What is Love (Chapter 3)

Author :  vhanee_elf
Genre : Romance
Rating : Pg 13
Length : Chapter , Series
Main Cast :
– KAI (Kim Jong In)
– Cho Hye Rim (oc)
– Xi Lu Han
– Huang Zi Tao
– And other cast

Warning : Miss Typo

*0*0*0*

 “So Mi-ah~ oppa datang..” sapa Lu Han dengan senyum isengnya.  Dengan langkah besar tapi perlahan, Lu Han berjalan menuju So Mi yang sedang tertidur lemah. Lu Han meletakkan setangkai bunga Lili di atas meja tepat disebelah tempat tidur So Mi yang sempat di belinya dalam perjalanan tadi.

“hari ini satu dulu ya? Nanti kalau oppa ingat, oppa akan membelinya 2 untuk mu.. heheh..” ucap Lu Han seolah So Mi dapat mendengarnya. Dia terkekeh kecil menanggapi tingkah konyolnya. Tapi dia tetap cuek saja, toh tak ada orang lain disini selain dirinya dan So Mi yang terbaring tak berdaya.

“ah, kau tau kami berdua sudah mendapatkan uang untuk biaya operasimu? Tenang saja, kau pasti sembuh, So Mi-ah~” ucap Lu Han lagi. Dia mengambil tangan So Mi dan menggenggamnya erat. Persis yang dilalukan Kai sebelumnya.

“kalau kau sedang sadar, pasti kau akan memukul kepalaku kalau tanganmu ku pegang begini..” tambanya lagi. Menit berikutnya Lu Han tetap saja mengoceh panjang. Beda jauh dengan Kai yang hanya datang untuk memastikan kalau adiknya itu masih bernapas.

“So Mi-ah~ igeo bwa! Pukulan ajushi itu membawa berkah. Aku berkenalan dengan seorang yeoja yang mau meminjamkan uang untuk mu..” kata Lu Han sambil menunjuk bekas pukulan dipipinya yang hanya meninggalkan bekas kemerahan disitu.

“kalau kau sudah sadar nanti, aku akan mengenalkannya padamu..” janji Lu Han pada So Mi.

Sementara di luar Kai sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya lurus kedepan. Memandang tembok lurus yang berwarna outih itu. Kemudian pandangannya beralih pada tas ransel yang diletakan Lu Han di sebelah Kai tadi. Kai menggapai tas itu. Haruskah ia menggunakan uang itu? Tentu saja harus. Didalam sana adiknya terbaring tak berdaya menunggu operasi. Dan seharusnya Kai sudah mengurus segala sesuatunya di administrasi sekarang ini. Benar, kai sekarang sudah berjalan menuju ruang administrasi. Mengurus semuanya agar So Mi segera di operasi.

 

*0*0*0*

Next Day @ Cho Hye Rim’s house

“anyeonghaseyo Nona Cho~ bolehkah aku masuk?” tegur seseorang membuat Hye Rim yang sedang melamunkan Kai  terkejut.

“oppa!!” teriaknya girang ketika mendapati sesosok namja berpenampilan rapi dengan setelan Jasnya di pintu kamarnya. Namja itu hanya tersenyum ramah ketika tubuh mungil Hye Rim menghampiri dirinya.

“oppa kau sudah pulang dari China? Bukankah kau pulang minggu depan?!” tanya He Rim persis didepan namja itu. Tinggi Hye Rim yang tak seberapa membuatnya mengadahkan kepalanya setinggi mungkin agar bisa menjangkau tatapan namja itu.

“pekerjaanku sudah selesai disana.. jadi tidak ada alasan untuk berlama lama disana” jawab To dengan gayanya yang berwibawa. Hye Rim hanya ber-oh~ ria membuat Tao tersenyum melihat hal itu.

“keureom~ mana oleh oleh nya?!” tanya Hye Rim berbasa basi. Tentu tak dianggap basa basi oleh Tao karena Ia memang membelikan oleh oleh untuk Hye Rim. Tao merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

“ini” ucap Tao singkat sambil menunjukkan sebuah kalung di hadapan Hye Rim. Tao tersenyum bersemangat tetapi tidak dengan Hye Rim. Dibelikan kalung berlian sekalipun dia tidak akan bersemangat karena bukan itu yang dia harapkan.

“ige mwoya?? Oppa tidak lihat aku punya sekotak kalung disana?” ucap Hye Rim sambil menunjuk sebuah kotak berwarna soft pink yang terletak di atas meja riasnya. Tao ikut melirik kearah yang ditunjuk Hye Rim kemudian dia tersenyum sumringah.

“tapi kau tidak punya yang seperti ini kan?” tanya Tao yakin. Hye Rim mengamati kalung itu. Memang benar dia tidak punya yang seperti itu sih.. kalung ini terlalu sederhana. Entah dari apa bahannya yang jelas itu terlihat seperti kalung pasaran.

“kau tau apa artinya ini?” tanya Tao sambil menunjuk mata kalung yang seperti sebuah tulisan itu. Hye Rim menggeleng.

“itu tulisan China kan?!” tanya Hye Rim memasatikan. Tao mengangguk ringan.

“ini artinya Luck, keberuntungan. Orang orang China sering memakainya untuk mendapatkan keberuntungan” jelas Tao. Hye Rim mengambil kalung itu dari tangan Tao dan kembali mengamatinya untuk kesekiankalinya. Ah~ jika bukan Tao yang memberinya, Ia tak akan mau memakai barang aneh seperti ini. Tapi untuk menghargai satu satunya orang terdekatnya saat ini, akhirnya Hye Rim memakai kalung itu. Tao membantunya mengaitkan kalung itu di belakang leher Hye Rim.

“eem~ bagus juga.. aku tampak seperti gadis lain pada umumnya..” ucap Hye Rim setelah kalung itu terpasang manis di leher jenjang nya. Dan hal itu membuat Tao tersenyum bahagia.

“haruskah kita pergi mencari makan Nona Cho?! Aku belum makan sejak naik pesawat dari China” tanya Tao sambil memasang tangan kanannya untuk di gandeng Hye Rim. Hye Rim menyambutnya dengan wajah protes.

“oppa, berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Kau mengingatkanku pada seseorang yang menyebalkan!” ungkap Hye Rim membuat Tao berpikir bahwa orang menyebalkan yang dimaksud Hye Rim adalah kedua pengawalnya yang terlalu setia itu. Padahal yang dimaksudnya adalah Lu Han.

“araso Hye Rim-ah~” kata Tao membuat Hye Rim tersenyum girang.

Hye Rim dan Tao kemudian pergi kesebuah restoran bintang lima di pusat kota. Ini belum jam makan malam karena ini masih sore. Tapi tetap saja mereka lebih memilih ke restoran dari pada kafe atau rumah makan. Mereka orang kaya.

Di restoran, Tao segera memesan makanan untuknya. Begitu pula dengan Hye Rim. Obrolan kecil menemani mereka kala itu. Sementara di lain tempat, Kai dan Lu Han sibuk mondar mandir di ruang tunggu. Lebih tepatnya, Lu Han seorang yang sibuk mondar mandir.

“Lu Han-ah~ duduklah.. kau membuat orang terganggu” tegur Kai yang sudah bosan melihat Lu Han terus saja mondar mandir tak jelas di depannya. Sontak Lu Han berhenti mondar mandir dan membungkuk beberapa kali sambil mengucapkan ,”mianhe..” kepada orang orang disekitarnya.

“aku hanya terlalu gugup” ucap Lu Han sembari duduk di samping Kai.

“sudah 3 jam lebih dan belum ada kabar.. jelas saja aku gugup” ucap Lu Han pada dirinya sendiri.

“huufft~ tenang Lu Han-ah~ wajahmu jelek ketika gugup.. benar kan Kai?” ucap Lu Han lagi di ikuti anggukan pasrah dari Kai. Bukannya Kai tidak gugup saat ini. Ia hanya berusaha untuk bersikap tenang. Seperti biasanya.

“dokter bilang operasi itu memakan waktu 4 jam. Bisa lebih atau kurang. Jadi~ tetaplah tenang..” kata Kai kepada Lu Han. Entah bagaimana Lu Han tak bisa tenang meski Kai bahkan dirinya sendiri sudah berusaha untuk menenangkanya.

“aaah~ ige mwoya..” ucap Lu Han frustasi sambil mengacak rambutnya. Kai mengerti apa yang dirasakan Lu Han. Lebih dari mengerti malah, pasalnya Lu han sangat mencintai adik semata wayangnya itu. Sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Meski awalnya Kai dan Lu Han sama sama berpikir bahwa itu hanya cinta monyet saja, tapi buktinya hingga saat mereka bertiga telah lulus SMA pun Lu Han masih saja menyukai So Mi meski cintanya telah di tolak mentah mentah oleh So Mi.

Selang 15 menit kemudian, seorang dokter diikuti 3 orang suster berjalan dengan langkah yang pasti ke arah Kai dan Lu Han. Kai menepuk punggung Lu Han mengisyaratkan bahwa dokter itu berjalan kearah mereka. Dengan serentak mereka berdiri dan menatap sang dokter dengan penuh harapan.

“dokter.. tidak usah bicara kalau kau akan memberikan kabar buruk~” ucap Lu Han lebih dulu sebelum dokter itu bicara. Kai menatap bocah ajaib di sebelahnya itu. Benar benar membuat orang frustasi saja. Bagaimana kalau dokter itu benar benar tidak bicara dan langsung pergi begitu saja?

“hhh.. maaf anak muda. Tapi aku harus bicara..” kata dokter itu. Setelah memberi jeda beberapa detik, akhirnya sang dokter kembali mengeluarkan suara.

“operasinya sukses. Chukkae. Kalian boleh melihat pasien setelah pasien di pindahkan ke ruang perawatan” perkataan sang dokter disambut girang oleh Lu Han dan Kai.

“jongmalyo? Aaaahh.. gomawo dokter.. gomawo…” Lu Han mengucapkan terima kasih sambil membungkuk berkali kali.

“kamsahamnida~” ucap Kai tak dapat membendung kebahagianya. Dokter beserta ketiga suster itu membungkuk sebagai tanda hormat dan meninggalkan Kai dan Lu Han yang masih larut dalam kegembiraannya.

“waaah~ Cho Hye Rim jinja daebak!!” ucap Lu Han kemudian. Entah apa maksudnya yang jelas dia sangat berterima kasih kepada Hye Rim yang bersedia meminjamkan mereka uang sebanyak itu untuk biaya operasi So Mi yang 100% berhasil itu.

“Kai-ah~ kita berhasil.. rencana itu berhasil.. Cho Hye Rim.. gomawoyo~” lanjut Lu Han tak henti hentinya. Kai teringat sesuatu. Dia harus menghubungi Hye Rim dan mengucapkan terima kasih. Yah, tentu saja dia harus berterima kasih pada yeoja itu.

“kai-ah~ mau kemana?” tanya Lu Han yang melihat Kai akan segera beranjak dari tempat itu.

“aku ada urusan sebentar. Tak sampai 15 menit. Tolong awasi So Mi..” jawab Kai. Belum sempat Lu Han menjawab kai sudah berlari kecil dan menjauh darinya.

“ah~ araso~ terserah kau saja!” ucap Lu Han akhirnya.

***

 

Hye Rim dan Tao menikmati makanan mereka sore itu. Tidak, mungkin hanya Tao saja yang menikmati makannannya saat ini. Sementara Hye Rim sedari tadi sibuk mengaduk-aduk makananya tak jelas sambil menatap layar hnadphone nya yang terletak tak jauh dari piring makannya.

“Hye Rim-ah~ kenapa tidak dimakan? Tidak enak ya?!” tanya Tao. Hye Rim tak menggubris, hanya mengaduk-aduk pastanya yang sedari tadi belum disentuhnya. Tao meletakkan sendok dan garpunya kemudian membersihkan area disekitar bibirnya dengan tisu. #authornya mimisan membayangkan Tao bersih2 bibirnya #abaikan

“Hye Rim-ah~ kau tidak suka makananya?!” ulang Tao. Kali ini Hye Rim mendengar ucapan Tao.

“ah~ eung? Anni oppa. Ini enak..” kaget Hye Rim sambil tersenyum manis kepada Tao. Tao menatapnya dengan cermat membuat Hye Rim salah tingkah dan dengan terpaksa mulai menyuapi mulutnya dengan pasta yang di pesannya tadi.

“eumm.. mashitda~” gumam Hye Rim dengan ekspresi wajah yang di buat buat.

Hey Bodoooooh~ angkat telponnya~~~ angkat telponnya~~~ ceepaaat angkat telponnya~~

Tiba tiba handphone Hye Rim berbunyi nyaring. Ia  sedikit malu dengan nada deringnya yang sangat kekanakan itu tapi Ia juga bersyukur karena seseorang telah menelponya dan mengeluarkannya dari situasi canggungnya bersama Tao.

“ah! Ini telpon penting! Aku harus mengangkatnya..” ucap Hye Rim pada Tao. Tao mengangguk saja tanda setuju.

Hye Rim melihat sebentar nomor telpon yang tertera di handphone nya. Ini nomor rahasia. Siapa yang menelponya?! Orang iseng? Ingin sekali Hye Rim me-reject panggilan itu tapi dia sudah terlanjur berbohong pada Tao dengan mengatakan bahwa itu adalah telpon penting.

“yeoboseyo~” ucap Hye Rim pelan.

“yeoboseyo~” balas lawan bicara Hye Rim di seberang telpon. Suara namja? Siapa? Batin Hye Rim.

“nuguseyo?!” tanya Hye Rim.

“Kai imnida” sahut suara kecil nan halus di seberang telpon Hye Rim. Kai? Benarkah ini kai?! Baru mendengar suaranya saja ingin rasanya Hye Rim melompat kegirangan seperti anak kecil yang dibelikan permen oleh pacar kecilnya.

“jeongmalyo? Ini benar benar Kai?!” tanya Hye Rim lagi untuk memastikan kalau telinganya masih normal.

“nde, Hye Rim sshi~” sahut Kai.

“whaa~ Kai sshi.. aku senang kau menghubungiku~” ucap Hye Rim kegirangan. Ia tak dapat menyembunyikan kesenangannya dihadapan Tao dan hal itu membuat Tao terkesan. Sangat jarang sekali melihat moment Hye Rim kesenangan seperti ini, apalagi hanya karena sebuah telpon.

“ah~ jinjayo?!” tanya Kai berbasa basi. Disisi Lain Kai sedang berdiri di dalam sebuah telpon umum di dekat rumah sakit. Hari ini mood nya sedang baik dan Ia berniat untuk membalas kebaikan Hye Rim kepadanya dan Lu Han.

“nde, neomu haengbokhae~” balas Hye Rim masih dengan senyumnya yang menawan. Tapi percuma saja, Kai tidak melihat itu. Sementara Tao merasa cemburu melihat ekspresi Hye Rim yang begitu bahagia. Siapa namja yang membuatnya begitu bahagia bahkan hanya dengan sebuah panggilan?

“eeum.. Hye Rim sshi.. aku ingin berterima kasih padamu.. jeongmal gomawoyo~” ucap Kai tulus. Hye Rim tersipu. Ia menggaruk kepalanya.

“ahaaa.. berterima kasih untuk apa?” tanya Hye Rim malu. Tao yang merasa di acuhkan kembali melanjutkan santapannya.

“karena kau sudah berbaik hati mau meminjamkan kami uang. Dan uang itu sangat berguna. Berkat uang itu~ satu nyawa telah terselamatkan” jelas Kai.

“benarkah?!” tanya Hye Rim. Sebenarnya Ia sangat ingin bertanya pada Kai maksud perkataannya tadi. Menyelamatkan satu nyawa? Nyawa siapa?! Ah~ pasti kai memakai uang itu untuk kebaikan. Benarkan?! Tidak salah aku menyukai namja ini. Pikir Hye Rim.

“mm.. benar. Hye Rim sshi, bisakah besok kita bertemu?!” ucap Kai. Entah kenapa senyumnya berkembang kalau mengingat operasi adiknya yang sukses. Hatinya semakin mantap untuk membalas kebaikan Hye Rim.

“mwo? Bertemu? Tentu saja.. haha..” jujur Hye Rim sedikit terkejut mendengar ajakan Kai. Hey, ini ajakan kencan bukan? Tao menghela napas panjang melihat tingkah Hye Rim. Kecemburuan nya semakin menjadi ketika mendengar Hye Rim menyutujui ajakan pria di lawan telponnya itu.

“baiklah~ tapi Aku tidak ingin merepotkanmu” kata Kai lagi.

“anni.. tentu saja kau tidak merepotkanku” sahut Hye Rim sambil menggeleng.

“baiklah~ pukul 4 sore di kafe depan Seoul Hospital, ottae?!” kata Kai membuat janji.

“mm.. nde! Aku tidak akan terlambat” ucap Hye Rim pasti.

“araso~ aku tutup telponya. Anyeonghaseyo~” ucap Kai lembuut seolah berbisik pada Hye Rim.

“hm.. anyeong~” saut Hye Rim tak kalah lembutnya. Hye Rim menjauhkan handphone dari telinganya kemudian meletakkannya kembali di atas meja. Senyum bahagia belum lepas dari bibirnya.

“nugu?” tanya Tao penasaran.

“nae chingu..” jawab Hye Rim semangat. Matanya tak lepas dari layar handphonenya, entahlah. Mungkin ia masih berharap kalau kai akan kembali menghubunginya.

“chingu?!” selidik Tao dengan tatapan mautnya.

“nde!” sahut Hye Rim yang kembali memegang sendok serta garpunya. Perlahan ia memasukan makanan ke dalam mulutnya. Selera makannya mendadak berubah setelah Kai menghubunginya tadi.

Tao ingin sekali menanyakan lebih lanjut siapa yang menghubungi Hye Rim barusan. Namun dia merasa tidak punya hak untuk tau siapa itu karena mereka berdua juga hanya sebatas teman. Yah~ teman. Tak lebih dan tak kurang.

*0*0*0*

“hya imma! Kau mau kemana sore sore begini?! Mau lari dari tanggung jawab, heung?!” tegur Lu Han ketika melihat Kai yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang rapi. Sejak kemarin mereka berdua menginap di rumah sakit untuk berjaga kalau kalau So Mi akan tersadar dari komanya suatu saat.

“aku akan pergi sebentar” sahut Kai santai sambil merapikan pakaian kotornya dan memasukkannya kedalam tas ranselnya.

“mwo?! Ya~ kau mau meninggalkanku berdua dengan So Mi disini? Tidak takut kalau So Mi akan aku apa-apa kan?!” tanya Lu Han dengan tampang tolol nya.

“memangnya kau mau apakan dia?!” tanya Kai sembari menatap Lu Han yang kini sedang sibuk menggaruk kepalanya.

“ehm~ siapa tahu tanpa sadar aku menciumnya atau…” ucap Lu Han dengan suara yang kecil. Tiba tiba saja sebuah kain melayang di kepala Lu Han dengan mulus.

“yaa!! mwoya?!” protes Lu Han karena Kai melemparnya dengan handuk basah.

“neo micheoseo! Berhentilah berpikiran yang macam-macam. Aku tidak akan lama. Jangan berbuat yang aneh aneh Lu Han-ah~ mengerti?” ucap Kai sambil memberi pesan bijaksana kepada Lu Han. Sebenarnya Ia tak takut Lu Han akan berbuat macam macam pada So Mi.karena ini tidak akan terjadi. Yang dia takutkan adalah kalau-kalau Lu Han membuat heboh rumah sakit dengan menjatuhkan berbagai macam obat di apotek rumah sakit atau sekedar berlari kegirangan kesana kemari kalau autisnya sedang kumat.

“nde, arasoyo Kim Jong In yang terhormat~ aku akan menjaga sikapku didepan So Mi aegi. Jangan lupa belikan Xi Lu Han yang tampan ini makan malam ya~” ucap Lu Han dengan sikap manis yang di buat buat.

“hheh! Aku pergi~”  kata Kai sambil berlalu di ambang pintu.

“nde~ anyeonghaseyo~” Lu Han membungkuk 90 derajat dan membuat ekspresi manis di wajahnya. Setelah suara pintu tertutup Lu Han segera meluruskan tubuhnya dan menyeret kakinya menuju So Mi.

“hehe.. kita hanya berdua So Mi-ah~..” ucap Lu Han sambil terkekeh. Ia duduk di kursi plastik yang terletak tepat disebelah tempat tidur So Mi, kemudian menggenggam tangan So Mi dengan lembut dan menatap wajah So Mi dengan sendu selama beberapa detik.

“hhh.. apa yang harus aku lakukan~” ucap Lu Han lagi karena merasa bosan. Dia melihat kearah meja di sampingnya, sama sekali tidak ada makanan ringan untuk mengganjal perutnya. Tiba tiba Ia membuat wajahnya seolah ingin menangis dan membuat bibirnya manyun berapa centi kemudian mulai membuat suara seperti orang yang sedang menangis.

“hhuuee… So Mi-ah~ ireonnaa.. aaah~ palli ireona.. hiks..” rengek Lu Han manja sambil menggoyang-goyangkan tangan So Mi yang digenggamnya lembut. Tapi percuma. So Mi tetap diam dengan alat bantu bernapas di hidungnya.

*0*0*0*

Hye Rim berkali kali mengecek handphone nya. Berharap Kai yang menghubunginya, tapi percuma. Hal itu sudah dilakukannya sejak terakhir kali Kai menghubunginya kemarin tapi tetap saja, tak ada panggilan dari Kai. Dan parahnya, dia lupa bertanya kenapa Kai menelponnya menggunakan nomor rahasia. Dan itu membuatnya sangat penasaran.

Hye Rim berdiri didekat pintu kafe bersama kedua pengawalnya yang berdiri tak jauh darinya. Sudah lebih dari 20 menit dia berdiri menunggu kedatangan Kai tapi Kai tak kunjung tiba. Bukanya Kai yang datang terlambat, tapi Hye Rim sengaja datang lebih cepat agar Kai tidak menunggunya. Tentu saja Ia ingin meninggalkan kesan yang baik untuk Kai. Tapi dia datang terlalu cepat rupanya. Ujung ujungnya Ia malah menunggu kelamaan.

“Nona Cho, apakah anda tidak ingin masuk? Ini mulai gerimis~” tanya salah satu pengawal Hye Rim. Benar ini mulai gerimis bahkan akan berubah menjadi hujan beberapa menit lagi kalau Hye Rim tidak salah perkiraan.

“aniyo ajusshi~ aku ingin masuk bersama Kai.” Ucap Hye Rim tak bertenaga. Seumur umur baru kali ini Ia rela menunggu lama sambil berdiri.

“mianheyo Hye Rim sshi~ apa aku terlambat?!” tiba tiba sosok Kai muncul dihadapnya. Napasnya terengah-engah membuat kesan sexy tercipta dimata Hye Rim.

“ah~ aniyeyo..” sahut Hye Rim dengan pandangannya yang fokus kewajah kai. Senyumannya yang selalu tercipta ketika melihat Kai kini terlihat jelas.

“ehhem.. Nona Cho, bisakah kita masuk sekarang? Hujan benar benar akan turun” tegur pengwalnya tadi. Hye Rim mengangguk tapi pandangannya tak luput sekalipun dari Kai membuat Kai sedikit bergidik ngeri.

Kai mempersilahkan Hye Rim masuk terlebih dulu dengan bahasa tubuh namun Hye Rim menggeleng.

“kau masuk duluan, aku mengikutimu saja~” kata Hye Rim singkat. Kai sedikit bingung namun situasi tidak mendukungnya untuk berlama lama diluar. Akhirnya Kai masuk lebih dulu kedalam kafe sederhana itu diikuti oleh Hye Rim yang mengekornya dari belakang. Kai memilih tempat duduk paling ujung yang membuta mereka dapat menjangkau pandangan ke laur kafe karena kafe tersebut terbuat dari kaca.

Kai menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Hye Rim untuk duduk disitu. Diperlakukan begitu Hye Rim malah tersipu malu, padahal dia selalu diperlkukan begitu oleh pengawalnya setiap kali Ia ingin duduk.

“gomawo..” ucap Hye Rim sambil tersenyum. Kai hanya mengangguk kemudian duduk di hadapan Hye Rim.

“hari ini aku ingin mentraktirmu.. pesan lah sesukamu..” kata Kai membuka pembicaraan. Hye Rim mengangguk semangat sambil tersenyum girang.

“eem.. Kai sshi, kau yang pesankan buatku˜” putus Hye Rim akhirnya setelah Ia melihat daftar menu yang diberikan oleh pelayan.

“waeyo?!” tanya Kia.

“ini pertama kalinya aku makan di tempat seperti ini. Jadi aku tidak tahu menu apa yang enak~” jawab Hye Rim polos. Aki mengambil alih daftar menu dari Hye Rim danmulai memilih makanan yang sekiranya akan memuaskan Hye Rim.

Setelah beberapa melihat lihat, akhirnya Kai sudah memutuskan untuk memesan apa, kemudian memberitahunya kepada pelayan.

“eeum.. Kai sshi, kemarin, kenapa menelponku menggunakan nomor rahasia?” tanya Hye Rim membuat Kai bingung. Nomor rahasia?~

“ah~ nomor rahasia? Aku menelpon lewat telpon umum.. “ jawab Kai jujur.

“telpon umum?!” tanya Hye Rim lagi. Kai hanya mengangguk dalam diam.

“memangnya kau tidak punya Handphone?!” tanya Hye Rim lagi dan langsung di iyakan oleh Kai.

“jongmal?! Tapi ini sudah jaman modern~” sahut Hye Rim tak percaya. Setahu nya, bahkan penjual ikan di pasar tradisional pun mempunya handphone jaman sekarang seperti ini. Mengapa Kai tidak punya?!

Lama mereka terdiam sampai akhirnya seorang pelayan membawa makanan untuk mereka.

“gomawoyo~ huaa~ kelihatannya enak..” ucap Hye Rim kegirangan.

“ini namanya apa?!” tanya Hye Rim menunjuk makanan di piringnya.

“itu bakso ikan~” sahut Kai. Makanan apa itu? Setahu Hye Rim yang biasa di buat untuk bakso adalah daging. Bukan ikan. Tapi Ia penasaran juga dengan rasa makanan itu, dan akhirnya Ia mengambilnya sepotong lalu memasukannya kedalam mulutnya.

“hoo~ jinja mashitda~” ungkap Hye Rim karena rasa makanan itu memang enak dilidahnya.

“tidak kusangka bakso ikan akan selezat ini rasanya~ wwoaah~ eumm…” ucap Hye Rim sambil terus memasukan makanan kedalam mulutnya. Dia menikmati tiap potong bakso ikan itu ditenggorokannya. Kai berdecak kagum melihat tiingkah Hye Rim yang menurutnya 80% mirip dengan Lu Han itu. Sedikit Konyol dan terkadang menggemaskan.

“kau tidak makan punyamu?!” tanya Hye Rim yang mulai malu diperhatikan terus oleh Kai. Kai mengangguk saja tanda Ia ingin memakan punyanya.

Sementara diluar Tao yang sedang dalam perjalanannya melihat Hye Rim sedang makan di sebuah kafe dari dalam mobilnya.

“ajushi, tolong berhenti sebentar~” ucap Tao pada sopirnya. Tao mengamati Hye Rim. Benar, itu Hye Rim dan siapa namja yang sedang bersamanya itu?! Pikir Tao.

Tao melepas save belt nya dan segera turun dari mobilnya. Sedikit berhati hati ketika menyebrangi jalan yang tidak terlalu ramai itu. Tao mempercepat langkahnya menuju kafe kecil tersebut dan membuka pintunya.

“osseo osaeyeo~” sapa elayan kafe itu ramah. Tao tersenyum simpul kepada pelayan itu lalu segera berjalan kearah Hye Rim dan Kai.

“Hye Rim-ah~” tegur Tao dari belakang membuat Hye Rim menghentikan aktivitas makan mereka dan menengok ke sumber suara.

“Tao oppa..”

***

TBC

Konfliknya mulai muncul nih~ semoga chap 3 ini tidak mengecewakan 😀

Comment ya readers..

Oh, ya follow twitter author donk @AllRiseSapphlre (sapphire-nya pake L kecil buka i Besar)

Mention for follback 😀 gomawo all~

Iklan

33 pemikiran pada “What is Love (Chapter 3)

  1. kereen ceritanya xD
    ringtonenya Hyerin mirip kaya Jihyun di 49 hari xD
    terus pas dia bilang makanannya enak ke tao mirip kaya si Mi ho di MGFiG xD cute ~~

    tapi bukannya anyeonghaseyo itu untuk menyapa pas baru datang yak?
    bukannya kalo pamit itu “anyeong gaseyo / annyeong gyeseo” ?
    CMIIW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s