For You (Chapter 6)

Author: Nisha_gaem407

Pairing: Baekhyun (EXO-K) & Song Hyerin

Genre: Romance/Friendship/School Life

Hyerin menatap sekumpulan orang-orang yang sedang berolahraga di lapangan sekolah melalui jendela kelas yang tepat berada di sampingnya. Tak ia perdulikan lagi apapun yang guru matematikanya ajarkan di depan kelas karena perhatiannya telah teralihkan pada sosok Baekhyun yang kini sedang berlari mengitari lapangan bersama dengan teman-temannya yang lain.

Baekhyun yang biasa dikenalnya dengan kepribadian ceria bahkan selalu mengoceh tentang hal-hal yang tidak penting kepadanya, dua hari belakangan ini terasa seperti menghilang entah kemana. Yang ada hanyalah Baekhyun yang pendiam dan berwajah datar. Tak ada sama sekali senyum yang ia tampakkan.

Memang mereka masih tetap melakukan aktivitas seperti biasa, berangkat ke sekolah bersama, pulang bersama dan makan bersama. Nonton bersama? Cih, itu juga yang berubah darinya. Baekhyun yang selalu menghabiskan waktu dengan menonton TV –entah itu film atau kartun, sekarang lebih suka menghabiskan waktu sendirian di dalam kamarnya.

Awalnya Hyerin berpikir karena Baekhyun kelelahan mengurusi pentas seni yang tak lama lagi akan dilaksanakan, tapi melihat wajah datar lelaki itu sepertinya tidak. Setidaknya jika seseorang yang kelelahan tak akan kehilangan senyum dan keceriannya bukan?!

Satu hal yang Hyerin sadari, Baekhyun berubah semenjak dua hari yang lalu, dimana terjadinya pemadaman listrik mendadak selama hampir satu jam lamanya.

Ia tak tahu apa yang membuat Baekhyun terlihat ketakutan malam itu dan berubah seperti sekarang ini, tapi yang jelas ia hanya ingin Baekhyun kembali seperti biasanya.

Ya, kembali menunjukkan cengiran khasnya untuk semua orang dan juga…untuknya.

***

Untuk yang kedua kalinya Hyerin lagi-lagi harus pulang sendirian. Tak mungkin jika ia meminta Baekhyun untuk mengantarnya sementara ia tahu lelaki itu juga masih mempunyai urusan lain di sekolah.

Kali ini, Hyerin lebih memilih untuk mengambil jalan pintas yang cukup sepi daripada harus berjalan cukup jauh melewati tempat yang sangat ramai. Yeah, walaupun ia tahu memilih jalan pintas yang sepi memiliki lebih banyak risiko, apalagi untuk anak gadis sepertinya.

Cukup lama ia berjalan dengan tenang tanpa gangguan apapun sampai dilihatnya seseorang  yang sepertinya sedang dibully oleh sekumpulan anak gadis sebayanya. Ia dapat memastikan jika semua anak gadis yang dilihatnya adalah murid Hyundai Chunghun High School, terlihat dari seragam sekolah mereka yang sama persis seperti yang dipakainya saat ini. Tapi tak dapat dilihatnya siapa gadis yang sekarang sedang terduduk lemah di tengah mereka karena rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya.

Hyerin melangkah maju mendekati mereka. Tak bisa dipungkiri, sedikit rasa was-was memang menghinggapinya, tapi apa boleh buat?! Tak ada orang lain lagi disini yang dapat menolong gadis itu selain dirinya.

“Hey! Lepaskan dia!” Sekumpulan anak gadis itu menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam dari mata mereka masing-masing. Dan seolah-olah membangkitkan iblis, Hyerin malah tersenyum sinis.

“Ah…Kau pacar Baekhyun sunbae bukan?” Salah satu dari mereka menyahut. Jika dilihat dari penampilan, sepertinya ialah pemimpinnya.

Hyerin diam, tak mau menanggapi pertanyaan yang menurutnya bodoh itu.

“Kau mau menjadi pahlawan kesiangan huh?!” Seorang gadis dengan rambut yang dicepol ke atas menyahut seraya mendengus setelahnya, membuat Hyerin melirik padanya –tak lupa masih tetap dengan senyum sinis tentunya.

“Kalau aku bilang iya?!” Hyerin menggantungkan kalimat atau entah pertanyaan yang dilontarkannya. Ia malah mengambil sesuatu dari sakunya dan memperlihatkannya pada mereka.

Handphone?

“Ya, benda ini telah merekam semua yang kalian perbuat padanya.” Hyerin melemparkan pandangan pada gadis malang yang masih terduduk di atas jalanan dengan wajah menunduk.

“KAU! Aish… ayo cepat ambil handphonenya!”

“N-ne Heejung-ah.” Yang terjadi selanjutnya adalah handphone miliknya yang sudah berserakan dengan bagian-bagiannya yang terpisah di atas jalanan, tapi sikap Hyerin yang masih saja tenang membuat mereka memasang wajah heran dan bertanya-tanya.

“Asal kalian tahu, aku masih mempunyai tempat lain untuk menyimpan video itu~…”

“UGH!!! Ayo pergi!”  Hyerin menatap kepergian gadis-gadis itu dengan tatapan puas. Sampai mereka itu menghilang pada tikungan di depan jalan barulah ia menghampiri sang gadis malang yang sepertinya masih terlihat shock.

“Kau tak apa hm?” Gadis itu mengangkat wajahnya, mencoba melihat siapa yang menolongnya.

“Hye-hyerin?”

“AH! Kau Jiyeon?! Sekelas denganku bukan?” Ia mengangguk seraya memasang senyum pada wajah cantiknya yang sedikit memar di beberapa bagian. Tapi semua itu tak ada artinya lagi sekarang, yang penting ia telah selamat.

“Uhm.. Thanks.”

Anytime… Kau bisa berdiri kan?”

Jiyeon tak membalas, hanya mengangguk kepalanya pelan, menandakan jika ia bisa berdiri walaupun hampir terhuyung beberapa kali. Hyerin menatap khawatir padanya, “Jiyeon-ah, sepertinya kita harus ke rumah sakit.”

“Tak perlu Hyerin-ah. Aku bisa berdiri sekarang. Lihat?”

“Baiklah… Ayo! Aku akan mengantarmu pulang.” Jiyeon mengangguk, tapi setelah itu matanya tertuju pada handphone Hyerin yang sepertinya telah rusak tepat di bawahnya. Hyerin mengikuti kemana arah pandangan Jiyeon dan sedetik kemudian tersenyum seraya menepuk bahu Jiyeon pelan, “Sudahlah…Tak apa.”

“Hey… kau mau tahu tidak?” Karena melihat Jiyeon yang sepertinya sangat merasa bersalah, Hyerin mencoba untuk membuka pembicaraan baru yang mungkin akan sedikit membuat Jiyeon tergelak, walaupun ia sedikit tak yakin.

“Tentang apa?”

“Sebenarnya aku tak merekam perbuatan mereka. Hahaha…..”

“Jadi, kau berbohong?” Alis Jiyeon sedikit berkerut menanggapi apa yang dikatakan oleh Hyerin.

“Yeah… Aku tak merekam perbuatan mereka. Lagipula, mana sempat aku pulang untuk memindahkan videonya dan balik lagi ke sini?!”

“Kau ada-ada saja Hyerin-ah.”

“Mereka saja yang tak berfikir seperti itu~.”

Dan setelah itu terdengar gelak tawa dari keduanya yang memenuhi jalan kecil dan sepi itu.

***

Hyerin menatap TV yang berjarak beberapa meter tak jauh di depannya dengan tatapan malas. Lagi-lagi tak ada yang menemaninya. Bukannya egois, tapi ia telah terbiasa dengan kehadiran Baekhyun di sampingnya pada saat-saat seperti ini.

Tak seperti yang diharapkannya, Baekhyun langsung memasuki kamar setelah pulang –tanpa menyapanya sama sekali dan tak keluar sampai saat ini. Bahkan ketika Hyerin memanggilnya untuk makan malam, Baekhyun juga tetap tak keluar dari kamarnya –sekadar menjawab panggilan Hyerin pun tidak.

TING TONG…

Hyerin sejenak melupakan pikirannya tentang Baekhyun dan berlari menuju pintu depan.

Siapa yang datang malam-malam begini?’ Ia memencat tombol on pada intercome dan melihat wajah Ibu Baekhyun sedang menunggu diluar.

“Bibi?”

CKLEK

“Selamat malam Hyerin-ah…”

“Ah bibi… Annyeong haseyo.” Ia sejenak menyapa dengan membungkuk dalam, lalu pergi masuk menuntun sang bibi untuk menuju ruang tengah.

“Baekhyun dimana?” Ibu Baekhyun bertanya seraya mengedarkan pandangannya pada seluruh isi ruangan.

“Dia sudah tidur, bibi.”

“Tidur?” Rasanya Ibu Baekhyun tak percaya dengan yang dikatakan Hyerin, terlihat dari kerutan bertanya pada dahinya. Memang sekarang masih menunjukkan pukul 07.15 –dari jam yang ia lihat di ruangan itu, tapi jika melihat sikap Baekhyun sepertinya ia sedang tak ingin diganggu. Jadilah Hyerin berkata Baekhyun sudah tidur . Ya ya, walaupun ia sendiri tak tahu apa yang Baekhyun lakukan di dalam sana.

“Sepertinya ia sedikit kelelahan karena mengurus persiapan pentas seni.”

“Ah…pentas seni? Ya sudah, biarkan saja dia.”

Setelah itu diam beberapa menit, tak ada yang membuka pembicaraan sampai Hyerin yang memecahkannya, “Bibi, aku boleh bertanya?”

“Tentang apa sayang?”

“Baekhyun…Apakah ia takut gelap?” Mata Ibu Baekhyun membulat tak percaya –entah kenapa untuk sementara waktu, tapi berubah menjadi lembut kembali beberapa detik setelahnya.

“Ia mempunyai trauma Hyerin-ah…”

“Trauma?” Kali ini giliran mata Hyerin yang membulat tak percaya. Seorang Byun Baekhyun yang ia kenal berkepribadian ceria dan childish mempunyai trauma? Sungguh tak terlihat dari luarnya dan jika dilihat dari kondisinya saat itu, sepertinya ini memang bukan trauma yang biasa.

Ibu Baekhyun menatap lekat-lekat wajah Hyerin, mencoba mencari kepercayaan di mata gadis itu. Dan setelah yakin, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, sebelum menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada Baekhyun.

“Sewaktu Baekhyun berumur delapan tahun, ia pernah diculik oleh mantan rekan kerja ayahnya. Motifnya hanya satu, balas dendam.”

“Balas dendam?”

“Ya. Beberapa hari sebelumnya ia dipecat oleh atasannya –ayah Baekhyun dari perusahaan keluarga kami karena penggelepan uang.”

Hyerin tetap diam, mencoba menunggu dengan sabar satu persatu kalimat yang keluar dari mulut Ibu Baekhyun. Ia tahu, berat bagi wanita itu untuk menceritakan kenangan buruk yang terjadi pada anaknya.

“Meskipun begitu, tapi keluarga kami tak melaporkannya pada pihak berwajib karena dia adalah ayah dari sahabat Baekhyun, bahkan kami telah menganggapnya sebagai anak.”

“Tapi ternyata ayah sahabatnya tetap tak menerima apa yang terjadi. Ia menculik Baekhyun dan meminta uang tebusan.”

“Kami meminta bantuan pada pihak berwajib dan tak sia-sia karena Baekhyun ditemukan tiga hari setelah kami melaporkannya. Ia menyekap Baekhyun pada salah satu ruangan di sebuah gedung tua, tanpa cahaya apapun dan tanpa diberi makan sedikitpun.” Hyerin membekap mulutnya tak percaya, air matanya hampir saja mengalir, tapi dengan cepat ia menguasai dirinya kembali.

“Dan keadaan Baekhyun saat kami menemukannya-,” Ibu Baekhyun sepertinya tak sanggup lagi melanjutkan ceritanya. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini jatuh, begitupun dengan Hyerin.

“Tenanglah bibi…Semuanya sudah berakhir.”

“Ya sayang. Sudah berakhir, semuanya memang sudah berakhir.”

Berakhir berarti sudah terlewatkan, tapi kenangan buruk itu akan selalu teringat jelas bukan?!

***

Hyerin berjalan pada koridor sekolahnya sendirian sebelum berpisah dengan Baekhyun yang kelasnya berada di bawah, sedangkan ia berada satu tingkat di atasnya.

Koridor menuju kelasnya sudah terlihat ramai, menandakan ia dan Baekhyun datang sedikit terlambat dari hari-hari kemarin. Biasanya koridor masih sepi, hanya ada dua atau tiga orang yang ia lewati.

Setelah sampai di kelas, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari Jiyeon, teman sekelasnya yang ia tolong kemarin. Yah sekedar ingin mengecek keadaan gadis itu saja sebenarnya, tapi kelihatannya Jiyeon belum datang.

Akhirnya ia duduk dan melakukan kebiasaannya jika sedang bosan. Duduk bertopang dagu memandang ke arah bawah lewat jendela di sampingnya.

Matanya menelusuri tiap-tiap sudut lapangan sekolah dan ruang kelas yang masih bisa terlihat dari tempatnya. Baru beberapa detik, pandangannya terhenti pada seorang murid laki-laki bersama kepala sekolah dan seorang guru yang ia kenal sebagai guru fisikanya dan wali kelas Baekhyun.

Sepertinya ia anak baru, tapi bukan ia adalah anak baru atau tidak yang menjadi permasalahannya. Lelaki itu sangat mirip dengan seseorang yang menolongnya di toko buku dan supermarket waktu itu. Entah kenapa juga sekarang perasaan senangnya membuncah, membuatnya tersenyum-senyum sendiri.

“Hey…kau sedang apa?” Tepukan seseorang pada bahunya membuatnya kembali tersadar dan menoleh. Ia mendapati Jiyeon telah duduk di sampingnya.

“Aku boleh duduk disini kan?”

“Tentu. Bagaimana lukamu?” Hyerin bertanya, sesaat melupakan apa yang baru saja ia pikirkan.

“Sudah sedikit baikan kok.” Setelah itu tak ada yang melanjutkan pembicaraan. Jiyeon sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya dan Hyerin kembali melihat ke arah bawah. Sedikit kecewa ia setelah melihat tak ada lagi lelaki itu disana. Hanya ada kepala sekolah yang sibuk menyuruh murid-murid  yang melewatinya untuk memunguti sampah-sampah berserakan di sekitarnya.

***

Kedua mata Baekhyun hampir saja tertutup jika tidak mendengar sapaan guru fisikanya yang notabene adalah pelajaran pertama hari ini.

Sungguh ia begitu mengantuk, enatah kenapa ia sendiri juga tak tahu. Jadilah dengan terpaksa ia mengangkat kepalanya yang sebelumnya berada di meja dengan kedua tangannya yang ditangkupkan menjadi bantalan.

“Selamat pagi anak-anak…” Sontak semua murid di kelas termasuk dirinya membalas sapaan sang guru dengan kompak, meskipun ada sedikit yang menjawab dengan bermalas-malasan.

“Hari ini kalian akan mendapat seorang teman baru.” Ucapan sang guru disambut riuh oleh seluruh murid, kecuali dirinya. Yang perempuan sibuk bertanya-tanya dan berdoa mengharapkan teman baru yang dimaksud oleh guru mereka adalah seorang laki-laki yang cool dan tampan, begitu juga sebaliknya dengan yang lelaki –mengharapkan teman baru mereka nantinya adalah seorang perempuan yang cantik dan anggun.

“Masuk!” Sedetik kemudian setelah guru mereka menyuruh anak baru itu untuk masuk, pertanyaan mereka terjawab sudah.

Ternyata Tuhan lebih memilih untuk mengabulkan permintaan para murid perempuan karena yang masuk adalah seorang lelaki tinggi, berparas tampan dan imut. Beberapa diantara mereka menahan nafas dengan mata yang seolah bersinar, ada yang tersenyum-senyum sendiri, dan ada juga yang mengambil alat dandan dari tas mereka masing-masing. Sedangkan murid lelaki hanya bisa mendengus kesal.

Baekhyun? Entah dinamakan apa ekspresinya saat ini. Ekspresi gugup, marah, kesal, takut, semuanya bercampur menjadi satu. Seluruh tubuhnya menegang dan jantungnya berdegup kencang seolah bisa melompat keluar dari tempatnya kapan saja.

“Perkenalkan dirimu!” Anak baru itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sopan, mengiyakan perintah guru barunya.

Annyeong haseyo… Park Chanyeol imnida.”

BRAK!!!

To Be Continue

___________________________________

Annyeong….
Ada yang kangen? Hehehe ^^

Mian saya telat lagi updatenya T.T
Sempat nge-stuck sama FF ini soalnya~~

Ok! Sekian cuap-cuap dari author…
Akhir kata…
.
.
Comment = Love

Iklan

58 pemikiran pada “For You (Chapter 6)

  1. Hehe tebakan q benar, namja yg suka bantuin Hyerin itu Chanyeol ?
    ya mskipun tdk lngsng benar, tp stidaknya dr bbrapa kriteria namja yg aq sodorkn (?) salah1nya benar… 😀
    tp, siapa Chanyeol ?
    apkh dia org d masa lalu Baek yg ayahnya prnah mnclik Baek ?
    Knpa jg reaksi Baek seprtinya marah bgt itu ? pdhl klopun benar Yeol anak c penculik, bknkh dia g slah ? apa Yeol jg trlibat ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s