Careless and Mindless (Chapter1)

Author             : @Tanti_ChoQorry

Main cast         :

Oh Sehun.

Byun baekhyun,

Song Jiyoo

Other cast        :

Park Chanyeol

Song Sheina

Genre              : Angst, school life, friendship, romance.

A/N                 : Song Jiyoo, plot and the story’s mine. Byun baekhyun, Oh Sehun and Park Chanyeol belongs to god and Their parents.

Happy read

 

Orang bilang, ikatan persaudaraan kandung itu sekental darah yang mengikat mereka. Tapi bagiku, ikatan itu bahkan lebih cair daripada es yang meleleh.

 

Song Jiyoo Pov

“Pagi, eomma. Appa !” sapaku saat aku melihat keduanya sedang duduk di meja makan dengan Appa yang sibuk melihat PC tabsnya, membaca Koran seperti biasa dan Eomma yang sedang menata makanan di meja.

“Hemm.. Pagi,” jawab Appa dan Eomma bahkan tanpa melihatku sedikitpun, seakan enggan menatapku.

Aku langsung duduk di kursi dan mengambil selembar roti panggang yang sudah tersedia diatas meja. Mengambil selai cokelat kesukaanku dan mengoleskannya sedikit.

“Sheina-ya kau sudah siap nak? Aigoo… mokgo palli!!” teriakan eomma membuatku yang tadinya ingin melahap rotiku seketika membuat tanganku hanya berada di udara tanpa memasukan makanan itu sedikitpun ke mulutku.

Sapaan eomma yang cerah dan riang itu sedikit membuatku iri. Oke anggaplah aku egois karena iri pada adikku yang teramat sangat di manjakan oleh kedua orang tuaku.

“Eomma, Appa, Jiyoo-ya anyeong,” sapanya cerah.

“Ne.. Sheina-ya, palli Mokgo,” kini appaku mematikan Ipadnya dan sedang tersenyum pada adikku seraya menyuruhnya duduk.

Kulihat Sheina tersenyum dan langsung duduk tepat disebelahku, eomma dengan sigap menarik dua helai roti dan mengoleskan selai strobery ke atasnya.

Song Sheina, dia adalah adik perempuanku satu-satunya. Gap usia kami hanya terpaut 1 tahun, tapi jenjang sekolah kami 2 tahun berbeda karena aku yang mengambil akselerasi. Aku sudah kelas 3 Senior High school sedangkan Sheina masih kelas 1.

Eomma menyodorkan dua helai roti yang ia tumpuk itu pada Sheina, dan Sheina menerimanya dengan senang hati tentu saja dan sedikit memberikan lirikan kepadaku seakan lirikan itu berarti ‘Eomma hanya milikku’. Aku tidak bergeming membalas lirikannya itu.

Mendadak perutku terasa keram. Ah tidak….

“Eomma, Appa. Sheina-ya, aku berangkat duluan. Pagi ini aku ada kelas olahraga,” ucapku sambil berdiri.

Eomma menatapku sekilas dan melanjutkan aktivitasnya memakan sarapan di piringnya.

“Ne.. hati-hati di jalan,” ucapnya.

Aku hanya mengangguk dan keluar dari rumah dengan perut yang masih saja kram. Astaga… akhir-akhir ini kenapa perutku sering sekali terasa tidak beres seperti ini.

Kuabaikan rasa sakit itu dan berjalan pelan menuju halte bus yang jaraknya tak jauh dari rumahku. Kalau kalian bertanya kenapa aku tidak berangkat dengan Sheina. Jawabannya adalah karena aku tidak tahan dengan ucapan-ucapan Sheina yang seakan pamer padaku tentang kasih sayang orang tua kami.

Bus berwarna hijau itu sudah ada dihadapanku sekarang, aku naik perlahan masih memegangi perutku yang masih terasa sakit meskipun tidak sesakit tadi. syukurlah busnya tidak penuh dan aku tidak perlu berdiri sampai ke sekolah.

Kuperhatikan jalanan lewat jendela dekat tempat dudukku. Pikiran aneh itu mendadak menghampiri otakku begitu saja.

Semenjak data tentang kesehatanku dan Sheina 3 bulan lalu dan menyatakan kalau Song Sheina—adikku dinyatakan menderita gagal ginjal stadium 2, orang tuaku menaruh perhatian lebih padanya. Mungkin karena saking perhatiannya, mereka bahkan mengabaikanku dan sepertinya melupakan fakta kalau mereka punya anak gadis lain yang masih butuh perhatian dan sialnya anak gadis yang butuh perhatian itu adalah AKU.

Sheina, aku tidak pernah membencinya sedikitpun meskipun ia selalu dengan terang-terangan mengatakan padaku kalau ia akan mengambil seluruh perhatian kedua orang tua kami. Dan dia berhasil. Aku bukanlah seorang eonni yag egois yang akan menyiksa atau membully adikku hanya karena aku kalah saing dalam merebutkan perhatian orang tua kami.

Setidaknya aku masih memikirkan kesehatan anak itu. bagaimanapun juga, meskipun ia seperti terlihat baik-baik saja dan selalu berwajah ceria, tapi fakta tentang penyakitnya tidak bisa kuabaikan begitu saja.

Kupegang lagi perutku dan sekarang sudah tidak terasa sakit lagi. Syukurlah, sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu sibuk mempersiapkan mental untuk ujian Negara hingga membuatku kelelahan sendiri.

 

Aku berjalan menuju kelasku dengan sedikit gontai. Aku tidak memakan sarapanku tadi L

“Jiyoo-a !!” teriak seseorang.

Aku menoleh, mendapati baekhyun yang sedang nyengir lebar di belakangku, lengkap dengan sebuah tas yang aku yakini berisi stik drum tersampir di lengan kirinya.

“Baekki-a, jangan berteriak-teriak begitu. Kau membuat semua orang memerhatikanmu tahu!!” cibirku dan baekhyun hanya menampakan cengiran lebar itu lagi.

“Biarkan saja. Lagi pula memerhatikan orang tampan sepertiku tidak ada ruginya,” ucapnya PD sambil mendorong tubuhku masuk ke kelas.

“Nah tuan putri, Silakan duduk,” ucapnya sambil menarik sebuah kursi yang sudah kutempati semenjak aku berada di tingkat 3.

“Ya!! Baekki-a kau berlebihan,” cibirku.

Ia tersenyum lagi dan duduk di kursinya yang ada di depanku. Pria di depanku ini terlalu keranjingan memamerkan senyumnya kurasa. Yeah… walaupun kuakui senyumnya memang manis.

“Anieyo. Ini adalah Manner keluargaku. Aku kan sudah bilang kalau…..”

“Wanita harus di dahulukan…” potongku cepat. Haaa….h ucapannya tidak pernah jauh-jauh dari manner keluarga Byu.

“Nah itu kau tau,”

“Sejak kapan kau bisa main Drum Baekki-ah?” tanyaku.

Baekhyun mengalihkan pandangannya melihat tas stik drumnya yang masih tersampir di lengan kirinya. “Ah igo…” tunjuknya. “Chanyeol bilang ia akan mengajariku sepulang sekolah. Mau ikut? Dia juga menyuruhku untuk mengajakmu,” lanjutnya.

“Andwae !! aku tidak mau berdekatan dengan Park Chanyeol lagi. Sudah cukup ia mempermalukanku dengan memelukku di tengah lapangan waktu itu!” ucapku sambil bergidik ngeri dan Byun Baekhyun itu malah cekikikan melihat penolakanku.

“Kau masih mengingatnya? Dia kan tidak sengaja Yoo~ lagipulan romantic sekali kan berpelukan di tengah lapangan seperti itu?” godanya.

“Iya. Dan dia salah orang !! kau pikir seberapa mirip wajahku dengan Oh Sehun eh? Lagipula untuk apa dia memeluk Sehun? Apa mereka berdua pasangan YAOI?”

Pletakkk

Mwo? Siapa yang memukul kepalaku? Baekhyun di depanku dan ia tidak melakukan apapun padaku apalagi menjitak kepalaku. Kutolehkan kepalaku ke samping dan sudah menemukan seorang namja tinggi yang sedang berkacak pinggang sambil menatapku garang.

“Ekhemm… nona Song. Bisa kau ulangi ucapanmu tadi?” desisnya dengan nada rendah yang mengancam. Oh sehun.

“Aha-ha-ha Uri Sehun-nie wasseoyo. Aigoo… anak tampan. Aku tidak mengucapkan apapun tadi, benarkan baekki-a?” ucapku sambil melirik tajam pada baekhyun yang sedang tertawa geli di bangkunya.

“aisshh Berhenti mengatakan aku dan Chanyeol itu pasangan Yaoi Yoo~,” rengeknya sambil menarik kursi di belakangku. Aku, BaekHyun dan Sehun adalah sahabat sejak pertama kali kami masuk ke sekolah ini. Mereka berdua juga mengambil kelas akselerasi sama sepertiku.

“Keurae… Chanyeol itu pasangan baekhyun, jadi kau mau kupasangkan dengan Awww…Ya !! Byun BaekHyun kau mau mati hah?!” teriakku saat baekhyun memukul lenganku dengan cukup keras.

“Mwoya… kau menyebutku pasangan dengan Chanyeol? Kau pikir aku pasangan Yaoi juga ha?”

Kali ini sehun yang tertawa, ia lalu menarik tanganku dan menempelkannya ke dadanya. Sejenak membuatku terdiam seketika. Tidak biasanya pria pervert itu bertingkah sok serius seperti ini.

“Aku ingin berpasangan denganmu Yoo~~” ucapnya di dramatisir sambil menggenggam tanganku.

Apa-apaan dia.

“Ya!! jiyoo milikku Sehun-ah. Kau tidak bisa mengambilnya dariku!” ucap Sehun dan berdiri di depanku sekaligus melepas genggaman tangan baekhyun yang terpaut di jariku.

Aisshhh mereka ini sebenarnya apa yang mereka lakukan? Benar-benar memalukan. Untung saja teman sekelasku yang lain tidak terlalu memerhatikan kami.

“Baekhyun-ah awass. Kau menghalangi jarak pandangku dari uri jiyoo,” ucap sehun.

“Neo…”

TTtteeeeeeetttt

Suara bel itu seperti nyanyian kedamaian bagiku saat ini. Setidaknya bisa menghentikan perdebatan omong kosong di pagi hari antara Byun Baekhyun dan Oh sehun.

 

______ ____

@ rest time.

Aku berjalan sedikit terseok keluar dari toilet. Perutku mendadak mual. Mungkin efek aku tidak sarapan. Tapi kenapa rasanya benar-benar menyiksa sekali. Aku bahkan memuntahkan makan malam kemarin yang kumakan (?)

“Jiyoo-ya,” aku menoleh dan mendapati adikku sheina sedang berlari menuju kearahku sambil membawa sebuah buku yang entah buku apa itu.

“Wae Na-ya?” tanyaku, emncoba mengabaikan mual yang masih terasa.

“Igo. Tolong kerjakan untukku. Siang ini harus jadi ya. aku lupa mengerjakannya!” ia menyerahkan buku tulis itu padaku dengan wajah memelasnya.

“Tapi aku ada kelas dance setelah istirahat nanti Na-ya. dan itu artinya aku tidak bisa mengerjakannya saat aku sedang latihan,” ucapku.

Kulihat muka Sheina merengut sebal mendengar ucapanku. Membuatku tak tega melihatnya berekspresi seperti itu. “Baiklah… baiklah.. akan kuselesaikan sebelum jam istirahat berakhir. Nanti kau ambil ke kelasku 10 menit sebelum jam istirahat berakhir!”

“Shireoo. Kau saja yang mengantarkannya ke kelasku jiyoo-ya.” ucapnya dan langsung pergi begitu saja meninggalkanku yang hanya bisa mendesah berat.

Tidak apa Yoo~ apa yang kulakukan ini tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami Sheina karena penyakitnya.

 

“Yoo~ makan dulu. Kenapa kau malah mengerjakan tugas? Memang tugas siapa itu? seingatku minggu ini kita tidak ada tugas sama sekali,” ucap BaekHyun.

“Nanti saja baekki-a, kalau aku tidak mengerjakannya dengan cepat. Adikku bisa dihukum karena tidak bisa mengumpulkan buku tugasnya,” jawabku dengan tangan yang masih cekatan menuliskan deretan angkan di buku itu.

Tiba-tiba ada yang menarik pensil yang sedang kugunakan hingga aku tidak bisa melanjutkan pekerjaanku. Oh sehun.

“Ah.. haebwa~” ucapnya sambil menyodorkan sepotong roti ke mulutku.

“Sehun-ah, aku sedang.. hmmm. Ya !!” sehun menjejalkan roti isi itu ke mulutku hingga aku sulit untuk bicara.

“Pokonya kau harus makan. Aku tidak mau tahu!” ucapnya sambil melipat tangannya di depan dada. Haaa…h sifat pemaksanya kambuh lagi.

Kutatap Baekhyun dengan penuh harap, tapi pria imut itu malah melakukan hal yang sama dengan Sehun. Melipat kedua tangannya di dada, tanda mereka sedang berusaha mengintimidasiku dengan wajah imut palsunya.

“Arasseo..” ucapku sambil mengunyah roti itu dan kulihat mereka bedua berhigh five ria. Ck.. dasar.

Aku mengambil kembali pensil yang sempat diambil Sehun dan kembali mengerjakan tugas Sheina, tapi dengan mulut yang terus di jejali makanan oleh kedua bocah itu.

 

______ ______

“Aku pulang !!” teriakku membahaa saat aku memasuki rumahku.

“Kenapa baru pulang Song Jiyoo? Ini sudah sore. Apa saja yang kau lakukan di luar rumah sampai pulang sesore ini!” ucap Appaku.

Aku menunduk tanda minta maaf pada appa, “Aku baru saja latihan dance bersama Sehun dan Baekhyun,” jawabku.

“Adikmu sedang sakit parah dan dia butuh teman di rumah. Kau sebagai Eonninya harusnya menemaninya. Bukan malah bersenang-senang di luar rumah bersama temanmu.!” Ucap appa dengan suara yang mengeras.

“Ne… arasseo appa. Tidak akan kuulangi lagi,” ucapku.

“Sekarang mandilah dan setelah itu bantu Sheina mengerjakan tugas sekolahnya. Kasihan dia terlalu kelelahan hari ini,”

“Ne…”

Kulempar tas gendongku ke sembarang arah. Tidak ada sapaan selamat datang saat aku pulang. Tidak ada ajakan untuk makan malam dan tidak pula pelukan hangat dari kedua orang tuaku. Sekali ini, bolehkah aku egois dengan mengatakan aku iri setengah mati pada adikku?

Pelukan itu, sapaan itu, ucapan hangat itu hanya tertuju untuk adikku saja. Tidak lagi tersisa kasih sayang mereka untukku.

Bolehkah aku membenci adikku Tuhan?

Aku tidak sanggup jika benar-benar harus kehilangan kasih sayang itu sepenuhnya.

 

Iklan

38 pemikiran pada “Careless and Mindless (Chapter1)

  1. Kalo jadi jiyoo emang menderita banget.. Kasihan jiyoo di pilih kasihin sama ortunya sendiri. Dan sheina juga kok semena menanya sih sama si jiyoo?? Kan kasihan jiyoo.. Untung aja ada sehun sama baekhyun yg jadi temen dan sahabat jiyoo.. Btw kenapa sama perutnya jiyoo? Apakah maag? Atau gangguan lainnya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s