Love, Fate and Feel (Chapter 1)

Author : Key’sBlackSmile

Title     : Love, Fate and Feel

Genre  : romance, friendship, family, school life (maybe)

Rating : PG13

Length : Series

Cast     :

  • Oh Se Hoon (EXO-K)
  • Shin Jae In (OC)
  • Byun Baek Hyun (EXO-K)
  • Shin Jae Rin (OC)

Other casts      : you can find it by your self 😀

Disclaimer       : cerita ini hanya fiksi dan murni ide dari otak saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan plotnya saya benar-benar minta maaf, karena saya tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua! Enjoy It!! Sebelumnya saya minta maaf jika disini masih kurang (typo, ngga jelas atau apapun) T.T Kekekeke, saya tau ini FF abal-abal. ini FF nongolnya idenya pas malam amat -.- ngg atau dah datang dari mana. kekeke ini FF EXO saya yang kedua ^^ masih Author baru~ wkwk mohon bimbingannya dan RCL yah 🙂

…Happy Reading ^0^…

Beberapa butir salju berjatuhan ke dataran bumi, sesuai hakikatnya. Ia menemani musim dingin dengan setia masih dengan warnanya yg putih dan kecantikan kekristalannya, membawa ketenangan dan membuat mata jeli untuk melihatnya. Membuat tidak sedikit manusia di luar sana yg ingin sekali menyentuhnya dan merasakannya. Tetapi tidak untuk yeoja yg memakai sweater tebal dengan sarung tangannya-ygjugatebal- ia menggerutu kesal terhadap benda kristal itu. Tidak lupa kepada beberapa kantung belanjaan di tangannya. Menatap sebuah benda kecil petunjuk waktu di pergelangan tangannya yg mungil.

“haish, seharusnya Jae Rin sudah pulang jam segini” ujarnya. Lalu dengan hati2 ia menaruh kantung belanjaannya dan mengambil handphone Galaxy-nya yg berada di saku sweaternya.

Lalu mengetik beberapa angka yg sudah berada di luar kepalanya, dan menaruhnya di telinga.

“yeobosseyo ? ah ! Jae Rin-ah kau dimana ? …. apa ?… Ne.arraso” seketika wajahnya mendadak datar saat mengembalikan lagi handphone Tochnya itu ke dalan saku. Lalu menatap ke depan lagi.

“bagaimana bisa aku pulang ke rumah dengan berjalan kaki di saat  begini ? huh!” rutuknya, ia menyesali kenapa ia tadi pagi tidak mempercayai kabar di berita bahwa siang ini akan ada hujan salju di daerah Seoul. Ia memutuskan untuk menunggu salju itu reda dan mampu untuk tidak membuatnya mati konyol di jalan karena kedinginan.

Sudah lebih dari 25menit ia menunggu tetapi salju itu tidak kunjung berhenti juga. Dengan kesal ia mengambil kembali handphonenya, mencoba untuk menelfon temannya mungkin.

Oh tidak, sepertinya dewi fortuna tidak sedang berada di sisinya saat ini. Handphonenya mati, lowbath. Ia lupa memastikan itu saat berangkat tadi. Yah handphonenya yg Lowbath ini menambah list kesialannya hari ini.

Akhirnya dengan malas ia memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahnya yg berjarak 3 blok dari supermarket ini. Cukup jauh.

“Jae In-ah !!”

Panggil seorang namja yg berlari menghampirinya. Namja yg tidak asing lagi baginya. Bagaimana tidak ? mereka sudah saling mengenal sekitar 8 tahun yang lalu.

“Sehun..” gumamnya. Sekali bergumam beberapa gembulan asap dari mulut yeoja itu keluar dan pipinya merah seperti tomat. Yah, yeoja ini sangat tidak kuat dengan musim dingin.

“kau sedang apa ? Hari ini cuaca sangat dingin. Kenapa kau di luar ?” ujar namja itu sambil membuka syalnya yg berwarna merah dan melilitkannya di leher yeoja di depannya ini.

“eh ? gomawo sehun. Ani. Aku hanya berbelanja kebutuhan di rumah, kau kan tau appa dan eomma akan kembali dari Busan sekitar 4 hari lagi” ujarnya sambil tersenyum.

“kalau begitu ikut saja dengan ku. Akan ku antar pulang. Aku tidak ingin melihat muka mu terpampang di koran pagi Seoul dengan berita kau mati karena kedinginan di tengah jalan Jae In-ya” ujar Sehun sambil bercanda dan di jawab kekehan kecil dari mulut yeoja itu.

“Jae Rin oddiseoyo ? Biasanya kalian belanja bersama” tanya Sehun lagi, seketika kekehan Jae In seperti hilang di telan oleh salju dan wajhnya kembali datar.

“wae ?” tanyanya. “dia sedang bersama Baek…”

“Jae In-ya! bagaimana kalau kita makan Ttuboki dulu sebelum pulang ? ahh begopayo~” potong Sehun sambil mengelus-ngelus perutnya dan menampilkan wajah aegyo di depan Jae In.

“ahh baiklah. Aku juga sedang lapar” jawab Jae In lalu Sehun menjawabnya dengan senyum semringah layaknya seorang anak kecil yg baru saja di berikan mainan baru. Menarik jemari Jae In setelah membantunya membawa beberapa belanjaanya.

Jae In menghempaskan badannya ke kasur empuk berwarna pink soft di kamarnya setelah bersama Sehun membereskan belanjaan yang tadi di belinya, menatap ke sampingnya. Salju masih turun, lalu menatap kea rah samping –lainnya- dapat dilihatnya kasur berukuran Single Size seperti miliknya, hanya saja yang membedakan warna spreinya. Warna kasur yang di sebelhanya itu berwarna Baby Blue.

“ah ! jemuran !” serunya lalu berjungkit dari kasurnya yang ia rasa sangat menggoda sekarang. Berjalan ke arah belakang rumah, mengambil jemuran dengan wajah malas lalu menaruhnya di keranjang biasa. Beruntung salju hari ini masih dingin sekali, tidak memungkinkan untuk mencair, jadi jemurannya pun tidak basah.

‘Ting Tong’

Berjengit dari aktifitasnya yang melipati beberapa lembar bajunya, ia berjalan ke arah pintu depan. Seseorang datang.

“ah, Jae Rin-ah kau sudah pul-”

“anyeong Jae In-ya”

Jae In mendadak membeku di tempat saat yang ia lihat bukanlah saudara kembarnya, melainkan ‘Kekasih’ saudara kembarnya. Byun Baek Hyun, yang tengah menghangatkan tangannya dengan mengusapkan kedua tangannya bersamaan dan beberapa asap keluar dari mulutnya. Dia kedinginan.

“ah, Baek Hyun Sunbae kau tidak bersama Jae Rin ?” tanya Jae In sedikit gugup. Baek Hyun menatapnya sambil tersenyum inosen. “dia akan segera kembali, tadi dia hanya stop di supermarket depan untuk membeli sesuatu” ujar Baek Hyun.

Jae In mengangguk mengerti lalu mempersilahkan Baek Hyun masuk. Sejujurnya dia akan benar-benar mencatat hari ini sebagai hari terburuk di diarynya nanti.

“kau ingin minum apa Sunbae ?” tawar Jae In. Baek Hyun menatapnya lalu ia tertawa pelan “tidak usah memanggilku dengan panggilan formal Jae In-ah. Aku ini sekarang namjachingu saudara kembarmu, itu berarti kita keluarga kan ?” jelasnya. Jae In menunduk lalu ia mendongak dan menatap Baek Hyun.

“arraso, jika Jae Rin memanggilmu oppa, aku harus memanggilmu apa ?” tanya Jae In. Baek Hyun seperti berpikir lalu dia menatap Jae In lagi dan tersenyum.

“aku lebih suka kau memanggilku Sunbae..” ujar Baek Hyun inosen. Jae In terkekeh pelan “baiklah Sunbae, sekarang kau ingin minum apa ?” tanya Jae In.

Baek Hyun menggeleng “tidak, terimakasih Jae In. aku menunggu Jae Rin saja”

“arraso, kalau begitu aku tinggal kebelakang ne ?” ujar Jae In dan ia berpamitan untuk kembali kebelakang.

Tes..

Tes…

Tes….

“ck.. pabo” ujarnya sendiri merutuki dirinya, merutuki kenapa cairan bening itu dengan mudahnya jatuh di wajahnya ? selalu begini.. harus bagaimana ? Yeoja itu tengah duduk di atas kasur Pink Softnya dan menempelkan keningnya di jendela lebar di sebelah kasurnya. Menekuk lututnya dan mmenyembunyikan dirinya di selimut. Hanya kepalanya yang menyembul dan melihat keadaan di luar melalui jendela ini.

Drrt~Drrt~~

Merasakan sesuatu bergetar di kasurnya, yah apalagi kalau bukan HandPhonenya. Mengambilnya dengan malas,

From : Hunnie

Gwenchana ? kau tidak sedang flu kan ?

Selalu saja, Sehun lah yang perduli dengannya. Sehun yang tau semuanya, termasuk perasaannya dengan sunbaenya.. Byun Baek Hyun. Sejujurnya ia sedang malas melakukan apa-apa, termasuk membalas Text Massage dari sahabatnya itu. tapi apa daya ? jika tidak dibalas Jae In yakin Sehun akan meng-SMSnya terus hingga dia tau kabar Jae In.

To : Hunnie

Gwenchana ^^ aku hanya sedikit pusing Hunnie-ya..

SEND. Menghempaskan kembali HandPhone Tochnya di sebelahnya lalu menatap kea rah jendela lagi. Salju masih saja turun, menemaninya kah ? sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Pemandangan yang membuatnya benar-benar ingin segera menemui Sehun dan ia benar-benar butuh kehangatan sahabatnya saat ini.

Baek Hyun mencium kening Jae Rin, lalu ia tersenyum lembut. Sangat lembut, tulus sekali dan menyiratkan arti cinta yang sesungguhnya. Lalu Baek Hyun berjalan kearah mobilnya, sedangkan Jae Rin tersipu malu dan menunggu hingga mobil Baek Hyun menghilang dan ia kembali masuk  ke dalam rumah.

Jae In menunduk lalu menaruh wajahnya di sela lututnya yang di tekuknya. Merasakan sesuatu bergetar kembali,

From : Hunnie

Kau yakin ? sudah minum obat ? kau sangat rentan di keadaan musim dingin seperti ini Jae In-ya.. istirahatlah

 

Hanya Sehun yang mengertinya saat ini. Jae In baru saja ingin membalas, tiba-tiba Jae Rin masuk dengan wajah berseri. Jae In buru-buru menghapus sisa air matanya dan menyembulkan wajahnya keluar.

“Jae In-ah~” ujarnya menghampiri Jae In lalu duduk di depan Jae In dengan wajah berseri, padahal ini musim dingin kan ?

“apa lagi ? kau ingin menceritakan bebek mu itu eoh ?” tanya Jae Rin dengan wajah menggoda. Yah, ia tidak bisa memberi tau perasannya kepada saudara kembarnya ini, sudah 2 tahun ia menyembunyikan semuanya.

“ne eonni !!! Baekki oppa sangat romantis sekali ><” ujarnya dengan exited. Selalu begini.. harus bagaimana ? Jae In hanya bisa tersenyum dan menerima cerita-cerita dari Jae Rin, dia harus bisa tegar. Dia tidak bisa membuat saudaranya ini kecewa atau harus merelakan Baek Hyun  untuknya, dan ia pun tau jika Jae Rin akan melakukan itu semua jika ia tau.

“gurae ? kalau begitu beruntung sekali kau mendapatkannya Jae Rin-ah” ujar Jae In sambil mengusap rambut Jae Rin. Jae Rin tertawa lalu melanjutkan cerita tentang Baek Hyun dengan wajah berseri. Sejujurnya, Jae In lebih memilih ia mati kedinginan sekarang di luar.

Jae In menggeliat di balik selimut Soft Pink tebalnya, masih enggan untuk berdiri dan menyambut pagi yang ia yakin akan-sangat-amat-dingin. Lagian hari ini dia sedang Libur ke kampus.

 

“YA ! eoonni !!! ireona ! kau harus sarapan !” teriak Jae Rin yang memekikkan. Jae In menyembulkan kepala dengan malas lalu menatap Jae Rin di depannya yang memakai celemek dan nampan di tangannya.

“kau masak apa ?” tanya Jae In dengan suara serak.

“aku membuat sarapan, bangunlah eonni. Kau sarapan dan aku harus bersiap-siap keluar” ujar Jae Rin sambil menarik selimut Jae In.

 

“ah~ baiklah. Kau libur juga kan ? mau keluar kemana ?” tanya Jae In yang tengah mengucek-ngucek matanya. Jae Rin tersenyum lebar lalu menyodorkan tiket Lotte Park di hadapan Jae In.

 

“baekki oppa mengajakku ke sini eonni” ujarnya sambil tersenyum. Jae In tertegun, ia terdiam lalu menepuk kepala Jae Rin. “semoga kencanmu sukses Jae Rin-ah”

Jae In memakai sepatunya lalu membaiki letak topinya dan bergegas keluar dengan mantel tebal untuk melindunginya dari cuaca dingin di luar. Oh iya, dia juga memakai syal kesayangannya dan membawa syal Sehun, mungkin ia bisa mampir keruah Sehun dulu. Tidak lupa sebuah tas biola tersampir di bahunya.

Menuju keluar lalu mengunci pintu rumahnya yang tengah kosong, Jae Rin sudah pergi dengan Baek Hyun.

 

Jae In berjalan menuju taman kecil dekat rumahnya, tidak special. Hanya sebuah ayunan dan beberapa mainan anak-anak dan juga pohon rindang dan kolam ikan yang kecil tetapi tetap menambah pemandangan itu indah.

 

Jae In menatap ke tanah yang kini berwarna putih yg tengah di pijaknya. Hanya menatapnya saja air mata Jae In mentes lagi. kenapa ? harus bagaimana ? membiarkan cintanya untuk Baek Hyun ia buang begitu saja ? susah..

 

“benar sekali dugaanku” gumam seseorang. Jae In mendongak dan menatap kedepan. Sehun tengah tersenyum lembut ke arahnya.

 

“eh ? Sehun-ah..”

“aku mengkhawatirkanmu Jae In, ku telfon tak di jawab. Aku memutuskan kesini. Sekalinya benar kau berada disini” ujarnya lalu berangsur ia berpindah ke ayunan di sebelah Jae Indan menyandar di tiangnya. Jae In mengecek tas dan kantungnya. Benar saja HandPhonenya tertinggal.

 

Benar, hanya Sehun yang tau tempat ini. Tempat pertama kali ia bertemu Baek Hyun, pertama kali rasa cinta itu datang. Pertama kali ia melihat senyum inosen seorang malaikat..

 

Flashback

 

Seorang yeoja yang baru saja lulus dari sekolahnya dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Universitas. Ia tengah menggenggam beberapa lembar kertas di tangannya sambil berjalan lunglai.

 

BRUK

“mianhae, jeongmal mianhae” ujar yeoja itu menunduk karena merasa bersalah sudah menabrak seorang namja di depannya.

“gwenchana..” ujar namja itu. ia menjongkok dan mengambil kertas-kertas yang berjatuhan itu.

“ini..” ujarnya menyerahkan kertas itu kepada yeoja di depannya yang tengah menatap lantai dengan tatapan kosong.

 

“hey ? kau kenapa ?” tanya namja itu sambil menepuk pundak yeoja di depannya ini.

“hiks.. hiks…” isak yeoja itu. Namja itu terlihat panic, kenapa yeoja ini tiba-tiba menangis ? ia mengedarkan pandangan ke sekitar, sekarang banyak orang yang memandangnya rendah. Sudah membuat yeoja ini menangis ? haish bahkan dia tidak tau apa-apa. Mengenal yeoja ini saja tidak kan ?

 

“baiklah, bailah.. lebih baik kau menenangkan dirimu dulu” ujar namja itu lalu ia membantu yeoja yang masih terisak itu berdiri dan membawanya ke suatu tempat.

“ini.. minumlah” ujar namja itu enyodorkan coffe panas karena terlihat asap yang menggebu-gebu di atasnya. “gomawo…” jawab yeoja itu.

“ini musim dingin, kau keluar dengan kaus panjang dan celana panjang saja. Apa tidak kedinginan ?” tanya namja itu. memang benar, yeoja itu memakai kaus panjang berwarna pink soft dan celana jeans panjang dan juga sepatu kets. Berbeda dengan beberapa orang yang keluar di cuaca dingin seperti ini, mereka lebih memilih menggunakan mantel tebal, syal dan pakaian penghangat lainnya.

 

“….” Yeoja itu hanya diam. Namja itu menyodorkan tangannya “Byun Baek Hyun imnida..” ujarnya. yeoja itu menghadap kea rah namj ayang tengah mengulurkan tangan ke arahnya.

“Shin Jae In..” jawabnya seadanya. Baek Hyun tersenyum menatap yeoja itu, “kau ada masalah ? mungkin bisa cerita kepadaku . ku rasa banyak orang yang bilang aku adalah pendengar yang baik” ujar Baek Hyun membanggakan dirinya sendiri.

 

“aku.. aku ingin sekali masuk ke Seoul National University of Arts.. tetapi, nilaiku tidak mencukupi” ujar Jae In. lalu ia menatap Baek Hyun yang tersenyum ke arahnya.

DEG

Jujur saja, jantung Jae In tidak bekerja dengan stabil saat ini. Senyum Baek Hyun layaknya senyum seorang malaikat yang inosen. Dengan cepat Jae In mengedarkan pandangan kea rah lain.

 

“kau tau ? aku adalah mahasiswa di Universitas itu..” ujar Baek Hyun dan membuat Jae In sedikit terkejut. “aku di Jurusan Music” ujarnya lagi lalu ia menatap ke depan, sekarang mereka berada di atas ayunan di taman itu.

“kau ingin masuk kesana ? bagaimana bisa kau menyerah sebelum perang..” gumam Baek Hyun lagi. lalu menghadap Jae In dan tersenyum.

 

“eh ?” seketika bagaikan semua oksigen di sekitar Jae In lenyap. Baek Hyun membuka Syalnya yang berwarna putih,warna putih itu persis wana putih salju yang pucat itu dan melilitkannya ke leher Jae In. “berjanjilah aku akan menjadi Sunbaemu di universitas itu ! aku menunggu mu Jae In-ya ! you can do it ne ?” ujarnya sambil mengusap ujung kepala Jae In dan tersenyum-lagi-. Lalu ia menatap jam tangannya dan kembali menatap Jae In. “aku harus segera kembali, sehabis ini ada Jam pelajaran. Sampai ketemu di Seoul National University of Arts Jae In-ya.. Anyeonghaseyo” ujar Baek Hyun lalu ia tersenyum dan berbalik meninggalkan Jae In yang masih terdiam menatap punggung Baek Hyun yang semakin jauh semakin kecil.

 

Flashback End

 

Yah semenjak Baek Hyun datang, Jae in menjadi optimis. Ia yakin bisa masuk ke universitas kebangaan Seoul itu. Seoul National University of Arts termasuk univeristas berperingkat tinggi di Korea dan kenyataannya, banyak selebritis terkenal menimba ilmu di salah satu universitas seni bergengsi di Korea Selatan ini. Kampus ini memliki galeri seni tersendiri, dan banyak hasil karya murid – muridnya dipamerkan di studio mini tersebut. Standarisasi nilainya lumayan tinggi, cukup sulit masuk ke perguruan tinggi yang satu ini, kecuali kita bener – bener “talented”

 

Dengan bakat bermain biolanya, Jae In mencoba masuk dan siapa sangka ? dia bahan masuk ke 10 mahasiswa terbaik di tahun ini. Permainan biolanya sangat indah.

Sedangkan Jae Rin ? dia lebih memilih mengambil Inha University dan mengambil jurusan IPA. Berbeda sekali dengan Jae In yang sungguh-amat-bodoh dalam mata pelajaran itu. dia lebih unggul di bidang music dan bahasa.

 

Sehun masuk di kampus yang sama dengannya dan Baek Hyun. Hanya saja Sehun masuk ke jurusan Kesenian. Sehun sangat pandai membuat patung dari tanah liat, dia juga pandai melukis. Tidak heran dia termasuk anak kesayangan dari dosen kesenian di universitas itu. Meskipun mereka berbeda gedung atau jurusan, mereka sering sekali bertemu. Bahkan sempat di gosipkan berpacaran. Hey ? Jae In masih menyimpan rasa untuk Baek Hyun..

 

“kenapa lagi ? Baek Hyun kah ?” tanya Sehun membuyarkan lamunan Jae In yang mengingat masa dulu saat pertama bertemu dengan malaikat inosennya.

 

“ani” jawabnya singkat laluia mengambil segumpal salju di bawah ayunan dan dimainkannya dengan jari lentiknya itu. Sehun menatap yeoja dingin di sampingnya ini.

 

“kau membawa biola.. kenapa tidak kau mainkan saja ? dari pada memainkan salju itu” ujar Sehun sambil tersenyum. Jae In menatapnya dengan tatapan berbinar-binar, yang menyiratkan kau-benar!

 

Dengan gerakan gesit ia langsung mengambil boilanya dan membukanya lalu menaruh posisinya dan menatap Sehun sebelum bermain.

“kau ingin lagu apa ?”

“karena sebentar lagi Natal, kau bisa bermain lagu ‘Marry Christmas’ sekalian menghibur anak-anak disekitar sini kan ?” jelas Sehun sambil memandang beberapa anak yang bermain di sekitar taman ini.

 

Beberapa detik kemudian alnunan lagu Marry Chirstmas mengalun di taman kecil nan hangat itu, Jae In memejamkan mata mencoba untuk meresapi nada. Beberapa anak kecil dan pengasuhnya datang berkumpul di dekat Jae In dan bernyanyi sesuai lirik dan nada yang teralun. Sehun memandang Jae In dengan lembut, sejujurnya ia senang membuat Jae In melupakan sesuatu yang berhubungan dengan Cintanya. Karena dia juga sangat menyayangi Jae In, who knows ?

 

Selesai bermain Jae In membuka mata dan mengedarkan pandangan, banyak anak kecil dan beberapa orang yang separuh baya bbertepuk tangan untuknya.

“noona neomu yeppoyo~” ujar seorang anak kecil yang imut. Jae In berjongkok dan memberikannya sebuah permen coklat dari kantungnya.

 

“gomawo~” ujar Jae In sambil tersenyum. Sehun memandangnya dengan seksama, takut moment seperti ini akan berakhir.

 

“ottae ? sudah baikan ?” tanya Sehun saat Jae In menatapnya sambil tersenyum lalu mengangguk .

“eum.. gomawo Sehun..” gumamnya lalu ia tersenyum, Sehun menatapnya lalu berhenti di Syal putih pucat seperti warna salju.

“kau masih menyimpan Syal darinya ?” tanya Sehun. Jae In mengearkan pandangannya kea rah lehernya,

 

“aku akan selalu menyimpannya Sehun-ah.. walaupun lewat natal 2 tahun yang lalu, dan dia pun mungkin sudah lupa” ujar Jae In sambil tertunduk dan mengelus Syal itu. Sehun menatapnya miris. Memang, ini aneh. Sebuah takdir cinta yang menyakitkan.. saat kau akan memulai hubungan dengan namja yang kau cintai.. tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia mencintai saudaramu bukan dirimu. Sakit bukan ?

 

“semenjak ia memulai nya dengan Jae Rin, dia melupakanku. Mungkin hanya sebatas aku sebagai saudara kembar ‘kekasihnya’. Gwenchana, yang penting aku masih bisa melihatnya saja aku senang” gumam Jae In lalu ia bengkit dan menghela nafas panjang lalu di keluarkannya.

 

“ah iya ! syal mu sehun !” seru Jae In lalu ia berbalik dan mengambil kain berwarna merah di tas biolanya. “gomawo..”

Sedari tadi Sehun hanya bisa diam dan masih dalam pikirannya masing-masing. Dia menatap syalnya lalu menatap yeoja di depannya.

 

“ah aku harus pulang..” ujar Jae In setelah melihat benda penunjuk waktu kecil di pergelangan tangannya.

 

GREP

“eh ?”

 

“bagaimana jika ada seseorang yg lebih mencintaimu daripada kau mencintai Baek Hyun hyung ?” tanya Sehun setelah menangkap tangan Jae In yang tadinya ingin pergi.

“mungkin aku akan menolaknya”

 

DEG

“wae…?” tanya Sehun sedikit gugup lalu Jae In tampak berpikir lalu ia menatap sahabat setianya yang masih mengenggam pergelangan tangannya. “karena aku ngga mau mereka sakit, aku masih belum bisa melupakan Baek Hyun sunbae..”

 

Lalu kau ingin aku menunggu ?

 

to be continued

 

ottae ? ottae ? wkwk, saya tau ini masih jelek -.- gomawo yang mau baca ^^ anyeong~

40 pemikiran pada “Love, Fate and Feel (Chapter 1)

  1. Anak kembar ya
    sama ,gue kan juga kembar
    hehe..

    Baekhyun ga tau ya kalu jae in tuh lebih dlu naruh cinta dripada jae rin!
    Chap 2 aja lah
    let’s go

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s