What is Love (Chapter 4)

Author :  vhanee_elf
Genre : Romance
Rating : Pg 13
Length : Chapter , Series
Main Cast :
– KAI (Kim Jong In)
– Cho Hye Rim (Oc)
– Xi Lu Han
– Huang Zi Tao
– Kim So Mi (Oc)
– And other cast

Warning : Miss Typo

*0*0*0*

 “Tao oppa..” ucap Hye Rim ketika melihat sosok tegap Tao kini sudah berdiri dibelakangnya. Kai menunduk ketika tatapanya dan Tao bertemu.

“oppa, kebetulan sekali~ sedang apa Oppa disini?!” Sambung Hye Rim kegirangan. Ia berdiri dari duduknya begitu juga dengan Kai.

“tadi aku dari Rumah sakit” jawab Tao singkat.

“heung? Siapa yang sakit?!” tanya Hye Rim penasaran.

“Aboji” sahut Tao. Ia menatap tajam kearah Kai dan membuat Kai sedikit bergidik ngeri. Bertambah Satu lagi orang aneh disekitarnya selain Lu Han dan Hye Rim.

“mwo?! Oppa, kenapa tidak memberitahuku kalau ayahmu sakit? Tega sekali..” ucap Hye Rim manja, hal yang lumrah dilakukannya kepada Tao.

“hm.. mianhe~” kata Tao luluh pada sikap Hye Rim. Ia menghentikan aksi tatap menatapnya kepada Kai membuat Kai bernapas lega.

“ck! Kenapa bukan orang tua itu saja yang sakit!”  ucap Hye Rim sambil kembali duduk dibangkunya. Tapi tidak dengan Kai. Dia masih nyaman dengan posisinya yang berdiri.

“Hye Rim –ah~” tegur Tao mencoba mengingatkan. Tentu saja Tao mengerti kalau yang dimaksud Hye Rim tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri.

“araso opaa,  eeumm.. oppa, duduklah~ kenalkan chingu ku~ namanya Kai” akhirnya Hye Rim mengalah, tak ingin memperpanjang masalah. Ia mempersilahkan Tao untuk duduk sekaligus memperkenalkan Kai yang masih setia berdiri bersama Tao.

“ah~ anyeonghaseyo~” sapa Kai ramah sambil membungkuk 90 derajat. Tao tidak menjawab. Hanya balas membungkuk 45 derajat saja.

“mianhe Hye Rim-ah~ aku tidak bisa lama lama” Tao malah berbicara pada Hye Rim.

“waeyo oppa?!” tanya Hye Rim.

“aku ada urusan. Kau tahukan?!” sahut Tao. Hye Rim mengangguk tentu saja dia tahu, urusan kantor. Apa lagi selain itu?! Tao adalah tipe yang sama dengan ayahnya, tipe pekerja ‘terlalu’ keras.

“ah~ ye..” ucap Hye Rim tanda mengerti. Tao kembali membungkuk pada Hye Rim.

“aku pergi..” Ucap Tao singkat dan mulai beranjak dari tempat itu.

“hhm~ anyeonghaseyo..” kata Hye Rim tidak bersemangat. Padahal Ia akan senang sekali kalau Tao dapat berkumpul dengannya dan Kai.

“huuft~ Tao oppa aneh sekali hari ini. Biasanya dia akan cerewet sekali” oceh Hye Rim. Kai kembali duduk di kursi dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi. Makan.

*skip*

“gomawo~ berkat Kai sshi, hari ini aku makan enak dan gratis~” ucap Hye Rim berbunga bunga. Kini mereka telah sampai didepan mobil Hye Rim. Kai mengangguk.

“lain kali bisa bertemu lagi kan?!” tanya Hye Rim lagi. Dan Kai tetap menanggapinya dengan mengangguk.

“eeum~ bersama Lu Han?!” tanya Hye Rim lagi. Kai mengangguk –lagi-.

“eeum! Joha~ aku harap kita bisa jadi teman dekat~ aah…” kata Hye Rim berangan-angan. Memang, sejauh ini, Hye Rim tidak mempunyai teman dekat atau sahabat. Dia hidup dilingkungan orang terpandang. Teman teman sekolahnya dulu juga sepertinya. Tidak mementingkan persahabatan. Toh kalau mereka butuh teman, mereka bisa membayar siapapun yang mau menjadi teman mereka sementara waktu. Tapi untuk sahabat? Sepertinya tidak.

“ah! Kalau begitu aku pulang yah. Salam buat Lu Han.” Ucap Hye Rim sambil melambai. Kai masih setia dengan anggukan kepalanya.

Salah satu pengawal Hye Rim membukakan pintu untuknya dan Hye Rim segera masuk kedalam mobilnya. Kai sempat melambai sedikit ketika mobil Hye Rim perlahan berlalu.

Kini kai melangkahkan kakinya menuju Rumah sakit yang hanya bersebrangan dengan Kafe tadi. Tak ada senyum di wajahnya –seperti biasa. Tentu saja~ satu satunya orang yang bisa membuatnya tersenyum cerah kini sedang sakit dan belum sadar dari koma nya. Tak hanya itu, pikirannya kini juga menuju pada Hye Rim. Yah~ dia memikirkan bagaimana bisa mengganti uang Hye Rim yang begitu banyak di pinjamnya? Bekerja 10 tahun pun belum tentu dia dapat membayar hutang itu. Karna Ia hanya punya ijazah SMA.

Kai berhenti sebentar didepan pintu ruang tempat Hye Rim dirawat dan sedikit mengintip melalui kaca kecil di pintu. Ditangannya kini sudah menggantung sekotak makanan untuk makan malam Lu Han. Ia sempat membelinya tadi ketika masih diluar. Belum sempat Kai membuka kenop pintu, seseorang telah membuka pintu itu dari dalam. Orang itu bukan Lu Han, dia adalah dokter. Mungkin saja sedang memeriksa perkembangan So Mi, pikir Kai.

“kau datang tepat waktu Tuan Kim, pasien sudah sadar~” ucap sang dokter penuh bijaksana. Senyuman khas dokter terus terpampang diwajahnya. Sementara Kai memasang tampang tolol. Sudah sadar? So Mi sudah sadar?! Benarkah secepat itu? Ini bahkan baru sehari setelah operasi So Mi dijalankan, mengapa So Mi sadar secepat itu? Apa aku salah kamar?! Pikiran Kai terus berperang tak penting. Dia melihat kembali nomor kamar didepan pintu. Tidak salah. Ini memang kamar So Mi.

“tidak ingin masuk dan meihat pasien?!” tegur Dokter membuyarkan lamunan Kai. Kai masih bingung, atau kehabisan kata kata mungkin?

Kai mengangguk dan disambut senyuman hangat oleh sang dokter. Ketika dokter beranjak pergi,Kai segera masuk kedalam ruangan. Disana terlihat So Mi yang masih terbaring lemah namun kini dalam keadaan yang berbeda. ya, matanya terbuka dan sedang menatapnya saat ini.

“oppa..” ucap So Mi lemah. Kai tersenyum, begitu pula dengan Lu Han.

“ya, apa yang kau laukan disitu?!” tegur Kai yang sudah bosan melihat Lu Han terus berdiri di ambang pintu. Kai segera berjalan menuju arah So Mi. meski belum mampu, So Mi memaksakan sebuah senyuman dibibirnya.

“oppa, kenapa orang yang pertama aku lihat setelah sadar adalah dia?!” ucap So Mi manja. Meski wajahnya tak seceria perkataannya, tapi Kai tetap tersenyum. Setidaknya itu memnandakan bahwa So Mi nya telah kembali.

“mianheyo~” hanya itu yang terucap dari mulut Kai. Ia masih terlalu bahagia untuk berkata kata. Sementara Lu Han mencibir kecil mendengar ucapan So Mi tadi.

*other side*

“ajusshi, aku mau ke toko Handphone” ucap Hye Rim singkat sambil menerawang keluar jendela mobilnya. Perlahan senyumnya kembali mengembang ketika mengingat beberapa saat lalu dia dan Kai berkencan. Kencan? Sepertinya terlalu berlebihan, sebut saja itu bertemu atau sekedar makan bersama. Pikir Hye Rim. Tapi tetap saja, rasanya seperti berkencan.

Tak butuh waktu lama, supir Hye Rim berhasil mengantarnya ke sebuah toko handphone. Hye Rim segera turun dan seperti biasa, kedua pengawalnya mengekornya dari belakang. Didalam toko, Hye Rim melihat lihat sebentar. Kira kira handphone seperti apa yang akan dia berikan untuk Kai?

“anyenghasseyo~” sapa penjaga toko itu ramah. Hye Rim mengangguk diikuti senyuman khas nya.

“eonni, apakah ada Handphone couple?!” tanya Hye Rim semangat. Sang penjaga toko mengangguk kemudian mengeluarkan beberapa kotak handphone yang diletakkannya didalam sebuah laci kaca.

“ini adalah model paling baru, agasshi~” jelas penjaga toko itu sambil menunjuk salah satu dari beberapa kotak handphone couple itu. Hye Rim meraihnya dan melihatnya sebentar.

“kalau agasshi membeli 2 pasang, akan ada diskon” tambah penjaga toko itu. Mata Hye Rim berbinar. Perempuan mana yang tak tertarik dengan diskon?!

“jongmalyo?!” tanya Hye Rim antusias.

“nde, diskon 30% dan bonus nomor ponsel couple” sahut sang penjaga toko. Hye Ri tersenyum dan mengangguk.

“baiklah. Berikan aku 2 pasang..” ucap Hye Rim semangat sambil menunjuk 2 pasang ponsel yang berwarna beda. Dia menandai warna hitam dan putih untuknya dan untuk Kai. Sementara yang berwarna pink dan biru dia belum memikirkan itu untuk siapa.

“araso~” sahut penjaga toko itu kemudian pergi ke meja kasir untuk membungkusnya. Sebelumnya Hye Rim sempat memberinya kartu ATM nya.

5 menit kemudian penjaga toko itu kembali dengan membawa sebuah plastik berserta isinya.

“ini barangnya. Terimakasih telah berkunjung~” ucap pelayan itu ramah sambil membungkuk. Hye Rim balas membungkuk.

“nde, cheonmaneyeo~” sahut Hye Rim tak kalah ramah. Senyum sumringah diwajahnya tak lepas ketika membayangkan kalau Ia akan mempunyai handphone couple bersama Kai.

Didalam mobilnya Hye Rim membuka kotak handphone yang masih tersegel dengan rapi. Dia mengambil handphone yang berwarna putih mengkilat itu. Bagus, pikirnya. Meski tak semahal handphone nya yang sekarang, tapi Ia tetap menyukai modelnya dan warnanya. Karena dia menyukai warna putih, seperti dress yang digunakannya setiap hari. Lalu dia mengambil ponsel yang berwarna hitam. Di tekannya beberapa kali layar ponsel yang belum aktiv kemudian terkekeh kecil. Tak lama lagi Ia akan mempunya ponsel couple dengan Kai. Membayangkannya saja dia sudah kesenangan seperti ini. Bagaimana nanti?!

“eeum~~ mudah mudahan Kai akan suka!” gumamnya pada diri sendiri. Tapi tiba tiba dia ingat Lu Han. Bagaimana pun, namja menyebalkan itu telah mempertemukannya dengan Kai.

“ah~ Lu Han. Aku akan memberikan satu untuk Lu Han” oceh Hye Rim lagi sambil membongkar kotak handphone yang satunya. Dia mengambil ponsel yang berwarna biru tua dan menelitinya sesaat. Tapi kemudian matanya tertuju pada ponsel  pink yang masih tersimpan rapi di tempatnya. Untuk Lu Han warna pink atau biru? Pikir Hye Rim. Tentu saja biru! Diakan namja! Tambahnya lagi.

“aah~ Tao oppa suka warna pink tidak ya??” kata Hye Rim sambil menerawang.

*2 days latter*

“oppa, aboji mu tidak sakit sepertinya. Dia mengomeliku terus karena belum damai dengan appa” curhat Hye Rim di luar ruang perawatan VVIP. Tao tersenyum jahil.

“abojiku benar. Kau harus berdamai dengan appa mu. Kau tidak boleh terus mengacuhkannya” sahut Tao yang membuat Hye Rim makin kesal.

“kalau begitu kita tukaran orang tua saja. Biar oppa tahu rasanya punya appa yang saangaat menyebalkan!” jawab Hye Rim. Tao mengacak rambut Hye Rim dengan lembut.

“aigo~ sepertinya kau belum dewasa. Umur mu saja yang sudah tua” goda Tao membuat Hye Rim mengembungkan pipinya manja.

“aku baru 19 tahun~” sahut Hye Rim manja. Tao menggeleng.

“belum, 2 bulan lagi baru kau berumur 19 tahun~” ucap Tao membuat Hye Rim makin kesal. Dia mengalihkan pendangannya kesana kemari. Mencari obyek menarik untuk meredam amarahnya. Tiba tiba dari arah selatan terlihat seorang namja yang sangat mirip dengan Kai. Awalnya Hye Rim menyangka kalau orang itu hanya sekedar mirip Kai. Tapi tidak. Orang yang kini sudah berbelok kekanan itu benar benar Kai.

“ng?? Kai??” ucap Hye Rim bertanya pada diri sendiri. Otomatis pandangan Tao tertuju kearah pandangan Hye Rim. Tapi ia tak melihat Kai disana.

“oppa, aku kesana dulu ya?” pamit Hye Rim tergesa gesa. Namun Tao dengan sigap menggapai tangannya dan menahan Hye Rim untuk pergi.

“Hye Rim-ah~” cegat Tao.

“oppa, itu Kai. Aku ingin menyusulnya.” Kata Hye Rim sambil melepas paksa genggaman Tao di tangannya. Ketika terlepas Hye Rim segera berlari untuk menyusul Kai.

“Hye Rim tunggu aku” ucap Tao akhirnya. Sedikit ketidak relaan dihatinya ketika Hye Rim berlari mengejar Kai.

“palli” ucap Hye Rim dilorong rumah sakit.

Hye Rim menimbulkan sedikit keributan ketika Ia berlari mengejar Kai. Hampir saja dia putus asa ketika langkahnya yang sudah lelah tak kunjung juga menemukan dimana Kai berada. Sementara Tao dengan setia tetap mengikutinya dari belakang, persis seperti kedua pengawal Hye Rim yang juga ikut berlari tak jauh di belakang Tao.

Mata Hye Rim berbinar ketika mendapati sosok Kai yang sedang berjalan dengan santainya. Meski hanya melihat dari belakang tapi Hye Rim yakin kalau namja itu adalah Kai.

“Kai sshi~” panggil Hye Rim dengan napasnya yang hampir habis itu. Keringat sedikit bercucuran di dahinya, akibat jarang berlari jarak dekat. Kai yang merasa terpanggil menengok kebelakang.

“Cho Hye Rim sshi?” ucap Kai kaget. Tak menyangka kalau dia akan bertemu Hye Rim dirumah sakit.

“mm~” sahut Hye Riim singkat karena masih mengatur napasnya. Kai membungkuk hormat ketika tiba tiba sosok tegap Tao kini berdiri tepat disebelah Hye Rim yang kelelahan. Tao balas membungkuk.

“hmm~ Kai sshi, sedang menjenguk siapa? Apa Lu Han sedang sakit?!” tanya Hye Rim ketika napasnya sudah mulai teratur.

“aniyo~ Lu Han baik baik saja..” jawab Kai jujur.sesungguhnya sekarang mereka berdiri tepat selangkah didepan pintu kamar So Mi.

“benarkah? Lalu siapa yang…” belum sempat Hye Rim menyelesaikan kalimatnya, tiba tiba saja seorang pria kecil sudah membuka pintu dan muncul begitu saja dihadapan Kai.

“Kai-ah~ palli.. eo! Nona Cho~” ucap Lu Han kaget ketika melihat Hye Rim bersama Kai. Padahal awalnya Ia ingin memarahi Kai karena sangat lama datang membawa makanan untu So Mi yang sudah kelaparan.

“anyeonghaseyo Lu Han-ah~” sapa Hye Rim ramah. Dia menggunakan bahasa informal kepada Lu Han membuat Lu Han bingung.

“mwo?” ucap Lu Han heran.

“wae? Aku tidak boleh memanggilmu seperti itu?!” tanya Hye Rim kecil hati. Tao melihat tingkah Hye Rim yang jauh berbeda dari biasanya. Bukan Hye Rim yang dia kenal.

“ah~ tentu saja boleh..” ucap Lu Han membenarkan. Pandangannya tiba tiba menuju kearah Tao, lalu Lu Han kembali menatap Hye Rim seolah bertanya siapa namja yang berdiri disebelahnya.

“ah! Dia oppa ku. Tao oppa” ucap Hye Rim memperkenalkan Tao ketika menyadari ekspresi tatapan Lu Han. Lu Han tersenyum ramah lalu menunduk dalam pada Tao. Oppaku? Dia hanya menganggapku sebagai kakaknya? Pikir Tao sambil menatap Hye Rim tajam.

“anyeonghaseyo~” sapa Lu Han ramah. Tao tak menjawab, hanya balas membungkuk membuat Lu Han langsung mengambil kesimpulan bahwa namja itu mempunyai sifat yang mirip dengan sahabatnya Kai. Dia menatap Kai sesaat, lalu beralih menatap Tao lagi. Eem.. tidak mirip! Kai lebih tampan. Pikir Lu Han.

“kalian sedang menjenguk siapa?!” perkataan Hye Rim membuat Lu Han kembali fokus.

“kami tidak menjenguk, tapi menjaga So Mi” jawab Lu Han jujur.

“So Mi?” tanya Hye Rim lagi.

“nde, Kau mau masuk? Melihatnya?!” sahut Lu Han sambil mengangguk bersemangat. Kesan imut tercipta dari wajahnya.

“apakah dia temanmu?!” tanya Hye Rim lagi, tapi kali ini pertanyaan nya ditujukan kepada Kai. Namun Kai tak menjawab karena dia sibuk melihat Tao yang pandangannya tak lepas dari Hye Rim.

“ng!” gumam Lu Han singkat sambil membuka pintu kamar pasien. Hye Rim menatap Tao seolah meminta persetujuannya. Tao mengangguk pelan dan pasrah karena tatapan Hye Rim selalu dapat meluluhkannya.

“araso~” putus Hye Rim akhirnya. Kai mempersilahkan Hye Rim dan Tao masuk dengan bahasa tubuhnya. Lu Han masuk lebih dulu membuat So Mi yang sedang duduk tenang di atas tempat tidur menengok ke arahnya. Dia sedikit terkejut ketika melihat ada dua orang asing yang ikut masuk kedalam ruangannya.

“oppa, nuguseyo?” tanya So Mi pada Lu Han.

“anyeonghaseyo~ Hye Rim imnida~ ini oppa ku~” sahut Hye Rim dengan senyuman cerianya. Dia berpikir akan sangat bagus kalau dia bisa berteman juga dengan So Mi.

“namanya Tao, Tao oppa” Lanjut Hye Rim ketika melihat Tao yang hanya berdiri diam saja, tapi akhirnya Tao menunduk ketika Hye Rim memperkenalkannya pada So Mi.

“So Mi imnida~” balas So Mi dengan menundukkan kepalanya. Kai yang entah sejak kapan kini sudah berada di sebelah So Mi langsung mengelus tangan So Mi lembut. Hal itu tentu saja membuat Hye Rim merasa panas hatinya.

“oppa, apakah mereka teman temanmu?” tanya So Mi pada Kai. Entahlah, dimata Hye Rim, pertanyaan So Mi seperti menyelidik. Tatapan Kai pun terlihat begitu tulus pada So Mi.

“nde” sahut Kai sambil tersenyum. So Mi ikut tersenyum. Dia sangat senang akirnya oppanya itu mempunyai teman lain selain Lu Han. Sementara Hye Rim berpikir lain. Dia cemburu.

“mereka temanku juga So Mi-ah~” sela Lu Han dengan kekanankan. Kini Ia berdiri disebelah Hye Rim dan Tao yang hanya diam terus sejak pertama kali dia dan Lu Han bertemu.

“ehhem~ aku harus pergi.. bolehkan aku keluar sekarang?!” pamit Tao. Akhirnya namja itu mengeluarkan suara juga. Batin Lu Han yang mengira kalau Tao itu bisu.

“ah.. ye, tentu saja~” sahut Tao baik hati.

“oppa, kau ada urusan kantor?” tanya Hye Rim. Tao mengangguk.

“hmm~ tidak apa apakan kalau kutinggal?!” kata Tao sambil melihat dua pengawal Hye Rim yang berada di luar ruangan melalui kaca kecil di pintu.

“hnn~ chaeresseo..” angguk Hye Rim sambil tersenyum. Setelah Tao pergi, Hye Rim beralih mendekati Lu Han dan berdiri manis disampingnya.

“So Mi-ah~ ini dukbokki nya” ucap Kai sambil memberik kotak bekal yang dibawanya tadi. Senyum So Mi menambah panas di hati Hye Rim.

“woah~ gomawoyo~” ucap So Mi berbunga bunga.

“makanlah pelan pelan~” pesan Kai yang melihat So Mi seperti akan menghabiskannya dalam satu suapan.

“nde, jangan terburu buru, arachi?!” sambung Lu Han bersemangat. Hye Rim merasa seperti tak bertenaga. Kepala menunduk dan ekspresi wajahnya menyedihkan. Dia memegang belakang baju Lu Han bagian bawah dengan pelan.

“kau diamlah~” sahut So Mi pada Lu Han. Tanpa sengaja Ia melihat tingkah Hye Rim yang menurutnya terlihat begitu akrab dengan Lu Han. Tiba tiba saja hening untuk beberapa detik. So Mi yang sudah kelaparan langsung saja melahap makanan didepannya tanpa ampun.

“eeumm.. So Mi-ah~ Nona Cho..” Lu Han kembali buka suara bermaksud ingin mencairkan suasana yang tiba tiba kaku. Tapi Hye Rim keburu menyela nya.

“eem~ aku akan keluar” sela Hye Rim sambil tetap memegang agian belakang baju Lu Han. Hal itu membuat kesan ‘manja’ dari Hye Rim terlihat jelas. Sementara Lu Han santai saja bajunya di pengang begitu, toh dia juga tak akan marah kalau tangannya yang dipegang.

“ah, waeyo Nona Cho?!” tanya Lu Han yang bertanya tanya kenapa Hye Rim mendadak ingin keluar. Mungkin dia bosan?

“keunyang.. bisakah kau menemaniku keluar?!” ucap Hye Rim lemah. Tak sedikitpun Ia menatap Kai. Padahal biasanya matanya akan terus mengawasi Kai. Hanya Lu Han yang kini menatap Kai seolah minta jawaban apa yang harus dia lakukan. Kai diam saja dan balas menatap Lu Han seolah berkata ‘temani dia sebentar saja’ yang akhirnya membuat Lu Han mengangguk.

“hhmm.. araso~” jawab Lu Han pasrah. Akhirnya Hye Rim berjalan keluar diikuti Lu Han. Kai menatap Hye Rim dan bertanya tanya dalam hati, kenapa Hye Rim jadi murung seperti itu?! Apa karena di tinggal oleh temannya yang bernama Tao tadi?! teman? Atau oppa?! Pikir Kai terus berlanjut.

***

“waeyo?! Kenapa mukamu sedih begitu, Nona Cho?!” tanya Lu Han ketika mereka sudah duduk di kursi panjang yang terletak disebelah pintu kamar. Hye Rim hanya menatap lurus kedepan.

“siapa yeoja itu?! Kenapa kalian menjaganya?!” tanya Hye Rim menyimpang dari pertanyaan Lu Han. Lu Han nampak berpikir sebentar. Siapa yeoja itu?! Dia So Mi dan kami menjaganya karena dia sakit. Bukankah dirinya sudah menjelaskan di awal pertemuan mereka tadi?! Batin Lu Han.

“eeum~ Nona Choo, uang yang kau pinjamkan kepada Kai, eeum~ digunakan untuk biaya operasi So Mi” kata Lu Han lebih menyimpang dari perkataan Hye Rim sebelumnya. Hye Rim tersontak menatap Lu Han.

“operasi?!” tanya Hye Rim dengan matanya yang membulat sempurna.

“hm~ kanker Rahim” jawab Lu Han lemah. Dia nampak menerawang kedepan. Apakah masa depannya dengan So Mi akan baik baik saja tanpa Rahim didalam tubuh So Mi??

“jinja?!” tanya Hye Rim.

“jadi~ Kai… meminjam uang itu untuk.. waaah~ Kai orang yang sangat baik..” lanjutnya sambil mengangguk tak jelas. Lu Han terkekeh kecil. Tentu saja sahabatnya itu baik. Kalau tidak, mana mau dia berteman dengan Kai?!

“aku juga orang yang baik~” tambah Lu Han membanggakan dirinya sendiri. Dia memeang berpikir dirinya terlalu baik selama ini. Karena mau menerima apa adanya diri seorang Kai dan So Mi, yeoja yang sangat dicintainya.

Beberapa mennit hening menemani Lu Han dan Hye Rim. Mereka terlalu sibuk larut dalam pikiran mereka masing masing.

“So Mi… Aku rasa dia sangat beruntung~” ucap Hye Rim memecah keheningan. Wajahnya terlihat sangat murung.

“aah~ majayo! Dia sangat beruntung, ada pria tampan dan baik yang selalu mencintai nya.. hehe..” jawab Lu Han membuat Hye Rim berpikir kalau Kai dan So Mi mempunya  hubungan khusus. Padahal yang Lu Han maksud adalah dirinya sendiri.

“jongmal?!” tanya Hye Rim untuk meyakinkan. Lu Han mengangguk sambil tersenyum malu. Kini wajah Hye Rim benar benar suram. Bagaimana tidak? Dia berpikir sepertinya dia akan patah hati untuk yang pertama kalinya.

“Hhhffttt… Kai juga sangat beruntung~” lanjut Hye Rim.

“nde, dia juga sangat beruntung. Yeoja Cantik itu selalu berada di pihaknya~” sahut Lu Han lemah karena memikirkan bagaimana So Mi selalu baik pada Kai sementara pada dirinya tidak. Dan hal itu membuat Hye Rim bertambah yakin kalau Lu Han cemburu akan hubungan So Mi dan Kai.

“nan otthokae??!” ucap Hye Rim frustasi. Dia menghambur rambutnya sehingga kesan ‘sakit jiwa’ kini menempel jelas di wajahnya.

“waeyo?!” tanya Lu Han sambil bergidik heran.

“aniyeo~” jawab Hye Rim lemah. Matanya sudah berkaca kaca menandakan kalau ia ingin menangis.

“Nona Cho~ kau terlihat aneh hari ini” ungkap Lu Han. Hye Rim tak menggubrisnya. Bukankah hal yang wajar kita bersikap aneh kalau sedang patah hati?! Pikir Hye Rim.

“Lu Han-ah~ sudah berapa lama Kai dan So Mi sshi berpacaran?!” tanya Hye Rim lemah.  Lu Han terperanjat dengan pertanyaan Hye Rim barusan.

“mwo? Pacaran?!” suara Lu Han seperti akan meledakkan Rumah sakit.

“bagaimana mungkin mereka berpacaran Nona Cho? Kau bercanda!” sambung Lu Han sambil menurunkan volume suaranya.

“wae? Kenapa tidak? Kai adalah pria yang tampan, sementara So Mi juga yeoja yang cantik” sahut Hye Rim masih dengan wajah frustasinya. Wajah Lu Han tak kalah frustasi. Dia menggelengkan kepalanya melihat Hye Rim yang salah pahamnya terlalu berlebihan.

“kau pernah melihat ada seorang namja yang berpacaran dengan yeodongsaeng nya?!” jelas Lu Han. Hye Rim langsung menegakan badanya dan merapikan rambutnya secara kilat.

“yeodongsaeng?!” tanya Hye Rim. Lu Han mengangguk.

“So Mi adalah adik Kai?!” tanya Hye Rim lagi untuk sekedar memperjelas. Lagi Lu Han mengangguk.

“jongmalyo?!” tegas Hye Rim lagi dengan senyum lebar dibibirnya. Kali ini Lu Han mengangguk lebih keras.

“jinja” suara Hye Rim kini mulai membosankan di telinga Lu Han.

“kau mau aku mengangguk sampai kepalaku lepas ya?!” Lu Han mulai sewot ditanya terus oleh Hye Rim.

“aaa~~ Kai sshi… aku salah paham..” kata Hye Rim sambil mengadahkan kepalanya dan tersenyum malu malu.

“kau menyukai Kai?!” Tanya Lu Han langsung. Hye Rim mengangguk pasti.

“nde, neomu joha~” katanya.

“jinjareo?!” tanya Lu Han tidak percaya. Yeoja ini terlalu jujur atau terlalu polos sih?! Tapi itu bagus, berarti tebakannya saat itu benar. Hye Rim benar benar menyukai seorang Kai.

“haruskah aku mengangguk sampai kepalaku lepas?!” balas Hye Rim terhadap perkataan Lu Han tadi.

*in side*

“oppa, apa yeoja itu adalah yeojachingu nya Lu Han oppa?!” tanya So Mi sambil menyuapkan dukboki terakhir dimulutnya.

“hh? Waeyo? Kenapa tiba tiba bertanya seperti itu?!” tanya Kai Lu Han. Dia menutup majalah yang sedari tadi dibacanya ketika Hye Rim makan dengan serius.

“ani. Hanya saja yeoja itu terlihat dekat dengan Lu Han oppa” jawab So Mi sambil menutup kotak bekalnya. Dia mengambil segelas air minum diatas meja dan meneguknya.

“kenapa? Kau cemburu?!” tembak Kai langsung. Hampir saja So Mi tersedak karena perkataan Kai yang menurutnya menjebak itu.

“kenapa oppa sembarang bicara?!” balas So Mi. Wajahnya memerah ketika Kai menanyakan hal itu.

“sepertinya Kau cemburu~” ucap Kai menggoda dongsaengnya itu.

“anni!” ellak So Mi.

“hh! Kau cemburu~”

“aniyo!!” So Mi memalingkan wajahnya dari Kai karena malu dan menatap keluar jendela yang mengarah langsung ke gedung tinggi di sebrang rumah sakit itu.

“hhaha.. mereka hanya berteman” ucap Kai menyudahi godaannya.

“bukan urusanku!” sahut So Mi sinis.

“benarkah?!” tanya Kai ingin meyakinkan So Mi. So Mi tak menjawab, hanya mempertimbangkan pertanyaan oppanya barusan di dalam hati. Benarkah Ia cemburu?

“jangan membenci yeoja itu So Mi-ah~. Jika tidak ada dia, oppa tak tahu harus mencari uang dimana lagi” jelas Kai. Perlahan So Mi mulai melihat oppa semata wayangnya itu. Nampaknya dia mengerti maksud pembicaraan oppanya.

“dia meminjamkan oppa uang untuk biaya operasi mu” lanjut Kai memperjelas kalimatnya barusan. So Mi tersentak.

“oppa sudah gila?! Bagaimana caranya kita bisa mengganti uangnya?!” tanya So Mi. Bukannya dia tak habis pikir, tapi, haruskah dia meminjam uang begitu banyak hanya untuk dirinya?! Seharusnya itu tidak perlu kalau hanya akan mempersulit kehidupan mereka nanti, pikir So Mi.

“oppa akan bekerja dengan giat” jawab Kai pasrah. Tatapannya lurus memandang So Mi seolah berkata ‘selama kau disampingku, semuanya akan baik baik saja’ tapi bagaimana bisa? Batin So Mi.

“oppa~” So Mi kehabisan kata kata. Entah apa yang harus Ia katakan lagi kepada oppa nya itu. Keheningan kembali tercipta. Kali ini lumayan lama karena tak ada topik yang bisa mencairkan suasana hati mereka saat ini.

.

.

.

“oppa, aku ingin bertemu dengan dia” tiba tiba So Mi meminta pada Kai.

“jangan bicara yang macam macam” kata Kai memperingati dongsaengnya.

“aku bukan Lu Han oppa!” bela So Mi yang tidak terima dengan perkataan kai yang menurutnya merendahkan.

“araso~” sahut Kai akhirnya. Dia berjalan menuju pintu dan membuka kenop pintu perlahan kemudian keluar dari kamar itu.

Belum  sempat pintu itu tertutup seutuhnya ketika Kai keluar, tiba tiba saja sebuah tubuh menubruknya dari depan dan memeluknya erat.

“Kai-ah~~” panggil Hye Rim dalam pelukan Kai. Ya, Hye Rim sedang memeluknya erat sekarang. Lu Han yang menyaksikan pemandangan itu secara langsung hanya bisa membulatkan matanya yang kecil itu. Kai melihat Lu Han seolah meminta penjelasan apa yang terjadi dengan Hye Rim. Mengapa ia tiba tiba memeluk dirinya dan mengapa Lu Han hanya berdiri saja disana sambil mengangkat bahunya dan mencibir kecil.

“nan neomu haengbokhae~” ucap Hye Rim sambil mempererat pelukannya.

***

TBC

Kepanjangan kah?! Atau membosankan?! Mian, authornya lagi galau kuadrat karena EXO-M bakal jadi special guest nya SS4 INA~ itu artinya akan ada Lu Han, Tao dan Xiu Min disana~~ mudah mudahan Lu Han nengok ke arah author nanti #lols
dan mudah2an tdk kehabisan tiket konser. Amien~~

Comment please~ 😀

29 pemikiran pada “What is Love (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s