Only You (Chapter 2)

Author             :TantiKyuHee

Main cast         : Kai (Kim Jong In EXO) as herself.

Song Jiyoo as YOU..

Genre              : AU, Romance, friendship, love story.

Length             : continued..

Disclaimer       : Plot, Song Jiyoo and the story is Mine, Kai belongs to God and Himself.

~~~Happy read~~~

 kubuka mataku saat kurasakan ada sepasang tangan yang mengguncang-guncangkan tubuhku dengan cukup kencang, membuat tidurku terusik.

“Ya!! ireona!”

“5 menit lagi, kumohon. Aku tidak bisa tidur semalam,” balasku sambil menarik selimutku hingga menutupi seluruh tubuhku.

Aku belum terbiasa dibangunkan oleh orang lain, ternyata tinggal lagi di rumah keluarga ini membuatku harus mendengar suara-suara menyebalkan di pagi hari. Ngomong-ngomong soal suara, bukankah suara ini… OMO..

“KAI !! sedang apa kau disini?!” teriakku kalap sambil menutup tubuhku yang hanya memakai tanktop ini dengan selimut.

Kai menatapku datar sambil memutar bola matanya “Membangunkanmu! Dan aku sudah melakukannya sekitar 15 menit”.

“Mi-mian. Sekarang aku sudah bangun, kau bisa keluar!”

Astaga apa yang kukatakan tadi? itu terdengar seperti aku sedang mengusirnya, yah meskipun memang itu tujuanku. Tapi, ini rumahnya dan aku tidak berhak melakukan hal itu padanya.

“Haelmoni menunggumu, dia ingin sarapan bersama,” jawabnya sebelum keluar dari kamarku.

Kutarik nafasku pelan dan berat. Dulu kai juga sering sekali membangunkanku di pagi hari karena aku amat sangat sulit untuk terbangun. Tapi, caranya dulu dan sekarang sangat berbeda. Kai yag dulu akan langsung membekap wajahku dengan bantal hingga aku sulit bernafas dan akhirnya terbangun, atau ia akan menyiramku dengan air dan yang paling parah adalah ia akan menyeretku langsung ke kamar mandi dan memasukkanku ke dalam bathub. Cara yang kejam memang, tapi aku menyukai cara kejam itu asal kai yang melakukannya.

Aisshh apa yang kupikirkan?

Sudah kubilang tinggal bersama lagi dengan Kai beresiko membuatku kembali jatuh dalam pesonanya untuk yang kesekian kalinya dan aku tak mau itu terjadi lagi, jika pada akhirnya aku yang akan menelan rasa sakit itu lagi.

 

“Kalian kan satu kampus, kenapa tidak pergi bersama saja?” titah haelmoni saat aku pamit duluan untuk pergi ke kampus.

“A-anieyo Haelmoni. Aku tidak mau merepotkan Kai,” tolakku.

Nenek Kim hanya menggelengkan kepalanya, “Kau kan kekasihnya, sudah sepantasnya kau merepotkannya jiyoo-ya. pokoknya aku tidak mau tahu! Kalian harus pergi bersama dan pulang bersama!”

“Tapi,….”

“Jiyoo-ya kajja! Haelmoni, kami berangkat!” teriak Kai sambil menarik tanganku dan menggenggamnya, hangat. Genggaman yang selalu kuidamkan akan kurasakan, dulu.

Kulihat nenek Kim mengukir senyum puas di bibirnya yang sudah mulai keriput. Haa..h Kai, kau terlalu memberi harapan kosong pada haelmoni.

Kai mulai melajukan mobil merahnya di jalanan, hening sekali. Ia ataupun aku tidak ada yang berinisiatif duluan memulai percakapan. Padahal dulu,….. ah berhenti membandingkan Kai dulu dan sekarang jiyoo-ya, Kai atau Kim Jong In yang dulu dan sekarang amatlah sangat berbeda. Pria itu sudah dewasa sekarang.

“Kai-sshi, kau bisa menurunkanku di halte bis terdekat. Aku tidak mau merepotkanmu lebih banyak lagi,” ucapku.

Kulihat dari sudut mataku, kai mendelik kearahku dengan mata elangnya. Apa aku mengatakan hal yang salah lagi padanya? Entahlah…

“Haelmoni tidak akan tahu kalau kita tidak berangkat bersama. Aku tidak mau terjebak dalam situasi canggung seperti ini!” ucapku lagi, lebih pelan dari sebelumnya.

Ckiiiiitttt

Kai menginjak remnya dengan mendadak, membuat tubuhku terdorong ke depan dan kepalaku membentur dashboard mobilnya karena aku tidak mengenakan sabuk pengaman tadi.

“Akh…” rintihku pelan dan semoga kai tidak mendengar rintihanku.

“Kalau kau mau keluar, Keluarlah!!” ucapnya dengan nada dingin yang kentara. Dia tidak menoleh sedikitpun kearahku, mungkin ia kesal padaku karena terlalu sering bicara. Entahlah..

“Ne, kamsahamnida Kai-ssi atas tumpangannya,” ucapku dan langsung keluar dari mobilnya.

Sedetik setelah aku keluar dari mobil merahnya, Kai langsung menginjak pedal gas dengan kuat hingga mobil itu melesat menjauh dari tempatku.

Aku tidak mau terjebak dalam keheningan bersama Kai, aku benci berada dalam situasi canggung saat bersamanya. Tapi kenapa kai terkesan seperti marah saat aku memintanya untuk menurunkanku? Bukankah seharusnya ia senang, karena tidak harus terjebak dalam situasi canggung bersamaku, terlebih ia tidak akan kerepotan menghadapi ucapan teman-teman kampus jika melihatku dengannya berada dalam satu mobil yang sama.

Entahlah. Aku, Song Jiyoo, tidak pernah sekalipun bisa menebak apa yang ada di pikiran pria itu.

 

Kami berpapasan saat berada di perpustakaan kampus, tapi saat matanya melihatku. Ekspresi dingin langsung tercipta di wajahnya dan itu membuatku merasa tidak enak sendiri pada Kai. Sepertinya ia marah atas kejadian tadi pagi.

Kuputuskan untuk berkeliling perpustakaan yang kebetulan siang ini cukup sepi, hanya terlihat beberapa mahasiswa yang sedang berdiskusi dan beberapa diantaranya memanfaatkan computer yang terdapat di perpustakaan kampus ini.

Aku menengadahkan kepalaku saat melihat buku Kalkulus yang kucari berada di deretan paling atas rak. Aku langsung mengambil tangga yang disediakan oleh pihak perpustakaan untuk membantu mengambil buku yang letaknya hampir tidak terjangkau untuk seseorang yang mempunyai tinggi 180cm sekalipun.

Aku menaiki tangga dan langsung mengambil buku tebal karangan Purcell dan verberg itu. tapi saat aku hendak turun, kakiku menginjak anak tangga yang salah hingga aku terjatuh dari tangga, tapi…

“Akh…” rintih seseorang, aku sepertinya jatuh menimpa seseorang. Astaga…

“Omo.. Kai-ah,” aku melihat Kai yang berada dibawahku sedang merintih sakit karena menahan beban tubuhku.

“Jong In-ah, gwenchanayo?” aku langsung menarik tubuhnya untuk terduduk setelah aku menyingkirkan tubuhku sendiri dari atas tubuh Kai.

Kai memegang lengannya yang kesakitan, “Jong In-ah mana yang sakit?” aku langsung menarik tangan kirinya dan meniup-niupnya pelan, berharap sakitnya sedikit mereda. Meskipun sepertinya itu mustahil.

“Jong In…” kudengar dia bergumam.

Kutengadahkan kepalaku, dan saat itulah… aku melihat tatapan kai yang dulu, tatapan hangat yang selalu ia berikan padaku dulu.

Jong In? Astaga… aku tidak sadar sudah menyebut nama aslinya sekaligus nama kecilnya, dia sekarang dipanggil Kai dan tidak banyak orang yang tahu kalau nama aslinya Kai.

“Ah.. Mian, kau tidak suka aku menyebutmu dengan….Hmmpp”

 

Author POV

Kai menarik jiyoo mendekat kearahnya dan langsung menempelkan bibirnya di bibir mungil jiyoo, membuat gadis itu kehilangan akal sehatnya untuk sejenak.

Kai melumat bibir Jiyoo pelan saat merasa tidak ada perlawanan dari gadis itu, beruntung saat itu perpustakaan sedang sepi dan tidak ada yang memperhatikan apa yang kedua orang itu lakukan.

“K-kai,” ucap Jiyoo di sela lumatan Kai yang mulai mengganas di bibirnya.

Kai tidak menggubris ucapan Jiyoo dan masih melumat bibir Jiyoo, tangannya menarik tengkuk jiyoo, memperdalam ciuman searahnya karena dari tadi Jiyoo tidak membalas atau menolak ciuman itu.

Setelah merasa kekurangan oksigen, Kai melepaskan lumatannya dari bibir Jiyoo dan menatap Jiyoo dengan pandangan datarnya lagi.

“Ke-kenapa kau lakukan itu Kai, aku…”

“Maaf…” hanya itu yang diucapkan Kai, setelahnya ia bangkit dari posisi duduknya dan pergi meninggalkan Jiyoo begitu saja.

Jiyoo memegang bibirnya yang masih basah akibat ciuman Kai, ia masih bisa merasakan sensasi dari bibir Kai saat menciumnya beberapa detik yang lalu.

“Kenapa kau lakukan itu padaku Kai,” gumam jiyoo dengan kepala tertunduk, “Harapan itu akan kembali muncul kalau kau memerlakukanku seperti ini,” lanjutnya.

 

Kai keluar dari perpustakaan itu dengan muka memerah dan penyesalan atas apa yang ia lakukan pada Jiyoo tadi.

Menyesal?

Tidak. Batin Kai. Ia hanya merasa bersalah karena merebut sebuah ciuman berharga dari gadis itu. kai sendiri tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu pada Jiyoo. Tapi saat gadis itu terlihat panic dan memanggilnya dengan nama aslinya, panggilan yang selalu ia berikan dulu padanya. Membuatnya melakukan hal memalukan seperti tadi.

Kai mengacak rambutnya frustasi mengingat hal itu, ia terlalu gegabah melakukan sesuatu.

 

“Yoo, kau darimana saja? Ahn seonsaeng mencarimu tadi,” ucap YoonHee saat jiyoo sampai di kelas Geometry nya.

“Aku dari perpustakaan,” jawab Jiyoo.

YoonHee memerhatikan jiyoo dari atas ke bawah, merasa ada yang aneh dengan penampilannya. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang berbeda dari penampilan temannya itu.

“Omo.. Keningmu? Apa yang terjadi?”

Jiyoo memegang keningnya yang terasa sedikit sakit. Aneh, sebelum YoonHee memeringatkan tentang keningnya, ia tidak merasa sakit sama sekali tapi sekarang tiba-tiba keningnya merasa berdenyut sakit.

“Menabrak tiang,” jawabnya asal. Tidak mungkin kan jiyoo bilang kalau luka itu akibat terbentur dashboard mobil Kai. Ia masih cukup waras untuk tidak mengatakannya pada sahabatnya yang mungkin akan langsung mendatangi Kai dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal Jiyoo masih merasa canggung dengan Kai, terlebih sesudah kejadian di perpustakaan.

“Jinjjayo? Tiang mana yang kau tabrak?” aisshhh, Kim YoonHee, kenapa kau menanyakan hal yang tidak penting seperti itu sih?

“Tiang dekat apartemenku,”

Oh.. satu hal yang tidak kuberitahukan pada YoonHee. Dia tidak tahu aku tinggal serumah lagi dengan Kai.

“Perlu kubelikan obat? Sepertinya memarnya cukup parah,” ucap YoonHee sambil menyentuh pelan kening Jiyoo.

Jiyoo langsung melepas penjepit rambut yang menahan poninya, hingga poni itu terlepas dan menutupi kening jiyoo dengan sempurna sekarang.

“Tidak terlalu sakit Yoon, lagipula aku tidak mau merepotkanmu,”

“Jiyoo-ya, Neo Nae Chingu-ya. aku tidak pernah merasa di repotkan olehmu,”

“Annie.. nanti aku akan mengobatinya sendiri. Yoon, sepertinya aku harus ke ruangan Ahn seonsaengnim sekarang, Anyeong,”

“Ne.. Anyeong…” YoonHee melambaikan tangannya pada sahabat dekatnya itu.

 

________ _____________

 

Kai membolak-balikan kertas yang sedang dipegangnya tanpa minat, tidak berniat membaca atau sekedar melihatnya sama sekali. Pria itu masih memikirkan tindakan bodohnya 2 hari yang lalu pada Jiyoo.

Dan 2 hari berlalu semenjak kejadian itu, hubungan Kai dan Jiyoo semaki canggung dari sebelumnya. Mereka berdua hanya bertegur sapa jika ada Nenek Kim, di kampus atau di tempat lainnya, keduanya bersikap seolah tidak saling mengenal satu sama lain.

Kai menyimpan kertas yang berisi partitur lagunya itu ke meja belajarnya dan melempar tubuhnya keatas ranjang empuknya.

Matanya menerawang menatap atap kamarnya, seakan atap kamarnya itu adalah sebuah wide screen yang sedang menayangkan kebersamaan Kai dan Jiyoo dulu.

‘Kau pergi tanpa berpamitan padaku, waktu itu. kau meninggalkanku dan tidak memberi kabar padaku. Kau membenciku Jiyoo-chan?’ gumam Kai pelan.

Tangannya merogoh saku jeansnya, mengambil sebuah ponsel layar sentuhnya. Tangannya bergerak lincah diatas screennya dan setelah menemukan apa yang dicarinya, Kai menatap sebuah foto yang memperlihatkan dirinya yang sedang saling merangkul dengan Jiyoo, foto yang sama dengan yang berada di dalam kamar Jiyoo.

‘Kalau kau memang membenciku, setidaknya kau harus beritahukan padaku apa alasannya Jiyoo-chan. Kau tahu aku hampir gila saat Haelmoni bilang kau pergi untuk hidup mandiri. Kau tahu betapa stressnya aku saat itu,’

Kai menyentuh Screen ponselnya dan memperbesar gambar itu. seakan ingin melihat dengan jelas senyum riang gadis itu lagi.

‘Jiyoo-chan’ gumamnya.

—————tbc————

Huaaaa…. Part ini gagal banget… feelnya kurang dapet *sadardiri. Dan pendek pula. Mianhae.

Kritik dan sarannya sangat author harapkan…

Keep RCL…

 

48 pemikiran pada “Only You (Chapter 2)

  1. Ow,aku baru menyadarinya! Ternyata nggak bertepuk sebelah tangan kan?! Kai suka ama jiyoo! Kalau nggk kenapa dia cium jiyoo?! Dia cuma marah ama jiyoo coz jiyoo keluar rumah tanpa pamit,tapi gimana dengan sheina?settingan?*banyak tanya gw*
    next aja dah!

Tinggalkan Balasan ke nuyunkk Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s