Curious (Chapter 2)

Tittle: Curious.

Main Cast: Oh Se Hoon (Sehun), Jung Jin Hyeon, Jang Wooyoung, Jung Krystal, Kim Joon Myun (Suho).

Support Cast: Jung Jin Woon, Kim Kibum (Key), EXO.

Genre: Romance-Comedy, Friendship, Family, a little bit drama.

Length: Chapter.

Author: Sehun’s (ELFtomato)

Suggest Song: SHINee – Sherlock

IU ft. Seul Ong – Nagging

Jo Kwon – The Day of Confessing My Love (OMG Ver.)

4Men – Baby Baby

***

PART 2 – FOOL FOR YOU…

“Aku dan Sehun sebaiknya pulang. Ya ‘kan Sehun?” tanya Kai kepada Sehun.

Sehun yang terus menatap Jin Hyeon mengalihkan pandangannya ke arah Kai.

“Tidak,” balas Sehun pelan.

Mwo? Kau bilang, kau ingin langsung pulang.” Kai heran teradap jawaban Sehun.

“Tidak akan pulang, aku ingin makan! Lapar sekali,” ucap Sehun sambil memegangi perutnya.

“Jin Hyeon-ssi, apakah ada makanan?”

“Kau ini, merepotkan sekali sih!” kata Jin Hyeon kesal seraya menaruh dua mangkuk ramyeon yang baru saja ia masak untuk dua lelaki asing.

Mianhae merepotkanmu, kami tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan,” ujar Kai.

“Bukan kau, Kai-ssi. Tapi dia! Kenapa suka sekali merepotkan orang?” racau Jin Hyeon kemudian beranjak mengambilkan minuman.

Yak! Pendek! Aku lapar sekali tahu!” balas Sehun malas.

Jin Hyeon menatap Sehun dengan death-glare-nya. Ia memberikan minuman mineral ke arah Sehun dan Kai.

“Sehabis ini kami akan pulang. Tenang saja, kami akan menggantikan uang obat dan uang makan. Eh, tapi berbicara tentang obat, kau dapat dari mana?” tanya Kai lalu mulai menyeruput kuah ramyeonnya.

“Tidak perlu menggantikan uang segala. Mmm, itu, aku kan sering mengobati orang yang cedera, yaitu teman oppaku. Dia sangat sering cedera dan pasti akan datang ke sini untuk minta diobati.” jawab Jin Hyeon kemudian duduk di seberang Kai dan Sehun.

“Ah, apakah dia seorang artis?” balas Kai.

“Hmm, iya.” Jin Hyeon membalas perkataan Kai dengan ragu.

“Siapa?” Sehun sekarang yang bertanya.

“Tidak perlu tahu. Kata oppaku tidak boleh memberitahukan identitasnya,” balas Jin Hyeon ketus. Ia masih kesal jika berha

“Ah, privasi,” gumam Kai.

“Kalau begitu lebih baik cepat dihabiskan ramyeonnya sebelum mengembang,”

“Ah, ne~”

Gamsahae-yo untuk pengobatan dan ramyeonnya,” ucap Kai beterima kasih.

“Ah, gwaenchana. Aku kan hanya sedikit membantu,” balas Jin Hyeon diselingi dengan senyuman.

“Hm, aku juga ingin minta maaf atas perlakuan Sehun, dan ingin mewakilinya berterima kasih,” ucap Kai.

“Ah, gwaenchana, oppaku juga tipe orang yang menyebalkan seperti dia,” balas Jin Hyeon tersenyum kaku.

Saat ini Sehun sedang berbicara di telefon dengan Baekhyun, jadi kemungkinan besar dia tidak mndengar apa yang dibicarakan Kai dan Jin Hyeon.

“Kalau begitu, kami pamit pulang, sudah larut. Jalja-yo” kata Kai pamit.

“Ah, ne. Semoga kalian cepat sembuh. Jaga diri kalian baik-baik,”

***

“Kau itu! Besok kau harus berterima kasih! Dia itu sudah baik sekali tahu!” ujar Kai menceramahi Sehun di van.

Aish! Sudahlah Kai! Kalau kau ingin menceramahi anak itu, besok saja denganku!” ucap Baekhyun menginterupsi.

Aish, tapi dia itu sangat dingin, hyung. Aku juga akan marah kalau jadi gadis itu! Untung saja gadis itu baik!” racau Kai kesal.

“Tapi, memangnya kalian mengenal gadis itu?” tanya Baekhyun penasaran.

Haissh! Sudah kubilang berapa kali hyung. Dia itu tidak kenal dengan kami! Sama sekali!” ujar Kai heran.

“Hm… Tapi kau yakin kan, Kai, dia tidak akan menjual cerita ke wartawan? Walaupun dia tidak mengenal kalian, bisa jadi ia melakukan hal itu,” kata  Baekhyun.

Aissh! Aku lupa tentang hal itu,” ujar Kai menjawab pertanyaan berharga Baekhyun.

“Kalian tenang saja, hyung. Besok aku akan ke sana, berterima kasih dan memastikan agar ia tidak menjual cerita ke wartawan,” tiba-tiba Sehun berujar.

Paginya, di ruang makan,

Uri Sehun tidak apa-apa?” tanya Luhan khawatir.

“Ah, gwaenchana, hyung. Ponselku masih ada padamu, kan?” balas Sehun.

Ne, tunggu sebentar, aku ambilkan,” Luhan beranjak menuju ke kamarnya untuk mengambill ponsel milik Sehun.

Kemudian suara pintu terbuka dari arah lain mengalihkan pandangan Sehun dari Luhan. D.O. Ia berjalan ke arah dapur.

“Kau sudah kembali? Apa kau baik-baik saja?” tanya D.O seraya melewatinya untuk mengambil minum.

Ne. Nan Gwaenchana,” balas Sehun seraya melihat perban di kakinya.

Mianhae Sehun-ah,” ucap D.O yang sudah berada di seberang meja makan Sehun. “Sudah memberitahukan cederamu kepada member lain,”

Gwaenchanayo, hyung. Ternyata tidak baik juga menyembunyikan suatu hal dari orang yang dekat dengan kita,” balas Sehun bijak.

“Aku tidak tega melihatmu kesakitan terus setelah latihan,” ujar D.O prihatin.

“Tapi sekarang sepertinya dia lebih baikan, bukan?” ucap Luhan yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Sehun. “Ini ponselmu. Banyak panggilan dan SMS,” lanjut Luhan.

Gomawo,” ucap Sehun pelan. Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban.

Hyung, nanti kita latihan lagi?”tanya D.O.

“Tidak, sepertinya kita akan mengunjungi SHINee Sunbae-nim,” jawab Luhan.

“Ah, Sherlock ya?” tebak D.O.

“Iya, sekalian menengok Key-ssi yang sedang cedera juga,” balas Luhan. “Kau tidak ada acara kan, Sehunnie?” tanya Luhan kepada Sehun. Sehun sedikit meringis saat Luhan menyebutkan namanya seperti itu. Sehunnie.

Hyung! Aish, mian. Aku tidak ikut, aku ada acara. Tapi akan aku usahakan untuk pulang cepat,” balas Sehun.

“Berarti hanya bersebelas? Kenapa uri Sehunnie tidak ikut?” rengek Luhan seperti anak kecil.

“Aku ada urusan, karena kemarin aku belum mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah mengobatiku.” jelas Sehun.

Ne. Kau harus jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai cedera lagi,” balas Luhan yang mulai khawatir.

“Kalau begitu, ayo kita panggilkan member yang lain. Sudah waktunya sarapan! D.O kau ambil susu dan koran di bawah,” suruh Luhan.

Ne, hyung,” tanggap D.O. Ia berlalu kemudian hilang di balik pintu depan.

“Ayo, kubantu berdiri,” ajak Luhan kepada Sehun.

Ne,”

“Apa tidak ada ramyeon?” rengek Suho.

Ani-yo! Tidak ada ramyeon lagi. Arasseo, hyung?” ucap Baekhyun kemudian memasukkan nasi dengan sumpit ke mulutnya.

“Aku agak mual kalau makan nasi!” lagi-lagi Suho merengek seperti bocah.

Aish, sudahlah hyung! Makanlah yang ada. Kau mengganggu suasana pagi yang tenang saja,” ujar Baekhyun sambil mengunyah makanannya.

Akhirnya Suho menyerah dari perdebatan dan mulai mengambil nasi, yang tua itu yang harus mengalah.

Yak! Kai-ya, Sehun-ah, dari mana saja kalian kemarin, huh?” tanya Suho sebelum memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Astaga! Ia ingin muntah melihat nasi itu!

Mian hyung. Kami pergi mengobati cedera,” jawab Kai sambil tetap mengunyah makanannya.

“Kalian ke rumah sakit?” tanya Suho lagi. Leader ini seperti orang tua saja.

Ani-yo, aku dan Sehun pergi ke rumah… ke rumah teman!” ucap Kai seraya  berebut daging dengan D.O.

Yak! Itu dagingku!” ujar D.O setelah Kai yang berhasil merebutnya. Kai tidak menggubrisnya dan terus melanjutkan makan.

“Teman? Siapa? Yang mana?” tanya Suho beruntun.

Hyung, jangan tanyakan di saat-saat sarapan begini,” ujar Baekhyun menginterupsi obrolan Suho dan Kai. Pagi-pagi sudah ribut itu tidak baik.

“Sudah tidak apa-apa hyung. Aku pergi ke teman wanitaku,” jawab Kai.

“Teman wanita? Woo, yeojachingu-mu?” ceplos Chanyeol tiba-tiba.

BRAKK

Terdengar suara hentakan sumpit yang sengaja dijatuhkan di meja. Semua menengok ke arah sumber suara. Sehun.

“Apa aku salah bicara?” tanya Chanyeol seraya menyenggol lengan D.O yang ada di sebelahnya.

Molla-yo,” balas D.O seraya tetap mengunyah makanannya.

“Jangan membuat suara gaduh, Sehun-ah,” Xiumin yang sudah selesai makan angkat bicara dari arah westafel.

Tiba-tiba Tao berbicara dengan aksen Mandarinnya kepada Luhan. “Dia kenapa?”

Luhan membalas dengan gelengan.

“Aku sudah selesai makan. Aku pamit pergi dulu,” Sehun beranjak dari kursinya kemudian berjalan agak tertatih—mengingat kakinya belum sembuh benar—ke kamarnya. Beberapa menit kemudian dia sudah keluar dengan jaket dan topinya.

“Sehun-ah, makananmu masih banyak! Habiskan dahulu,” teriak D.O dari ruang makan.

“Aku sedang malas makan, hyung. Kau saja yang habiskan. Aku pergi dulu, annyeong,”

Heish! Kalau begitu hati-hati di jalan, O?” teriak D.O.

Ne!” Sehun balas teriak.

“Nah, Kai, karena Sehun pergi. Kita introgasi kau saja, ya?”

***

“Ya Tuhan! Berat sekali kantong belanjaan ini! Aku tidak ingat membeli sebanyak ini,” Jin Hyeon mengeluh seraya berjalan menaiki anak tangga menuju rumahnya.

Haish, aku menyesal membeli banyak sayuran,” lanjutnya meracau.

Ia berjalan sambil keberatan membawa belanjaan dan ia tidak sadar kalau ada orang di depannya.

“Ah, jeosonghamnida,” Jin Hyeon meminta maaf seraya membungkuk, kemudian ia melihat orang yang ditabraknya. Ahjumma yang tinggal di sebelah rumahnya.

“Kalau jalan hati-hati,” balas ahjumma itu sinis.

Jin Hyeon menurunkan belanjaannya dan mencoba meminta maaf lagi.

Jeosonghamnida, ahjumma,”

“Ah, kau itu anak di sebelah rumahku itu, ya? Yang membawa dua namja masuk ke dalam rumah?” tanya ahjumma tajam. “Jadi ini perlakuan gadis jaman sekarang? Membawa lelaki masuk ke dalam rumah? Cih, murahan sekali.” Jin Hyeon terperangah saat mendengar ucapan ahjumma itu.

Mianhamnida ahjumma, tapi tolong jangan ikut campur,” balas Jin Hyeon yang tidak terlalu suka dengan ucapan ahjumma ini.

“Anak jaman sekarang benar-benar murahan!” hujam ahjumma itu kepadanya.

Ahjumma, tolong jaga bicaramu!” tiba-tiba seseorang berdiri di depan Jin Hyeon dan mencoba membela Jin Hyeon.

“Sehun-ssi?” ucap Jin Hyeon terkejut.

“Cih! Pacarnya sudah datang,” balas ahjumma itu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

Sehun menatap Jin Hyeon yang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mata Jin Hyeon mulai memerah, Sehun yang melihatnya hanya bisa menghela napas. Dengan sisa kekuatan yang dimiliki, Jin Hyeon mengambil kembali belanjaannya dan mulai berjalan menuju rumahnya, tapi tidak sampai beberapa detik, Sehun mencekal pergelangan tangannya yang sekaligus menghentikan langkahnya. “Sini, aku bawakan,”

“Kenapa kau bisa di sini?” tanya Jin Hyeon kemudian menaruh segelas teh hangat di meja ruang tamu.

“Aku… Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu,”—Jin Hyeon menyeringai—“Aku serius! Dan aku juga ingin meinta maaf kepadamu karena aku sudah bersikap menyebalkan,” ucap Sehun.

Terdengar gumaman seperti, ‘Itu harus,’ lalu, ‘Itu memang benar.’ saat Sehun berbicara tadi.

“Ah, gwaenchana. Aku sering menghadapi orang sepertimu,” balas Jin Hyeon sambil berusaha tidak mencibir Sehun.

“Kau ke sini sendiri?” tanya Jin Hyeon.

“Seperti yang kau lihat,” jawab Sehun.

Hening selama beberapa saat. Ternyata mereka berdua masih kaku.

Untuk menghilangkan kegugupannya, Sehun mengambil tehnya agar tenggorokannya tidak terlalu kering.

“Masalah yang tadi, aku ingin berterima kasih,” ucap Jin Hyeon.

Sehun agak terekat dan terbatuk kecil kemudian memutuskan untuk menaruh tehnya di meja lagi.

“Gwaenchana! Lagipula, ahjumma itu juga sudah keterlaluan,” balas Sehun menanggapi. “Lagipula, seharusnya aku yang meminta maaf. Aku dan Kai hyung sudah masuk ke rumahmu dan semuanya jadi seperti tadi.” lanjut Sehun.

“Tidak! Ahjumma itu saja yang memang begitu.” Jin Hyeon mencoba menggunakan nada akrab untuk berbicara kepada Sehun.

“Tapi, menurutku ahjumma itu tidak sepenuhnya salah,” ucap Sehun tiba-tiba.

“Jadi maksudmu—” kata Jin Hyeon tercekat.

“Ani, bukan itu maksudku. Maksudku adalah, kau membawa dua lelaki sekaligus masuk ke dalam rumah. Apa menurutmu itu tidak berbahaya?” tanya Sehun mulai memajukan tubuhnya ke arah Ji Hyeon.

Ya! Ma… mau apa kau, huh? Kan wak… waktu itu kau sedang sakit. Ja… Jadi tidak salah bukan kalau aku membantumu?” tanya Jin Hyeon terbata.

Sehun makin memajukan tubuhnya hingga hampir merapat ke tubuh Jin Hyeon. Jin Hyeon yang didekati makin salah tingkah. Ia harus memikirkan cara agar bisa terlepas dari Sehun. Tuh kan, ternyata Sehun baik karena ada maunya.

DUK!

“Aw! Neo! Jinjja!” eluh Sehun kesakitan.

“Jangan macam-macam kau! Ka… Kalau kau macam-macam, kau akan kupukul lagi!” kata Jin Hyeon sambil tetap memegang frame foto—benda yang digunakan untuk memukul Sehun.

Yak! Kenapa tidak pakai batu sekalian, huh?” teriak Sehun kesal. Ia masih mengelus kepalanya yang sakit.

“Ti… tidak ada batu di sini! Jadi pakai ini saja.” Jin Hyeon menanggapi omongan Sehun yang hanya bergurau.

Haish! Sakit sekali!” eluh Sehun kesakitan.

Tiba-tiba, darah mengalir tetes demi tetes dari kepala Sehun.

“Waa! Sehun-ssi, kau berdarah!” teriak Jin Hyeon.

“Menurutmu karena siapa aku begini, huh?”

***

Hyung!” dari jauh D.O berteriak—mencoba—memanggil Baekhyun.

Hanya mengikuti naluri, Baekhyun menengok ke belakang kemudian menanggapi panggilan D.O. “Ne?”

D.O berjalan pelan menghampiri Baekhyun, sampai akhirnya ia sudah di dekat Baekhyun.

“Lusa kita pembuatan MV lagi. Tapi ini yang di ruangan biru.” D.O memberi Baekhyun topi yang dipinjamnya. “Gomawo,” lanjut D.O kemudian menyerahkan topi itu.

Ne. Ah, berarti hari ini harus latihan?” tanya Baekhyun sambil mengajak D.O berjalan beriringan.

Ne,” balas D.O.

“Kalau begitu, ayo kita ke rapat EXO,”

Rapat EXO-K…

“Jadi saat pembuatan MV itu ada tiga sesi. Yaitu, saat dance per enam member, kemudian semua member EXO dan terakhir sesi pengambilan gambar per member,” jelas manajer hyung. “Ada yang belum jelas?” tanya manajer hyung.

“Kapan kita akan debut?” tanya Kai. Itu sudah pertanyaan ke sekian kali yang ia ajukan setiap rapat EXO didakan.

“Para leader sudah mengetahui kapan akan debut, tapi untuk anggota member lainnya mungkin belum dulu, takutnya akan terjadi perubahan jadwal lagi,” balas manajer.

“Sudahlah Kai, jangan pikirkan kapan kita debut. Yang penting adalah persiapanmu,” ujar Suho.

Ne, itu betul.” manajer ikut menimpali.

“Untuk Kai dan Sehun, jaga diri kalian baik-baik. Jangan sampai cedera lagi,” ujar manajer.

Ne,” teriak Kai menanggapi.

“Sudah, sampai di sini saja rapatnya. Selamat Siang,” ucap manajer kemudian menghilang di balik pintu.

“Hm, Sehun belum kembali?” tanya Suho kepada member lainnya.

“Yah, seperti yang kau lihat sekarang, hyung. Dia tidak di sini. Masih mengurus urusannya,” jawab D.O.

“Hm, apa ia ke tempat orang yang mengobatimu, Kai?” tanya Baekhyun sambil meletakkan kepalanya di atas meja.

“Ne. Sepertinya begitu, hyung. Kemarin kan dia yang bilang sendiri, dia akan ke sana,” balas Kai.

“Lama sekali. Sampai tengah hari begini!” ucap Baekhyun.

Suho menoleh ke arah Baekhyun yang mengatakan hal itu. Ia teringat orang tuanya yang suka memperingatinya karena terlalu lama bersama pacar dan jarang membantu orang tua.

“Hm, sepertinya Sehun menyukai si penyelamatnya, hyung.” Kai berkata pelan.

Mwo? Jinjja?” teriak Baekhyun kaget.

Ne. Kemarin, setelah Luhan Hyung, Suho Hyung, Baekhyun Hyung, dan D.O Hyung menelfonku, aku kembali masuk ke dalam rumah penyelamatku. Kemudian aku melihat mereka jatuh bersamaan dan hampir berciuman. Woo~” kata Kai menjelaskan apa yang sempat dilihatnya kemarin.

Jinjja?”

***

“Aa… aw! Sakit,” eluh Sehun seraya bergerak-gerak.

“Tunggu sebentar, jangan banyak bergerak! Sulit untuk mengobatinya,” ujar Jin Hyeon seraya mengobati luka di kepala Sehun.

Aish! Itu sangat sakit, kau tahu?” balas Sehun sambil meringis menahan sakit.

“Iya, iya, aku tahu itu sakit. Tapi kau jangan bergerak sebentar saja,” Jin Hyeon tetap tertuju kepada luka Sehun yang terus mengeluarkan darah karena Sehun terlalu banyak bergerak saat diobati. Namun akhirnya setelah lima belas menit, Sehun sudah selesai diobati.

Aish, aku lelah sekali! Mengobatimu itu seperti mengobati anak kecil!” ucap Jin Hyeon kemudian duduk di sebelah Sehun yang sedang mengelus-elus kepalanya.

“Kau ingin merasakan apa yang kurasakan?” tanya Sehun kemudian mendesis.

Aniyo! Tapi kan ini semua salahmu! Kau itu suka sekali menggangguku! Kau lebih menyebalkan di bandingkan oppaku. Kalau kau tadi tidak menggangguku aku kan tidak perlu memukulmu.” Jin Hyeon mencoba membela dirinya sendiri.

 

Sehun terperangah mendengar pernyataan Jin Hyeon. “Apa tidak bisa lebih manusiawi lagi, huh? Kau itu suka sekali kekerasan, ya?” tanya Sehun.

“Huh! Terserahlah. Yang jelas, aku minta maaf atas kejadian itu.” ucap Jin Hyeon meminta maaf. “Ya Tuhan! Aku lapar sekali,” lanjut Jin Hyeon kemudian mendesah kelaparan.

“Aku juga lapar! Yak! Pendek, ayo traktir aku!” teriak Sehun kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya.

Aish! Mana bisa seperti itu! Seharusnya aku yang kau traktir! Aku ‘kan sudah mengobatimu! Memangnya kau belum sarapan?” sanggah Jin Hyeon.

Yak! Menurutmu siapa yang sudah membuat calon artis terkenal sepertiku ini terluka, huh?” balas Sehun tak mau tahu. “Sudah, ayo traktir aku ke restoran China,” ajak Sehun lalu menarik Jin Hyeon bangkit.

“Aku tidak terlalu suka masakan China! Lagipula seharusnya calon-artis-terkenal itu sudah disediakan makanan di dormnya! Huh!”

***

“Key, kau baik-baik saja bukan?” tanya Jinwoon khawatir.

Yak! Kau tahu kan aku kuat? Aku baik-baik saja. Mungkin hanya perlu perawatan dari adikmu,” balas Key mencoba memberi konfirmasi ke Jinwoon bahwa ia baik-baik saja.

“Hm, sudah jangan bahas tentang adikku. Ya! Besok aku akan ke sana, kau ikut?” tanya Jinwoon sambil tiduran di ranjang milik Key.

“Ke rumahmu? Aku ikut ya? Aku sudah lama tidak melihatnya,” balas Key sambil memainkan ponselnya.

“Hm, ne,” ucap Jiwoon memperbolehkan.

Di saat Jinwoon ingin memejamkan mata sejenak, terdengar suara bel. “Sana bukakan pintu!” ujar Key kepada Jinwoon.

“Apakah harus aku?” Jinwoon balas bertanya.

Yak! Kau kira aku bisa berjalan dengan benar untuk membukakan pintu, huh? Lagipula di dorm SHINee hanya ada kita berdua.” Key mendorong tubuh Jinwoon agar turun dari ranjangnya.

“Iya, iya.” Jinwoon dengan pasrah menuruti kemauan Key.

Jinwoon berjalan cepat keluar dari kamar Key dan menuju pintu depan. “Ne, tunggu sebentar,”

“Eh, jeosonghamnida. Kami salah tempat,” ucap orang yang tak lain adalah Baekhyun. Ia kaget saat melihat yang membukakan pintu adalah Jinwoon 2AM.

“Jika kalian mencari dorm SHINee, kalian tidak salah,”

***

“Sepertinya aku tadi menyeretmu ke Restoran China. Kenapa kita berakhir di restoran Korea?” tanya Sehun kesal.

“Aku belum sarapan. Jadi lebih baik makan bubur terlebih dahulu,” ucap Jin Hyeon menjelaskan.

“Memangnya kau kira di Restoran China tidak ada?” tanya Sehun skeptis.

Yak! Kau itu! Aku sebenarnya lebih suka masakan Korea daripada masakan luar negeri,” jawab Jin Hyeon kemudian melajutkan memaka buburnya.

Hening kemudian, yang ada hanyalah ketukan sendok dari Jin Hyeon. Melihat Jin Hyeon yang makan, Sehun jadi ingat Suho. Tadi sang leader mengeluh tentang menu makanan tanpa ramyeon.

Yak! Apa benar, kau tidak tahu EXO?” tanya Sehun tiba-tiba.

Ne. Aku tidak kenal EXO. Aku jarang menonton televisi atau surfing di internet,” jawab Jin Hyeon yang masih tertuju pada buburnya.

“Kau sudah selesai makan, bukan? Sini kuberi tahu siapa saja itu EXO.” kata Sehun sambil mencoba mengambil Galaxy Tab miliknya dari tas.

“Tidak perlu,” balas Jin Hyeon setelah meneguk air mineralnya.

Sehun berpura-pura tidak mendengar omongan Jin Hyeon dan mulai berjalan ke arah Jin Hyeon yang ada di seberangnya.

“Terserah apa jawabanmu, yang pasti kau harus tahu siapa itu EXO,” setelah sampai Sehun duduk di sebelah Jin Hyeon dan memasangkan headset di telinga kiri Jin Hyeon.

“Kau ingin melihat member Korea dahulu atau yang Mandarin?” tanya Sehun.

“Kalau yang Korea pasti ada kau. Aku ingin lihat yang Mandarin dahulu,” jawab Jin Hyeon yang membuat Sehun kesal.

Sehun menklik folder foto member EXO-M kemudian memberi tahu semua  nama member kepada Jin Hyeon dengan sabar. Hingga akhirnya, foto terakhir itu memperlihatkan wajah Luhan yang sedang menghadap ke arah luar jendela.

“Aku suka orang ini,” ucap Jin Hyeon tiba-tiba.

Mwo?” Sehun terkejut mendengar pernyataan Jin Hyeon.

Curious – Part 2, End

–Preview Next Part:

“Kau, mantan pacar adikku, bukan?”

Ne, mianhae,”

“Bagaimana bisa aku selalu berhubungan denganmu?”

“Woo… Wooyoung oppa?”

“Sssst, kumohon diamlah,”

“I… iya. Tap… tapi bagaimana bisa?”

“Ini sebenarnya masalah sepele, tetapi kumohon, kau untuk diam terlebih dahulu,”

“Ada apa dengan wajahmu? Kau habis berkelahi, ya?”

Aniyo,”

“Kai-ssi,”

“Kau… tidak memiliki ponsel?”

“Tidak, aku tidak terlalu membutuhkannya,”

“Tapi sekarang kau mebutuhkannya,”

“Aku menyukainya,”

Ne?”

Preview Next Part End—

NOTE: Kalau ada keluhan/bash atau hal yg mau diomongin, contact aja ke  e_sparkyu@ymail.com

R.C.L!

13 pemikiran pada “Curious (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s