In The End

Author: minnieasmilkyway

Title: In The End (Sequel of Hurt)

Main Cast: Oh Sehoon (EXO-K’s Sehun)

Cho Saeri (Sae/Other Cast)

Kim Min Seok (EXO-M’s Xiu Min)

Support Cast: If possible, you can find it by yourself

Genre: Romance, Angst, School Life

Length: Oneshot

 

Oke, saya kembali lagi dengan Sequelnya ‘Hurt’ semoga suka ya^^ mian kalo ada yang kurang dll. Let’s reading and don’t forget for RCLnyaaaaa gomapta^^

————————————————————————————————————

Cinta yang sebenarnya itu adalah merelakan yang dicintainya bahagia dengan orang lain, meski itu sulit….

 

=Sehun PoV=

Aku berjalan tak tentu arah sambil terus menendang kerikil kecil. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi belakangan ini. Ini semua karena salahku. Salahku memarahi dan menyakitinya. Dan sekarang aku malah menyesali itu semua. Terambat, karena kini ia sudah bersama namjachingunya yang baru, Xiu Min.

 

Aku begitu frustasi sampai-sampai seluruh yeoja seantero sekolah yang biasanya akrab menyapaku, sekarang malah berbalik karena takut denganku. Hal seperti ini membuatku frustasi berkepanjangan.

“Oppa…” lirih seorang yeoja dihadapanku dan membuatku terpaksa mendongak ke arahnya.

“Mina? Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku tak percaya.

 

Sedikit memperkenalkan saja. Mina atau lengkapnya Choi Mina, adalah tunangan pilihan orangtuaku yang tidak kusetujui. Dan ia juga telah mengetahui itu, makanya ia sangat menjaga perasaanku saat berpacaran dengan Sae. Membuatnya harus menahan perasaannya kepadaku.

 

“Neo gwaenchanayo, oppa?” tanyanya halus sama seperti saat kami pertama kali berkenalan.

“Gwaenchana” ucapku singkat sembari memaksakan sebuah senyuman ke arahnya.

“Hey, kau percaya tidak. Kalau aku berpisah dengan‘nya’?” tanyaku tiba-tiba.

“Mwoya oppa? Ber-pi-sah katamu?” ujarnya sambil mengeja kata berpisah.

“Nde” ucapku yang kemudian menunduk meratapi kesalahan yang kuperbuat.

“Oppa. Kalau begitu, sekarang kau bisa berjalan denganku. Biar bagaimanapun, aku adalah tunanganmu. Sekarang kita bebas” tutur Mina panjang lebar, dan aku tidak mau dengan susah payah menanggapi hal itu.

 

Aku masih tertunduk hingga Mina terdiri dari duduknya, “Eodi?” tanyaku.

“Ke kelas oppa” jelasnya.

“Mianhae soal yang tadi. Hatiku sedang hancur. Jadi, tolong jangan memperburuknya lagi” ucapku.

 

=Saeri PoV=

Apakah ini adalah jalan yang tepat bagi kami bertiga?. Kini, aku menerima pernyataan Min oppa yang berkata bahwa ia menyukaiku. Aku mengucapkan bahwa hal itu benar di depan Sehun sunbae. Tapi, apakah hal itu dinilai baik?, pikirku dalam hati.

 

Sekarang ia berada di sampingku. Menggenggam tanganku dan menatapku sekilas beberapa kali. Inikah rasanya berpacaran dengan teman dari mantanku sendiri. Orang yang membuat hubunganku hancur karena ingin meminta bantuanku.

 

Sehun sunbae, andai kau tidak mengucapkan kata-kata itu dan membuat hatiku teriris. Mungkin, tidak akan sebegini jadinya. Yang kutahu, ini sudah terlambat. Kau meminta maaf disaat Min oppa telah menyatakan rasa sukanya padaku.

 

Min oppa berusaha tersenyum di sebelahku. Namun, aku hanya terdiam memikirkan kejadian yang lalu. Sepertinya Min oppa memperhatikanku. Tangan kirinya menggapai pipiku dan menatapku dalam.

 

“Neo gwaenchana, chagiya?” tanyanya dan kubalas dengan senyuman tipis dan ia hanya mengangguk.

 

=Sehun PoV=

“Jangan tinggalkan aku” ucap yeoja itu dengan suaranya yang menahan tangis sembari memelukku.

“Kembalilah padaku, oppa. Tataplah aku!” ucapnya sekali lagi dan membuat tubuhku berbalik ke arahnya dan membalas pelukannya. Kucium keningnya lembut.

 

“Baiklah, aku akan mencoba mencintaimu chagi” tuturku lembut dan kembali menatapnya dalam.

 

Mulai saat ini, aku mencoba bangkit. Menghindarimu bukanlah hal yang baik. Kupikir, aku akan mencoba belajar menerima kenyataan. Kenyataan dimana aku harus melepasmu.

 

***

Langkahku terhenti saat kudapati dua sosok bayangan yang sedang duduk. Kumajukan langkahku dan kupertajam penglihatanku. Choi Saeri dan Kim Min Seok. Saat itu, Sae sedang menyuapi namja itu sambil bercanda dengannya. Semua dihiasi dengan senyuman. Tidak seperti saat ia bersamaku. Saat ia harus menaruh rasa sakit karena ulahku.

 

Kurasa aku akan menitikkan air mata jika melihat adegan tersebut. Dimana kasih sayang yang dulu diperuntukkan untukku, kini sudah jatuh ke tangan orang lain. Yang bahkan, orang  tersebut adalah temanku sendiri.

 

“Oppa” suara kecil itu mengagetkanku.

“Eo, chagi?”

“Kenapa berhenti disini?” tanyanya dan membuat seolah mulutku terkunci rapat.

“Gwaenchana chagiya. Kau mau makan?” tanyaku mengalihkan perhatiannya dan disambut dengan sebuah anggukan. Akupun tersenyum, “Kajja!”

=Saeri PoV=

Sekarang, aku menyuapi Min oppa dengan bekal yang sengaja kubawa untuknya. Aku akan mencoba membahagiakannya. Mencoba untuk menghargai perasaannya dan melupakan Sehun sunbae sepenuhnya.

 

Anehnya, aku bisa tertawa selepas itu di depan Min oppa. Aku tidak merasakan hal yang beberapa hari ini mengganggu pikiranku. Seolah mereka telah menghilang dan terhapus dari memori otakku.

 

Tidak, ingatan itu kembali lagi. Kudapati tubuh tegap seorang Oh Sehun dengan seorang yeoja yang mengaitkan lengannya ke lengan Sehun. Seakan Sehun baru mendapatkan belahan jiwanya yang baru. Harusnya hal itu membuatku lega. Karena, setidaknya ia pasti sudah belajar untuk melupakanku. Kenapa aku tidak melakukan hal yang sama?.

 

“Chagiya” panggil Min oppa yang masih asyik menguyah makanannya.

“Ne, oppa?”

“Bukan maksudku, tapi aku hanya ingin bertanya. Yeoja yang berjalan dengan Sehun itu siapa?” tanyanya dan jantungku terasa lemah seketika.

“Aku tidak tahu, oppa. Memangnya ia tidak menceritakan hal itu padamu?”

“Aniya, kau tahu kan seperti apa hubungan kami sekarang sejak insiden itu?” jelasnya.

“Arasseo, mianhae oppa. Jangan ingatkan aku tentang hal itu” ucapku.

“Ye, tidak lagi chagi” balasnya sambil membelai rambutku lembut.

 

=Sehun PoV=

“Kenapa tidak dimakan oppa?” tanya Mina sambil menatapku bingung.

 

Entah kenapa, aku jadi terbayang adegan yang tadi. Saat Sae menyuapi Min. Jika saat ini kami belum berpisah, mungkin hal itu akan terjadi padaku. Kini, aku sedang membayangkan wajahnya. Waja Sae yang tersenyum kala itu. Tersenyum dan membuat hatiku merasa tenang.

 

“Aku tidak nafsu makan” jawabku singkat.

“Mau…kusuapi, oppa?” tanyanya lembut dengan nada keraguan mengiringinya.

“Aniya” balasku singkat.

 

Tuk.

 

Ia memukul lenganku. Lalu mengerucutkan bibirnya dan berkata, “Kau… Jangan membuatku khawatir”

“Hehe, mianhae chagi. Aku akan memakannya sekarang” ucapku sambil mengacak rambutnya pelan.

 

=Saeri PoV=

Hari ini, kami tidak bisa pulang bersama. Kim songsaengnim menyuruhnya untuk menyelesaikan laporan kelas bulan ini. Dan ia memintaku agar aku pulang duluan saja. Lantas, aku hanya mengiyakan permintaannya itu.

 

Kupercepat langkahku agar cepat keluar dari gedung sekolah ini. Menyapa kamar tidur, dan terjun ke kasur yang empuk. Sepertinya, itu hanyalah mimpi. Mimpi dimana saat ini, sebuah tangan menarikku dan membekapku dengan tangan yang satunya.

 

“Mmmmphh…”

“Sssst..diam” ucapnya dan membuatku memberhentikan sikap berontakku.

“Sunbae, ada apa?” tanyaku saat tangannya sudah berhenti membekapku. Wajah yang sangat kurindukan sejak insiden itu. Wajah yang tatapannya menghangatkan.

“Kemana yeoja yang tadi siang itu?” lanjutku.

“Mina maksudmu?” tanyanya balik diiringi dengan alisnya yang terangkat satu.

“Neo paboya, Sunbae. Aku mana tahu namanya” dengusku yang kemudian dibalasnya dengan senyuman misterius.

“Dia tunanganku, wae?”

 

Sunbae, apa yang kau pikirkan sih?. Kenapa malah memunculkan senyuman seperti itu?. Licik. Dan kau berkata bahwa ia adalah tunanganmu.Apa insiden beberapa waktu lalu sudah terhapus dalam pikiramu?. Sehingga kau bisa dengan mudahnya berkata seperti itu. Kau ini punya hati atau tidak sih?.

 

“Kenapa terdiam?”

“Eo? Ani sunbae…”

 

Hening. Iapun mengaitkan lengannya ke lenganku dan menarikku agar pergi dari tempat itu. Aku tidak memberontaknya. Aku mengikuti kemana ia melangkah. Kenapa aku malah seperti ini?.

 

“Cukup sunbae!” sahutku yang lalu melepas lengannya dari lenganku.

“Kau ini sebenarnya mau apa?” tanyaku setengah berteriak. Ia hanya menatapku dalam. Tidak membalas pertanyaanku dan malah membuatku emosi.

 

“Mianhae, jangan marah seperti itu” ucapnya yang lalu memelukku erat dan membuatku salah tingkah.

“Yak!! Sunbae kau ini…”

“Mianhae, jeongmal mianhae. Saranghae Sae-yah…” tuturnya dalam keheningan.

“Sunbae…Kenapa kau bicara seperti itu?” tanyaku yang merasa bingung dengan pernyataannya.

“Aku mengaku menyesal telah membuatmu merasakan sakit. Aku sudah merasakan bagaimana menjadi dirimu. Sungguh, aku tidak akan mengulangi hal itu. Kembalilah padaku” jelasnya dengan raut muka sedih.

 

Aku tidak pernah memikirkan bagaimana jadinya jika aku dan Sehun kembali bersatu. Bahkan, aku tidak pernah memikirkan bahwa hal tersebut akan benar-benar terjadi. Waktu itu, aku menganggap hal itu adalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Menjadikanmu hal yang sangat sulit untuk kugapai.

 

Kini, kau datang kembali. Seolah mimpi itu datang sendiri kepadaku. Memberikan berkas-berkas harapan yang masih tersisa. Aku melihat dimatamu sebuah kepercayaan. Memberikan kepercayaan kepada seseorang tidaklah mudah. Namun, aku telah memberi hal itu kepadamu. Menjadikanmu bagian hidupku.

 

Lalu, engkau pergi begitu saja karena tidak mau mendengar penjelasanku. Hal itu kuanggap curang. Karena kau meminta maaf kepadaku saat Min oppa menyatakan perasaan sebenarnya. Perasaan dimana aku belum tentu dapat membalasnya. Membalasnya dalam arti tulus seperti saat aku mencintaimu.

 

Rasa ini tidaklah sama. Bimbang. Perasaanku saat ini bercampur aduk. Itu semua karena dirimu. Dirimu yang membuatku terjebak dalam situasi seperti ini. Aku masih berharap. Adakah secercah sinar yang akan menerangiku sekarang?.

 

“Sunbae…Jangan lakukan hal seperti itu lagi. Bagaimana kalau Min oppa melihatku?” rengekku dan air matapun turut turun dari mataku.

 

=Sehun PoV=

Kuharap kita bisa seperti dulu lagi. Tertawa bersama. Yang kubutuhkan adalah kata maafmu. Aku masih mencintaimu. Dan disinilah aku sekarang. Dihadapanmu. Meminta maaf dan mengajakmu agar kita bisa seperti dulu. Aku mau perasaan kita bersatu kembali. Aku harap, itu bukanlah sekedar mimpi. Melainkan, menjadi sebuah kenyataan.

 

“Kau tahu kenapa ia tidak berniat untuk pulang bersamamu hari ini?” tanyaku saat aku sudah berhasil menenangkan diriku.

“Tentu saja, ia disuruh oleh Kim songsaengnim. Ia berkata seperti itu padaku” jelasnya polos.

 

Xiu Min, kau membohonginya. Kenapa ia tidak berkata yang sebenarnya tentang hal yang tadi?. Kenapa ia memilih untuk berbohong?. Apa itu karena ia menjaga perasaan Sae?. Ya, dia berbeda sekali denganku.

 

“Dia berbohong” ucapku santai.

 

*Flashback – when Sehun met Xiu Min*

“Hey” sapaku sambil menghampiri wajah teman karibku itu.

“Ada apa?” tannyanya to the point.

“Begini, bukan berarti aku tidak menghargai perasaanmu dengan Sae. Tapi, aku mau kau menyerahkannya kembali kepadaku” pintaku dan Min malah menatapku dengan pandangan tajam.

“Kau ini bercanda?”

“Aniya Min-ah, aku serius mengajukan hal itu. Aku masih mencintainya” ucapku jujur.

“Lalu?”

 

Jawabannya itu sangatlah tidak kusukai. Hanya bertanya dengan pertanyaan yang singkat. Hanya satu kata.

 

“Sudah kubilang, aku mau dia kembali ke sisiku lagi”

“Silahkan”

“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanyaku akhirnya.

“Kau kira aku benar-benar menyukainya? Aku hanya ingin ia merasakan tenang saja sebentar dan berhasil melupakanmu” jelasnya. Hal itu membuatku kesal dan kemudian mendaratkan tanganku yang sudah terkepal ke pipinya.

“Kau itu berani sekali mempermainkan perasaannya!” sahutku setelahnya dan ia membalas pukulanku membuatku tersungkur ke lantai. Kamipun bertengkar hebat.

 

“HENTIKAAAAAAN!” sahut seorang yeoja yang ternyata adalah Mina dari balik pintu dimana kelas Min berada. Aku langsung melempar pandang ke arahnya.

 

PLAK.

 

Yeoja itu menamparku.

 

“Mina-yah…” lirihku.

“Aku muak dengan sikapmu yang childish seperti itu! Dan kau memang sepantasnya harus tahu kalau Min adalah namjachinguku. Dan aku juga sebenarnya tidak mau menjadi tunanganmu dan merelakannya berperan seolah ia adalah penerang hati Sae”

“Kukira…hanya aku saja yang tidak menginginkan perjodohan itu. Jadi, selama ini kau juga”

 

Mina langsung mengarahkan dirinya ke arah Min dan mencoba membangkitkannya. Mengusap sudut bibir Min yang berdarah terkena pukulan dariku.

 

“Sekarang kau sudah tahu yang sebenarnya kan?” tanya Min dengan tatapan sinisnya. Dan aku hanya dapat menyesali segala perbuatanku. Tidak ada yang menolongku kala itu. Hal itu membuatku semakin merasa bersalah.

*Flashback End*

 

Kulihat yeoja disebelahku menundukkan wajahnya.

 

Hiks.

 

Ia menangis mendengar ceritaku. Jangan menangis. Jangan menangis di depanku. Aku tidak tahan melihat pandangan seperti ini.

 

“Jadi, selama ini hanyalah sandiwara. Bodoh sekali diriku” ucapnya sesunggukan.

“Uljima, Sae-yah…” ucapku sambil mengarahkan kepalanya agar bersandar dipundakku. Tempat yang paling nyaman saat merasa sedih.

“Setidaknya, aku sudah mengerti apa yang terjadi sebenarnya”

“Jadi…”

“Mwo, sunbae?”

“Yak!! Kau ini masih memanggilku sunbae?” ucapku yang tidak terima sambil mengacak rambutnya.

“Panggilah aku Oppa seperti dulu, jebal Sae-yah” pintaku saat itu dan dapat kulihat wajahnya yang tersenyum sedikit demi sedikit.

“Memangnya apa yang kau pikirkan selama ini, huh?”

“Aku memikirkan saat aku kembali bersamamu seperti dulu”

“Sungguh, itulah yang kuinginkan sekarang. Dan selamanya. Aku berjanji” lanjutku.

“Benar kau akan menepati janji itu?”

“Nde” ucapku singkat dengan diiringi senyuman.

“Jadi, sekarang kau mengizinkanku memanggilmu oppa? Begitu?” tanyanya lagi dan membuatku agak kesal.

 

Sae-yah, kau ini masih sama lucunya dengan yang dulu. Hal itu yang membuatku tidak ingin kehilanganmu. Kau adalah yeoja yang pantas untukku. Kau bagaikan ‘angel’ yang turun disetiap mimpiku. Dimana aku tertidur lelap karenanya. Kumohon, kembalilah kepadaku. Karena, disinilah kau pantas berada. Dihatiku. Dimana tidak seorangpun yang boleh menyakitimu. Melebihi insiden saat itu.

 

Kumantapkan hatiku dan kemudian memajukan wajahku ke wajahnya.

 

CUP.

 

Ciuman singkat yang cukup membuat wajahnya bersemu merah. Aku tahu, ia tidak akan tahan jika diperlakukan seperti ini. Hatiku jadi tertawa licik saat melihat hal itu berlangsung.

 

“Kau itu curang” ujarnya.

“Ige mwoya?!” sahutku yang tidak terima dikatai curang seperti itu.

“Ya, tentu saja. Kau itu childish”

“Tidak lagi, chagi” ucapku yang kemudian mencium keningnya dan memeluknya erat sekali lagi.

 

Aku merasakan kenyamanan yang beberapa hari ini tidak dapat kurasakan. Hal ini tidak bisa kudapatkan dari yeoja manapun. Dia adalah yeoja terakhir bagiku.

 

“Berjanjilah jangan mencintai namja lain” bisikku dan kurasa ia mengangguk menjawabnya.

“Tentu saja. Karena kau adalah namja terakhir bagiku. Jangan bertindak seperti kemarin-kemarin lagi” ucapnya yang membuatku tersenyum ramah karenanya.

 

Kini, tidak ada yang dapat memisahkan kita. Tidak ada yang dapat melukaimu. Aku juga tidak akan bersikap seperti itu lagi. Jadilah cintaku yang sebenarnya. Cinta yang benar-benar tulus dari hati. Dimana cinta itu damai hingga akhirnya….

 

=The End=

 

Alurnya kecepetan nggak sih? *ngerasa* terus kalo rada gaje mian ya chingu T^T tapi semoga suka ya. Gomapta yang udah baca apalagi komen. Baik di ff ‘Hurt’ ataupun disini. Jeongmal gamsahae!!^^ karena saya selalu ngerasa ffnya banyak yang gaje kkkk. Yaudah lanjut RCL aja ya abaikan tulisan yang sebelumnya hehe annyeong kyesayo chingu^^

Iklan

51 pemikiran pada “In The End

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s