Careless and Mindless (Chapter 3)

Author             : @Tanti_ChoQorry / TantikKyuHee

Main cast         : Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Song Jiyoo (OC), Song Sheina (OC)

Genre              : Romance, friendship, little angst, AU, school life.

Length             : Chaptered

Disclaimer       : plot, story, EXO and Song Jiyoo is mine, Sehun, Baekhyun and Chanyeol belongs to themselves, their parents and God.

Warning          : Typo bertebaran !!

~~Happy reading~~

 

Semilir angin musim gugur amat sangat menusuk di sore hari yang mendung. Seorang gadis sedang duduk di sebuah bangku taman yang menghadap langsung pemandangan air mancur di depannya.

Matanya menatap kosong air-air yang saling berlomba memancar di depannya, pikirannya melayang kepada hal yang sudah beberapa jam lalu menyita pikirannya itu.

Jiyoo memikirkan fakta yang baru saja ia ketahui dari dokter yang memeriksanya siang tadi. gadis itu menderita gagal ginjal, penyebab kenapa belakangan ini perutnya selalu bermasalah dan juga ia sering sekali mimisan akhir-akhir ini.

Bukan itu masalah yang sedang ia pikirkan, lebih tepatnya 3 bulan yang lalu, ia dan Sheina mengikuti tes pemeriksaan kesehatan di salah satu rumah sakit dan dari tes itu jelas-jelas dinyatakan kalau dirinya tidak memilki masalah apapun dengan tubuhnya, sebaliknya Sheina-lah yang dinyatakan menderita gagal ginjal stadium 2 kala itu.

Lalu, kenapa orang yang sudah dinyatakan sehat 3 bulan lalu mendadak dinyatakan menderita gagal ginjal? Bahkan sudah mencapai stadium 3. Apakah logis itu semua terjadi?

Tidak, pikir Jiyoo.

“Mungkinkah hasil pemeriksaanku dan Sheina tertukar waktu itu?” gumam Jiyoo di tengah deru angin musim gugur yang makin menusuk.

Song Sheina, gadis itu selalu terlihat baik-baik saja dan tidak pernah menunjukan gejala apapun tentang tubuhnya selama ini. Apa memang benar-benar tertukar?, pikir Jiyoo.

 

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Jiyoo sedang mengerjakan tugas rumahnya saat seseorang membuka pintu kamarnya dengan kasar. Jiyoo menoleh dan mendapati adiknya Sheina sudah berdiri disana dengan dua buah buku di genggamannya.

“Kerjakan ini!!” Sheina melempar buku-buku itu tepat diatas buku tugas milik Jiyoo yang sedang dikerjakannya tadi.

“Malam ini aku juga banyak tugas Na-ya, bisakah kau mengerjakannya sendiri?” ucap Jiyoo sambil menatap adiknya dengan tatapan memohon.

“Shireo. Kau harus mengerjakannya!!” ucapnya sambil melipat tangannya di depan dadanya, menatap angkuh kakak kandungnya itu. “Anggap saja sebagai permintaan maafmu karena kau waktu itu menghancurkan acara perkenalanku dengan Sehun sunbae!” lanjutnya.

“Tapi, aku tidak bermaksud…”

“Aku tahu kau hanya berpura-pura waktu itu. kau hanya tidak mau Sehun sunbae mengenalku kan? Makanya kau berpura-pura pingsan !”

“Mwo?” Jiyoo membelalakan matanya mendengar tuduhan yang dilontarkan adiknya itu. sungguh, ia tidak berpura-pura waktu itu. kenapa adiknya bisa sepicik itu dengan menuduhnya berpura-pura?

“Kau menyukai Sehun sunbae kan? Kau tidak mau Sehun sunbae berpaling padaku dan meninggalkanmu kan? Mengaku saja Song Jiyoo. Picik sekali kau!!” tuduhnya lagi dan kali ini benar-benar membuat Jiyoo geram dan ingin sekali membalas ucapan pedas adiknya itu, tapi diurungkannya kembali niat itu karena ia sadar dengan kondisinya dan kondisi adiknya yang tidak dalam keadaan baik saat ini.

“Akan kukerjakan tugasmu. Jadi bisakah kau keluar dari kamarku?”

Sheina mendengus sambil bergumam “Kau picik,” dan membanting pintu kamar Jiyoo dengan keras.

Jiyoo menghembuskan nafasnya berat setelah adiknya keluar dari kamarnya. Ia berpikir, kenapa bisa adiknya berpikiran buruk tentang dirinya seperti itu? salah apa dirinya hingga adiknya terlihat begitu membencinya.

Ia merasakan hal aneh saat Sheina memintanya mengenalkan Sehun padanya itu benar, jiyoo akui itu.

Ia merasa sedikit tidak rela melihat Sheina dengan jelas menyiratkan rasa sukanya kepada Sehun, ia juga akui itu. tapi sungguh, ia bukan gadis picik yang akan melakukan segala cara untuk menjauhkan Sehun dari gadis lain. Ia sadar kalau hubungannya dan Sehun hanya sebatas teman dekat sama seperti hubungannya dengan Baekhyun dan Chanyeol juga.

 

Jiyoo membereskan buku yang akan dibawanya ke sekolah hari ini. Gadis itu berencana berangkat pagi-pagi karena Baekhyun yang memintanya.

Saat ia hendak keluar kamar, ia mendadak teringat 2 buku tugas milik Sheina yang semalam ia kerjakan sampai larut itu.

Setelah mengambilnya, jiyoo berencana mengembalikannya pada Sheina. Tapi saat tangannya hendak mengetuk pintu, ia kembali mengurungkan niatnya karena sepertinya adiknya itu sedang berbicara di telpon..

“Tentu saja aku akan ikut tour itu, eomma dan appa pasti mengizinkanku,”

“___”

“Apa? Tentu saja tidak. Kau mau tahu satu hal Hyuna-ya? sebenarnya aku tidak mengidap gagal ginjal selama ini,”

Degg… deg..

Jantung Jiyoo berpacu dengan cepat saat mendengar ucapan adiknya itu, ia memastikan telinganya tidak terganggu saat mendengar ucapan adiknya yang sangat mengejutkannya.

“Aku tahu kalau kakakku itu berpenyakit karena ia yang memang nampak lemah, jadi saat kami sekeluarga melakukan tes kesehatan. Aku diam-diam menukar sampel darahku dengannya. Dan sebenarnya dialah yang menderita gagal ginjal. Hahaha…”

Hati jiyoo seakan teriris mendengar ucapan senang adiknya saat mengatakan kalau Jiyoo lah yang mengidap gagal ginjal selama ini. Jiyoo ingin sekali mendobrak pintu itu dan mencaci adiknya, tapi ia mengurungkan niatnya itu. ia ingin tahu kebohongan apalagi yang dibuat adiknya itu.

“Karena aku membencinya. Eomma dan Appa selalu memberikan perhatian lebih padanya karena ia lebih berprestasi daripada aku. Dan orang-orang selalu memujinya karena ia lebih cantik dariku. Aku iri dan aku kesal. Kurasa wajar kan jika aku membalasnya, hyuna-ya”

Jiyoo sudah tidak tahan lagi dengan ucapan-ucapan adiknya yang benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Tidakkah ia sadar apa yang sudah ia lakukan bisa saja membunuhku? Adik macam apa dia? Pikir Jiyoo.

“Benar apa yang kau katakan Song Sheina?” desis Jiyoo pelan.

Sheina kaget saat tiba-tiba mendengar suara jiyoo dan mendapati orangnya sedang mendelik tajam padanya. Ia seperti maling yang tertangkap basah dan menutup plip ponselnya dengan keras.

“A-apa yang kau lakukan di kamarku hah? Kau tidak punya sopan santun eh, masuk ke kamarku tanpa…”

“DIAM KAU !!” bentak Jiyoo.

“NEO!! Tidakkah kau sadar apa yang sudah kau lakukan padaku? Kenapa kau tega melakukannya hah?” jiyoo menangis. Ia tidak tahan dengan kelakuan adiknya sendiri.

“Apa? Memang apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun?” ucap Sheina santai dan keluar begitu saja dari kamarnya, seolah ia memang tidak bersalah.

Jiyoo dengan cepat menarik seragam sheina hingga adiknya itu tertarik kebelakang.

“YA!!lepaskan aku!”

“Shireoo. Kau harus mengatakan pada Appa dan Eomma apa yang sebenarnya terjadi Song Sheina.!”

“Aku tidak mau aku akkhh….” Sheina terlalu kencang mencoba melepaskan cengkraman Jiyoo di blazernya padahal jiyoo tidak mencengkram blazer itu dengan kuat dan hanya memegangnya saja dan akhirnya tubuh Sheina terdorong kebelakang karena aksinya sendiri dan sialnya kakinya terpeleset di anak tangga pertama hingga membuatnya jatuh berguling sampai di tangga ke 7.

“Sheina-ya !!” teriak Jiyoo Shock melihat adiknya kini terbaring di tangga dengan dahi yang mengeluarkan darah.

“Ada apa ini ribut… OMO… Sheina-ya!!” ibunya yang baru saja datang tercengang saat melihat putri bungsunya tergeletak tak sadarkan diri di tangga.

“Yeobo… Yeobo… kemari cepat!! Anak kita !!” teriak eommanya kalap.

Mr. Song yang tadi sedang menonton tayangan berita pagi di televisi merasa istrinya berteriak memanggilnya dan segera bergegas menghampiri istrinya.

Tak beda jauh dengan reaksi Mrs. Song, Mr. song juga berteriak panic saat melihat tubuh Sheina yang tergeletak di tangga.

“Apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa Sheina bisa jatuh seperti ini ! kau mencoba menjatuhkannya Song Jiyoo?!” tuduh Mr. Song pada Jiyoo yang masih mematung di satu  tangga diatas tubuh Sheina, memerhatikan adegan drama keluarga dari tempatnya.

“Sheina, dia terlalu keras mencoba melepaskan cengkramanku di blazernya hingga ia terjengkal ke belakang dan jatuh,” ucap Jiyoo sambil tertunduk.

“Mwo? Jadi ini semua karenamu? Kau mendorong uri Sheina begitu?” jiyoo membelalakan matanya lebar. Bagaimana bisa ayahnya itu salah mengartikan ucapannya seperti ini.

“A-anieyo appa. Aku..”

“Kau Song Jiyoo. Tidakkah kau tau kalau adikmu ini menderita penyakit parah? Dan kau berusaha mencelakakannya eh?”

“Appa aku tidak berusaha mencelakai Sheina. Dia terjatuh karena ulahnya sendiri dan perlu kau tau Appa. Sebenarnya dia berbohong. Dia tidak sakit parah appa. Dia menukar…!”

Plakkk

Jiyoo memegang pipinya yang sakit karena tamparan kencang appanya. Sakit itu lebih terasa ke hatinya daripada fisiknya.

“Kau menuduh anakku berbohong Song Jiyoo?! Kau benar-benar biadab! Kau sudah mencelakakannya dan sekarang kau menuduhnya? LEBIH BAIK KAU KELUAR SAJA DARI RUMAH INI !! AKU TIDAK MAU PUNYA ANAK SEPERTIMU !!” kali ini Mrs. Song yang membentak Jiyoo.

“Yeobo. Ayo bawa Sheina ke rumah sakit!” lanjut eommanya sambil melirik suaminya.

Mr song mengangkat tubuh Sheina diikuti Mrs Song dibelakangnya. Mr. Song menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Jiyoo dengan tatapan tajam.

“Kuharap saat aku pulang nanti, kau sudah tidak ada lagi di rumah ini!” ucapnya dan seketika itu juga jiyoo merasa kalau dunianya benar-benar hancur.

Bayangkan saja. Orang tuanya mengusirnya dan tidak menganggapnya anak hanya karena sebuah kesalahpahaman dan kebohongan yang dilakukan adiknya. Pantaskah ia mendapatkannya? Padahal ialah yang paling menderita saat ini.

 

Jiyoo menarik kopernya menuju halte bis terdekat dengan mata berair. Ia memutuskan untuk mengikuti keinginan kedua orangtuanya untuk pergi meninggalkan rumah itu. isi koper itu hanya beberapa baju dan buku yang ia perlukan untuk menghadapi ujian Negara yang akan dilaksanakan kurang dari 2 bulan lagi.

Kemana ia akan pergi?

Jiyoo sendiri bingung, ia tidak tahu harus pergi kemana. Ia berfikir untuk menyewa sebuah apartemen kecil atau setidaknya sebuah kamar yang bisa menampungnya saat ini dengan tabungan yang dimilikinya.

Ia hendak menyebrang karena halte bis berada di sebrang jalan tempat ia berdiri. Saat ia sedang menunggu lampu memerah agar ia bisa menyebrang, tiba-tiba ia melihat seorang ahjuma hendak menyebrang begitu saja padahal lampu belum menunjukan tanda untuk pejalan kaki.

“Ahjuma Awas !!!”

Tanpa pikir panjang Jiyoo langsung menarik ahjuma yang baru melangkah sekitar 3 langkah itu saat dilihatnya sebuah mobil sedan sedang melaju dengan cepat kearahnya.

Brugghhh

Jiyoo tidak sadarkan diri setelah ia berhasil menarik tangan ahjuma itu ke tepi tepat saat mobil sedan itu melintas. Kepalanya mengeluarkan darah karena terbentur aspal.

“Omo….”teriak ahjuma itu.

 

Sehun POV

“Apa Jiyoo masih sakit? Kenapa ia tidak masuk sekolah?” ujar Chanyeol saat aku dan juga baekhyun baru saja selesai mengikuti pelajaran Olahraga. Dan sekarang kami sedang duduk di pinggir lapangan.

Benar. Mungkinkah Jiyoo masih sakit? Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini. Telpon dari kami bertiga tidak diangkatnya sedari tadi, kenapa ia tidak menghubungiku?

“Mungkin saja. Tapi tadi pagi ia berjanji akan berangkat pagi-pagi sekali karena ingin membantuku menyelesaikan tugas, tapi kenapa ia malah tidak masuk?” ucap Baekhyun sambil mengguyur wajahnya dengan air.

“Kau sempat bertukar pesan dengannya tadi pagi?!” ucapku kaget. Bagaimana bisa ia baru mengatakannya sekarang ._.

“Emmh. Aku benar-benar khawatir dengannya. Tidakkah kalian sadar kalau Uri Jiyoo akhir-akhir ini selalu terlihat pucat?” ucapan baekhyun makin membuat hatiku tidak karuan. Aku mengkhawatirkanmu jiyoo-a..

Drrrttt….

Kurasakan ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk, eomma? Tumben eomma menelponku saat aku di sekolah.

“Yeobseyo,”

“Sehun-ah apa kau kenal siswa sekolahmu yang bernama Song Jiyoo? Dia di rumah sakit sekarang. dia mencoba menyelamatkan Eomma,”

Jantungku hampir saja lepas saat eomma bilang Jiyoo di rumah sakit. Apakah itu benar-benar Jiyoo-ku? Tapi setahuku, orang bernama Song Jiyoo di sekolah ini hanya temanku saja.

“Ne. eomma, dia teman baikku. Dimana kalian? Aku segera kesana!”

“Rumah sakit Seoul. Kamar no. 128 lantai 4”

“Aku kesana !!” ucapku dan hendak pergi, tapi baekhyun menahan lenganku.

“Kenapa terburu-buru Sehun-ah? Sebenarnya ada apa?”

“Jiyoo. Eomma bilang ia ada dirumah sakit sekarang,”

“Mwo !! jiyoo? Di rumah sakit? Kenapa bisa?” mereka berdua Nampak Shock saat aku mengatakannya, chanyeol bahkan sampai menjatuhkan botol minuman yang tadi ia pegang.

“Baekki-a, Chanyeol-a, aku akan ke rumah sakit sekarang. bisakah kalian membantuku meminta izin untuk keluar dari sekolah sekarang. nanti aku kabari tentang kesehatan Jiyoo,”

“Aku ikut !!” baekhyun kembali menahan lenganku, ia menatapku dengan tatapan khawatir dan memelas, “Aku khawatir dengan keadaannya,” lanjutnya.

“Baekhyun-a, kau jangan khawatir. Jiyoo pasti baik-baik saja. Kau ingat kan kalau ia tidak suka melihatmu bolos saat sekolah?” ucapku mencoba menenangkannya.

“Tapi,….”

“Tenanglah. Akan kukabari secepatnya,” dan setelah mengatakan itu aku langsung bergegas berlari meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun disana.

 

Jiyoo pov

Kubuka mataku perlahan dan kudapati diriku sedang ada di sebuah kamar di rumah sakit. Kenapa aku ada disini?

Pertanyaan itu seakan terjawab dengan terbukanya pintu ruangan ini, mendapati seorang dokter yang ternyata dokter yang sama dengan yang memeriksa hasil kesehatanku minggu lalu dengan seorang wanita yang lebih tua dari dokter itu. bukankah wanita itu…

“Kau sudah sadar nak…” ujar ahjuma itu yang kuingat adalah ahjuma yang hampir tertabrak mobil itu.

Aku mengangguk mengiyakan dan ahjuma itu menyunggingkan senyuman khas keibuan padaku, senyum yang tidak pernah kudapatkan lagi dari ibuku sendiri.

Dokter Suho mengernyitkan alisnya menatapku dengan tatapan sedikit gelisah.

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak makan-makanan mengandung gula lagi jiyoo-a. kadar gula darahmu meningkat drastic, itu bisa membuat penyakitmu tambah parah,” ujarnya. Haaa..h entah harus kusebut dia dokter ‘sok akrab’ atau apa. Kenapa suho sunbae malah menceramahiku seperti itu .____.

“Ne.. Mianhae sunbae, maksudku dokter. Aku lupa,” jawabku asal.

“Baiklah. Luka di keningmu tidak apa-apa sebenarnya, hanya luka gores saja. Tapi yang perlu kau perhatikan adalah penyakit gagal ginjalmu itu jiyoo-a. sebaiknya mulai minggu depan kau melakukan cuci darah minimal sebulan sekali,” ucapnya.

“Ne…”

Aku menoleh dan mendapati ahjuma itu menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan setelah suho sunbae mengatakan tentang penyakitku. Tatapan itu, tatapan iba.

“Baiklah. Ini obatnya. Ingat pesanku untuk tidak memakan makanan yang mengandung kadar gula yang tinggi,” pesannya sebelum benar-benar keluar dari ruangan ini.

“Kau sakit gagal ginjal?” Tanya ahjuma itu, masih Nampak tidka percaya sepertinya.

Aku hanya mengangguk kaku dan tersenyum tipis padanya.

“Maafkan ahjuma, membuatmu kerepotan karena keteledoran ahjuma tadi pagi,” ucapnya lagi

“Anieyo ahjuma. Aku tidak merasa direpotkan sama sekali,”

“Keundae.. apa kau mau pergi ke suatu tempat? Kulihat kau membawa koper,”

Seakan baru teringat lagi hal besar yang terjadi tadi pagi di rumahku, aku tergelak. Benar~ aku harus segera mencari tempat untuk kutinggali.

“Ah.. itu. aku diusir dari rumahku,” ucapku tertunduk. Kurasa ahjuma itu akan berpikir kalau aku adalah anak nakal yang tidak tahu diri hingga bisa diusir dari rumahnya sendiri. Haaa.h biarlah orang berpikir apa tentang keadaanku sekarang.

“W-wae? Kenapa orang tuamu bisa setega itu mengusirmu dari rumahmu sendiri?”

Aku masih tertunduk mendengar pertanyaan lain yang keluar dari mulut ahjuma. Aku tidak tau harus menjawab apa.

“Tak apa kalau kau tidak mau menceritakannya pada ahjuma, ahjuma mengerti.”

Aku merasakan dua lengan kurus itu merengkuh tubuhku dari samping. Hangat, ahjuma itu memeluk tubuhku, membuatku tak tahan ingin mengeluarkan air mata ini lagi. Terlalu sakit jika mengingat aku sudah tidak pernah merasakan pelukan dari ibuku beberapa bulan terakhir ini.

“Ssshhh.. Uljimayo. Jiyoo-ssi.” Dia mengelus rambutku saat aku mulai terisak. Sungguh demi apapun aku tidak mau melepaskan pelukan pertama dari orang yang tidak kukenal ini. Pelukan ini terlalu berharga untuk kulepaskan.

“Ahjuma, apa kau percaya jika aku berkata kalau aku diusir karena ulah adik kandungku sendiri?”

 

_____TBC______

Anyeoooongg yeorobuuunn.. saya kembali dengan ff abal-abal ini. Hehe maaf buat yang Only You author belum publish lagi soalnya sedikit mentok tuh sama cerita, jadi fokus dulu ke yang ini.

Sebelumnya author mau ngucapin terimakasih pada admin yang udah mau ngpost tulisan abal saya. Terimakasih juga buat readers yang udah bersedia baca dan koment di ff abal ini.

Terimakasih juga buat Oh Sehun, Byun Baekhun dan Park Chanyeol yang udah sayan nisatain di nih FF. gomawo yeorobunn *kasihwarmkiss

44 pemikiran pada “Careless and Mindless (Chapter 3)

  1. hikshikshiks…
    sedih bgt jd jiyoo udh pny pnyakit d usir lg sma ortu sendiri… 😥 sheina emg krg ajar bgt, yg licik tuh justru dya… jiyoo fighthing ya !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s