Differences of the Twins’ Fate (Chapter 4)

Title: Differences of the twins’ fate [Part 4]

Author: Laras (@Laras_MoonHee)

Length: chapter

Genre: Romance, angst

Ratted: Teen

Cast:

–          Jung Jooyeon

–          Oh Sehun

–          Jung Miyeon

Other Cast:

–          Park Chanyeol

–          Choi/Oh Shinyoung

Note: Annyeong.. Laras disini.for all reader, Doakan aku semoga saya lulus UN dan bisa masuk PTN begitu juga yang ujian lainnya kudoakan lulus, amin. Aku sedang buka request nih tapi kalian harus ke twitterku dulu, facebook atau Me2day. Twitterku namanya @Laras_MoonHee. Fb ku Hardianti Budhilaraswati. Me2day-ku Laras794. Kalau mau ngajak kenalan atau ngobrol juga boleh (Kebanyakan promo nih). Kelamaan Happy reading semuanya… #Lambai-lambai. Jangan lupa comment ^^ #ditarikKai

Jooyeon POV

Aku mulai bangun dari tidurku yang bisa dibilang tak begitu nyenyak, pasalnya aku sedang asik tidur nyenyak suara ketukan di pintu rumah petak kecilku ini yang cukup kencang mau tak mau aku harus bangun. Kulirik jam dinding usang yang tertempel di dinding kamar kecil ku ini, dan..

“Ya!! ini masih jam setengah 6 pagi!! Siapa yang mengganggu tidurku!!” kesalku tak karuan dan mulai bangkit dari tempat tidurku.

Dengan gontai kulangkahkan kakiku menuju ke arah pintu tapi sebelumnya kupakai jaket berwarna pink-ku dulu. aku sedang malas, ini gara-gara kemarin aku melihat nappeun namja itu rasanya moodku langsung jelek. Setelah pertemuan kemarin aku memilih pulang, aku malas berurusan dengan Nappeun namja itu.

“Annyeong” sapa seorang namja begitu kubuka pintu rumahku. Apa aku mimpi? Tapi sial, ternyata ini kenyataan.

“Ya! bagaimana kau tahu aku disini? Dan, apa yang kau lakukan disini???” pekikku begitu kulihat lelaki menyebalkan berdiri di depan pintu rumahku memakai t-shirt putih, celana training hitam, dan hoodie putih bermotif itu.

“Jangan marah-marah tak baik untuk anak kita” hah? Apa aku tak salah dengar? Apa namja ini gila? Apa dia baru saja terbentur sesuatu? Aneh.

“Jangan bercanda Oh Sehun sejak kapan kau mengakui kalau anakku ini anakmu?” ketusku sembari menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku.

“Sejak hari ini” jawabnya riang. namja ini benar-benar gila, “Ayo kita harus lari pagi, aku tak mau anakku tak sehat karena Eommanya yang selalu tidur seperti Babi”

“Kau mengataiku Babi? Ish..” Kesalku dibuatnya aku memutuskan masuk ke dalam lagi tapi ada kaki yang menahan pintu itu untuk tertutup, siapa lagi kalau bukan Nappeu namja itu tak ada yang lain lagi kan.

“Ayolah, sekali ini saja turuti kata-kataku. Aku takkan mengganggumu lagi” mohonnya sembari mendorong pintu yang kutahan ini.

“Jeongmal? Kau takkan ganggu aku lagi?” aku membuka pintunya dan dia mengangguk sembari tersenyum, sok manis padahal dia bukan manis tapi rrr.. tampan, “Baiklah” anggukku pelan.

“Aigo~ Gomawo” dia menghambur padaku hendak memelukku tapi aku menyingkir membuat tubuhnya tak seimbang dan hampir jatuh untungnya dia langsung menyeimbangkan dirinya.

—-

Aku akhirnya menuruti permintaannya untuk lari pagi bersamanya sepertinya ia senang sekali sekarang padahal dia itu kan calon suami kakakku dan dia orang yang telah berbuat salah padaku tapi bisa-bisanya dia seceria ini. sialnya aku harus menerima kenyataan kalau dia adalah Oppanya Shinyoung, dan Shinyoung merupakan dongsaeng kesayanganku. Kenapa rasanya dunia itu sempit sekali ya?

“Eonnie!!” terdengar suara lengkingan memanggilku yang sangat familiar di telingaku, ya Shinyoung. Dia berlari dari kejauhan, melambai padaku dan sepertinya siap untuk menghambur padaku. Sepertinya kedua Oppa dan dongsaeng ini sama saja.

“Annyeong Shinyoung-ah” sapaku padanya dan sekarang dia sedang asik menggelayuti tanganku.

“Eonnie, kau mau ya menikah dengan Oppaku?” mohonnya padaku dan aku hanya tersenyum kecut mendengarnya, entah mereka sadar atau tidak dengan senyumanku ini.

“Mianhae, Oppamu itu calon suami Eonnieku”

“Aku bisa memutuskannya” tiba-tiba saja aku dan Shinyoung mendengar suara namja di sebelah kami, tak salah lagi itu pasti Sehun dengan senyuman riang menghiasi wajah mm.. tampannya itu.

“mworago?” tanyaku heran bukan heran tapi tak percaya.

Dia tersenyum padaku lalu menggandeng tanganku untuk duduk di salah satu bangku taman di bawah pohon rindang yang cukup teduh. Angin sedikit berbisik di pagi ini membuat bulu kudukku sedikit berdiri karena dingin yang menusuk kulitku. Kami diam, tak ada yang memulai permbicaraan sampai akhirnya namja itu kembali berbicara.

“Kau tahu kenapa Miyeon melakukan itu padamu?” tanyanya dan aku menggeleng pelan, “Karena dia iri padamu, dia menyukai Chanyeol sunbaenim tapi Chanyeol sunbaenim malah menyukaimu. Dia ingin membelamu tapi dia merasa semua yang diinginkannya telah direnggut olehmu, dia ingin Chanyeol sunbae tak menyukaimu, dia ingin Chanyeol sunbae membencimu dan jijik padamu tapi ternyata semua itu sia-sia” ucapmua sembari merundukkan kepalanya menatap tanah yang dipijaknya.

“penderitaannya tak sebanding dengan penderitaanku, “ kataku pelan dan melihat ke atas tepat ke langit biru yang cerah di pagi hari ini, “Penderitaannya hanya sementara tapi aku, aku selamanya penderitaanku adalah rusaknya masa depanku” aku mulai menutup mataku dan tanpa kusadari air mata telah turun dari mataku.

Aku masih menutup mataku tapi tiba-tiba saja kurasakan sebuah tangan menutup mataku seperti mencegahku untuk melihat atau apalah itu. aku diam tapi tak lama malah isakan ku yang terdengar di telingaku dan mungkin mereka juga akan mendengarku.

“Aku mohon jangan menangis” pinta Sehun padaku, aku yakin ini adalah tangannya. tangannya besar dan hangat, “Aku tak kuat setiap melihatmu menangis dan aku merasa sesak begitu mendapatkan tatapan kebencian darimu” katanya berbisik di telingaku.

“lebih baik kau pergi” ujarku pelan padanya.

“Aku tak bisa” suaranya mulai terdengar semakin parau, “Aku akan bertanggung jawab maka dari itu kumohon maafkan aku” mohonnya lagi dengan tangan yang masih menutup kedua mataku untuk mencegahnya terbuka, yang kutahu mataku sengaja ditutupnya agar dia tak melihatku menangis.

“Aku takkan meminta pertanggung jawabanmu, pergilah” ujarku lagi dan perlahan tangannya yang menutup kedua mataku melonggar bukannya lepas tapi ia malah melingkarkan tangannya di leherku dengan kepala bersandar di bahuku, “Pergilah, Eonnieku membutuhkanmu” bisikku pelan.

“Jooyeon Mianhae, Mian” aku baru sadar dia menangis di pundakku, aku mengedarkan padaku Shinyoung sudah tak ada disini mungkin dia mengerti kalau kami butuh bicara, anak yang baik.

“Pergilah” aku mencoba melepaskan tangannya tapi dia malah semakin mengeratkannya dan kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipiku, dia mencium pipiku. “Jangan kembali dan jangan menoleh ke arah belakang lagi tataplah masa depanmu Oh Sehun” kataku tulus tapi kata-katanya itu malah semakin membuatnya terisak.

“Kumohon Jooyeon jangan seperti ini. Maafkan aku”

“Bahagiakanlah Eonnieku katakan padanya aku menyayanginya” bisikku pelan dan perlahan entah apa yang membawaku sampai aku berani membalas ciuman di pipinya itu, “Aku kecewa padanya karena tak pernah jujur, meski aku mengatakan aku membencinya tetap saja hatiku mengatakan dia tetaplah Eonnieku yang kusayangi” lanjutku.

“Jooyeon, jebal”

“Pergilah, ini bukan anakmu tapi anakku kau tak perlu bertanggung jawab. Kau bisa hidup tenang dan akupun juga” aku melonggarkan sedikit pelukannya menatapnya sebentar dan tersenyum padanya dari jarak yang tak lebih dari 5 cm.

“Kumohon Jooyeon jangan paksa aku, Tuan Jung mengundur pernikahan kami sampai waktunya kau melahirkan. Ia tak mau bersenang-senang di atas penderitaanmu. Jadi selama itu kumohon biarkan aku menjagamu dan bayi ini” aku terkejut begitu merasakan elusan tangannya di perutku, entah mungkin anakku senang karena akhirnya Appanya menyentuhnya, perutku rasanya hangat.

“Tapi..”

“Kumohon.” Mohonnya lagi dan mulai menggenggam kedua tanganku.

“Baiklah” anggukku pelan dan dia mulai tersenyum.

Apa selama ini aku akan mengalami penderitaan lagi? Begitu aku melihat wajahnya ada satu yang kuharapkan dari anakku nanti, kuharap senyumannya akan mirip dengannya. Senyuman tulus yang bisa menghangatkan hatiku.

“kesempatanmu hanya 4 bulan gunakan sebaik-baiknya, jika anak ini lahir kau takkan pernah bertemu dengannya lagi dan kau harus tahu anak ini takkan memanggilmu Appa” pintaku padanya dan aku malah mendapatkan wajahnya yang penuh kekecewaan. Bukankah ini bagus Oh Sehun kenapa kau harus kecewa?

“Aku tahu itu” lirihnya.

“Aku akan menjaga anak ini. bayi ini akan kuanggap sebagai hadiah yang telah kau berikan padaku untuk mengurangi rasa kesepianku. Terima kasih” aku tersenyum padanya, takkan ku kembali tergerak dan sekarang tanganku mengelus pipinya, tangannya menahanku untuk tetap berada pada wajahnya. Ia seperti menikmati sentuhanku, menerima kehangatan yang kusalurkan melalui tanganku ini.

“Jika aku tak bisa menemani anakku nanti setidaknya aku ingin mengurangi bebanmu disaat kau hamil meski waktu yang tersisa hanya 4 bulan. Aku akan gunakan kesempatan waktu 4 bulan ini sebaik-baiknya untuk merawat Eomma dari anak yang tak menyebutku Appa ini” katanya pelan dan air mata kembali mengalir dari mata terpejamnya itu.

“Gomawo, Oh Sehun”

To Be Continued

Aku akan vakum dulu untuk beberapa minggu, untuk memfokuskan diri di UN dan PTN, jadi Mian kalau akan lama. Harap maklumi kesibukan saya. Gomawo^^

 

69 pemikiran pada “Differences of the Twins’ Fate (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s