Hidden Thing

Author: Nisha_gaem407

Main Cast: Kai (EXO-K) & Park Yoora

Genre: Romance/Little Angst

Rate: T (Teen)

Saat aku pertama kali melihatnya, entah kenapa ada sesuatu yang menarikku untuk mengenalnya. Yang anehnya, aku sendiri juga tak tahu apa itu.

Kim Jong In atau yang dikenal dengan nama panggilannya, Kai.

Masih kuingat jelas suara khasnya yang rendah dan bernada dingin begitu ia menyebut namanya, tapi entah mengapa begitu merdu di telingaku. Ia hanyalah siswa biasa yang baru saja pindah ke sekolah ini tepat dua bulan yang lalu. Tapi bagiku ia tak biasa. Ia seseorang yang spesial.

Semua tentangnya membuatku lupa dengan duniaku untuk sesaat. Berlebihan memang, tapi itulah yang terjadi. Itu semua bukanlah keinginanku, tapi hatiku.

Kadang aku iri pada teman-temanku yang bisa bersikap biasa saja dan beradaptasi dengan cepat pada siapapun. Dengan mudahnya mereka tertawa bersama, berkumpul bersama, sedangkan aku? Aku hanya gadis yang tertutup dan tak bisa menyesuaikan diri  dengan begitu cepatnya seperti yang mereka melakukan. Lebih tepatnya aku sedikit introvert.

Seperti saat ini, mereka tertawa dan berkumpul bersama orang yang kusukai, sedangkan aku hanya dapat menatap punggung tegapnya dari tempatku yang berada di sudut kelas. Miris? Ya, sangat! Say ‘Hi’ padanya saja aku tak bisa.

DEG

Jantungku tiba-tiba saja berdetak dua kali lipat tanpa bisa dicegah. Dia bersama teman-temannya tengah menatap ke arahku. Aku? Tentu saja gugup, tapi sebisa mungkin aku tetap memandangnya lurus, tak perduli pada teman-temannya yang juga menatapku.

Sedikit kecewa ia tak menampilkan ekspresi apapun di wajahnya saat aku bertatapan dengannya. Hanya sepersekian detik saja –bagiku dan ia langsung berbalik dan melanjutkan kembali aktivitasnya.

“Yoora-ah…” Aku menoleh ke arah suara yang sudah sangat ku kenal. Suara Song Hyerin, sahabatku.

“Um..wae?”

“Kau mau ke kantin?”

“Mian Hyerin-ah… Aku harus ke perpustakaan.” Aku memberinya pandangan, kau tahukan rutinitasku? Hyerin hanya bisa memutar bola matanya bosan.

“Ya ya ya… Jangan sampai hari tuamu juga kau habiskan di tempat terkutuk itu Yoora-ah. Bye~…” Hyerin langsung saja mengambil langkah seribu menjauhiku. Pasti ia takut aku akan menyeretnya ke tempat yang disebutnya terkutuk itu.

Yeah, beginilah keseharianku. Sekolah, belajar, dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Tak ada yang menarik. Tapi sebulan terakhir ini, ada satu yang bertambah dalam listku.

Menatapnya.

***

“Yoora-ssi.”

Suaranya dengan sukses menghentikan langkahku. Tubuhku seolah mematung begitu cepat. Yang terdengar pada koridor sepi ini hanyalah derap kaki yang kuyakin adalah miliknya.

“Yoora-ssi, ada yang ingin aku bicarakan.” Nafasku mulai memburu, tapi sebisa mungkin aku mengendalikannya. Jantungku berdetak beberapa kali lebih cepat dari biasanya sekarang. Yah, seperti biasa saat bertemu dengannya. Tapi saat ini situasinya berbeda. Dia yang selalu hanya bisa kulihat dari jarak jauh sekarang berada tepat di belakangku.

Hening…

Hanya suara angin yang samar-samar terdengar. Aku…bibirku kelu, tak sanggup untuk digerakkan. Sial! Pasti aku terlihat sangat bodoh sekarang. Sungguh, aku sangat ingin berbalik padanya dan berkata ‘ada apa?’, tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, tubuhku mematung dan bibirku kelu.

“Aku…”

Aku? Aku apa? Oh, pikiranku telah melayang pada hal-hal yang sepertinya sangat tidak mungkin terjadi. Kai akan mengatakan ‘aku mencintaimu’ kepadaku dan setelah itu dia memintaku untuk menjadi yeoja chingunya. Cih! Bodoh kau Park Yoora. Mana mungkin semua itu bisa terjadi padamu?!

“Aku menyukaimu.” Apa? Huh…Sepertinya pendengaranku mulai bermasalah.

Tubuhku tiba-tiba seperti tersengat oleh listrik ketika aku merasakan dua lengan kekar menelusup memelukku dengan mengalungkannya pada leherku dengan lembut. Nafasnya begitu terasa di tengkukku.

“A-aku…,-”

“Kau mau menjadi yeoja chinguku?”

Aku tak tahu siapa yang memperintahkan kepalaku yang tiba-tiba saja mengangguk. Huh.. mungkin hatiku?

Dan yang aku tahu setelah itu adalah tubuhku telah berada dalam pelukan hangatnya.

***

“Kau sudah siap?”

“Hm…” Aku hanya bisa menganggukan kepalaku dengan raut gugup. Bagaimana tidak?! Berdua saja dengan seseorang yang kusukai di dalam mobil, tentu saja itu membuatku gugup setengah mati. Tuhan, semoga ia tak mendengar detak jantungku saat ini. Padahal ini bukan kencan pertama kami lagi. Meski kuakui, saat kencan pertamaku dengannya jantungku berdetak lebih kencang daripada saat ini.

Akh!!! Rasanya aku ingin melompat keluar dari dalam mobil ini. Huh, tapi sayangnya aku masih ingin hidup dan menggapai cita-citaku.

Aku tak tahu sekarang Kai akan membawaku kemana. Tapi yang jelas, dia menyuruhku untuk berdandan lebih malam ini.

“Kau cantik.” Omo! Mungkin sekarang aku akan lebih cepat meleleh jika aku adalah ice cream.

“Jadi kemarin aku tak cantik?”

“Bu-bukan itu maksudku. Kau lebih cantik malam ini.” Ahaha… Aku suka wajahnya yang barusan. Seorang Kim Jong In yang terkesan cool bersikap salah tingkah dan gugup.

“Hm..Gomawo.”

Hening lagi sampai Kai memarkirkan mobilnya di depan sebuah bangunan yang bertuliskan ‘Night Club’.  Cukup kaget juga Kai membawaku ke tempat ini. Otakku sudah dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan dan itu semua buyar karena suara Kai yang ternyata telah membukakan pintu mobil untukku.

“Ayo.” Ia menarik tanganku lembut lalu membawaku masuk setelah melewati dua orang yang bertubuh kekar di pintu masuk. Sepertinya mereka sudah mengenal Kai, karena yang aku tahu, jika kau bukan salah satu member, kau akan langsung di usir dari tempat ini.

Ugh! Telingaku serasa mau pecah begitu aku memasuki club ini. Bukan telingaku saja, tapi mataku juga sakit melihat lampu-lampu berwarna-warni di tempat ini. Jujur saja, ini pertama kalinya aku memasuki club semacam ini.

Kulihat Kai melambaikan tangannya pada sekumpulan cowok yang aku tahu adalah teman seangkatanku, tapi tak pernah saling menyapa. Yah, orang yang dianggap cupu sepertiku tak mungkin akan dilirik oleh para manusia-manusia modern ini.

“Hey Kai… Kau terlambat.” Seseorang berambut coklat kehitaman yang kukenal sebagai cassanova di sekolah langsung buka suara begitu aku dan Kai tepat berada di hadapan mereka.

“Lihat siapa yang kubawa.” Kai tiba-tiba saja memeluk pinggangku dengan sebelah tangannya, membuatku lebih dekat dengannya.

“UWO!!”

“Cantikkan?” Aku hanya tersenyum kikuk pada mereka. Yah, mau apa lagi. Masa aku harus memasang wajah garang? Sungguh bukan sifatku.

“Hah… cepat lakukan Kai.” Lakukan? Lakukan apa? Perasaanku mulai tak tenang sekarang. Ditambah lagi, sekarang aku duduk di tengah-tengah mereka semua. Aku bergerak-gerak gelisah, mencoba mencari objek lain yang dapat kulihat selain mereka yang sekarang sedang berbisik-bisik.

“Yoora-ah…” Aku secepat kilat berbalik pada Kai, tapi yang kudapatkan adalah ………

CUP

Sesuatu yang lembut menempel pada bibirku. Mataku membelalak lebar begitu sadar apa yang terjadi atau lebih tepatnya apa yang menempel pada bibirku.

Kai… Ya, sekarang aku berciuman dengannya. Ciuman pertamaku, dia yang mengambilnya. Tubuhku kaku seperti pada saat dia menyatakan cintanya padaku beberapa hari yang lalu.

Beberapa detik setelahnya tak ada lagi yang menempel di bibirku. Tapi tubuhku masih saja kaku dan pandanganku seolah kosong.

“Aku sudah melakukannya. So, give me your money.

Kata-kata Kai menyadarkanku. Jadi…jadi selama ini aku jadi bahan taruhan? Oh, betapa lugunya dirimu Park Yoora! Sial!

PLAK

Tanpa kata-kata lagi, aku langsung melengos pergi dari tempat terkutuk itu. Aku dengar Kai memanggilku, tapi tak kuhiraukan lagi suaranya.

Ada urusan apa lagi dia memanggilku? Bukankah urusannya sudah selesai denganku? Yeah, dia sudah mendapatkan yang dia inginkan. Uang! Aku heran, orang kaya sepertinya masih mau mendapatkan uang dengan cara kotor seperti ini? Huh, dunia sepertinya akan kiamat.

Aku merasa seperti orang yang paling bodoh di dunia. Bisa-bisanya mempercayai seseorang sepertinya hanya karena aku mencintainya. Dan hasil dari mempercayainya adalah hancur. Hatiku hancur hanya dalam kurun waktu seminggu.

Air mataku mengalir begitu saja, aku tak tahu kapan, yang jelas aku baru menyadarinya sekarang. Kenapa aku jadi cengeng begini? Untuk pertama kalinya, aku menangis untuk hal yang tak berguna seperti ini. Memalukan mengeluarkan air mata untuk orang sepertinya. Untung saja jalanan yang kulewati sepi, kalau tidak mungkin aku telah mendapat pandangan kasihan dari orang-orang.

Aku menyukaimu

Cih! Dasar buaya!  Berkata aku menyukaimu setelah itu dipermainkan hanya untuk mendapatkan uang dan bersenang-senang.

Mulai saat ini! Aku, Park Yoora, tak akan pernah mau mengenal dan melihat Kim Jong In.

***

Ternyata menendang kerikil-kerikil kecil di saat pulang sekolah seperti ini cukup menyenangkan. Maksudku, cukup menyenangkan untuk seseorang yang kesepian sepertiku. Hyerin –sahabatku satu-satunya yang selalu pulang bersama-sama denganku, sore ini pergi bersama kekasihnya, Byun Baekhyun. Kencan mungkin? Sudahlah, itu bukan urusanku.

Sudah sebulan berlalu sejak kejadian itu. Aku selalu berusaha menjauhinya dan tak menganggapnya ada. Perlahan-lahan aku bisa membuang jauh-jauh semua yang aku tahu selama ini tentangnya, meskipun awalnya sulit. Sedangkan dia? Sikapnya biasa saja seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.

Bukannya aku mengharap maafnya, tapi aku hanya heran, tak adakah rasa perikemanusiaannya? Atau memang benar-benar tak ada? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Masih dengan terus menendang kerikil-kerikil kecil, aku menyeberangi jalanan yang sepi ini. Entah kapan,menendang kerikil menjadi kebiasaanku. Kebiasaan yang cukup aneh menurutku, tapi aku menyukainya.

“PARK YOORA!”

TIN…TIN…

Aku ingin berbalik begiitu mendengar suara yang familiar meneriakkan namaku. Tapi belum sempat aku berbalik, seseorang telah menerjangku bersamaan dengan bunyi yang memekakkan telinga. Dan setelah itu, semuanya gelap.

***

Pusing. Itulah hal pertama yang kurasakan begitu aku mencoba membuka mataku yang terasa berat. Aku mengerjapkan-ngerjapkan mata, mencoba melihat dengan jelas dimana aku sekarang. Ruangan serba putih dan bau obat-obatan, pasti rumah sakit.

“Kau sudah bangun?” Aku melirik ke samping dan melihat seorang suster yang tersenyum padaku. Aku hanya mengangguk tapi tak membalas senyumnya. Kepalaku masih terlalu sakit untuk melakukannya.

“Apa yang terjadi denganku?”

“Kecelakaan. Tapi ada seseorang yang menyelamatkanmu.”

“Tenang saja, kau boleh pulang hari ini juga.” Aku terdiam mencerna kata-kata suster di hadapanku ini. Seseorang? Siapa? Bagaimana keadaannya?

PARK YOORA!

Satu persatu bayangan seseorang memanggil dan suara klakson mobil berputar dalam kepalaku. Aku ingat sekarang! Suara itu milik Kai!

“Dimana Kai? Dimana dia?”

Aku ingat sekarang! Dia menyelamatkanku dari maut yang tadi akan menjemputku. Aku harus bertemu dengannya. Harus! Setidaknya hanya untuk memastikan keadaanya.

Perasaan bersalah memenuhiku, membuatku sedikit sesak dengan kenyataan ini. Kenapa orang yang kubenci yang menyelamatkanku? Orang yang selama ini selalu ku anggap seseorang yang tak mempunyai hati sama sekali.

Aku melepas jarum infus yang terpasang pada punggung tanganku. Aku tak perduli darah telah merembes keluar, yang penting aku ingin menemuinya.

Agasshi, tenanglah.”

Suster itu menahanku. Mencoba membiarkanku untuk tetap pada tempatku.Suaranya sedikit bergetar ketika menyuruhku untuk berhenti memberontak. Tidak! Aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan Kai dan memastikan keadaanya.

“Aw..” Kudengar suster itu merintih begitu aku lepas darinya. Entah dirinya terjatuh atau apalah itu, aku tak perduli. Pikiranku saat ini hanya tertuju pada Kai. Ya, hanya dia.

Kubuka pintu secepat mungkin. Aku tak ingin suster itu menahanku lagi. Aku bisa merasakan pandangan heran semua orang yang ada pada koridor ini karena melihatku berlari seperti orang yang kesetanan mungkin?! Tapi aku tak peduli. Untuk apa aku peduli dengan mereka sementara masih ada hal yang sangat penting yang harus aku pedulikan?!

BRUK

Aku mendongak, melihat siapa yang menabraku. Lebih tepatnya, ia yang kutabrak.

“Yoora-ah, gwaenchana?” Hyerin? Cukup kaget aku melihatnya berada di depanku sekarang. Sungguh sebuah kebetulan. Alih-alih melanjutkan langkahku, aku berdiri dan memeluknya erat. Menumpahkan semua emosiku di pelukan sahabatku ini. Sepertinya ia sedikit kaget dengan perlakuanku.

“Hei.. Kau kenapa? Sahabatku bukan orang yang cengeng seperti ini.” Bisa kurasakan tangannya menyentuh kepalaku, membelainya lembut.

Aku masih diam dan terisak kecil dalam pelukannya. Sungguh, saat ini aku benar-benar butuh seseorang untuk dijadikan tempat sandaran.

“Kembalilah ke kamarmu. Kau pasti lelah.” Tunggu! Hyerin tahu tentang kecelakaan ini? Pasti ia tahu dimana Kai sekarang. Ya, dia pasti tahu.

“Kau tahu dimana Kai, Hyerin-ah?” Sekarang aku tak lagi memeluknya. Justru aku mengguncang bahunya kuat ketika ia hanya diam menunduk mendengar pertanyaanku.

“DIMANA KAI? JAWAB AKU!” Air mataku semakin merembes keluar tanpa bisa  dicegah. Pikiran-pikiran aneh mulai menguasaiku, tapi sebisa mungkin aku menghilangkannya.

“Dia-dia..baik-baik saja Yoora-ah.”

“Benarkah? Kau tak bohongkan?”

***

Senang rasanya melihat sekolah ini lagi. Dua hari sudah aku tak menginjak sekolahku ini. Hehe, demam sialan! Mungkin aku kaget dengan kejadian tiga hari yang lalu, dan berakhir dengan demam seperti kemarin. Sangat menyiksa.

Mungkin saking semangatnya, aku sampai berlari-lari menuju kelasku. Yeah, aku tak sabar lagi menyambut pelajaran favoritku yang notabene adalah pelajaran pertama, matematika. Selain itu, aku memang sedikit terlambat sih.

KREK…

Aku berhenti begitu mendengar suara loker terbuka yang sebelumnya telah kulewati. Entah kenapa, otakku memerintah untuk melihat siapa yang membuat suara itu.Dan sejurus kemudian, aku menyadarinya.

Orang itu adalah malaikat penyelamatku, Kai, dengan balutan perban pada kepalanya.

Aku salah selama ini mengira Kai bukanlah orang yang mempunyai perikemanusiaan dan hati. Aku salah berfikir Kai adalah orang yang paling kejam seantero bumi. Dan kejadian itu, telah merubah persepsiku terhadapnya. Rasaku yang perlahan sempat tenggelam kini kembali muncul.

“Kai!” Aku memanggilnya dengan sedikit berseru seraya berjalan ke arahnya. Yeah, sebenarnya aku membutuhkan beberapa menit untuk mengumpulkan keberanian ini. Dan usahaku tak sia-sia. Kai yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam loker menoleh padaku dengan senyum manisnya yang masih sama seperti dulu.

“Ada apa agasshi?” Agasshi? Ada apa ini? Dia terlihat aneh. Seperti…tak mengenalku?!

“Ah.. Bukankah kita sekelas? Ayo cepat. Mungkin Lee seonsaengnim sudah masuk.” Cepat-cepat aku menguasai diri dan langsung menarik tangannya menuju kelasku yang juga adalah kelasnya.

“Bisa kau jelaskan siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba menarikku?” Dan setelah mendengar kata-kata yang terlontar darinya, peganganku terlepas seketika. Sakit? Ya, sakit. Di sini, di hatiku. Kenapa ia tak mengenalku? Apa lagi ini Tuhan?!

***

“Hilang ingatan parsial. Itu yang terjadi padanya Yoora-ah.” Hyerin sekarang berdiri di hadapanku. Menjelaskan semuanya. Ya, semua yang telah dia sembunyikan dariku sejak tiga hari yang lalu.

Aku tahu sikapnya dan kata-katanya saat ini itu untuk membuatku lebih tenang. Tapi, apa gunanya jika ketenangan itu hanya untuk sementara?

“Tapi kenapa harus aku?” Dia tak mengingatku sama sekali. Juga tentang semua yang telah ia lakukan padaku. Tapi kenapa harus aku di antara ratusan orang yang ia kenal? Sementara ia masih mengingat yang lainnya. Aku ingin marah! Tapi pada siapa? Kai? Tak mungkin.

“Sudahlah Yoora. Setidaknya kau bisa memulai dari awal lagi.”

***

-EPILOG-

“Kau yang kemarinkan?”

“Yeah… kenalkan, aku Park Yoora.”

“Kim Jong In, tapi kau boleh memanggilku Kai.”

“Kita bisa jadi temankan?”

“Tentu.”

Lega rasanya jika hidupku seperti ini. Setidaknya dengan kejadian dimana Kai mempermainkanku membuatku lebih terbuka mengenal kehidupan dan mempelajari sifat setiap orang di sekitarku.

Benar kata Hyerin, dimulai dari awal lagi tidak ada salahnya kan?

Dan aku percaya, di balik semua kejadian buruk yang menimpamu, tersembunyi sesuatu yang akan membuat hatimu lebih cerah,cepat atau lambat, pasti akan terjadi.

END

_________________________________________

Annyeong~~~
Saya kembali lagi dengan FF Kai 😉

Oh iya..sekedar pemberitahuan aja, hilang ingatan parsial itu sama dengan hilang ingatan dalam jangka waktu entah cepat ataupun lama. Jika saat terjadi kecelakaan dan kita memikirkan seseorang, kemungkinan besar kita akan melupakan seseorang yang kita pikirkan itu.

Nah~~ sekian cuap-cuapnya 😀

Byeom~~~

Iklan

61 pemikiran pada “Hidden Thing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s