The Extrasolarman (Chapter 2)

Chapter 2

EXO [The Extrasolarman]

Author : @freshnoire

Cast: EXO with HunHan and BaekYeol pairing

Genre: Action, Adventure, Friendship, Romance

Rating: PG

Disclaimer: Anggota EXO milik Tuhan tapi cerita ini milik saya sendiri.

***

 

Someone POV

Aku tersentak kaget setelah menyadari bahwa aku sekarang ini berada di atas lantai yang kasar dan berdebu. Aku tidak terlalu ingat dengan apa yang telah terjadi sehingga aku tergeletak tak berdaya diatas tanah yang kotor ini. Aku bangun dan memandang keseluruh penjuru titik sudut yang dapat kulihat. Akhirnya aku sadar bahwa aku berada didalam sebuah kotak besar yang mengurungku dari beberapa runtuhan bangunan. Aku ingat, kediaman keluargaku mengalami musibah kebakaran. Aku yang terjebak didalam sendirian menjadi susah untuk keluar.

Aku berusaha bangkit tapi kotak besar ini membuatku tak berdaya, aku benar-benar terkurung. Tenagaku hampir habis karena terlalu banyak menggunakan telekinesisku untuk menyelamatkan anggota keluargaku yang lain. Tapi malah aku sendiri yang terjebak di kotak besar ini. Aku terus mencoba, mana tahu kekuatanku masih tersisa sedikit untuk menganggkat benda berat ini.

“Ahhh! Benar-benar tak bersisa. Bagaimana ini!”

Keadaan di kotak ini sangat gelap, aku jadi ingin tahu benda apa yang dapat mengurungku seperti ini. Sedangkan seingatku, ibu tidak pernah membeli kotak ini. Sebenarnya ini kotak apa sih! Besar sekali! Tapi dari dalam aku bisa mendengar suara-suara panik yang berasal dari luar. Bagaimana kalau teriak saja!

“Ayah, ibu! Keluarkan aku dari kotak ini!” aku menjerit sekencang-kencangnya agar mereka mendengarkan kalau aku berada di kotak ini. Tapi setelah beberapa detik kemudian tidak ada balasan sama sekali dari luar. Apa kotak ini kedap suara?

“Apa boleh buat, aku harus gunakan kekuatan ini selama aku masih sadar!”

Dengan sekuat tenaga aku berusaha membuat kotak ini terangkat, jika aku sedang bercermin mungkin urat-urat di kepalaku sudah tercetak jelas. Kedua tangan yang aku rentangkan sudah mulai gemetaran. Pasti bisa. Pasti bisa.

Dan ternyata Tuhan masih berpihak padaku, sedikit demi sedikit kotak ini terangkat dan tanpa berfikir panjang lagi aku berguling keluar sebelum kotak ini jatuh kembali ke tanah. Namun hasil yang aku dapat benar-benar membuatku sangat terkejut. Rumahku habis terlahap api dan kedua orang tuaku telah dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans. Aku berlari dengan menahan ketakutan menuju ambulans tersebut. Namun seseorang menarik tanganku dan membawa aku terbang.

Apa? Terbang? Bagaimana bisa? Dan bagaimana dengan kedua orang tuaku? Dia berusaha memisahkanku dengan mereka. Orang ini sangat kejam, apa maksudnya dari semua ini.

“Mereka sudah mati!” ucapnya dengan wajah sedikit datar namun dari matanya aku dapat melihat kalau dia menyesal dengan hal ini. “Apa?”

“Mereka…!”

“Kenapa kau cegah aku untuk menemui mereka dan memilih membawaku terbang, hah? Apa hakmu, Kris?” ujarku sedikit kasar dengan memotong perkataannya. Dia tampak kaget dan hanya tertunduk. “Dui bu qi, gege!”

Hanya itu yang bisa dijawabnya. Oh Tuhan, Kris aku ingin bertemu dengan mereka walaupun mereka bukan orang tua kandungku.

Wei she me?”

“Aku tidak ingin kau terlihat lebih sedih lagi setelah melihat tubuh mereka, gege. Aku tak ingin kau menangis lagi setelah kejadian itu!”

Oh Kris, jangan kau membuatku ingat kembali kejadian masa lampau itu. Aku sudah berusaha melupakannya. “Hao, aku mengerti perasaanmu, tapi aku minta satu hal darimu. Bawa aku kembali kesana, aku hanya ingin melihat mereka. Percayalah, Kris!”

Hao ba!”

Kris membawaku ke rumah sakit untuk melihat orang tua angkatku. Mereka tidak bisa aku kenali lagi, tubuh mereka hangus. Aku ingin sekali menangis tapi aku sudah berjanji pada Kris agar tidak menangis lagi. Mereka tetap orang tuaku walaupun aku bukan darah daging mereka sendiri. Aku tetap menyanyangi mereka. Qiyu de heping, fuqin he muqin! Wo ai nimen! Dan Kris membawaku kembali ke markas dengan perasaan campur aduk yang sangat sulit untuk dihilangkan.

End POV

***

Normal POV

Kai selalu berteleportasi kemana saja yang ia inginkan termasuk mengganggu hyungnya yang satu ini, Tao. Dia senang sekali melihat wajah marah Tao, entah apa enaknya melihat wajah seram Tao ketika sedang merasa iritasi dengan salah satu maknae dari organisasi ini.

“Hyung, sedari tadi aku tidak melihat Luhan-hyung. Kemana ya dia?” tanya Kai kepada si Tao yang sedang asyik dengan kegiatannya sendiri. Mengasah pedang. Uh….sangat menyeramkan. Tao yang ditanya hanya diam dan asyik sendiri. “Aishhh…hyung, aku sedang bertanya padamu!”

“Oh, kau bertanya padaku, ku kira kau bertanya pada pedangku!” dengan cepat Tao mengayunkan pedangnya kearah Kai namun hal itu tidak berhasil menebas Kai. Karena Tao kalah cepat dengan Kai yang sudah berteleportasi terlebih dahulu. Suho yang sedang membaca sebuah headline di Ipad miliknya langsung tersentak kaget karena Kai tiba-tiba muncul disampingnya.

“Aiishhh, bocah ini mengagetkan aku saja!”

Kai hanya bisa terkekeh karena berhasil mengerjai hyungnya. Suho kembali berkutat dengan iPadnya tersebut namun sebuah tulisan headline yang besar menarik perhatiannya. Headline itu berjudul “Rumah Kediaman Keluarga Duta Besar China Ludes Dilahap Si Jago Merah, Seluruh Keluarga Tewas”

Suho terbelalak dengan headline itu, apakah hal ini benar atau hanya rumor saja tapi dengan adanya bukti foto jurnalistik dari berita tersebut, Suho mau tidak mau harus percaya jika rumah keluarga Luhan kebakaran dengan menewaskan semua penghuni rumah. Suho mulai khawatir dengan Luhan. Apakah Luhan-hyung selamat?. Ah pasti selamat!

Melihat perubahan wajah pada hyungnya, Kai membaca berita tersebut dengan seksama. Sama halnya dengan Suho, Kai kaget dan mulai panik. “Bagaimana dengan Luhan-hyung?” tanya Kai pada Suho dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran. Suho yang belum tahu apa-apa hanya menggeleng.

“Dia baik-baik saja!” ujar sebuah suara dari belakang mereka. Ternyata si pemilik suara adalah Kris dan dia pulang membawa Luhan yang sedang tertidur di punggungnya. Suho dan Kai menghela napas lega, hyungnya baik-baik saja dan sepertinya Luhan terlihat sangat capek hingga ia tertidur di punggung Kris.

Kris membawanya ke kamar dan membaringkan Luhan dengan hati-hati. Tubuhnya tampak lemah dan penuh luka karena mencoba selamat dari kobaran api. Kris tahu kalau Luhan belum terlalu bisa mengendalikan kekuatannya. Karena Telekinesis membutuhkan kekuatan otak yang menguras tenaga.

“Kai, panggil Lay kemari. Suruh dia sembuhkan Luhan!” perintah Kris pada maknae itu. Tanpa bantahan, Kai berteleportasi dan langsung membawa Lay ke kamar Luhan.

“Apa yang terjadi pada Luhan-hyung?” tanya Lay dengan nada panik karena melihat keadaan Luhan. Lay dengan cepat menyembuhkan semua luka Luhan dan memberikan sedikit energinya untuk tubuh Luhan. “Dia mengalami musibah, rumahnya kebakaran dan kedua orang tuanya tidak bisa diselamatkan!” jawab Kris menunduk dalam mengingat kejadian tadi. Lay, Suho dan Kai yang mendengar hanya bisa menunduk berdoa untuk kedua orang tua Luhan.

“Nggh…Sehun!” Lay mendengar Luhan menyebut nama Sehun dan secara otomatis raut wajah Lay berubah menjadi sedih dan rasa penyesalan. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapa Sehun bagi Luhan?

Gege, ni hai hao ma?”

Luhan yang sudah sadar menjawabnya dengan anggukan lemah. Sepertinya ia benar-benar lelah. “Hyung, beristirahatlah. Kami ada di luar jika kau butuh bantuan.” Ucap Kai yang hendak meninggalkan Luhan untuk beristirahat. Luhan mengangguk lemah dan mengucapkan terima kasih kepada mereka dan terutama Lay dan Kris. Dengan berbagai macam pikiran mereka keluar dari kamar Luhan dengan sebuah rasa penyesalan dan kesedihan. Apa yang sebenarnya terjadi?

***

“Sepertinya Luhan hyung tidak bisa melupakan kejadian itu!” ujar Kai kepada Suho yang tampak berfikiran sama dengan Kai. “Kau benar, kejadian itu merupakan mimpi buruk baginya. Di benar-benar berubah setelah kejadian itu!”

“Berhentilah berbicara seperti itu, seharusnya kalian juga membantunya untuk melupakan Sehun!” ujar Kris tiba-tiba mengikuti alur pembicaraan. “Sepertinya itu hal yang mustahil, gege. Sampai kapanpun dan usaha apapun yang kita lakukan untuk membuatnya lupa itu sangat tak berguna. Sehun selalu saja menjadi bayangannya!” ujar Lay dengan nada rendah berharap Luhan tidak mendengarkan percakapan tabu ini. Sejenak mereka terdiam dan merenungi semua hal yang terjadi sehari ini. Pertemuan anggota baru dan musibah keluarga Luhan. Seseorang berhalan mendekati mereka yang masih terdiam membisu.“Boleh aku tahu, siapa itu Sehun?” tanya seseorang yang berhasil membuat mereka sadar dari pikiran masing-masing. Mereka menatap si penanya dengan tatapan yang bercampur aduk, antara memberi tahunya atau tidak. Akhirnya setelah beberapa menit dan ditambah dengan sesi saling pandang memandang, Kris menjawab pertanyaan Chanyeol. Mengingat Chanyeol adalah anggota baru dan anggota terakhir dari mereka, dia juga butuh informasi dan sisi gelap dari perkumpulan mereka.

“Sehun adalah….!”

“Diam! Jangan sebut nama orang itu lagi!” dan kini Tao berhasil membuat Kris berhenti, spontan Chanyeol menatap Tao dengan penuh tanya. “Kenapa?” tanya Chanyeol.

“Nama itu tabu disini. Aku benci nama itu!” jawab Tao dengan nada penuh kebencian. Pasti sesuatu telah terjadi diantara mereka sehingga Tao begitu marah mendengar nama Sehun. Tao menghampiri Chanyeol yang sudah mulai gelisah, dalam pikirannya ia menyesal telah bertanya. “Jika masih ingin berada disini sebaiknya kau tidak bertanya hal tabu itu, hyung!”

Chanyeol terkejut dengan penuturan Tao yang seperti sebuah ancaman baginya. Yeol hanya pasrah saja mengingat ia baru seumur jagung disini. Dan lagi satu hal, dia tak ingin berpisah lagi dengan Baekhyun. Pertanyaan muncul secara tiba-tiba dari otak Chanyeol, seberapa besarkah pengaruh Sehun disini sehingga membuat perubahan kebencian dalam diri Tao.

“Ne!”

“Jika kau bertingkah seperti ini lagi Tao, aku tak akan segan-segan untuk membunuhmu!” ujar seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan. “Seakan kau benar-benar menyesal telah mengenalnya, Tao!”

“Luhan-hyung!” kini malah sebaliknya, Tao yang menjadi kebakaran jenggot karena ucapan Luhan sebelumnya. Luhan dikenal sangat serius dengan semua hal yang ia ucapkan apalagi tentang ingin membunuhnya. Tao menunduk dan tersenyum sinis kearah Luhan, “Ya, aku memang menyesal telah mengenalnya!”

BUK…

Sebuah pukulan telak mendarat ke pipi mulus Tao membuat sebuah bekas merah yang menyakitkan. Semua orang yang melihat menjadi terkejut, karena baru kinilah Luhan memukul seseorang tanpa alasan dan mengapa Luhan bisa melesat secepat itu. Tao tak percaya akan hal ini, Luhan memukulnya hanya karena dia menyesal telah bertemu Sehun. Luhan juga tak percaya akan hal yang ia lakukan barusan, ia memukul dongsaengnya, ia memukul Tao, ia memukul salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Dan saat itu, detik itu, menit itu, Luhan mengeluarkan kelemahan yang selama ini ia sembunyikan. Ia meneteskan air mata setelah memukul Tao. Pertahanannya selama ini runtuh karena Luhan sama sekali tidak bisa menahannya lagi sendirian.

Luhan tidak pernah menangis, tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa sakit jika sudah disakiti berkali-kali. Namun semua orang tahu, Luhan adalah penipu yang ulung. Ia memendamnya sendirian dengan mengabaikan bantuan dari yang lain. Senyumannya selalu menipu. Senyumannya selalu memiliki arti yang berbeda.

Luhan jatuh terduduk dengan memegangi dadanya dengan keras, membuat kemeja yang yang ia pakai menjadi sangat kusut. Dia menahan semua isakan dengan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Semua yang berada disana menjadi iba melihat Luhan dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Luhan sudah begini. Tao yang mungkin sudah sadar akan kesalahannya tentunduk dalam.

“Hyung…” Suho dan Kris yang benar-benar tidak tega melihat Luhan sangat terpuruk berusaha membuatnya bangkit untuk berdiri. Namun uluran tangan mereka ditepis kasar olehnya. Suho dan Kris benar-benar tidak tega dan berupaya mengisyaratkan sesuatu kepada Kai.

Kai dengan cepat menyentuh pundak Luhan dan membawanya dengan kekuatan teleportasinya ke sebuah tempat. Kamar Luhan. Dan disana Luhan benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Ia jatuh pingsan dan Kai menangkapnya. Ia mengangkat Luhan keatas tempat tidur dan membaringkannya dengan hati-hati. Luhan-hyung sangat ringan, aku benar-benar khawatir kepadanya!

“Istirahatlah hyung, semuanya akan baik-baik saja di esok hari!”

 

***

TBC

Iklan

30 pemikiran pada “The Extrasolarman (Chapter 2)

  1. akhirnya luhan muncul jg.. aigoo luhannie kasian bgt hrs mendem beban berat.. sbnrny sehun cpa na luhan.. sehun pny salah apa sampe tao benci sma sehun… T____T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s