A Perfectly Good Heart

Note                : Sequel of ‘So Goodbye’ story

Author              : Inhi_Park

Main Casts       : Park Hyejin, Kim Joonmyun a.k.a. Suho

Support Cast    : Byun Baekhyun

Genre               : Romance

Rating               : PG-13

A.N                 : Hello again readers… FF ini sequel dari FF yg judulnya “So Goodbye atau Goodbye My Love”, bisa dibilang ini lanjutannya, tapi kali ini dari sidenya Hyejin sama Suho yaa… Jadi buat yang belum baca “So Goodbye atau Goodbye My Love” disarankan untuk jalan2 keliling library dulu biar kebayang deh tuh jalan ceritanya…

Oke… langsung disimak aja ya… Jangan lupa comment-nya…

Happy Reading… n_n

Summary          :

Cinta itu… Perjuangan dan Pengorbanan

(Hyejin’s side)

Hari ini, di tempat ini, matahari bersinar seperti biasanya. Cerah dan menghangatkan. Angin juga berhembus seperti biasanya. Lembut dan menyejukkan. Yang tidak biasa hanya apa yang sedang kurasakan saat ini. Aku berjalan menghampiri seorang namja tampan yang yang berstatus sebagai namjacingguku. Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Lalu menyambutku dengan kecupan singkat di keningku. Ironis. Harusnya aku bahagia dengan semua ini, tapi nyatanya tidak.

Ragaku mungkin kini sedang disini. Bersama Suho oppa, namjachinguku. Tapi hati dan pikiranku tertinggal disana. Di tempat dimana aku menitipkan perasaanku sejak dulu. Baekhyun.

Kamu jahat Baekhyun… kamu egois… kamu babo… dan kamu… kenapa kamu baru menyadari perasaanku di saat yang tidak tepat seperti sekarang.

“Hyejin-ah… jadi bagaimana?” Suara lembut itu menyadarkanku dari lamunan tentang namja bernama Baekhyun itu.

“Emh? Ne?Bagaimana apanya oppa?” sedikit merasa bersalah karena ternyata dia mengajakku bicara dari tadi sementara aku sama sekali tidak mendengarkannya.

“Kamu melamun?” matanya sedikit melirik kearahku sementara wajahnya masih menghadap lurus ke jalanan yang sedang kami lalui.

“A.. Ani oppa.” Jawabku terbata-bata karena memang benar aku sedang melamun.

Tanpa memperpanjang obrolan lagi, ia kembali fokus pada kegiatannya yang sedang menyetir sekarang. Dan aku kembali ke dalam duniaku sendiri.

Flashback

Appa membukakan pintu mobil lalu eomma menuntunku melangkahkan kaki memasuki rumah baruku. Hari ini kami pindah ke rumah ke daerah yang lebih dekat dengan tempat kerja Appa. Yaa… setidaknya itulah yang eommaku katakan saat aku bertanya alasan kami harus pindah.

Saat itu umurku baru 9 tahun. Aku yang memang pada dasarnya sangat sulit beradaptasi dengan lingkungan baru sempat merasa putus asa karena sampai hampir dua bulan aku tinggal di rumah dan lingkungan yang baru, aku masih belum memiliki teman seorang pun. Sampai suatu hari, saat aku sedang duduk di ayunan di taman sekolah sambil menunggu eommaku datang menjemput, tiba-tiba sebuah bola melayang kearahku dan mendarat tepat di kepalaku.

Aku terduduk di tanah sambil memegangi kepalaku yang terasa berdenyut karena tertimpa bola tadi.

“Hey… Gwenchanayo?” Aku mendengar suara seorang anak laki-laki yang sepertinya sekarang sedang berada di dekatku.

“Hey… Neo gwenchana?” Dia kembali bersuara setelah aku tidak menghiraukan pertanyaannya yang pertama.

Kini aku merasakan sesuatu menyentuh pundakku. “Hey… jawab aku.” Katanya sambil menusuk-nusukkan telunjuknya ke pundakku (poking gtu maksudnya… Hhe…).

Aku berdiri secara tiba-tiba dengan tangan yang masih bertengger di puncak kepala. “YA! Kau pikir terkena bola itu tidak sakit.” Bocah laki-laki yang kini berdiri tepat dihadapanku terlihat terbengong-bengong melihat reaksiku yang sangat tiba-tiba.

“Dasar anak nakal!” Kataku sambil menghentakkan kaki tepat diatas kaki kirinya sebelum akhirnya aku berlari menuju gerbang sekolah.

Dari kejauhan aku melihat dia meringis sambil memeganggi kakinya yang ku injak tadi.

Itu pertama kali aku bertemu dengannya. Byun Baekhyun. Bocah laki-laki yang menyebalkan yang ternyata adalah putra dari ahjumma baik hati yang tinggal di samping rumahku. Bocah laki-laki yang pada akhirnya menjadi teman pertamaku disini, kemudian menjadi sahabat baikku dan lalu menjadi namja yang kusukai.

“Aku baru tahu kalau kau suka musik.” Kata Baekhyun saat kami dalam perjalanan pulang.

Hari itu adalah minggu pertama di tahun pertamaku sebagai siswa High School. Maksud dari penyataan bocah laki-laki yang kini sudah tumbuh menjadi namja yang… Emmmh tampan… itu adalah klarifikasi mengenai kabar kalau aku mengikuti club musik di sekolah baruku itu.

“Memangnya kau tahu apa sih tentang aku?” Jawabku asal.

“Ya! Kau ini…” Ia mengacak rambutku. “Ah… aku tahu. Kau pasti ikut club itu karena ketua clubnya yang katanya sangat tampan itu kan? Hmm… siapa namanya? Emmmhh… Suho? Iya, Suho. Pasti karena dia kan?” Baekhyun masih saja mengoceh di sampingku.

“Bukan… kau ini sok tahu sekali…” Kupercepat langkah agar nisa berjalan mendahuluinya. Baekhyun-ah… Kau ini bodoh atau apa? Rutukku dalam hati. Tentu saja aku kesal karena alasan sebenarnya aku mengikuti club itu adalah karena dia. Club musik adalah satu-satunya club yang memiliki hari latihan yang sama dengan club basket yang di ikuti Baekhyun. Dengan mengikuti club ini aku punya kesempatan untuk selalu pulang bersama dengannya.

Kau tentu tahu kenapa aku melakukan itu, ya… karena aku menyukainya. Meski aku tahu kalau Baekhyun tidak tahu dan tidak akan pernah tahu perasaan yang aku rasakan padanya karena aku sama sekali tidak punya niat untuk menyatakannya. Biarkan seperti ini saja. Biarkan aku saja yang menyimpan perasaan ini. Dan biarkan kami hanya menjadi sahabat saja.

Flashback ends

“Hyejin…” Lagi-lagi suara lembut itu menarikku kembali ke dunia nyata.

“Ah… Ne Oppa. Kenapa?” Tanyaku.

“Kau yang kenapa?” Ia membalikkan pertanyaanku.

Baru kusadari kalau ternyata kami sudah sampai di depan sebuah cafe tempat kami akan makan bersama siang ini. “Mian Oppa.” Hanya itu kata-kata yang dapat keluar dari mulutku.

“Sepertinya kamu kurang baik hari ini. Kita makan bersama lain kali saja ya…” Suho oppa menstarter lagi mobilnya.

“Tidak oppa. Aku tidak apa-apa.” Kataku pelan.

Namja dengan pembawaan yang tenang itu melemparkan senyumnya padaku sementara ia kembali menjalankan mobilnya entah mau kemana.

 

(Suho’s side)

Berbagai pertanyaan masih berterbangan di atas kepalaku saat ini. Apa yang kulakukan ini benar? Apa aku tidak akan menyesalinya? Apa aku sungguh harus melakukan ini? Namun setelah melihat wajah gadis yang duduk disampingku saat ini, aku segera menepis semua pertanyaan yang membuatku ragu itu.

Matanya tertuju pada jalanan lurus yang sedang kami lalui, tapi aku yakin dia tidak sedang benar-benar memperhatikan jalanan. Tatapannya kosong.

Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Hyejin masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang entah aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Atau mungkin sebenarnya aku tahu. Ya aku yakin aku tahu apa yang dipikirkan olehnya, namun terlalu menyakitkan untukku untuk mengakuinya. Aku tidak mau mengakui kalau sebenarnya bukan aku yang notabene adalah pacarnya lah yang ada di pikirannya, melainkan ada orang lain.

Flashback

Ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan. Menjadi ketua club di sekolah bukanlah hal yang bisa dibanggakan. Selain kepopuleran, maka tidak ada lagi keuntungan yang aku dapatkan. Terlebih di awal tahun pelajaran seperti sekarang saat semua club sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan penyambutan siswa baru dan anggota baru.

Pesta penyambutan siswa baru pun di mulai. Sebagai ketua club musik aku di minta untuk ikut memeriahkan acara dengan bermain piano solo. Dan saat aku sedang berhadapan dengan piano klasik di atas panggung itulah aku melihat gadis yang langsung menarik perhatianku.

Park Hyejin. Itulah dia. Siswi baru yang ternyata mengikuti club dimana aku berada. Kemampuannya memainkan piano yang boleh dibilang lumayan baik membuat dia memiliki nilai tambah lagi di mataku.

Setelah cukup lama aku menghabiskan hari-hariku dengan berdiri di satu sudut dan memperhatikan setiap aktivitasnya, aku coba memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku meski dengan balutan rasa ragu dan takut akan kemungkinan adanya penolakkan darinya. Terlebih dari observasi (?) yang ku lakukan, seringkali Hyejin terlihat akrab dengan seorang namja yang belakangan ini ku ketahui bernama Baekhyun yang merupakan sahabat baiknya. Yaa… walaupun harus ku katakan kalau mereka terlihat terlalu akrab kalau itu hanya berlabel ‘sahabat’.

Dan setelah penantian yang cukup panjang akhirnya kini aku mendapatkan gadis yang ku sayangi itu.

Flashback ends

Aku memarkirkan mobil persis di tempat yang sama ketika aku menjemputnya satu jam yang lalu.Dan Hyejin terlihat kaget saat menyadari dimana kami berada sekarang.

“Oppa…” Suaranya terdengar sangat pelan.

“Ayo turun.” Kataku sambil melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhku lalu melangkahkan kaki keluar dari mobil.

Sementara itu ekspresi yang di tunjukan Hyejin masih sama, bingung dan heran. Meski begitu ia menuruti permintaanku untuk ikut turun dari mobil.

Ku gengngam erat kedua pundak gadis yang kini berdiri di hadapanku. Aku menatap jauh ke dalam matanya. Dan disana aku mendapat keyakinan bahwa yang kulakukan ini adalah benar yang terbaik. “Temui dia.” Kataku sambil memutar badannya hingga kini kami berdua dapat melihat dengan jelas bahwa di kejauhan sana tengah berdiri seorang pria sambil menghadap ke arah danau. Itu Baekhyun. Namja yang dicintai oleh gadis yang kucintai.

Hyejin berbalik dan menatapku dengan kedua bola matanya yang indah.“Oppa…”

Suaranya bergetar. Aku tahu dia sedang dengan susah payah menahan tangisnya. Dan kalau saja dia tahu kalau itu juga lah yang sedang aku lakukan sekarang. Kau pikir mudah melepaskan orang yang kita cintai pergi begitu saja? Tentu saja tidak.

“Hyejin-ah… berjanjilah kalau kamu akan bahagia… Jangan sampai aku melihatmu bersedih, karena kalau sampai itu terjadi maka kau harus menyerahkan hatimu padaku dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi” Kataku sambil mencubit hidungnya.

Ia tersenyum manis meski satu tetes cairan bening berhasil meluncur dari mata indahnya. “Gomawo Oppa…” Katanya sambil menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukanku.

“Ne…” Hanya itu. Hanya itu yang mampu ku katakan. Aku terlalu senang mendapati gadis yang kucintai sekarang sedang berada di pelukanku meski aku sadar kalau ini adalah yang pertama sekaligus yang terakhir.

Hyejin sempat memberiku senyuman manisnya sebelum akhirnya ia berbalik lalu berlari kearah orang yang benar-benar ia cintai. Dan dari tempatku berdiri aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Hyejin memeluk namja itu dari belakang. Baekhyun terlihat kaget saat menyadari Hyejin lah yang sedang memeluknya dan kini mereka pun saling berpelukan.

Sebelum ku putuskan untuk segera pergi dari tempat ini untuk menghindari kemungkinan aku berubah pikiran, aku sempat melihat sekali lagi kearah mereka. Dan pada saat itu aku melihat Baekhyun sedang tersenyum kearahku. Mungkin senyumnya itu mewakili tanda terima kasih darinya.

Dengan sedikit menaikkan kecepatan aku segera meninggalkan tempat itu. Semuanya sudah benar-benar berakhir untukku. Tapi biarlah… Toh yang terpenting bagiku adalah melihat orang yang kucintai bahagia. Lagipula 1 hati yang terluka jelas lebih baik daripada 2 bukan?

~THE END~

 

Iklan

32 pemikiran pada “A Perfectly Good Heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s