What is Love (Chapter 7)

Author :  Vhanee_elf (@AllRiseSapphlre)
Genre : Romance
Rating : Pg 13
Length : Chapter , Series
Cast :
– KAI (Kim Jong In)
– Cho Hye Rim (Oc)
– Xi Lu Han
– Huang Zi Tao
– Kim So Mi (Oc)
– And other cast

Warning!! : Typo’s  everywhere

“kau adalah Kai?!” tanya pria itu dengan suara seraknya. Kai hanya menganguk. Pasti sesuatu yang berhubungan dengan Hye Rim, batinya.

“aku akan menandatangani cek ini. 50 juta won” kata pria itu sambil mengeluarkan sebuah cek. Dengan lihati tangannya menuliskan jumlah uang tersebut dan menandatanganinya disana.

“nuguseyeo?!” tanya Kai penasaran. Pria tua itu selesai menaruh tanda tangannya di kertas cek tersebut dan menyerahkannya pada Kai.

“Cho Jae Won imnida. Ayah Hye Rim” ucap pria tersebut. Dengan nadanya yang angkuh dan tatapannya yang merendahkan seorang Kai. Kai terperanjat. Dia tidak pernah tahu kalau masalah sekecil ini akan melibatkan orang tua Hye Rim.

“ambilah. Aku tidak suka kau mengganggu hubungan anakku dan Tao” lanjutnya sambil menjelaskan identitasnya. Mata Kai membulat sempurna.

“jeoseonghamnida. Aku tidak bisa mengambilnya” tolak Kai halus namun tegas. Ayah Hye Rim menatapnya tajam.

“kau membantahku?!” ucapnya singkat. Kai menundukkan kepalanya lalu tersenyum simpul. Dia tahu hal ini pasti akan terjadi. Tao, laki laki itu memanfaatkan kedekatanya dengan ayah Hye Rim untuk menyingkirkannya. Yang benar saja? Menyuruhnya menjauhi Hye Rim disaat hatinya mulai merasakan sesuatu yang aneh kepada gadis itu?!

“mianheyeo, tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin membuat Hye Rim kecewa, dia sudah terlalu baik padaku dan keluargaku” jelas Kai. Ayah Hye Rim terdiam. Ada satu hal yang membuatnya terdiam saat ini. Yaitu jawaban Kai. Dia tidak ingin mengecewakan Hye Rim. Orang pertama yang ditemuinya yang mengatakan bahwa ia tidak ingin mengecewakan Hye Rim. Dalam sedetik pikiran ayah Hye Rim untuk menjauhi anaknya dari namja didepannya ini sirna.

***

3 days later

Hye Rim mematut dirinya didepan cermin entah untuk yang keberapa kali. Dirapikannya sisi dress putih tulangnya yang sama sekali tidak berantakan itu kemudian  Ia mengambil jaket kulit berwarna hitamnya yang tersampir manis diatas kasurnya dan langsung memakainya dengan semangat. Perpaduan yang aneh memang, tapi terlihat begitu indah di tubuh Hye Rim. Kembali Hye Rim melihat pantulan dirinya dicermin. Memastikan tidak ada make up yang menggumpal diwajahnya lalu tersenyum ceria. Dengan langkah seribu, dia segera berlari menuju mobilnya dan menyuruh sang supir untuk pergi ke pantai. Tempat yang jauh memang. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk kesana, tapi itu tidak masalah bagi Hye Rim karena Kai yang memintannya untuk bertemu disana.

Sepanjang perjalanan Hye Rim terus saja tersenyum ceria sambil memandangi berbagai macam pemandangan yang tersedia diluar mobil nya. Tangannya menggenggam erat kalung keberuntungan pemberian Tao.

“jadilah anak manis hari ini~ buat aku dan Kai bahagia, arachi?!” ucap Hye Rim pada kalung nya. Meski –jelas jelas kalung itu tidak dapat berbicara, tapi perasaan Hye Rim mengatakan bahwa hari ini akan terjadi sesuatu yang tak dapat dilupakan olehnya maupun Kai. Entah itu apa yang jelas Ia mempunyai firasat baik.

Tidak terasa, perjalanan Hye Rim terasa begitu singkat olehnya. Hye Rim segera turun dari mobilnya dan berjalan menyusuri pantai mencari sosok Kai disana diikuti kedua pengawalnya yang –terlalu setia itu.

Dari kejauhan Hye Rim dapat melihat Kai yang sedang duduk diatas bebatuan karang dan bersandar dengan damai disebuah pohon tua yang sudah tidak berdaun. Dilihatnya Kai yang sedang melempar bebatuan kecil kearah laut. Matahari senja membuat wajah Kai nampak seperti lukisan sempurna bagi Hye Rim. Otomatis senyuman Hye Rim tercipta. Tidak pernah rasanya Ia sebahagia ini ketika melihat seorang namja.

“mianheyeo~ kau menunggu lama ya?!” tegur Hye Rim yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang Kai. Kai sedikit terkejut. Dengan segera Ia berdiri dan berjalan selangkah kedepan Hye Rim.

“aniyeyo~ aku juga baru datang” sahut Kai dengan senyuman nya. Jarang Kai tersenyum seperti ini, membuat Hye Rim malah tersipu malu. Lama mereka terdiam. Hanya memandangi pemandangan pantai dan larut dalam pikiran masing masing.

.

.

“kenapa kau mengajakku bertemu di tempat seromantis ini? Ingin mengajaku berkencan ya?!” tanya Hye Rim tiba tiba. Tepat! Kai sangat bersyukur Hye Rim menannyakan hal itu padanya, setidaknya Ia tidak harus bertanya pada Hye Rim lebih dulu apa yang harus mereka lakukan disaat canggung seperti tadi.

Kai mengangguk singkat membuat bibir Hye Rim mengembang sempurna. Rasanya pipinya sedang terbakar sekarang. Begitu panas.

“hhemm~ jinja?” ulang Hye Rim untuk sekedar memastikan. Kai kembali mengangguk singkat. Sementara Hye Rim kini sedang sibuk mengatur seluruh pikirannya agar tidak meledak sekarang.

“nan neomu haengbokhae!” ucap Hye Rim dengan susah payah menahan rasa bahagianya. Tentu saja harus ditahan. Kalau tidak, mungkin Hye Rim akan melompat kegirangan sekarang atau berteriak tidak jelas sangking senangnya. Dan Hye Rim tidak ingin melakukan hal konyol tersebut dihadapan Kai. Dia ingin menjaga image-nya dihadapan Kai tentunya.

Entah dapat perintah dari mana, Kai tiba tiba menyodorkan tangannya dihadapan Hye Rim seolah meminta Hye Rim untuk menerima uluran tangannya. Dan bisa dipastikan Hye Rim akan menyesal jika ia menolak permintaan Kai, karena itu tanpa aba-aba Hye Rim langsung saja meletakkan tangannya diatas telapak tangan Kai. Kai menyambutnya dengan senyuman tipis diwajahnya. Dan dengan langkah kecil, mereka mulai menyusuri pinggiran pantai dengan jemari yang saling berpautan. Kai berjalan selangkah lebih dulu didepan. Sengaja Hye Rim tidak ingin berjalan beriringan dengan Kai, karena sejujurnya Hye Rim lebih merasa nyaman memandangi wajah Kai dari posisinya saat ini. Dan tentu saja, dia juga sedikit malu jika harus memandangi Kai dari samping.

“kaita mau kemana?! Berjalan sampai pantainya habis?!” tanya Hye Rim yang mulai lelah berjalan diatas pasir.

“hhh~ anni. Kita berhenti disini” sahut Kai sedikit canggung. Jujur, ia juga tidak tahu kemana tujuan mereka saat ini. Pantai ini sedikit sepi. Hanya ada beberapa pasang muda-mudi yang juga sedang menikmati senja ditepi pantai.

Kai berinisiatif duduk diatas pasir lebih dulu. Tanpa melepas genggaman tangannya, Hye Rim mengikuti langkah Kai untuk duduk diatas pasir dan menghadap laut.

Hening kembali menemani mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara kecuali suara ombak yang sepertinya terdengar sedang membuat sebuah irama. Entah apa yang ada dalam pikiran Kai yang jelas sekarang dalam hati Hye Rim tengah sibuk berterima kasih pada kalung keberuntungannya dan terus saja mengelus mata kalungnya dengan jemarinya.

“wae? Kenapa memegangnya terus?!” tanya Kai pada Hye Rim. Hye Rim menengok kearah Kai dan melihat kai sedang menunjuk kalungnya dengan dagu lancipnya.

“oh, ini?! Eem.. tidak apa-apa” sahut Hye Rim sambil melepas genggaman tangannya dengan Kai. Kini kedua tangannya saling berlomba untuk mengelus mata kalungnya tersebut.

“Tao oppa memberikan ini padaku” lanjut Hye Rim dengan senyuuman khasnya.

“sebagai tanda keberuntungan” lanjut Hye Rim. Kai menatap wajah Hye Rim yang tampak begitu bahagia

“dan kalung ini benar benar memberiku keberuntungan. Bahkan kebahagiaan” ujar Hye Rim dengan wajah yang berbinar. Seketika tatapan keduanya bertemu.

1 detik

3 detik

5 detik

Hye Rim tertawa renyah sambil menutup kedua wajahnya.

“jangan lihat aku seperti itu. Aku malu~” ujar Hye Rim menggemaskan. Kai ikut terkekeh kecil kemudian mengangguk.

“araseo. Mianhe” ujar Kai singkat.

“apa yang harus kita lakukan?! Aku benar benar tidak suka suasana canggung” sahut Hye Rim. Kai nampak berpikir sebentar. Hanya sebentar kemudian ia mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak mempunyai ide sama sekali untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.

“yak, neo namja” ujar Hye Rim.

“memang benar” sahut Kai singkat membuat mata Hye Rim membulat.

“cccih~ kau benar benar tidak punya selera humor yang bagus.” Kata Hye Rim. Kai menatap Hye Rim seolah bertanya ‘benarkah?’ dan Hye Rim mengangguk pasti.

“tapi aku suka!” lanjut Hye Rim membuat Kai kembali membisu.

Keduanya tetap diam sampai senja berakhir. Memang tidak sepenuhnya diam. Terkadang ada beberapa topik yang mereka bicarakan tetapi tidak berlangsung lama.

“ayo pulang~” ujar Kai mengajak Hye Rim. tentu mereka harus pulang sekarang. Kini hari sudah gelap, dan pantai sepi ini benar benar menjadi super sepi. Hanya ada mereka berdua dan pengawal Hye Rim disitu.

“nde!” sahut Hye Rim semangat. Keduanya berdiri secara bersamaan dan refleks membersihkan bagian belakang mereka yang terkena pasir.

Setelah merasa cukup bersih, Kai kembali menyodorkan tangannya dan tentu saja disambut hangat oleh Hye Rim.

“mm? Tanganmu dingin sekali” ucap Kai setelah merasa bahwa tangan Hye Rim begitu dingin. Mungkin karena angin pantai yang cukup kencang dan hawanya yang memang dingin.

Tanpa diperintah, Kai segera memasukan tangan Hye Rim kedalam saku jaketnya dan sedikit menarik tangan Hye Rim agar mereka segera berjalan.

“bagaimana dengan yang satunya?!” tanya Hye Rim sambil mengangkat tangan kirinya dan menunjukannya kewajah Kai. Langkah mereka terhenti dan terlihat Kai yang sedang menatap Hye Rim dengan ekspresi bingung. Memang benar. Hye Rim mempunyai 2 tangan dan dia hanya menghangatkan salah satunya. Itu tidak adil.

Kai mengeluarkan tangannya dan Hye Rim dari saku jaketnya, kemudian meraih tangan Hye Rim yang lainnya. Kini posisi mereka saling berhadapan dan hanya berjarak setengah langkah. Seolah sudah terlatih, Kai menyatukan kedua tangan Hye Rim dan menggosok nya lembut dengan kedua telapak tangannya. Sesekali ia meniupkan udara kearah tangan Hye Rim dan itu memberi sensasi hangat pada kedua tangan Hye Rim.

“masih dingin?!” tanya Kai. Hye Rim mengangguk dengan senyuman jahil yang tersirat diwajahnya.

“ng? Tidak berhasil?!” Ucap Kai keheranan. Biasanya cara ini selalu berhasil Ia lakukan jika So Mi kedinginan kala musim salju. Tetapi kenapa tidak dengan Hye Rim? Pikirnya.

Sementara Kai masih berpikir cara lain untuk membuat tangan Hye Rim tidak kedinginan, perlahan Hye Rim mulai melangkah kedepan memperkecil jarak antara dirinya dan Kai. Kai benar benar tidak menyadarinya sampai akhirnya Hye Rim hanya berjarak sejengkal dengannya. Mereka berdua hanya berbatas oleh tangan mereka yang saling menggenggam.

“bolehkah aku memelukmu?!” pinta Hye Rim dengan kepalanya yang mengadah keatas agar dapat menjangkau tatapan Kai. Kai terdiam. Ini pertama kalinya ia melihat wajah Hye Rim begitu dekat dengannya. Ia terlalu terpana menyaksikan wajah Hye Rim dihadapannya sehingga lupa menjawab pertanyaan Hye Rim.

Merasa tidak mendapat jawaban, Hye Rim menganggap itu sebagai penolakan dari Kai. Dengan sedikit kecewa Hye Rim mulai menjauhkan tubuhnya. Ia berniat memundurkan langkahnya tapi tiba tiba Kai menarik tangannya seolah memberi isyarat untuk tetap diam dalam posisinya sekarang. Dan Hye Rim benar benar tetap diam. Dia kembali menatap mata Kai yang tadi sempat dialihkannya. Terlihat Kai sedang tersenyum menatapnya. Hye Rim pun ikut tersenyum. Kemudian, semuanya terjadi begitu saja. Tiba tiba saja dirinya sudah memeluk tubuh Kai dengan erat dan lembut. Jelas terasa dikulitnya kehangatan mulai menjalar keseluruh tubuhnya karena pelukannya dibalas oleh Kai.

Hye Rim tersenyum dibalik dada Kai. Tidak pernah rasanya  Ia sebahagia ini ketika bersama seorang laki laki. Tidak dapat dipungkiri, ia telah jatuh cinta pada namja dipelukannya saat ini. Jatuh cinta pada pandangan pertamanya kepada Kai. Kai, lelaki yang bahkan bisa membahagiakannya hanya lewat sebuah tatapan datar.

***

The Next Day

@ Tao’s office

Kai memperhatikan jemari Tao dengan lihai menuliskan angka disebuah kertas cek. Terlihat jelas dimatanya bahwa tao menuliskan angka 50 juta won disana. Kai tersenyum asam dan menahan gerakan tangan Tao untuk menandatangani cek tersebut.

“berikan aku 45 juta won” ucap Kai singkat. Tao menatapnya tajam.

“aku akan memberimu lebih sebagai imbalan” sahut Tao. Kai menggeleng dengan tatapannya yang tidak lepas dari mata Tao.

“tidak usah” ucap Kai singkat. Dia merebut bolpoin dari tangan Tao dan mengambil kertas cek naru yang terletak tak jauh dari Tao kemudian menuliskan 45 juta won disana. Setelah itu dia memberikan cek tersebut kepada Tao dan  dengan segera Tao mengambilnya. Dia melihat sekilas cek tersebut kemudian terkekeh kecil.

“kau yakin?!” tanya Tao seolah tidak percaya dengan keputusan Kai. Yang benar saja, mana ada orang miskin yang menolak diberi bonus 5 juta won? Pikir Tao.

“cepat tanda tangani sebelum aku berubah pikiran” ujar Kai dingin. Tao mengangkat bahunya dan dengans segera menandatangani cek tersebut. Baru sedetik Tao selesai menandatangani kertas kecil tersebut, Kai segera mengambilnya dari meja dan langsung beranjak dari ruang kantor Tao. Tao sedikit terkejut dengan perlakuan Kai yang pergi seenaknya, tapi itu hanya sesaat. Keterkejutannya segera berganti dengan senyum kemenangan, Sementara Kai menekan tombol lift dengan kasar. Dia sedikit menahan emosinya. Seharusnya Kai tidak perlu marah saat ini. Seharusnya dia malah bersyukur, ada seseorang sebaik Tao yang mau memberinya uang untuk membayar hutangnnya pada Hye Rim dengan persyaratan mudah. Menjauhi Hye Rim. Yah, seharusnya begitu. Tapi kenyataannya saat ini Kai merasa marah. Marah kepada dirinya sendiri yang begitu bodoh mau menerima tawaran Tao beberapa jam yang lalu lewat telpon dan malah mengecewakan Hye Rim, yeoja yang sangat baik padanya. Dan bahkan mulai dicintainya.

Kai berjalan dengan cepat menuju tempat motornya terparkir. Tidak dipedulikannya orang orang yang berlalu lalang disekitarnya. Di mencoba berpikir positif dan menenangkan pikirannya. Kembali terbayang percakapannya bersama Tao beberapa waktu lalu ketika Tao menghubunginya lewat ponsel.

“kau pikir, dengan menolak bantuanku kau bisa terus bersama dengan Hye Rim?!”  “kalau kau berpikir begitu, kau salah besar. Dengar, kau dan Hye Rim berbeda. Lebih lama kau berada disamping Hye Rim, lebih besar luka yang akan dia terima nantinya. Karena dia mencintaimu.” “meski kalian saling mencintai, kalian tetap akan tidak bisa bersama. Kau bukan orang yang tepat untuk Hye Rim.”

Kai mendesah berat. Kai ingat betul perkataan Tao. Yah~ memang perkataan Tao seutuhnya benar. Meski dirinya dan Hye Rim saling menyukai, tapi mereka berbeda. Terlalu berbeda. Dirinya tidak punya latar belakang apa-apa dan tidak mempunyai pekerjaan yang pantas untuk dibanggakan dihadapan Hye Rim seperti Tao.

“setidaknya, biarkan Hye Rim mendapatkan pria yang pantas untuknya”

Perkataan terakhir Tao membuatnya mendesah berat. Tanpa perlu dipikir lagi, memang Hye Rim seharusnya mendapat pria yang pantas. Bukan pria yang seperti dirinya. Tentu saja, Kai tidak hidup didunia fantasi dimana dicerikatan bahwa orang miskin dan kaya dapat bersatu. Dia hidup didunia nyata. Bahkan terlalu nyata.

***

Lu Han mencoba memegang tangan So Mi, namun So Mi menolaknya mentah mentah. Bukan karena apa, hanya saja mereka tidak sedang berdua sekarang. Melainkan berempat. Bersama Kai dan Hye Rim.  Mereka sedang duduk diteras rumah atap So Mi dan sedang meinkmati jajanan sore sekarang.

“oppa, pergilah bersenang senang. Mulai hari ini oppa bisa libur menjagaku” ucap So Mi sambil memasukan makanan kedalam mulutnya.

“hehe~ kau dengar Kai?! Sepertinya So Mi menyuruhmu untuk pensiun menjaganya dan aku jadi penggantimu” sahut Lu Han dengan wajah cerianya. Kai dan Hye Rim terkekeh kecil. Pasti pertengkaran kecil akan terjadi lagi, pikir Kai dan Hye Rim bersamaan.

“neo micheoseo!! Neo kka!! Kka~” sahut So Mi kasar. Dia mendorong bahu Lu Han yang duduk disebelahnya beberapa kali.

“waeyeo?!” tanya Lu Han lemah tapi tetap dengan senym jahilnya. Hye Rim dan Kai bertatapan satu sama lain kemudian tersenyum simpul.

“Kai-ah~ mau pergi bersamaku?!” tanya Hye Rim pada Kai.

“aku tidak bisa! Mulai sekarang aku harus menjaga So Mi” sahut Lu Han bersemangat membuat Kai dan Hye Rim menatapnya heran. Sementara So Mi kembali melayangkan tatapan protes kearah Lu Han yang selalu menyela pembicaraan orang.

“kau kurang kerjaan ya?! Carilah pekerjaan yang bermanfaat! Kau mau menyusahkan oppaku?!” omel So Mi pada Lu Han. Pada akhirnya pertengkaran tidak penting terus saja terjadi antara So Mi dan Lu Han. Membuat kehadiran 4 orang terasa lebih banyak.

“kemana?!” tanya Kai setelah keadaan sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Sebenarnya Ia ragu untuk menerima ajakan Hye Rim, karena sejujurnya, Ia sudah membuat keputusan bulat beberapa hari lalu. Keputusan yang telah disepakatinya bersama Tao.

“eeem… dermaga~ aku sangat ingin pergi kesana. Hari ini cuaca sangat mendukung” sahut Hye Rim bersemangat. Dia mengadahkan kepalanya keatas memastikan bahwa tidak ada awan mendung diatasnya. Dan kalau perkiraannya tidak meleset, mereka bisa menyaksikan sedikit sunset dari dermaga jika mereka datang tepat waktu.

“Kai-ah~” Lu Han menegur kai ketika melihat ekspresi Kai yang nampaknya sedang mempertimbangkan permintaan Hye Rim. Kai menoleh melihat Lu Han yang kini sedang memberi tanda kepadanya agar menerima ajakan Hye Rim. Kai menggeleng. Dia masih ragu dengan ajakan Hye Rim. Sebelumnya dia sempat mengutuk dirinya sendiri karena sempat bertanya kemana Hye Rim akan mengajaknya pergi.

“mm..” gumam Kai kecil. Wajah Lu Han berseri gembira mendengar jawaban Kai. Itu tandanya hari ini dia akan berdua dengan So Mi. Sementara Hye Rim terlihat lebih gembira dari pada Lu Han. Tentu saja.

“yes!!” ucap Hye Rim dan Lu Han bersamaan.

***

Hye Rim mengedarkan pandangannya kesekeliling area dermaga. Dia menyipitkan sedikit matanya karena sinar matahari yang hampir senja sedikit menyilaukan matanya. Sementara Kai berjalan mendekati pagar pembatas dan menyandarkan tangannya disana. Kai menatap jauh kedepan. Matanya menangkap pemandangan dimana beberapa kawanan burung berterbangan diatas perahu perahu nelayan.

“neomu areumdaweoyeo~” komentar Hye Rim dengan wajah yang berbinar. Entah sejak Kapan Hye Rim berdiri tepat disebelah Kai. Dan hal itu membuat Kai sedikit terkejut. Sementara Hye Rim terus saja tersenyum sambil mengedarkan pandangannya, berusaha mencari tempat yang pas untuk menyaksikan matahari terbenam. Tapi percuma saja, seluruh pandangan kearah barat terhalang oleh kapal kapal besar pengangkut barang dan itu membuat wajah Hye Rim menjadi murung seketika.

“waeyeo?!” tanya Kai ketika melihat perubahan ekspresi di wajah Hye Rim. Hye Rim tersadar dari murungnya dan langsung tersenyum kemudian menggeleng semangat kearah Kai.

“tidak apa-apa” suara Hye Rim terdengar begitu semangat ditelinga Kai.

“ya, ayo abadikan moment ini” lanjut Hye Rim. Dia mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas salempang kecil yang terus dipakainya sedari tadi kemudian membuka aplikasi camera. Hye Rim berjalan kesamping Kai dan mengarahkan satu tangannya kedepan. Sementara Kai terlihat enggan berpose didepan kamera, namun wajah Hye Rim yang terlihat begitu gembira membuatnya tidak tega untuk berkata tidak dan malah merusak suasana hatinya.

“say cheessee~~” ucap Hye Rim yang terlihat sudah sangat siap mengambil gambar. Tapi dia menahan aksinya itu, menunggu kai berpose tentunya. Akhirnya, dengan malu malu Kai tersenyum kearah kamera dan, Klik! Sebuah ambar sukses diambil Hye Rim.

“hehe.. bagus kan?!” ujar Hye Rim sambil menunjukan hasil photo keduanya. Kai mengangguk mengiyakan perkataan Hye Rim. Memang bagus, pikir Kai. Tapi tidak lama lagi dirinya yakin bahwa Hye Rim akan segera menghapus gambar tersebut.

Hye Rim berjalan santai mengikuti lurusnya pagar pembatas diikuti Kai disampingnya. Tepat disebelah pagar pembatas dekat Hye Rim berjalan, ada pilar pilar pendek yang fungsinya untuk mengikat tali besar perahu nelayan disitu. Dengan isengnya Hye Rim menaiki pilar pilar yang tingginya sekitar 30 cm itu dan melompat kepilar berikutnya yang jaraknya kurang lebih selangkah orang dewasa.

“hati hati” tegur Kai mencoba memperingati Hye Rim yang terlihat seperti anak kecil itu. Hye Rim melihat Kai sekilas kemudian mengangguk dan melanjutkan aksinya melompat kepilar berikutnya. Baru beberapa detik yang lalu Kai memperingatinya, Hye Rim malah hampir terjatuh kedepan dan wajahnya akan mendarat lebih dulu ke aspal jika saja Kai tidak menahan tubuhnya dengan segera.

“ooh!” gumam Hye Rim yang bersyukur Kai segera menangkap tubuhnya dari belakang. Kalau tidak, mungkin saja hari ini dia akan berakhir dirumah sakit.

“bwa~ sudah ku bilang hati hati” ucap Kai sambil membenarkan posisi berdiri Hye Rim. Hye Rim mengangguk setuju, kali ini dia memang harus lebih berhati hati. Karena itu, Hye Rim segera menggenggam tangan Kai dan kembali menaiki pilar tadi.

“peganglah seperti ini agar aku tidak terjatuh” ujar Hye Rim sambil tersenyum. Kai hanya terdiam melihat tingkah Hye Rim. Jujur, saat ini pikirannya berkecamuk. Ada rasa ketidakrelaan dihatinya untuk melepas yeoja disebelahnya ini. Tapi ia harus melakukan itu.

Sinyal bahwa orang disekitar Hye Rim tak menyukainya beserta Lu Han dan So Mi membuatnya harus menjauhi Hye Rim. Terlebih beberapa saat Lalu ayah Hye Rim sudah datang sendiri kepadanya untuk meminta dirinya menjauhi Hye Rim. Itu sudah lebih dari cukup sebagai sebuah peringatan baginya. Bahwa orang miskin sepertinya memang tidak pantas berhubungan dengan orang terpandang seperti Hye Rim.

TBC

 

Anyeonghasaeyeo~ mianhe FF bertabur TYPO chapter yang ini benar benar super telat!
Tanyakan pada Luhan, dkk (?) kenapa chap yg ini super duper telat. Hahaha~
Mudah mudahan masih pada ingat sm FF bertabur Typo ini..
next Chap nya on time kok, janji! 😀

Ok! Last word, Comment ya?! Comment readers sangat membantu semangat author 😀

Anyeong~ Pyeong!

 

32 pemikiran pada “What is Love (Chapter 7)

  1. kisah Luhan sama somi nya di banyak author 😛 lol, gatau kenapa dapet feel mereka pasangan serasi ❤ lanjut yah thor jangan lama2 T.T
    hari ini baca dari chap 1 sampe chap 7 keren2 :')

  2. hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz hikz TT_TT
    poor kai oppa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s