A Reason To Stay (Chapter 1)

Author : ohyeahNP

Genre : Romance, Angst

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Main Cast : – Kim Jong In a.k.a Kai

– Jung Minhee (OC)

Support Cast find by yourself.

Disclaimer : The plot of this story is MINE, and the cast is belong to God and their parents.

Happy reading~~~

——————————————————————————————————————————————

You can’t force someone you love to love you  too. The only thing you can do is to make he realized how much you put a hope in him, and show your love as long as you can. But the most important thing you have to remember is : the key of all happiness is patience”—NP

~***~

–Seoul, March 2010–

Dengan berat Minhee membuka matanya, mencoba untuk menajamkan pandangannya ke arah sekitar kamarnya. Sinar matahari pagi yang menelusup masuk ke kamar Minhee melalui jendela kamarnya menusuk nusuk kelopak mata Minhee dan ia segera menggosok-gosok matanya. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah jam digital yang terletak di meja sebelah tempat tidurnya. Angka itu terlihat blur namun sedikit demi sedikit terlihat jelas.

“7.30?!?!”. Sistem koordinasi di tubuh Minhee langsung menyadarkan Minhee dan membuatnya melonjak dari tempat tidur. Dengan mata yang masih terasa berat dan ‘nyawa’ yang belum kembali seutuhnya ke tubuhnya, Minhee berlari menuju kamar mandi dengan kecepatan maksimum yang bisa ia capai.

“Gara gara mengupdate blog sampai malam…”, batin Minhee dalam hati. Ia pun bertindak secepat mungkin. Mandi, berpakaian dan menyusun buku pelajaran ia lakukan berkali kali lipat lebih cepat dari yang normalnya ia lakukan.

“Eomma, aku berangkat dulu !”, seru Minhee sambil menyandang tas ransel putih nya dan berlari keluar kamar. Sebelum sampai di pintu rumah, Minhee di tahan oleh Eomma nya.

“Bawa bekal. Biar tidak kelaparan di sekolah”.

Minhee menerimanya dan segera berpamitan pada Eommanya. “Gomawo, aku pergi dulu !”.

Minhee segera melesat ke luar rumah dan Eomma nya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak tunggalnya tersebut.

“Sampai kapan kebiasaannya itu berhenti?”, gumam Eomma Minhee pelan.

~***~

“Hampir saja”, kata Minhee sambil menginjakkan kakinya di depan pintu kelas. Satu menit sebelum jam delapan dan kini Minhee sudah tiba di depan kelasnya. Ia segera membuka pintu dan mendapati beberapa orang teman sekelasnya sedang duduk di bangku masing masing, menunggu guru mereka datang. Sambil menegakkan kepalanya tanpa berusaha membuat kontak mata dengan teman-temannya, Minhee berjalan menuju bangku nya, nomor dua dari belakang dan di dekat jendela.

“Selalu hampir terlambat”, tegur Soorin saat Minhee telah duduk di bangku nya. Minhee sedikit menoleh pada teman sebangku nya selama hampir dua tahun itu dan mencibir.

“Update blog lagi?”, ujar Soorin, sudah tahu dengan kebiasaan Minhee.

“Apa aku punya jawaban lain selain iya?”, jawab Minhee. Soorin hanya mendengus mendengar perkataan Minhee itu.

Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka dan Shin sonsaengnim masuk ke dalam kelas, membuat beberapa murid langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing. Minhee hanya memandang keluar jendela. Menatap kosong halaman sekolahnya yang luas dan tidak menarik.

“Good morning class, how are you this morning?”, sapa Shin sonsaengnim.

“We’re fine”, jawab seisi kelas. Minhee memandang guru bahasa Inggrisnya itu dan ikut mengatakan “we’re fine”.

Actually I’m not fine…

Sementara Shin sonsaengnim menerangkan tentang Present Perfect Continuous Tense, Minhee hanya mencoret coret bukunya, menulis kalimat yang sedang ia imajinasikan.

Toh dia sudah menguasai ke enam belas tenses dalam bahasa Inggris.

Soorin melirik sahabatnya itu dan merasa bingung.

Selalu tidak memperhatikan….

“Bagaimana keadaan rumah?”, ujar Soorin memulai pembicaraan.

Minhee menghentikan gerakan pensilnya dan terdiam sejenak sebelum melihat ke arah Soorin. “Just like usual. Pertengkaran selalu ada. Meskipun tidak penting”.

Soorin memandang prihatin sahabatnya sejak awal masuk sekolah itu dan menghela nafas kecil. “Kau bisa ke rumahku kapanpun kau mau”. Soorin tersenyum kecil, sedangkan Minhee hanya menatapnya datar seperti biasa. Sudah dari dulu pembawaan Minhee seperti itu. Bahkan sebelum masalah dalam keluarga nya terjadi.

Ia hanya membuka diri dan menumpahkan semua rahasianya pada Soorin. Bukan orang lain.

“Terimakasih banyak, Soorin”, ujar Minhee pada akhirnya. “Tapi itu hanya membuatku mengelak dari masalah”.

Soorin terdiam, membenarkan kata Minhee dalam hati. “Setidaknya kau bebas sementara”.

Minhee hanya mengangkat bahu dan melanjutkan kegiatan menulisnya yang terhenti. Gerakan pensilnya semakin lincah, membentuk puluhan kata kata bermajas pengungkapan isi hatinya.

Kenapa harus orangtuaku? batin Minhee sambil menahan air matanya.

~***~

Minhee melangkah dengan malas malasan menuju rumahnya. Di sepanjang perjalanan pulang, pikirannya kosong. Blank. Seakan tidak ada sesuatu yang menyangkut dalam pikirannya. Entah itu masalah sekolah, masalah keluarganya, ataupun masalah dia sendiri.

Semakin ia rapatkan kemeja seragam sekolahnya, merasa kurang nyaman dengan suhu udara yang mulai menurun drastis.

“Musim semi sebentar lagi…”, gumam Minhee sambil masih merapatkan kemeja seragam sekolahnya.  Ia memandang ke arah langit kelabu yang terbentang luas, yang kini menaunginya. Seperti sebuah film, memori dalam otak Minhee me-rewind kembali apa saja momen yang telah terekam selama musim dingin yang telah lampau.

“I miss that moment..”.

Flashback ON

Dengan wajah cemas, wanita paruh baya itu memasuki kamar anaknya sambil membawa semangkok air hangat dan kain saputangan. Ia mendapati putri semata wayangnya itu masih terlelap di bawah selimut ungu muda yang selalu setia menghangatkannya. Wajah polos dan damai itu membuat wanita yang merupakan ibu dari anak perempuan berumur 8 tahun itu tersenyum.

“Masih panas…”, gumamnya saat menyentuh kening putri nya tersebut. Kemudian ia meletakkan kain yang sudah direndam air hangat itu ke atas kening putrinya. Minhee membuka matanya sedikit, mendapati sebuah benda tengah berada di atas keningnya.

“Dingin…”, lirih Minhee pelan.  Eomma nya hanya mengelus rambut putri nya itu dan tersenyum.

“Sabar sayang, mau cepat sembuh kan? Appa sedang mencari obat nya”. Minhee tidak menjawab, ia malah semakin menggigil.

Tak lama kemdian, sosok Appa Minhee datang dan langsung menghampiri Minhee yang menggigil di bawah selimut nya. “Masih menggigil?”. Eomma Minhee hanya mengangguk.

“Dalam salju setebal ini kita tidak bisa kemana-mana”, ujar Eomma Minhee. “Kalau bisa kita bawa dia ke dokter dari kemarin”.

Appa Minhee kemudian memberikan Minhee obat demam yang dibutuhkannya. Dengan kesadaran yang masih setengah, Minhee kembali memejamkan matanya dan tidur kembali. Efek dari sakit demam yang ia alami. Berlama lama bermain salju di luar membuat Minhee terserang flu, batuk, dan demam sekaligus.

Perhatian kedua orangtuanya terhadap keadaan Minhee membuat Minhee merasa terlindungi. Bahkan tanpa di bawa ke dokter, kedua orangtuanya berusaha meredakan penyakit Minhee.

Dan Minhee rindu itu.

Rindu pada perhatian kedua orangtuanya..

Dan meskipun yang bermasalah adalah kedua orangtuanya, secara tidak langsung hal itu juga berimbas pada perasaan Minhee yang selalu tertekan tiap kali melihat orang tuanya bertengkar.

“Mereka lah yang salah…”, gumam Minhee. “Tidak mencontohkan hal yang baik pada anaknya sendiri….”.

~***~

BRAKK !!

Minhee terkejut dan ia segera terbangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih perih karena dipaksa terbuka tadi, Minhee melihat ke arah jam.

“00.32? They’re going crazy now”, ujar Minhee, sudah tahu dengan apa yang biasanya terjadi.

“WANITA MACAM APA YANG PULANG JAM 12 MALAM TANPA ADA KABAR?, pekik Appa Minhee.

Minhee menggeram kesal mendengar pertengkaran kedua orangtuanya.

“Aku sudah menelfon mu tapi ponselmu mati ! Jangan terus menerus menyalahkan aku !”, balas Eomma nya lagi.

“Alasan saja ! Memangnya ponselku saja yang bisa di hubungi ? Kenapa kau tak menghubungi rumah atau ponsel Minhee saja? Kalau kau tidak ingin mengingat keluarga lagi, akui saja !”.

“Kau selalu menyalahkan orang lain ! Coba lihat dirimu sendiri ! Sudah perokok, suka menelfon wanita lain, apalagi? Perlu aku sebutkan semua?”.

“Kau yang selalu menyalah-nyalahkan orang lain ! Dasar tidak tahu aturan !”.

Minhee semakin tidak tahan dengan suara suara berdesibel tinggi yang meluncur dari mulut kedua orangtuanya. Ia pun terduduk di tepi tempat tidur dengan emosi yang memuncak.

“Bangsat !”, erangnya sambil menghela nafas. “Tak berpikirkah mereka aku perlu tidur? Dasar sesama egois. Kalau tidak cinta kenapa masih dipertahankan sampai sekarang”.

Dengan kesal Minhee memandang ke seluruh penjuru kamarnya. Ia pun menghidupkan lampu kamar dan mengambil ponsel serta beberapa lembar uang, kemudian memasukkan ke dalam saku celananya. Di ambilnya sweater tebal warna abu-abu kesayangannya, dan kemudian memakainya.

Ia perlu melarikan diri sementara ketegangan di antara kedua orangtuanya masih berlangsung.

“Pergi untuk sementara…I guess it’s okay”.

Minhee membuka jendela kamarnya lebar lebar, tidak peduli dengan udara dingin yang masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia melangkah keluar, menaruh kakinya yang dilapisi sandal rumah di atas kanopi jendela lantai satu dengan hati hati. Setelah kedua kakinya menapak, ia pun menutup rapat jendela kamarnya. Kemudian dengan santainya Minhee melompat dari kanopi ke tanah, tanpa rasa takut meskipun tinggi nya 3 meter lebih.

Dengan lincahnya Minhee memanjat pagar rumahnya yang cukup tinggi kemudian melompat (lagi) ke tanah tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan. Sudah kebiasaannya pergi tengah malam saat orangtuanya bertengkar. Memang, keesokan paginya ia akan mengantuk berat. Tapi tidak lama. Bisa karena biasa, mungkin kata-kata itu cocok untuk menggambarkan kebiasaannya.

“Dasar egois…”, gumam Minhee. “Jangan salahkan aku bila aku egois, Appa, Eomma. Karena kalian juga begitu”.

Minhee pun melangkah di bawah terangnya lampu jalan, di atas tanah ber aspal yang dingin. Rambut hitam panjangnya tersibak oleh angin malam, membuatnya sedikit tidak nyaman. Langkah kakinya membawa Minhee menuju sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi baginya. Sebuah tempat yang selama hampir satu tahun ini ia kunjungi ketika semua orang sudah terlelap.

Taman kota. Tempat ia bisa menenangkan diri di tengah malam, tanpa ada tawa mencemooh yang terlontar dari orang orang jika melihat gadis seusianya menangis.

“Maaf kan aku Appa, Eomma. Aku tidak bermaksud untuk membuat kalian khawatir. Tapi….”.

Minhee menghela nafas, menatap lampu jalan yang bersinar di atasnya.

Air mata itu mengalir dari sudut mata Minhee, menuruni wajahnya dengan cepat, dan jatuh ke tanah. Setetes, dua tetes, sampai ia tak bisa menghitungnya.

“Kenapa aku lemah begini…”, ujarnya pada diri sendiri sambil menghapus air matanya.

Memang, rasa tertekan atas sikap kedua orangtuanya membuat Minhee tak bisa membendung semuanya. Ia juga manusia, punya perasaan dan punya batas terhadap perlakuan tidak menyenangkan yang ia terima.

Kedua orangtuanya yang dulu harmonis, sekarang tidak seperti dulu lagi. Karena kehadiran orang ketiga.

Mencoba mengabaikan kedua orangtuanya memang sulit. Di mata kedua orang tuanya, ia hanyalah anak 16 tahun yang bahkan belum merasakan pelajaran hidup yang sesungguhnya.

Ya, anak berumur 16 tahun setidaknya sudah bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain kan?

“16 tahun mereka merawatku….dan aku membalas mereka dengan seperti ini?”, gumamnya.

Ia menghela nafas frustasi.

“Tapi….apa salah kalau aku minta hak ku di hargai? Aku sudah memberikan semua yang bisa ku berikan pada mereka. Prestasi, waktu, perasaan, semua  ! Tapi kenapa mereka malah egois terhadap diri sendiri tanpa memikirkan aku? Jelas-jelas aku masih butuh perhatian mereka. Kenapa mereka tidak mengerti hal seperti itu ?”.

Minhee mengerang dan mengacak-acak rambutnya sendiri. “Apa yang kau pikirkan Jung Minhee !”. Ia menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya dengan kasar.

“Jangan menangis kecuali memang betul-betul dibutuhkan. Kau bukanlah perempuan yang manja dan cengeng, Appa yakin itu”.

Kata-kata Appa nya beberapa tahun yang lalu terulang kembali di benak Minhee. Memang, waktu itu  Appa-nya menggunakan kata kata tersebut agar Minhee berhenti menangis dan merengek meminta dibelikan sesuatu.

Tapi Minhee selalu mengingat itu ketika dia menangis.

“Sekali ini saja aku ingin menjadi orang yang cengeng….”, ujar Minhee. Ia pun menyebrangi jalan protokol yang sudah sangat sepi tanpa melihat ke sekelilingnya. Minhee yakin, tidak ada mobil atau motor yang lewat jam 1 malam begini. Kalaupun ada, hanya satu-satu.

Sambil menggosok-gosok matanya, Minhee berjalan di jalan yang lebar itu. Ia merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara malam, sambil berputar putar di jalanan yang tidak dilalui orang lagi itu.

“Aku ingin bebas !”, pekiknya, tanpa memperdulikan apapun. Ia pun mencoba menertawakan dirinya sendiri yang sekarang dalam kondisi menyedihkan. Tanpa memikirkan kemungkinan apa yang bisa terjadi pada tengah malam seperti saat ini.

Termasuk sinar lampu yang terpancar dari sebuah mobil yang melaju ke arahnya.

TIN TIIIN!

“AWAS !!”.

BRAK.

“AAAAAARGH!!”.

Meskipun terjatuh ke jalanan dengan posisi terbaring, dan jarak antara mobil yang hampir menabrak Minhee dengannya sangat dekat—nyaris tidak berjarak, malah—Minhee masih bisa membuka matanya. Dan bernafas. Ia memegangi kepalanya yang terbentur ke jalan raya, dan ia sangat bersyukur ketika tidak melihat bercak darah di tangannya ketika ia mengusap usap kepalanya.

“Kau..tidak apa-apa?”, tanya seseorang yang tak pernah Minhee kenal sebelumnya, yang kini tengah memeluknya dari belakang. Minhee segera melepas pegangan orang tersebut dan mengalihkan pandangannya.

“Aigoo nona, apa yang kau lakukan tengah malam begini?”, tanya seorang ahjussi yang Minhee duga adalah pengendara mobil tersebut. Ahjussi dengan rambut mulai memutih dan berkacamata yang Minhee perkirakan berumur empat puluh tahun ke atas itu menatapnya prihatin, kemudian berusaha memastikan apa Minhee terluka atau tidak.

“Mianhae, aku….aku membuat ahjussi repot”, ujar Minhee pada ahjussi tersebut. “Mianhae, aku tidak melihat jalan”.

“Apa nona tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka kan?”.

Minhee menggeleng.

“Lain kali hati hati, nona. Untung ada yang menyelamatkanmu”.

Minhee segera berdiri dan membungkuk pada ahjussi tersebut. “Sekali lagi, mianhae”, ujar Minhee. Ia pun buru buru lari dari tempat itu, berjalan menuju taman kota yang sudah dekat. Mobil ahjussi itu pun melaju lagi, meninggalkan jalan tersebut.

“Hey, nona”.

Minhee segera menengok ke belakang, menatap siapa yang ia kira sedang memanggilnya. “Kau memanggilku?”.

Namja itu mendekat ke arah Minhee dan Minhee terdiam di tempat.

Dia yang menyelamatkanku tadi…

“Kau yakin tidak apa-apa?”, tanyanya. Minhee terdiam, menatap orang itu dengan wajah tanpa ekspresi.

He’s adorable…even only with shirt, jacket, and jeans….

“Aku…baik-baik saja”, jawab Minhee. “Terimakasih atas bantuan mu”.

“No problem”, balas namja itu. Ia pun duduk di kursi halte bus dan menatap Minhee yang berdiri di hadapannya. Namja itu menaikkan sebelah kakinya ke kursi halte dan mengikat tali sepatu nike putih nya.

“Apa yang kau  lakukan malam-malam begini?”, tanyanya.

Minhee membisu, ia antara ingin dan tidak ingin berbicara dengan namja ini.

Sepertinya dia orang baik…

“Aku…melepas stress”, jawab Minhee jujur. “Kau sendiri?”.

“Jawaban yang unik”, balasnya. “Aku? Aku baru pulang”.

“Darimana?”.

“Aku tidak bisa memberi tau”, ujar namja itu dan ia setengah tersenyum pada Minhee. “Kau tahu? Bahaya bila berjalan sendiri tengah malam begini. Apalagi kau seorang…yeoja”.

Minhee menatap aspal di bawah kakinya dan mengerutkan bibirnya. “Aku tidak takut pada apapun yang mungkin terjadi pada malam hari”.

“Nappeun yeoja….”, kata namja itu, kemudian terkekeh.

Minhee mendengus dan berbalik arah. Ia kehilangan niat untuk berdiam diri di taman kota sampai pagi menjelang.

Berani beraninya ia mengatakanku nappeun yeoja…

“Tunggu”.

Dengan secepat kilat namja itu tengah berada di samping Minhee. “Ku antar kau pulang”.

“Kau bahkan tidak tahu dimana rumahku”.

“Aku hanya ingin menemanimu”.

“Aku mencurigaimu sebagai orang jahat yang bermodus sebagai penolong di tengah malam begini”.

Namja yang tidak Minhee ketahui namanya itu tertawa menanggapinya.

“Terserah kalau kau mau mencurigaiku seperti itu. Yang jelas aku sangat jauh berbeda dengan yang kau kira”.

“Apa aku bisa mempercayaimu?”. Minhee menaikkan sebelah alisnya.

“Tentu saja”. Namja itu mengangguk, tersenyum pada Minhee.

“Apa kau tidak sekolah besok?”.

Minhee menggeleng. “Besok?”. Ia terkekeh. “Sekarang hari rabu dan 7 jam lagi aku harus sekolah”.

“Oh ya?”. Minhee tidak menjawab.

“Siapa…namamu?”, tanya Minhee akhirnya. Ia sudah memendam pertanyaan ini sejak tadi. Dan akhirnya ia berani mengatakannya.

“Nama ku… Kim Jong In. Aku lebih suka dipanggil…Kai”.

“Baiklah, Kai”, kata Minhee. “Senang berkenalan denganmu”.

“Aku juga….”

“Minhee. Jung Minhee”.

“Nice name”, komentarnya. “Jadi…kenapa kau memilih melepas stress tengah malam begini?”.

Minhee memilih diam. Dengan jutaan pemikiran yang berkeliaran di benaknya, Minhee lebih memilih bungkam daripada mengutarakannya satu per satu. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkannya.

“Kenapa diam?”, tanya Kai.

“….Terlalu banyak yang ingin aku sampaikan”, ujar Minhee sambil menunduk. “Tapi aku tidak bisa….”.

“It’s okay Minhee. Aku juga tidak memaksa”.

Berarti dia memang orang baik-baik…atau aku saja yang terlalu menganggapnya begitu?

“Kai…boleh aku bertanya sesuatu?”.

“Tentu saja”.

“Kenapa tadi kau menyelamatkanku? Kita bahkan tidak saling mengenal”.

Kai tersenyum pada Minhee, membuat Minhee sedikit gugup.

“Memangnya untuk menolong itu harus saling mengenal?”, kata Kai dengan sedikit penekanan. “Aku juga sedang dalam perjalanan ke rumahku, dan saat itu pula aku melihat seorang yeoja yang ku anggap sedikit gila karena berputar-putar sendiri di tengah jalan. Saat itu juga lah ada sebuah mobil yang hendak menabrakmu, dan anehnya kau tidak sadar”.

“Gila?”, kata Minhee memastikan. Ia sedikit mendengus. “Lalu?”.

“Yah, sudah pembawaan sejak dulu, aku menolong seseorang tanpa pandang bulu. Siapapun yang membutuhkan pertolongan, meski aku tidak mengenalnya, aku akan berusaha menolongnya”.

Minhee menghela nafas dan menatap Kai. “Oke, terserahmu. Yang penting kau sudah menyelamatkanku”.

Sepanjang perjalanan, Minhee hanya diam. Ia sebenarnya tidak ingin pulang ke rumah. Rumah baginya selama setahun belakangan ini adalah tempat yang tidak layak di huni lagi. Bukan tentang bangunannya, tapi ia memikirkan begitu karena orang orang yang menempatinya.

Siapa lagi kalau bukan kedua orangtuanya?

“Aku tidak ingin pulang”, cetus Minhee di tengah tengah keheningan yang tercipta di antara mereka. “Aku tidak betah di rumah”.

“Aku justru ingin pulang”, ujar Kai. “Aneh”.

Pasti yeoja ini mempunyai masalah…batin Kai.

“Tujuan ku tadi memang untuk pergi dari rumah sementara, tapi…”. Minhee mengangkat bahunya, malas berbicara lagi.

Hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah Minhee. Minhee terdiam di depan rumahnya dan menunduk.

Haruskah aku kembali?

“Kenapa? Pagarnya di kunci?”.

“Aku bisa memanjat pagar rumahku sendiri. Itu hal kecil”, bantah Minhee. “Masalahnya, aku tidak ingin pulang”.

“Pulanglah, jangan sampai pagi nanti orangtua mu mencemaskanmu”.

“Mereka tidak menganggapku ada. Mereka egois”, ujar Minhee sedikit kelepasan. “Ah, maaf”. Minhee menyadari kalimatnya tersebut kurang enak di dengar.

Padahal memang benar….

“Apa yang bisa membuatmu tenang?”.

“Tidak menginjakkan kaki di rumah ini”, ujar Minhee pelan. “Tapi…Gwaenchana, aku akan….pulang”.

Dengan memaksakan sedikit senyum Minhee memegang pagar rumahnya yang kokoh dan tinggi itu kemudian menatap Kai. “Kenapa masih disitu?”.

Kai kemudian berbalik arah, meninggalkan Minhee yang hendak memanjat pagar rumahnya. Tapi kemudian ia menghadap Minhee lagi, dan ia sedikit tersenyum.

“Sampai jumpa Minhee”, ujarnya pelan kemudian meninggalkan jalanan itu.

Minhee menatap Kai yang berjalan makin menjauh dari jalan itu, kemudian melanjutkan aksinya.

“Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi…”, gumamnya hampir tak terdengar.

~***~

“OK, FINISH !”.

Kai mengatur nafasnya yang masih terengah-engah dan tersenyum. Latihan dance hari ini sudah selesai. Menyadari hal itu, ia mengambil sebotol air minum dari tas nya dan meneguknya sampai habis. Ia pun menyandang tas nya dan bersiap untuk pulang.

“Sonsaengnim…aku pulang dulu”, ujarnya pada seorang pria yang sekitar sepuluh tahun lebih tua darinya. Pria itu pun membalikkan badannya dan tersenyum.

“Ah, ne, silahkan. Kau pasti lelah sekali”, kata pria itu ramah. “Jangan lupa, hari minggu jam 9 pagi, latihan lagi”.

“Ne, sonsaengnim”, kata Kai. “Aku…permisi dulu”.

“Hati-hati di jalan !”, kata pria tersebut, dan Kai tersenyum. Ia membalikkan badannya dan membuka pintu, kemudian berlari menuju lift.

Pikiran Kai melayang ke mana-mana. Ia sedang memikirkan cara untuk cepat sampai ke rumah. Ia memikirkan jam berapa ia akan sampai di rumah dan membuat PR nya. Ia memikirkan apa yang dilakukan Eomma dan Appa nya sekarang di rumah. Ia melirik jam tangannya.

“21.35…”, gumamnya. Ia menghela nafas dan menyadari ini adalah resiko yang harus ia tanggung sendiri. Sebagai salah satu trainee SM entertainment yang jadwal latihannya cukup tidak manusiawi (menurut Kai), ia pandai-pandai membagi waktu antara kegiatan sekolah dan kegiatan latihan.

Kai berjalan keluar dari gedung SM dan memperhatikan jalanan di sekelilingnya. Masih cukup ramai. Kelihatannya masyarakat kota Seoul masih sibuk dengan urusannya masing masing, pikirnya.

Ketika ia berjalan melewati taman kota, tiba-tiba Kai teringat pertemuannya dengan yeoja itu. Yeoja yang ia tolong beberapa minggu yang lalu, Jung Minhee. Sorot mata Minhee yang tidak bersahabat, cara berbicaranya yang sesukanya saja, postur tubuhnya yang hampir sama tinggi dengannya namun lebih kurus darinya, cara berjalannya yang sama sekali tidak feminim, dan suaranya yang sedikit berat, semua membekas dalam benak Kai.

Dia berbeda, tidak seperti yeoja yeoja lain seusianya..

Kai tersenyum mengingat semua fakta fakta itu. Entah kenapa ia jadi ingin bertemu lagi dengan Minhee. Ia pun menyesal tidak menanyakan nomor ponsel atau setidaknya menanyakan dimana ia bersekolah.

Ia menghela nafas, kemudian menatap dengan berani langit malam yang gelap.

“Semoga, aku bisa bertemu lagi dengannya, aku tidak tahu kenapa aku harus bertemu dengannya tapi….aku ingin…”.

–Seoul, April 2010—

“Sebulan yang lalu…aku bertemu dengannya”, ujar Minhee sambil melihat ke arah kalendernya. Ia tersenyum dan mengambil tas nya, kemudian melangkah keluar kamar.

Dalam hatinya, Minhee berharap agar bisa bertemu dengan Kai lagi. Tapi bagaimana? Ia tidak punya satu info pun mengenai Kai.

Hopeless, itu yang ia rasakan.

Saat Minhee tiba di lantai satu, ia mendapati Appa nya sedang menelfon seseorang di ruang tamu. Dari raut wajahnya, sepertinya pembicaraan mereka tidak begitu penting.

“Iya…tunggu saja sayang, tidak lama lagi kok”.

Sayang?

Minhee merapat ke dinding ruang makan dan mendengarkan pembicaraan Appa nya.

“Ya..mungkin 3 sampai 4 bulan lagi. Tunggu sajalah. Aku akan pindah dari rumah ini begitu resmi menceraikannya”.

Menceraikannya?

Tanpa memperdulikan apapun, Minhee berlari menuju pintu masuk, melewati Appa nya dengan kasar  hingga Appa nya hampir kehilangan keseimbangan, tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Ia sudah terlalu sakit dibuatnya.

BLAM

Minhee membanting pintu depan rumahnya dan berlari menuju pagar, membuka pintu pagar dengan kasar hingga pagar rumahnya itu membanting dinding rumahnya, menimbulkan suara berisik.

Persetan dengan semuanya !

Dan bahkan Appa-nya tidak mengejar Minhee atau sekedar menanyakan kabar Minhee.

Hal itu membuat Minhee semakin tertekan.

“Sialan !”, umpat Minhee sambil berusaha menahan tangisnya. Baru jam 7.15 di pagi hari sudah meneteskan air mata? Samasekali bukan tipe seorang Jung Minhee.

Aku berhak untuk merasa sedih kan? Tapi aku bukan orang yang lemah, aku yakin itu.

Minhee berdiri di halte bus, menunggu bus yang menuju sekolahnya. Halte itu ramai di pagi hari, hingga Minhee tidak bisa duduk untuk menunggu.

“Ya ampun aku belum sarapan”, gumamnya. Ia memeriksa isi dompetnya, memutuskan untuk membeli makanan dulu sebelum ke sekolah.

“Sepertinya hari ini aku sial…”. Minhee hanya mendapati beberapa lembar uang di dompetnya, yang hanya cukup untuk naik bus pulang pergi. Tidak mungkin ia kembali lagi ke rumah. Apa kata Appa nya nanti?

Saat bus yang ia tunggu datang, Minhee segera naik dengan beberapa penumpang lainnya. Untungnya, Minhee mendapat sebuah tempat duduk. Ia segera duduk dan memandang ke arah jendela.

Menit demi menit berlalu. Minhee melihat ke arah jam tangannya, yang menunjukkan pukul 7.30. Ia semakin frustasi mengingat ia belum sarapan. Padahal sarapan adalah kebiasaannya, yang tidak bisa di tinggalkan kecuali ia ingin pingsan di tengah jalan.

Saat Minhee masih sibuk dengan rasa lapar yang ia rasakan, seseorang duduk di sampingnya, membuat Minhee sedikit terkejut.

Ia mengabaikan orang tersebut dan kembali berharap agar cepat sampai di sekolah.

“Minhee? Kau…Minhee kan?”.

Minhee menoleh ke arah orang yang memanggilnya dan sedikit terkesiap. Namja itu memandang Minhee dengan saksama, mungkin berusaha memastikan ingatannya.

Harapan ku tadi pagi terkabul……

“K..kai?”.

“Yes, I am !”, jawabnya langsung. “Sudah sebulan kita tidak bertemu kan?”.

Minhee mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha memastikan dengan sungguh sungguh kalau namja dihadapannya ini adalah Kai, orang yang ingin ditemui nya lagi.

“Kau benar-benar Kai? Kim Jong In?”, tanya Minhee.

“Yeah, aku alien dari planet lain”, jawab Kai. “Tentu saja, aku Kai ! Secepat itukah kau  lupa?”.

Minhee tersenyum mendengar perkataan Kai. Dalam hati nya ia merasa begitu senang, telah menemukan seseorang yang sudah sebulan ini ia harapkan.

Tunggu….aku mengharapkannya?

“Wajahmu pucat sekali Minhee”, ujar Kai sambil menyentuh pipi kiri Minhee dengan tangannya. “Kau sakit?”.

“A..a..anni, aku belum sarapan”.

“Kita berhenti dulu di halte selanjutnya”, ujarnya.

“Tapi sekolah ku tidak disana”.

“Siapa bilang kita akan ke sekolahmu?”.

“Lalu?”.

“Lihat saja nanti”. Kai menunjukkan smirk nya, membuat Minhee sedikit menghela nafas.

“Minhee…”.

“Ya?”.

“Bagaimana kalau hari ini kau bolos saja?”.

“MWO?!”.

~*************~

Ehm, tes 123.

Hai readers ! ^^ How’s the story? Baguskah? Kalo iya syukurlah. Ini cuma buah pemikiran gaje aku yang disalurkan ke media tulis menulis._. Maaf ya kalo alurnya kurang ‘wow’, atau gaya nulis aku yang aneh bin ajaib, maaf banget, mungkin karna pengaruh umur-_- (bln ini baru 14._.) jadi pemikirannya belum se expert writer2 lain, dan just info, aku nulis ini ff sambil diikutin dgn bayang2 UN yang tinggal beberapa hari lagi (maklumlah, gak bisa nahan hasrat buat nulis jadinya curi2 waktu belajar di rumah).

Lol, maap, kok jadi curhat gini -_- Okay, I’m waiting for your comment readers~ Saya menerima kritik tapi bukan hinaan, okeh?

20 pemikiran pada “A Reason To Stay (Chapter 1)

  1. it ff’y udah slesai ya saeng ??
    crita’y rumit bgt ya .
    ihh , aq jd gemes deh sma qm #cubitpipi
    bener” pinter .
    blajar yg rajin ya biar bisa lulus 🙂

  2. Ya ampun,, aku salut sama bahasa kamu lho, saeng, udah terarah dan rapi sekali! Rajin-rajin nulis ya sayang, supaya kamu bisa lebih mengeksplor ide-ide di otak kamu 🙂 /ngomong2 itu sayang sayang bahasa appa minhee banget/ mohohohh /udah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s