One Day

Author : Jasmine Audrea (@SMR_chan)

Cast :

–  Xi Lu Han

–  Park Richan

–  Huang Zi Tao

– Seo MinRa

– Find it yourself~ kkk

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-15

Annyeong~ semoga memuaskan ._. baca doa dulu sebelum baca yah, *lah* RCL! Didoain ketemu biasnya :3 yang siders didoain dihantuin ama biasnya -3-

Enjoy Reading~! ^_^

“Richan-sshi!”

Ck. Suara itu. Sudah berapa kali kuberitahukan padanya, aku tak ingin diganggu? Come on, Xi Lu Han. Hadapi kenyataan. Aku tak menyukaimu. Mau tidak mau, aku membalikkan badanku.

“Waeyo?” jawabku dingin.

Ia tersenyum manis. Hebat, sikap dinginku tak merobohkan dinding pertahanannya.

“Aniyo,, kau mau jalan-jalan sepulang sekolah nanti?”

Aku berpikir. Ini sudah keseribu kalinya ia mengajakku. Setelah mempertimbangkannya, entah setan apa yang mengerakkan kepalaku, membuatku mengangguk. Ia tersenyum lebar, wajahnya terlihat makin baby face. Dan harus kuakui ada perasaan aneh dihatiku saat melihatnya tersenyum. Segera aku mengusirnya, mau ditaruh mana wajahku kalau aku salah tingkah didepannya?

“Kalau urusanmu sudah selesai, aku pergi dulu. Annyeong”

Aku melangkah meninggalkannya yang masih tersenyum lebar dibelakang sana.

====

Aku memainkan sumpitku dengan malas, lalu menusuk-nusuk Chicken Katsu didepanku tanpa perasaan. MinRa yang sedang asik dengan tugas dari JoonMyun songsaenim menoleh kepadaku, lalu mengerutkan dahinya. Tao yang duduk disebelahnya ikut-ikutan melirikku.

“Kau apakan Chicken Katsu itu? Seperti hendak kau mutilasi saja, kekekke” Si panda itu menertawakanku. MinRa mengangguk, mengiyakan perkataan Tao.

“Entahlah, aku tidak mood.” Jawabku singkat, kembali ‘memutilasi’ makanan didepanku.

Tao menatap MinRa, mempertanyakan sikapku. MinRa hanya tersenyum sekilas.

“Setan apa yang membuatmu mengiyakan ajakan Lu Han sunbae?” Tanya MinRa. Aku yang sedang meminum orange juice langsung tersedak mendengarnya.

“Shi.. Shikeuro! -_- itu urusanku!” Oh Tuhan, kenapa aku jadi salah tingkah begini? Mereka berdua menertawakanku. Tunggu, tawa mereka aneh! Seperti dipaksakan. Tao menepuk bahuku.

“Baguslah kau menerimanya. Mungkin ini terakhir kali kau melihatnya.” Ia lalu pergi kekelasnya, meninggalkanku yang kebingungan dengan maksud perkataannya.

====

Aku merapikan seragamku, menunggu Richan didepan pagar. Omo, hari ini aku senang sekali. Ia menerima ajakanku setelah beribu kali aku mengajaknya, dan tentunya ditolak olehnya. Ya Tuhan, terima kasih sudah mengabulkan permintaanku yang terakhir.

Ia melangkah bersama Tao dan MinRa, kedua sahabatnya. Ralat, sebenarnya mereka sahabatku juga. Tao dan MinRa tersenyum menggodanya, lalu tersenyum menggodaku juga. Aku hanya bisa tersenyum manis membalasnya, sebetulnya menahan nafsu untuk menjitak keduanya. Aigo, aku salah tingkah.

Tao membisikkan kata good luck untukku, lalu pergi bersama MinRa meninggalkanku dan Richan. Ia menatap tanah seolah tak peduli, padahal jelas sekali wajahnya memerah. Aku menggandeng tangannya, menuntunnya ke taman bermain didekat sini. Kubisikan kata-kata yang sudah kulatih dari dulu. Bukan gombalan, namun kata-kata yang menyatakan sebuah kenyataan.

If I die tomorrow, Could you please just be mine for today?”

=====

If I die tomorrow, Could you please just be mine for today?”

Setelah menarikku, Lu Han membisikkan kata itu ketelingaku. Aku menegang. Kenapa hari ini orang-orang selalu mengucapkan kata-kata yang tidak aku mengerti? Kata-kata itu pasti ada hubungannya dengan perkataan Tao tadi siang.

“Apa maksud-“

“Kita sampai!” Ia memotong perkataanku, lalu tersenyum lebar kearah taman bermain didekat sekolah. Aku menatap kearah taman bermain itu dengan takjub, sudah lama aku ingin kesini. Aku menatap Lu Han, lalu tersenyum simpul.

“Gomawo Lu Han oppa”

=====

Tuhan tolong aku. Ia tersenyum padaku. Hanya senyum simpul, namun bisa membiusku hingga aku tak bisa bergerak. Senyuman manis, bukan senyum mengejek seperti biasa. Bahkan untuk pertama kalinya ia memangilku oppa. Tidak dengan embel-embel sshi, atau sunbae. Hidupku terasa sempurna sekali sekarang.

“Hey,, Lu Han-sshi?” Ia melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku. Bangun Lu Han, kau mau mati ditengah salju ini?! Aku tersadar saat telponku berbunyi. Aku mengangkatnya.

“Yobo-“

“Lu Han! Kenapa kau tidak pulang? Kau mau menghabiskan detik-detik terak-“ Eomma berteriak panik dari seberang sana, bahkan aku yakin Richan mendengarnya tanpa ku Loudspeaker handphone-ku ini. Aku memutuskan sambungannya. Mianhae eomma, aku mau menghabiskan detik-detik terakhir ini dengan cintaku, cinta pertamaku.

“Eomma-mu?”

Aku mengangguk. Ia menautkan alisnya, bingung.

“Tak apa, ia hanya menanyakanku dimana. Aku lupa meminta izin, kkkk. Ya! Singkirkan embel-embel sshi itu, aku Lu Han oppa, bukan Lu Han-sshi atau Lu Han Sunbae” Aku tersenyum seperti biasa. Ia nyengir. Mianhae Richan, aku berbohong padamu.

====

Tujuan pertamaku dan Richan adalah Roaller Coaster. Ia tampak excited, tidak seperti yeoja biasanya. Inilah yang membuatku begitu menyukainya. Ia bahkan meminta kami duduk dibarisan paling depan, tanpa rasa takut diwajahnya.

Sempat aku berteriak beberapa kali, membuatnya menertawakanku saat permainan ini selesai. Tak apalah, senang rasanya bisa melihatnya tertawa lepas didepanku seperti ini. Aku menggenggam tangannya.

“Richan-ah..”

“Ne?” Ia menoleh kearahku. Tak ada lagi nada sinis dalam suaranya.

“Temani aku sampai tengah malam, ne? Jam 1?”Ia menatapku heran.

“Jebal..” Aku memelas, membuatnya mengangguk. Oh Tuhan, dapat kekuatan dari mana aku bisa mengeluarkan puppy eyesku ini? Aku tersenyum. Ia juga. Aigoo, cantiknya.

====

Sudah berapa permainan yang aku dan Lu Han oppa lewati. Entah kenapa, aku tak merasa bosan sama sekali. Ia begitu menyenangkan, dan tak pernah marah. Ia selalu menurutiku, permintaan nyeleneh sekalipun. Ia mengajakku ke Café yang ada didekat taman, sekedar beristirahat.

“Annyeong Suho Hyung!” Ia masuk, lalu tersenyum kearah barista yang sedang meracik kopi itu. Barista yang dipanggil Suho itu tersenyum.

“Annyeong Hannie, yeoja chingu-mu? Kekeke, Hannie sudah besar~” Ia menggoda Lu Han oppa, membuat wajahnya memerah bagaikan tomat. Tunggu, kenapa wajahku ikut memerah?

“Anniyo!” Ia membantahnya, membuat namja yang satunya tergelak.

“Khusus untuk dua remaja labil yang sedang jatuh cinta ini kuberikan gratis deh~ ingat, hanya hari ini” Ia tersenyum, membuat wajah kami berdua makin merah.

====

Suho Hyung mengantarkan pesanan kami, lalu melayangkan wink kearah Richan. Apa yang ia lakukan? Aku menendang kakinya. Wajahnya shock, lalu nyengir kearahku. Aku melayangkan Death Glare kearahnya. Richan tertawa pelan.

Aku melirik kearah jam tangan yang melingkar ditangan kiriku. Aigoo, sudah jam 11 malam! Namun café ini tetap ramai.

“Hey Park Richan~” Ia mengalihkan pandangannya dari jendela kearahku.

“Habis ini kita ketaman kota yah?” bujukku.

“Taman Kota? Bukannya sudah sepi?”

“Kau takut? Kan ada aku” ujarku narsis. Ia tersenyum miring.

“Kalau sombong, wajahmu bertambah tua 10 tahun oppa” ia tertawa lepas, sedangkan aku hanya bisa cemberut mendengar candaannya.

====

Kami duduk di bangku kayu sebelah timur taman, memperhatikan suasana malam kota Seoul. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Lu Han oppa,, kenapa aku baru menyadari kalau aku menyukaimu? Apakah karena aku belum pernah merasakan cinta?

“Saranghae..”ujarnya. Aku menegang.

“Na..nado oppa.” Aigoo aku malu sekali!

Ia menatapku sekarang, dan langsung menciumku sekilas. Wajahku tak kalah merah dari kepiting rebus, sial! Ia mengeluarkan kertas dari sakunya, lalu meraih tanganku. Ia meletakkan kertas itu ditanganku, memberi isyarat jangan membukanya lewat tatapannya.

“Jangan membukanya kalau aku belum tidur ne?” Ia kembali meletakkan kepalanya di pundakku. Tidur? Aku melirik jam tanganku, pukul 12 lebih 1 menit.

Aku menunggu selama 5 menit, tampaknya ia sudah tidur. Aih, ia tampak begitu tampan denan wajah damainya saat tidur.

Aku membuka kertas itu, lalu membacanya.

Annyeong Richan! ^^

Mianhae, seharusnya aku bisa menarik perhatianmu sejak lama

Tapi kau baru mengiyakan ajakanku hari ini, hari terakhirku.

Mianhae, Jeongmal Mianhae aku tak mengatakannya dari awal.

Kau pasti mengira aku membuat alasan tidak masuk akal untuk membuatmu tertarik, mengasihaniku jika aku memberitahumu sejak awal.

Aku menyukaimu semenjak kau pertama kali memasuki sekolah.

Kau ingat kan? Aku salah satu dari sunbae yang menguji di ospek.

Aku tak tega melihatmu dibully oleh Jessica-sunbae dan kawannya.

Maka aku menolongmu, disamping itu kau cinta pertamaku kekekke

Tapi kau malah membenciku.

Mianhae sekali lagi.

Aku menderita Leukimia, dan dokter bilang ini hari terakhirku hidup.

Terima kasih untu detik-detik terakhir ini, terimakasih untuk satu hari ini. Gomawo!

Saranghaeyo,

Xi Lu Han

“YA! Apa ini? Jangan bercanda seperti ini saat aku mulai menyukaimu!” Aku berteriak kearahnya, mencengkram bahunya. Ia tak mengindahkan teriakanku, tetap memejamkan matanya. Ia sudah tak bernafas.

Pabo. Richan Pabo. Seharusnya aku menyadari ini dari awal. Perkataan Tao dan perkataannya. Kenapa kau harus meninggalkanku disaat aku mulai menyukaimu? Kau cinta pertamaku! Kau tega!

Aku menangis disamping tubuhnya yang tak bernyawa, tak menghiraukan salju yang mulai turun. Xi Lu Han, I’m Yours.

-END-

 

Astaga, FF apa ini -_-

Mianhae buat yang udah baca karena ga ada POV-nya. Ini FF EXO pertama yang berani aku kirim kesini. Inspirasinya pas aku lagi main-main photoshop sama temenku *lirik poster* trus kita bikin kata-kata galau “if I die tomorrow” itu~ .-. padahal lagi ngerjain tugas kkkk~ Tetep komen yah! Mianhae~ Mau kenalan? Boleh di twitter, follow @SMR_chan :3

GOMAWO~

Iklan

60 pemikiran pada “One Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s