Stay!

Author : @EunriPark

Cast : Kim Jong In, Park Eunri, Cho kyuhyun.

Length : Ficlet (1800 words)

Genre : Romance, friendship

Note : Dipublish juga disini >> http://exoffplanet.wordpress.com mampir ya u,u

*****

Shinwa University, Seoul, South Korea.

17.18 KST

 

Kim Jong In menempelkan sepasang headset besar dikedua telinganya. Ia tak menyalakan musik atau apapun itu, hanya ingin menutupi telinganya dari binar-binar kekaguman dan desisan memuja dari gadis-gadis yang dilewatinya. Namja itu berjalan ringan, menyusuri lorong Shinwa University yang masih saja ramai padahal sudah hampir gelap. Menuju ruangan Senat fakultas yang menyuruh Jong-In untuk menemuinya.

Ia mengetuk pintu beberapa kali, dan membuka pintu setelah mendengar orang yang didalam mempersilahkannya masuk.

“Duduk,” ujar pria setengah baya itu dengan nada ramah. Jong-In duduk, melepaskan headset besar dari telinganya dan berdehem pelan.

“Ada apa anda memanggil saya, Mr.Park?” tanya Jong-In to the point. Dia memang bukan tipe pria yang suka berbasa-basi. Hanya membuang waktu saja menurutnya.

“Kau tau,” terlihat pria dengan lesung pipit itu mengambil seberkas file dilaci mejanya. “Pertukaran siswa.. semester ini?”

Jong-In mengangguk singkat. Memperhatikan seniornya yang menyodorkan berkas tadi hingga nyaris mengenai jemarinya yang terletak diatas meja.

“Ye,”

“Pihak kampus menginginkanmu untuk menjadi salah satu peserta, eotte?”

Jong-In mendesah keras. Diraihnya berkas diatas meja itu kemudian membacanya tanpa minat. “Mandarin?” tanya Jong-In basa-basi. Pria itu tersenyum samar saat melihat anggukan singkat dari Senatnya itu dan menyimpan kertas bertuliskan aksara mandarin yang sama sekali tak ia mengerti. “Anda tau saya tak pintar berbahasa Mandarin, Mr.Park.” ujarnya santai.

“Ya, aku tau. Tapi..” belum sempat Tn. Park menyelesaikan perkataannya, terdengar kembali suara ketukan pintu. “Masuk!” Sahut Tn. Park.

“Good evening?” ujar sebuah suara berat yang baru saja menutup pintu. Namja dengan tinggi menjulang itu melangkah masuk dengan tenang dan menyunggingkan senyumannya.

“Gui Xian~ssi,” sapa Mr. Park ramah. “Take a seat, please.”

Pria itu lagi-lagi tersenyum. “Xiexie.” Ucapnya setelah duduk tepat disamping Jong-In.

Jong-In tersenyum simpul kearah pria yang tak dikenalnya itu, kemudian kembali menatap Mr.Park dengan serius. “Jadi?” tanyanya singkat.

*****

Eunri’s Appartment, early morning

 

Eunri membuka matanya perlahan, mencoba beradaptasi dengan cahaya matahari yang memaksa masuk melalui celah jendela ruangan appartementnya itu. Bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyum simpul yang tulus. Gadis itu merasa.. mendapatkan mimpi yang sangat indah—walau tak mengingat jelas mimpi itu seperti apa- tadi malam dan ia menyimpulkan presepsi positif tentang mimpinya itu. Entahlah, hanya merasa dirinya tak pernah sepenuh ini dan.. bukankah itu seperti pertanda baik?

Eunri menendang selimut yang entah sejak kapan membungkus tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Bahkan seingatnya semalam ia tertidur tanpa selimut karena terlalu lelah dan tak membuka sepatunya sama sekali.

Tak mau ambil pusing, Eunri beranjak dari ranjangnya dan menyingkap gorden juga jendela besar dibaliknya hingga cahaya matahari pagi itu benar-benar mendominasi ruangannya. Gadis itu menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.

Well, apa yang akan dia lakukan hari ini? Jadwal kuliahnya kosong and she had nothing to do. Eunri menatap lurus kearah jalanan kota Seoul yang sangat padat dipenuhi oleh pedestrian atau pengguna kendaraan pribadi memulai harinya masing-masing.

Baiklah, mendekam dikamar dan menonton film atau membaca novel seharian sepertinya tak terlalu buruk. Eunri kembali membantingkan tubuhnya keatas ranjang dan kemudian memejamkan matanya. Astaga! Kenapa bayangan pria itu kembali memenuhi otaknya? Baiklah, Eunri memang tak keberatan atas ini. Tapi.. perasaan ini terlalu asing dan mendominasi. Bagaimana bisa dia terus mengingat orang yang baru sekali ditemuinya? Dan.. bagaimana dengan Kai, kekasihnya? Apa gadis itu barusaja memikirkan tentang sesuatu bernama.. oh tidak, perselingkuhan?

*****

Eunri’s Appartment, 13. 01 KST

 

Eunri mengetuk-ngetukkan sendok pada piring kosong diatas meja. Sudah sangat siang dan ia melewatkan pagi tanpa sarapan karena tidak ada Kai yang biasanya selalu muncul pagi sekali di appartmen-nya hanya untuk memastikan bahwa gadis itu sarapan, kekasih yang tinggal tepat diruangan sebelahnya itu memang sudah mengatakan padanya ada beberapa hal yang harus diurus di kampus.

Gadis itu menyimpan dagunya diatas meja, menatap lurus pada piring melamin itu dan masih sibuk dengan kegiatannya. Seakan menikmati suara denting sendok yang beradu dengan permukaan piring. Dia meniup poninya hingga berterbangan dan menghembuskan nafas kasar. Menatap jam dinding yang telah menunjuk angka 1 namun pria itu belum juga masuk seenaknya kedalam ruangan gadis itu, dan menyapa seperti yang biasa ia lakukan dua bulan terakhir. Eunri membenarkan posisi duduknya dan menoleh tepat saat mendengar pintu berdebam pelan.

“Kau sudah pulang?” tanyanya langsung. Jong-In mengangguk lesu dan mengambil posisi duduk tepat dihadapannya. “Kenapa mukamu muram seperti itu, Kai?” tanya Eunri lagi.

Jong-In tersenyum. Dia melihat kearah piring kosong diatas meja dan tangan gadis itu yang menggenggam sebuah sendok. Dijatuhkannya tas ransel yang menggantung disebelah pundaknya lalu menarik satu kursi dan duduk tepat disamping gadis itu.

“Apa yang sedang kau lakukan, Ern?”

“Menunggu keajaiban, siapa tau makanan datang dari langit dan mendarat tepat dipiring kosong ini.” Cecarnya asal.

Jong-In mengacak rambut gadis itu dan segera beranjak menuju dapur. Dua puluh menit kemudian pria dengan iris obsidian itu kembali dengan dua piring nasi goreng buatannya. Pria itu kembali ke dapur dan membuat dua cup cappucino panas kesukaan Eunri, gadisnya. Mendapati gadis itu memejamkan mata dengan kepala menyamping diatas meja, Jong-In menyimpan dua cup coffee yang mengepulkan uap hangat tadi, kemudian duduk dan meniru posisi Eunri. Berhadapan dengan gadis itu dan.. menatap wajah favoritnya hingga tiba-tiba saja mata itu terbuka sempurna.

“Sudah selesai?” tanya Eunri dan menekuk kepalanya dengan tangan. Dia menguap kecil dan menarik piring berisi nasi goreng yang masih mengepuldkan uap hangat.

“Selamat makan…” ujar mereka berbarengan.

Eunri terlihat sangat menikmati suap demi suap nasi dipiringnya itu. Bukan masalah rasa atau apa, namun siapa yang membuatkan itu untuknya.

“Ern,” panggil Jong-In. Pria itu mendorong piringnya yang telah bersih dan menatap Eunri serius. Ia berdehem pelan dan menggaruk singkat kepalanya pertanda ia gugup.

“Aku.. akan ke Mandarin untuk pertukaran pelajar.” Ucap Jong-In berat. Seakan ia sama sekali tak ingin mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya.

Nafas Eunri tercekat. “Berapa lama?”

“Entahlah. Dua bulan?”

Eunri memicingkan matanya, menatap pria itu intens. Dia menghela nafas berat dan mengalihkan tatapannya pada piring nasi goreng diatas meja tanpa minat. Nafsu makannya menguap seiring dengan hatinya yang merasa keberatan. “Kau yakin?”

Jong-In mengangguk.

“Terserah kau saja, aku pasti mendukungmu.” Ujar Eunri serak sambil mengaduk-ngaduk cappucino-nya enggan. Gadis itu merasakan sakit yang terasa seperti menekan ulu hatinya, dan saat pria itu pergi, sepertinya tekanan itu akan berubah menjadi tusukan.

*****

Shinwa University, 02.13 PM

 

Langit tampak amat mendung siang itu dan terlihat dua mahasiswi sedang berjalan beriringan di lorong panjang Shinwa. Keduanya tampak sibuk dengan dunia masing-masing karena terpasang headphone besar dikedua telinganya.

“YAK! Kau tidak punya mata hah!?”

Eunri menggerutu sebal, memaki-maki pria yang barusaja menubruknya kemudian berjongkok, membereskan buku yang berjatuhan—terlepas dari genggamannya.

“K-Kau…” desisnya berbahaya. Gadis itu segera berdiri, melepas headphone yang tertempel ditelinganya kemudian mengalungkannya dilehernya sendiri. Menatap pria dihadapannya tajam, dan sangat mengintimidasi. Menatap wajahnya yang sepertinya ia kenali dengan baik. “KAU YANG MENGINJAK FLASHDISK-KU WAKTU ITU?!!!” Jerit Eunri, mengesampingkan jantungnya yang memompa darah berlebihan, berdetak cepat tak terkendali karena ia kembali menemukan wajah itu.

“Kau pikir apa yang sudah kau lakukan hah!? Tugasku disana semua dan..” Youngri, temannya itu menyikutnya, memprotes teriakannya yang bisa memecahkan gendang telinga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan tentu saja.. telinganya. “Diam kau Youngri! Dia ini pria kurang a—”

“Dia tak mengerti bahasamu,” ujar ringan Jong-In yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Eunri dan merangkul bahu gadis itu mesra.

“Mwoya?” jawab Eunri dengan alis tertaut. Gadis itu menatap Jong-In lekat. Tersirat perasaan bersalah dalam ekspressinya, entahlah karena apa, yang jelas ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika dia benar-benar pergi ke Mandarin. “Dia peserta pertukaran pelajar dari Mandarin itu.” Kembali, ucapan Jong-In bernada ringan dan membuat Eunri semakin meledak-ledak. Dari Mandarin? Cih! Lalu beberapa hari lalu itu apa? Eunri masih mengingat bagaimana pria itu lewat di depan rumahnya dan menginjak flashdisk Eunri yang terjatuh. Meneriakinya dengan bahasa Korea.

“Animnida. Aku mengerti bahasa kalian,” ujar pria itu untuk pertama kalinya. Memamerkan senyum tiga jarinya pada Jong-In dan Eunri.

“Bagus kalau begitu,” ucap Eunri ketus sembari memalingkan arah pandangnya. “Kau masih berurusan denganku Tuan,” ujarnya tajam.

“Kajja,” ajak Jong-In sembari menarik lembut pergelangan tangan Eunri. Meninggalkan pria-mandarin itu sendirian. Ah tidak, berdua bersama Youngri. “Kau sudah makan siang?” tanya Jong-In pelan. Gadis itu menjawab dengan gelengan ringan dan mengelus perutnya menandakan ia lapar. “Geurom kajja!” ujar Jong-In lalu kembali menarik Eunri untuk berjalan beriringan.

Eunri dan Jong-In duduk dikursi Cafetaria yang disediakan kampus. Keduanya makan dengan tenang sambil sesekali tertawa lepas membicarakan hal-hal konyol yang sama sekali tak penting.

“Kai,” panggil Eunri serius sembari menyimpan jus strawberry yang barusaja diminumnya.

“Apa kau benar-benar.. akan pergi? Maksudku, apa kau tidak bisa menolak exchange itu dan melemparkannya pada mahasiswa lain saja?” lanjut gadis itu memutar-mutar sedotan pada gelas minumannya.

Jong-In tersenyum samar. “Memangnya kenapa?”

“Apa kau tidak bisa membacaku? Perasaanku? Aku tidak ingin kau pergi, bodoh!” katanya yang membuat Jong-In tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya. “Baiklah, kuusahakan.”

*****

Jong-In’s Appartement, Afternoon

 

Jong-In melihat gadis itu terpekur menatapi pion-pion berantakan diatas papan catur. Memperhatikan setiap ekspressi yang gadis itu keluarkan, yang selalu Jong-In sukai. Dia yang menggembungkan pipinya ketika kesal, mengetuk pipi bawahnya dengan jari ketika berpikir, atau ber-aegyo ketika merajuk.

Mereka memang selalu menghabiskan waktu senggang seperti ini dengan mengobrol, melamun bersama atau bermain catur seperti saat ini. Eunri orang yang bebas, maksudnya, bagaimana bisa kau menggerakkan kuda dengan lurus dan kekeh bahwa hal itu benar dengan argumentasi konyol seperti ambisi ingin membunuh raja lawan di papan catur?

Eunri meniup poninya dan menyengir kearah Jong-In, lalu menendang rajanya hingga terlempar dengan patihnya padahal terhalangi beberapa pion kecil disamping dan didepannya.

“Aku bosan kalah terus, Kai.” Ujarnya nyaris mendengus. Jong-In tersenyum dan menutup papan catur itu kemudian menyimpannya didalam laci. Jong-In selalu menyukai saat-saat seperti ini. Saat ia bisa dengan bebas menatap wajahnya yang entah sejak kapan telah menjadi pusat tata surya pribadinya. Saat pria itu bisa mendengarkan dengan baik bahwa dia bernafas dengan benar dan dalam keadaan baik-baik saja.

Eunri menarikku jatuh diatas ranjang milik pria itu dan dia menyimpan kepalanya diatas perut Jong-In. Bersenandung pelan sambil menutup matanya. Jong-In menarik tangannya, menautkan jemari keduanya. Membuatnya praktis menoleh dan menatap pria itu polos.

“Kau.. milikku,” ujar Jong-In pelan, membuat semburat merah muncul samar dikedua sisi wajah gadis itu.

“Yak~ enak saja,” dengus gadis itu, menggaruk-garuk pipinya yang sama sekali tak gatal. “Jika kau tidak berangkat ke Mandarin, akan kuusahakan untuk meng-acc kata-katamu barusan.” Tantang Eunri menatap hangat kearah tautan tangan mereka.

“Aku juga tidak ingin berangkat. Memangnya kalau aku berangkat, kau pikir siapa yang akan membangunkan tetangga-tukang-tidurku dipagihari plus membuatkannya sarapan?” cerocos Jong-In yang langsung membuat gadis itu skakmat, membuat gadis itu hanya bisa mendengus keras lalu memejamkan matanya merasakan detak jantung pria itu yang selalu disukainya. Dan tiba-tiba saja.. sekelebatan sosok pria mandarin itu muncul dikepalanya, tersenyum setan kearahnya. Oh, gadis itu bahkan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia bertemu dengan pria itu setiap hari, tanpa ada Kai disisinya. Apa dia akan berpaling? Melupakan Kim Jong-In begitu saja dan berselingkuh dengan pria itu? Siapa namanya? Gui Xian?

“Ern…” panggil Jong-In lembut, “Jangan berpikir untuk berselingkuh dariku. Dua bulan itu tidak lama. Lihat?” dia menunjukkan dua jarinya, membuat Eunri menelan ludah. Sial! Apa pria itu bisa membaca pikirannya? “Nevermind. Just kidding~”

-END-

Iklan

20 pemikiran pada “Stay!

  1. wahhh…
    Keren thor cerita nx??? Tpi ine mah kpndekan, bkin sequel nx??? Gimana pas kai udah k’mandarin…
    Btw, gui xian itu siapa thor???
    Aq k’bayang nx kris nieh,,, ingat kata2 kai xg mnjulang tinggi, nugu??

    Eumm, daebak thor, bikin lagi yya xg kyak ginie…^^ hwaiting!

  2. author ff ini nggantung banget, harusnya dilanjuttinnnnn lagi seru-serunya eh malah

    END

    admin mah *nangis bareng dipojokan bareng Baekhyun*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s