Take Care the Baby (Chapter 1)

TITLE               : Take care the Baby

MAIN CAST      : Cho Yunhee (OC)

Park Chanyeol (EXO-K)

Kim Joonmyun a.k.a Suho (EXO-K)

OTHER CAST   : Akan bertambah seiring dengan bertambahnya part.

GENRE             : Family, Romance (as always), ANGST (little bit)

RATING            : PG 15

LENGTH           : series

AUTHOR          : MutiaMia Andara

DISCLAIMER    : Plot ini punyaku. Chanyeol, Suho milik SM tapi untuk waktu yang tidak terjangkau mereka berdua punyaku.. hahahaha.

AUTHOR NOTE : Ini FF pertamaku yang castnya EXO dan juga FF pertama yang aku post di Blog. Selebihnya FF aku yang lain aku post di FB ku.

Yunhee itu sebenernya aku. Sebenarnya margaku Kim, tapi karena berbagai alasan, di FF ini diganti jadi Cho. Sesuai dengan marga yeobo ku yang pertama, Kyuhyun*plak. Kalau kalian mau menganggap dia kalian atau orang lain juga gak papa kok makanya aku kasih tulisan OC disamping Cho Yunhee.

Cerita ini langsung muncul diotakku saat eomma ku kasih tahu berita tentang Bayi yang dibuang sama ibunya. Oke, tanpa banyak cincong kita langsung aja.

Gamshamnida buat Admin yang udah mau share FF ku ^^*big hug for you..

======HAPPY READING======

Kalau aku tidak menjaga bayi ini, lalu siapa ?

Lebih baik aku dicemooh dari pada membuat bayi ini terlantar. –Cho Yunhee-

Kalau kau sudah yakin tentang hal ini, aku harus bagaimana lagi ?

Yang bisa aku lakukan sekarang adalah melindungimu dan bayi itu bukan? –Park Chanyeol-

 

Aku senang melihatmu menjaga bayi itu.

Tapi aku tidak senang melihatmu menjaga bayi itu dengannya. – Kim Joonmyun-

*****

Musim gugur sudah melanda kota Seoul sejak 2 minggu yang lalu. Cho Yunhee terlihat sibuk dengan belanjaan yang ia bawa. Ia baru saja menyempatkan diri untuk berbelanja mengingat beberapa hari terakhir ini ia disibukkan dengan tugas kuliahnya yang menumpuk. Tugas-tugas yang mengharuskannya untuk bergadang tiap malam. Terpaku terus menatapi laptop sembari jari jemarinya sibuk menekan keyboard. Membuat ia mempunyai kantung mata yang sudah semakin hitam bagi gadis muda seusianya.

Setelah ia selesai membeli barang-barang yang menurutnya akan cukup untuk kebutuhannya selama 1 bulan kedepan, ia pun segera melangkahkan kakinya keluar dari supermarket. Membawa 4 kantung plastik besar yang sangat berat tidaklah mudah. Belum lagi tas yang ia sampirkan dibahunya berulang kali turun. Membuatnya harus terus menerus membenarkan posisinya.

Merasa lelah dengan bawaannya yang berat, ia memutuskan duduk sebentar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang hampir remuk dibangku taman yang terletak tidak jauh dari supermarket. Menghela nafas dalam-dalam dan membiarkan paru-parunya terisi penuh dengan oksigen sebelum ia membuangnya dengan perlahan.

Ketika merasa lelah seperti ini, ia selalu merasa betapa enaknya hidup bila didampingi oleh orangtua. Semua kebutuhan yang diinginkan tanpa perlu berusaha sekeras mungkin akan selalu terpenuhi. Semua hal masih menjadi tanggungan orangtua sebelum kita hidup bersama orang yang kita kasihi.

Yunhee selalu tersenyum sedih bila mengingatnya. Orangtuanya telah meninggalkannya ketika dirinya masih duduk dibangku sekolah dasar. Kecelakaan mobil yang membuat mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Kecelakaan yang terjadi saat ia merayakan ulang tahunnya yang ke 7. Karena itu, mungkin bagi sebagian orang, ulang tahun merupakan hal yang paling membahagiakan . Dimana umur mereka bertambah dan mengadakan pesta walaupun itu pesta yang sangat sederhana sekalipun. Tapi bagi Cho Yunhee, ulang tahunnya merupakan hari yang terburuk baginya. Ketika ia seharusnya tersenyum bahagia, ia malah harus menangis terus menerus lantaran terbayang-bayang dengan kematian orang tuannya.

Tanpa ia sadari, mengingat kejadian itu membuat pipinya dialiri oleh sungai kecil. Isakan kecil pun terdengar. Yunhee menutup mulutnya dengan tangan kanannya agar isakannya tak didengar orang sekitar. Mungkin sudah beberapa menit ia menangis sendirian. Meratapi nasibnya yang hidup sebatang kara.

Lalu Yunhee melihat sepasang sepatu kulit berwarna hitam tepat berada didepan sneakers biru yang ia pakai. Yunhee mendongak untuk melihat. Ia sedikit terkejut melihat seorangKim Joonmyun ada dihadapannya. Terlihat kedua alis Joonmyun saling bertautan. Memandang wajah  Yunhee yang menurutnya terlihat sangat berantakan. Mata sembab dan terdapat kantung mata yang mulai menghitam dengan jelas. “ Kau menangis lagi ? ” itulah kalimat pertama yang diucapkan Joonmyun.

Yunhee hanya tersenyum simpul. Ia kembali menundukkan wajahnya dan segera menghapus air mata dengan punggung tangannya. Joonmyun segera duduk disamping kiri Yunhee. Menatapnya dan kemudian tangan kanannya merangkul bahu Yunhee. “ Sudah aku katakan jangan menangis lagi bukan ? Kenapa kau tidak mendengarkan kata-kataku ? ” Yunhee kembali tersenyum simpul. Mengambil nafas dengan perlahan lalu membuangnya. Dan ia pun menatap Joonmyun dengan matanya yang sembab itu. “ Sesekali menangis tidak apa-apa kan ? Aku hanya sedikit merindukan mereka. ”

Joonmyun menghela nafasnya. Ia tahu bahwa Yunhee pasti akan menjawab seperti itu. Jawaban yang selalu diberikan seorang Cho Yunhee ketika ia melarangnya untuk mengangis lagi.

“ Kenapa oppa bisa ada disini ? ”

Joonmyun mengangkat satu alisnya. Begitu heran dengan pertanyaan Yunhee yang menurutnya sedikit aneh. Bukankah tadi ia sendiri yang memintanya untuk datang menjemput ?

“ Bukankah tadi sebelum kau berangkat ke supermarket, kau menelponku untuk menjemputmu karena kau takut barang-barang bawaanmu akan berat ? ”

Terlihat Yunhee mengerutkan keningnya. Lalu detik berikutnya, ia menepuk jidatnya. Tanda bahwa ia melupakanya. “ Ahahahaha. Mian, aku lupa. ” Terlihat Joonmyun memutar kedua bola matanya. Ia sudah tahu kebiasaan Yunhee sehabis menangis. Pasti ada saja hal yang selalu dilupakannya. Entah itu hal penting ataupun hal sepele sekalipun.

“ Sudahlah. Sekarang mana semua belanjaanmu ? Sudah hampir malam dan lebih baik kita cepat sampai dirumah. ”

Yunhee segera menunjuk kearah 4 kantung plastik besar yang ada disamping kanannya. Membuat Joonmyun membelalakkan matanya. “ Kenapa belanjaanmu bisa sebanyak itu ?  ” Yunhee hanya cengengesan. Ia lalu beranjak berdiri dan mulai berjalan. Joonmyun terperangah lagi. Menatap lemas 4 kantung plastik besar itu. Menatapnya seakan kantung plastik itu akan mengempis agar ia bisa dengan mudah mengangkat plastik itu. Dirinya sendirikah yang harus membawa keempat kantung belanjaan itu ?

Ia lalu menoleh kearah Yunhee yang sudah jauh didepannya. Dilihatnya Yunhee menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya yang terlihat sangat ramping itu. Berteriak dengan kencang, “ Oppa, Cepatlah ! Kenapa masih duduk disitu ? ” Joonmyun menghela nafas pasrah. Ia kembali menatap kantung belanja itu dan mulai mengangkatnya.

****

Kim Joonmyun terus saja mengomeli kantung belanjaan Yunhee yang membuat pinggangnya sakit. Tidak cukup itu saja, kedua tangannya pun memerah bagaikan daging asap yang siap untuk dipanggang. Begitu merahnya sampai ia merasa sangat kebas. Yunhee yang mendengar omelannya hanya terkikik kecil. Sudah terbiasa dengan omelan Joonmyun yang tidak akan berhenti sampai ia puas.

Joonmyun mengantarkan Yunhee sampai berada didepan apartemennya. Masih dengan 4 kantung plastik yang bersarang ditangannya. “ Masuklah Oppa. Kita minum teh dulu sebentar. ” Yunhee mengajak Joonmyun masuk sembari mengambil sebagian dari kantung belanjaan yang dibawa Joonmyun.

Joonmyun segera melenggang masuk lalu meletakkan sisa kantung belanjaan yang ia bawa diatas sofa ruang tamu. Menghela nafas lega setelah meletakkan barang-barang berat itu. Ia merenggangkan tubuhnya dan terdengar suara tulang yang direnggangkan. Begitu pegal tubuhnya ini. Setelah itu ia mendudukkan tubuhnya disofa empuk milik Yunhee. Menyandarkan tubuhnya dibadan sofa. Merilekskan tubuh-tubuhnya.

“ Oppa, mau minum apa ? ” teriak Yunhee dari dapur.

“ Apa saja. Asal jangan kau campurkan racun diminumanku. ” dan setelah itu terdengar tawaan keras dari arah dapur.

Beberapa menit kemudian, Yunhee datang membawa 2 cangkir berisi teh gingseng yang akan sedikit berguna untuk menghangatkan tubuh mereka berdua. Meletakkan cangkir tersebut dimeja ruang tamu. “ Oppa, tehnya diminum du…” perkataan Yunhee terhenti melihat ternyata Joonmyun tengah tertidur.

Yunhee tersenyum simpul. Oppanya ini mungkin kelelahan setelah ia membawakan barang-barang yang sangat berat. Tanpa pikir panjang, Yunhee beranjak kekamar untuk mengambilkan selimut dan bantal. Lalu ia merebahkan Joonmyun dibantal dan membuat posisi Joonmyun terlihat lebih nyaman dan kemudian menyelimutinya. Yunhee terduduk disamping sofa. Memandangi kakaknya dengan lembut.

Kakaknya yang selalu menghiburnya ketika ia masih sering menangis akibat ditinggalkan kedua orangtuanya. Kakaknya yang selalu menjadi sandaran dan tempat curhat ketika ia sedang ada masalah. Kakaknya yang hanya berbeda 1,5 tahun dari dirinya namun sangat begitu dewasa dalam menyikapi semua masalah. Kim Joonmyun mewarisi sifat dermawan dan tegas dari sang ayah dan sifat murah senyum dari sang ibu.

Kim ahjussi dan Kim ahjumma adalah orang yang merawat Yunhee hingga ia beranjak dewasa. Namun semenjak 2 tahun yang lalu, ketika ia lulus dari Senior high school, ia memutuskan untuk hidup sendiri. Tidak ingin merepotkan lebih banyak lagi keluarga Kim. Awalnya semua keluarga Kim, termasuk kakaknya ini menolak dengan keras ia keluar dari rumah keluarga Kim. Alasan mereka menolaknya adalah karena Yunhee sudah mereka anggap sebagai keluarga sendiri dan keberadaan Yunhee sama sekali tidak merepotkan.

Namun Yunhee bersikeras dengan pendiriannya itu. Dan setelah terjadi perdebatan, akhirnya mereka setuju dengan syarat tempat tinggal baru Yunhee harus mereka yang tentukan. Dan jadilah sekarang, Yunhee tinggal diapartemen yang dibelikan oleh Kim ahjussi.

Yunhee menghela nafas panjang dan kedua sudut bibirnya tertarik keatas. Tersenyum mengingat semua kebaikan yang diberikan oleh keluarga Kim. “ Aku sayang kalian semua. Terutama kau, Oppa. ”

****

Joonmyun membuka matanya perlahan. Memulai beradaptasi dengan cahaya yang sedikit menyilaukan matanya. Ia lalu meregangkan tubuhnya dan bangun dari tidurnya. “ Jam berapa sekarang ? ” ia melihat jam yang melingkari tangan kirinya dan sedikit terkejut. Jam 6 pagi ? Berarti ia sudah tertidur sangat lama. Padahal tadinya ia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar tapi akhirnya malah tertidur.

“ Oppa, kau sudah bangun ? ”

Terlihat Yunhee yang baru saja selesai mandi. Ia sudah berpakaian lengkap walau dengan rambut yang masih sedikit basah. Memakai kaus tanpa lengan berwarna kesukaannya, biru dipadukan dengan cardigan putih dan celana jeans warna hitam. Terlihat juga syal warna putih yang senanda dengan cardigannya melindungi lehernya dari dingin.

Pagi ini ia ada mata kuliah jam 7.30 pagi. Oleh karena itu ia harus bersiap-siap lebih awal dari biasanya. Joonmyun hanya menatap Yunhee lesu. Sebagian dari nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. “ Ayo kita makan, Oppa. Aku sudah membuatkan sarapan. ” Ujar Yunhee yang sudah duduk dikursi meja makan.

Joonmyun akhirnya berdiri lalu menghampiri adiknya. Duduk saling berhadapan. Dan tepat dihadapannya pula telah tersaji berbagai macam makanan yang membuatnya menegak ludah. Cacing diperutnya sudah berontak untuk minta diisi. Tanpa pikir panjang lagi, Joonmyun mengambil sumpit lalu menyuapkan nasi kedalam mulutnya.

Yunhee sudah menduga bahwa kakaknya ini sudah sangat kelaparan. Ia lalu mengikuti jejak kakaknya. Mengisi perutnya yang juga sudah kosong. Beberapa menit sudah mereka makan dalam diam. Sampai akhirnya Joonmyun membuka pembicaraan karena ia yang lebih dulu menyelesaikan sarapannya.

“ Kau ada kuliah pagi ini ? ”

Tanpa menghentikan makannya, Yunhee mengangguk pelan.

“ Mau kuantar ? ” Yunhee menghentikan sebentar kegiatannya dan menatap Joonmyun.

“ Kalau itu tidak merepotkan oppa saja. ” terlihat Joonmyun mengangguk. Lalu ia berdiri dan beranjak kekamar mandi. Hendak mencuci wajahnya agar terlihat segar dan juga menyikat giginya dengan sikat gigi yang selalu tersediadirumah Yunhee ketika ia menginap diapartemennya.

***

“ Oppa, Gomawo sudah mengantarkanku. Salam buat Kim ahjussi dan Kim ahjumma. Mungkin kalau ada waktu, aku akan mampir kerumah. ” Ucap Yunhee sembari melepas set beltnya. Joonmyun menganggukkan kepalanya.

“ Kau hati-hatilah selalu. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan mengunjungimu lain kali. ” Dan Yunhee pun mengangguk. Ia membukapintu mobil lalu berjalan keluar. Menutupnya lalu melambaikan tangannya. “ Annyeong Oppa. ”

Joonmyun pun mulai menjalankan mobilnya menjauhi Yunhee. Setelah mobil Joonmyun sudah tidak terlihat lagi, ia pun membalikkan tubuhnya. Terlihat bahwa  keadaan kampus masih sangat sepi mengingat ini masih pukul 07.00. Hanya terlihat sedikit orang saja yang berlalu lalang.

Tidak semua jurusan ada kuliah pagi. Hanya sedikit jurusan, termasuk jurusan kedokteran yang sekarang tengah digeluti oleh Yunhee. Dan mengingat masih ada waktu 30 menit lagi sebelum kuliah dimulai, Yunhee memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Mengitari taman fakultasnya yang berbentuk leter U.

Dengan banyak sekali pepohonan dengan daunnya yang sudah mulai berubah warna kecokelatan berguguran satu persatu. Membuat jalanan dipenuhi dengan daun-daun yang berguguran. Yunhee menghirup udara musim gugur yang segar namun juga dingin. Ketika ia sedang berjalan, terlihat sebuah bangku yang kosong tepat disamping kolam dengan air mancur yang menampilkan malaikat kecil yang tengah memanah panah cintanya. Ia memutuskan untuk duduk-duduk sebentar sembari menunggu 20 menit lagi sebelum kelas dimulai.

Kedua matanya ia pejamkan. Mencoba merasakan setiap gerakan-gerakan sekecil mungkin. Kicauan burung yang terdengar indah, sapuan angin yang membelai lembut rambut dan wajahnya, suara gemeresekan daun yang diinjak membuat kedua sudut bibirnya terangkat. Tersenyum mensyukuri segala macam karunia yang telah tuhan berikan bagi umat manusia dimuka ini. Entah bagaimana kita harus berterima kasih atas seluruh kenikmatan yang ada didunia ini.

Kemudian Yunhee mendengar suara kaki mendekat. Lalu disaat berikutnya terdengar suara deritan kursi yang menandakan bahwa ada seseorang yang duduk disamping dirinya. Tanpa harus membuka matanya pun Yunhee sudah tahu siapa yang duduk disampingnya. Dengan wangi tubuhnya yang khas selalu dapat dengan mudah dikenali oleh hidungnya. Hidungnya sudah mengenal wangi ini selama 2 tahun. Wangi yang khas dari seorang Park Chanyeol.

Mahasiswa jurusan hukum yang merupakan orang pertama yang ia kenal ketika ia menginjakan kakinya di Kyunghee University.

Flash Back

Seorang Yeoja terlihat sangat bingung dengan situasi yang sekarang sedang ia hadapi. Ada beberapa sunbae yang mengerjainya. Entah karena alasan apa ia sendiripun tak tahu. Yunhee terlihat sangat ketakutan dengan sikap sunbae-sunbaenya tersebut. Dan ketakutannya pun semakin menjadi ketika salah satu dari mereka ada yang dengan sengaja merusak name tagnya.

Ia bingung harus berbuat bagaimana mengingat ia tidak mengenal siapapun disini. Tidak ada satupun orang yang ia kenal. Namun, mungkin tuhan sedang berbaik hati padanya. Seorang namja, yang tinggi tubuhnya melebihi tinggi para sunbaenya itu berteriak dengan keras.

“ YA ! Lihat semua ! Para Sunbae itu sedang berperilaku kurang ajar dengan Hobaenya ” Namja itu menunjuk kearah Yunhee. Dan sunbae-sunbae yang menyadari itu, langsung pergi meninggalkan Yunhee.

Setelah melihat para sunbae itu pergi, Yunhee melihat namja itu tengah berjalan menghampirinya. Tersenyum dengan sangat lebar. “ Kau baik-baik saja ? ” Ucapan pertama yang diucapkan oleh namja itu dengan suaranya yang berat namun terdengar lembut. Yunhee pun mengangguk.

“ Terima kasih sudah menolongku. ”

“ Tidak masalah. Kita sesama manusia harus saling membantu kan ? ”

Yunhee menatap mata hitam itu dengan lekat dan kemudian tersenyum.

“ Park Chanyeol imnida. ” Ucap Namja itu sembari mengulurkan tangannya.

“ Cho Yunhee imnida. ”

Flash Back END

Menurutnya, Chanyeol adalah orang yang supel dan sedikit.. hyperaktif. Yunhee sendiri sesungguhnya termasuk orang yang tertutup alias introvert. Jarang bergaul dan mempunyai sedikit teman. Namun sejak kejadian itu dan ia mengenal Chanyeol, sifatnya lambat laun berubah. Ia mulai senang berbicara dan juga.. Tertawa. Suatu hal yang sangat langka dilakukan oleh Yunhee.

Mereka berdua menjadi teman dekat sampai sekarang. Bahkan saking dekatnya, hal pertama yang ditanyakan orang-orang dikampus bila bertemu dengan salah satu diantara mereka pastilah menanyakan keberadaan yang lainnya. Ketika bertemu dengan Chanyeol, pasti orang-orang akan menanyakan, “ dimana Yunhee ? ” dan begitu juga sebaliknya.

Sedikit membahas kehidupan pribadi Chanyeol, ia seorang anak tunggal dan hidup hanya bersama dengan sang ibu. Ayahnya meninggalkan sang ibu tanpa alasan apapun ketika beliau tengah mengandung Chanyeol. Sampai sekarang pun ia tidak mengetahui siapa ayahnya karena sang ibu tidak pernah mau membicarakannya.

Chanyeol dan ibunya tinggal terpisah. Chanyeol di Seoul untuk melanjutkan studinya dan ibunya tinggal di Daegu. Yunhee pernah bertemu dengan ibu Chanyeol secara tidak sengaja.

Flash Back

 

“ Aishh, aku telat. ” Yunhee tengah berlari menyusuri kawasan dekat insandong. Ia sudah terlambat kerja disebuah coffe shop. Tempat dimana semua jenis kopi dijual disana. Baik yang sudah diseduh maupun yang masih bubuk.

Yunhee terus saja melihat jam tangan birunya itu.

BUGH

Bahunya menabrak seorang ahjumma yang sedang membawa plastik belanjaan cukup besar sampai terjatuh. “ Astaga.” Yunhee segera membantu orang tersebut berdiri dan kemudian menundukkan badannya.

“ Jeosonghamnida ahjumma. Jeosonghamnida. ”

Ahjumma tersebut hanya tersenyum. “ Gwenchanayo. “

“ Sekali lagi Jeosonghamnida, ahjumma. “ Yunhee kembali membungkukkan tubuhnya. Lalu ia menatap ahjumma tersebut dan berniat pergi. Namun sang ahjumma tiba-tiba berbicara.

“ Chogiyo, aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu ? ”

“ Ne. Silahkan.” Yunhee memperhatikan ahjumma tersebut merogoh-rogoh tas yang ia bawa lalu mengeluarkan secarik kertas.

“ Apa kau tahu dimana alamat ini ? “ Ahjumma tersebut tersebut menyodorkan kertas tersebut agar Yunhee bisa membacanya. Yunhee menerimanya dan kemudian membacanya. Apartemen dondaemun, no. 271 ?

“Aku baru saja tiba dari Daegu. Dan aku sama sekali tidak tahu wilayah ini. Bisakah kau menunjukkanku dimana tempatnya ? ”

Yunhee menatap sang ahjumma dengan tatapan yang sedikit tidak percaya. Antara perasaan ingin mengantar karena tidak enak, namun ada juga rasa ingin menolak karena ia sudah telat bekerja. Yunhee menundukkan kepalanya lagi untuk membaca alamat tersebut. Nama alamat itu tidak terasa asing diingatannya. Sepertinya ia mengenali tempat itu.

“ Baiklah. Aku bisa antarkan ahjumma. ”

****

Yunhee dan ahjumma tersebut sudah sampai ditempat apartemen yang dituju. Apartemen dondaemun. Dan pintu yang ada didepannya ini menempel kayu berwarna gading yang membentuk angka 271.

Ahjumma yang ada disamping Yunhee menekan bel tersebut. Dan tak lama kemudian, pintu tersebut terbuka. Yunhee tengah menundukkan kepala menatap sneakers biru kesayangannya ini. Sedang memikirkan alasan apa yang nanti akan ia berikan kepada atasannya tentang bolosnya ia kerja hari ini. Ia sangat takut gajinya akan dipotong.

“ Eomma, sudah sampai ? tidak tersesat ? ” Ucap seseorang yang baru saja membuka pintu.

“ Tidak. Untung saja ada agassi ini yang menolong Eomma. ” Ahjumma tersebut menyentuh bahu Yunhee yang membuat dirinya kembali menatap sang ahjumma dan kemudian tersenyum. Lalu ia menatap seseorang yang tadi memanggil ahjumma tersebut eomma. Menatapnya dari bawah hingga keatas. Dan tepat saat ia menatap mata sang anak dari ahjumma tersebut, Yunhee terbelalak kaget.

“ Chanyeol ? ”

“ Loh, Yunhee ? ”

“ Kalian sudah saling kenal ? ” Tanya sang ahjumma. Chanyeol dan Yunhee memandang eomma Chanyeol dan kemudian mereka berpandang.

“ Ahahahaha.”

 

Flash Back END

Menurut Yunhee, Ibu Chanyeol sangatlah baik dan juga ramah. Wajahnya sangat mirip dengan Chanyeol. Mungkin kecuali tinggi tubuhnya yang diatas rata-rata mengikuti sang ayah. Chanyeol memiliki tinggi badan yang sangat wah. 185 cm. Membuat Yunhee harus selalu mendongakkan wajahnya ketika berbicara dengannya.

Dan kembali lagi ke masa sekarang. Chanyeol terus menatap Yunhee yang sejak tadi terdiam dengan mata yang masih saja terpejam. Bingung apakah Yunhee pura-pura tidak tahu kedatangannya ataukah ia sama sekali tidak tahu kalau yang disampingnya adalah dirinya, Park Chanyeol sang Happy Virus.

Perlahan Yunhee membuka matanya. Mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya kembali. Lantas ia menoleh kearah Chanyeol dan tersenyum.

“ Tumben kau sudah datang jam segini. Ada kuliah pagi ? ” Tanya Yunhee. Chanyeol balas tersenyum. Senyuman yang amat sangat manis dimata Yunhee.

“ Tidak. Aku baru ada kuliah nanti jam 10. ”

Yunhee memiringkan kepalanya. Menatap Chanyeol heran. “ Lalu kenapa pagi-pagi sudah datang ? ”

Senyuman Chanyeol semakin lebar. Senyuman yang malah membuat kening Yunhee berkerut.

“ Aku tahu kau kesepian setiap kuliah pagi. Maka dari itu, aku datang pagi-pagi begini agar kau tidak merasa kesepian.” Dan perkataan Chanyeol membuat Yunhee menatapnya malas.

“ Percaya diri sekali kau. Siapa yang kesepian memangnya ? Temanku itu banyak tahu. ” Yunhee memukul lengan atas Chanyeol pelan. Membuat Chanyeol pura-pura meringis kesakitan.

“ Aishh. Aku hanya memukul pelan dirimu, Park Chanyeol. ” Dan itu berhasil membuat Chanyeol cengengesan.

“ Kau ada kuliah jam berapa ? ” Tanya Chanyeol.

“ Jam 7.30. Kenapa ? ”

Chanyeol segera melihat jam tangan yang melingkar dengan sangat pas dilengan kirinya. Sedikit mengernyitkan dahinya.

“ Jam 7.30 ? Ini sudah lewat 10 menit, Yunhee-ya. ”

Yunhee membelalakkan matanya. “ MWO ? ” Yunhee segera berdiri. “ Kalau begitu aku pergi dulu. Kita bertemu lagi nanti. ”

Yunhee segera berlari menuju kelasnya yang ada dilantai dua. Tanpa sepengetahuan dirinya, Chanyeol tengah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah polos sahabatnya itu. “ Aku harus siap-siap mendengar omelan panjang darinya nanti. ”

****

Yunhee sedari tadi menekuk wajahnya. Dagunya menumpu diatas tangan yang ia tumpukan diatas meja kantin. Menatap tajam seseorang yang sedang ada dihadapannya ini. Terlihat sangat kesal. Pasalnya orang yang sedang ada dihadapannya ini berhasil menjahilinya –lagi-. Dia mengatakan kalau dirinya sudah telat 10 menit. Membuatnya harus lari terbirit-birit.

Lalu apa yang dilihatnya ketika ia sudah sampai dikelasnya ? Kelasnya itu hanya berisikan beberapa orang yang tengah mengobrol. Belum ada dosen yang masuk. Bodohnya ia langsung percaya saja pada orang itu dan tidak melihat jam swatch switch biru yang terpakai dilengan kirinya. Membuat dirinya telah dibodohi oleh Park Chanyeol untuk yang kesekian kalinya.

Chanyeol yang tengah dipandang pun pura-pura tidak tahu dan terus saja melahap makanannya dengan tenang. Tidak -lebih tepatnya pura-pura tidak- merasakan aura-aura kelam yang ada disekitarnya. Yunhee mendengus kesal melihat kelakuan temannya ini. Ia mengambil nafas dalam-dalam, hendak memulai omelan panjangnya. Namun sebelum ia mengeluarkan sepatah katapun, tangan Chanyeol sudah berada didepan wajah Yunhee. Membentuk pose seperti menyetop sesuatu.

Chanyeol menghentikan makannya lalu menatap Yunhee. “ Aku tahu apa akan kau katakan sekarang. Namun sebelum kau mengatakannya…” Belum selesai berbicara, ia segera menangkupkan kedua tangannya.

“ Mianhae, Yunhee-ya.” Chanyeol meminta maaf kepada Yunhee dan ia memberikan tatapan puppy eyesnya kepada Yunhee. Cara yang selalu ampuh untuk meminta maaf. Yunhee menatapnya dengan malas lalu mendengus sebal. Mengambil nafas dalam-dalam –lagi- kemudian menghempaskannya kembali.

“ Ya ya ya. Aku tahu. Aku tahu. Bahkan sangat tahu apa kebiasaanmu. Tapi jangan pernah kau memperhatikan tatapan puppy eyesmu itu. Itu membuatmu terlihat sangat menjijikan. “ Chanyeol langsung menurunkan tangan dari wajahnya dan memasang tampang cemberut.

Yunhee kalau sedang kesal seperti ini pasti akan mengeluarkan kata-kata pedas. Seperti halnya tadi. Mengatakan Chanyeol sangat menjijikan dengan tatapan puppy eyesnya.

“ Kau jahat sekali mengatakan itu. ” Rengek Chanyeol.

“ Jahat ? Jahat apanya ? Aku mengatakannya jujur setulus hati. Itukan baik untukmu agar tidak usah merayu dengan tatapan seperti itu. Iiiishhh, menjijikan. ” Yunhee bergidik jijik. Sesekali ia ingin sekali melihat tampang cemberutnyaChanyeol. Menurutnya disangat lucu dengan tampang seperti itu. Dengan mulut yang dimajukan dan pipi yang dikembungkan membuat Chanyeol terlihat seperti orang paling bodoh dikampus ini.

Chanyeol terperangah dengan ucapan Yunhee. Wajahnya semakin menekuk. Ia melanjutkan makannya dengan tidak sabar. Sampai membuat nasi berceceran dimeja makan.

“ YA ! kalau makan pelan-pelan. Nasimu itu berceceran kemana-mana tahu ! ” Omel Yunhee sambil menunjuk-nunjuk nasi yang berceceran diberbagai sudut meja. Chanyeol semakin sebal. Dengan keras ia meletakkan sumpitnya dimeja lalu menyampirkan tas ranselnya dan pergi meninggalkan Yunhee.

Yunhee tersenyum simpul dan ia segera menyusul Chanyeol. Mengikuti langkah lebar Chanyeol yang dibuat oleh kaki panjangnya itu. Yunhee berlari kecil untuk mensejajarkan  dirinya dengan Chanyeol.

“ Chanyeol-na..” ia menyenggol sedikit bahu Chanyeol. Membuat sang empunya menoleh sebentar dan kemudian berpaling lagi.

“ Chanyeol-na..” Panggil Yunhee lagi. Dan kali ini Chanyeol menghentikan langkahnya. Yunhee pun juga berhenti dan dilihatnya laki-laki tinggi tersebut tengah menatapnya sebal.

“ Chanyeol-na. Jangan marah, ne ? Kau pasti tahukan kalau aku hanya bercanda. Mianhae. ” Yunhee menatap Chanyeol dengan matanya yang lebih besar dari mata orang korea biasa. Chanyeol menatap Yunhee lama sampai akhirnya ia menghela nafas sejenak dan kemudian tersenyum simpul. Senyuman yang mungkin akan membuat para gadis terpesona.

“ Aku tidak mungkin marah padamu, Yunhee-ya. Kau itu sahabatku. Aku tidak akan bisa marah pada sahabatku sekalipun ia membuatku kesal. ” Mendengar kata-kata itu membuat Yunhee membalas senyuman. Kemudian Chanyeol segera merangkul bahu Yunhee dan mereka berjalan perlahan.

“ Kau tidak ada mata kuliah lagikan hari ini ? ” Tanya Chanyeol.

“ Tidak. Kenapa memangnya ? ”

“ Hmm, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan ? Aku sedang ingin menguji adrenalinku. ”

Yunhee menghentikan langkahnya, menatap Chanyeol heran. “ Adrenalin ? Maksudmu ?  ”

****

“ Jadi ini maksdumu dengan menguji adrenalin, hah ? Dengan mengajakku naik roller coaster ?! Kau tahukan kalau aku.. KYAAAA ! ” Teriakan ketakutan Yunhee yang membahana bergabung dengan teriakan orang-orang yang ada dibelakangnya. Berteriak sangat kencang saat roller coaster tersebut mulai turun dengan sangat kencang dan kemudian menukik dengan tajam.

Yunhee menutup wajah dengan kedua tangannya. Terlihat sangat ketakutan. Namun lain hal dengan laki-laki yang duduk disampingnya. Laki-laki tersebut terlihat sangat bahagia. Kedua tangannya ia naikkan keatas sembari berteriak. Merasakan kencangnya terpaan angin yang berhembus mengenai wajahnya. Dan merasakan dadanya bergemuruh sangat kencang. Adrenalinnya sedang diuji sekarang. Dan itu membuatnya sangat senang.

Ketika akhirnya roller coaster itu berhenti, Yunhee segera membuka tali pengaman dan meninggalkan Chanyeol. Ia ingin sekali mencari udara segar. Perutnya terasa sangat mual. Mukanya sudah pucat sejak ia naik roller coaster tersebut.

Chanyeol yang menyadari hal itu segera menyusul Yunhee. Membawanya untuk duduk sebentar dibawah pohon rindang.

“ Chakkamanyo. Aku mau beli minum sebentar. Kau tunggu disini dulu. ” Ujar Chanyeol setelah ia mendudukkan Yunhee di kursi. Yunhee hanya mengangguk lemas. Perutnya terasa seperti sedang diobrak-abrik. Rasanya sangat tidak karuan. Ia memejamkan matanya. Berusaha sekeras mungkin agar dirinya tidak mengeluarkan apapun dari dalam mulutnya.

Entah sudah berapa lama, akhirnya Chanyeol datang membawakan kopi hangat untuk mereka berdua. Chanyeol memandangi Yunhee yang tengah memajamkan matanya. Ia kemudian duduk disamping Yunhee dan tidak ada niatan sama sekali untuk mengganggu ketenangan Yunhee.

Ia selalu senang melihat Yunhee ketika dirinya sedang memejamkan matanya seperti ini. Terlihat begitu manis dimatanya. Dilihatnya Yunhee membuka matanya perlahan dan tersenyum lemah.

“ Kau bawa apa itu ? ” Tanyanya sembari menunjuk gelas kertas yang dibawa Chanyeol.

“ Oh, ini. ” Chanyeol memberikan salah satu gelasnya itu pada Yunhee. “ Itu Capuccino. Kau sangat suka itu bukan ? ”

Yunhee mengangguk dan segera menyesap kopi itu perlahan. “ Hmmm, cappucino memang selalu menyegarkan bagiku. ” dan kemudian menyesapnya lagi.

Chanyeol tersenyum simpul. Lalu ia pun juga meminum kopi, lebih tepatnya vanila latte itu. Menyesapi setiap tetes kopi yang masuk melewati kerongkongannya itu.

Selama beberapa saat, mereka terdiam. Menikmati setiap tetesan dari minuman tersebut. Dan mungkin sedang bergumul dengan pikiran masing-masing.

“ Yunhee-ya..”

“ Hmmm ? ”

“ Mianhae. ” Yunhee yang ingin meneguk minumannya itu menghentikan kegiatannya. Memandang Chanyeol heran.

“ Mian ? untuk apa ? ”

Chanyeol yang sedari tadi hanya memandang lurus kedepan menatap Yunhee. Badannya ia kesampingkan agar bisa melihat Yunhee jelas.

“ Mian karena sudah membuatmu pucat seperti ini. Padahal aku sudah tahu kau tidak suka naik roller coaster tapi aku tetap memaksakannya padamu. Sekali lagi mianhae. ” Chanyeol menundukkan wajahnya. Merasa sangat bersalah sekali dengan sahabatnya yang satu ini.

Melihat ketulusan sahabatnya ini, Yunhee pun tersenyum. Walaupun senyuman itu masih terlihat lemas, namun ia berusaha memperlihatkan kalau ia baik-baik saja.

“ Gwenchana, Chanyeol-na. Aku sudah biasa kok seperti ini. Kau tidak usah merasa bersalah seperti itu. ” Yunhee menyentuh lengan atas Chanyeol dan mengusapnya perlahan. Chanyeol menatap Yunhee. Masih tersirat bahwa ia masih merasa bersalah membuat sahabatnya seperti ini.

“ Heiii, ini bukan Chanyeol yang kukenal. Jangan memasang tampang bersalah seperti itu. Aku baik-baik saja. Ara ? ”Yunhee menyatukan ibu jari dan jari tengahnya lalu disentilnya dahi Chanyeol.

“ Aishh, kau ini. ” Chanyeol mengelus dahinya yang sedikit terasa sakit lalu membalasnya dengan mencubit kedua pipi Yunhee.

“ YA ! Appoyo.. ” Yunhee mengelus-elus kedua pipinya yang kesakitan. Menatap Chanyeol sebal. Yang ditatapnya hanya menyeringai jahil.

“ Dan sekarang, kita akan naik apa lagi ? ” Tanya Yunhee kepada Chanyeol.

“ Bagaimana kalau itu ? ” Chanyeol menunjuk sebuah wahana yang tidak jauh dari mereka. Halilintar. Wahana yang membuat Yunhee membulatkan matanya.

“ PARK CHANYEOL ! Kau mau membunuhku, Hah ?! ”

****

“ Ahahahahaha..” Suara tawa Yunhee terdengar begitu lepas sehabis ia mendengar candaan Chanyeol. Chanyeol selalu saja berhasil membuat Yunhee tertawa begitu kerasnya hingga tidak menyadari kalau orang-orang yang ada disekitar mereka sedang menatap aneh kearah mereka.

Chanyeol mengantarkan Yunhee sampai kelobi apartemennya. Masih dengan tawaannya yang tidak bisa berhenti, Yunhee melambaikan tangannya pada Chanyeol sambil menutupi mulutnya yang tidak mau diajak kompromi untuk berhenti tertawa.

“ Gomawo.. ahahaha.. sudah mengantarkan aku.. ahahaha.”

“ Aishh, kau ini. Berhentilah kau tertawa. Bisa-bisa kau mati hanya karena kekurangan oksigen karena tawaanmu. ”

“ Ahahaha.. lagipula kalau matipun, kau yang disalahkan gara-gara membuatku seperti ini. Ahahaha. ”

“ Yasudah kalau begitu. Sampai jumpa besok. Annyeong. ” Chanyeol pun membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Yunhee yang masih saja terbahak dengan senyum merekah dibibirnya. Senang rasanya bisa membuat Yunhee tertawa lepas seperti itu.

Yunhee yang sudah mulai bisa mengendalikan tawanya pun segera berbalik dan berjalan perlahan memasuki apartemennya dan hendak menaiki lift. Namun langkahnya terhenti melihat sebuah keranjang yang diletakkan tidak jauh darinya. Keranjang tersebut seperti keranjang buah namun nampak lebih besar. Seperti keranjang… Bayi. Keranjang tersebut tertutup dengan kain yang cukup tebal. Seperti selimut.

Dengan perlahan ia pun mendekati keranjang itu. Berlutut dekat keranjang itu dan membuka kain tebal berwarna merah muda tersebut. Yunhee terlonjak mundur hingga ia terduduk dilantai. Betapa terkejutnya dirinya. Apa yang diduganya benar-benar nyata. Yang ada dikeranjang itu bukanlah buah, melainkan seorang bayi yang tengah tertidur.

***

18 pemikiran pada “Take Care the Baby (Chapter 1)

  1. bayi siapakah itu??
    aku suka chanyeol disini ._. waktu naik rollercoaster xD
    lanjut thor secepatny ya.. hhehe

  2. Wahhh penasaran kirakira bayi iti punya siapa yah? Asihh dasar happy virus kkk .oke d tunggu klanjutannya thor 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s