So Goodbye

Author                         : Inhi_Park

Main Casts                  : ByunBaekhyun, Park Hyejin

Supporting Casts         : Kim Miran, Kim Joonmyuna.k.aSuho

Length                         : Chronicle

Genre                          : Romance, Friendship

Rating                         : General

A.N                               : Hallo… Hallo… Readers yang budiman… Ini FF EXO pertama yang nekadsaya publish, olehkarenaitu di harap comment darihadirinsemuanya demi perbaikandalamkarya yang akandatang #Apasih…

Baiklah, langsungsajasayapersembahkan…

Happy Reading… n_n

Summary                     :

Kau akan menyadari arti keberadaan seseorang saat kau telah kehilangannya.

 

(Baekhyun’s side)

Angin dingin musim gugur menyapu lembut wajahku. Suara gemerisik rumput yang bergesekan tertiup angin menjadi satu-satunya orkestra alam yang dapat ku dengar saat ini. Dengan mata tertutup, kubiarkan punggungku menyentuh rerumputan hijau yang ku duduki. Membiarkannya terlentang menatap langit.

Ku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Tanganku meremas kemeja putih di bagian dada sebelah kiri. Ingin rasanya aku membuang semua beban yang kurasa menumpuk disini. Di dalam sini.

“Kau disini rupanya.” Suara itu. Suara sahabat baikku sekaligus orang yang paling dekat denganku. “Gwencanayo?” katanya.

“Seharusnya tidak.” Jawabku sekenanya.

Meski masih dalam keadaan mata tertutup, aku bisa tahu dengan jelas kalau kini ia sedang berada di dekatku. Wangi tubuhnya yang khas menyeruak di sekelilingku. “Hah… aku lega mendengar jawabanmu.”

“Kenapa?” Aku membuka mata dan mendapati ia sedang duduk sambil memeluk lututnya di sampingku. Matanya menatap lurus ke arah danau yang terbentang di hadapan kami. “Seharusnya kau khawatir karena aku tidak merasakan apa-apa sekarang. Apa kau pikir wajar seseorang yang baru saja tahu kalau ia sudah di khianati tapi ia merasa baik-baik saja?” aku menancapkan pandangan ke arahnya yang kini, dengan perlahan, ikut membaringkan tubuhnya di sebelahku.

“Yaa seharusnya kau memang bersedih, sakit hati atau bahkan merasa ingin bunuh diri. Tapi aku yakin kau tidak sebodoh itu bukan? Dan aku senang kau sudah bisa melihat sendiri semuanya?”ia tersenyum. Matanya kini menatap ke atas.

“Maksudmu, kau sudah tahu yang sebenarnya?”

Ia mengangguk kuat. “Tentu saja. Kau pikir kenapa aku selalu mati-matian berada di sampingmu kalau aku tidak tahu semuanya?”

Flashback

Saat itu aku sedang duduk dengan Hyejin di sebuah foodcourt salah satu pusat perbelanjaan terkemuka di Seoul. Hyejin adalah sahabat baikku sejak kecil. Orang tua kami berteman dan rumah kami juga berdekatan. Itu sebabnya kami sangat dekat. Usianya satu tahun lebih muda dariku. Tapi yang sangat menyebalkan adalah dia bersikeras menolak untuk memanggilku Oppa. Hah, kurang ajar betul kan gadis itu.

Lain dari gadis seusianya yang kebanyakansenang memperhatikan penampilan, Hyejin terlihat sangat cuek untuk masalah yang satu itu.Hampir tidak pernah aku melihatnya memakai dress, high heels dan make up tebal. Pertama dan terakhir kali ia berpenampilan seperti itu adalah saat acara pernikahan Park Jungsu sonsaengnin, guru SMA kami yang juga adalah kakak sepupunya. Hari tu ia terlihat berbeda dengan dress berwarna pastel dan high heels 15cm. Dan kau tau, ia berakhir dengan tongkat panjang yang harus membantunya berjalan karena ia terjatuh saat berjalan dan membuat kakinya terkilir. Dan sekarang, sudah dapat di pastikan mustahil melihat dia seperti itu lagi karena Hyejin sudah menyatakan perang pada tiga ‘benda wanita’ tersebut.

Jadi kalau kau penasaran seperti apa Hyejin, coba kau ingat-ingat penampilan anggota Girls’ Generation Yoona dalam MV the boys (bagian awal pas Yoona nemuin kristal hitam), maka Hyejin adalah kebalikannya. No dress! Hyejin bilang kalau ia lebih nyaman menggunakan celana jeans dan kaos atau kemeja longgar. No high heels! Selain aku, mungkin sahabat baiknya adalah sepatu kets yang berbaris rapi di rak sepatu di kamarnya. Dan no make up! Sapuan bedak tipis adalah satu-satunya benda kimia yang bisa menyentuh wajahnya. Yang terakhir adalah rambut sepunggung yang hampir selalu ia kuncir kuda. Ya… begitulah Hyejin. Tapi ia sangat beruntung karena mewarisi kecantikan natural dari nyonya Park, ibunya. Kalau tidak, entahlah…

“Emh… Hyejin-ah?” Seorang gadis berambut panjang berdiri di belakangnya.

Hyejin berbalik dengan raut muka penuh tanda tanya. Tapi it utidak lama karena setelah melihat siapa yang tadi menepuk pundaknya. “Kim Miran? Ini benar kau? Aah.. kau kemana saja? Lama tak bertemu?” kini kedua gadis itu saling berpelukan.

Hyejin mengenalkan gadis bernama Miran itu padaku. Katanya mereka tidak sengaja bertemu saat sama-sama menghadiri festival music jazz. Dan dari sejak itulah mereka berteman cukup baik.

Semakinharihubungan kami bertiga, atausejujurnyakukatakanhubungan kami berdua –akudanMiran, semakindekat.Kami seringjalanbersamasampaipadasuatuhariakumemberanikandirimenyatakanperasaan yang kuartikansebagai rasa cintaitupadanya.PadaMiran. Sahabatdarisahabatku.

Hubungan kami berjalan normal selayaknya orang pacaran.Yang sedikitmembedakanadalahbahwaternyata kami hampirtidakpernahberkencanberduakarenadiantara kami selaluadaHyejin.Awalnyaakumerasatidakkeberatan, begitupunMiran.Tapipadaakhirnyaakumerasajengahlaluentahkerasukansetanapaakumemintadiauntukmenjagajarakdari kami karena kami tidakinginada ‘pengganggu’. Ya, akutahuakujahat.TapiakutidakmenyadariitusampaisuatusaatakumelihatMiranberpelukandenganseorangnamja di depankeduamatakudandengansantaimengatakankalaunamjaituadalahkekasihnyasedangkanakuhanyasekedarpengisiwaktuluangnya.

Semuanyaberakhirbegitusaja.Akukehilanganpacarjugasahabat yang selamainiselaluadauntukku.Sahabat yang selalumendengarkeluhkesahku.Sahabat yang tidakpernahprotesmeskiterakhir kali bertemuakumalahmelukaiperasaannya.Sahabatterbaikku.Sahabat yang baru kusadari sangat berharga untukku.

Flashback ends

Aku memiringkan kepala dan mencari manik matanya. Menatap wajah manis itu dalam-dalam. Angin menyapu wajahnya. Poni yang menutupi keningnya tersibak ke atas. Kini wajahnya terlihat dengan sangat jelas. Matanya terpejam dan bibirnya menyunggingkan senyuman tipis. Rasa sejuk menjalar dalam hatiku.

“Hyejin-ah.”

“Emh…?” dia hanya bergumam pelan. Dan suaranya… Lembut…

“Hyejin-ah…” aku memanggilnya sekali lagi.

“Apa?” dia membuka matanya dan menoleh padaku.

“Johaeyo…” kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Ia mengerutkan kening dan menatapku intens. Matanya menyipit, seolah sedang menyelidiki sesuatu di wajahku.

“Nan jongmal johaeyo, Park Hyejin.” Aku serius. Aku mengucapkan dengan kesadaran penuh.

Dia bangkit lalu duduk kembali menatap lurus ke arah danau.

“Jangan bercanda Baekhyun-ah.”

“Apa aku terlihat sedang bercanda?” aku ikut menegakkan tubuhku. Kali ini menghadapkan diri padanya.

“Tidak bisa.” Ia masih belum memalingkan wajahnya dari danau itu.

Aku menggenggam kedua bahunya, membuat dia menghadap tepat ke wajahku. “Tatap mataku dan katakan kalau kau memang tidak memiliki perasaan apapun terhadapku.”

Ia masih menundukan wajahnya.

“Kau mencintaiku kan?” Aku bisa melihat air mukanya berubah. Ia tampak gelisah.

Hyejin menarik nafas dalam. “Aku…” aku bisa merasakan getaran dalam suaranya.

“Aku mencintaimu. Katakan kalau juga mencintaiku.” Pintaku.

“Aku… Emh… Aku…”

“Chagi-ya…” seketika kami menoleh kearah suara panggilan itu berasal. Disana aku melihat seorang namja dengan kemeja abu-abu tua yang di lipat sesiku. Meski cukup jauh, aku bisa melihat tubuh kekar namja itu. Aku mengenalnya.

Aku melirik Hyejin yang melemparkan senyuman kerah namja itu. “Suho?” Namja itu Suho. Ia Senior Hyejin di club musik.

“Ne, Suho Oppa. Namjachinguku.” Ia menatap mataku.

Tanganku yang semula bertengger manis di kedua lengannya perlahan bergeser turun. Aku melepaskannya.

“Aku harus pergi.” Hyejin mengambil tas kecilnya yang tergeletak di rumput lalu bangkit dari duduknya. Sementara aku masih terdiam dalam posisiku semula.

Aku kehilangannya. Batinku.

“Sampai jumpa, Baekhyun-ah.” Gadis itu melangkahkan kaki menuju namja yang sudah menunggunya. Namja itu menyambutnya dengan rangkulan di pinggang dan kecupan singkat di keningnya.

Sesaat sebelum memasuki mobil, aku sempat melihat Hyejin melirik kearahku, dan tersenyum. Senyum seorang sahabat, yang selamanya hanya akan menjadi sahabat. Setelah terdengar deru mesin mobil sport berwarna hitam itu, lama kelamaan aku mulai tidak bisa menangkap bayangannya lagi. Kendaraan itu pergi, begitu juga dengan gadis yang, baru ku sadari, sangat kucintai.

Baiklah, harus ku katakan bahwa tak semua cerita cinta itu berakhir bahagia. Lihat aku, karena kebodohanku yang tidak peka dengan kebaikan yang diberikan oleh sahabat baikku, kebaikan yang hanya kuartikan sebagai kasih sayang seorang sahabat, kebaikan yang sebenarnya adalah cinta yang tulus, sekarang aku duduk termenung sendiri. Menyaksikan cinta sejatiku pergi. Menyedihkan bukan?

~THE END~

Iklan

50 pemikiran pada “So Goodbye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s