Miss Half Face

TITLE              : MISS HALF FACE

 

MAIN CAST  : XI LUHAN

: OH SEHUN

: SONG JI RA

: KIM HYORA

GENRE           : ROMANCE

 

PAGE              : 18 pages

________________________________

~Ji Ra POV~

“Ayolah… Ra aa, mari kita pergi..” Bujuk temanku.

“Shireo..” Tolakku lembut.

“Haishh.. Kenapa kau itu susah sekali diajak keluar? Apakah kau tidak bosan setiap malam hanya berdiam diri dirumah. Come on’ nikmati juga dunia malam” bujuknya lagi.

“Apa kau tidak bosan? Hampir setiap malam kau menggangguku. Neo iblis kecil..” Balasku.

“Apa kau bilang? Iblis kecil? Yak! Song Ji Ra!! Aku tidak mau tahu! Ikut aku keluar sekarang” ucapnya dan menarik tanganku kasar.

“Ne, nona kecil.. Biarkan aku ganti baju dulu” ujarku malas sambil menaruh majalah yang sedangku pegang dan melepas kacamataku.

* 5 menit kemudian*

“Kajja..” Ucapku malas.

“Yak! Song Ji Ra! Kau ingin kepasar apa ke pub?!” Teriaknya sampai-sampai aku harus menutup telingaku.

“Molla..” Balasku singkat dan menariknya keluar. Suaranya bisa-bisa membuatku roboh.. Haish.. Nona kecil ini memang merepotkan.

*@ pub*
Dentuman musik yang begitu keras membuat semua orang meliuk-liukkan badannya.

“Hyo aa.. Ayo kita pulang.. Aku tidak nyaman berada disini” rajukku. Tapi, rasanya dia tidak mendengarku ataupun dia sengaja tidak mendengarku.

“Ayo kita duduk disana..” Tunjuknya aku pun mengikutinya.

“Kau tunggu dulu disini, aku akan memesan minuman”

Kuedarkan pandanganku keruangan ini. Memang sih pub ini sangat high class. Tapi, tetap saja aku tidak nyaman! Seumur hidupku ini pertama kalinya aku ketempat seperti ini. Tak lama kemudian Hyo Ra datang sambil membaca dua gelas minuman padaku.

“ini minumlah…” Ucapnya dan memberi minuman yang aku tidak tahu apa itu padaku.

“apa ini?” Tanyaku curiga.

“Minum saja” ucapnya singkat dan segera meneguk habis minuman yang ada ditangannya. Dengan ragu aku mulai meminum minuman itu.

15 menit kemudian aku merasa agak pusing. Sungguh! Aku tidak tahan lagi.

“Kemana Hyora?” Batinku.

“Aahh… Biarkan saja. Nanti dia juga pulang sendiri” lanjutku.

Namun, tiba-tiba aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan namja chinguku ‘Oh Sehun’ aku pun berjalan mendekatinya. Dapatku dengar dengan jelas pembicaraan mereka. Tapi, karena rasa pusingnya makin berat aku pun memutuskan untuk duduk disebuah sofa yang berada dekat di tempat mereka berada sekarang.

“Jadi bagaimana hubungan kalian berdua sekarang?” Tanya seseorang. Mungkin itu adalah teman Sehun.

“Dia? Siapa?”

“Yeoja chingumu.. Siapa namanya? Aku lupa” ujar salah satu temannya lagi.

“Aaa.. Song Ji Ra. Yeoja itu.. Benar-benar tidak ada sisi menariknya. Lihatlah tidak pernah aku melihatnya memakai gaun. Setiap hari ia hanya memakai t-shirt celana jeans dan kacamata jeleknya itu” balas Sehun.

DEG!

Bagaikan ratusan bahkan ribuan pisau yang mendarat dengan tepat dihatiku sekarang.

“Apa maksudnya mengatakanku begitu?” Batinku.

“Bahkan aku ragu saat ia mengatakan bahwa ia adalah pemilik sebuah salon yang cukup terkenal. Hahaha.. Pasti ia berbohong” lanjutnya.

Kepalaku semakin pusing, aku bangkit dari tempatku dan berjalan dengan terhuyung-huyung menuju tempatnya. Sebelumnya aku mengambil dulu segelas bir.

PLAKK!

Satu tamparan mendarat dengan mulus dimukanya.

Aku tahu ia sangat terkejut, begitupun teman-temannya.

“Neo..” Ucapnya pelan.

Aku menatap tepat dimatanya dengan tatapan merendahkan dan menyiramnya menggunakan bir yang sedang ku pegang sekarang. Tanpa berkata apa-apa lagi aku segera meninggalkannya.

Dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan menelusuri jalanan yang sepi dan dingin ini. Kepalaku bertambah pusing.

 

“arghhh…” teriakku sambil memegangi kepalaku.

 

“agasshi.. gwaenchanayo?” Tanya seseorang lembut. Bahasa Koreanya terdengar sangat fasih, mungkin dia bukan orang sini.

 

“ne, gwaenchana..” balasku dan mencoba bangkit tapi ternyata aku gagal dan malah jatuh kepelukannya.

 

“biarkan aku mengantarmu pulang, tidak baik seorang nona sepertimu pulang sendirian malam-malam begini”

 

“gomawo, bolehkah tolong antarkan aku ke alamat ini?” tanyaku padanya, ia mengangguk dan memanggilkan sebuah taxi.

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi kepalaku rasanya ingin pecah dan akhirnya aku pun terlelap.

 

~Ji Ra POV end~

~LUHAN POV~

 

“aishh” desisku pelan sambil menaruh yeoja itu diatas ranjangnya.

 

Muka yeoja ini sangat imut sekali, membuatku ingin mencubitnya.

 

“sehunaa… saranghae..” gumamnya pelan dan memegang tanganku erat.

 

“mm.. agasshi kau salah orang aku bukan Sehuna , tapi Luhan” balasku sopan.

 

“aku bukannya tidak pernah berpenampilan menarik. Tapi, inilah diriku. Saat itu kau mengatakan kau akan mencintaiku bukan? Kau mengatakannya saat itu. Tapi, mengapa kau berbuat begini padaku? Sehuna.. wo ai ni (I love you) wo zhen de.. zhen de hen ai ni.. (saya benar.. benar sangat mencintaimu) bie jou kai ke yi mha? (jangan meninggalkanku, bolehkah?)” racaunya lagi.

 

Seketika aku terkejut mendengarnya, ternyata dia bisa berbahasa mandarin.

 

“aish.. jinjaa…” desisku lagi, ia masih tidak melepaskan tanganku. Justru ia lebih erat menggenggamnya. Tapi, seketika ia bangun dan melihatku tajam. Kenapa firasatku menjadi tidak enak? Ia semakin mendekatiku.. mendekatiku.. dan..

 

Cup

 

Sebuah kecupan singkat mendarat dibibirku. Duniaku bagaikan terhenti tiba-tiba.

 

“MAMA!!! (eomma) this is my first kiss!! Dan dia telah merebutnya..” batinku.

 

“ tu… tunggu..”

 

Hoeeekkkk

 

Aku mengelus dadaku lega. Untung saja aku dengan sigap dapat meraih sebuah topi untuk menampung muntahan yeoja ini. Dengan sedikit jijik aku membuang topi yeoja ini pada tempat sampah. Aku sedikit melirik kearahnya. Ia menangis. Aku tahu itu, walaupun ia sedang membenamkan mukanya pada bantal. Bahunya bergetar keras.

 

“xiao jie.. (agasshi)” panggilku pelan. Ingin sekali aku mengambil sebagian dari kesedihannya. Ku elus-elus rambutnya, eommaku sering berbuat begini juga ketika aku sedang sedih.

 

“bie khu le.. (uljima)”

 

“ni zhi dao ma? Wo de xin hen dhong.. (kau tahu? Hatiku sangat sakit)” ujarnya.

“dia meninggalkanku.. 2 tahun kami pacaran.. ternyata hanya aku yang berjuang dalam 2 tahun ini. Tadi ia mengatakan semuanya..” lanjutnya.

 

“lupakan dia” balasku singkat.

 

“hahaha.. lupakan? Kau pikir lupakan itu mudah?” tawanya.

 

“aku akan membantu” balasku percaya diri.

 

“sebaiknya kau urus saja yeoja chingumu. Jangan pedulikan diriku, kita hanya berjumpa sekitar 2 jam yang lalu”

 

“ku rasa itu ada benarnya juga. Baiklah, aku akan pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik. Ingatlah! Jika kau tidak ingin terluka lagi, maka berjuanglah untuk melupakannya” ujarku dan berjalan keluar dari rumah itu.

 

~LUHAN POV END~

 

~JI RA POV~

 

“enngghh…” erangku pelan. Ku lirik sekilas jam weker yang berada disamping tidurku. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidurku dan segera membersihkan diriku.

 

“hari ini aku akan mengubah penampilanku..” batinku percaya diri. Tak lama kemudian, sebuah mobil sport car berwarna putih susu mulai melaju di jalan raya. Hari ini aku akan merombak total diriku.

 

“mula-mula aku harus mencari baju.. ya! Gaun” gumamku pelan.

 

Semua sudah lengkap ditanganku kini. Pakaian, sepatu, bahkan alat make-up. Hanya 1 yang kurang yaitu rambutku. Aku pun memutuskan untuk kesebuah salon yang cukup terkenal.

 

“annyeonghaseyo, agasshi.. ada yang bisa aku bantu?”

 

“ne, aku ingin mengubah gaya rambutku. Dan aku kebingungan, bolehkah kau membantuku?”

 

“tentu..”

 

 

“yoboseyo..” ucapku

 

“…”

 

“hyora aa, aku punya permintaan..”

“…”

 

“umm.. lebih baik kita bicara secara langsung.. aku tunggu kamu dirumah ya?”

 

Ku pandangi diriku didepan cermin. Rambut bergelombang yang berwarna sedikit keemasan. Gaun berwarna putih selutut. Ditambah high heels berwarna pink. Aku sungguh tidak percaya bahwa ini diriku. Ternyata dengan sedikit sihir aja (make-up,pakaian, dll) dapat mengubah seorang wanita sederhana sepertiku menjadi begini.

 

TING..TONG..TING..TONG..

 

“omona… kau apakan dirimu?” ujar Hyora takjub.

 

“yak! Ji Ra! Kau kelihatan cantik sekali dengan penampilan seperti ini..” lanjutnya.

 

“gamsha, Hyora aa.. duduklah ada sesuatu yang ingin aku bicarakan..”

 

“aku ingin bekerja di salonku.. tapi, bukan sebagai seorang bos..” lanjutku.

 

“heh? Neo micheosseo? Ji Ra aa, sudah saatnya kau perlihatkan dirimu yang sesungguhnya. Jujur, selama ini aku sedikit risih karena tak sedikit karyawan-karyawan di salon sering menanyakan tentang bos mereka. Besok datanglah, aku tunggu kehadiranmu. Aku pergi dulu ya? Annyeong!”

“aish.. eotheokke? Mungkin sedikit jalan-jalan dapat menenangkan hatiku.” Batinku. Aku pun berjalan menuju taman yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalku. Ku tempati sebuah bangku yang kosong. Pandanganku tertuju pada 2 buah ayunan yang berada diseberang sana.

 

Tempat itu..

Tempat pertama kali kami bertemu.. disana juga ia dengan gitarnya mampu membuat hatiku luluh dan akhirnya aku bersedia untuk menjadi pacarnya. Semuanya bahkan masih ku ingat dengan sangat jelas sekarang.

 

“xiao jie.. wo ke yi zhuo mha? (nona, bolehkah saya duduk?)” Tanya seseorang, aku merasa tidak asing lagi dengan suara ini.

 

“dang ran (tentu)” jawabku ramah. Namja ini, namja yang menolongku semalam. Bagaimana ia bisa ada disini?

 

“apakah kamu masih mengenalku?” tanyanya.

 

“ne, terima kasih atas bantuanmu semalam. Bagaimana aku harus memanggilmu?”

 

“Xi Luhan. Panggil saja Luhan.”

 

“Luhan-ssi, terima kasih atas bantuanmu semalam. Anda boleh memanggilku Ji Ra.”

 

“bagaimana perasaanmu sekarang?” tanyanya.

 

“lebih baik, berkat 1 kalimat darimu semalam. Bahkan sekarang aku sudah mulai melupakannya.”

 

“baguslah kalau begitu.. apakah kau ingin mendengar sebuah cerita dariku?” tanyanya dan aku hanya mengangguk pelan.

 

“ada sebuah planet yang beda dari bumi. Walau begitu planet tersebut dihuni oleh banyak orang yang bentuknya serupa dengan manusia. Manusia-manusia itu sangatlah pintar. Masing-masing dari mereka mempunyai kekuatan tersendiri. Sayangnya, kelemahan dari mahluk itu adalah mereka tidak mempunyai rasa cinta. Aneh sekali, suatu hari penguasa dari planet itu mengirim 12 anak laki-laki dari planet itu menuju bumi. Mereka dikirimkan karena kekuatan mereka yang sangat dahsyat. Misi mereka kali ini adalah mengamati apa itu cinta. Dengan syarat, mereka tidak boleh jatuh cinta! Karena jika mereka jatuh cinta maka kekuatan mereka akan dicabut dan itu sangat menyakitkan. Pertama-tama mereka menyanggupi permintaan itu. Setelah tiba dibumi mereka mulai mengamati, namun tetap saja mereka tidak menemukan apa itu cinta. Sampai suatu hari mereka baru sadar bahwa mereka telah jatuh cinta. Penguasa planet itu sangatlah marah dan mencabut kekuatan dari diri mereka satu persatu. Namun, sebelum kekuatannya dicabut. Ke-12 mahluk itu mengatakan bahwa mereka tidak akan menyesal. Karena, cinta adalah rela. Rela berkorban untuk orang yang mereka cintai. Walaupun taruhannya adalah kekuatan mereka.” (sumpah gaje banget -_-)

 

“wah.. cerita yang bagus.. darimana kau dapat cerita itu?” tanyaku.

 

“aku ini adalah seorang penulis” jawabnya.

 

~JI RA POV END~

 

~LUHAN POV~

 

Dia terlihat sangat senang sekali dengan ceritaku barusan. Melihatnya tersenyum dapat membuat segenap hatiku lega. Entah mengapa dengan melihatnya dapat membuatku merasa nyaman.

 

“ayunan itu.. apakah mempunyai kenangan yang berarti bagimu?” tanyaku pelan.

 

“ne.. kenangan yang sangat berarti bagiku. Tapi, sekarang hanya tinggal sebuah goresan luka yang menyakitkan”

“mianhae.. sudah malam, apakah kau ingin pulang? Biar aku antar..” tawarku.

 

“ne.. kajja..”

 

“oh ya.. kau tahu? Sebenarnya kita bertetangga… rumahku tepat berada disebelah rumahmu..”

 

“benarkah? Wahh.. senang sekali rasanya..”

 

~LUHAN POV END~

 

~AUTHOR POV~

—–

*2 bulan kemudian*

Semua berjalan sangat lancar. Hubungan Luhan dan Ji Ra semakin membaik. Sebenarnya, mereka menyimpan perasaan mereka masing-masing. Hanya, tinggal sedikit keberanian saja bagi mereka untuk mengucapkannya.

 

Salon milik Ji Ra pun dapat diurus dengan baik. Walau, para karyawan salon itu masih sedikit penasaran karena Ji Ra selalu mengunakan sebuah topeng berbentukan setengah muka dan berwarna perak saat bekerja.

 

Namun, kebiasaan Ji Ra bertambah satu. Yaitu, ia menjadi sering mengunjungi pub dimana ia bertemu Sehun dengan menggunakan topeng berbentuk setengah mukanya itu. Sehun juga terlihat mulai tertarik dengan Ji Ra yang penampilannya berubah total serta wajahnya yang membuat orang penasaran itu. Bahkan ia menjuluki Ji Ra dengan nama Miss Half Face.

 

Hingga suatu hari..

 

“annyeonghaseyo.. tuan bolehkah aku membantumu?” Tanya seorang dari karyawan Ji Ra.

 

“ne, aku ingin menggunting rambutku..”

 

“baiklah, silahkan duduk disini..”

 

“tuan.. model rambut apa yang anda inginkan?” Tanya Ji Ra.

 

“kau… bukankah yeoja bertopeng yang sering aku jumpai di pub?” Tanya Sehun.

 

“ne..”

 

“bolehkah aku melepas topengmu?” Tanya Sehun seusai Ji Ra menggunting rambutnya. Dan tanpa persetujuan dari Ji Ra ia membuka topeng itu perlahan-lahan. Wajahnya shock setelah mengetahui siapa dibalik topeng itu.

 

“Song.. Song Ji Ra?”

 

“ne, Song Ji Ra imnida.. pemilik salon ini.. senang berjumpa lagi denganmu Sehun-ssi” ucap Ji Ra disertai smirknya. Dan pada saat yang tepat Luhan tiba di salon itu.

 

“chagiya.. perkenalkan ini Sehun temanku”

 

“ne, Luhan imnida.. namja-chingu Ji Ra” ucap Luhan percaya diri dan menatap tajam mata Sehun.

 

 

 

THE END

 

No bash ya~

Semua 100% murni dari pikiran saya..

Gamsha telah baca~

*bow*

19 pemikiran pada “Miss Half Face

  1. Aahaha dasar sehun kasian banget. Hehe udah beberapa kali dapat crta sehun yg sifatnya kurang baik. Cratanya seru apalagi duanya bias aku 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s