Son of The Sword (Chapter 1)

Author: sharfeena

Genre: Action/Martial Arts

Main Cast:
– EXO-M Tao
– MissA Jia
– NU’EST Ren

Note: Halo, ini fanfic Tao pertamaku. Semoga menghibur, ya. Jangan lupa comment, karena semua author, termasuk saya, mengharapkan komentar yang membangun buat ff-ff selanjutnya jadi lebih bagus 🙂 Oh ya, ff ini juga aku post di blog pribadi aku (sharfeena.wordpress.com) thanks ya 🙂

THE TAOIST DAWN

Seorang lelaki remaja memejamkan matanya, duduk bersila di bawah pohon besar. Kedua telapak tangannya berada di atas lutut. Ujung jari tengah bertemu dengan ujung ibu jarinya. Ia merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya. Jika sedang bermeditasi, pancainderanya begitu peka terhadap apapun yang ada di sekelilingnya. Daun-daun yang bergesekan, kicau burung, desis ular, tak luput dari perasaannya. Nyaman sekali.

Hingga kemudian kedua matanya terbuka lebar. Gesekan angin dan dedaunan yang berbeda dengan yang sebelumnya. Dalam sekejap, ia segera menyentakkan tubuhnya. Sosok bercadar muncul dan memburu tubuhnya dengan pedang. Gerakannya sangat cepat. Berkali-kali ia berjumpalitan dibuatnya, menghindari serangan maut yang nyaris tanpa suara itu. Tak jarang pedang itu terhunus hanya sebatas jari dari lehernya.

Ia melenting, melompat ke dahan. Tapi rupanya sosok bercadar itu tetap mengunci ruang geraknya. Pedangnya haus akan darah. Ia berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain, begitupun sang penyerang. Nyaris tak terlihat perpindahannya. Seperti dua bayangan hitam yang saling berkejaran.

Ia tak mau gegabah. Wushu mengajarkannya untuk melibatkan pikiran, olah pernapasan, pemahaman anatomi tubuh, aliran darah dan jalur energi tubuh yang memang harus sangat hati-hati. Jurus-jurus yang dipakai sang penyerang bukanlah hal yang asing baginya, namun ruang geraknya begitu cepat. Ia tak mau sembarangan bertindak karena takut akan merugikan dirinya sendiri. Ia memilih untuk terus menghindar dengan ilmu peringan tubuh.

Beberapa kali pedang sang penyerang menebas ruang kosong. Kini gerakannya semakin menggila. Pedang itu mengincar ulu hatinya. Ia tahu betul, lawannya bukan orang sembarangan.

“Hiyaaaaa……!!!”

Ujung pedang itu nyaris menyentuh lehernya. Ia tak tinggal diam. Mengandalkan ilmu tenaga dalamnya, ia mengeluarkan hawa dingin dari telapak tangannya yang mengadah. Dengan sekali sentak, tubuh penyerang itu terpental ke belakang. Pedangnya pun terbelah menjadi dua.

Ia menatap penyerang yang sudah tak mampu bangkit lagi. Tiba-tiba terdengarlah suara tawa dari orang yang benar-benar ia kenal. Sang penyerang bangkit mendekatinya dan membuka cadarnya.

“Kemampuanmu semakin hari semakin baik saja, Tao…”

Lelaki bernama Tao itu tertegun melihat sosok yang ada di depannya. Namun ia menghampiri sang penyerang dengan tawa yang renyah juga.

“Aku tak menyangka bahwa yang menyerangku adalah Kakak Jia. Permainan pedang kakak lihai sekali, sampai-sampai aku kewalahan dibuatnya,”

“Kamu yang hebat, Tao. Melawan pedang dengan tangan kosong. Tapi aku akui, pemahamanmu tentang tenaga dalam memang masih diatasku,”

Tao hanya menunduk sambil tersenyum malu mendengar pujian kakak seperguruannya itu. Kemudian ia menyeka wajahnya yang penuh dengan keringat.

“Cukup, kan, latihannya hari ini? Jangan pantang menyerah untuk terus belajar, Tao. Aku yakin suatu saat kamu akan menjadi master Wushu yang hebat,” apa yang dikatakan Jia menjadi semangat tambahan bagi Tao

“Sore ini, Guru Yen memanggil kamu untuk berkumpul di gazebo. Beri tahu Ren juga. Sepertinya ada hal penting yang harus dibicarakan,”

Sosok Jia berbalik dan melesat menghilang di antara hembusan angin.

***

“Kakak Ren, Guru Yen meminta kita untuk berkumpul di gazebo,”

“Tao, tidakkah kamu berpikir pemandangan dari atas sini indah? Aku masih mau berlama-lama menikmatinya…”

“Bukankah Kakak masih punya banyak waktu untuk menikmatinya? Sekarang turunlah dulu. Mana tahu ada hal penting yang akan disampaikan oleh Guru…”

Ren hanya berbalik menatap adik seperguruannya itu. Kemudian tersenyum kecil.

“Sudah lama ya kita tidak latihan bersama…”

“Kakak Ren, aku pikir ini bukan waktu yang tepat…

Dengan cepat Ren mengambil kitab yang sedang dipegang adik seperguruannya itu dengan sabuknya.

“Kakak….”

“Aku mau turun tapi rebut dulu kitab ini dari tanganku. Kalau kamu berhasil, aku mau menuruti kemauanmu…”

Tao mengernyitkan dahi. Kakak seperguruannya ini memang seringkali berulah aneh dan membuatnya penasaran. Wussssh! Dengan cepat tangan kiri Tao menyambar ke arah kitab di tangan Ren. Gagal. Namun Ren tidak limbung. Tao melompat, bergelantung, menerkam ke arah Ren. Namun Ren tidak kalah cepat. Ia bersalto dengan indahnya dan dalam sekejap sudah ada di belakang tubuh Tao.

“Mana permainan tongkatmu, Tao? Aku sudah lama tidak melihatnya…” Kini Ren berdiri dengan kuda-kuda sempurna. Tangannya tidak lagi memegang kitab, karena sudah diselipkan di sabuknya.

“Sesorang yang hebat mencapai tujuannya karena tidak mempunyai pilihan lain. Tak perlu mempertahankan keunggulannya. Kitab Dhe Zing, ajaran kelima tentang peringatan terhadap kekerasan…”

“Jadi kamu hanya berani adu ilmu peringan tubuh? Cih…”

“Jurus menjahit sutera!”

Tao berkata lantang sambil menyalurkan tenaga dalamnya dengan sempurna. Ren tersentak perlahan, tak lantas membuatnya menyerah. Ren bangkit, kemudian mengambil tongkat kayu yang ada di dekatnya. Terdengar bunyi tongkat bergesekan dengan dedaunan. Kemudian menghunuskannya ke arah Tao.

Tao tak mau lagi berlama-lama dengan tangan kosong. Diambilnya satu tongkat lagi, yang sedikit lebih kecil dari yang dipegang Ren. Terlihat Ren tersenyum senang ketika Tao mulai meladeni permainannya.

“Ini baru seru…”

Tao tak mengindahkan kata-kata Ren. Bunyi tongkat kayu beradu ditambah kekuatan tenaga dalam keduanya yang sama-sama mumpuni. Ren memutar pedangnya, menangkis serangan-serangan yang diluncurkan Tao. Sesekali Tao melakukan spinning, tubuhnya berputar seperti tak mengenal gravitasi. Sekali sentak, kitab di sabuk Ren tersentuh olehnya. Tapi Ren tidak lengah. Ia terus melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Tao hingga pergelangan kakinya terjerat pada tali.

“Jurus panda memotong bambu!”

Jurus ini memungkinkan Tao agar tetap bertahan di keadaan mendesak seperti ini. Tak mudah menembus pertahanan Ren. Ren memang sedikit gegabah dalam mengaplikasikan ilmunya.

“Cukup !!!”

Teriakan seorang perempuan mengagetkan mereka berdua. Tao dan Ren segera menghentikan perkelahian mereka.

“Guru Yen sedang menunggu kalian, kalian malah bersenang-senang di sini!”

Tao dan Ren hanya menunduk mendengar suara perempuan  yang mereka sebut Kakak Jia itu. Bukan sebuah bentakan, namun peringatan keras yang meluncur dengan penuh wibawa dari bibirnya.

“Kami sedang berlatih, bukan bersenang-senang…”

Jia enggan berdebat. Matanya memicing tajam ke arah adik-adiknya. Merasa kecewa akan Tao yang tidak mengindahkan perintahnya, juga pada Ren yang badung, mengucapkan kalimat itu seolah membela diri.

“Tak ada waktu untuk berdebat. Guru Yen sudah menunggu kalian sedari tadi…”. Jia berbalik ke arah gazebo diikuti kedua adiknya yang masih saling berbisik adu mulut.

Rupanya, selama Tao dan Ren beradu ilmu, banyak murid di perguruan yang masih kecil-kecil, berusia sepuluh tahunan, memergoki mereka. Mereka sengaja menghentikan latihan mereka untuk menyaksikan pertarungan antara Tao dan Ren. Kemudian mereka saling berbisik.

“Kalau sudah besar nanti, aku mau seperti Kakak Tao…”

“Kalau aku maunya seperti Kakak Ren. Kakak Tao terlalu banyak mengalah…”

“Lebih baik Kakak Jia, ditakuti…”

***

Gazebo itu tertata rapi. Terletak di halaman belakang perguruan. Dekat dengan ruangan pribadi Guru Yen dan Guru Besar Hung. Seorang lelaki bertubuh sedang namun tegap berdiri menunggu kehadiran tiga murid utamanya. Dialah Guru Yen.

“Kemana adik-adikmu, Meng Jia?”

“Saat saya menghampiri mereka, mereka sedang bersenang-senang dengan berlatih Wushu, Guru!”

Guru Yen pembawaannya tetap tenang. Kemudian ia tersenyum dan berkata, “Pemuda memang harus bersemangat,” diikuti helaan napas panjang dari Jia. “Rupanya laki-laki sama saja…”, gumamnya dalam hati.

Tak perlu waktu lama muncullah dua sosok laki-laki muda bertubuh tegap menghampiri gazebo. Tidak lain tidak bukan, itu adalah Tao dan Ren.

“Guru Yen, Ren dan Tao menghadap… Hormat kami, Guru…” ujar mereka berdua sembari mengepalkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.

“Duduklah, kamu juga Jia…”

Ketiga murid yang taat itu duduk di bantal kecil sambil bersila.

“Ada apa guru memanggil kami bertiga kemari?” tanya Tao penasaran.

Guru Yen tak lantas menjawab pertanyaan Tao. Tangannya meraih gelas kayu kemudian meneguk isinya. Lalu menghela napas panjang, seolah-olah mengatakan hal ini perlu berpikir dua kali.

“Selama Guru Besar Hung sakit, kalian berlatih dengan baik. Selama hampir delapan hari, tugasku mengajari kalian diambil alih oleh Jia. Ternyata Jia mengajari kalian dengan baik…”

Mendengar namanya disebut, Jia tetap bersikap seperti biasa, walaupun tidak dapat dipungkiri wajahnya terlihat tersipu.

“Guru Besar Hung menderita penyakit cacar air. Demam tinggi, begitupun seluruh tubuhnya mulai dipenuhi dengan bisul. Ia tidak boleh terkena air karena gatalnya akan semakin menjadi…”

Kali ini ketiga muridnya bergidik ngeri . Kemudian saling berpandangan.

“Jia, kamu sudah pernah mengalaminya waktu kamu berusia dua belas tahun, jadi kamu tidak akan tertular penyakit itu. Jangan khawatir. Penyakit itu pasti menyerang sekali seumur hidup…”

Jia bernapas lega sementara kedua adik seperguruannya masih khawatir takut tertular. Guru Yen kemudian mengalihkan pembicaraan mereka.

“Sebenarnya bukan pasal itu yang akan aku katakan kepada kalian. Sebelumnya aku mau bertanya, apa yang kalian ketahui tentang Kitab Naga Es?”

Kembali ketiganya saling berpandangan.

“Jia?”

“Ng… Seingat saya itu adalah kitab yang merupakan ajaran tertinggi dari ilmu Wushu aliran kita. Terdapat jurus-jurus tertentu yang tidak sembarangan orang bisa melakukannya…”

“Tao?”

“Saya tak lebih tahu dari Kakak Jia, tapi Kitab Naga Es merupakan kitab keramat yang di dalamnya terdapat jurus-jurus yang sangat hebat…”

“Ren?”

“Orang yang terkena pukulan jurus utama Naga Es akan mengalami dingin yang sangat merasuk tulang, organ-organ tubuh mencekat, membeku, dan mengancam jiwa. Naga Es merupakan jurus yang berbahaya…”

Tatapan mata Guru Yen semakin tajam, terutama pada Ren, membuat ketiganya menjadi salah tingkah. Ketiganya pun menundukkan kepala pertanda segan.

“Terdapat 98 jurus di dalam kitab tersebut. Kitab tersebut merupakan penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya. Elemen utama dalam kitab tersebut adalah air beku, atau disebut juga es, yang merupakan elemen tertinggi dalam hubungan jurus-jurus dalam Wushu…”

“Kitab itu adalah kitab yang sangat istimewa, bahkan aku menyimpannya di tempat yang sangat rahasia di tengah kitab-kitab lainnya. Lima belas tahun yang lalu Guru Besar Hung mewariskan kitab tersebut, dan pada saatnya akan aku wariskan kepada muridku yang layak menerimanya…”

Tao mulai menerka-nerka arah pembicaraan Guru Yen. Wajah penasarannya tertangkap basah oleh Guru Yen.

“Tao, kamu tahu apa yang terjadi?”

“Saya hanya mengira-ngira, Guru. Lancang kalau saya sok tahu…”

“Aku mengerti apa yang akan kamu katakan. Kamu benar, Tao. Kitab itu sekarang hilang. Aku pun  baru menyadarinya setelah semakin hari keadaanku semakin melemah. Tak jarang aku menerima sinyal-sinyal pukulan jurus Naga Es. Aku bahkan tidak mampu melancarkan jurus-jurus tertentu. Sebagian ilmuku sudah mulai diserap oleh orang yang tak bertanggung jawab itu…”

“Seberbahaya itukah jurus Naga Es?” tanya Ren penasaran.

“Ilmu yang tinggi dapat dipakai apa saja. Yang aku khawatirkan orang tersebut menggunakan ilmunya yang tinggi untuk kejahatan. Kalau ilmuku yang tinggi ini habis diserapnya, aku tak bisa apa-apa lagi…”

“Lalu apakah Guru mencurigai kami bertiga?”

“Kalian tidak ingat ada tiga orang lagi yang bebas keluar-masuk area ini selain aku dan Guru Besar Hung?”

Mereka bertiga terdiam. Tiga orang itu siapa lagi kalau bukan mereka.

“Guru, bukankah kemunginan saat terjadi penyerangan di luar perguruan, Guru lengah dan dia bisa saja lama mengincar kitab itu, sehingga dia memanfaatkan kelengahan Guru?” Ren mencoba berpikir positif.

“Kalau begitu, orang itu sangat pintar sehingga bisa tahu letak Kitab Naga Es tanpa meninggalkan jejak… Bukan begitu, Guru?” Jia mencoba menjawab prakiraan Ren.

“Kamu tepat, Jia. Andai saja kita tidak dalam keadaan seperti ini, pasti aku akan segera menyelidiki siapa pencuri kitab itu. Sayangnya keadaanku juga tidak memungkinkan untuk penyelidikan itu. Oh ya, satu lagi. Tolong jaga rahasia ini jangan sampai terdengar oleh Guru Besar Hung, apalagi menyebar sampai seluruh perguruan. Biarlah, suatu saat kesalahan akan terungkap juga…”

Ketiga muridnya kini bungkam. Dengan penuh hormat mereka mohon diri. Guru Yen masih duduk di tempat. Matanya menjadi pucat semenjak ilmunya mulai diserap perlahan-lahan. Meskipun belum bisa memastikan siapa yang mencuri kitab berharga tersebut, Guru Yen yakin pasti salah satu di antara ketiga muridnya. Di samping itu, ada yang lebih membuat Guru Yen sangat terpukul. Apabila terjadi rencana susulan yang lebih berbahaya di samping mencuri kitab tersebut.

Guru Yen memandangi ketiga murid utamanya, yang sudah ikut dengannya sedari mereka kecil. Tao ditemukan oleh Guru Yen di sungai yang merupakan sumber air utama di desa tersebut. Saat itu Tao masih bayi yang tidak berdaya, diduga dibuang oleh orangtuanya. Dirawatlah Tao kecil oleh Guru Yen dengan penuh kasih. Sedari ia berusia lima tahun, Guru Yen telah membekalinya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Sementara Jia dititipkan di sana oleh orangtuanya saat berusia sembilan tahun, karena Jia dahulu merupakan anak yang badung, suka memukul dan senang berkelahi, sehingga orangtuanya sudah tak sanggup lagi merawatnya. Lain lagi dengan Ren. Ayahnya seorang pendekar yang tewas saat pertempuran di Nanjing. Salah seorang kerabat Ren merupakan kawan dekat Guru Yen sehingga dititipkannyalah Ren saat berusia delapan tahun. Waktu itu, Jia berusia sebelas tahun dan Tao masih berusia tujuh tahun.

Guru Yen masih menimbang-nimbang apakah benar pencurinya salah satu di antara mereka. Kalau saja benar, kenyataan pahit yang harus ditelan bulat-bulat oleh Guru Yen, tidak salah lagi, sebuah pengkhianatan…

[To Be Continued]

11 pemikiran pada “Son of The Sword (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s