What is Love (Chapter 8)

Author :  Vhanee_elf (@AllRiseSapphlre)
Genre : Romance
Rating : Teen
Length : Chapter , Series
Cast :
– KAI (Kim Jong In)
– Cho Hye Rim (Oc)
– Xi Lu Han
– Huang Zi Tao
– Kim So Mi (Oc)

Warning!! : Typo’s  everywhere

***

Tatapan Kai tak lepas dari selembar cek kecil di tangannya. Dia sedang berbaring terlentang dikasur tipisnya bersama Lu Han yang sedang sibuk mengutak-atik handphone milik Kai. Suara khas game angry birds terdengar nyaring didalam kamar mereka berdua. Berulang kali Kai mendesah berat karena keputusannya yang diambil beberapa hari lalu. Sepertinya ada yang salah dengannya. Baru kali ini dia merasa begitu bersalah karena selembar cek.

“kau pandangi sampai buta pun, tidak akan ada uang yang keluar dari situ. Kecuali kau menukarnya di bank” tegur Lu Han yang pandangannya tetap kearah handphone milik Kai. Kai menurunkan cek itu dari tangannya dan menaruhnya didada Lu Han dan sontak membuat Lu Han sedikit terkejut.

“aku harus bagaimana Lu Han-ah~” tanya Kai seperti menyerah dengan keadaan. Dia menatap langit langit rumahnya dengan tatapan kosong. Lu Han menghentikan aktifitasnya bermain game dan beralih menatap Kai.

“harus bagaimana apanya?! Kau pikir saja sendiri, pabo!” sahut Lu Han sambil menaruh cek tersebut diatas dada Kai. Sebenarnya Lu Han sedikit kesal dengan Kai karena menerima cek tersebut dari Tao tanpa memebritahunya terlebih dulu. Setidaknya, mereka harus berdiskusi tentang masalah ini, mereka sahabat bukan?! Itulah yang dipikir Lu Han.

“dari awal aku memang sudah salah. Memanfaatkan Hye Rim. Dia…” Kai menggantungkan kata katanya. Dia kembali teringat awal pertemuannya dengan Hye Rim yang tidak disengaja itu. Kemudian kejadian ketika Ia dan Hye Rim didermaga tadi siang. Sungguh Kai tidak menyangka kalau dia akan menyakiti yeoja yang selalu baik padanya itu.

“aaaaakk!!!” tiba tiba saja Lu Han menjerit kesal disebelah Kai. Kai melihatnya sedang menekan layar handphonya dengan kesal lalu melempar  handphone tersebut keperut Kai.

“waeyeo?!” tanya Kai penasaran.

“siapa yang membuat game seperti itu?! Burung burung bodoh! Memecahkan es balok saja tidak bisa!” gerutu Lu Han kesal sambil membalikan badannya membelakangi Kai membuat Kai membulatkan matanya. Yang benar saja, anak ini tidak bisa diajak serius. Niatnya Ia ingin menceritakan semuanya malam ini, tapi sepertinya kondisi tidak memungkinkan. Lu Han terlihat lebih aneh dari pada hari hari biasanya.

***

~Next Day~

Kedua pengawal Hye Rim berdiri bersampingan beberapa meter dari Hye Rim yang sedang duduk manis. Wajahnya mengadah keatas menatap langit malam yang sama sekali tidak berbintang dari teras rumah Kai dan Lu Han. Ya, dia memutuskan menunggu Kai pulang didepan rumah atapnya dari pada menunggu kai bersama So Mi didalam rumahnya. Entahlah, dia hanya ingin membuat Kai tersentuh dengannya.

“tampaknya kau senang sekali Nona Cho?!” tegur Lu Han yang tiba tiba sudah muncul tepat selangkah didepan tangga. Awalnya Hye Rim sedikit senang mendengar suara pria yang menegurnya, dia berharap pemilik suara itu adalah punya Kai. Ternyata tidak. Pria yang menegurnya barusan adalah Lu Han dan itu membuat senyumannya hilang seketika.

“waeyeo?! Kenapa tiba tiba sedih?!” tanya Lu Han lagi ketika melihat perubahan air muka Hye Rim yang secara drastis terjadi.

“aniyeo~ aku pikir kau adalah Kai..” sahut Hye Rim jujur. Lu Han mengangguk mengerti. Dilihatnya kedua pengawal Hye Rim yang hanya berdiri tegap tetapi tampak lelah karena terus berdiri.

“kau sudah menunggunya berapa lama disini?!” tanya Lu Han lagi. Seketika senyum Hye Rim kembali tercipta. Ia tidak ingin membuat Lu Han merasa kecewa karena dirinya tidak memeberikan senyuman nya yang khas itu.

“baru saja!” sahut Hye Rim. Lagi, Lu Han hanya mengangguk. Sepertinya Hye Rim berbohong, lihat saja kedua pengawalnya yang tampak sangat kelelahan itu, batin Luhan. Lu Han merogoh saku mantelnya untuk mencari kunci pintu rumahnya sementara Hye Rim terkejut karena sebutir salju jatuh tepat dipipi kirinya. Dia meraba pipinya yang basah kemudian menatap jemarinya yang baru saja menyentuh sebutir salju dipipinya.

“masuklah~ diluar sangat dingin.” Tegur Lu Han yang sudah membuka pintu rumahnya lebar lebar. Hye Rim menatap Lu Han ramah lalu tersenyum sambil mengangguk.

“eem!” sahut Hye Rim bersemangat. Ia mengikuti langkah Lu Han diikuti kedua pengawalnya yang setia. Mereka memasuki rumah atapnya yang sederhana. Didalam ternyata cukup hangat. Memang tidak sehangat ruumah Hye Rim yang mewah, tapi setidaknya bisa membuat tubuh Hye Rim lebih nyaman.

“jam berapa kai pulang?!” tanya Hye Rim yang hanya berdiri di amabang pintu kamar Lu Han dan Kai. Ia masih segan untuk memasuki kamar pribadi milik kai dan Lu Han. Terlebih itu adalah kamar seorang namja.

“mollayeo~ kenapa tidak coba dihubungi saja?!” sahut Lu Han yang sedang sibuk melepas mantelnya lalu menggantung nya di sebelah lemari besar yang terletak diujung ruangan.

“andweyeo.. aku takut mengganggu Kai” sahut Hye Rim lemah. Memang benar. Sengaja dirinya tidak mengirim pesan atau sekedar menelponya ketika jam kerja. Karena ia sama sekali tidak ingin mengganggu pekerjaan Kai, karena dirinya takut Kai akan marah padanya.

“kereom.. aku akan mengirimnya pesan” kata Lu Han yang kini sudah berhadapan langsung dengan Hye Rim.

“andwe! Aku menunggu sampai dia pulang saja~ ini belum jam 8 kan?!” sahut Hye Rim cepat sambil menggelengkan kepalanya keras.

“hm~ terserah kau saja Nona Cho” ujar Lu Han sambill mendesah berat. Jujur, dia sedikit lelah sekarang. Sudah 3 hari ini dia bekerja di toko roti dan itu sangat melelahkan dan merepotkan menurutnya.

“aku mau mandi dulu~” lanjut Lu Han sambil melenggang pergi menuju kamar mandi. Sementara Hye Rim hanya berdiri mematung di depan kamar Kai dan Lu Han, masih memikirkan keberadaan Kai.

“jangan mengintip!” canda Lu Han pada Hye Rim yang hanya berdiri tanpa ekspresi di wajahnya. Perkataan Lu Han sukses membuat Hye Rim memalingkan wajahnya dan menatap Lu Han dengan wajah sangar yang dibuat buat.

“mwo?! Iissh~” ucap Hye Rim sambil mengangkat tangannya seolah ingin memukul Lu Han yang kini sudah berlari kecil menuju kamar mandi. Hye Rim terkekeh kecil melihat tingkah Lu Han. Ada ada saja, pikirnya. Mana mungkin dia mengintip Lu Han sementara kedua pengawalnya sedang mengawasinya tak jauh dari pintu masuk?

Merasa sedikit bosan, Hye Rim mencoba memasuki kamar milik Kai dan Lu Han diam diam. Niatnya Hanya ingin melihat lihat saja, Ia berjalan perlahan dipinggir meja yang sepertinya digunakan oleh Kai dan Lu Han untuk menyimpan buku buku bacaan atau majalah. Merasa tidak ada yang menarik, Hye Rim beralih menuju sebuah lemari tinggi berpintu 2. Dibukanya salah satu pintu lemari tersebut dan terlihatlah beberapa pasang mantel serta jaket yang tergantung rapi disana. Beberapa mantel terlihat familiar dimata Hye Rim karena sering melihat Kai maupun Lu Han yang mengenakannya. Setelah itu Hye Rim membuka pintu lemari yang tersisa. Beberapa lembar pakaian terlipat rapi di bagian atas, namun tidak di bagian bawah. Terlihat begitu berantakan dan hanya terlipat asal. Pasti milik Lu Han, pikir Hye Rim.

Setelah puas melihat lihat, Hye Rim berniat untuk menutup pintu lemari tersebut namun niatnya tertahan. Dia melihat sebuah kertas kecil yang terselip di bawah lipatan baju milik Kai. Awalnya Hye Rim tidak ingin mengambilnya dan melihatnya, tapi ia melihat sesuatu yang tidak asing di ujung kertas tersebut. Seperti sebuah tanda tangan, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengambil kertas itu dan membukanya.

Betapa terkejutnya Hye Rim ketika ia mendapati nama Tao tertulis dibawah tanda tangannya di kertas tersebut.

***

Lu Han sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil ditangannya. Ia sudah mengenakan kaos polos putihnya serta celana training panjang sebelum Ia keluar kamar mandi, seperti biasanya.

“eoh! Kkapchagiya!” Lu Han terkejut ketika mendapati Hye Rim yang berdiri tepat didepan pintu kamar mandi dengan wajahnya yang serius. Dia mengelus dadanya dan menatap sinis kearah Hye Rim seolah berkata ‘kenapa berdiri disitu dengan tampang menyeramkan?’

“ige mwoya?!” tanya Hye Rim sambil menunjukan selembar kertas tepat dihadapan Lu Han.

“eem?” sahut Lu Han dengan ekspresi bingung. Dia mengambil alih kertas tersebut dari tangan Hye Rim dan mengamatinya. Sedetik kemudian wajah Lu Han berubah menjadi tegang ketika mengetahui bahwa yang ada ditangannya sekarang adalah cek pemberian Tao. Bagaimana bisa Hye Rim menemukan barang sekecil ini?! Dan lagi, dirinya harus menjawab apa kalau Hye Rim bertanya?! Batin Lu Han.

“ige mwoya~?” ulang Hye Rim dengan serius. Lu Han menggeleng ragu. Ia ingat pesan Kai. Bagaimanapun caranya, jangan sampai Hye Rim mengetahui hal ini.

“mo..lla~” sahut Lu Han dengan suara kecil, hampir seperti berbisik.

“untuk apa Tao oppa memberi uang sebanyak ini untuk Kai?!” tanya Hye Rim lagi. Melihat tak ada tanda tanda akan mendapat jawaban dari Lu Han, Hye Rim mendesah berat dan memejamkan matanya sebentar.

“Jawab aku” kata Hye Rim lagi. Kali ini dengan nada  bicara yang lebih serius. Sangat berbeda dengan Hye Rim yang selama ini Lu Han kenal, membuatnya sedikit bergidik takut.

“nan mollayeo~” sahut Lu Han sambil menggeleng. Kembali Hye Rim mendesah berat. Masih banyak yang ia ingin tanyakan kepada Lu Han perihal sebuah cek yang ditangan Lu Han sekarang. Tapi sepertinya Lu Han memilih diam dan itu membuat hye Rim berpikir bahwa Lu Han memang tidak tahu menahu tentng cek tersebut. Sementara Lu Han terlihat ragu untuk membuka suaranya.

“Hye Rim sshi~”

***

Berkali kali So Mi merutuk Lu Han dalam hati dan memukul lengan kecil Lu Han yang berdiri disebelahnya. Berkali kali pula Lu Han meminta maaf dengan bahasa tubuhnya dan sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sementara Hye Rim duduk bersila di depan meja kecil yang berhadapan langsung dengan Lu Han dan So Mi. Ia menatap cek senilai 45 juta won terletak begitu saja idatas meja diantar ketiganya. Dalam diam Hye Rim berusaha mengendalikan pikirannya yang kacau. Berulang kali ia mencoba mencerna penjelasan Lu Han mengenai asal usul cek tersebut hingga Kai menerimanya.

Tiba tiba saja pintu terbuka dan seseorang bertubuh tegap memasuki rumah tersebut membuat semua pandangan menuju padanya. Setelah menutup pintu dengan rapat, Di  bersihkannya butiran butiran salju yang menempel dirambut serta bahunya. Nampaknya diluar sedang turun salju

 

“aku pulang~” ujar Kai dengan wajah lelahnya. Dia melihat kehadiran Hye Rim dirumahnya lalu tersenyum hangat dan membungkuk hormat. Hye Rim tak membalasnya. Hanya menatap Kai dengan ekspresi yang sulit Ia tebak.

So Mi memperhatikan kecanggungan yang tercipta antara tatapan Kai dan Hye Rim dan itu membuatnya sedikit khawatir. Akhirnya Ia memutuskan untuk berdiri dari duduknya dan menghampiri Kai yang masih berdiri diambang pintu masuk.

“oppa~” ujar So Mi dengan nada manja. Dia menggandeng lengan Kai lalu menatap Kai dengan ragu.

“mm?!” gumam Kai singkat.

“Kai-ah~ bisa kita bicara?!” tiba tiba saja Hye Rim bertanya pada Kai. Ia tetap duduk dan tak bergerak sekalipun. Kai tak menjawab, menyadari ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi diruangan ini.

“aah~~ So Mi-ah~ mau temani oppa beli es krim?!” alih alih merasa tidak nyaman, Lu Han akhirnya mengajak So Mi untuk keluar dari situasi tidak enak seperti sekarang. Dia berdiri dan menghampiri So Mi yang masih menggandeng lengan Kai.

“hajiman oppa, sekarang seda…” So Mi yang tidak mengerti berusaha menjelaskan bahwa sekarang bukan saatnya untuk menikmati dinginnya es krim karena diluar sedang turun salju. Tapi ia buru buru menghentikan perkataannya ketika Lu Han memberinya sebuah tanda dengan bibirnya yang bergumam tak jelas. Ia mengerti maksud Lu Han, bahwa mereka berdua harus segera keluar dari rumah ini dan tidak boleh terlibat dalam urusan Kai-Hye Rim.

“aaah~ ye, kau janji padaku akan mentraktir es krim padaku, ya kan?! Kajja!!” lanjut So Mi dengan senyumannya yang dibuat buat. Ia melepas gandengan tangannya pada Kai dan beralih menarik tangan Lu Han.

“nde, Kai-ah~ Nona Cho. Kami pergi dulu ya? Anyeong~” ujar Lu Han lega dan tergesa gesa karena So Mi sudah menyeretnya keluar dari rumah itu.

Kai menatap pintu yang ditutup oleh Lu Han dari luar. Dia masih tidak punya gambaran tentang apa yang sedang terjadi dirumah nya sekarang. Ia masih tidak mengerti dengan situasi yang akan dihadapinya. Akhirnya, dengan santai ia berjalan menuju Hye Rim dan duduk bersila dihadapan Hye Rim yang sedang menatap selembar cek diatas meja. Otomatis Kai mengikuti arah pandangan mata Hye Rim.

“igeo~” ujar Kai terkejut ketika melihat cek yang diberikan Tao untuknya terletak diatas meja.

“mengapa kau menerimanya?!” ujar Hye Rim dengan nada datar. Sekarang Kai mengerti situasinya. Hye Rim mengetahui perihal cek tersebut dan sudah pasti, Lu Han akan memberitahukan semuanya kepada Hye Rim.

Hening untuk beberapa saat. Kai sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan.

“mianhe~” hanya itu yang terucap singkat dari bibir Kai. Entah apa yang Ia pikirkan, yang jelas dia berharap permohonan maafnya dapat diterima Hye Rim walaupun tidak semudah itu.

“kau lebih mendengar perkataan Tao oppa dan orang tua itu?!” tanya Hye Rim yang mulai menangis. Dia menyatukan kedua tangannya diatas meja lalu meremasnya perlahan, mencoba menahan tangisnya sebisa mungkin. Entah karena apa ia menangis, dia sendiri pun tidak mengerti. Mungkin karena takut menerima kenyataan bahwa Tao dan ayahnya menyuruh Kai untuk tidak berhubungan lagi dengannya, begitulah yang Ia dengar dari penjelasan Lu Han beberapa saat yang lalu.

“bukankah dari awal sudah ku bilang?! Tidak kau ganti sekalipun uang itu tidak masalah bagiku, keundae wae?!” lanjutnya sambil sesekali terisak. Kai mencoba memegang tangan Hye Rim. Berusaha menenangkannya.

“neo ppabo” ujar Hye Rim kehabisan kata kata. Ia menatap Kai dengan pandangannya yang kabur karena air mata. Sungguh saat ini Ia tidak ingin menghakimi Kai. Ia hanya butuh penjelasan meski itu hanya sebuah kalimat. Tetapi tidak ada jawaban dari Kai, seolah itu adalah ciri khasnya. Diam dan menyimpan semua perkataannya dalam hati.

“mianhe~ jinja mianhe..” hanya itu yang terucap dari mulut Kai. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi.

 

***

~Next Day~

“mianhe Hye Rim ah~” Tao memegang punggung tangan Hye Rim dan sedikit meremasnya. Hye Rim hanya tertunduk. Menahan air matanya, tak percaya dengan penjelasan Tao beberapa menit yang lalu.

“aku~ hanya tidak ingin kehilanganmu” lanjut Tao dengan suara Lirihnya. Saat ini Hye Rim merasa sangat dikhianati oleh Tao. Bagaimana bisa seseoarang yang sudah dianggapnya sebagai kakak tega menjauhkannya dari orang yang dicintainya?! Bukan hanya orang yang dicintainya, tetapi juga orang yang sudah dianggapnya sebagai sahabat, Lu Han dan So Mi.

“saranghae” ujar Tao lirih. Saat ini dirinya bahkan tidak mampu menatap Hye Rim. Entah kenapa yang jelas ia mengutuk dirinya sendiri karena bersifat terlalu egois di hadapan Hye Rim. Sifat yang sangat dibenci Hye Rim.

“kau mencintaiku?!” tanya Hye Rim. Sekarang Hye Rim tengah menatap wajah Tao yang tertunduk dalam sementara genggaman tangan tao di tangan Hye Rim makin mengencang.

“appa, juga mengatakan dia mencintaiku” ujar Hye Rim dengan nada suara yang mulai bergetar. Tandanya sedikit lagi Ia akan menangis.

“tapi sepertinya dia suka melihatku menderita dengan menjauhkanku dari semua teman temanku dan hanya mengizinkanku berteman denganmu tanpa memikirkan perasaanku” lanjut Hye Rim. Dia menutup matanya dan setetes butiran air mata jatuh dari kelopak matanya.

“oppa juga seperti itu” kata Hye Rim terputus. Air mata Hye Rim kembali terjatuh ketika mendengar ucapannya sendiri. Ia sangat tidak percaya dengan perkataannya yang menyamakan sifat jelek

ayahnya dengan Tao. Meski Tao baru kali ini melakukannya. Tao tak kalah terkejut. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Hye Rim

“dan menurutku, itu bukan cinta” lanjut Hye Rim. Ia membalas tatapan sendu Tao. Hampir seumur hidupnya Ia tinggal disisi Tao, tapi baru kali ini Ia merasa sangat tidak nyaman bersama Tao. Dan itu karena kesalahan Tao sendiri. Karena keegoisannya.

“aku tidak tahu itu apa tapi..” Hye Rim melepas genggaman tangan Tao dan berusaha untuk tetap menatap Tao.

“aku mohon, sekali saja~ kali ini saja..” ujar Hye Rim dengan nada memohon.

“jangan berusaha menjauhkan Kai dariku” lanjutnya dengan tulus. Tao merasa lusinan batu kini bersarang didadanya. Begitu berat dan sesak.

“hanbonmanyeo~” kata Hye Rim lagi. Ia masih menatap Tao yang terdiam seribu  bahasa dihadapannya. Dan beberapa saat kemudian ia mencoba berdiri dan menyelipkan sesuatu di balik tangan Tao. Tao menatap secarik kerrtas ditangannya dan menyadari bahwa itu sebuah cek yang ditanda tanganinya untuk Kai.

Tao meremas kertas cek ditangannya yang dikembalikan Hye Rim sebelum Hye Rim melangkah pergi meninggalkannya. Dia melihat langkah Hye Rim yang perlahan mulai menjauh darinya. Tao terus memperhatikah bagaimana Hye Rim yang dengan pasti memasuki mobilnya dan mulai menjauh dari kafe tersebut. Air mata Tao jatuh perlahan. Rasa ketidakrelaannya melihat Hye Rim pergi membuatnya menangis. Dia menyesal. Sungguh menyesal karena keegoisannya selama ini membuat segala sesuatu yang diharapkannya menjadi berbeda. Bahkan bertolak belakang. Seandainya saja dia mengatakan tentang perasaannya lebih awal, jauh sebelum Hye Rim mengenal Kai, mungkin semua ini tidak akan terjadi pada dirinya. Mungkin.

***

~3 Days Latter~

Hye Rim berjalan ringan menaiki tangga menuju rumah atap milik Kai dan Lu Han. Akhir akhir ini Ia terlalu sering mengunjung rumah atap itu sehingga Ia sudah terbiasa menaiki tangga yang awalnya sangat menyeramkan menurutnya. Suara kicauan burung seolah memperingan langkahnya karena suasana hatinya juga senang bening seperti kicauan burung sekarang. Ini baru jam 7 pagi, dan udara seoul masih terasa sangat dingin seperti semalam. Tapi itu tidak mengurungkan niat Hye Rim untuk mengunjungi Kai, namja yang sudah 3 hari tidak dilihatnya.

Hye Rim berdiri tepat didepan pintu rumah Kai dan mengetuknya 3 kali.

Tok tok tok!

Tak ada jawaban. Hye Rim mengulangnya lagi. Namun tetap tak ada jawaban. Ia mengalihkan pandangannya kearah rumah atap So Mi dan menerawang dari kejauhan. Mungkin Kai dan Lu Han sedang dirumah So Mi sekarang, pikir Hye Rim.

Hye Rim berjalan mendekati pagar pembatas dan memutuskan untuk menyebrangi ‘jembatan darurat’ buatan Lu Han. Tapi dia segera mengurungkan niat nya itu ketika mendengar suara pintu terbuka dari arah belakangnya.

“Lu Han-ah~” ujar Hye Rim girang. Dia berlari kecil menuju arah Lu Han.

“eo! Nona Cho?!” tanya Lu Han yang masih linglung. Rambutnya masih berantakan dan wajahnya sedikit bengkak karena baru bangun tidur.

“ada apa datang pagi pagi begini?!” tanya Lu Han sambil mengucek matanya yangg menyipit karena silau.

“Kai!” jawab Hye Rim singkat. Tentu saja tujuannya kemari adalah untuk menemui Kai.

“dia.. emm..” ragu Lu Han ingin menjawab. Pasalnya, Ia teringat kejadian  3 hari yang lalu dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman berbicara dengan Hye Rim sekarang.

“sudah pergi kerja ya?!” tanya Hye Rim. Lu Han menggeleng.

“lalu?!” tanya Hye Rim bingung. Dan Hye Rim bertambah bingung ketika Lu Han melah keluar dari rumahnya dan menutup pintu tersebut rapat rapat.

“kau sudah tidak marah dengan Kai, Nona Cho?!” tanya Lu Han sedikit berbisik. Hye Rim menggeleng. Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin seorang Hye Rim bisa marah dengan Kai?!

“lalu Tao?!” tanya Lu Han lagi. Hye Rim hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda bahwa masalahnya dengan Tao adalah rahasia.

“ck! Orang kaya bisa menyelesaikan masalah semudah itu ya?!” gerutu Lu Han dihadapan Hye Rim membuat Hye Rim melototkan matanya dan meninju lengan Lu Han jahil.

“ya! Kai eoddiga?!” ujar Hye Rim mengalihkan pembicaraan. Lu Han mencibir kecil lalu menjauh dari Hye Rim dan membuka pintu.

“Kai-ah!! Uri Cheonsaboda-nim wasseo~” teriak Lu Han sambil memasuki rumahnya meninggalkan Hye Rim yang masih berdiri diluar. Selang beberapa detik Kai yang mengira bahwa So Mi lah yang datang muncul dari kamarnya dan melihat Hye Rim yang sedang berdiri diluar rumah dan menatapnya dengan senyuma khas-nya. Terlihat Kai yang sudah berpakaian rapi, berbeda jauh dengan keadaan Lu Han barusan.

“Kai-ah~” ucap Hye Rim manja. Dengan sedikit ragu Kai melangkahkan kakinya menuju Hye Rim. Kai menghentikan kakinya ketika berjarak selangkah didepan pintu.

“mau berangkat kerja?” tanya Hye Rim basa basi. Kai mengangguk singkat. Beberapa pertanyaan tercipta dibenaknya. Apakah Hye Rim berpura pura lupa?! Atau memang benar benar lupa? Atau ingin melupakan kejadian 3 hari lalu?!

“Hye Rim sshi..” kai menggantungkan kata katanya, lebih tepatnya ragu untuk menanyakan hal berputar dibenaknya kepada Hye Rim.

“jangan bertanya tentang Tao oppa, ataupun cek itu. Atau aku akan marah” ancam Hye Rim disela pembicaraan Kai. Kai terdiam. Benar kata Lu Han. Malaikat datang sekarang. Dihadapannya. Tapi biar bagaimanapun, Ia tetap merasa bersalah. Hutang itu, cek itu.. dan niat awalnya yang hanya ingin memanfaatkan seorang Cho Hye Rim.

“kalau kau merasa bersalah, bayar Hutangmu!” ujar Hye Rim seolah mengerti jalan pikiran Kai. Ia maju selangkah demi selangkah hingga kini jaraknya dengan Kai hanya setengah langkah.

Kai menatap Hye Rim dalam diam. Perasaan terpana seperti beberapa waktu lalu kembali menghinggapi dirinya. Seperti mengulangi kejadian di pantai tempo hari, kali ini Hye Rim secara teratur mendekatkan dirinya ketubuh Kai, tidak hanya tubuhnya saja. Wajah Hye Rim Pun ikut mendekat kewajahnya.

Chu~ sebuah kecupan kecil mendarat dibibir Kai. Hye Rim yang memulainya hanya tersenyum simpul dihadapan Kai. Masih dalam jarak yang begitu dekat. Tatapan tajam Kai tak lepas dari mata Hye Rim yang baru saja memberi morning kiss pertama untuknya.

“Lunas!” ujar Hye Rim singkat sambil menjauhkan wajahnya dari Kai. Bibirnya tetap tersenyum bahkan lebih ceria seiring bertambahnya waktu. Tersipu malu? Tentu saja.

Canggung, yah~ itulah yang dihadapi Kai dan Hye Rim sekarang. Namun itu adalah canggung terindah menurut Hye Rim. Keduanya tak ada yang saling membuka mulut sampai akhirnya Lu Han muncul di antara mereka.

“apa yang kalian lakukan?! Bicara dari hati ke hati?!” Kai sedikit lega mendengar suara jahil milik Lu Han, setidaknya beberapa menit kedepan Ia tidak perlu susah payah menyusun kata untuk mencairkan suasana. Ia hanya perlu mengikuti alur pembicaraan Lu Han, sahabat terbaiknya yang telah mengenalkannya kepada seorang yeoja berhati malaikat seperti Hye Rim.

__________

~END~
__________

Mengecewakankah?! Iya 100,1% ,, author yakin itu TT.TT
sepertinya ini FF Ter-Fail yang pernah athor buat.

But, keep comment biar kedepannya author bisa lebih baik. 😀
big thx buat yg selama ini sdh bersedia/terpaksa baca n comment FF bertabur Typo + Fail ini..
special thx buat Tao yang rela melepas Hye Rim disini #hug Tao.
thx too for EXO-M who become the special guest fo SS4INA walaupun author gg bisa nonton TT_TT
dan TERIMAKASIH banyak buat Eunhyuk yang sukses membengkak-kan mata author selama 3 hari #curhat
hope EXO-M & SUJU have a save flight  #ini apaan coba?!

51 pemikiran pada “What is Love (Chapter 8)

  1. Auhor bagus jalan cerita, cuman authir kyk keburu2 gitu bikinnya jadi rada kecepetan ceritanya, tapi aku suka bgt sama jalan ceritanya

  2. Dari chapter 1 – 7 aku suka alur ceritanya, tapi pas chapter 8 gantung banget ceritanya harusnya diceritain bahwa kai benar” mencintai hye rim dan happy ending..
    Makasih

  3. seru thor :’)
    ada sedihnya tapi akhirnya agak gk jelas coba ajah author lebih panjangin 1 chapter lagi jadi itu kesannya agak terburu” buat akhirin ceritannya*plakk kyk bisa ajah buatnya

    tapi aku suka ceritanya ^,^

    DAEBAAK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s