What is Love (Chapter 2)

Author : Vhanee_elf
Genre : Romance
Rating : Pg 13
Length : Chapter , Series
Main Cast :
– KAI (Kim Jong In)
– Cho Hye Rim (oc)
– Xi Lu Han
– Huang Zi Tao
– And other cast

Warning : Miss Typo

*0*0*0*

 

Knock-knock~

Suara pintu kamar HyeRim terdengar sampai di gendang telinga Hye Rim. Sial! Yang benar saja? Perasaan dia baru tidur selama 10 menit, tapi suara pintu itu sudah mengganggu.

“Nona, dua pria yang semalam, datang kerumah ingin menemui Nona. Dan mereka sedang menunggu di bawah” samar Hye Rim mendengar suara pengawalnya dari luar kamar. Hampir saja dia menarik kembali selimutnya tapi niat itu diurungkan ketika dia mengingat ‘dua pria yang semalam’ adalah Kai dan Lu han. Yah, KAI. Namja yang membuat mukanya memerah beberapa kali semalam.

“omo! Kai!!” kejut Hye Rim sambil terduduk tiba tiba. Dia segera berdiri lalu berlari ke pintu kamarnya kemudian membukanya.

“ajusshi, suruh mereka masuk dan berikan sarapan!” perintah Hyerim.

“keundae Nona, ini sudah jam 9.30” sahut pengawalnya membuat Hye Rim menoleh kedalam kamarnya untuk melihat jam dinding pororo nya. Benar. Ini sudah setengah sepuluh.

“aah~ berikan saja mereka makanan” jawab Hye Rim terburu buru ingin segera menutup pintunya dan beranjak mandi.

“ah.. chamkaman Nona.. hajiman..” halang pengawalnya ketika hyerim pasang kuda ingin menutup pintu.

“mwo?” tanya Hye Rim mulai kesal.

“kedua pemuda itu~”

“aargh.. pokoknya berikan saja mereka makanan, ajusshi.. segera! Aku akan turun 15 menit lagi!” potong            Hye Rim lalu langsung menutup pintu kamarnya dengan keras.

Blam!!

Pengawalnya hanya bisa geleng kepala melihat majikannya itu. Pengawal Hye Rim lalu pergi menemui kedua pemuda yang datang mengunjungi Hye Rim. Mereka berdua tak lain adalah Kai dan Lu Han.

“silahkan masuk~” sambut pengawal itu ramah ketika dia sudah sampai tepat didepan Kai dan Lu han. Lu Han menepuk punggung Kai, pertanda mempersilahkan atau lebih tepatnya menyuruh Kai untuk masuk lebih dulu. Kai terdiam memandangi Lu Han. Benar dia harus melakukan itu?

“ya, Imma.. kau tunggu apa, heung?” tanya Lu han.

“kau saja yang masuk duluan” sahut Kai. Lu Han mengernyitkan dahinya. Bocah ini benar benar susah diatur. Pikir Lu Han, padahal sesungguhnya dirinya lah yang paling susah diatur.

Tanpa perdebatan yang lebih panjang, akhirnya pengawal Hyerim berjalan lebih dulu. Diikuti Lu Han lalu Kai. Baru 2 langkah saja, Lu Han dan Kai sudah disuguh kan oleh pemandangan yang sangat luar biasa bagi mereka. Rumah Hye Rim seperti hotel bintang 5. Ruang tamu nya saja lebih luas dari Rumah yang mereka tempati sekarang. Pengawal Hye Rim membawa mereka berduah memasuki rumah mewah itu jauh lebih dalam. Rupanya mereka ditunutun keruang makan. Sesuai perintah Hye Rim.

“silahkan duduk dan silahkan menikmati hidangannya~” ucap seorang pembantu yang sudah paruh baya. Lu Han dan Kai tersenyum kaku. Jadi begini rasanya jadi orang kaya? Mau makan saja harus di suruh duduk dulu. Padahal makan sambil berdiri pun jadi. *lol

Sementara Lu Han dan Kai sibuk mencicipi berbagai hidangan di atas meja, Hye Rim yang sudah selesai mandi 5 menit yang lalu kini sibuk memasang dress pendek berwarna putih beserta celana kulit hitamnya. Dress? Tidak terlalu berlebihan? Tentu saja tidak bagi seorang Hye Rim. Karena hampir 90% pakaian di lemarinya adalah dress. Sisanya pakaian dalam tentu saja.

“aigo~ Kai sudah menunggu lama. Ah! Make up tipis saja.” Ucap Hye Rim pada diri sendiri. Sedikit poles sana sini, akhirnya Hye Rim selesai berdandan. Dengan segera dia keluar dari kamarnya dan berlari menuju lantai dasar.

“anyeonghaseyo!” sapa Hye Rim dengan napas yang ngos-ngos’an. Kai yang sedari sibuk memperhatikan Lu Han mencicipi semua makanan di atas meja langsung beralih menatap ke sumber suara. Terlihat Hye Rim yang berdiri tak jauh dari mereka.

“ann~nyeonghaseyo~” balas Kai malu. Ekspresi wajahnya kaku membuat Hye Rim sedikit tertawa.

“o! Anyeonghaseyo Nona Cho~” ucap Lu Han setelah menelan semua makanan di mulutnya.

“mianhe, aku lama~ tadi aku mandi dulu..” jelas Hye Rim sambil terus menatap Kai.

“mandi? Kenapa bernapas seperti itu?!” tanya Lu Han terang terangan membuat Hye Rim terpaku. Kai yang merasa ucapan Lu Han tidak sopan segera menginjak kaki Lu Han dan memukul paha Lu Han yang sukses membuat Lu Han meringis.

“mwoya?!” protes Lu Han. Kai hanya menatapnya seolah berkata ‘jaga sikapmu, pabo! Kau tau tujuan kita kesini untuk apa kan?’. Lu Han yang sadar akan hal itu langsung diam dan meletakkan garpu yang sedari tadi dipegangnya sebagai media pengambil makanan.

“ah~ igeo.. eum.. tangga itu terlalu panjang. Aku sampai kelelahan.. hahaha~” ucap Hye Rim canggung sambil menunjuk tangga panjang di belakangnya kemudian menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal itu.

“oh~ begitu ya??” Lu Han berbasa basi.

“lalu kenapa hanya berdiri disitu? duduk disini bersama kami” lanjut Lu Han sambil menunjuk kursi didepannya dengan dagu lancipnya. Kai memutar bola matanya karena tingkah Lu Han yang sedikit menyimpang dari normal. Yang benar saja, ini kan rumah Hye Rim. Kenapa jadi seperti Lu Han tuan rumahnya?

“ah, ye~ majayo!” ucap Hye Rim sambil berjalan perlahan menuju kursi. 2 langkah sebelum duduk seorang pengawalnya dengan sigap menari kursi tersebut sehingga Hye Rim bisa duduk tanpa menyentuh apapun. Pilihan yang tepat, pikir Hye Rim. Pasalnya pengawalnya menarik kursi untuknya tepat didepan Kai.

“eheem~~” Lu Han ber-dehem kepada Kai dan mengenggol lengan kai dengan lengannya. Sedikit merasa terganggu, Kai kembali menyenggolnya membuat Lu Han menatapnya bingung. Apa Kai lupa dengan rencananya? Pikir Lu han.

Tentu saja tidak. Kai hanya sedang berpikir. Bagaimana cara menyampaikan hal itu kepada Hye Rim. Ini pertemuan pertama mereka sebagai ‘teman’ dan tidak mungkinkan Kai langsung mengatakan hal itu? Hal yang secara singkat telah di diskusikan oleh Kai bersama Lu Han tadi pagi.

“kalian kenapa?” tanya Hye Rim yang merasa ganjal dengan tingkah laku Kai dan Lu Han.

“ah~ eem.. Kai!! Ya, Kai.. dia ingin mengatakan sesuatu..!” ucap Lu Han dengan wajah yang berbinar. Kai terperanjat. Dia mengeluarkan jurus tatapan elang nya pada Lu Han.

“apa? Apa yang ingin dibicarakan?” tanya Hye Rim langsung begitu mendengar bahwa Kai ingin mengatakan sesuatu. Senyum merekah dibibirnya dan pipinya memerah secara perlahan. Hal itu membuat Kai dan Luhan saling bertatapan  dengan aneh. Kai sepertinya nampak ragu ingin mengatakan hal itu, namun tatapan Lu Han seolah berkata ‘ cepat katakan, pabo! Ini menyangkut keselamatan adikmu’ yang membuat Kai mengangguk kecil.

“ayo katakan. Aku akan mengikuti mau mu..” kata Hye Rim lagi. Kai pun sedikit memperbaiki posisi duduknya. Entah apa fungsinya, tapi itu membuat dirinya sedikit rileks.

“emm~~ aku.. butuh.. ah~ anni.. aku ingin meminjam uangmu..” ucap Kai ragu. Hye Rim hanya menanggapinya dengan tersenyum. Bukan karena apa, dia hanya begitu terpesona dengan ketampanan Kai.

“ehheem~” Lu Han kembali berdehem agar Hye Rim segera menjawab. Dan tentu saja usahanya sukses. Dia terlalu keras membuat suara itu.

“ah, ye. Tentu saja boleh.” Jawab Hye Rim.

“benarkah??” tanya Lu Han dengan ekspresi bahagianya. Hye Rim mengangguk pasti tanpa menjeda tatapannya kepada Kai. Untuk beberapa detik kemudian, Kai dan Lu Han kembali bertatapan. Kali ini tatapan bahagia yang penuh harapan.

“butuh berapa?” tanya Hye Rim.

“heem.. duua~ puluh.. limma.. juta won?” ucap Kai ragu. What?? 25 juta won? Hey, yang benar saja! Kita butuh 40 juta won! Pikir Lu Han ketika Kai selesai berbicara. Hye Rim hanya mengangguk dengan senyuman diwajahnya tanda Ia setuju.

“ah~ aniyeyo Nona Cho. Kami butuh 45 juta won.. hehe.. nde, 45 juta won” ucap Lu Han menaikan harganya sebanyak 5 juta won. Kai kembali terkejut. Lu Han. Bocah ini benar benar amazing! Pikir Kai sangking kehabisan kata katanya.

“nde, tentu saja. Entah itu 100 juta won sekali pun, kalian boleh meminjamnya dari ku. Selama kita bisaa.. emm.. berteman” sahut Hye Rim malu malu membuat Kai dan Lu Han kembali saling menatap untuk yang kesekian kalinya. Tiba tiba Lu Han tersenyum seolah mengejek Kai.

“aah~ ye.. tentu saja kita berteman.. hehe.. benarkan Kai??” ucap Lu Han mencairkan suasana. Tak ada reaksi dari Kai, Lu han sedikit menginjak kaki Kai dan membuat Kai langsung mengangguk pasti.

“eem.. iya..” ucap Kai kaku. Dalam pikiranya sungguh kurang hajar seorang bocah tengik bernama Xi Lu Han ini. Berani beraninya dia mengatakan kalau mereka membutuhkan 45 juta won? Itu namanya berbohong. Sesungguhnya biaya operasi itu hanya 40 juta won saja. Tapi kenapa Lu Han berani menambah 5 juta won lagi?? Dan bagaimana bisa mereka akan membayar hutang itu nantinya?

“aku.. akan segera mengambilnya di ATM. Kalian tunggu disini saja ya?” tawar Hye Rim.

“sekarang?” kejut Lu Han diikuti anggukan pasti oleh Hye Rim.

“ah~ andwe Hye Rim sshi. Itu akan merepotkan. Kami berdua akan mengambilnya besok saja disini” ucap Kai mencegah Hye Rim.

“gwenchana.. aku benar benar akan ke ATM sekarang” sahut Hye Rim dan Ia benar benar berdiri dari tempatnya. Tanpa diperintah, dua pengawal pria nya mengikutinya dari belakang. Hye Rim sedikit berlari menuju pintu utama rumahnya dan dia tiba tiba berhenti di ujung pintu ketika melihat sebuah motor hitam terparkir di sebelah mobil limosinya.

“itu motor mereka?” tanya Hye Rim kepada pengawalnya.

“ye, Nona Cho” saut salah satu pengawalnya. Tiba tiba di kepala Hye Rim muncul suatu ide. Bukan ide, lebih tepatnya impiannya. Yah~ impiannya untuk bisa berpergian bersama temannya tanpa pengawal yang mengikuti. Mungkin kah?

Hye Rim kembali berlari menuju ruang makan untuk kembali menemui Kai dan Lu Han. Disana masih terlihat Kai dan Lu Han yang duduk dengan manisnya. Keduanya kemudian terkejut mendengar langkah kaki Hye Rim.

“omo! Kau sudah pulang dari ATM, Nona Cho?!” tanya Lu Han kaget. Hye Rim menggeleng dengan senyuman Khasnya.

“anni.. eeum.. motor itu..” ucap Hye Rim terpotong.

“aah~ itu motor Kai. Kenapa?” sahut Lu Han

“keureyeo?!” tanya Hye Rim bersemangat. Ia nampak berpikir sejenak kemudian mengembankan senyumannya yang Lu Han pun sudah muali bosan melihatnya.

“eehm.. aku ingin naik motor itu. Kai sshi, bisakah kau mengantarku dengan motormu?” kata Hye Rim hati hati. Kai dan Lu Han saling melihat.

“mwo? Kau serius?!” kali ini Kai yang bertanya.

“nde, aku sangat ingin naik motor. Sudah 17 tahun aku hidup tapi aku belum pernah naik motor~” jelas Hye Rim dengan raut wajah yang berbunga – bunga. Kedua pengawal Hye Rim yang berdiri dibelangkanganya saling bertatapan seolah ada yang sedang mereka bicarakan.

“keundae Nona, itu berbahaya” kata salah satu pengawalnya.

“aish~ kalian diamlah~” ucap Hye Rim lantang. Sontak kedua pengawal itu tertunduk dalam.

“hhah~ jinja~ Kai-ah.. cepatlah.. antar dia” perintah Lu Han.

“kau saja” sahut Kai dengan suara kecil.

“mwo?! Dia ingin di bonceng oleh mu pabo!!” jawab Lu Han dengan suara yang tak kalah kecil.

“Kenapa? Tidak bisa ya?” tanya Hye Rim tiba tiba yang melihat gelagat aneh Kai dan Lu Han.

“ah~ tentu saja bisa. Kai-ah.. palli..” kata Lu Han yang mau tak mau membuat Kai berdiri dari duduknya. Kai berjalan kearah Hye Rim dan tanpa basa basi, Hye Rim menggandeng lengan Kai dengan semangat. Tentu saja Kai terkejut.

“kajja!” ucap Hye Rim bersemangat sambil sedikit menyeret Kai.

“chakaman! Aku sendiri disin?!” cegat Lu Han begitu tau kalau dia akan sendiri di rumah besar ini. Sendiri dalam artian tidak bersama Kai. Satu satunya orang yang mau bersahabat denganya selain Hye Rim tentunya.

Hye Rim dan Kai mengangguk serempak membuat Lu Han menggelelng sampai kepalanya mau lepas.

“aah~ andwe!!” rengek Lu Han.

“eem.. kau ikut ajjushi saja naik mobil” usul Hye Rim sambil menunjuk kedua pengawalnya yang tentu saja akan membututinya dari belakang. Wajah Lu Han langsung berbinar.

“hhmm~ ide bagus!” sahut Lu  Han dan akhirnya mereka pun pergi keluar rumah dengan tangan Hye Rim yang tak lepas dari kai.

*out side*

“pakai ini” Kai menyodorkan sebuah helm berwarna biru kepada Hye Rim. Hye Rim menerimanya dengan senang hati.

“ini punya siapa?” tanya Hye Rim.

“Lu Han” sahut Kai.

“Lu Han?” tanya Hye Rim lagi untuk sekedar memastikan. Kali ini Kai tak menjawab. Hanya mengangguk sambil menaiki motornya. Sebuah helm hitam mengkilat sudah bertengger manis dikepalanya.

“sss~ aku tak suka yang ini. Aku mau pakai yang itu..” kata Hye Rim manja sambil menunjuk helm di kepala Kai.

“ini? Waeyo?” tanya Kai bingung.

“helm ini bentuknya jelek! Lihatlah~” kata Hye Rim sambil menyodorkan helm itu kepada Kai membuat Kai merasa heran. Apanya yang beda dari helm Lu Han dan miliknya? Bentuknya sama persis, hanya warnanya saja yang berbeda. Tapi akhirnya Kai mengalah. Dia melepaskan helm dikepalanya kemudian menukarnya dengan helm Lu Han dan segera memasangnya di kepalanya.

“kenapa hanya dilihat? Pasang itu di kepalamu, lalu naiklah~” kata Lu Han santai. Kedua pengawal Hye Rim dan Lu Han sudah masuk kedalam mobil limosin yang terparkir tak jauh dari motor Kai.

“ini… bagaimana cara pakainya?” tanya Hye Rim polos. Sebegitunyakah Hye Rim sampai sampai tidak tahu memakai helm? Tentu saja tidak. Bisa dibilang itu hanya akal akalan nya saja agar Kai mau memasangkan helm dikepalanya. Dan tentu saja rencananya itu berhasil. Tanpa aba aba Kai segera mengambil alih helm itu dari tangan Hye Rim kemudian memasangnya di kepala Hye Rim dengan hati hati. Hye Rim tersipu malu melihat wajah Kai yang begitu serius memasangkannya helm. Ah~ bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya? Cinta? Apa itu cinta? Benarkah aku jatuh cinta? Atau hanya sekedar kagum? Batin Hye Rim.

“sudah. Naiklah..” lamunan Hye Rim tersadar karena suara Kai. Dengan segera Ia menaiki motor Kai tepat di belakang Kai. Dia meletakan tangannya di punggung Kai dan meremasnya dengan kuat, takut terjatuh mungkin.

“bukan disitu pegangnya” ucap Kai yang merasa jaket kulitnya akan sobek karena kuku kuku tajam Hye Rim meremasnya terlalu kuat.

“lalu dimana?” tanya Hye Rim polos. Kali ini dia benar benar tidak tahu harus berpegangan dimana.

“dimana saja asal jangan disitu” ucap Kai mulai gondokan. Entahlah. Hye Rim mulai melihat lihat sekeliling motor itu, mencari tempat untuk berpegangan. Ketemu! Dia memegang bagian belakang motor dengan erat dan berteriak “aku sudah siap!!”

Kai menoleh. Apa yang dia lakukan? Kenapa berpegangan disitu?

“peganglang disini” perintah Kai sambil memegang pinggangnya sendiri. Lama lama yeoja ini menyebalkan. Pikir Kai. Tak jauh beda dengan Lu Han. Tambahnya lagi.

“disitu? Kau yakin?!” tanya Hye Rim dengan suara yang bersemangat. Bagaimana tidak?! Ini benar benar seperti di drama saja, batin Hye Rim. Kai mengangguk dan mulai menyalakan mesin motornya. Sementara Hye Rim sudah memegang erat pinggang Kai. Ingin rasanya Ia bersandar di punggung Kai, namun dia menahan itu. Tentu saja dia masih punya rasa malu. Mereka belum lama saling kenal.

Berikutnya Hye Rim terlalu senang untuk mengingat jalan mana saja yang mereka tempuh. Rasanya seperti mimpi, ini benar benar kali pertamanya menaiki motor dan wajah kedua pengawalnya tidak nampak sekalipun meski mereka ada tepat dibelakang motor dengan limosin mewah itu. Didalam mobil Lu Han sedang menikmati masa masa kaku nya bersama kedua pengawal Hye Rim yang terlalu serius melihat kearah Kai dan Hyer Rim. Benar benar seperti robot. Pikir Kai.

*0*0*0*

“woah~ rupanya uang 45 juta won sebanyak ini ya?!” kagum Lu Han di dalam mobil limosin Hye Rim. Kai dan Hye Rim juga berada di dalam. Didalam tas ransel berwarna hitam sudah terisi uang 45 juta won dan hampir membuat tas itu sesak.

“keundae Kai sshi, uang sebanyak ini untuk apa?!” tanya hye Rim tiba tiba. Lu Han memilih diam kali ini karena sesuai kesepakatan mereka, untuk pertanyaan ini Kai lah yang akan menjawab.

“eeum.. mianheyo Hye Rim sshi, tapi ini masalah pribadi” jawab Kai berhati hati. Hye Rim mengangguk tanda mengerti. Tentu dia tidak akan memaksa kalau itu masalah pribadi. Semua orang butuh privasi kan?

“ohh.. ye.” Ucap Hye Rim pelan. Kemudian Hening untuk beberapa saat.

“eehehee… Nona Cho, kami sudah boleh pulang kan?!” tanya Lu Han memecah keheningan. Hye Rim tertegun sesaat membuat Lu Han merasa bersalah kepada gadis itu untuk yang pertama kalinya.

“secepat itu?!” tanya Hye Rim lemas. Kai dan Lu Han mengangguk perlahan.

“hhh~~ arraso. Hajiman.. hubungi aku ya?!” pinta Hye Rim kepada Kai. Kai menoleh kepada Lu Han.

“eem~~ araso..” jawab Kai ragu. Tapi hal itu sukses membuat Hye Rim tersenyum. Setidaknya lebih baik dari pada sebelumnya.

Akhirnya Kai dan Lu Han keluar dari mobil. Setelah pintu tertutup, Hye Rim segera membuka jendela mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Kai, tapi malah Lu Han yang membalas lambaian tangan itu sementara Kai hanya terdiam.

“melambai padanya bodoh!” perintah Lu Han sambil terus tersenyum ke arah Hye Rim dan sesekali menunduk dalam tanda terima kasihnya. Kai yang tersadar langsung menunduk ketika melihat Lu Han menunduk. Dia ingin melambaikan tangannya juga ketika selesai membungkuk tetapi mobil Hye Rim sudah menghilang dari pandangannya.

“neo paboya!” bentak Lu Han. Kai menoleh dan memasang muka protes, tanda tak terima di bilang pabo oleh orang yang lebih pabo dari dirinya.

“tidak bisakah kau mengambil hatinya? Sepanjang hari kau hanya tersenyum sekali. Heran!” jelas Lu Han. Kai tersenyum sinis.

“ya!! Kenapa kau bilang 45 juta, huh?!” tanya Kai langsung. Lu Han ikut tersenyum kecut mengikuti aksi Kai barusan.

“aku pikir kau pintar, Kai-ah~ ternyata kau 1 level di bawahku..” ucap Lu Han mengejek Kai.

“mwo?!”

“hya imma, coba kau pikir. Untuk apa kau meminjam hanya 20 juta won? Kau mau membayar dokter dengan setengah harga? Lalu operasi So Mi juga hanya setengah dilaksanakan?! Neon paboya~” jelas Lu Han panjang lebar. Kai nampak berpikir. Benar. Lu Han memang benar. Tapi..

“lalu 5 juta won itu?! Kau ingin menambah beban?!” tanya Kai lagi.

“ya.. ya.. ya.. sekarang kau 2 level di bawahku! Dengar Kim Jong In. Setelah So Mi si operasi memangnya dia tidak butuh obat?! Tentu saja 5 juta won itu untuk membeli obat dan sebagainya..” Lu Han kembali menjelaskan. Kali ini kai kembali terdiam. Entah apa yang harus dilakukan nya sekarang. Dia terlalu bingung dengan penjelasan Lu Han yang 100% benar.

“sudahlah~ sekarang ayo ke rumah sakit! Kajja..” ujar Lu Han sambil memakai tas ransel yang sedari tadi hanya dipengangnya saja. Kai menurut saja dan mengikuti langkah Lu Han menuju motor mereka yang terparkir manis di tempatnya.

*at hospital*

“kai-ah~ biarkan aku duluan masuk~” pinta Lu Han memohon kepada kai. Kai hanya menatapnya tanpa ekspresi sambil memasang atribut untuk menjenguk pasien yang dirawat di ruangan khusus itu. Warna hijau kini mulai dominan di tubuh Kai.

“tunggu giliran..” hanya itu yang terucap dari Kai setelah ia selesai memasang alas kepala berwarna hijau tua itu.

Perlahan dia memasuki ruang khusus pasien kanker itu. Aroma terapi yang tercipta dari sebuah alat berbentuk teko itu mulai menusuk di hidung Kai. Di atas tempat tidur terlihat So Mi, adiknya yang terbaring lemas seperti tak bernyawa. Ini sudah 3 hari dia koma dan seharusnya dia sudah di operasi jauh hari sebelum dia mengalami koma.

Kai menyambut tangan So Mi yang terbujur lemas di samping tubuhnya kemudian menggenggamnya dengan penuh kasih sayang. Tak ada yang bisa di ucapkan oleh kai. Hanya rentetan doa yang bisa Ia kirim lewat suara hatinya. Berharap So Mi dapat sembuh secepat mungkin. Setelah puas melihat adiknya, Kai bersiap keluar dari ruangan ini sebelum air matanya terjatuh. Ia tidak ingin menangis. Ia harus kuat. Karena kalau dia menangis, adiknya pasti tidak akan suka.

“kau boleh masuk..” ucap Kai pelan ketika Ia sudah sampai diluar. Terlihat Lu Han yang sudah siap dengan pakaian serba hijaunya.

Lu Han mengangguk dan segera masuk kedalam ruangan itu. Senyumannya otomatis tercipta ketika sosok So Mi yang terbaring lemah kini sudah nampak didepan matanya.

“So Mi-ah~ oppa datang..”

 

TBC

Otte? TAO nya belum muncul 😀 dia masih sibuk main di FF ROBOT MAN #hhaha… Tao nya baru muncul di next chapter.. comment nya di tunggu ya??

33 pemikiran pada “What is Love (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s