For You (Chapter 8)

Author: Nisha_gaem407

Main Cast: Baekhyun & Chanyeol

Genre: Romance/Friendship/School Life

AN: Annyeong!!! FF Chapter ini special Baekhyun’s birthday ^^ … Hohoho

Hyerin menatap lurus pada arah langit-langit kamarnya. Dirinya masih bertanya-tanya tentang apa yang dilihatnya pada kalender tadi. Benarkah dua hari lagi adalah hari ulang tahun Baekhyun?

“Aish!! Tak mungkin jika aku menanyakan hal ini langsung padanya.”

Walaupun ia bingung, disatu sisi ia juga mempunyai banyak bukti yang menunjukkan bahwa memang Baekhyunlah orangnya. Yang pertama, hanya lelaki itu yang tinggal di apartemen ini, tak ada yang lain. Kedua, inisial BB pada catatan di bagian sudut kalender yang dilihatnya, bisa saja inisial itu berarti Byun Baekhyun bukan?! Tapi masih ada satu hal yang membuat dirinya bimbang, mungkin saja pada tanggal itu Ibu atau ayahnya yang berulang tahun.

Aku harus menanyakannya pada bibi!’ Dengan cepat ia berlari keluar kamar menuju telepon rumah yang berada pada ruang tengah. Tanpa membuang waktu ditekannya nomor handphone milik Ibu Baekhyun yang sudah dihafalnya luar kepala. Dalam hatinya ia hanya berharap, semoga saja Baekhyun telah tertidur dan tak mendengar pembicaraan ini.

TUT…TUT…

Tak cukup lama ia menunggu, teleponnya terjawab. Memperdengarkan suara seorang wanita paruh baya yang akan menjawab seluruh pertanyaan yang memenuhi pikirannya.

***

-Esok harinya-

“Hey bayi!” Keheningan dalam mobil putih yang sedang berjalan mulus di atas aspal terpecahkan oleh suara panggilan untuk sang pengemudi dari seorang gadis yang berada tepat di sampingnya.

“Hm?”

“Sepertinya aku tak bisa pulang denganmu hari ini.” Kepala Baekhyun -sang pengemudi yang sedari tadi menghadap lurus ke depan memperhatikan jalanan kini teralihkan untuk menatap Gdis yang duduk di sampingnya itu.

“Kenapa?”

“Um… Ada sesuatu yang harus kulakukan.”

“Sesuatu? Boleh aku tahu?”

“Tentu saja…TIDAK BOLEH!” Senyuman pada wajah Baekhyun saat mendengar kata ‘tentu saja’ segera tergantikan dengan wajah cemberut ketika kata akhirnya tidak sesuai dengan yang diduganya.

“Ayolah Hyerin-ah~… Siapa tau aku bisa mengantar-,”

“TIDAK! TIDAK BOLEH!

“Baiklah… Tapi hati-hati! Ok?” Sedikit kecewa memang ketika mendengar Hyerin yang menggebu-gebu tak mengizinkannya untuk tahu, tapi apa boleh buat?! Mungkin saja memang Hyerin ada keperluan yang sangat penting atau bisa saja itu adalah privasi seorang gadis?! Entahlah…ia tak mau terlalu memikirkannya.

“Ok!”

Setelah itu sisa perjalan mereka kembali diisi dengan keheningan, sampai mobil putih milik Baekhyun telah terparkir sempurna pada parkiran sekolah mereka.

“Pagi!” Hampir saja kepala Hyerin terjedot pada atap mobil karena kaget dengan suara seseorang yang kelewat ceria tepat di belakangnya saat baru menginjakkan satu kakinya ke tanah, begitupun juga yang terjadi dengan Baekhyun. Mereka segera turun sempurna dan menutup pintu mobil lalu sama-sama  menoleh untuk melihat siapa pelakunya dan mendapati Jiyeon tengah berdiri dengan senyuman polos pada wajahnya.

Annyeong Hyerin-ah~… Ah! Annyeonghaseyo sunbae.” Jiyeon langsung saja membungkukkan badannya dalam begitu menyadari Baekhyun juga berada disana, yang tentu saja dibalas anggukan dan senyuman kecil dari Baekhyun.

“Kau teman Hyerin?”

Ne sunbae.”

“Um… Aku titip Hyerin padamu kalau begitu.” Jiyeon hanya mengangguk mengiyakan seraya melirik Hyerin yang sedari tadi diam. Untung baginya Hyerin juga tengah melirik ke arahnya, jadilah ia menggoda Hyerin dengan memberikan sebelah kedipan mata. Respon Hyerin? Tentu saja yang ia bisa lakukan sekarang hanya memberikan death glare dan ia bersumpah, jika saja Baekhyun sudah pergi, gadis itu akan mendapatkan satu jitakan darinya.

“Aku ke kelas hm? Dan terimakasih um….-,”

“Jiyeon, Park Jiyeon.”

“Ok! Sampai jumpa kalau begitu.”

Sepertinya Hyerin tak main-main, karena begitu Baekhyun telah berada jauh beberapa meter, terdengar ringisan kecil.

“Kenapa kau menjitakku?!”

“Pikirkan sendiri jawabannya Park Jiyeon~…” Bibir Jiyeon yang sebelumnya cemberut karena menerima jitakan maut milik Hyerin, sekarang menjadi lebih cemberut.

“Ayo ke kelas! Ah ya, kau terlihat jelek jika cemberut seperti itu.” Jiyeon ingin membalas, tapi Hyerin lebih cepat menariknya untuk berjalan menuju kelas mereka. Dan alhasil, ia melupakan niat awalnya untuk membalas jitakan temannya itu.

“Jiyeon-ah, biasa kau temani aku membeli sesuatu pulang sekolah nanti?”

“Um….” Berpikir sejenak dahulu dirinya sebelum melontarkan kata ‘ok!’ kepada Hyerin. Lagipula ia juga ingin merasakan, bagaimana rasanya berjalan-jalan dengan teman barunya.

***

Baekhyun menatap bosan guru sejarahnya yang entah mengajarkan materi apa, ia sendiri juga tak tahu. Sedari tadi yang ia lakukan hanya melamun memandangi ke luar jendela.

KRING…KRING…

Lamunannya tersadarkan oleh suara bel yang berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran pertama telah habis dan digantikan dengan jam istirahat.

Siswa lain telah bubar, hanya tinggal dua orang saja di kelasnya, siswa baru bernama Park Chanyeol yang notabene duduk di sampingnya dan juga dirinya sendiri.

“Lama tak bertemu hm?” Tubuhnya tiba-tiba saja menegang. Suara itu, ia tak menyangka pemilik suara itu akan menyapanya. Ingin rasanya ia melarikan diri sekarang, tapi niatnya terhenti begitu ada suara seorang gadis yang sudah sangat dikenalnya sebagai suara Hyerin memanggilnya dari arah pintu kelas.

“Bayi, kau mau makan bersamaku?”

“Ssh! Jangan memanggilku bayi di sekolah Song Hyerin!” Hyerin tak memperdulikan umpatan kecil apa lagi yang diucapkan Baekhyun padanya, ia malah berjalan menuju pada sudut kanan belakang kelas –tempat dimana Baekhyun berada.

Oppa, kau tak bilang jika kau duduk bersama bayi.”

“Kau tak bertanya padaku Hyerin-ah.” Suara Chanyeol yang duduk tepat di sampingnya membuatnya mengerutkan dahi.

Mereka saling kenal?

“Bayi, kau mau makan bersamaku?” Hyerin berkata seraya menunjukkan bekal yang dibawanya. Baekhyun hanya mengangguk, tapi pikirannya masih melayang memikirkan seberapa dekatkah Chanyeol dan Hyerin, sampai-sampai gadis itu memanggilnya ‘oppa’?

Oppa juga mau?”

“Tentu saja.” Chanyeol bergerak cepat untuk mengambil kursi kosong yang entah milik siapa, sebelum Hyerin melakukannya.

“Gomawo.”

KRIET…

Baru saja Hyerin akan membuka bekalnya, terdengar suara derit kursi yang ternyata adalah milik Baekhyun. Ia mengernyit heran melihat Baekhyun yang beranjak dan pergi keluar kelas. Sudah ia coba untuk memanggil, tapi sama sekali tak mendapat balasan.

“Mana Jiyeon?” Chanyeol bertanya, mencoba menarik kembali perhatian Hyerin yang masih tertuju pada pintu kelas, tempat dimana Baekhyun menghilang dan sepertinya itu berhasil, melihat Hyerin yang sekarang kembali melanjutkan aktifitasnya untuk membuka bekal yang dibawanya dan memberi sepasang sumpit pada Chanyeol.

“Jiyeon? Sebenarnya tadi aku ingin makan bersamanya, tapi dia ada meeting dengan teman-teman club fotografinya.”

Club fotografi?”

“Ya, salah satu ekstrakurikuler di sekolah ini.” Sebagai jawaban Chanyeol hanya mengangguk dan mulai mencicipi sushi milik Hyerin. Beberapa detik ia meresapi rasa sushi itu dan akhirnya tersenyum, “Ini..kau yang memasaknya?”

“Tentu saja. Enakkah?”

“Sangat. Lain kali buatkan untukku lagi eoh?”

“Ok!”

***

“Jiyeon-ah…” Suara Hyerin yang memanggilnya membuatnya menoleh. Sebenarnya ia sedang asik memilih strap handphone yang lucu pada salah satu etalase di dalam toko pernak-pernik ini, tapi sepertinya Hyerin yang berada di sudut lain toko sedang membutuhkan bantuannya.

“Ada apa?”

“Menurutmu yang mana harus kupilih?”

Awalnya Jiyeon bingung dan ingin bertanya ketika Hyerin mengajaknya untuk masuk pada salah satu toko pernak-pernik di mall tempat mereka berada sekarang, tapi ia mengerti sekarang.

“Kau ingin membeli hadiah untuk seseorang?”

“Kelihatannya seperti itu kah?” Ingin rasanya Jiyeon menjitak kepala temannya itu. Ia bertanya, tapi malah dibalas oleh pertanyaan. Oh…sepertinya ia butuh kesabaran lebih untuk menghadapi sikap teman barunya yang terlihat sedikit evil.

“Ya, ya… terlihat sangat jelas.”

“Itu tak penting! Yang penting sekarang, mana yang paling bagus?” Kali ini Hyerin menyodorkan kedua benda itu tepat di depan wajah Jiyeon.

Jiyeon menopang dagunya dengan jari telunjuk, mencoba untuk memilih mana yang paling bagus diantara kedua benda yang ditunjukkan oleh Hyerin. Dan hasil akhirnya ternyata membuat Hyerin tersenyum puas.

Sepertinya ini memang benar-benar cocok untuknya~…

“Ok! Aku ambil yang ini. Um…kau mau membeli sesuatu?”

“Yeah..tunggu aku dikasir hm?”

“Yap.” Jiyeon berbalik arah menuju pada etalase strap handphone lucu yang dilihatnya tadi, meninggalkan Hyerin yang kembali terpaku memperhatikan benda yang ada dalam genggamannya itu.

Sungguh Hyerin sangat berterimakasih pada Ibu Baekhyun yang membuat semua pertanyaan dalam pikirannya terjawab. Jika ia tidak mendapatkan info apapun, tak mungkin ia berada di tempat ini sekarang, membeli sesuatu untuk dijadikan hadiah spesialnya untuk Baekhyun.

***

23.40

Begitulah angka yang tertera pada jam dinding pada ruangan santai yang membuat gadis itu mendesah pelan, “Dua puluh menit lagi.”

Jujur saja, saat ini matanya terasa sangat berat. Tapi hatinya terus berkata dan mensugesti dirinya sendiri agar tak tidur sampai waktunya tiba.

Lagipula suara TV di ruang tengah masih terdengar, yang berarti Baekhyun belum tidur dan itu mempermudah dirinya untuk memberikan kado tepat pada waktunya.

Tapi lima menit setelahnya, tak di dengarnya lagi tanda-tanda suara TV masih dinyalakan .

“Apa dia sudah masuk ke kamar?” Tapi jika memang iya, kenapa ia tak mendengar suara derit pintu yang terbuka?

Daripada penasaran, akhirnya Hyerin memutuskan untuk mengintip dari celah pintu yang sedikit dibukanya, mengecek apakah benar Baekhyun telah memasuki kamarnya atau belum.

Matanya menyusuri tiap-tiap sudut ruangan yang terlihat, tapi kosong, tak ada Baekhyun disana.

“Mungkin dia memang sudah masuk ke kama-,” Gumaman kecilnya terhenti tepat bersamaan dengan matanya yang menangkap sosok yang dicarinya pada balkon yang terhubung dengan ruang tengah. Pantas saja ia tak dapat melihat Baekhyun sebelumnya, karena balkon itu dibatasi oleh sebuah tirai berwarna putih. Jika saja angin tak bertiup kencang dan tak menerbangkan tirai itu, mungkin ia akan memberikan hadiahnya pagi nanti.

Tanpa menunggu lagi, ia segera menghampiri Baekhyun, tak lupa dengan membawa hadiahnya tentu saja. Bersyukur kadonya bisa ia masukkan di dalam kantung celananya. Jadi, tak perlu ketahuan oleh Baekhyun sebelum waktunya tiba.

“Sedang apa?” Bisa dilihatnya Baekhyun sedikit terlonjak kaget karena sapaannya, tapi dengan segera bisa menguasai dirinya kembali, “Melihat bintang.”

Hyerin hanya mengangguk sambil menempatkan dirinya berdiri di samping Baekhyun, ikut memperhatikan bintang yang bertaburan di atas sana.

“Kenapa belum tidur?” Baekhyun menoleh pada Hyerin heran karena yang ia tahu, selama Hyerin tinggal bersamanya, tak pernah ia mendapati gadis itu tidur larut malam.

“Kau sendiri?”

“Aku? Um…menunggu sesuatu.”

TING…TONG…

Suara jam yang bergema di ruang tengah berbunyi nyaring, seolah meneriakkan hari telah berganti.

“Menunggu hari ini bukan?! Selamat ulang tahun bayi.”

“K-kau tahu darimana?” Sudah bisa ia tebak ekspresi yang akan ditunjukkan Baekhyun akan seperti ini –menoleh padanya dengan pandangan kaget dan tak percaya.

“Kau mau tahu? Tebak saja sendiri~…”

“Ya ya ya… Anyway, thanks.”

“Ah! Hampir saja aku lupa.” Kali ini Baekhyun lebih terbelalak lagi ketika melihat sebuah kotak beludru biru kecil yang baru saja Hyerin keluarkan dari kantungnya.

“Untukmu.”

Diambilnya kotak kecil itu dari tangan Hyerin, memperhatikannya secara detaill dan mencoba menebak isinya.

“Buka saja!”

Baekhyun menurut dan melihat sesuatu yang berkilauan ketika ia membuka kotak itu.

“Kalung?”

“Ya, bandulnya akan bersinar dalam kegelapan. Kau takut gelap bukan? Meskipun cahayanya tak begitu besar, tapi mungkin itu bisa mengurangi sedikit ketakutanmu.” Entah kenapa Hyerin merasa perasaan senang membuncah dalam dirinya melihat senyum pada wajah Baekhyun yang masih memperhatikan kalung itu.

GREP

Hyerin tak bisa bergerak, tubuhnya seolah membeku. Ia sungguh tak menyangka jika Baekhyun akan memeluknya erat seperti ini. Tapi disatu sisi dirinya merasa tenang dan nyaman karena aroma tubuh Baekhyun yang masuk dalam indra penciumannya.

“Terimakasih, terimakasih karena telah menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku, terimakasih juga untuk hadiahnya.”

“……………”

“Kau tahu perasaanku saat ini? Aku merasa orang yang paling beruntung, karenamu.”

“……………”

Hyerin hanya bisa tersenyum tulus mendengarnya, walaupun ia tak terlalu mengerti dengan perkataan Baekhyun yang terakhir.

Yang jelas saat ini, ia tak bisa memungkiri dirinya yang ingin merasakan kenyamanan dan ketenangan dalam pelukan lelaki itu lebih lama lagi.

To Be Continue

_________________________________________

Annyeong…

Admin buatnya cepet-cepet lho =___-” … Yah, apalagi kalo bukan karena ulang tahun si Bacon~~ hoho

Mudah-mudahan readers suka ^^

.

.

Comment = Love

Iklan

49 pemikiran pada “For You (Chapter 8)

  1. Hyerin sdh mrasakn rasa nyaman ktika dipeluk Baek, mngkin kh krna udh tumbuh rasa cinta ?
    lalu, apa artinya debaran yg Hyerin rasakn ktka melihat senyum Yeollie ?
    apa apa jg dgn Bark n Yeollie ? knpa Baek jd trksan mnghindar ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s