sehun sembari mengatur nafasnya yang terengah akibat berlari. Kai menggeleng, “Molla. Tapi wanita itu menakutkan.” Ujarnya.

Keadaan hutan semakin gelap. Hutan semakin sepi. Mereka sekarang berada di tempat antah berantah. Tak ada penunjuk jalan lagi yang terlihat. Sejauh mata memandang hanya pepohonan dan kegelapan. Suara-suara hewan malam menambah ketakutan dan kekalutan ketiga anak itu.

Srak!

Suara itu lagi. Ketiga anak itu mundur selangkah dan memasang telinga tajam-tajam. Mereka menahan nafas. Mengantisipasi apapun yang akan terjadi.

Lalu tiba-tiba. Secepat kilat, sebuah tangan meraih Suzy dan mencekik leher gadis itu dari belakang. Suzy hanya bisa berteriak melengking.

“Kya!!”

“Suzy-ah!” pekik kedua namja itu berbarengan. Wanita itu memamerkan taringnya ketika kedua anak itu hendak mendekat menyelamatkan Suzy. Gadis itu semakin terangkat dari tanah dan tercekik hebat.

“Pikirkan sesuatu.” Ujar Kai panik. Iapun meraih sebuah batu dan melemparkan ke wanita itu. Berhasil, wanita itu menoleh. Namun dengan kilatan marah, ia melepaskan cengkeramannya dari Suzy dan berjalan dengan cepat menghampiri Kai.

Seperti yang dilakukannya pada Suzy, wanita itu mencekik Kai. Membuat namja itu meronta. Sehun yang tidak tega lalu berlari ke arah kawannya dan menarik tangan wanita itu. Namun wanita itu terlalu kuat. Dengan sekali hentakan, ia melempar tubuh Sehun jauh-jauh dan terhempas ke pepohonan.

“Andwae!” pekik Suzy tertahan. Suaranya hampir mati karena cekikan wanita itu.  Bisa dipastikan beberapa saat lagi Suzy akan pingsan. Namun sekarang Kai-lah yang harus diperhatikan.

Nyawanya dipertaruhkan sekarang. Sehun bangkit dengan tertatih kesakitan. Hempasan wanita itu membuat kepalanya sobek dan berdarah. Melihat darahnya sendiri dan kedua temannya yang merintih kesakitan membuat amarah Sehun memuncak.

“Keterlaluan! Dasar makhluk terkutuk!” umpatnya. Entah apa yang terjadi selanjutnya, yang jelas Sehun hanya mengepalakn tangannya dan mengeram aneh. Mengakibatkan angin disekitarnya bertiup kencang.

Wanita itu mendesis lebih kencang. Ia lepaskan cekikannya pada leher Kai dan bersiap menyerang Sehun. Namun Sehun dengan amarah yang sudah sampai ubun-ubun hanya memandang wanita itu geram. Hanya memandang, tetapi tubuh wanita itu sukses terpental jauh oleh tiupan angin misterius entah dari mana.

Suara daun-daun bergesek beserta suara angin berhembus makin terdengar jelas kala itu. Dibarengin dengan tiupan angin aneh yang hanya berputar di sekitar Sehun. Namja itu masih terlihat marah. Kilatan dendam dan kesal masih terbayang dimatanya.

“Sehun-ah..” gumam Kai takjub melihat fenomena aneh yang terjadi. Sehun berjalan maju menuju wanita itu. Wanita itu dengan sigap berdiri begitu merasakan kedatangan Sehun. Ia merentangkan sayap berwarna kelabunya dan bersiap terbang.

Namun angin yang rupanya berasal dari Sehun menarik wanita itu sehingga kembali terjembab ke tanah. Wanita itu merangkak menjauh begitu Sehun datang menghampirinya. Masih dengan amarah yang meletup-letup. Angin berputar itu masih setia berjalan dibelakangnya.

Sehun menarik sayap wanita itu dan menyobeknya. Membuat wanita itu menjerit keras. Suara jeritan wanita itu begitu menyakitkan. Sangat memekakkan telinga. Suzy yang sudah pingsan dan Kai yang tergeletak tak berdaya.

“Sehun-ah. hajima!” pekik Kai. Entah apa yang membuat namja itu bicara demikian. Namun layaknya orang kesurupan, Sehun tak menggubris perkataan Kai. Ia lalu mearik jubah wanita itu dan mencekiknya selayaknya wanita itu mencekik kedua temannya.

Lagi-lagi wanita itu memekik. Kini ia juga meronta tak berdaya di tangan Sehun. Dan ajaibnya, Sehun dapat mengangat tubuh wanita itu dengan satu tangan.

“Sehun!” pekik Kai lagi. Ia berjalan tertatih menghampiri Sehun dan wanita itu. Ia berusaha menarik tangan Sehun. Namun Sehun terlalu kuat. Tapi Kai sadar. Dia bukanlah Sehun. Kini amarahlah yang mengendalikan Sehun. Menutup mata dan batinnya. Yang ada hanya dendam dan benci.

“Mati kau!” desis Sehun mengerikan pada wanita itu.

~~~~~~~

“Hhhhhh…” BoA tersentak. Ia bangkit dari duduknya. Kanta yang berada di dekatnya otomatis menoleh.

“Ada apa?” tanyanya heran. BoA mematung. Ia lalu memandang ke luar jendela. Cahanya rembulan menerobos masuk melalui kaca jendela. Ketiga anaknya belum pulang. Dan dia baru saja mendapatkan perasaan aneh.

Boa merasakan darah dalam tubuhnya berdesir aneh. Ia lalu memandang foto Sehun dan entah mengapa ia merasa khawatir pada anak bungsunya itu.

“Ada apa?” tanya Kangta lagi. Membaca kekhawatiran di wajah BoA.

“Sehun..”

Kangta membelalakan matanya mendengar nama anaknya. Istrinya memiliki kemampuan melihat masa depan. Dan sekarang ia merasa nyawa anaknya terancam.

Tanpa komando, Kangta meraih jaketnya. Ia lalu menggenggam tangan BoA. Dan dalam sekejap keduanya mengilang entah kemana.

~~~~~~~

“Mati kau!” desis Sehun mengerikan pada wanita itu. Ia semakin menguatkan cengkeramannya. Kai sudah tak berdaya menghentikan Sehun. Ia tka mengkhawatirkan makhluk itu. Yang ia khawatirkan adalah Sehun dan amarahnya.

“Sehun!” pekik seorang pria. Pria itu datang dengan seorang wanita. Keduanya tiba-tiba muncul dari kegelapan hutan.

Pria itu menarik tubuh Sehun dan menghempaskan tubuhnya ke pohon sembari memegangi tubuh anak itu. Sedang kan sang monster lalu segera merangkak pergi. Namun wanita yang datang dengan sang pria tadi tidak tinggal diam. Ia menarik tubuh makhluk itu. Dan dalam sekali hentakan, ia mematahkan leher monster itu.

“Sehun-ah.. sadarlah. Ini appa…” pria itu yang tak lain adalah Kangta masih memegangi tubuh anaknya yang masih mengejang. Amarah masih menguasai Sehun. Nafasnya masih memburu dan angin di dekatnya masih berhembus.

“Sehun sayang.. kendalikan dirimu. Ini akan menyakitimu..” ujar sang wanita. Ia menyentuh pipi Sehun. Seperti mengalirkan sebuah kekuatan dari tangannya. Wanita itu berhasil menenangkan Sehun. Meskipun harus membuatnya pingsan.

“Kai. Bawa Suzy pulang. Lalu temui kami di klinik Yi Xing. Kau pasti tahu.” Pinta Kangta pada Kai. “Ah.. ne ahjussi.” Dan dengan secepat kilat. Kai dan Suzy hilang dari pandangan. Sedangkan BoA ‘menteleportasikan’ ketiganya ke tempat Yi Xing.

~~~~~~~

“Eum.. kalian tidak berniat memulangkanku?” ujar Suho. Kini namja itu sudah tersadar dari pingsan shocknya.

“Well. Kau bisa pulang sendiri.” Sahut Kris ketus. Suho memandang jengkel pada Kris. Ia lalu mendengus lalu membuang muka.

“Sudahlah.. kenapa dengan kalian?” sahut Yi Xing dari meja prakteknya. Kini mereka berlima –Yi Xing, Luhan, Kris, Suho, Yoon Hee- duduk diam tak melakukan apapun di klinik Yi Xing.

“Kau yakin tak ingin pulang? Eomma pasti merindukanmu.” Tanya Kris. Kris sudah tahu jika ibunya ada di Seoul karena pemberitahuan Yi Xing. Meskipun awalnya dia juga shock layaknya Yoon Hee tadi.

Yoon Hee menghela nafasnya. Sejurus kemudian menggeleng. “Entahlah. Aku merasa jengkel pada diriku sendiri.” Komennya. Kris mengernyit bingung.

“Wae?”

“Aku bisa saja tak menhiraukan permainan rahasia-rahasiaan kalian. Tapi aku tidak bisa menemukan alasan untuk diriku sendiri. Maka dari itu aku marah. Entah pada siapa.”

“Maaf Yoon Hee. Kau tidak seharusnya tahu tentang hal lain. Cukup yang sudah kau ketahui saja.” Batin Kris. Dalam hati, ia juga merasa iba pada adiknya itu. Hidup adiknya dipermainkan oleh takdir.

Zap!

Seluruh penghuni ruangan itu terlonjak akan penampakan tiba-tiba tiga orang ditengah-tengah ruangan.

“Eo!” seru Yi Xing dan Kris bersamaan. Sedangkan ketiga orang yang menjadi pusat perhatian tak menghiraukan tatapan heran manusia yang lain.

“Noona! Ada apa dengan Sehun?!” tanya Yi Xing sembari berjalan mendekat ke ketiga mankhluk yang tiba-tiba muncul itu.

“Mereka menyerangnya.” Ujar  BoA disertai rasa panik yang tinggi. “Mereka?” balas Yi Xing. Ia memandang BoA tak percaya.

~~~~~~~

“Bisa jelaskan. Siapakah ‘mereka’ yang kalian maksud?” Yoon Hee bertanya dengan polosnya seraya memandang orang-orang di ruangannya dengan pandangan bingung bercampur kesal. Bingung karena ia tidak mengerti apa maksud pembicaraan mereka. Kesal, karena dia tidak diberitahu hal yang ia tidak tahu.

Sehun sudah sadar. Tentunya masih shock. Ia sendiri masih belum percaya akan hal yang dilakukannya beberapa jam yang lalu di hutan. Belum lagi dengan kemunculan mendadak Kai di tengah ruangan dengan teleportasinya. Rasanya dunia sedang membuat lelucon sekarang.

“Kau tahu aku penasarn setengah mati.” Ujar Yoon Hee pada kakaknya, Kris. Kris memandang ayah dan ibunya bergantian. BoA lalu menghela nafas berat dan mau tak mau bercerita.

“Sebuah kekuatan besar bisa menjadi bahaya anakku.” Ujar BoA. Bagus, kini Yoon Hee makin tidak mengerti. Ada apa dengan orang dewasa ini? Selalu menggunakan kalimat yang membingungkan.

“Pohon kehidupan banyak ‘peminatnya’. Salah satunya adalah orang-orang yang menyerang adikmu tadi. Kurasa bukan orang, tapi makhluk.” Lanjut BoA. Yoon Hee mengernyitkan dahi. Makhluk?

“Maksud ibu, makhluk? Berarti mereka belum mesti manusia?” tanyanya. BoA mengangguk. Yoon Hee menganga tidak percaya. Ternyata, fairytail itu ada.

“Lalu, lebih tepatnya. Siapakah makhluk-makhluk itu?” kini giliran Suho angkat bicara. Ia sudah kadung terlibat dalam drama takdir ini. Ia tidak bisa mundur, bukan?

“The Shadow. Pasukan hitam Kronos.” Jawab BoA.

Hampir saja Yoon Hee mendengus mendengar jawaban ibunya. Kronos? Makhluk mitologi Yunani yang musnah dibunuh ketiga anaknya yang sekarang menjabat sebagai dewa? Yoon Hee pikir itu hanyalah cerita bohong belaka. Sama bohongnya dengan kisah para dewa yang ia anggap tidak ada. Tapi Yoon Hee segera sadar, jika semua itu hanya dongeng. Lalu, ibunya sekarang itu apa? Seorang dewi Olympus. Salah satu dari kawanan dongeng itu? Ia tidak bisa menolak jika ibunya itu nyata. Seorang dewi. Hah! Seorang dewi!

“Kronos? Siapa itu?” ternyata Sehun tak kalah polosnya. “Kau harus membaca buku sejarah Yunani lebih jeli lagi.” Sahut Yoon Hee.

Sejenak, seisi ruangan tersenyum. Namun tidak lama. Karena mereka sadar, keadaan sekarang bukanlah saat yang tepat untuk tersenyum bahagia. Karena takdir dunia ada di tangan mereka.

“Lalu apa artinya ini? Maksudku, kenapa mereka bisa tahu keberadan Sehun? Kupikir, mereka tidak bisa mendeteksi kekuatan Sehun. Bahkan Sehun belum menyadari kekuatannya saat mereka menyerang.” Kini Kris angkat bicara. Rupanya, ia tak kalah bingungnya dengan Yoon Hee.

“Yang itu ibu tidak tahu. Mungkin mereka tidak bisa mengetahui keuatan Sehun. Atau mungkin tahu jika Sehun salah satu dari kita. Tapi pasti ada orang yang bisa tahu hal terperinci tentang Sehun.” Jelas BoA. Semuanya sibuk berspekulasi siapakah ‘pengkhianat’ di antara kaum manusia.

“Jika mereka sudah tahu para kesatria kembali. Maka kita harus bertindak secepatnya.” Usul Kangta. BoA memandang suaminya nanar. Sudah dimulaikah?

“Kita cari sisanya. Kita satukan para kesatria.” Tambah Yi Xing.

“Tapi bagaimana caranya? Dimana kita akan memulai?” tanya Yoon Hee. Yi Xing membuka buku catatannya di atas meja. Sejurus kemudian, ia tersenyum.

“China!”

~~~~~~~

Yoon Hee duduk terdiam di ranjang kamarnya. Di depannya sebuah koper telah ia persiapkan. Ia lalu memandang buku cokelat kecil yang ia temukan di rumah harabeojinya tempo hari. Ingatannya melayang saat pertama kali menemukan benda itu. Buku dan leontin. Ya, hari itu semuanya telah dimulai. Lembaran baru hidupnya sebagai anak yang jauh dari kata normal.

Yoon Hee merasa terbebani. Namun ia tidak bisa mengelak jika ini sudah tugasnya. Kewajibannya. Dan harus ia tanggung. Yoon Hee merasa pening memikirkan semua kemungkinan. Bagaimana jika makhluk-makhluk yang menyerang Sehun akan datang kembali? Bagaimana jika ia tidak bisa menemukan dan menyatukan keduabelas kesatria? Apakah dunia akan kiamat? Yoon Hee mendesah. Ia lalu membuka buku catatan ibunya itu.

Terlepas dari halaman pertama yang isinya kalimat permintaan maaf ibunya. Yoon Hee tidak pernah membaca buku itu lebih jauh. Ia merasa tidak percaya jika semua hal yang ia anggap takhayul ini ada. Bahkan secara langsung melibatkan dirinya.

Ketika langit dan bumi bersatu dengan damai. Hiduplah para legenda. Melalui kedubelas kekuatan mereka. Tumbuhlah pohon kehidupan. Sebuah sumber dari kekuatan merah menciptakan keburukan yang menyelimuti jiwa phon kehidupan dan jantung phon kehidupan. Lama kelaman akan kering dan mati.

Untuk menghindari hal ini. Para kesatria memecah jiwa pohon kehidupan itu dan menyembunyikan bagian phon kehidupan di antara ruang dan waktu. Kekuatan itu dipecah dan menciptakan dua matahari yang serupa. Menuju dunia yang serupa, namun tak sama, para legenda itu berpetualang secara terpisah.

Para legenda mungkin sekarang melihat langit yang sama, namun berdiri di tanah yang berbeda. Atau mungkin mereka sekarang berdiri di tanah yang sama, namun melihat langit yang berbeda.

Namun suatu hari nanti. Bumi dan para penguasanya akan mengirimkan ‘sesuatu’ yang sangat menakjubkan. Dan saat itulah, para kesatria yang terpisah akan bertemu satu sama lain. Hari dimana kekuatan merah yang jahat telah dibersihkan, disucikan, dan dimusnahkan. Dan keduabelas kekuatan akan kembali bersatu membentuk satu akar yang kuat. Sebuah dunia baru, akan terbuka.

 

Yoon Hee terkesima akan apa yang dibacanya. Segitu kuatkah pengaruh pohon kehidupan dan keduabelas kekuatan itu. Sampai banyak pihak yang ingin merebut kekuatan sang pohon. Diam-diam Yoon Hee terpikir. Apakah pohon kehidupan ini betul-betul berbentuk seperti pohon? Ataukah hanya ideologi semata? Jika benar adanya wujud pohon kehidupan ini, dimanakah pohon kontroversial ini berada?

Segala pemikiran Yoon Hee terputus karena sebuah ketukan di pintu kamarnya. Yoon hee segera memasukkan buku itu ke dalam tasnya dan berniat untuk membuka pintu itu.

“Kau sudah siap?” ujar ibu Yoon Hee. Gadis itu mengangguk. BoA tersenyum. Sama seperti Kangta. Ia tidak percaya hari ini datang juga. Hari dimana ia akan melihat perjuangan ketiga anaknya membenahi takdir.

“Ibu. Akan ikut juga, kan?” tanya Yoon Hee. Khawatir jika sebentar saja ibunya lolos dari pandangannya, maka wanita itu akan pergi lagi.

“Tentu. Ibu akan selalu disampingmu.” Balas BoA. Wanita itu tersenyum lalu mengusap rambut anaknya. Rasanya hangat. Ketika tangan ibunya menyapu ujung kepalanya dengan lembut. Menyalurkan kasih sayangnya. Begitupun BoA. Rasanya ia sudah lupa bagaimana halusnya rambut anak gadisnya ini.

“Kurasa kalian harus segera bersiap. Pesawat akan berangat satu jam lagi.” Tiba-tiba suara Kangta menginterupsi scene hangat keduanya. Yoon Hee segera mengangguk dan memandang ayahnya itu.

Diam-diam ia berpikir. Apakah setelah ini, ia masih bisa bertemu kedua orang tuanya? Apakah ia yakin, perjalanan ini tidak akan merenggut ayah dan ibunya pergi? Mendadak, Yoon Hee merasa dadanya sesak. Ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan orang-orang yang disayanginya. Mengingatnya saja membuat Yoon Hee merinding.

“Baiklah. Aku akan menunggu kalian di bawah.” Pamit Kangta lalu pergi beranjak.

 

“Apakah aku harus ikut?” tanya Suho polos pada Yi Xing. Kini ia sudah berada di rumah Yoon Hee. Semuanya. Semua orang yang ikut dalam ‘ekspedisi’ ini.

“Tentu saja. Memangnya kau mau jika tiba-tiba makhluk yang menyerang Sehun menyerangmu tiba-tiba? Memangnya kau bisa menangani mereka sendiri?” ejek Yi Xing. Suho kesal dibuatnya. Ia lalu menunduk memandang ujung sepatunya.

Yi Xing yang sedang mempersiapkan alat-alat yang akan dibawanya lalu menoleh pada Suho. Anak itu terlihat pasrah dan putus asa. Ia tahu, memang awalnya tidak mudah menerima kenyataan bahwa dirimu adalah anak spesial. Yang jauh dari kata normal. Namun bagaimanapun juga kau harus terbiasa olehnya.

“Ya! Kenapa kau semurung itu? Sudahlah, lama kelamaan kau pasti akan terbiasa dengan kekuatanmu. Lagipula, kekuatanmu tidak buruk kok! Kau bisa membela dirimu dengan kekuatanmu itu. Sedangkan aku? Jika aku tidak menguasai ilmu bela diri, mungkin aku tidak akan dianggap sebagai salah satu dari kesatria.” Oceh Yi Xing.

“Kau tahu, aku ingin memberimu nama yang lebih singkat.” Ujar Suho kemudian. Yi Xing mengernyitkan dahi. “Maksudmu? Aku cukup puas dengan namaku.” Jawab Yi Xing enteng.

“Lay!” celetuk Suho. Yi Xing makin bingung. “Ya! Dari semua nama yang ada di dunia, kenapa kau memilih Lay? Tidak elit!” protes Yi Xing. Suho tertawa.

“itu karena kau aLAY! Jadinya, aku ingin memanggilmu Lay, oke!” Yi Xing melayangkan pandangan membunuhnya pada Suho. Baru sehari kenal. Sudah kurang ajar! Dasar!

“Semuanya sudah siap?” ujar Kangta mengomando. Seluruhnya mengangguk. “Baiklah, kita berangkat!”

“Tunggu, bagaimana dengan Kai?” tanya Sehun. Yi Xing memandang Sehun. “Dia bisa menyusul. Bahkan mungkin sekarang sudah sampai China.” Ujarnya lalu menepuk bahu Sehun.

~~~~~~~

Duduk di pesawat selama berjam-jam bukanlah hal mudah. Meskipun jarak Korea-China tak begitu jauh. Tapi itu cukup melelahkan bagi namja berusia 18 tahun itu. Sehun. Sejak keberangkatan pesawat, anak itu tak henti-hentinya menggerutu. Ia mengeluarkan banyak alasan ketidakmauannya ikut ke China. Namun semua alasannya itu dapat runtuh jika ia mengingat makhluk yang menyerangnya kemarin. Ia lalu merasa beruntung ikut orang-orang ini. Setidaknya ada yang bisa melindunginya.

Udara di China tidak jauh berbeda di Korea. Tentu, Luhan sang pemandu tour lalu menyarankan rombongannya segera mencari tumpangan menuju sebuah dareah di Shanghai. Dimana mereka akan bertemu dengan kenalannya yang sekiranya bisa membantu mereka.

“Disini.” Luhan menunjuk pada sebuah kedai di pinggiran kota. Kedai itu terletak di gang-gang sempit dan lusuh. Berani bertaruh pengunjungnya pasti bukan orang elit. Yoon Hee berulang kali memandang daerah itu dengan perasaan prihatin. Ia tahu jika China adalah negara dengan populasi tertinggi. Tapi, halo! Merea punya infrakstruktur yang memadahi dan bahkan mereka tidak bisa membenahi dareha pinggiran kota ini.

“Membenahi tempat ini tidak semudah yang kau pikirkan.” Yoon Hee menoleh pada Luhan yang berjalan di sebelahnya. Seperti biasa, Luhan membaca pikirannya.

“Maksud oppa?”

“Daerah ini bisa dibilang daerah keramat. Pemerintah berulang kali ingin membenahi dan menata ulang distrik ini. Tapi selalu gagal. Selain alasan penduduknya yang sebagian besar preman dan pembunuh bayaran.”

Yoon Hee tercekat mendengar kalimat Luhan. What? Preman dan pembunuh bayaran. Berarti, sama saja mereka sekarang masuk ke dalam sarang penjahat. Yoon Hee merinding mengingat kemungkinan yang akan terjadi.

Luhan memasuki kedai yang ramai itu lebih dulu. Ia bilang, akan berbincang dengan pemiliknya dulu.

“Hai!” sapa Luhan pada seorang pria China bertubuh tinggi yang berdiri dibalik meja bar. Pria itu terenyum melihat Luhan dan menyapanya balik.

“Bagaimana liburanmu di Korea?” tanya pria itu basa-basi. Luhan mendengus. “Cukup berat.”

“Katakan, apa yang kau membuatmu datang ke kedai kotorku ini?” rupanya pria itu tahu benar maksud Luhan. Namja itu tersenyum lalu menyilahkan rombongannya masuk ke kedai itu.

Pria itu terbelalak begitu mengetahui salah satu dari rombongan Luhan. Seorang wanita yang dikenalnya. Begitupun wanita itu. Ia tersenyum pada pria itu dan menyapanya.

“BoA?”

“Halo, Zhoumi!”

~~~~~~~

Zhoumi menghidangkan teh hangat pada tamu-tamunya itu. Kini mereka duduk di sebuah tempat yang sekiranya lebih layak dari kedai tadi. Sebuah ruangan seperti ruang tamu dengan banyak sofa dan tentunya lemari wine.

“Sudah dimulaikah?” ujar Zhoumi to the point. BoA memandang Zhoumi lalu mengangguk. “Salah satu dari the shadow menyerang anakku kemarin. Mereka membujuk seorang manusia untuk memata-matai anakku.” Jawab BoA. Zhoumi terlihat berpikir.

“Tentu. Mereka akan menggunakan berbagai cara untuk memusnahkan kekuatan pelindung pohon itu.” Gumam Zhoumi. “Lalu, apa yang bisa kubantu.” Tanyanya.

“Kami butuh tempat tinggal sementara. Dan kendaraan, firasat kami. Banyak dari kesatria yang ada di belaha China. Kami ingin mencarinya secepat mungkin.” Jawab Kangta. Zhoumi memandang pria itu ragu.

“Tapi, apa kau yakin waktunya tepat? Dan apa kau yakin mereka siap?” tunjuk Zhoumi pada namja yang sudah mengetahui kekuatan mereka itu.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan? Bukannya kita harus siap apapun yang terjadi?” sahut Kris. Zhoumi hanya manggut-manggut saja.

“Kalian harus bisa menguasai kekuatan kalian. Harus bisa membedakan mana kawan dan mana lawan. Harus bisa mengontrol emosi. Karena alih-alih melindungi kalian, bisa-bisa kekuatan itu membunuh kalian.” Jelas Zhoumi. Kris dan yang lainnya saling tukar pandang dengan ragu.

Zhoumi benar. Mereka belum siap untuk perang yang sebenarnya. Mereka belum tahu apa kelebihan dan kelemahan kekuatan mereka. Mereka belum mempelajari dan mengerti siapa lawan mereka.

Hening sesaat. Sebisa mungkin mereka mencari ide dan cara yang paling efektif. Mereka tidak ingin membuang waktu sebelum teh shadow muncul dan Kronos bangkit.

“Ha! Kalian bisa berlatih sementar mencari teman-teman kalian di China. Aku tahu tempat pelatihan yang cocok untuk orang spesial seperti kalian.” Seru Zhoumi tiba-tiba. BoA memandang Zhoumi ragu.

“Dan dimanakah itu?”

“Qingdao. Sebuah desa perguruan bela diri yang sangat tersohor. Aku punya kenalan di sana. Kalian hanya perlu naik kereta dari sini. Untuk masalah tempat tinggal, kalian tenang. Aku bisa menyewakan salah satu rumahku yang ada di Qingdao.”

Senyum merekah di wajah para tamu itu. Setidaknya sedikit harapn muncul bagi mereka.

To be Continue

 

Chapter 5, selesai! Di chapter ini author lagi gila-gilanya ide. Tumben. Karena ide yang lagi on terus. Well, bagaimana sejauh ini FF saya? Memuaskankah? Mungkin cerita tentang exo dan pohon kehidupan ini sudah pasaran dan banyak dibuat oleh author-author berbakat diluar sana. Tapi author sebisanya membuat suatu cerita yang ‘berbeda’. Meskipun gak tahu sih bedanya dimana? Readers bisa visit blog author http://riezzka.wordpress.com

Tapi author mengucapkan terimakasih bagi readers yang setia menunggu FF ini dan selalu support author dengan comment-nya. Author merasa terharu akan readers-readers yang unyu imut-imut ini. Sekali lagi terimakasih dan Happy New Year! (Meskipun telat sih!).

About these ads

Tentang dee3302

i'm on hiatus.. on a long break .. hope you'll understand :'(

Posted on Juni 3, 2013, in Action, Fantasy, Friendship, Multi Chapter, Romance, Sci-fi and tagged , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. aulia safira putri

    lanjut ya thor ;)
    jadi penasaran gimana nasib yoon he selanjutnya :D

  2. Udah lama nungguin ff ini baru dipost sekarang-____-
    Next chapt cepetin ya thorr postnyaaaaa:3

  3. Next Thor …
    Bias Ku D SJ M Masuk aduh makin Seru …
    Lanjut Thor Penasaran :)

  4. thor
    lama bnget nunggu nya hampir berAKAR sya..

    d tnggu next chap^^

  5. hampir setaon nunggu ini epep, akhirnya dilanjut kan. aku kira gak bakal dilanjut, sru thorr makin keren aja, mana zhoumi ikut main lagi. tambah seru deh. lanjut thorr jangan lama2

  6. wow, daebak, lanjutannya yang cepet ya :D

  7. Lanjoot~ cihuy :lol:
    Thor,baekhyun kapa? :|
    Semangat ya thor~ :) B] 8)
    Kurasa baekhyun itu punya kekuatan yg lebih spesial :| kekuatan hitam kan berisi makhluk kaya iblis,dan iblis gak tahan cahaya,sdangkan kekuatan baekhyun cahaya kekeke :v #sotau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 8.664 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: