Age=Number

Author : Mrs.Byun
Genre : Romance
Rating : Teen
Length : One Shoot
Main Cast :
-Oh Sehun

-Tiffany Hwang

-Byun Baekhyun

Other Cast:

-Byun Jaehyun (OC)

This is my first FF. Please no bash and give me a lot of love 😀

you’re my M.V.P., no one else has got what I need
when it’s just us two, I get shy but then you keep it so cool
the way you’re always watching out for me
and although I wanna believe
tell me I’m not just imagining

Noona, you’re so beautiful…

-Oh Sehun-

Sehun POV

TIIIN!! TIIIN!!

“Ya! Sehun ah~, apa tidak bisa kau pulang saja agar temanmu itu tidak datang lagi kemari?!” Celoteh Tiffany, kakak…, em.., maksudku ya, dia. Dia bukan kakakku. Dia hanya anak dari paman yang menikah dengan ibuku. “Kenapa kau harus berteman dengan orang sepertinya? Seharusnya kau pandai memilih teman!”

Ya, dia benar. Sepertinya salah besar memilih Baekhyun sebagai temanku. Dia selalu mengganggu pagiku yang seharusnya indah.

TIIN!! TIIIN!!!

“Besok kau kembali saja ke rumahmu! Itu lebih baik!” Teriak Tiffany sembari menutup telinganya.

“Aku akan pulang kalau appamu dan ummaku sudah kembali.” Kataku yang masih santai memakai sepatu. “Noona tidak mungkin kutinggal sendirian di rumah.”

“Ya~ Aku ini sudah 20 tahun, bukan bocah 17 tahun lagi. Lagipula bukankah kau tidak suka tinggal di sini? Kau tidak suka kan, tinggal di rumah appa angkatmu?”

“Kenapa harus menyebutkan umur 17?”

Moodku langsung berubah menjadi buruk. 17 tahun. Apakah pantas disebut bocah? Kuharap dia mempertimbangkan kembali perkataannya. Mataku sudah malas melihatnya. Aku pun berdiri dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.

“Oh Sehun?? Aku boleh masuk??” Ujar seseorang di luar sana. Ya, siapa lagi kalau bukan Baekhyun yang katanya adalah sahabatku. Dia membuka pintu rumah dan kepalanya muncul ke dalam. Telah dipastikan yang ia lihat pertama kali adalah Tiffany. “Noona, annyeong!” Sapanya cutely. Kulihat Tiffany hanya meringis malas.

“Aku belum mempersilahkanmu masuk.” Kataku.

“Kau sangat lama. Setidaknya keluarlah dan suruh aku untuk menunggu.”

“Mengesalkan, ya?”

“Kau sangat menyebalkan.”

“Kalau begitu tidak usah datang kemari lagi. Karenamu, motorku jadi tidak pernah dipakai.”

“Tapi kau tidak perlu mengeluarkan uang bensin, kan? Lagipula aku hanya ingin menemui noonamu.”

Kulihat Tiffany hanya geleng-geleng kepala di balik lemari es. Byun Baekhyun. Dia tidak punya rasa malu atau apa?

Noona, aku pergi.” Kataku yang langsung menyeleweng keluar rumah.

***

                “Pulang sekolah aku akan main ke rumahmu.” Ujar Baekhyun menepuk bahuku sembari berjalan menuju kantin.

“Tidak perlu lapor padaku. Semenjak aku tinggal di rumahnya, kau selalu main ke rumahku yang satu itu.” Kataku tanpa ekspresi.

“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan meminta izinmu lagi. Setiap hari aku akan ke rumahmu.”

Kepalaku langsung menoleh padanya. Mataku menatapnya tajam dan dia hanya meringis innocent. Sungguh, aku tidak pernah meminta seorang sahabat sepertinya.

“Hah, cantik sekali.”

“Siapaaa?? Apa kau jatuh cinta lagi?” Mataku langsung terarah padanya. Baekhyun memandang langit-langit. “Noonamu.”

“Kau sudah mengatakan itu lebih dari 100 kali dalam sehari!”

Aku pun pergi meninggalkannya. Setiap hari hanya pemandangan orang yang sedang jatuh cinta yang kulihat. Menyebalkan. Tapi seandainya Baekhyun menyukai wanita lain, aku akan sangat amat senang.

***

Tiffany POV

Apa-apaan bocah ini. Aku tidak bisa terus menerus melihat dia di rumahku. Ini sangat menggangguku. Dan Sehun. Seandainya dia tidak tinggal di rumahku, pasti bocah tengil ini tidak akan datang ke rumahku setiap hari.

Noona, kenapa kau melamun terus?” Tanya Baekhyun tiba-tiba. Aku yang sedang berbaring di sofa langsung membalikkan badan.

“Tentu saja memikirkan pria.” Kataku asal.

Omo! Noona, kau sedang menyukai seseorang?!” Tanya Baekhyun excited.

“Men…,”

“Dia sudah tidak ada.” Ucap Sehun yang memotong perkataanku. Sehun? Dia berhasil membuat Baekhyun diam dan…, dia berani mengatakan itu di depanku?

Ya. Baguslah dia sudah tiada. Aku tidak perlu memikirkannya lagi. Sehun tahu kalau setelah orang itu tiada, tidak ada lagi pria yang kupikirkan.

“Sehun ah~!” Aku membalikkan badanku menjadi telungkup dan menarik rambut Sehun. “Kenapa kau harus berumur 17 tahun? Cepatlah tua.” Kataku iseng.

“Ha, noona, kenapa kau bicara seperti itu?” Tanya Baekhyun kikuk. “Kau tidak mungkin menyukainya, kan?”

“Bodoh. Tentu saja tidak karena dia berumur 17 tahun.”

Baekhyun bodoh sekali ternyata. Sehun itu adikku. Mana mungkin -,- Semoga kata-kataku tadi bisa membuatnya berpikir. Aku tidak akan pernah menyukai bocah 17 tahun seperti dirinya.

“Kurasa umur itu hanyalah angka.” Ujar Sehun tiba-tiba. Dia berdiri dan membuang majalahnya ke lantai. Lalu, dia pergi ke kamarnya.

Ada apa dengannya? Dia memihak pada Baekhyun, sahabatnya? Menyebalkan. Apa tidak bisa ia mengerti kalau aku tidak menyukai sahabatnya itu?

***

Baekhyun POV

Do things for you, feel distressed for you, wait for you, I will never leave
I just want to give you my whole life’s love

-Byun Baekhyun-

                “Noona, tunggu aku!” Kataku yang berlari kecil menyusulnya. Dia berjalan sangat cepat. Saat aku semakin dekat dengannya, langkahnya semakin besar. Apa salahku? Aku tidak pernah meminta untuk lahir pada tahun yang berbeda dengannya. Aku tidak pernah meminta untuk lebih muda darinya. Aku pun tidak pernah meminta tuhan untuk membuatku menyukainya. Ini terjadi begitu saja dan aku tidak bisa menahannya.

“Aku hanya pergi ke mini market untuk membeli cemilan. Apa kau harus mengikutiku?? Tunggulah di rumah!” Ketus Tiffany.

“Sehun tidak mau menemaniku.”

“Kalau begitu pulanglah!”

Noona….”

Aku menarik tangannya dan akhirnya dia berhenti berjalan. Aku tidak bisa terus begini. Selama ini, dia tidak pernah menolakku secara langsung dan jelas. Yang dia lakukan hanyalah memarahiku.

“Kau mau apa lagi? Aku lelah diikutimu setiap saat!”

“Aku menyukaimu.”

“Kau sudah mengatakan kalimat itu berapa kali?! Bahkan sampai aku pun tak ingat!”

“Tapi kau tidak pernah mengatakan kalau kau tidak menyukaiku!”

*Sigh. Kulihat ia menghela nafasnya panjang. Aku tau ia lelah dengan semua sikapku, tapi aku pun perlu jawaban yang jelas.

“Kemari.” Tiba-tiba saja Tiffany menarik tanganku dan berhenti di depan sebuah toko wedding dress. Yang kulihat adalah bayanganku dengannya yang terlihat di kaca yang sangat bersih. “Kau lihat dirimu di kaca? Lihat baik-baik.”

Ya. Aku sudah melihatnya baik-baik.

“Lihat, apakah kau pantas berdiri di sampingku?! Lihat!” Dia memukul lenganku. Aku hanya bisa diam. “Apa kau tidak sadar kalau fisikmu itu seperti bocah 13 tahun? Badanmu tidak cukup besar untuk menjadi pendampingku. Kau tidak pantas. Setampan apapun dirimu, aku tidak akan pernah tertarik. Mengerti?”

“Yaaaa, tinggal katakan kalau kau tidak menyukaiku.” Kataku sambil membuang muka.

“Aku. Tidak menyukaimu.”

“Aaah, tidak. Katakan kalau kau tidak mencintaiku.”

“Kau hanya membuang waktuku saja.”

Tiffany pergi. Dia pergi meninggalkanku dan akhirnya, dia mengatakan kalau dia tidak menyukaiku.

***

Sehun POV

Kudengar di luar tidak ada suara apapun. Apa Tiffany sudah tidur? Baekhyun sudah pulang? Semoga saja. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamar. Ruang tamu masih acak-acakan. Itu artinya Baekhyun belum pulang. Dia pasti membereskan rumahku sebelum ia pulang. Dan tasnya masih tergeletak di lantai. Aku pun memunguti majalah-majalah yang berserakan di lantai.

Cklek!

Kulihat ada yang masuk. Baekhyun. Dari mana saja dia? Tidak seperti biasanya, kali ini wajahnya tampang murung. Dia berjongkok dan ikut memunguti barang-barang yang berserakan. Aku tidak akan bertanya padanya kalau kelihatannya keadaannya sedang buruk.

“Ya~” Baekhyun bicara duluan.

“Huh?”

“Aku iri padamu. Beruntung sekali kau bisa menjadi adiknya.” Ucap Baekhyun tiba-tiba. Apanya yang beruntung? Aku sangat membenci kenyataan yang mengatakan kalau Tiffany adalah kakakku sekarang. Karena pernikahan itu, sekarang aku menjadi terlihat sangat bodoh. Apa yang akan orang bilang kalau aku menyukai kakakku sendiri? Walaupun dia bukan kakak kandungku.

“Kalau dia kakakmu, kau tidak akan bisa menyukainya.” Kataku.

“Bagus, kan?”

“Mana bisa kau tidak menyukainya. Kau itu seperti sudah kegilaan kakakku.”

“Seandainya kenyataannya dia kakakku, aku pasti akan melupakannya. Walaupun sulit, setidaknya aku akan berusaha keras. Aku pasti bisa berhenti menyukainya karena status. Aku pun pasti berpikir kalau menyukai kakak sendiri itu tidak lazim.”

Perkataan Baekhyun seolah menceramahiku. Tapi…, benar katanya. Aku tidak pernah berusaha untuk melupakannya. Itu kesalahan terbesarku. Dan betapa jahatnya aku memperlakukan orang disebelahku ini. Dia selalu membantuku apapun masalahnya. Hanya karena dia menyukai orang yang kusukai, aku tidak mau menganggapnya sahabatku.

“Mau kubelikan coffee? Ah, kau pasti lebih memilih susu strawberry.” Kataku mencoba berbaik hati.

“Aku akan segera pulang.”

“Tidak usah terburu-buru. Makan malam disini saja. Tunggu sebentar!”

***

Baekhyun POV

 

Aku tidak pernah mengerti dengan sahabatku ini. Pertama mengenalnya, dia sangat ramah. Lama kelamaan, dia seperti malas berteman denganku. Dan tiba-tiba, dia bersikap manis lagi. Apa dia sedang iba padaku? Sebegitu menyedihkankah diriku sekarang?

Aku kembali membereskan majalah-majalah yang berserakan dan menaruhnya di kolong meja. Kulihat ada sebuah bola beklen di kolong meja. Aku pun mengambilnya. Takut bolanya menggelinding lagi, kuputuskan untuk menaruh bola itu ke dalam laci. Aku pun membuka laci meja. Di dalamnya kotor. Banyak benda-benda tidak berguna. Penggaris patah, spidol tak berisi, beberapa lembar kertas dan figura kecil. Aku pun mengambil benda yang satu-satunya menarik itu.

Sesuatu yang ganjil baru saja kulihat. Jaehyun hyung? Tiffany?

Cklek!

Perhatianku langsung teralih pada pintu yang terbuka.

“Kau? Kau masih ada di sini?” Ujar Tiffany kesal. Apa aku harus menanyakan tentang fotonya bersama kakakku yang sudah tiada itu?

Tiffany berjalan mendekatiku dan dia langsung merebut figura yang kupegang.

“Kau mengambil benda ini tanpa izinku?!”

“Tiffany… Tiffany Hwang. Hwang Miyoung…, itu kau?” Tanyaku tak menyangka.

“Apa yang kau tau?!” Tanyanya ketus.

Hwang Miyoung, wanita yang selalu diceritakan oleh almarhum kakakku, Jaehyun. Bukan cerita seperti cerita orang yang sedang jatuh cinta, tapi hanya keluhannya terhadap kelakuan Hwang Miyoung.

Sering sekali ia menghubungiku, ketika aku masih tinggal di Kanada. Ia menelponku hanya untuk menceritakan keluh kesahnya terhadap wanita ini. Dia bilang, dia salah besar sudah menjadikan gadis 17 tahun sebagai pacarnya. Dia bilang, Hwang Miyoung adalah gadis kekanak-kanakan yang pernah ada. Dan…., banyak sekali yang ia keluhkan.

Tiffany POV

Bagaimana ini? Akhirnya Baekhyun mengetahui kalau aku ini adalah mantan kakaknya. Babo! Seharusnya aku tidak perlu merasa takut atau tidak enak. Aku sudah melakukan hal yang benar! Jaehyuk, kau sangat menyayangi adikmu bukan? Apakah kau akan sedih kalau adik kesayanganmu itu kusakiti? Semua ini salahmu. Ini karma darimu. Kau menyakitiku, maka orang yang kau sayangi akan tersakiti.

Flashback~

“2 tahun lagi Baekhyun kembali ke Korea.” Ujar Jaehyun sambil tersenyum menerawang langit.

“Oppa, kau selalu menghitung perhari kapan adikmu kembali ke Korea. Kau sangat menyayangi adikmu?” Tanyaku.

“Pertanyaan aneh. Tentu saja. Kau tidak perlu menanyakan itu.”

“Apa sayangmu kepadaku sama dengan sayangmu pada Baekhyun?”

“Ha, tentu saja aku lebih menyayanginya. Kau tidak ada apa-apanya dibanding Baekhyun.”

Aku hanya bisa tersenyum seperti orang bodoh. Maksud dari perkataannya…, bukan berarti dia tidak menyayangiku, kan?

“Kemarilah.” Oppa menarik tanganku dan kami berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Kulihat sebuah boneka di balik kaca dengan perhiasan cantik yang melekat di beberapa bagian tubuhnya. Aku sempat berpikir kalau dia akan menawariku benda indah itu.

“Kau lihat bayangan dirimu?” Tanyanya.

“Hmm.” Aku hanya mengangguk.

“Lihatlah baik-baik. Rasanya kau tidak pantas untukku.” Mataku langsung tertuju padanya. Rasanya sangat sakit mendengar perkataannya itu. “Kau tau? Aku merasa bodoh menjadikanmu kekasihku. Aku sangat malu. Semua orang mengolok-olokkanku memacari bocah.”

“Oppa…,”

Aku sangat ingin menangis. Aku tidak bisa menahan lagi bendungan air mataku. Apa harus dia mengatakan hal menyakitkan itu padaku?

“Kau tau maksudku, kan? Pergilah mencari pria lain yang seumuran denganmu. Aku tidak bisa lagi.”

Dan Oppa melepaskan tanganku. Dia pergi.

-Flashback end-

Karena ingatan menyakitkan itu, mataku kembali berair. Tapi aku tidak mau menangis sekarang. Aku yakin tidak akan menjadi lemah. Aku sudah berjanji untuk tidak menyukai Baekhyun karena dia adiknya Jaehyun. Tapi kenapa sering kali terdengar bisikan penyesalan mengenai Baekhyun yang adiknya Jaehyun? Kenapa harus Baekhyun yang menjadi adiknya? Dan kenapa adiknya itu harus menyukaiku?!

“Kau membenciku karena kakakku menyakitimu?” Tanya Baekhyun. Aku tidak bisa menjawab. “Kau menolakku bukan karena aku adalah adik Jaehyun, kan?!”

“Apa maksud pertanyaanmu?! Ini tidak ada hubungannya dengan pria itu!”

“Kau yakin?” Baekhyun mendekatiku. Sekarang dia berdiri tepat di depanku. Aku hanya bisa membuang muka. “Aku menyukaimu. Apa harus aku menerima semua ini hanya karena kakakku? Apa harus aku mendengar amarahmu setiap hari? Aku bukanlah dia.”

Kepalaku tertunduk. Aku tidak berani menatap Baekhyun. Aku takut. Aku takut jika melihatnya. Air mataku mengalir dengan sendirinya. Aku berusaha membungkam mulutku dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Aku tidak mau Baekhyun melihatku seperti ini.

Sehun POV

Aku tidak sengaja melihat pemandangan ini. Ada apa dengan mereka? Aku pun berusaha tidak mengeluarkan suara dan mencoba untuk membuka telinga lebar-lebar. Kurasa mereka tidak sadar kalau aku sudah datang dan mengintip mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka.

“Apa kau bisa mengatakan kalau katau tidak mencintaiku?” Tanya Baekhyun. Tiffany diam saja. Noona, apa ternyata kau menyukainya? “Mengatakan kalimat singkat seperti itu sangat mudah, bukan?”

“…..”

Noona….,”

Baekhyun mengangkat wajah Tiffany dengan kedua tangannya. Baiklah, sangat ini suasana hatiku sangat panas. Tapi…, aku mencoba menghilangkan perasaan sukaku pada Tiffany. Baek, kumohon, jangan lakukan itu sekarang.

“Maafkan kakakku.”

Kulihat Tiffany menangis dan Baekhyun menghapus air matanya. Sejujurnya aku tidak mengerti apa yang dikatakan Baekhyun itu.

“Maafkan kakakku dan kumohon, katakan kalau kau memang tidak mencintaiku.”

Tiffany menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyukai Baekhyun?

“Kakakmu benar. Aku sangat kekanak-kanakan. Yang kulakukan hanyalah menangis.” Ucap Tiffany sambil menghapus air matanya yang terus saja mengalir. “Ini terakhir kalinya aku  seperti ini. Aku tidak mau seperti anak kecil yang membohongi perasaannya sendiri. Maafkan aku. Aku tidak bisa mengatakannya.”

Baekhyun tersenyum dan Tiffany kembali menunduk. Dan ini pertama kalinya aku melihat pemandangan seperti ini. Baekhyun mendorong Tiffany ke pelukannya dan Tiffany menangis di sana. Dia menyukai sahabatku.

***

5 tahun kemudian…

Tiffany POV

Wake up!!!”

Suara bising di pagi hari. Sangat mengganggu pendengaranku, tapi aku menyukainya. Sinar matahari yang menyorot mataku pun sangat mengganggu, tapi aku mencoba tetap menutup mataku.

“Sehun sudah pergi hiking dan kau harus bangun untuk membereskan rumah, noona. Lusa orangtuamu kembali pulang dan sepertinya wallpaper dinding ini harus diganti. Ayolah bangun, aku disini untuk membantumu membereskan rumah.”

Seperti biasa…., dia selalu banyak bicara. Bocah tengil.

“Banguuuun!!!” Baekhyun memukulku pelan.

“Tidak mau!!!” Segera kutarik bantal dan kututup wajahku dengan bantal.

“Aish…, kau tidak boleh menutupi wajahmu!” Baekhyun mencoba menarik bantalku, tapi aku menahan bantal itu sekuat tenaga. “Ayolah, jangan begitu!” Baekhyun berhenti menarik bantalku dan dia menelungkupkan tubuhnya di atas kasur. Dia tepat berada di depanku yang menghadap ke samping. Akhirnya aku pun membuka sedikit celah pada bantal yang menutupi wajahku.

“Memangnya kenapa? Kau mau apa, huh?”

Kiss you…

“…..”

“ ♥~ “

When you hold my hand, the whole world envies
When you kiss me, I finally realize this feeling will never change
My babe~

I can’t not think of you, whether this is love

-Tiffany Hwang-

-END-

40 pemikiran pada “Age=Number

  1. Uwaaaahhhhhhh bagus kok memuaskan*?* tapi disini saya mempertanyakan nasib si sehun, gimana? #plak apa si sehun masi mencintai noona-nya? gimana dong?

  2. aaahhhh…,
    suka suka,
    poko’ny aku suka ff ini,
    hehe,
    tapi aku sebel sama Jaehyun,
    kalo dia emng ngga suka sma Tiffany, ngga harus gtu jga kali ngomongnya!!??
    /mian, esmosi,
    btw Sehun jga suka sama Tiffany????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s