What is Love (Chapter 1)

Author : vhanee_elf
Genre : Romance
Rating : Pg 13
Length : Chapter , Series
Main Cast :
– KAI (Kim Jong In)
– Cho Hye Rim (oc)
– Xi Lu Han
– Huang Zi Tao
– And other cast

Note  : anyeonghaseyo.. ini FF pertama author yang main cast nya member EXO. Seluruh cast di FF ini adalah bias utama author #banyak donk?! sifat dan watak seluruh cast disini hanyalah fiksi belaka, Apalagi TAO yang mukanya –menurut author- seperti seorang psikopat itu. Jangan bakar saya karena disini TAO, LUHAN dan KAI berubah jadi.. eeheemm.. rahasia. Soooo~ dari pada penasaran mending chek it out saja yooo!!
Oh, ya.. 1 lagi, author sudah lama vakum dari dunia FF! Kurang lebih setahun.. so, bahasanya amburadul, benar2 kembali ketingkat NOL lagi 😀 harap maklum yaa~

warning!! : Miss Typo

Seorang yeoja menendang dengan kasar sebuah kaleng minuman bekas diatas tanah sehingga Kaleng minuman malang tersebut terpental jauh kedepan. Yeoja itu melangkah gontai seperti tak bertenaga. Wajahnya suram, matanya terlihat frustasi, dan bibir mungilnya terus saja mengumpat tak jelas. Rambutnya yang tadi sangat rapi kini mulai tidak karuan karena tangan kecilnya terus saja mengacak-acaknya. Dan tiba tiba saja langkah gontainya berhenti dan sontak membuat 2 orang berpakaian serba hitam yang semenjak tadi mengikutinya juga ikut berhenti

“hya, ajushi! Sudah kubilang, jaga jarak denganku sejauh 50 meter! Kalian bodoh ya?!” teriaknya kesal tanpa menoleh sedikitpun.

“mianhamnida Nona Cho. Kami harus memastikan keselamatan anda.” Jawab salah seorang ajushi dibelakangnya. Yeoja itu tersenyum miris. Dia menoleh kebelakang.

“memastikan keselamatan? Memangnya siapa yang mau menyakitiku?? Mendekatiku saja orang orang tidak sudi gara gara…” ucapannya terpotong. Entah karena apa yang jelas dia tidak ingin melanjutkan perkataanya.

“hhn.. Lupakan!” sambungnya kemudian dia kembali berjalan. Kali ini tidak dengan langkah gontainya. Tapi dia berjalan dengan cepat. Gang sepi dan gelap yang barusan dilaluinya memang sedikit menyeramkan. Karena itu dia mempercepat langkahnya.

Bebrapa menit kemudian, Yeoja itu berhasil keluar dari lorong sepi tersebut. Dia memutuskan untuk berbelok kearah selatan karena sesungguhnya, Ia tersesat. Meskipun 2 pengawalnya terus saja mengikutinya dari belakang, tapi tak ada niat sedikitpun baginya untuk bertanya dimana mereka sekarang. Sekedar informasi, 2 pengawal pribadinya tak akan berbicara kalau tidak ditanya.

Yeoja itu terus berjalan dengan santai. Ini sudah pukul 11 malam dan sepertinya dia adalah satu satunya yeoja didunia yang menikmati moment tersesatnya di sebuah daerah yang entah apa namanya. Langkahnya yang terlalu santai tiba tiba berhenti perlahan ketika seorang namja yang tampak sedikit mabuk berjalan menuju kearahnya.

“hhhaha~ jinja~ malam ini suuuunggguh beruntung! Tuhan mengirimku seorang yeoja cantik dengan gaun putihnya~” gumam namja itu sambil mengadahkan tangannya keatas seolah berterima kasih kepada tuhan. Yeoja itu tidak perduli. Dia kembali berjalan, berniat meninggalkan namja mabuk itu. Tapi tiba tiba tangan namja itu menarik lengannya dengan kasar sehingga Ia berteriak.

“aaaaa!!!! Ya!! Apa yang kau lakukan??!” teriaknya. 2 pengawalnya yang berjarak lumayan jauh segera berlari. Tapi Tak butuh waktu lama, namja itu sudah jatuh ketanah dengan pipi kirinya yang lebam.

“gwenchana Cho Hye Rim sshi??” tanya pengawalnya bersamaan. Yeoja bernama Hye Rim itu mengangguk.

“ya! Kenapa kalian berhenti memukulnya?? Cepat pukul lagi!!” perintah Hye Rim. Kedua pengawalnya saling bertatapan. Mereka tampak ragu, dibandingkan memukul namja itu sampai Ia pingsan, menurut mereka lebih baik dia dibawa kekantor polisi.

“kalian tidak mau?? Baik! Akan aku selesaikan sendiri namja bodoh ini!!” geram Hye Rim sambil menendang punggung namja itu. Sontak namja itu melenguh kesakitan.

“aah!! Mianhe agasshi.. mianhee… aku tidak mabuk. Aaw!! Hentikan.. jebal!! Aww! Aaahk!!” ucap namja itu terbata bata karena mendapat tendangan bertubi tubi dari Hye Rim.

“agasshi.. aku rasa sudah cukup. Lebih baik kita bawa kekantor polisi saja” usul salah satu pengawalnya.

“hhaaaaah~ jinja..” ucap HyeRim sambil menghentikan aksinya. Dengan segera kedua pengawalnya membantu namja itu berdiri dengan susah payah. Tubuh kecilnya terasa sangat ngilu karena sepatu Hye Rim mendarat bebas beberapa kali ditubuhnya.

“neo, pabo namja! Cepat tunjukan dimana kantor polisinya, arachi??!” bentak Hye Rim kepada namja itu yang segera dianggukan olehnya.

*police office*

“Nona, ayah anda tidak bisa datang kesini” ucap salah satu pengawalnya. Hye Rim menatap sangar pengawalnya itu. Sementara namja yang dihajarnya tadi duduk bersebelahan dengannya namun berbeda kursi.

“sudah kubilang tidak usah menguhubunginya! Orang Itu hanya bisa datang ketika hari pemakamanku nanti” sahut Hye Rim sinis. Dia melipat kedua tangannya didadanya. Petugas polisi yang duduk dihadapannya hanya bisa diam melihat tingkah ‘tuan putir’ Hye Rim.

“lalu, siapa wakil anda, Nona?” tanya petugas polisi.

“kami berdua yang akan mewakilinya” sahut pengawal Hyerim yang keduanya sedang berdiri tegak di belakang Hye Rim. Sekilas kedua pengawalnya tersenyum dan membungkuk bersamaan. Namja yang duduk disebelah Hye Rim melihat aksi pengawal Hye Rim itu sebagai sebuah kekonyolan. Dia tersenyum asam dan terus menggelengkan kepala sambil sesekali mengelus pipi kirinya yang lebam. Sementara sang petugas hanya mengangguk singkat.

“lalu, kau bocah tengik! Mana wakilmu??” tanya petugas polisi itu kepada namja tadi. Yang merasa ditegur langsung mengalihkan pandangannya.

“bocah tengik? Hya, orang tua! Aku punya nama. Lu Han!” sahut namja yang ternyata bernama Lu Han itu dengan sok cool.

“neo! Berani menjawab pertanyaan polisi dengan tidak sopan seperti itu?? Hya! Kau bocah tengik! Aku tidak peduli siapa namamu, atau apa motif mu berpura pura mabuk didepan Nona Cho. Yang aku inginkan hanya wakilmu saja supaya kalian bisa cepat-cepat pulang. Ini sudah jam 12 malam dan keluargaku sudah menunggu dirumah..” omel petugas polisi dengan suara seraknya itu membuat Hye Rim dan Lu Han saling memandang heran.

“hn.. aku tidak ada urusan dengan keluargamu, ajushi” umpat Lu Han lagi sambil tetap memegangi pipi lebamnya. Dia sedikit malu dengan perkataan ‘pura pura mabuk’ yang diucapkan petugas tersebut.

“apa kau bilang?!” rupanya polisi itu mendengar umpatan kecil Lu Han.

“naega wae?? Aku tidak bilang apa-apa” elak Lu Han. Hye Rim membelalakan matanya ketika petugas itu dan Lu Han beradu mulut.

“anyeonghaeyo~” tiba tiba pintu depan kantor polisi tersebut terbuka. Suara lonceng kecil diatasnya berbunyi nyaring. Seorang namja memasuki ruangan tersebut dengan wajah tenangnya.

“Kai-ya~  aaaihss… kenapa kau datang lama sekali, huh?? Kau tau ajusshi ini sangat menyebalkan..” kata Lu Han yang diikuti pukulan keras oleh petugas polisis tersebut dikepalanya. Hye Rim hanya diam sambil memperhatikan kukunya yang baru tadi siang dibawanya ke salon.

“wakilnya sudah datang kan. Jadi, apa aku sudah bisa pergi sekarang, pak polisi??” tanya Hye Rim tanpa sedikitpun memalingkan pandangannya dari kuku – kuku lentik nya.

“ah, ye Nona Cho. Tapi setelah wakil anda menandatangani surat ini” sahut pak polisi ramah sambil menyerahkan 3 lembar surat pernyataan yang langsung disambut dengan sigap oleh pengawalnya.

“ccih.. kalau berbicara dengan yeoja ajusshi tua ini begitu baik.” Kembali Lu Han mengumpat. Pak polisi itu ingin memukul kepala Lu Han lagi, tapi kali ini Lu Han dengan sigap mengelak.

“hya! Neo pabo-ya~ cepat suruh wakilmu kesini, kenapa dia hanya berdiri disitu terus??” sungut pak polisi itu. Yah, memang namja bernama Kai itu hanyaa berdiri di ambang pintu sedari tadi.

“kau kan punya mulut, bicara sendiri padanya. Dia berdiri hanya 3 meter dari sini, kenapa aku harus memberitahu nya untukmu??” lagi lagi Lu Han mengeluarkan kata – kata tidak sopannya. Emtahlah, mungkin itu sudah kebiasaannya, Lu han mengeluarkan kata –kata tak sopan seolah kalimat itu adalah  kata kata mutiara.

“ah~ mianhee ajusshi, agasshi. Temanku ynag satu ini memang~ eehmm… sedikit… nakal??” ucap Kai akhirnya. Dia hanya melangkah sejauh 30 centi meter dari tempat awalnya.

“mwo?! Ya, neo jinja..” ucap Luhan gemas. Dia berdiri dari duduknya kemudian mengambil lembaran kertas dari tangan pengawal Hye Rim.

“Kai-ya illwa. Cepat tanda tangan kertas ini..” perintah Lu Han. Kai menurut saja, dia berjalan lurus ke arah Lu Han. Hyei Rim yang semula tidak tertarik dengan perbincangan ‘aneh’ mereka secara alami menoleh ketika Kai berjalan menuju Lu Han.

“ya.. ajushhi itu belum selesai membaca ini..” kata Kai. Lu Han menatapnya seolah berkata, ‘ayolah Kai~ jadi orang jangan terlalu baik’. Sementara Hye Rim membulatkan mata besarnya. Terpana akan pesona Kai yang bisa dibilang too perfect untuk seorang namja.

“apa yang perlu dibaca? Jelas jelas ini surat pernyataan. Ayolah Kai.. cepat.. ini sudah malam.. kau tau gang itu berhantu kan??” bela Lu Han. Tanpa mereka sadari, Hye Rim berdiri secara perlahan, kemudian mengambil sebuah bolpoin dari tangan pengawalnya dan mengarahkan bolpoin itu ke muka Kai, berharap Kai menerima bolpoin itu.

“aah~ kau bisa menandatanganinya lebih dulu, eemm~ Kai sshi?!” ucap Hye Rim ragu. Senyum malu malu kucing nya terpampang jelas diwajahnya. Semburat kemerahan dipipinya membuat Lu Han mengumpat kecil.

“see? Dia menyuruhmu menandatangani itu lebih dulu.. ayo cepat.. itu bolpoin nya~” ucap Lu Han tiba tiba dan sedikit memaksa karena lelah memperhatikan Hye Rim yang menatap Kai dengan kagumnya.

Dengan diam Kai menyambut Bolpoin pemberian Hyerim. Dia berjalan 3 langkah menuju meja petugas polisi dan membungkuk sedikit lalu menandatangani 3 lembar surat pernyataan Lu Han. Sekilas Ia membacanya, Lu han akan dikenai denda jika Ia melakukan kesalahan yang sama dikemudian hari. Sementara Hye Rim selaku pihak yang melapor tidak terkena sangsi apa apa.

“Kai-ah~ apa perlu kau baca semuanya?” sela Lu han. Kai terkejut singkat kemudian menggeleng lalu melanjutkan menandatangani lembar ke dua dan ketiga. Setelah selesai kai menyodorkan surat itu kepada salah satu pengawal Hye Rim.

“kajja~” ucap Lu Han sambil menarik lengan Kai dengan kasar menuju luar ruangan. Kai sempat menunduk sesaat kepada polisi dan Hye Rim Yang tak sedetik pun memalingkan pandangannya dari Kai. ‘Love at the first sight? Is that real?’ pikir Hye Rim.

*outside*

“chogi~ chamkanmanyo” cegat Hye Rim sambil menarik baju bagian belakang Lu Han yang kebetulan berjalan selangkah di belakang Kai. Awalnya Kai ingin mengomelinya, tapi niat itu urung ketika suara Hye Rim kembali terdengar.

“tto mwonde?” sahut Lu Han kesal.

“butuh tumpangan?” tawar Hye Rim.

“memangnya kau mau menampung kami berdua dengan apa?” tanya Lu Han dengan kesal. Baru sedetik ia selesai bicara, sebuah mobil limosin lewat beberapa meter dari mereka. Hye Rim kemudian menunjuknya seolah berkata ‘I’m the owner of that Limosin’.

“masuklah~ aku akan mengantar kalian sampai didepan rumah kalian” tawar Hye Rim lagi.

“keundae~”

“kalian tinggal terpisah?” tanya Hye Rim pada Kai memotong perkataan Lu Han sebelumnya. Muka kesal Lu Han mulai terlihat.

“aniyeyo~ kami tinggal bersama. Hajiman~ kami jalan kaki saja, Nona Cho~” jawab Lu Han cepat sambil menekan perkataan ‘Nona Cho’.

“Aku tidak bertanya denganmu pria pemabuk. Aku bertanya dengan chingu mu. Otte?? Mau aku antar?” ucap Hye Rim sambil bertanya pada Kai. Dan hal itu membuat Lu Han bertambah Kesal 10 kali.

“ccihh! Ya imma, Semua yeoja memperlakukanmu seperti pangeran” kata Luhan.

“otte?? Heung?!  Kita, lebih baik berteman bukan? Aku akan melupakan masalah tadi..” tanya Hyerim Lagi dengan wajah yang memelas. Terkesan lebih aegyo mungkin?

“mwo? Akan melupakannya? Lebih baik kau tidak usah menyuruhku menunjukan jalan ke kantor polisi ini, Nona Cho” sahut Lu Han sinis.

“yaa? Mwoya?! Kau menolak pertemanan ku??” kini aegyo Hye Rim benar benar keluar. Gadis sombong dan dingin yang dia tujukan pada Lu han tadi hilang sempurna.

“ah~ aniyeyo Cho Hye Rim Sshi.. nae chingu-neun..” ucap Kai terpotong. Hye Rim memandang kesal kearah Lu han karena tiba tiba memotong perkataan Kai.

“hhyaa~ Nona Cho.. hanya mengantar pulang saja kan?? Kajja! Lagi pula gang itu berhantu, benarkan Kai??” ucap Luhan berubah pikiran. Mungkin karena takut aibnya dibongkar oleh Kai? Entahlah~

“ah~ ye, terserah kau saja” sahut Kai menyerah. Dia betul beul tenang. Pembawaannya dan tampangnya sangat serasi, pikir Hye Rim.

“aah~ kalau begitu kajja~” ajak Hye Rim dia memimpin jalan didepan –seperti biasa. Lu Han nampak diam menunggu reaksi Kai yang bisa saja menjitaknya, atau menendangnya karena mengambil keputusan sendiri. Namun tidak. Kai hanya mendorong tubuhnya pelan seolah memberi perintah agar Lu Han berjalan lebih dulu. syukurlah, pikir Luhan.

*in the car*

Di kursi penumpang, Lu Han duduk diantara Kai dan Hye Rim. Jika melihat ke kanan dia tidak masalah, pasalnya Kai yang duduk disebelah kanannya nampak santai dan sedikit menahan kantuknya. Kai hanya menatap lurus kedepan, kadang memperbaiki posisi duduknya atau sekedar memainkan jemarinya sendiri. Yang jadi masalah adalah ketika Lu Han menengok kesebelah Kiri. Sosok Hye Rim yang sekilass terlihat baik baik saja, akan nampak menyeramkan –menurut Lu Han. Sedari tadi Hye Rim tersenyum malu dengan pipinya yang memerah setiap kali Ia menatap Kai. Dia menyukai Kai? Pikir Lu Han. Oh, ya~ tentu saja. Itu Kai, a.k.a Kim Jong In.

Pemuda paling tampan yang Lu Han pernah kenal di planet ini. Jika saja dirinya perempuan, mungkin saja Lu Han sudah tinggal di alam baka, karena seluruh yeoja yang menyukai kai pasti akan membunuhnya karena mereka tinggal bersama, tidur bersama, makan bersama dan tentu saja berbagi bersama #iklan.

“kalian~ eum.. dan aku.. bisa berteman?” ucap Hye Rim tiba tiba. Kai dan Lu Han saling menatap. Kemudian Kai mengangguk saja membuat Lu Han protes dengan pukulan ringan di dada Kai.

“benarkah? Keurom.. jika butuh bantuan, hubungi saja aku. Bantuan apa saja.” ucap Hye Rim dengan semangat. Dia mengambil kartu nama dari dalam kotak hitam kecil dalam tas salempangnya. Lalu memberikan kartu nama itu pada Kai, melewati Lu Han yang notabene duduk disebelahnya.

“disitu ada alamat dan nomor handphone. Jika ada waktu, datanglah kerumahku atau paling tidak hubungi aku!” jelas Hye Rim. Kai mengangguk ragu sambil memasang wajah ramah yang nampak seperti dibuat buat. Efek kelelahan mungkin?

“eum.. keurom.. rumah kami belok kanan setelah jalan ini. Dan itu lorong sempit. Jadi kami turun di ujung jalan ini saja”. Ujar Kai kemudian. Tapi Nampaknya Hye Rim tidak sadar akan pembicaraan Kai karena Ia terlalu sibuk memperhatikan wajah cute Kai.

Lu Han yang geram melihat tingkah Hye Rim kemudian  menegurnya kembali dengan suara yang lebih keras.

“euhheum! Nona CHO. Kami turun di ujung jalan ini. Mohon beritahu sopir anda” ucap Lu Han membuat Hye Rim tersentak kaget.

“ah, mwo?? Eum.. nde.. keundae waeyo??” tanya Hye Rim gelagapan.

“mobil mewah anda tak akan muat di gang kecil itu, Nona Cho.” Jawab luhan sambil terus memberi penekanan di kata ‘nona cho’

“ooh~ araso..” sahut Hyerim mengerti. Kemudian Ia mengetuk jendela pembatas antara kursi penumpang dan sopir. Selang 3 detik kemudian jendela bening itu terbuka dan hyerim memberitahukan untuk berhenti di ujung jalan yang mereka lalui.

*0*0*0*

@ Kai & Lu Han’s house

“kenapa kau buat masalah aneh begitu. Huh?” tanya Kai sambil bersandar di bingkai pintu ketika Lu Han membersihkan dirinya dikamar mandi yang terbuka. Dia mengambil handuk dipunggungnya kemudian membersihkan air diwajahnya.

“masalah apa? Jelas jelas aku yang terluka, kenapa kau menuduhku yang tidak tidak?” balas Lu Han sambil menunjuk pipinya yang lebamnya sudah lumayan mengecil.

“buktinya, kau yang dilapor ke polisi oleh yeoja itu. Dan di surat pernyataan itu, tertulis kau berpura pura mabuk. Menuduh sembarangan apa, huh?” sahut kai lagi.

“hya, igeo! Nan keunyang~” Lu han kelabakan.

“mwo? Hanya bercanda? Ccih! Untung saja yeoja itu tidak menyuruh pengawalnya itu membuangmu ke sungai Han, bodoh!” sahut Kai ketus. Dia meninggalkan Lu Han yang masih bengong dikamar mandi menuju kamar tidur mereka.

Sesampainya dikamar, Kai menggelar alas tidur mereka. tidak. Dia hanya menggelar alas tidurnya sendiri. Sementara punya Lu Han dibiarkan begitu saja.

“Kai-ah~ aku rasa yeoja itu menyukaimu” ucap Lu Han yang tiba tiba saja sudah muncul di ambang pintu kamar mereka. Kai tidak menjawab. Hanya sibuk merapikan bantal dan selimutnya sambil membersihkan baju baju yang berserakan disekelilingnya. Lu Han ikut menggelar alas tidurnya tepat disebelah Kai.

“tutup pintunya” tegur Kai. Lu Han menoleh karah pintu yang baru saja dilewatinya, kemudian dia melangkah cepat menuju pintu dan menutupnya sesuai perintah Kai.

“kai-ah~ kau sudah dapat uang untuk biaya operasi yeodongsaeng mu?” tanya Lu Han dengan hati hati. Aktifitas Kai terhenti sesaat kemudian dia menggeleng lemah.

“dokter bilang kapan dia akan di operasi?” luhan lanjut bertanya. Dia sudah selesai menggelar alas tidurnya begitu saja.

“paling lambat minggu ini, lewat dari itu, dokter tidak menjamin keselamatanya” jawab Kai lemas. Lu Han mengangguk tanda mengerti dan ikut merasa sedih.

“euum.. Kai-ah~ kita sahabat kan?” tanya Lu Han membuat Kai curiga. Dia menatap kedalam mata Lu Han.

“hh? Wae?” tanya Kai.

“aniyo.. aku hanya ingin memberi saran” ucap Lu Han serius. Keduanya mulai mengambil posisi untuk tidur.

“saran?”

“nde, kau mau tidak?” pancing Lu Han. Kai hanya diam. Nampak berpikir sebentar sambil menatap langit langit kamarnya. Benarkah saran Lu Han akan bermanfaat? Pikir Kai.

“eeum.. Cho Hye Rim. Nampaknya dia Yeoja yang kesepian. Manfaatkan dia. Kau punya kartu namanya kan?” ucap Lu Han tanpa diperintah. Kai tak menanggapinya dengan serius. Yang benar saja, ini Lu Han yang sedang berbicara. Bocah itu terkadang berbicara dan bertindak tanpa berpikir.

“hheh!” desah Kai sambil membalikan badanya membelakangi Lu Han.

”ya, imma! Aku serius. Dengar. Dia orang kaya. Punya segalanya. Tapi dia kurang kasih sayang” protes Kai dengan pembelaannya.

“dari mana kau tahu dia kurang kasih sayang” tanya Kai yang nampak tak tertarik.

“kau buta ya?! Kau tidak pernah nonton drama? Dimana – mana, orang kaya yang selalu di ikuti pengawal itu sudah pasti adalah orang yang kesepian. Lagi pula, sebelumnya aku mendengar dia menyebut ayahnya dengan sebutan ‘orang itu’. Itu adalah bukti yang kuat” jelas Lu han Panjang lebar.

“berhentilah mengoceh Lu Han-ah~” tanggap Kai santai sambil mulai memejamkan matanya.

“hya! Kau mau adikmu di operasi secepat mungkin kan?!” pertanyaan Lu Han membuat mata Kai kembali terbuka. Benar. Dia butuh uang secepat mungkin.

“aku tidak menyuruhmu untuk menjadi jahat. Aku hanya ingin membantu mu..” sambung Lu Han. Namun tak ada reaksi dari Kai membuat Lu Han berpikir kalau kai sudah tertidur.

“Kai-ah~” panggil Lu Han dengan manja sambil memeluk Kai dari samping dan mengguncang-guncang tubuh Kai.

“ahh.. waaee??” Kai sedikit geli diperlakukan seperti itu oleh Lu Han.

“kau dengar aku tidak?!”

“Lu Han~ aku bisa apa? Kau menyuruhku untuk berpura pura baik padanya, lalu meminjam uangnya kemudian jadi pacarnya agar Cho Hye Rim tidak menagih hutang itu kelak?!” kata Kai sambil membalikan sedikit posisi tubuhnya hingga kini Ia berhadapanlangsung dengan Lu Han.

“eumm… ide bagus! Rupanya kau sudah berpikir sejauh itu, Kai-ah~” goda Lu Han.

“aaahs!! Jinja” umpat Kai sambil kembali membelakangi Lu Han.

“ya, pikirkan itu baik baik. Dari mana kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu?!” ucap Lu Han pasrah. Kai berpikir nampak berpikir. Memang benar apa yang di katakan Lu Han. Terlalu benar malah. Saat ini dia sangat membutuhkan uang untuk biaya operasi adiknya dan Hye Rim menawarkan bantuan apa saja tadi. Bukankah itu sudah lampu hijau? Tapi, apa iya dia harus memanfaatkan Hye Rim? Yeoja yang secara tak sengaja dikenalnya tadi? Ah~ Kai sepertinya sudah frustasi hanya karena memikir kan itu saja. Dia memutuskan untuk segera tidur saja, sebelum Lu Han kembali mengoceh tidak jelas.

TBC

Bagaimana? Sepertinya ini akan jadi FF Sinetron alias FF nya bakal panjang. Tapi di usahakan tdk akan lebih dari 5/7 part karena authornya bisa bengek didepan lappie 😀 oh,ya.. mianhe, covernya tidak memuaskan. Karena itu dibuat dengan kecepatan double plus ekstra #apaan? Dan pengetahuan author akan dunia photoshop yg terbatas.. Harap maklum, ok?
Comment  nya di tunggu ya.. 😀

35 pemikiran pada “What is Love (Chapter 1)

  1. Waaaaaaa keren! Mw kayak sinetron kek,mw kayak kolosal kek,mw kayak kartun kek, kagak peduli! Yang penting alur ceritamu menarik hati! (>ˆ▽ˆ)> °ωk°ωk°ωk° <(ˆ▽ˆ<). Oia nih mw lanjot dulu yak! Oia slm kenal yaaa aq pembacaa baru nih di blog ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s