Differences of the Twins’ Fate (Chapter 3)

Title: Differences of the twins’ fate [Part 3]

Author: Laras (@Laras_MoonHee)

Length: chapter

Genre: Romance, angst

Ratted: Teen

Cast:

–          Jung Jooyeon

–          Oh Sehun

–          Jung Miyeon

Other Cast:

–          Park Chanyeol

–          Choi Shinyoung

Note: Annyeong.. Laras disini. Mian kalau agak lama, otak saya lagi sedikit macet gara-gara ujian sebentar lagi. Doakan aku semoga saya lulus, amin. Aku sedang buka request nih tapi kalian harus ke twitterku dulu, facebook atau Me2day dan itu juga setelah aku selesai UN mendatang. Twitterku namanya @Laras_MoonHee. Fb ku Hardianti Budhilaraswati. Me2day-ku Laras794. Kalau mau ngajak kenalan atau ngobrol juga boleh (Kebanyakan promo nih). Kelamaan Happy reading semuanya… #Lambai-lambai. Jangan lupa comment ^^ #diseretSehun.

Sehun POV

“Jawab pertanyaanku” ujar Tuan Jung kepadaku dan Miyeon untuk kedua kalinya karena kami sejak tadi tak kunjung menjawab pertanyaan yang menyangkut masa depan anak bungsunya itu.

Aku tatap Jooyeon yang masih duduk di balkon ruang rawatnya, ia sempat tertunduk dan sekarang dia menatap ku dengan pandangan yang tak dapat kudefinisikan. Aku melihat kemarahan, kesedihan dan pengharapan tapi tak lama ia mengalihkan pandangannya padaku, yang tersirat di matanya itu adalah kekecewaan.

“Sudahlah” kata Jooyeon dan membuat semua yang mengisi ruangan ini memandangnya, dia bangkit dari duduknya dan menuju ranjangnya. Ia membaringkan dirinya di ranjang itu dan menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya, “Keluarlah aku mau istirahat” ujarnya halus atau bisa dibilang parau, aku yakin dia mau menangis.

“Tapi Jooyeon..” elak Tuan Jung namun kata-katanya terpotong oleh perkataan Jooyeon.

“Jangan paksa dia, aku juga tak suka kalau dia terpaksa,” kata Jooyeon sembari membenarkan posisi tidurnya menjadi miring membelakangi kami, “Dan aku tak butuh kalian, pergi. Jangan datang lagi, aku ini hanya aib kalian. jangan temui aku lagi.” Ucapnya begitu parau hingga namun kata-katanya itu membuat keluarga Jung terkesiap, mungkin mereka tak menyangka akan ditolak oleh Anaknya sendiri.

“Jooyeon kami akan mem..” lagi-lagi perkataan Tuan Jung dipotong lagi oleh Jooyeon, aku yakin Jooyeon sudah merasa kesal karena terganggu oleh keberadaan kami dan ditambah lagi kata-kata tuan Jung.

“Tak usah lakukan apapun untukku, anggap aku sudah berkeluarga. Kalian tak usah repot-repot mengurusiku, aku tak suka diurus oleh kalian yang telah membuat hidupku menderita” sekarang dia mulai membenamkan kepalanya ke dalam selimut, “Kim ahjumma, suruh mereka pergi” ujarnya pada wanita paruh baya yang sejak kemarin menemani Jooyeon.

“Keluarlah, mengertilah kondisi Jooyeon” mohonnya pada kami, dan kami berjalan mundur menuju keluar, “Dia tertekan karena kalian jadi biarkan dia tenang dahulu” kata Wanita itu dan kami hanya tertunduk tak mengatakan apapun.

Jujur aku bingung harus bagaimana, apa yang akan kulakukan selanjutnya pun aku tak tahu. Aku menyukai Miyeon tapi aku malah meninggalkan adiknya yang seharusnya jadi pertanggung jawabanku. Namun, aku sejak dulu tak pernah merasakan kalau Miyeon menyukaiku. Dia mengatakan cinta padaku tapi aku tak pernah merasakan kalau kata-kata itu begitu menyesap, kata-kata itu seperti hanya sebuah untaian kata tak bermakna seperti angin yang berlalu.

Author POV

3 hari Jooyeon dirawat di rumah sakit ia akhirnya memilih pulang ketika Keluarga Jung, Sehun dan Chanyeol tak datang mengunjunginya. Jooyeon tak mau keberadaannya diketahui oleh mereka, ia Cuma ingin hidup tenang bersama anaknya tanpa menyangkut pautkan dengan orang-orang yang tak menerima keadaannya dan membuat Jooyeon menderita. Hanya Kim Ahjumma yang mau menerimanya dan tetangganya jadi ia memilih bersama mereka karena rasa aman dan nyaman yang sudah ia rasakan dimasa penderitaannya. Semua itu rasanya seperti takkan ia temui lagi dilain tempat.

“Eonnie kau sudah sembuh? Kau baik-baik saja? Tak ada masalahkan? Bayimu bagaimana?” cecar Shinyoung yang baru saja kedatangan kunjungan Jooyeon yang ingin melihat keadaan yeoja yang sudah sangat baik padanya setelah Kim ahjumma dan dia juga yeoja yang sudah dianggapnya seperti dongsaengnya sendiri.

“Nan gwaenchana Shinyoung-ah, kau bagaimana?” tanya Jooyeon balik lalu merangkul Shinyoung masuk kedalam mini market.

“Ish Eonnie lihat aku sehat-sehat saja. Aku walaupun tertiban Gedung berlantai 12 pun juga akan baik-baik saja” tepuk Shinyoung di dadanya sendiri tapi kata-katanya itu malah membuat dirinya mendapatkan jitakan dari Jooyeon.

“Hei kuyakin setelah itu kau harus menunggu Hercules menjemputmu jika kau tertiban gedung berlantai 12 itu. bahkan 5 abad kau menunggupun Hercules takkan datang hahaha..” canda Jooyeon yang diselingi tawa olehnya, Shinyoung menggembungkan pipinya tapi tak lama dia malah ikut tertawa dengan Jooyeon.

—–

Shinyoung setelah selesai bekerja memutuskan untuk menemani Jooyeon untuk jalan-jalan ke taman, katanya Jooyeon itu keinginan anaknya dan membuat Shinyoung mau tak mau harus menurutinya. Shinyoung yang merupakan anak yatim piatu tak pernah merasakan kehadiran keluarga dalam kehidupannya, tapi sejak bertemu dengan Jooyeon 5 bulan lalu Shinyoung merasa Jooyeon seperti keluarga yang diberikan tuhan untuknya. Ia sangat sayang pada Jooyeon dan ia termasuk posesif tak mau Eonnienya itu direbut bahkan oleh keluarganya sendiripun ia merasa cemburu.

Seperti kejadian pertemuan Keluarga Jung dan Jooyeon beberapa hari yang lalu di mini market, Jooyeon bukan merasa iri melainkan cemburu dan takut Eonnie kesayangannya itu akan dibawa pergi tapi ternyata tidak ia malah kembali beberapa jam yang lalu.

“Eonnie,” panggil Shinyoung pada Jooyeon ketika mereka sedang berjalan menuju taman tapi sepertinya Jooyeon tak mendengar. Jooyeon tetap melanjutkan jalannya, Shinyoung yang ragu-ragu untuk bicara akhirnya kembali mengurungkan niatnya itu.

“Aku ingin makan Pizza” gumam Jooyeon dan membuat Shinyoung menoleh padanya, “Ayo kita kesana Shinyoung-ah, aku akan mentraktirmu” ajak Jooyeon pada Shinyoung, karena tak sabaran apalagi dengan jalan Shinyoung yang memang diketahui lambat membuat Jooyeon menggenggam tangan Shinyoung dan menariknya.

“Hangat” gumam Shinyoung, “Eonnie jika Eonnie berkeluarga apa Eonnie akan meninggalkanku dan takkan menggenggam tanganku seperti ini lagi?” tanya Shinyoung tapi Jooyeon hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman yang menjadi pertanyaan bagi Shinyoung.

Mereka sampai di restaurant yang menyediakan Pizza, Jooyeon menyuruh Shinyoung duduk. Shinyoung sendiri masih dalam keadaan bertanya-tanya, ia sangat ingin mengetahui jawaban dari Jooyeon tapi setelah Jooyeon duduk ia tak mengatakan apapun, diam.

“Eonnie” panggilku.

“mmm..” jawabnya yang sedang asik menyesapi milkshake vanillanya.

“Eonnie belum jawab pertanyaanku tadi” ucap Shinyoung dan membuat Jooyeon berhenti meminum Milkshake vanillanya itu dan menatap Shinyoung.

“Aku takkan meninggalkanmu, karena kamu adalah orang yang berarti kedua bagiku yang pertamanya adalah Kim ahjumma semua itu setelah aku aku tak punya keluarga. Kalau aku kehilangan kalian itu berarti aku kehilangan keluargaku dan aku tak mau itu terjadi. Jika aku benar-benar menikah, aku akan mengajakmu bersamaku dan statusmu yang sebagai adikku” jawaban Jooyeon sedikit membuat Shinyoung lega tapi ia masih ragu apa dia benar-benar takkan meninggalkannya.

“Bagaimana jika aku yang berkeluarga?” tanya Shinyoung dan membuat Jooyeon terbatuk-batuk mendengarnya.

“Sadarlah kau masih 16 tahun, tak mungkin kau menikah” Seru Jooyeon yang menggelengakan kepalanya berulang kali.

“Memang kenapa?” tanya Shinyoung polos.

“Mati kau ditanganku,” dengus Jooyeon dan membuat Shinyoung terkekeh melihat sikap Eonnienya itu.

“Anniyo Eonnie, berkeluarga bukan berarti aku menikah. Aku mempunyai orang tua, kakak atau adik” ucap Shinyoung lagi dan Jooyeon mengangguk pelan lalu menatap Adiknya itu, “Ottae?”

Jooyeon berdiri ia pindah tempat duduk di samping Shinyoung dan mengelus kepala Shinyoung pelan, “Kalau kau begitu menginginkan untuk hidup bersama keluargamu, aku menerima saja. Aku tak bisa egois, kau mempunyai keluarga dan aku tak mungkin memonopolimu. Kau pasti sangat merindukan keluargamu itu kan?”

Shinyoung mengangguk pelan, ia memeluk Jooyeon tak peduli dengan pandangan orang-orang disekitar mereka yang memandangnya dengan begitu aneh. Tak lama sampai akhirnya Shinyoung menangis, ia sangat suka ketika berada di pelukan Jooyeon. Ia tenang, ia merasa seperti dilindungi oleh Jooyeon meski ia tahu seharusnya dialah yang melindungi Jooyeon karena sedang mengandung, tapi apa salahnya ia merasa dilindungi tepat di hatinya bukan fisiknya.

“Aku sayang padamu Eonnie, kau adalah keluargaku yang berharga” ucap Shinyoung yang masih memeluk Jooyeon.

“Na do” jawab Jooyeon dengan anggukan dan sebuah senyuman mereka di bibir tipisnya itu.

—–

“Shinyoung-ah” panggil Jooyeon ketika mereka sedang asik berjalan di taman dan menikmati es krim cup yang baru saja di beli mereka di counter Es krim sekitar Taman yang mereka lewati saat ini.

“Nae?” toleh Shinyoung padanya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Jooyeon, Shinyoung sempat bingung ‘itu’ yang dimaksud Jooyeon apa, tapi tak lama ia mengerti itu pasti pembicaraan serius mereka setengah jam yang lalu.

“Eonnie” runduk Shinyoung dan tiba-tiba saja langkahnya terhenti, “Akhirnya aku menemui keluargaku, lebih tepatnya mereka yang menemuiku” ucap Shinyoung dan membuat Jooyeon melebarkan matanya.

“Jeongmal? Nugu? Mereka dimana?” tanya Jooyeon merembet.

“Aku akan dijemput oleh Oppaku nanti malam di mini market” jawabnya dengan sebuah senyuman merekah di wajahnya itu, sebenarnya Jooyeon sedikit kecewa karena ia akan berpisah tapi melihat senyumannya membuatnya ikut tersenyum.

“Aku penasaran” angguk Jooyeon pelan.

“Eonnie pernah bertemu kok dengannya” kata Shinyoung sembari berjalan mendahului Jooyeon untuk membuang cup es krimnya itu, “Aku sangat ingin Eonnie menikah dengan Oppaku” lanjutnya begitu riang.

“Nae??” kejut Jooyeon mendengarnya, “Na? (Aku?)” Pekik Jooyeon.

Shinyoung mengangguk antusias dia lalu menggandeng Eonnienya itu dan mencoba merayunya dengan aegyonya yang sebenarnya tak berhasil untuk Jooyeon, “Jebal, Eonnie takkan pernah menyesal. Aku juga membutuhkan Eonnie disisiku”

“tapi kondisiku..” elak Jooyeon yang mengelus perut buncitnya itu.

“Oppaku sudah tahu, dia sangat tampan. Kajja Eonnie kita tunggu Oppaku di mini market” tarik Shinyoung di tangan Jooyeon tanpa menunggu penolakan lagi dari sang pemilik tangan.

—–

Jooyeon sejak tadi hanya duduk di kursi yang ada di kasir, lebih tepatnya sekalian kerja. Ia sudah menunggu 2 jam dan sekarang jam 10 malam tapi Oppanya Shinyoung belum datang juga. Bukankah itu sangat mengesalkan, bagaimana bisa seorang kakak membiarkan adiknya bekerja di atas jam 10. Oke kesan pertama untuk Oppanya Shinyoung bagi Jooyeon adalah Bodoh.

CKLEK

Pintu terbuka Jooyeon melihat seorang namja dengan coat cokelatnya. Ia masuk sendirian dari pakaiannya bisa dibilang ia dari kaum berada tapi dari wajahnya membuat dia harus mengernyitkan dahinya. Kesal? Tentu, yang datang malah Nappeun namja yang sangat ia benci, Oh Sehun.

“untuk apa kau kesini?” sinis Jooyeon pada Sehun.

“Jooyeon” Kejut Sehun menunjuk ke arah Jooyeon.

Jooyeon menurunkan tangan Sehun untuk menunjuknya, “Kau seperti menunjuk seorang penjahat, sedang apa kau disini?” tanya Jooyeon untuk kedua kalinya.

“aku mau menemui dongsaengku” jawabnya sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok seseorang yang dicarinya.

“Dongsaeng?” heran Jooyeon setahu dia disini Cuma ada dirinya dan Shinyoung.

“Oppa” terlihat Shinyoung berlari kecil dan akhirnya ia memeluk Oppanya itu, Sehun.

“Jadi dia Oppamu?” tanya Jooyeon tak percaya dengan pemandangan dihadapannya itu.

“Nae”

“MWO?!”

To Be Continued

Iklan

70 pemikiran pada “Differences of the Twins’ Fate (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s