Life Without You (Chapter 2)

Title: Life Without You [Part 2]

Author: Laras (@Laras_MoonHee)

Length: ­Part 1 – Part 4

Ratted: Teen

Genre: Romance, angst

Cast:

–          Sierra Choi

–          Kim Jongin

–          Byun Baekhyun

Other Cast:

–          EXO member

Jongin POV

Akhirnya setelah melalui proses panjang kami resmi bercerai tanpa kehadirannya di setiap sidang perceraian kami. Dia hanya diwakili oleh pengacaranya saja. Apa dia benar-benar tak mau menemuiku untuk terakhir kalinya?  Saat ini entah mengapa setiap air mata yang jatuh di pelupuk matanya saat itu, selalu terbayang dalam pikiranku. Apa aku telah berbuat salah? Bukankah dia menjadi istriku hanya untuk mengincar harta keluargaku semata, tapi mengapa dia yang begitu sedih. Seharusnya dia datang dan memaksaku untuk tak menceraikannya tapi dia lebih memilih mengakhirinya, apakah perasaannya padaku itu nyata?

“Jongin-ah, eomma kecewa denganmu” ucap Eommaku dan menatapku penuh kekecewaan, begitu juga Taeyeon Noona dan Appaku. Racun apa yang kau tebarkan pada keluargaku Sierra Choi sehingga membuat keluargaku bersimpati padamu, kau licik.

“Eomma.. mian, tapi dia juga menyetujuinya” elakku tapi Eommaku malah melengos pergi tanpa melirikku lagi disusul Appaku. Kau pasti senang Sierra karena telah membuat Eommaku tak mempercayaiku bahkan membenciku, kau wanita penyihir.

“Jongin-ah, apa yang kau pikirkan sampai kau tega menceraikannya?” tanya Taeyeon Eonnie begitu lirih padaku, siapa yang dia kasihani? aku? Atau wanita licik itu?

“Noona kau pasti tahu kan? Dia menikah denganku Cuma untuk mengincar harta keluarga kita, dia licik” jelasku pada Taeyeon noona tapi dia malah menggelengkan kepalanya, “Apa kalian sudah dimantrai olehnya? Apa kalian sudah termakan tipuannya, huh? Dia benar-benar keterlaluan.”

“Apa yang membuat kamu berpikir seperti itu tentangnya?” berpikir? Tentu, itu dapat mudah ditebak sejak awal pertemuan kami, apa keluargaku ini bodoh? “Jongin-ah kau tak tahu apa-apa, bukan itulah alasan dibalik pernikahanmu ini”

“Arkh.. kalian benar-benar sudah termakan omongannya. Mana dia? Aku akan menyuruhnya untuk tak datang ke kehidupan keluarga Kim lagi, jika perlu kubunuh dia!” bentakku tak karuan, dan aku mengedarkan pandanganku mencari pengacaranya hendak menyakan keberadaan wanita licik itu tapi Taeyeon Noona malah menahanku, “Lepas Noona! Aku harus memperingatinya!” rontaku meminta melepaskan pegangan tangan Taeyeon Noona di lenganku.

“Jongin-ah tenang”

“Bagaimana aku bisa tenang!! Dia terus mengusik kehidupan keluarga Kim!!”

“JONGIN-AH!” teriakan dan air mata Taeyeon noona langsung membuatku terdiam. Aku mulai bisa mengontrol emosiku, menatap noonaku yang sudah benar-benar kesal dengan ulahku, “Dengar, Eomma menikahi Sierra denganmu karena Eomma ingin membebaskannya,”

“Dari apa? Bukankah dia sudah hidup enak.” Potongku dengan nada yang begitu ketus.

“dengarkan dulu, bumonim (orang tua) dari Sierra yang sudah meninggal saat ia umur 5 tahun adalah sahabat Eomma dan Appa”

Meninggal? Bukankah yang waktu itu orang tuanya? Jadi, yang waktu pernikahan kami itu siapanya?

“Kau tak tahu?” tanya Taeyeon noona dan membuatku tersadar dari lamunanku, aku langsung menggelengkan kepalaku tak tahu, “Kau terlalu tak mau tahu mengenai Sierra, sampai-sampai kau tak tahu soal ini sedikitpun” dengus Taeyeon noona penuh kekecewaan.

“Aku tak mau tahu soal penipu itu”

“Dia bukan penipu, dia yeoja yang baik. Yeoja baik hati yang kau sia-siakan” ucap Taeyeon noona lembut namun menyindirku, “Dia tinggal dengan Ahjussi dan Ahjummanya, bukannya dia mendapat sesuatu yang layak dia malah mendapat perlakuan yang amat sangat tak pantas”

Tak pantas? Perlakuan yang tak pantas? Aku rasa aku sudah mulai sedikit mengerti arah pembicaraan Taeyeon noona, aku harus mengetahuinya. Mungkin, aku akan mengetahui alasan dibalik air matanya itu.

“Dia diperlakukan seperti pembantu, dia disiksa. Eomma sudah mengawasinya sejak umur Sierra 10 tahun, tapi Eomma baru mengetahui sekitar 1 tahun lalu kalau Sierra mendapat perlakuan tak layak. Tepat 7 bulan lalu Eomma mengetahui Sierra akan dijual oleh keluarga Kimi untuk menjadi wanita penghibur, Eomma dan Appa segera bertindak hingga akhirnya kesepakatan ini datang yaitu menikahkan Sierra denganmu” jelas Taeyeon noona sambil terus mengalirkan air mata.

Begitukah kehidupannya? Aku bukannya membahagiakannya tapi malah menambah rasa sakitnya, ditambah lagi aku menceraikannya. jahat, kata itulah yang bisa mendeskripsikanku perlakuanku terhadapnya. Keluargaku berusaha melindunginya, tapi aku malah menyiksanya. Aku terlanjur tak mau tahu tentangnya hingga berakhir penyesalan yang amat sangat dalam. Dimana dia saat ini aku tak tahu, aku minta maaf Sierra.

“Aku mau menemui pengacaranya” izinku pada Taeyeon noona. Taeyeon noona langsung menahan tanganku takut aku berbuat macam-macam, aku mencoba melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tanganku, “tenang noona, aku Cuma ingin menanyakan dia dimana” ucapku menenangkannya.

“Lalu apa yang kau lakukan setelah kau bertemu dengannya?” tanya Taeyeon noona ketakutan.

“Aku akan minta maaf lalu biarkan dia tinggal di kediaman Kim”

Kulepaskan tangan Taeyeon noona yang menggenggam erat pergelengan tanganku lalu kuhampiri pengacara yang mewakili Sierra yang sedang membereskan dokumen-dokumen pentingnya di meja tempat dia duduk selama sidang perceraian kami berlangsung.

“Jogiyo” panggilku padanya dan dia langsung mengalihkan pandangannya padaku dengan senyuman yang merekah di bibirnya, saat ini aku Cuma bisa mendeskripsikan kata ‘profesional’ untuk namja itu karena tak membawa pekerjannya yang harus menjadikanku musuh dalam kehidupan normalnya, “Apa anda tahu dimana Sierra tinggal sekarang?” tanyaku dan setelah itu senyuman itu mendadak sirnah dari bibirnya itu, ada apa?

“Mianhamnida saya tidak tahu dimana dia sekarang” jawabnya mencoba tersenyum tipis padaku.

“Anda pasti tahu, aku mohon aku ingin bertemu dengannya” mohonku padanya berusaha meyakinkannya untuk mengatakannya padaku.

“saya tak pernah tahu tempat tinggalnya, saya hanya bertemu dengannya satu kali setelahnya ia diwakili atau kami berhubungan melalui telepon saja” jelasnya begitu ramah.

“Diwakili?”

“Nae” angguknya dan dia mulai memutar bola matanya mengingat sesuatu, “seseorang bernama Kimi Baekhyun, dia adalah wakilnya”

Kimi Baekhyun seperti nama Baekhyun Hyung. Apa benar itu Baekhyun hyung? Aku rasa tidak, Sierra tak dekat dengan orang-orang SM bahkan untuk kenal saja aku ragu kecuali Minho hyung yang katanya adalah sepupunya, tapi Minho hyung dan member SHINee saat ini sedang sibuk di Jepang jadi tak mungkin untuk menemuinya.

“Telepon, apa anda tahu nomornya?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“ada, dia sering memakai nomor Baekhyun atau satu lagi nomor ponselnya”

Dia langsung mengirim nomor Sierra dan seseorang bernama Baekhyun itu pada ponselku tapi begitu kulihat nomor Baekhyun hyung nomornya sama seperti dengan nomor yang diberikan pengacara itu. apa dia benar Baekhyun hyung? Setahuku Baekhyun hyung sekarang sedang ke Jepang.

“Kamsahamnida” Bungkukku berterima kasih padanya.

“Nae, Cheonmaneyo Jongin-ssi”

Sierra POV

Aku masih ingin menangis begitu Baekhyun oppa mengetahui aku hamil, aku masih mau menangis mengetahui dan mengungkit kenyataan kalau aku dan Jongin telah bercerai, dan yang lebih menyedihkan lagi aku masih ingin menangis karena aku harus menerima kenyataan bahwa anakku akan lahir tanpa bumonim yang lengkap, ia akan lahir tanpa kehadiran Appanya.

Sepi. Apartemen ini begitu sepi, Baekhyun oppa harus pergi ke Jepang dan aku harus tinggal  lebih tepatnya terkurung di apartemen ini. Aku ingin menghirup udara luar, aku ingin menikmati pemandangan kota Seoul secara langsung hari ini, tapi saat ini tiba-tiba saja aku ingin bertemu Jongin. Aku rasa anakku yang menginginkannya meski jauh di dalam lubuk hatiku sebenarnya aku juga ingin bertemu dengannya. Aku rasa tak ada salahnya meski aku harus melihatnya dari kejauhan kan?

“Kita akan melihat appa mu nak, tapi kita tak bisa menemuinya. Mengerti ya nak” elusku diperutku dan mulai beranjak dari dudukku untuk segera bersiap keluar rumah.

Aku memilih melihatnya atau lebih tepatnya menonton drama musikalnya, dia terlihat menikmati perannya itu begitu juga aku yang sesekali ikut tersenyum ketika sebuah senyuman terbentuk di bibirnya itu, dia tampan.

Aku ingin menyapanya, berbicara dengannya, memeluknya, mencoba lebih dekat dengannya tapi aku yakin dia tak akan mau, dia membenciku bahkan dia takkan pernah menganggapku ada disisinya saat itu juga. Aku mohon tuhan, aku ingin dia menyadari aku berada disini, duduk disini di antara penonton yang menyaksikan drama musikalnya, Dan aku ingin dia menyadari sesuatu, menyadari bahwa ada anaknya di dalam kandunganku ini tapi aku tak bisa. Aku tak memilik keberanian untuk mengatakannya. Aku ingin dia bahagia dengan jalan inilah aku menempuhnya, menghindarinya untuk hadir kembali di kehidupannya yang sudah cukup sulit karena kehadiranku dulu.

“Apa kau sudah puas nak? Kita tak bisa disini sampai drama musikal ini berakhir?” tanyaku berbisik pada perutku tepatnya anakku yang ada di dalam sana.

‘Aku masih ingin melihat Appa’ entah darimana datangnya kata-kata itu, aku merasa seperti anakku yang mengatakannya untuk tetap disini menatapnya dari kejauhan. Apa kau merindukannya anakku? Jika kau menjawab ya, Eommapun juga begitu. Mianhae eomma tak bisa melangkah lebih jauh lagi hanya sebatas ini eomma bisa lakukan untukmu.

Akhirnya aku menonton drama musikal itu sampai habis, lampu di kursi penonton menyala dan aku segera melangkah keluar bersama para penonton lainnya dengan hati-hati. Mataku sekilas kembali menatap ke arah panggung tapi yang kudapatkan sekarang adalah hal yang kuhindari, dia menatapku terkejut. Sekarang beritahu Eomma mu ini, apa yang harus Eomma lakukan nae aegi?

Aku mengalihkan pandanganku dan segera keluar dari sini, aku adalah penonton terakhir yang keluar sengaja kulakukan untuk menghindari desak-desakkan atau hal yang tak diinginkan terhadap kandunganku. Aku melangkah dengan cepat, kudengar sayup-sayup seseorang memanggilku dan derap langkah yang memburu.

“SIERRA!!” teriak orang itu memanggilku, aku kenal ini adalah suara Jongin.

Aku menambah kecepatan langkahku, kuserobot orang yang hendak keluar dari pintu masuk dan mereka mulai merutukiku tapi tak kupedulikan. Lagi-lagi aku sekarang menyerobot seseorang yang hendak menaiki taxi, dan masuk ke dalam Taxi.

“Jeoisonghamnida” orang itu terpaku di samping Taxi yang kutumpangi tak lama Jongin datang dan mengetuk-ngetuk kasar jendela Taxi tepat disisi tempat ku duduk namun tak kuperdulikan.

“Sierra! Sierra! Keluarlah, dengarkan aku! Sierra, jebal” mohonnya berulang kali tetap mengetuk-ngetuk kasar jendela Taxi.

“Ahjussi cepat jalan, ppalliwa” ujarku pada Ahjussi supir Taxi tersebut dan segera menjalankan taxinya menjauh dari sana.

Mianhae, Eomma pasti berbuat salah pada kalian berdua. Eomma minta maaf tak bisa menemukanmu dengannya. Maafkan Eomma sayang.

Baekhyun POV

Baru 2 hari kutinggal ke Jepang sebuah masalah melanda Sierra dan Jongin. Kabar yang tersebar luas mengenai hallyu idol itu, dikabarkan bahwa ‘Jongin mengejar seorang yeoja bernama Sierra setelah drama musikalnya berakhir’. Aku tak tahu apa yang dilakukannya sampai-sampai ia bisa bertemu Jongin dan aku yakin dia saat itu berusaha kabur darinya.

Aku saat ini menatap Sierra yang tengah duduk merunduk di depanku di ruang tamu apartemennya. Sejak tadi kutanya dia tetap bertahan pada prinsip diamnya, aku tak tahu harus bagaimana untuk menghadapinya. Dia terlalu sensitif untuk berada di dalam posisi ini, dia sedang hamil namun tanpa suami yang mendampinginya dan sekarang masalah menimpanya. Dia dapat dengan mudahnya menangis jika aku menaikan nadaku satu oktaf karena kesal.

“Apa yang kau lakukan disana?” tanyaku selembut mungkin namun masih penuh penegasan.

“A-aku ingin melihatnya, entahlah aku rasa ini keinginan anakku meski aku yakin kalau aku juga ingin menemuinya” jelasnya tanpa menatapku sedikitpun tetap merundukkan kepalanya.

“Kau tahu resikonya kan, seharusnya kau tak melakukan itu. tapi aku tahu ikatan batin antara Appa dengan anaknya takkan pernah terputus, jadi kita lupakan saja masalah ini”

“Mianhae oppa” sesalnya.

“kalau kamu ingin keluar izinlah padaku lebih dahulu” aku beranjak dari dudukku untuk kembali ke kantor SM sesaat aku berbalik menatapnya yang masih terduduk diam di sofa ruang tamu, “Aku lupa bilang, nanti siang Minho akan datang kesini” ucapku dan dia langsung terkejut. Tentu, karena dia pikir hanya akulah yang tahu keberadaannya.

“oppa, apa kau..”

“Aku sudah menceritakan padanya, tenang saja Minho hyung akan menjaga rahasia ini. Dia sangat khawatir padamu” kataku sambil memakai sepatuku di depan pintu, “Aku pergi dulu Sierra”

“Nae oppa, Gomawoyo” lambainya kecil sambil berjalan pelan ke arahku mengantarkanku keluar apartemen.

Sierra POV

Minho oppa akhirnya datang sekitar 2 jam setelah Baekhyun oppa pergi, dan betapa terkejutnya aku dia tak datang sendirian melainkan bersama 2 orang lainnya yang merupakan member EXO juga. Kenapa sekarang semakin banyak saja yang mengetahui keberadaanku.

“Sierra bogoshipoyo” peluk Minho oppa padaku dan aku membalasnya sambil tersenyum pada 2 namja di belakangnya itu, “Annyeong, kita baru kenalan ya. Aku Minho shamcon” elus Minho oppa di perutku menyapa anak yang ada di dalam perutku.

“Annyeong Aegi, aku Taemin shamcon” lambainya pada anak di perutku, “Annyeong, aku Sehun Shamcon”

“Ayo oppa masuk” ajakku dan mereka mengikutiku dari belakang, sepertinya aku tak perlu cerita mereka sudah tahu sendiri.

“Apa Jongin tahu?” tanya Sehun oppa yang saat ini kami telah duduk di ruang makan menikmati jajangmyeon yang dibawa mereka tadi bersama-sama. Aku menggeleng pelan dengan mulut yang penuh dengan jajangmyeon tak mungkin aku bisa bicara sekarang, “Kau tak berniat memberitahunya?” tanyanya lagi.

Aku menelan jajangmyeon suapan terakhirku dan meminum air putih yang tadi kusediakan, “Aku tak mau merusak kebahagiaannya, untuk itu aku mohon oppadeul hargai keputusanku”

“Oleh karena itu Taemin-ah, Sehun, aku minta tolong pada kalian karena Cuma kalian yang bisa kupercaya untuk menjaga Sierra selama kau wajib militer. Aku tak bisa terus mengandalkan Baekhyun, diapun juga bekerja setidaknya mengurangi beban Baekhyun” ucap Minho oppa dengan begitu serius pada kedua dongsaengnya itu.

“Oppa aku tak mau merepotkan kalian” gelengku menolak permohonan Minho oppa tapi Minho oppa malah menggenggam tanganku erat.

“Aku mohon Sierra, aku ingin menjalankan tugasku sebagai keluargamu satu-satunya yang bisa memperhatikan dan menjagamu. Aku berjanji pada bumonim mu kalau aku akan menjagamu”

“Ya benar kata Minho hyung, kau tak mungkin bisa sendirian apalagi sekarang melihat kondisimu yang sedang hamil” jelas Taemin oppa mengelus punggungku.

“Gomawo oppadeul” aku menatap mereka yang dengan tatapan penuh harap, “dan aku mohon oppadeul untuk tak memberitahu apapun tentangku pada Jongin oppa” mereka langsung mengerti dan mengangguk menyanggupinya. Aku harap ini tetap menjadi rahasia dan Jongin takkan pernah mengetahuinya.

To be continue

41 pemikiran pada “Life Without You (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s