Curious (Chapter 1)

Tittle: Curious.

Main Cast: Oh Se Hoon (Sehun), Jung Jin Hyeon, Jang Wooyoung, Jung Krystal, Kim Joon Myun (Suho).

Support Cast: Xi Luhan, Jung Jin Woon, Kim Kibum (Key), EXO.

Genre: Romance-Comedy, Friendship, Family, a little bit drama.

Length: Chapter.

Author: Sehun’s (ELFtomato)

Suggest Song: SHINee – Sherlock

IU ft. Seul Ong – Nagging

Jo Kwon – The Day of Confessing My Love (OMG Ver.)

Baby Baby – 4Men

***

PART  1 – OUR  FIRST  MEET…

“Anda semua telah bekerja keras,” ucap semua member EXO-K—minus Kai dan Sehun—seraya membungkuk dalam kepada semua kru.

“Ah, kalian juga,” balas Sutradara Kim, sutradara yang ikut andil dalam pembuatan MV History.

“Ah, ani-yo, andalah yang bekerja keras. Kami hanya mengikuti semua yang sudah diberikan saat breefing tadi,” balas Baekhyun mewakili semua member EXO-K. Suho yang notabenenya adalah leader malah sedang berbicara dengan Chanyeol.

“Ah, kalian ini. Hm, ngomong-ngomong di mana Kai dan Sehun? Kenapa ke toilet saja lama sekali?” tanya Sutradara Kim.

“Ah, itu, sebenarnya mereka, itu, mmm, mereka tidak ke toilet,” ucap D.O setelah hening beberapa saat. “Itu, sebenarnya mereka sedang cedera kaki, terutama Sehun, dia sudah cedera dari seminggu yang lalu.” lanjut D.O dengan mimik wajah khawatir.

“Kenapa baru bilang? Apa dia sekarang ke rumah sakit? Atau ke mana?” tanya Sutradara Kim ikut khawatir.

“Hm, sebenarnya aku tidak tahu tepatnya ke mana mereka. Mungkin sekarang sudah di dorm.” D.O sedikit meringis di akhir saat menyebutkan kata ‘dorm’ kepada semua member EXO-K dan Sutradara Kim.

“Ah, lebih baik kita ke sana sekarang saja. Iya, ke sana sekarang!” lagi-lagi setelah hening D.O hanya bisa nyerocos.

“Tapi member Mandarin? Bagaimana?” Baekhyun berkata seraya menunjuk ke arah belakangnya.

Annyeong~” tiba-tiba Luhan sudah di belakang Baekhyun dan berbicara dengan aksen Koreanya. Member EXO-M lainnya juga sudah berjajar rapi.

“Ah, mereka sudah datang. Sebaiknya kita segera ke dorm. Aku juga ingin cepat-cepat pulang dan makan ramyeon,” ucap Suho sambil memegang perutnya yang belum diisi dari pagi hari. “Tidak baik makan mie ramyeon terus menerus. Bukannya, bfftt—” Suho segera menutup bibir Luhan agar tidak nyerocos tentang kesenangannya yang suka makan mie ramyeon.

“Kalau begitu, sebaiknya aku ke ruang editor. Salam untuk Kai dan Sehun, agar lekas sembuh.” Sutradara Kim meninggalkan semua member EXO dan berjalan menuju ruang editor.

“Kita akan ke mana sekarang?” tanya Luhan setelah berhasil lepas dari bungkaman Suho.

“Tentu saja dorm, hyung! Tempat pertama untuk mencari mereka berdua!” jawab Baekhyun kemudian menarik lengan Luhan.

“Tapi kita belum ganti kostum,” keluh Luhan. “Ganti saja di mobil, hyung.”

***

“Satu, dua, tiga, empat. Astaga! Uangku tidak akan cukup! Lagipula, ke mana orang itu? Hufft,” keluh Jin Hyeon yang sedang duduk di ayunan tunggal yang ada di taman X. “Awas saja orang itu! Selalu jarang pulang! Setidaknya tengoklah aku! Dasar! Ingin kubunuh saja dia rasanya.” Jin Hyeon menaruh kembali uangnya di kantong celana jeans-nya, lalu mulai menatap ke taman yang lumayan sepi. Tapi, sepertinya tidak lagi. Setelah matanya bertengger ke arah dua orang lelaki yang saling memeluk-sepertinya-dan mereka berdua duduk di kursi kayu yang tidak jauh darinya sekarang, kemudian salah seorang seperti memastikan kalau taman atau tempat yang mereka datangi itu sepi.

“Mereka homo, ya?” tiba-tiba suara gumaman keluar dari mulut Jin Hyeon.

“Aku jadi ingin memastikannya.” lanjut Jin Hyeon seraya bangkit dari ayunan kemudian berjalan menuju dua lelaki yang mencurigakan.

Jin Hyeon berdiri di depan mereka berdua sambil memiringkan kepala. “Apa kalian homo?” Ia bertanya spontan.

Salah seorang dari mereka berteriak kaget, dan yang satunya lagi malah seperti meringis kesakitan.

“Wo, wo, jangan berpikiran begitu! Ap.. apa yang kau bicarakan, huh? Kita homo? Yang benar saja! Kita berdua ini teman akrab tahu,” sanggah salah seorang dari mereka. Jin Hyeon penasaran. Kenapa  orang itu berbicara sambil menundukan kepala?

Jin Hyeon berjongkok di depan mereka berdua, kemudian ia bertanya, “Kenapa kalian menundukan kepala? Kalian bohong ya?”

“Kau kenapa? Kau sedang sakit ya? Mukamu pucat,” Jin Hyeon memegang kening orang yang satunya. “Badanmu hangat. Kau pasti sakit.” Jin Hyeon kemudian bangkit dan diam sejenak.

“Mau kupanggilkan bantuan?”tanya Jin Hyeon setelah beberapa detik.

ANI-YO!” teriak keduanya—nol koma sekian detik setelah Jin Hyeon menawarkan bantuan.

Wae-yo?” balas Jin Hyeon bingung.

Mereka berdua mendongak ke atas untuk melihat wanita berisik yang mengganggu kaburnya dan juga harus pasrah kalau melihat reaksi fanatik dari wanita itu.

Hening selama satu menit.

“Kau kenapa tidak berteriak?” ujar orang yang tidak sakit. “Kenapa juga aku harus berteriak? Ah, kalian ingin aku meminta bantuan dengan berteriak?” balas Jin Hyeon. Belum sempat mendapat reaksi dari dua lelaki itu, Jin Hyeon sudah berteriak. “TOLONG! ADA ORANG TERLUKA DI… Pffft—” salah seorang dari mereka membungkam mulut Jin Hyeon kemudian menaruh Jin Hyeon di pangkuannya. “PYA.. LPSKAN.. APKU! (YA! LEPASKAN AKU!)” Jin Hyeon bergerak-gerak frontal dan akhirnya ia terlepas dari bungkaman pria itu.

“Kau! Astaga! Kau tidak kenal kami? Kami itu member EXO! Aku Kai!” balas orang bernama Kai.

“EXO? Apa itu? Restoran ramyeon, ya?” ceplos Jin Hyeon.

“Kau tidak tahu EXO? Astaga!” orang yang bernama Kai itu senang sekali berkata astaga.

“Tidak.” Jin Hyeon membalas polos.

“Hah, terserah dia tahu EXO atau tidak. Jangan urusi gadis bodoh ini! Lebih baik tolong aku sekarang, hyung! Kakiku sudah membengkak!” orang yang sedang sakit—sekaligus yang membungkamnya tadi—tidak menggubris obrolan Kai dengan Jin Hyeon.

“Ah, Ne. Kau tahan dahulu. Kita harus cari tempat yang nyaman untuk mengobati cideramu!” balas Kai khawatir.

Kai berpikir keras sambil melihat sekeliling, namun sialnya pandangannya tertuju kepada gadis cerewet itu.

Aish! Agassi, bisakah meminjamkan rumahmu?” tanya Kai meminta pertolongan.

MWO? Hyung!”

“Sehun! Ini demi kebaikanmu! Bagaimana agassi?” Kai meminta kepastian.

“Hah? Untuk apa ke rumahku?” ujar Jin Hyeon kaget.

“Kau lihat kedaan temanku, bukan? Dia butuh pertolongan! Tolonglah, agassi,” pinta Kai dengan sangat.

“Tap… Tapi, temanmu kan tidak mau! Lagipula, oppaku juga bilang, tidak boleh membawa orang yang tidak kita kenal ke rumah!” ucap Jin Hyeon smbil menatap tajam wajah Sehun yang malas.

Haish! Namaku Kai. Siapa namamu?” tanya Kai sambil mengulurkan telapak tangannya.

“Jung Jin Hyeon imnida,” Jin Hyeon menyambut uluran tangan Kai.

“Sehun, ayolah!” Kai menarik-narik lengan Sehun.

“Hah! Arasseo Hyung. Sehun imnida,” Sehun akhirnya pasrah dan mengulurkan tangannya.

“Jung Jin Hyeon imnida,” Jin Hyeon menyambut uluran tangan Sehun dengan senang hati.

Sehun-dengan anehnya-segera melepaskan tangan Jin Hyeon. Ia merasa seperti ada sengatan listrik saat tangan mereka bersentuhan.

Aiiiish, aku sudah gila,’ Sehun meracau dalam hati.

“Nah, sekarang aku orang yang kau kenal, bukan? Kita bisa segera ke rumahmu kan?” tanya Kai semangat.

***

“Mereka tidak ada di sini,” gumam Baekhyun yang sedang berada di dapur. Ia berlalu mendekati ruang tamu kemudian duduk di sofa. Dari kejauhan ia melihat Suho yang keluar dari kamarnya membawa sebungkus mie ramyeon. Ah, itu amunisinya ternyata.

Hyung! Mau makan mie ramyeon lagi, huh? Kau itu! Sudah menghabiskan mie ramyeon di dapur, ternyata masih memiliki amunisi ya?” ujar Baekhyun mengagetkan Suho.

Aish, aku sangat lapar! Sudah, jangan ganggu aku!” balas Suho yang sudah hilang di telan dapur.

Baekhyun tidak lagi memerdulikan Suho dan malah tertuju kepada Luhan dan D.O yang baru saja keluar dari kamar masing-masing.

“Mereka menghilang sepertinya. Tidak ada di kamar kalian, bukan?” tanya Baekhyun.

“Mungkin mereka di rumah sakit,” balas Luhan yang berjalan melewati Baekhyun dan menuju dapur.

“Aku mengkhawatirkan keadaan mereka berdua, hyung,” gumam D.O seraya ikut duduk di sofa.

“Sepertinya mereka tidak kenapa-kenapa. Mungkin cederanya itu yang membuat kita khawatir.” Baekhyun kemudian memejamkan matanya sesaat.

Ya! Member EXO yang lain ke mana?” lanjut Baekhyun bertanya.

“Entahlah! Kita tanya Luhan hyung saja! LUHAN HYUNG!” balas D.O yang diakhiri dengan teriakan memanggil Luhan.

MWO?” balas Luhan dengan berteriak juga.

“KE MANA MEMBER EXO YANG LAIN?” tanya D.O tetap berteriak.

Karena malas berteriak akhirnya Luhan keluar dari dapur dan ikut bergabung di sofa. “Ada yang ke mini market, ada yang istrahat di kamarku, dan ada yang kembali ke gedung SM. Wae-yo?” balas Luhan.

“Di dorm sepi sekali. Kukira mereka menghilang sepeti Kai dan Sehun,” jawab D.O

“Ngomong-ngomong, apakah Kai atau Sehun memiliki teman dekat? Kan kalau ada teman dekat, bisa saja mereka ke rumah teman-temannya itu.” Ucap Luhan menganalisis.

“Hm, mungkin juga. Tapi kan teman dekat Kai itu Sehun dan juga sebaliknya,” balas Baekhyun pasrah.

“Jangan bilang mereka pulang ke rumah orang tua mereka?” ujar D.O tiba-tiba.

“Tapi rumah orang tua mereka lumayan jauh!” tiba-tiba Suho membalas perkataan D.O sambil memegangi perutnya.

“Aish, iya juga, hyung. Tapi, bisa jadi kan?” kata D.O makin khawatir.

“Hm, sudah mencoba menelfon ponselnya?” tanya Baekhyun sambil merogoh sakunya.

“Ponsel Sehun ada padaku. Tapi ponsel Kai tidak,” balas Luhan yang ikut merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel Sehun.

“Hm, ayo kita telefon ponsel Kai,” Baekhyun segera mencari kontak Kai kemudian membuat panggilan.

Loudspeaker!” ujar Suho yang tiba-tiba muncul. Baekhyun menuruti perkataan Suho.

Terdengar suara nada sambung yang agak lama. Mereka berempat menunggu dengan lumayan penasaran—kecuali Suho.

Sampai akhirnya, nada sambung itu berhenti dan digantikan dengan suara yang lain.

Yobosseyo?” suara Kai terdengar di seberang.

“YA! DI MANA KAU, HUH?” Luhan, Baekhyun, dan D.O terkejut saat mendengar Suho-lah yang berteriak.

Mian, hyung. Aku dan Sehun pergi duluan.” Kai membalas dengan suara serak.

“Bagaimana cederamu dan Sehun?” Luhan menutup mulut Suho dan menggantikan berbicara. Sepertinya hal itu bisa dibilang balas dendam.

Haish, ini pasti kerjaan D.O hyung. Aku baik-baik saja, begitu juga dengan Sehun. Tapi mungkin… mungkin, lebih parah cedera Sehun, kakinya sudah agak membengkak,” jawab Kai terbata.

Aish! Jaga diri kalian baik-baik. Cepat pulang!” ucap Luhan sambil melepas bungkamannya terhadap Suho.

Baekhyun memutuskan panggilan kemudian beranjak pergi ke kamar.

“Suho hyung, bau ramyeon!” teriak Baekhyun.

“Kau makan mie ramyeon lagi? Aish!”

***

“Bagaimana kabar adikmu?” Key bertanya kepada Jinwoon—yang sedang menyeruput teh hangatnya.

Jinwoon tersedak mendengar pertanyaan Key. “Aish! Dia itu lebih galak dariku, aku takut kalau pulang,” balas Jinwoon kemudian menaruh tehnya di meja kafe.

“Alasannya tidak hanya itu ‘kan?” tanya Key mencoba memastikan.

“An.. aniyo. Aish! Baiklah Key! Berdebat deganmu tidak akan pernah menang. Sebenarnya aku belum gajian. Gaji belum di tangan aku belum bisa pulang ke rumah,” jawab Jinwoon menjelaskan.

Ya! Memangnya adikmu itu gila uang, huh? Apakah kau mengerti perasaan adikmu? Kau yang sudah belasan tahun bersamanya tidak mengerti perasaannya? Aku saja yang baru tiga tahun mengenalnya sangat tahu apa yang ia inginkan,” ujar Key menceramahi Jinwoon.

“Memangnya kau mengerti perasaannya?” tanya Jinwoon pelan.

“Ya, aku sangat mengerti perasaannya. Dia akan sangat senang saat kau pulang dengan atau tanpa uang! Dia itu hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Kau tahu kenapa begitu? Karena dia hanya memilikimu sebagai saudaranya.” jawab Key kemudian meminum tehnya dengan sekali teguk.

“Tapi, dia selalu meminta uang kepadaku.” Jinwoon membalas Key.

“Dia hanya ingin kau terlihat sehat dengan candaanmu. Memangnya aku tidak tahu, kalau kau itu selalu menjitak kepalanya saat ia meminta uang? Itu menandakan kau itu sehat-sehat saja,” Key bangkit kemudian mengambil Galaxy Tab-nya.

“Ayo kita ke basecamp. Mir sudah menunggu di sana,” ajak Key kemudian berlalu.

Aish! Memangnya adikku seperti itu?” gumam Jinwoon sambil memiringkan kepalanya. Kemudian dengan cepat ia bangkit dan mengikuti Key dari belakang.

***

“Rumahmu di sini?” tanya Kai kepada Jin Hyeon yang sedang memasukkan password rumahnya.

Ne, maaf kalau rumahku ini kecil. Aku ‘kan tinggal sendirian, jadi tidak butuh rumah yang besar.” Jin Hyeon mendorong pintu setelah selesai dengan password rumahnya, kemudian masuk kedalam diikuti degan Kai yang membopong Sehun.

“Kalian duduk saja di sini. Aku ke dalam dahulu mengambil kotak obat,” kata Jin Hyeon kemudian berlalu ke arah kamarnya.

Hyung, sehabis diobati aku ingin langsung pulang,” ujar Sehun dengan tatapan dingin.

“Iya, iya. Yang jelas, kau harus diobati terlebih dahulu,” balas Kai kemudian mulai menarik celana jeans bagian pergelangan kaki Sehun ke atas.

“Kai-ssi, apa ingin menggunakan es batu terlebih dahulu?” tanya Jin Hyeon yang tiba-tiba muncul. “Ah, ne. Dan tolong, temanku juga,” balas Kai.

“Kalau begitu lebih baik kalian aku obati di dapur sekalian saja,” ucap Jin Hyeon.

“Ah, ne. Ayo Sehun!” ajak Kai sambil menarik Sehun bangkit.

Kai terdiam sejenak saat ia merasa saku celananya bergetar. Ponselnya. Kai mengambil ponselnya kemudian melihat siapa yang menelfonnya.

Baekhyun Hyung Calling…

“Ah, ada hyungku menelfon. Jin Hyeon-ssi, aku boleh minta tolong kan? Tolong bopong Sehun ke dapur. Jebal!” ucap Kai memohon.

Jin Hyeon yang dipintai tolong menghela napas sambil melirik tajam ke arah Sehun kemudian mengangguk pasrah.

Gamsahamnida!” setelah mengucapkan kata terima kasih, Kai berlalu untuk menerima panggilan.

“Cepat bangun!” teriak Jin Hyeon.

Ya! Tidak perlu berteriak, bukan? Cerewet sekali kau ini!” Sehun balas berteriak lalu bangkit.

Jin Hyeon tidak menggubris omongan Sehun dan segera berdiri di depannya untuk memegangi lengannya.

“Pelan-pelan. Jangan terlalu memaksakan diri,” ucap Jin Hyeon seraya melingkarkan lengan kiri Sehun di bahunya.

“Kau pendek ya ternyata,” gumam Sehun sambil mencoba menyeret kaki kanannya.

“Kau itu! Lebih baik diam saja! Tidak usah berbicara. Sudah untung aku mau  membantumu!” racau Jin Hyeon mulai melingkarkan tangan kanannya di bagian pinggang Sehun.

“Aku geli di sana!” teriak Sehun tiba-tiba sambil bergerak kegelian.

Yak! Jangan bergerak! Aku sudah sulit memegangimu! Badanmu itu tinggi-besar tahu!” balas Jin Hyeon.

“Kan aku sudah bilang aku geli di sana! Sudah, tidak usah pegangi aku!” eluh Sehun lalu menarik lengannya dari bahu Jin Hyeon.

“Sudah baik aku ingin menolongmu! Haish, terserah kau saja! Urus saja urusanmu sendiri,” ucap Jin Hyeon kesal. Ia bingung, kenapa saat ia berbuat baik, masih saja ada orang yang jahat kepadanya.

Ara! Ara!” balas Sehun sambil berteriak.

Jin Hyeon berlalu pergi ke dapur. Namun, tidak sengaja ia sedikit menyeggol  Sehun, dan hal itu membuat Sehun sedikit limbung. Karena tidak ada sandaran atau pegangan, akhirnya Sehun menarik lengan Jin Hyeon.

BUUKK

“Aw, sakit sekali!” eluh Sehun. Ia merasa badannya akan remuk saat menyentuh lantai dengan keras, apalagi hal itu diperparah dengan Jin Hyeon yang sekarang ada di atas badannya.

Aish! Kau ini! Jangan mendorongku! Aku tahu kau marah! Tapi tidak perlu membalas dendam kan?!” kata Sehun kemudian meringis.

“Aku tidak bermaksud balas dendam! Aku tidak sengaja!” balas Jin Hyeon kemudian bangkit dari tubuh Sehun. Namun sepertinya kesalahan yang besar saat melakukan itu, karena Sehun juga ikut bangkit dan membuat wajah mereka berdua bertemu dan hanya berjarak beberapa centi saja.

Haish minggir!” Sehun mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Iya, iya. Ayo kubantu bangkit,” tawar Jin Hyeon. “Hati-hati,”

“Adegan yang itu seperti drama saja,” ucap Sehun sambil menerima tawaran Jin Hyeon.

O,” balas Jin Hyeon.

Mereka melanjutkan jalan ke arah dapur. Hingga akhirnya dengan perjuangan keras mereka sampai.

“Kau lihai sekali,” puji Kai setelah kakinya diberikan salep agar cederanya tidak terlalu sakit.

“Ah, ani-yo. Aku hanya sering mengobati orang yang seperti ini saja,” Jin Hyeon tersenyum saat ia membalas pujian Kai. Ia jadi mengingat bagaimana teman oppanya sering cedera, dan sering minta diobati olehnya.

Sehun menatap Jin Hyeon yang senyum-senyum sendiri. Sial! Nafasnya tercekat!

“Yap, sudah selesai. Lalu sekarang bagaimana?” tanya Jin Hyeon.

“Aku dan Sehun sebaiknya pulang. Ya ‘kan Sehun?” tanya Kai kepada Sehun.

Sehun yang terus menatap Jin Hyeon mengalihkan pandangannya ke arah Kai.

“Tidak,”

Curious – Part 1, End

–Preview Next Part

“Hm… Tapi kau yakin kan, Kai, dia tidak akan menjual cerita ke wartawan? Walaupun dia tidak mengenal kalian, bisa jadi ia melakukan hal itu,”

Aissh! Aku lupa tentang hal itu,”

“Kalian tenang saja, hyung. Besok aku akan ke sana, berterima kasih dan memastikan agar ia tidak menjual cerita ke wartawan,”

**

“Jadi ini perlakuan gadis jaman sekarang? Membawa lelaki masuk ke dalam rumah? Cih, murahan sekali.”

Mianhamnida ahjumma, tapi tolong jangan ikut campur,”

“Anak jaman sekarang benar-benar murahan!”

Ahjumma, tolong jaga bicaramu!”

“Sehun-ssi?”

**

“Hm, apa ia ke tempat orang yang mengobatimu, Kai?”

Ne. Sepertinya begitu, hyung. Kemarin kan dia yang bilang sendiri, dia akan ke sana,”

“Lama sekali. Sampai tengah hari begini!”

“Hm, sepertinya Sehun menyukai si penyelamatnya, hyung.”

Mwo? Jinjja?”

**

Yak! Kenapa tidak sekalian pakai batu saja, huh?”

“Ti… tidak ada batu di sini! Jadi pakai ini saja.”

Haish! Sakit sekali!”

“Waa! Sehun-ssi, kau berdarah!”

**

“Aku suka orang ini,”

Mwo?”

PreviewNext Part End—

NOTE: Kalau ada keluhan atau hal yg mau diomongin, contact aja ke  e_sparkyu@ymail.com

Iklan

17 pemikiran pada “Curious (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s