Life Without You (Chapter 1)

Title: Life Without You [Part 1]

Author: Laras (@Laras_MoonHee)

Length: ­Part 1 – Part 4

Ratted: Teen

Genre: Romance, angst

Cast:

–          Sierra Choi

–          Kim Jongin

–          Byun Baekhyun

Other Cast:

–          EXO member

Note: Annyeonghaseyo Laras imnida. ini ff pertamaku disini. Sebenarnya cast utamanya bukan Kai tapi bias ku yang satu lagi yang satu agency sama EXO, si EvilKyu. Karena aku suka Kai jadi kuganti aja. Disini anggap aja EXO udah debut lama, selama Super Junior lah. Mian kalau ada salah kata, atau kesalahan-kesalahan lainnya maklum aja saya penulis amatir. Jangan lupa untuk comment ya, akan kutunggu bahkan selalu kutunggu. Happy reading..

Tak bisakah kau hentikan ini semua?

Tak bisakah kau tidak menyakitiku?

Tak bisakah kau tersenyum untukku?

Tak bisakah kau tertawa untukku?

Tak bisakah kau menganggapku ada?

Tak bisakah kau tak mengacuhkanku, sekali saja?

Semua sikapmu, kata-katamu, dan tatapan matamu sekalipun, semua itu menyakitiku. Kau melakukan itu untuk menyakitiku. Aku tahu kau membenciku tapi bisakah kau untuk tak mengacuhkanku? Aku merasa lebih baik kau membenciku seumur hidup daripada harus dalam keadaan kau mengacuhkanku seumur hidup. Aku ini manusia yang ingin dianggap ada oleh setiap orang bukanlah batu yang dengan mudahnya orang tak perdulikan sedikitpun. Tak pernahkah kau berpikir untuk menganggapku ada? Tak pernahkah kau berpikir untuk tak mengacuhkanku?

Aku tersenyum ketika kau tersenyum meski senyuman itu bukan untukku, aku tersenyum ketika kau tertawa meski itu hanya untuk menertawakan kesedihanku, aku bahagia ketika kau bahagia meski bahagiamu itu hanya untuk menyakitiku. Tersenyum, hanya itulah yang bisa kulakukan ketika kau menyakitiku hanya untuk sekedar meredakan rasa sakit yang dibuat olehmu. Ketika aku kesepian tanpamu, aku tersenyum. Ketika aku kelelahan karena tugas yang kau berikan padaku, aku tersenyum. Ketika aku sakit dan kau tak pernah merawatku, aku tersenyum. Bahkan ketika aku menangis karena dirimu, aku masih bisa tersenyum.

Aku Cuma bisa meyakini diriku sendiri bahwa kau tak ada niat menyakitiku meski itu semua hanya rekayasaku semata. Aku membohongi diriku sendiri bahwa kau itu adalah namja yang perhatian, baik, bahkan mencintaiku namun kenyataan menyatakan sikapmu adalah kebalikan dari semua kebohonganku.

6 bulan yang lalu kami dipertemukan oleh keluarga kami, 5 bulan yang lalu kami menyandang status tunangan, 4 bulan yang lalu kami menikah, 3 bulan yang lalu dia pergi tanpa kabar, 2 bulan yang lalu dia kembali tanpa sapaan dan pertanyaan, dan 1 bulan yang lalu dia membawa kekasihnya ke rumah kami, bukankah itu semua menyakitkan? 6 bulan kami kenal, 6 bulan dia menyakitiku, dan 6 bulan juga dia mengacuhkanku.

Saat dimana aku merasa tersakiti adalah 1 bulan yang lalu ketika dia membawa kekasih yang selama ini masih bersamanya sejak awal pertemuan kami. Tak sadarkah dia bahwa seorang istri pasti tersakiti setiap melihat suaminya membawa kekasihnya dengan terang-terangan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Itulah yang ia lakukan 1 bulan yang lalu, bahkan kekasihnya menginap di rumah kami dan dengan sangat terpaksa aku harus tidur di kamar pembantu yang kecil, panas, dan sesak.

Saat ini aku sedang berhadapan dengannya, di meja makan rumah kami. Dia duduk di depanku memandang ke arah map merah yang masih tertutup berada di atas meja. Diam, itulah yang ia lakukan sejak 10 menit yang lalu kami duduk bersama disini tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku Cuma bisa ikut terdiam bersamanya karena aku tahu kalau aku berbicara dia akan menganggap itu seperti angin yang berlalu, berbisik tak bermakna.

Perlahan tapi pasti ia mendorong map merah itu untuk mendekat ke arahku hingga sekarang map itu berada tepat di depan mataku. Kubuka perlahan map itu, aku merasa ini akan jadi mimpi terburuk sepanjang hidupku. Belum sempat aku membaca, dia melemparkan bolpoin hingga sekarang bolpoin itu berada tepat diatas kertas  yang ada di dalam map tersebut. Aku lihat dirinya, dia bahkan tak melihatku sedikitpun, sebegitu tidak bergunanyakah aku dimatanya sampai ia tak mau berlama-lama melihatku.

“Tanda tangan itu” perintahnya dengan nada yang terdengar ketus di telingaku.

Kupandangi kertas yang ada dihadapanku saat ini dan mulai kubaca perlahan dalam hatiku menyesapkan setiap kata yang ada dalam kertas itu. tak butuh waktu lama, mataku langsung menangkap satu kata yang sudah kuyakini pasti akan terjadi dalam pernikahan kami. ‘Cerai’ kata itu aku tahu pasti akan ada dalam akhir pernikahan kami.

Kali ini aku bisa apa? Tersenyum lagi? Aku saat ini tak bisa tersenyum karena aku akan bercerai dengan suamiku. Apa dengan ini dia bisa bebas? Apa dengan ini dia bisa bersama kekasihnya? Apa dengan ini dia bisa bahagia? Baiklah kalau itu memang semua keinginannya, aku akan menyetujuinya untuk melihatnya bahagia. Meski ini sakit, ini demi kebahagiaannya. Kebahagian untuk suamiku, Kim Jongin.

Aku segera menandatangani kertas itu tanpa berkata apapun. Aku Cuma perlu menandatanganinya kan? Bukan menghancurkannya. Bodoh, yang hancur bukanlah kertas itu tapi aku. Ku beri kembali map dan bolpoin itu padanya, ia mengambilnya dan memandangi kertas itu mencoba meyakini bahwa aku benar-benar menandatanganinya. Apakah aku terlihat seperti pembohong baginya? Aku tak pernah bohong padanya, aku hanya membohongi diriku sendiri.

Aku segera beranjak dari dudukku menuju ke kamarku dengan gontai. Aku menangis, ini sudah ke sekian kalinya akumenangis karenanya. Aku berharap setelah semua di antara kami berakhir aku takkan menangis lagi untuknya, dan ini saatnya aku pergi dari sini.

Perlahan kuraih koperku yang ada di atas lemariku, koper berwarna kuning gading yang kupakai 4 bulan lalu untuk pindah kesini bersamanya. Koper yang 4 bulan lalu kupikir akan dipakai untuk terakhir kalinya akhirnya kupakai kembali, bukan untuk liburan, bukan untuk pindah bersamanya melainkan untuk pergi dari sini dan pergi dari kehidupannya. Kumasukan pakaianku ke dalam koperku, bukan hanya pakaianku tapi semua barang-barang milikku yang ada disini hingga tak bisa dilihat lagi oleh matanya. hingga pada pakaian terakhir yang ku ambil aku melihat amplop cokelat yang cukup tebal. Sebuah amplop yang berisi sesuatu dan harus ku kembalikan padanya, aku tak punya wewenang atas semua pemberiannya.

Kututup rapat koperku dan mulai menarik kopernya keluar kamar. Kudapati dia melihatku dengan mata yang melebar, dia pasti terkejut, Bagaimana tidak, tak sampai 30 menit setelah aku menandatangani surat cerai kami aku sudah membenahi barang-barangku. Aku berjalan mendekatinya sambil menggeret koperku yang bisa dibilang cukup berat. Kuletakan amplop cokelat yang ada di lemariku tadi di meja tepat di depannya dengan posisiku yang ada di sampingnya saat ini.

“Apa ini?” tanyanya dan mengambil amplop itu dari atas meja makan.

“Itu uang yang kau berikan selama ini” jawabku lirih.

“ambilah, aku menghargaimu sebagai istri. Aku seorang suami dan itu tanggung jawabku untuk menafkahimu” disodornya amplop itu kembali padaku.

Baru kali ini dia bicara sebaik ini, tapi ini semua terlambat kami sudah memutuskan untuk bercerai. Kugelengkan kepalaku dan mendorong kembali amplop itu ke arahnya, kutatap matanya tapi yang ada malah air mataku yang mengalir. Aku tak mau di kasihani olehnya karena menangis, aku memilih merunduk tanpa harus menatap matanya. kalau kutatap matanya rasanya tangisanku semakin menjadi, aku jadi mengingat setiap hal yang ia perbuat untuk menyakitiku, ini benar-benar berat.

“Aku tak pantas mendapatkan itu,” tak bisa kututupi, suaraku terdengar getir dan menyedihkan di telingaku sendiri, “Aku tak pernah menjalankan tugasku sebagai seorang istri, aku tak pantas mendapatkan itu semua”

Sepertinya dia terkesiap mendengar pernyataanku. Dia tak bicara sedikitpun dengan jeda sekitar 5 detik setelah pembicaraanku dan dia tak kunjung bicara kuputuskan untuk kembali bicara, “Maafkan aku karena aku tak pernah jadi istri yang baik, maafkan aku karena tak bisa menjadi istri yang membahagiakanmu, maafkan aku karena tak pernah bisa melayanimu dengan baik, maafkan aku atas semua kesalahanku, maaf.”

Kulepaskan perlahan cincin pernikahan yang tersemat di jari manisku, kutatap cincin ini untuk terakhir kalinya. Cincin yang tebuat dari emas putih dengan mata berlian kecil di tengahnya, di dalam cincin ini terukir namanya ‘Kim Jongin’. Aku baru sadar hanya akulah yang memakai cincin pernikahan kami selama ini, rasanya seperti Cuma kau yang menginginkan pernikahan ini. Kuletakkan cincin itu di atas meja dan menarik tanganku kembali. Kuberanikan diri untuk menatapnya, menatapnya untuk terakhir kalinya tanpa ada kesempatan kedua lagi di antara kami.

“Selamat tinggal Jongin-ssi, terima kasih telah membuatku merasakan apa yang namanya pernikahan. Terima kasih karena telah membuatku merasakan arti hidup selama ini” kuhela nafasku dengan berat, hendak melanjutkan kata-kata yang cukup berat untuk kusampaikan. Setelah kuhembuskan nafasku untuk kedua kalinya aku mulai membuka mulutku, “Aku melepaskanmu untuk melihatmu bahagia, aku berharap dengan berakhirnya pernikahan kita kau akan bahagia. Aku berharap kau berbahagia bersama Krystal di sisimu” ucapku di tengah tangisku, aku yakin aku sangatlah menyedihkan di matanya saat ini.

Aku melangkah mundur dan memegang gagang koperku, kubungkukkan tubuhku padanya dan tersenyum padanya, “Selamat tinggal, suamiku.”

Kutarik koperku bersamaku keluar. Aku tak mendengar sepatah katapun lagi darinya sejak tadi. Kupakai stilletoku dan melangkah keluar. Kubuka pintu rumah kami perlahan, kulangkahkan kakiku menapaki halaman rumah kami. Beberapa langkah lagi sebelum aku benar-benar meninggalkan rumah ini kutoleh ke arah belakang tepat di depan pintu rumah kami atau lebih tepatnya rumahnya, dia berdiri disana menatapku datar.

Tak terbesitkah rasa penyesalan pada dirimu Kim Jongin? Apa kau benar-benar menginginkan ini? Kali ini aku yakin, kau sangat membenciku. membenciku karena membuatmu terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkan, menghabiskan masa mudamu untuk menjadi suamiku. Aku masih ingin bersamamu, aku mencintaimu, seandainya kau menahanku saat ini untuk kembali padamu. Tapi ku rasa itu semua tak mungkin bahkan untuk memandang kepergianku saja kau tak perduli.

“aku Cuma ingin kau tahu saja tentang perasaanku selama ini,” kutelan salivaku dengan begitu berat, lalu menatapnya lekat dari kejauhan, “Saranghae, Kim Jongin. Aku tak mengharapkan balasanmu, aku Cuma ingin kau tahu saja perasaanku yang sebenarnya padamu. Geundae, selamat tinggal” kutarik kembali koperku melangkah besar untuk segera keluar dari halaman rumah, perlahan tapi pasti kupalingkan mataku tak menatapnya lagi mengalihkannya ke jalan setapak yang akan kujejaki. Itu terakhir kalinya kita saling bertatapan, selamat tinggal.

Author POV

Sierra dengan langkah besarnya segera pergi dari sana, ia tak mau membuat dirinya merasa terus terlarut dalam perasaan tak rela karena meninggalkan namja yang dicintainya tapi tak mencintainya. Krystal bening terus mengalir deras dari pelupuk matanya, tak dipedulikannya orang-orang yang melihatnya menangis, ia tak peduli ia ingin merasa ingin lebih tenang dengan cara menangis. ia Cuma ingin rasa sakit itu menghilang tapi semakin ia melangkah lebih jauh dari rumah itu, semakin juga hatinya terasa sakit.

Langkah Sierra terhenti ketika ia melihat sepasang kaki yang memakai sneakers berwarna putih polos. Kaki itu menghalangi jalannya dan ia hendak melewatinya namun ia malah ditarik oleh seseorang yang memakai sneakers putih itu hingga jatuh dalam pelukannya. Sierra tekejut ketika ia telah berada dalam pelukan namja bersneakers putih itu, tapi dari wangi tubuh namja itu ia tahu siapa orang itu dan langsung menangis sesegukan dalam pelukannya.

“Hiks, Baekhyun oppa..” lirih Sierra memanggil namja yang memeluknya itu.

“Tenanglah” elus Baekhyun di punggung Sierra, bukannya menenangkannya, elusan itu malah semakin membuat Sierra menangis.

~2 weeks later~

Menangis, hanya itulah yang bisa Sierra lakukan di saat ia sendirian di apartemen yang sengaja di sewakan Baekhyun untuknya. Sierra tak bisa pulang, ia tak punya rumah dan orang tua. Sejak berumur 5 tahun ia harus tinggal dengan keluarga yang menemukannya ketika kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya di Jepang. Hidupnya sangat tak menyenangkan lebih tepatnya menyedihkan, ia diperlakukan layaknya pembantu meski dalam surat keluarganya ia berstatus anak dari keluarga Choi. Pernikahan antara dirinya dan Jongin-pun murni atas paksaan orang tua angkatnya, mereka menjodohkannya untuk mengincar harta keluarga Kim, karena itu jugalah Jongin pasti membencinya.

Ketika ia di tawarkan oleh Baekhyun untuk pulang ke rumah orang tua angkatnya, ia menolak. Ia tahu pasti jika ia kembali kesana dan mereka mengetahui kenyataan bahwa dia dan Jongin telah bercerai, Ia yakin ia pasti akan disiksa kembali. Ia ingin kehidupannya tak kembali seperti dulu, menderita. Baekhyun mendukung sepenuhnya keputusan Sierra, lebih baik Sierra pergi daripada terus-terusan terpuruk dalam penderitaan.

Sierra sejak tadi hanya berdiam diri di depan TV yang menyala. Matanya memang menatap TV tapi pikirannya telah melayang untuk kembali terlarut dalam kesedihan. ia kembali tersadar ketika menangkap seorang namja di layar TV, namja yang amat sangat ia cintai. Jongin, tak bisa ia hilangkan nama itu dari pikirannya. Jonginlah orang pertama yang akan dalam pikirannya ketika ia sedang melamun. Ia tersenyum miris menatap TV, saat itu ia melihat Jongin yang sedang tampil di salah satu acara musik bersama member dari EXO.

Matanya langsung berhenti menatap TV ketika ia merasakan sesuatu yang tak enak berasal dari dalam perutnya. Segera Sierra tutup mulutnya seperti menahan sesuatu untuk keluar dari dalam mulutnya itu, namun ia malah merasa semakin sakit dalam perutnya.

“Hoek.. Hoek”

Sierra segera berlari ke dapur, di ambilnya mug yang berada di dalam salah satu laci dapur lalu menuangkan air dari dispenser yang ada di samping meja makan. Ia mulai merasa mual kembali, tanpa basa-basi ia segera meminum air putih itu untuk menghilangkan rasa mualnya. Sebuah senyuman merekah di bibir tipis Sierra, tangannya ia arahkan ke perutnya dan mengelusnya dengan begitu lembut. Pandangannya langsung ia alihkan ke perutnya itu, lagi-lagi senyuman itu kembali merekah. Senyuman yang ia tujukan kepada nyawa yang ada di dalam perutnya itu.

Senyuman Sierra perlahan berubah menjadi senyuman yang begitu miris. Tak ada yang tahu kalau saat ini dia sedang mengandung, Baekhyun sekalipun yang notabene orang terdekatnya saat ini juga tak tahu. Hanya Sierra seoranglah yang tahu soal kehamilannya yang sudah menginjak 4 minggu itu.

“Maafkan Eomma sayang, kau pasti merindukan Appamu” ucapnya lembut pada anak yang ada di kandungannya itu, ia mencoba memberitahukan seberapa sayangnya dia pada anaknya itu melalui elusannya.

BRAKH

“B-B-Baekhyun oppa” kejut Sierra begitu melihat Baekhyun yang baru datang dan Sierra yakin Baekhyun pasti mendengarnya. Sierra menatap barang belanjaan yang dibawa Baekhyun terjatuh hingga berantakan di lantai, Baekhyun pasti amat sangat terkejut mendengarnya.

Sierra POV

Bagaimana ini? Dia mengetahuinya. Aku tahu, aku tak bisa menyembunyikan ini selamanya tapi, aku belum siap untuk mengatakan kepada orang lain bahwa ada nyawa yang sekarang hidup di dalam perutku. Haruskah sekarang ia mengetahuinya? Tuhan, bantulah aku.

Baekhyun oppa tak hentinya menatap diriku, langkahnya terlihat gontai ketika berjalan semakin dekat ke arahku. Kali ini dia berdiri tepat di depanku, seperti biasa ia mulai menggenggam kedua tanganku.

“Kau hamil?” tanyanya dengan mata yang memancarkan pertanyaan.

Apakah aku harus katakan sekarang? Jujur aku belum siap. Aku tak mau dikasihani, aku tak mau merepotkannya lebih banyak lagi, dan aku tak mau mengusik kehidupan Kim Jongin lagi. Kalau dia tahu, aku yakin penderitaan Jongin akan semakin banyak lagi. Aku Cuma ingin ia bahagia meski tanpaku dan anakku sekalipun.

“Jawab aku Sierra, kau hamil?” tanyanya dan sekarang mulai mengguncang pelan tanganku.

Aku mengangguk pelan. Dia terlihat menahan nafasnya tercekat, tak lama ia meletakan tangannya di kedua pipiku memintaku untuk menatapnya.

“Kau harus bilang pada Jongin”

Bilang? Mengatakan padanya kalau aku mengandung anaknya? Apa yang terjadi setelah itu? aku tidak mau. Aku senang jika kembali padanya tapi aku tak suka jika itu merusak kebahagiaannya. Aku tak bisa, sudah cukup kurusak kebahagiaannya selama 6 bulan ini.

“Aku tidak mau” gelengku pelan.

“Kau mau anakmu tak punya Appa??” sentak Baekhyun oppa padaku, baru kali ini ia berani membentakku. Ya wajar ia membentakku, aku terlalu keras kepala untuk mendengarkan nasihatnya kali ini.

“Biarkan aku merawatnya sendirian”

“Jangan Egois! Pikirkan anakmu! Cepat kita temui dia sebelum terlambat!”

Baekhyun oppa segera menarik tanganku untuk keluar dari apartemen bersamanya tapi kutarik kembali tangannya dan ia kembali menatapku. Kubalas tatapannya, pandanganku sedikit memburam ketika gumpalan air mataku mulai menyeruak di pelupuk mataku. Aku harus katakan, aku tak bisa kembali pada Jongin.

“kita sudah terlambat,”

“apa maksudmu?” herannya dan mulai kembali mendekat padaku.

“Oppa, aku sudah bercerai dengannya. Tepat 30 menit yang lalu kami sudah resmi bercerai”

To Be Continued

43 pemikiran pada “Life Without You (Chapter 1)

  1. Oooooooooh pantasan kok rasanya aku pernah baca ff ini tapi kyuhyun sama donghae ya kalau gk salah..wow tapi jadi ada kesenangan trsendiri bisa bca crita yg sama dg cast yg brbeda..daebak..keep writing ya thor…

  2. Sukses bikin nangis thor ff-nya. Feelnya kerasa banget pas bacanya. Terus bahasanya juga udah lumayan baku jadi makin enak dipahami. Jalan ceritanya bisa bikin ikutan ngerasain apa yg Sierra rasain :””)
    Izin baca chap 2 yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s