For You (Chapter 3)

Author: Nisha_gaem407

Pairing: Baekhyun (EXO-K) & Song Hyerin

Genre: Romance/School Life

Hyerin duduk memandang pada arah luar jendela kamarnya. Meskipun sedikit gelap, bisa dilihatnya jalanan yang kosong melompong. Tak ada satupun kendaraan yang berlalu lalang. Hanya ada lampu-lampu jalanan yang sedikit redup mendominasi.

Pikirannya melayang pada sosok Baekhyun. Hujan memang selalu mengingatkannya pada lelaki itu, sejak kejadian seminggu yang lalu. Dimana ia memberikan jaket yang sekarang tergantung rapi di balik pintu kamarnya.

Ya, sudah seminggu berlalu tapi Hyerin belum mengembalikan jaket parasut biru itu pada sang pemilik. Bukan, bukannya ia tak mau mengembalikannya, tapi ia belum siap untuk bertemu lagi dengan sang pemilik jaket. Lagipula, Hyerin selalu melihat Baekhyun sedikit lebih sibuk akhir-akhir ini.

Sedikit merasa bersalah juga ia bersifat dingin dan mendiamkan Baekhyun selama seminggu ini. Entah kenapa ia mendiamkannya, ia juga tak tahu. Yang jelas, ada perasaan kesal ketika mengetahui bahwa Baekhyun adalah seorang playboy sekolah. Ia juga takut, takut jika dirinya yang akan dijadikan korban selanjutnya oleh lelaki tampan itu. Yeah, melihat sikap Baekhyun padanya selama ini. Mengherankan bukan, jika ada seseorang yang memberikan perhatian lebih pada seseorang yang baru saja dikenalnya?! Bahkan belum sebulan.

“Hyerin-ah! Makan malam sudah siap.” Sedikit tersentak begitu mendengar suara Ibunya yang memanggilnya dan langsung saja ia berlari-lari kecil menuju dimana ibunya berada, ruang makan tentu saja.

Langkahnya terhenti sebentar begitu akan membuka pintu kamarnya. Pandangannya terhenti pada jaket biru yang tergantung pada pintu itu. Dan sekali lagi, ia kembali memikirkan sosok pemiliknya.

“Hyerin-ah!”

“Ah! Iya eomma.” Ia menggelengkan kepalanya sebentar. Mencoba mengusir bayang-bayang Baekhyun dalam pikirannya. Setelah yakin, barulah ia melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Bersiap untuk menikmati hidangan lezat yang disediakan oleh sang Ibu.

Tak sampai lima menit, Hyerin telah menikmati hidangan lezat yang terhidang pada meja makan, bersama sang Ibu tentu saja. Ayahnya? Jangan tanya tentang hal itu. Sosok ayahnya saja ia tak tahu seperti apa. Beberapa kali ia mencoba bertanya pada Ibunya, tapi yang ia dapatkan hanyalah Ibunya yang terdiam tanpa melihat ke arahnya.

“Selesai! Masakan eomma memang paling enak.” Hyerin tersenyum pada ibunya, begitu juga sebaliknya.

“Hyerin-ah…”

“Wae eomma?”

“Ada yang ingin eomma bicarakan padamu.”

“………….” Hyerin diam saja, menunggu sang ibu melanjutkan pembicaraan.

Eomma akan bertugas selama tiga bulan di Sokcho. Kau tahu sendirikan pekerjaan eomma?” Hyerin hanya mengangguk. Ibunya adalah dokter ahli jantung. Wajar saja jika Ibunya bertugas pada daerah kecil seperti itu. Lagipula, jarang ada dokter ahli jantung disana.

“Dan eomma memutuskan akan menitipkanmu pada anak teman dekat eomma.”

“Tapi eomma-,”

“Tak ada tapi-tapian sayang. Eomma khawatir jika meninggalkanmu sendiri di rumah.” Bukan bermaksud untuk membantah, tapi Hyerin akan merasa lebih nyaman dan bebas jika tidak tinggal bersama dengan orang lain.

“Kapan eomma berangkat?”

“Lusa sayang.”

Diam. Tak ada lagi untuknya memberikan interupsi atau penolakan apapun. Jika ibunya sudah memutuskan, kecil kemungkinan untuk membatalkan atau menolaknya. Tapi, secepat itukah?!

***

Hari minggu, hari yang digunakan semua orang untuk bersantai . Bagitu pula dengan Hyerin yang sedang sibuk menelusuri setiap deretan buku yang berjejer pada raknya. Toko buku, pada tempat inilah sekarang ia bersantai. Bersantai dengan hunting atau hanya sekedar membaca buku-buku pelajaran dan novel. Tak seperti kebanyakan gadis sebayanya yang selalu bersantai dengan berfoya-foya.

Akhirnya setelah kurang lebih dua puluh menit ia mendapatkan buku yang menarik minatnya.Tapi sayang, tubuhnya yang tak cukup tinggi untuk mengambil buku itu. Jangankan mengambil, menyentuhnya sedikit saja tak bisa.

“Perlu kubantu hm?” Hyerin menoleh ke samping kirinya begitu mendengar suara berat seseorang dan mendapati lelaki yang kelihatanya sebaya dengannya. Hyerin akui, wajahnya cukup tampan dan er…imut.

“Hey…perlu kubantu?”

“Ah… i-iya.” Dan tak sampai lima detik lelaki itu telah memberikan buku bersampul biru yang dimaksud oleh Hyerin.

Gomawo.”

“Hm…sama-sama.” Lelaki itu tersenyum dan mengacak-ngacak lembut rambutnya sebelum pergi berlalu meninggalkannya menuju arah kasir.

Wajah Hyerin telah berubah menjadi semerah kepiting rebus sekarang. Entah kenapa senyum pada wajah imut itu membuat jantungnya berdegup kencang. Dan satu yang terucap dalam hatinya, semoga ia bisa bertemu kembali dengan lelaki itu.

***

KRING…KRING…

Seseorang yang tidur pada satu-satunya tempat tidur dengan ukuran king size berlapis sprei putih dihiasi garis abu-abu kecil pada setiap sentinya bergerak-gerak tak nyaman. Sepertinya suara handphone yang berdering pada nakas kecil yang berada tepat di samping kanan tempat tidurnya sedikit menganggu tidur nyamannya.

KRING…KRING…

Akhirnya dengan malas-malasan –tanpa membuka matanya ia menjulurkan tangannya untuk mengambil benda terkutuk yang telah mengganggu tidurnya, menekan tombol hijau yang letaknya sudah ia hafal di luar kepala, kemudian meletakkan handphone itu pada telinganya.

“Hm?”

Baekhyun! Kau pikir ini sudah jam berapa huh? Cepat bangun!” Seketika mata Baekhyun terbuka lebar begitu mendengar suara ibunya. Lalu segera melirik pada jam dinding yang ada di kamarnya itu.

10.00

Sial! Ibunya bisa membunuhnya kalau begini. Untung saja hari ini hari Minggu, jadi tak perlu takut terlambat ke sekolah karena hari Minggu memang adalah hari libur.

“Ah eomma, aku sudah bangun dari tadi kok. Hehehe…”

Jangan mencoba berbohong Byun Baekhyun! Suaramu saja masih serak seperti itu.

“Iya…iya…Um, ada apa eomma menelepon?” Baekhyun menyingkap selimut yang berada di atas tubuhnya dan sekarang telah merubah posisi tidurnya menjadi duduk pada tepi tempat tidurnya. Entah kenapa rasa kantuknya hilang dengan cepat.

Eomma ingin mengajakmu makan siang di rumah.

“Makan siang? Memangnya ada apa eomma?”

Ada yang ingin eomma bicarakan denganmu.

“Baiklah.”

Eomma tutup teleponnya hm?

“Hm…sampai ketemu eomma dan salam untuk appa.” Setelah itu sambungan terputus. Tak terdengar lagi suara ibunya di seberang sana.

Beberapa saat terpikir olehnya, sudah berapa lama ia tak pulang ke rumahnya sendiri. Mungkin sebulan yang lalu. Walaupun sama-sama tinggal di Ibu kota Korea Selatan –Seoul, tapi Baekhyun lebih memilih untuk tinggal sendiri di sebuah apartemen sejak ia memasuki sekolah menengah atas dengan alasan ingin mandiri. Apalagi ditambah dengan orangtuanya yang hampir selalu pergi ke luar kota karena pekerjaan mereka. Awalnya ia tak diizinkan untuk tinggal sendiri, tapi bukan seorang Byun Baekhyun namanya jika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

***

“Apa yang ingin eomma bicarakan?” Baekhyun menatap ibunya yang berada di sampingnya lalu dengan cepat beralih pada sang ayah yang duduk pada sisi lainnya dengan memasang wajah bingung.

Ya, mereka –Baekhyun, ayah, dan juga ibunya, sedang berkumpul di ruang keluarga yang terbilang cukup besar setelah selesai menghabiskan makan siang mereka. Dan seperti janji ibunya, ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Baekhyun.

“Anak teman eomma akan tinggal bersama denganmu. Bolehkan?” Mata Baekhyun seketika terbelalak, kaget mendengar kalimat yang diucapkan oleh ibunya.

“Ti-tinggal bersamaku? Di apartemenku? AKU TIDAK MAU!”Wajahnya sekarang berubah menjadi kesal. Ia tak mau dan memang tak akan pernah mau. Ia sengaja memilih untuk tinggal sendirian di apartemen agar mendapat ketenangan dan jika seandainya ada pendatang baru yang tak dikenalnya tinggal bersamanya,itu berarti ia tak mendapatkan ketenangan lagikan?

“Ayolah sayang. Ibunya hanya menitipkannya selama tiga bulan karena tugas luar. Kasihan dia jika tinggal sendiri di rumahnya.”

“HANYA? Tiga bulan itu lama eomma. Kenapa tak tinggal disini saja? Lagipula rumah ini juga lebih besar berkali-kali lipat daripada apartemenku.”

“Kau tahu sendiri eomma dan appa sering keluar kota. Tak ada yang menjaganya kalau begitu.”

Baekhyun diam. Dalam pikirannya berkelebat segala pemikiran tentang hal-hal positif dan negatif jika ada ‘orang baru’ yang akan tinggal di apartemennya, bersamanya. Dan akhirnya setelah menimbang-nimbang, anggukan kepala dari Baekhyunlah yang diterima oleh ayah dan ibunya.

***

Hari sudah akan menjelang malam ketika masih terlihat seseorang dalam sebuah ruangan berkutat dengan berkas-berkas dan laptop miliknya. Wajahnya terlihat serius, tampaknya tak boleh diganggu walau hanya beberapa detik. Tapi sayang, handphonenya yang berada tepat di sampingnya telah berdering keras, membuatnya sedikit menggeretakkan gigi dengan kesal.

Eomma Calling

Jika saja tak tertulis nama ‘eomma’ sebagai id caller pada layar handphonenya , ia mungkin tak akan mengangkat telepon itu.

“Ada apa eomma?”

Kau dimana sayang?

“Di sekolah eomma. Ada tugas yang masih harus kukerjakan.”

Cepatlah pulang. Eomma sudah mengantarnya ke apartemenmu, tapi eomma sibuk sekarang, jadi eomma meninggalkannya sendiri. ”” Baekhyun mengernyit. Mengantarnya? Apa yang dimaksud- Ah! Ia ingat sekarang. Pikirannya kembali berkelebat tentang pembicaraannya dengan sang ibua dua hari yang lalu. Ck, ternyata mengerjakan proposal pentas seni seperti ini bisa membuatnya lupa seketika dengan hal itu.

“Iya eomma. Aku akan pulang sekarang.”

Ok sayang. Hati-hati hm?

Ne…”

TUT..TUT.. Dan setelah itu sambungan terputus. Baekhyun terdiam sebentar, memandang kertas-kertas yang berserakan pada meja di hadapannya. Salahkan pentas seni yang akan dilaksanakan dua bulan lagi yang membuatnya jadi sibuk seperti ini.

Sebenarnya pentas seni akan dilaksanakan tiga minggu lagi, tapi karena beberapa usul dari anggota osis dan dirinya sendiri bahwa waktunya tak akan cukup jika akan dilaksanakan secepat itu, jadi keputusan akhir yang disetujui adalah akan dilaksanakan dua bulan kedepan.

Dua bulan lagi saja sudah sibuk, sampai-sampai membuatnya lembur sampai malam seperti ini, apalagi jika tetap tiga minggu? Bisa mati berdiri dia.

“Ya sudahlah. Lanjutkan besok saja.”

Baekhyun memasukkan laptop ke dalam tasnya dan segera keluar dari ruang osis menuju parkiran sekolah –dimana mobilnya berada. Lalu secepat mungkin menuju apartemennya –tak sabar untuk melihat siapa yang akan tinggal bersamanya selama tiga bulan kedepan.

***

Song Hyerin. Di tempat ini sekarang ia berada. Sebuah apartemen mewah yang ia tak tahu pemiliknya siapa, sendirian pula. Apartemen yang cukup rapi dan bersih tentunya. Hampir semua barang yang ada di rumah itu atau lebih tepatnya tempat yang ia pijaki sekarang –ruang tengah berwarna putih. Tak ada satupun foto yang terlihat terpajang pada dinding ataupun nakas-nakas yang berada di ruangan itu.

Jika dilihat-lihat dari barang-barang yang tersusun rapi dan tak berdebu sama sekali, apartemen ini sepertinya milik seorang gadis. Sedikit menyesal ia tak menanyakan siapa yang mempunyai apartemen ini kepada wanita paruh baya –teman ibunya yang mengantarnya. Yang ia tahu, anak dari teman Ibunya itu adalah pemilik apartemen yang akan ia tempati selama tiga bulan.

CKLEK

Sementara Hyerin melihat-lihat keadaan rumah, pintu depan apartemen berderit –menandakan ada seseorang yang datang. Spontan saja ia berbalik ke arah pintu apartemen.

Sesaat jantungnya berdegup kencang. Ia yakin yang datang adalah sang pemilik apartemen karena tak mungkin pintu itu terbuka dengan sendirinya jika tak tahu passwordnya.

“Aku pulang.”

Hyerin merasa tiba-tiba saja nafasnya tercekat begitu melihat seseorang yang muncul dari balik pintu. Ia salah mengira jika hanya dirinya yang terkejut akan hal itu, orang itupun menunjukkan ekspresi yang sama dengannya.

Tapi sesaat kemudian ekspresi orang itu berubah menjadi senyum nakal yang sepertinya sengaja dibuat-buat, tak memperdulikan Hyerin yang masih tetap mempertahankan ekspresi terkejutnya.

Ingin rasanya Hyerin menangis. Baginya tinggal di hutan pun dia rela, asalkan tidak tinggal di apartemen yang mulai detik ini dianggapnya sebagai apartemen terkutuk.

 ______________________________________________

 Hahaha… mian lama updatenya >.<
Salah satu faktornya sih karena ada beberapa perubahan … hhohoho

Okok… nikmatin aja chapter ini~

Akhir kata
.
.
Comment = Love

Iklan

66 pemikiran pada “For You (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s