A Girl Meets Love

Title: A Girl Meets Love

Author: Laras (@Laras_MoonHee)

Genre: Romance, angst

Ratted: Teen

Length: One Shoot

Cast:

–          Moon Joonyoung

–          Huang Zi Tao

–          Park Chanyeol

Note: Annyeong, laras imnida. aku membuat FF ini terinspirasi dari lagunya K.Will feat Tiffany ‘SNSD’ yang judulnya ‘A girl meets love’. Mungkin agak beda, Aku juga kurang menghayati lagunya sih. Oh ya disini sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang Joonyoung.  Anggap aja semua pemeran laki-laki yang ada disini udah up to 25th Oke. Kelamaan basa-basi nih, Happy reading dan jangan lupa leave some comment, satu comment bermanfaat untuk semangatku membuat FF selanjutnya^^

“Joonyoung~ah, ada Tao sunbaenim”

“Jeongmal?”

“Nae. Aku iri denganmu setiap hari bisa bersama dengan Tao sunbaenim, apa kalian pacaran?”

Pacaran? Aku dan Tao oppa pacaran? Aku berharap demikian tapi kami masih sebatas teman dekat saja sampai saat ini. Aku sudah menunjukan perhatianku padanya tapi dia masih belum menanggapiku juga. Kecewa? Aku sedikit kecewa tapi aku menyukai kenyataannya saat ini kalau dia selalu berada di dekatku. Perhatiannya itu membuatku merasa nyaman disisinya. Dia melindungiku, dia menyayangiku, dia selalu membantuku, katanya aku adalah prioritas utamanya, mendengarnya aku yakin dia juga menyukaiku.

“Oppa” sapaku pada namja yang tengah asik memainkan iphonenya di depan ruang kelasku.

“Joonyoung-ah, kuliahmu sudah selesai?” tanyanya melepas headset yang dipakainya dan berjalan mendekatiku, dalam hitungan detik, seperti biasanya dia langsung menggenggam tanganku.

“Nae, oppa?”

“Na do” angguknya dan memasukan iphonenya ke tasku seperti biasa ia memilih menitipkan ponselnya ke tasku, lalu mata kami bertemu setelahnya dan saling tersenyum menatap satu sama lainnya, “Kita makan siang dulu, ottae?”

Aku mengangguk, kamipun segera berjalan keluar kampus dengan tangan kanannya yang tetap menggenggam tangan kiriku menyalurkan kehangatan tangannya ke tanganku yang bisa membuatku selalu nyaman setiap bersamanya. Kusandarkan kepalaku pada pundaknya, tak lama kurasakan ia mengelus kepalaku dengan tangannya yang bebas itu. elusan tangan yang membuatku merasa betapa besarnya rasa sayangnya padaku.

“Oppa jangan dielus” aku menegakan kepalaku kembali menjauhkan kepalaku dari jangkauan tangan kekarnya itu.

“Wae?”

“Nanti aku mengantuk”

“arra, arra kkk” kekehnya.

——-

“Oppa kau tahu seberapa besar aku menyayangimu?” tanyaku ketika kami sudah duduk di salah satu meja restaurant yang biasa kami kunjungi untuk makan siang bersama.

“Arra, kau pasti sangat menyayangiku kan?”

Aku mengangguk antusias dan mulai menatapnya yang duduk tepat di depanku, ku topang daguku dengan tanganku lalu menatapnya lekat-lekat, menatap matanya yang bisa dibilang cukup indah dihiasi dengan wajahnya yang tampan itu, “Oppa, kau menyayangiku?” tanyaku padanya.

“Kau tahu kita sudah sejak kecil bersama, apa perlu aku mengatakannya lagi?” jawabnya pelan dan kembali berkutat pada iphonenya itu seakan dia menganggap pertanyaanku ini adalah pertanyaan tak penting dan tak ia minati. Apa benar dia menyayangiku?

Aku menunggunya lebih dari 5 tahun. Umurku sekarang 18 tahun dan dia 26 tahun, lihat perbedaan di antara kami begitu jauh. Apakah bisa kami bersama dengan umur kami yang terpaut begitu jauh? Aku pikir itu tak salah tapi bagaimana dengannya?

Aku tahu dia sibuk, tapi dia masih sempatnya mengurusi aku yang notabene adalah tetangga dan teman terdekatnya dulu saat kami tinggal di Incheon. Sejak orang tuaku memilih tinggal di Jepang, akhirnya aku memilih pindah ke Seoul dan orang yang sangat dipercaya untuk menjagaku adalah Tao oppa. Karena dia begitu khawatir padaku dia memilihkan apartemenku berada di gedung yang sama dengannya bahkan kami bertetangga. Dia di apartemen nomor 1201 dan aku 1202, lihat betapa dia mengkhawatirkanku.

“Oppa cepat makan, nanti waktu istirahat kantormu keburu selesai” ujarku padanya yang masih asik berkutat dengan iphone kesayangannya itu, dia mengangguk sekilas tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun dan memakan makanannya.

“Joonyoung-ah kau punya namjachingu?”

Eh? Kenapa dia bertanya seperti itu? apa dia berniat menyatakan perasaannya padaku? Apa perasaanku ini benar-benar tak bertepuk sebelah tangan? Tuhan, apakah ini pertanda baik untukku? Aku harap dia akan benar-benar menyatakan perasaannya padaku.

“Eobseo” gelengku ragu walaupun sebenarnya aku menutupi rasa maluku ketika ia bertanya masalah itu.

“mmm..” gumamnya pelan dan mengangguk pelan, kenapa kesannya dia tak begitu memperdulikan jawabanku? Apa dia perasaannya itu nyata? “apa tak ada namja yang mendekatimu di kampus?”

“ada” anggukku pelan dan dia langsung memanjangkan lehernya mendekati wajahnya ke arahku dengan tatapan yang memintaku untuk melanjutkan kata-kataku tadi, “seseorang yang sekelas denganku bernama Jongjin dan dosenku, Chanyeol seonsaengnim”

“Jeongmal?” dia mulai terlihat antusias begitu mendengarnya, “dosenmu? Umur berapa?”

“Sekitar 2 tahun lebih tua dari oppa” unjukku padanya dengan daguku dan dia mengangguk pelan lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Apa kau tak berniat menerima salah satu dari mereka?” tanyanya lagi, apa dia  cemburu? Aku mau membuatnya cemburu sama seperti waktu itu kurasakan ketika melihatnya makan malam bersama teman sekantornya bernama Jinri, dan dia juga yeoja spesial yang bisa masuk ke dalam apartemennya. Jarang seorang yeoja bisa masuk ke dalam apartemennya, aku adalah orang pertama dan kedua adalah Jinri setelahnya hanya namja yang merupakan teman-temannya.

“Anni, aku menyukai orang lain” jawabku merundukan kepalaku tak berani menatapnya yang kuyakin saat ini wajahku memerah seperti tomat, “kenapa oppa tanyakan itu padaku?”

“Anni, aku Cuma mau pastikan kalau kau dapat namja yang pantas”

Pantas? Bagaimana jika namja itu kau, Tao oppa?

——-

Hari ini waktuku sedang kosong jadi aku membawakan bekal makan siang Tao oppa. Aku berniat memberikan kejutan padanya dengan datang ke kantornya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Aku datang ke perusahaan atau agency yang dipimpin olehnya. Agency yang mempunyai kantor pusat di amerika dan mempunyai berbagai cabang di seluruh penjuru dunia untuk di Korea selatan, Tao oppalah yang memimpinnya. Dia sangat terkenal di Korea sebagai CEO muda dan berbakat.

Semua yang ada disana sudah mengenal baik diriku yang mereka pikir aku adalah yeodongsaengnya, terkadang ada yang berpikir kalau aku ini adalah yeojachingunya atau tunangannya. Aku mengendap-endap masuk ruangannya, aku juga menyuruh Hyuna yang merupakan sekretarisnya untuk tak memberitahunya. Aku sekarang tengah berdiri di depan pintu ruangannya tapi samar-samar kudengar ia mengobrol dengan seseorang di dalam sana. Dari suaranya aku yakin kalau lawan bicaranya itu adalah yeoja. Aku bukan bermaksud bersikap tak sopan tapi aku yakin ini suara Jinri dan aku juga yakin mereka berbicara tentang persoalan pribadi jadi kubuka pintunya sedikit memberi celah untuk membuatku mendengar pembicaraan mereka. tepat dugaanku, seseorang yang berbicara dengannya adalah Jinri dan betapa terkejutnya aku melihat pemandangan dari balik celah pintu ini, mereka berciuman.

“kapan kau akan meluangkan waktumu seutuhnya untukku?” tanya Jinri dengan tangan yang melingkar di leher Tao oppa.

“sepertinya sulit untuk saat ini, katanya dia takkan menerima dua namja yang mendekatinya itu. dia menyukai namja lain” jawab Tao oppa sembari membelai rambut cokelat Jinri. Kata-katanya itu? bukankah itu jawabanku tentang pertanyaannya kemarin?

“aku tak suka kau bersama Joonyoung”

“Aku juga lelah Jinri” dengus Tao oppa.

Jadi dia lelah bersamaku selama ini? Jadi semua itu palsu, kau tak suka bersamaku oppa? Kau membenciku karena aku selalu merepotkanmu? Apa kata-katamu yang menjadikanku adalah prioritas utamamu itu juga kebohongan? Perhatianmu, pelukanmu, rasa sayangmu, kata-katamu, jadi semua itu hanyalah kebohongan semata?

Kau seharusnya tak perlu membohongiku dan membohongi dirimu sendiri, aku lebih suka menerima kenyataan tanpa menyembunyikan apapun dariku tapi kau malah memberiku kenyataan palsu setelah sekian lama kau memberikanku semua kebohonganmu? Kau tahu ini menyakitkan, aku minta maaf tapi tak bisakah kau tak membohongiku? Apa salahku sampai kau harus bersikap seperti ini? Kau menyakitiku tepat ketika kau membuatku melambung tinggi namun dalam sekali hentakan kau membuatku terjatuh dalam jurang yang paling dalam. kau jahat.

“Kau menganggapnya apa saat ini? Yeojachingumu?” tanya Jinri yang mulai mendekatkan bibirnya ke pipi Tao oppa.

“Anni dan itu tak mungkin. Dia Cuma anak kecil dimataku”

Anak kecil? Jadi inilah masalahnya. Kau menganggapku anak kecil karena umur kita yang terpaut begitu jauh? Apa kau tak bisa menghilangkan pikiranmu tentang umur kita yang terlalu jauh? Apa kau sudah terlanjur mencintainya? Aku Cuma anak kecil dimatanya, ini menyakitkan. Seseorang yang amat sangat kucintai setelah sekian lama hanya memandangku seperti seorang anak kecil. Cukup, Kau melanggar janjimu untuk membuatku tak menangis. apakah janji itu juga sebuah kebohonganmu? Kau jahat.

——-

Hari ini aku tak begitu bersemangat seperti biasanya. Semua yang sering bersamaku melihat dengan jelas perbedaan mencolok antara sikapku biasanya dengan hari ini. Aku hanya bisa menjawab ‘aku baik-baik saja’ setiap mereka bertanya ‘Ada apa denganmu?’. Meski aku mengatakan aku baik-baik saja tapi sebenarnya aku tak dalam keadaan baik-baik saja. Aku seperti ini karena seseorang bernama Huang Zi Tao yang telah membuatku merasakan artinya patah hati, kecewa, dan kesedihan secara bersamaan.

“Joonyoung-ah”

“Annyeonhaseyo, Chanyeol seonsaengnim” bungkukku pelan pada dosen danceku ini.

“Kau kenapa?” tanyanya dan mengelus kepalaku pelan, semua orang di kampus ini tahu kalau seonsaengnim menyukaiku jadi seonsaengnim tak terlihat canggung untuk menyentuhku di depan umum.

“Anni, nan Gwaenchanna” ucapku pelan dan kembali merundukan kepalaku.

“aku tahu kau tak mau cerita. Baiklah aku kesini untuk menawarkanmu, aku akan berangkat ke Jepang minggu depan. Kau tahu, kau dapat beasiswa di sana dan kau bisa menjadi lebih baik jika disana, kalau kau mau kau bisa berangkat bersamaku”

Aku mulai melayangkan pikiranku, aku bisa pergi ke sana bertemu kedua orang tuaku, mendapat pendidikan yang lebih baik, dan aku bisa melupakannya disana. Tapi apakah aku sanggup untuk melupakannya? Aku sangat mencintainya, aku menginginkannya, tapi aku tak bisa terus berada disisinya terus.

Tes..tes..

Aku mulai merasa air yang cukup banyak turun dari langit membasahi tanah yang kering ini, hujan telah turun bersamaan dengan air mataku yang turun dari pelupuk mataku. Hujan? Apakah kau ingin menangis bersamaku? Apakah kau merasakan kesedihan yang kualami saat ini? Meninggalkannya? Apakah itu adalah jalan terbaik? Tolong beritahu aku.

Aku mulai menyadari saat ini Chanyeol seonsaengnim masih berdiri di depanku memayungiku dengan jaket kulit miliknya. Kutatap matanya dan dia tersenyum. Bisakah aku sepertinya? Apa perasaan Chanyeol seonsaengnim padaku bisa dimiliki oleh namja bernama Huang Zi Tao juga?

“seonsaengnim, umur kita terpaut jauh. Apa bagimu aku ini hanyalah anak kecil?” tanyaku lirih dan merundukan kepalaku kembali.

Aku merasakan jaket yang tadi ia pakai untuk memayungiku sudah menempel di atas kepalaku. Daguku diraihnya dan memintaku untuk menatapnya, pandangannya begitu serius padaku. Aku mulai menyadari lagi satu hal, pandangannya dengan pandangan dengan Tao oppa berbeda. Pandangannya begitu lembut dan tulus sedangkan pandangan Tao oppa padaku begitu kosong tanpa ada makna dalam setiap tatapannya. Apa saat itu kau hanya memikirkan Jinri seorang? Apa kau hanya memandang seperti pandangan Chanyeol seonsaengim padaku hanya kepada Jinri?

“Aku tak mempersalahkan umur kita yang berbeda 10 tahun, aku hanya tahu kalau aku mencintaimu” ucapnya lembut dengan jarinya yang sekarang menghapus air mataku.

“hiks.. tapi dia menganggapku sebagai anak kecil hiks..” ketika tangisanku memuncak, Chanyeol seonsaengnim menarikku pelan hingga sekarang aku berada di pelukannya di bawah guyuran air hujan yang membasahi kota Seoul.

——-

Aku tak menemuinya selama 3 hari, aku terlalu takut untuk menemuinya. Setiap hari aku menghindarinya untuk membuatnya tak mengetahui aku yang selalu menangis karenanya. Aku tak mungkin ada di depannya dengan mata yang sembap karena menangisinya setiap saat. Aku sudah bosan menangisinya setiap saat, jadi kuputuskan untuk bicara langsung padanya. setelah pulang dari kampusku aku di antar oleh Chanyeol oppa ke kantornya. Untuk Chanyeol seonsaengnim dialah yang memintaku untuk memanggilnya oppa karena sebentar lagi kami bukanlah guru dan murid di kampus itu lagi.

——-

“Oppa” panggilku pelan begitu memasuki ruangannya dan melihatnya tengah berdiri memandang keluar jendela ruangannya.

“Joonyoung-ah, kau kemana saja? Oppa mencarimu” dia langsung berlari ke arahku dan memelukku tak seperti biasanya aku membalas pelukannya kali ini aku melepas pelukannya, “Kau kenapa? Tak seperti-“

“Oppa, aku mau mengatakan sesuatu” potongku pelan dan merundukan kepalaku, “Oppa menyukai Jinri?” pertanyaanku membuatnya terkesiap dan dia langsung diam tak berkata apapun.

“N-nae” jawabnya ragu. “Aku mencintainya” ucapnya pelan.

Aku menatapnya perlahan dan tersenyum namun aku yakin kalau senyumanku begitu miris untuk disungingkan, “Bagaimana kalau aku katakan ‘Jangan mencintainya’?”

“Apa maksudmu?”

Aku mendekatinya perlahan tapi pasti, kudekati wajahku dengan wajahnya dan menjinjitkan kakiku tak sampai 5 detik bibirku saat ini sudah mendarat di bibirnya bersamaan dengan air mataku yang turun dari pelupuk mataku. Aku menahan posisiku untuk tetap menciumnya membiarkan bibirku ini merasakan bibirnya lebih lama lagi tapi dia malah mendorongku hingga aku menabrak pintu ruangannya.

“APA YANG KAU LAKUKAN???” lantangnya merasa kesal.

Air mataku semakin deras ketika mendengar bentakannya padaku ditambah lagi rasa sakit yang kurasakan dipunggungku. Apakah ini sifat aslinya? Apakah ini sifat yang ia sembunyikan selama ini? Apakah sifat ini yang ia ingin tunjukan sebenarnya padaku?

“jadi ini sifat aslimu oppa? Apa kau tahu aku mencintaimu? Apakah kau tahu aku mencintaimu sejak 5 tahun yang lalu?” aku terisak, pertahananku akhirnya benar-benar runtuh, kakiku lemas aku menopang tubuhku dengan bersandar di pintu dan tanganku yang menggenggam knop pintu, “aku tahu kau menganggapku seperti anak kecil, tapi tahukah kau kalau aku merasakan sakit begitu mengetahui kenyataan bahwa sikapmu selama ini adalah palsu?”

“Joonyoung-ah..”

“Oppa. Aku tahu kau lelah bersamaku, mianhae aku telah merepotkanmu selama ini. Aku lebih suka menerima kenyataan kalau kau menunjukan sikap aslimu daripada mengetahui kenyataan bahwa perhatianmu selama ini adalah sebuah kebohongan, kau sadar kau sudah membohongiku selama 5 tahun dengan memberikan harapan palsu padaku”

“Mianhae..”

“Aku pikir pandanganmu dan pandangan Chanyeol oppa padaku sama ternyata tidak, aku kecewa oppa. aku merasa aku ini orang bodoh yang mengharapkan cintamu yang ternyata hanya sebuah kepalsuan” aku berdiri tegap dan membalikan tubuhku ke arah pintu bersiap membuka pintu namun kutahan.

“Aku akan pergi, maafkan aku karena telah merepotkanmu selama ini”

“Kau mau kemana?” kurasakan pundakku disentuh olehnya tapi kutepis tangannya, kutoleh ke arahnya dan dia mengepalkan tangannya di depan dadanya.

“aku akan ke Jepang bersama Chanyeol oppa” aku menggigit bibir bawahku dan menatap kembali matanya, “Aku pernah berharap perasaanmu sama seperti Chanyeol oppa yang tak memandang umur dan yang dia tahu hanya dia mencintaiku tapi aku rasa itu hanya mimpi yang tak mungkin terjadi”

“Joonyoung-ah..”

“Aku mencintaimu oppa, lupakan semua rasa sakitku selama ini karena perbuatanmu, dan oppa juga lupakan semua tentangku. Aku akan menjaga perasaanku padamu di hatiku dan membiarkannya menjadi mimpi. Memimpikan mimpi indah tentang cinta kita”

Kuputar knop pintu dan berjalan perlahan keluar ruangannya. Aku tak mendengar sepatah katapun lagi darinya tapi aku mendengar sesuatu sebelum aku benar-benar menutup pintu ruangannya, tangisnya. Dia menangis. apa kau menyesal Tao oppa? Kau tahu apa yang kurasakan selama ini? Aku Cuma bisa berharap aku masih bisa memimpikanmu sebagai kekasihku dalam mimpi indahku sampai posisimu benar-benar tergantikan oleh seseorang yang akan menjadi cintaku selanjutnya setelah dirimu.

END

Iklan

94 pemikiran pada “A Girl Meets Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s