She is Not You (Chapter 1)

Title: She is not you Part 1 [Sequel of Life Without You]

Author: Laras (@Laras_MoonHee)

Length: Chapter

Genre: Romance, angst

Cast:

–          Kim Jongin

–          Kwon Nari

–          Choi/Kim Raein

Other Cast:

–          Byun Baekhyun

–          Super Junior member

–          Other

Note: saya kembali dengan sequelnya hohoho.. aku akan buat ini dalam 2 part #maruk. Mian kalau disini ada kesalahan dan kurang jelas. Maklumi saja saya penulis amatir. Untuk itu aku minta Commentnya ya buat nambah semangatku untuk buat Fanfiction. Aku mau kenalin diri lagi, Laras imnida, aku 94line. Silahkan panggil aku Eonnie, dongsaeng, chingu ya whatever you want lah. Oke Happy reading.. ^_^

Nari POV

“Eomma”

Aku tak tahu apakah yang membuat anak kecil ini memanggilku Eomma, aku bukan Eommanya bukannya aku tak mau mengakuinya tapi aku memang bukan Eommanya. Kalau aku adalah Eommanya aku akan langsung mengakui kalau dia anakku.

Saat aku melewati taman tadi, anak ini tak berhenti mengikutiku dan memanggilku ‘Eomma’. Apa anak ini tersesat? Sejak tadi aku tak melihat orang tuanya, aku Cuma tahu kalau dia mengikuti sejak 10 menit yang lalu dan taman itu sejauh 15 menit dari tempat ku berdiri sekarang.

Kusejajarkan tubuhku dengan gadis kecil itu dan tersenyum padanya, setelah melihatku tersenyum dia mempertlihatkan senyuman yang membuatnya terlihat seperti malaikat kecil, “Nu gu saeyo?”

“Eomma ini aku Raein, eomma lupa pada Raein?” tanyanya kebingungan.

“Mianhamnida Raein, aku bukan Eommamu. Kau pasti salah orang, siapa nama Eommamu atau Appamu? Ayo kita cari mereka” ajakku sambil menggenggam tangan mungil gadi kecil yang menyebut dirinya dengan nama Raein ini.

“Anniyo, kau adalah Eommaku, Sierra Choi. Eomma adalah istri dari Appaku, Kim Jongin” ucapnya tetap pada pendiriannya tadi, ya aku tahu kalau dimana-mana anak kecil itu cukup keras kepala.

“Raein, aku bukan Eommamu, namaku Kwon Nari dan aku tak punya Nampyeon (suami) apalagi seorang aegi” jelasku pelan agar tak membuatnya merasa tertekan.

Tapi kalau dilihat dengan seksama anak ini memang ada kemiripan denganku. Apa Eommanya mirip denganku sampai-sampai anaknya sendiri tak bisa membedakan yang mana Eommanya dan yang mana yang bukan? Kalau seperti ini rasanya aku seperti punya kembaran yang telah terpisah sejak lama. Hei! Sadarlah Kwon Nari kau adalah anak keluarga Kwon dan itu semua sudah terbukti dan itu semua sudah menjadi takdir juga kenyataan.

Sial, anak ini mulai menangis. aku harus bagaimana sekarang? Aku paling tak bisa berhadapan dengan anak kecil kalau sudah menangis, “Eomma hiks, eomma lupa dengan Raein..hiks..”

“Anni, aku memang bukan Eommamu” sergahku dan aku malah semakin panik dengan aku yang panik seperti ini, aku yakin suaraku akan terdengar seperti sebuah bentakan untuknya.

“Huwaaaa Eomma lupa dengan Raein…” tepat, anak ini sekarang menangis dan itu sangat kencang hingga membuat kami menjadi pusat perhatian, rasanya aku seperti seorang ibu tiri yang sedang menyiksa anaknya.

“Aigo~ tenanglah.. Raein tenang…” bisikku padanya agar suaraku tak terdengar orang lain dan kejadian ini benar-benar memalukan.

“Kim Raein!!!” kudengar teriakan seorang namja yang tengah berlari ke arah kami, namja yang bisa dibilang cukup mencurigakan dengan pakaiannya yang seperti seorang penguntit. Namja itu memakai hoodie ditutupi coat, ia memakai topi dan masker yang menutupi setengah wajahnya. Cara berpakaiannya itu membuatku mempunyai pikiran negatif tentang dirinya. “Raein” dia akan mengambil Raein dariku tapi aku menarik Raein menjauhi namja itu, jujur saja aku belum percaya pada namja ini.

“Nuguya? Kau siapanya?” tanyaku menggeledah tapi aku dapat melihat dari matanya kalau dia menatapku dengan keterkejutannya, apa orang ini berpikiran sama dengan Raein kalau aku ini adalah seseorang bernama.. siapa tadi? Ah pokoknya seseorang yang disebut Raein sebagai Eommanya.

“Si-si-sierra” panggil orang itu pelan dan aku menggeleng, tepat dugaanku orang ini akan memanggilku seperti itu.

“Baekhyun shamchon” Raein langsung berlari memeluk namja itu, namja itu langsung memukul-mukul pelan bokong Raein.

“Pabo aniya? kau seharusnya bersama shamchon! Kau tahu? Shamchon ketakutan karena kehilangan kamu!!” bentaknya kasar sekarang dia melepaskan pelukannya dan mencengkram pundak Raein lalu menatapnya dengan penuh rasa kemarahan, “Jangan ulangi lagi, Arrasseo!!” ujarnya kasar.

“Ya! Kau tak boleh kasar dengan anak kecil, kau tahu dia gemetaran, lihat dia ketakutan begitu” unjukku pada Raein yang tangisannya semakin mengencang dan gemetar ketakutan.

“Raein.. maafkan shamchon” peluknya lagi pada Raein tapi sekarang lebih melembut dengan bonus elusan sayang di kepala Raein.

“Shamchon jahat, Raein mau bersama Eomma” jerit tangis Raein menunjuk-nunjuk ke arahku yang tepat berdiri di belakang Raein.

Namja itu menggeleng pelan lalu menatap lembut Raein, ia menyibakan rambut cokelat sebahu Raein memintanya untuk menatapnya. Kalian tahu tatapannya itu meski bukan untukku sukses membuatku terpesona, aku suka tatapan hangatnya, “Mianhae Raein dia bukan Eommamu” ucapnya memelas, sepertinya terjadi sesuatu dengan Eommanya itu.

“Dia Eommaku!!” teriak Raein tetap pada pendiriannya, karena tak tahan namja itu menggendongnya meski Raein menolak dan meronta. Tangan Raein menjulur ke arahku memintaku untuk mendekatinya dan menggendongnya, “Eomma!! Eomma, Huwaa.. EOMMA!!” jeritannya semakin menjadi aku mundur satu langkah, namja itu menatapku dan menggerakan kepalanya mengisyaratkanku untuk pergi dari sana.

“Mianhae” ucapku pelan sebelum pergi.

Kalau dilihat kasihan sekali Raein dia pasti merindukan sosok seorang Eomma di hidupnya sampai-sampai ia memanggilku dengan Eommanya. Tega sekali Eommanya meninggalkan anak sekecil itu, Eomma macam apa yang tega meninggalkan anak yang masih kecil dan masih perlu didampingi. Eomma yang sangat jahat.

Jongin POV

“Hyung” panggilku pada Baekhyun hyung yang tengah menggendong Raein, dan kulihat Raein matanya sembap, ia juga menangis sesegukan. Kuambil alih Raein ke dalam gendonganku, kuhapus air matanya dengan tanganku sepelan mungkin, “Raein hilang bagaimana bisa? Dan sekarang dia menangis? apa yang kau lakukan hyung??” sergahku mulai naik darah karena ulah hyungku satu ini yang mengajak jalan Raein ke taman tadi dan tiba-tiba saja dia meneleponku memberitahu kalau Raein hilang.

Anehnya, Baekhyun hyung tak langsung menjawab. Ia diam tak bicara sedikitpun dan tatapannya kosong, ada apa dengannya?

“HYUNG!!” lantangku memanggilnya dan ia terlonjak dengan panggilanku lalu menatapku.

“Jongin-ah, a-aku, a-a-aku..”

“Aku? Aku apa hyung?” tanyaku menggeledah.

“Aku melihat Sierra.. dia hidup..” ucapnya seperti orang yang baru saja melihat setan.

Sierra? Dia melihat Sierra? Tak mungkin, dia sudah meninggal. Di dunia ini tak mungkin orang mati itu bangkit kembali. Kalaupun itu bisa, aku juga tak mungkin bisa langsung mempercayainya. Pasti hyungku ini berhalusinasi.

“Appa.. aku lihat Eomma tadi” sekarang Raein yang mengatakannya, rasanya tak mungkin dua orang berhalusinasi hal yang sama dan di waktu yang bersamaan. Apa mereka berdua gila karena kehilangan Sierra? Aku yang sangat mencintainya saja tak sampai jadi gila dan berhalusinasi seperti ini.

“Kalian jangan bercanda, Sierra sudah meninggal 1 tahun yang lalu” ucapku penuh penekanan, aku paling tak suka jika sudah membahas soal Sierra yang sudah tenang di alam sana. Kalau seperti ini rasanya mereka mau mengusik ketenangannya disana.

“Tidak aku benar-benar..”

“Hyung cukup!! aku tak suka kalau sudah membahas Sierra, ingat hyung Sierra sudah tenang disana!” potongku dengan nada yang naik satu oktaf, aku tahu ini tak sopan karena dia adalah hyungku tapi ini sudah keterlaluan.

“Appa jahat!! Eomma masih hidup!! Tadi aku lihat Eomma!!! Raein mau Eomma!!!” sekarang Raein menjerit dan tangisannya juga semakin menjadi, aku tahu ia masih belum bisa menerima kalau Sierra orang yang melahirkan anak kami ini meninggal.

“Iya, iya tenanglah Kim Raein, tenang..” kataku melembut mengelus rambut cokelatnya dan dia mulai sedikit menenang meski masih ada sedikit penolakan darinya.

“Raein mau Eomma” bisiknya di telingaku dengan begitu lirih. Aku tahu Raein, kau pasti merindukannya, kau menyayanginya kan, aku juga. Aku sangat merindukannya, aku ingin kita berkumpul lagi tapi itu tak mungkin, tuhan sudah membawa Eommamu bersamanya, disisinya berada dalam ketenangan dan kebahagiaan.

“Mianhae..”

—–

~1 week later~

“Kamu disini dulu ya Raein, bersama Super Junior Shamchon” ujarku pelan sembari menurunkannya dari gendonganku dan duduk di sofa tepatnya di samping Eunhyuk hyung dan Kyuhyun hyung, “Appa harus kerja dulu, Appa takkan lama”

“Nae appa” angguknya pelan dengan senyuman merekah di bibirnya, tangannya juga tak hentinya memeluk boneka teddy bear berwarna cokelat seukuran dengan setengah tubuhnya yang sekarang ada di pangkuannya.

“Hyung aku titip Raein sebentar, aku ada wawancara lalu harus manggung. Tak lama sepertinya” bisikku pada Leeteuk hyung.

“Nae, gwaenchanna dia juga sudah terbiasa dengan kami. Percayakan pada kami, ternyata 13 orang disini ada gunanya juga kan hahaha..” katanya disambung dengan gelak tawa yang begitu memuaskannya.

“Kalau satu anak tak masalah tapi kalau  lebih dari 3 atau 5, aku angkat tangan” pasrah Kyuhyun hyung yang sempat mempause game di laptopnya itu.

“Itu karena kau tak terbiasa dengan anak kecil, kau tahu Kyuhyun-ah mengurus anak kecil itu menyenangkan” bangga Leeteuk hyung yang kutahu dia pernah mengurus anak di salah satu variety show.

“dan merepotkan” sambung Kyuhyun hyung yang mendengus kesal dan kembali berkutat pada laptopnya itu.

“Kata siapa?” tanya Leeteuk hyung namun di acuhkan oleh Kyuhyun hyung, “ Tenanglah Jongin kau kerja saja” ujar Leeteuk hyung menepuk pelan kedua pundakku.

Aku mengangguk pelan lalu membungkuk pada mereka semua yang ada disini, “Kamsahamnida, sunbaenim” ucapku lantang sebelum pergi dari sana untuk kembali menyibukan diriku dengan tuntutan pekerjaanku sebagai seorang idol.

—–

Aku sedang duduk di sofa waitting room sendirian menunggu seseorang yang akan mewawancaraiku sebentar lagi. Member yang lain juga sedang diwawancara dengan orang yang berbeda dan tempat yang berbeda, merepotkan. Sepi, coba saja ada Raein mungkin aku takkan kesepian setidaknya aku masih bisa main dan mengajak ngobrol anakku itu.

CKLEK

Kudengar suara pintu terbuka sepertinya orang mewawancaraiku sudah datang, kuputar balik tubuhku melihat orang itu. yeoja yang memakai coat hijau tua dan jeans juga shall yang mengikat di lehernya.

Tunggu,

Tuhan sungguh aku tak percaya dengan yeoja di depanku ini dan menatapku dengan tatapan yang dulu pernah kurasakan. Apa dia benar-benar nyata?

Aku harus memanggilnya, dia pasti bisa mendengar suaraku kan? Ini bukan halusinasi, tak mungkin. Dia kan..

“Sierra Choi”

To Be Continued

Iklan

33 pemikiran pada “She is Not You (Chapter 1)

  1. yeyy..
    ad sequelnya ternyata…
    aigoo saeng aq sk bgt sma ff ini.. daebak..^^
    itu sierra bnran apa jgn2 kembarannya??
    aish pnasaran…
    kasian raein dtgl sma eommanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s