Really Sleeping Prince (Chapter 2)

Tittle         : Really Sleeping Prince

Author     : Chanye’s0608

Main Cast :

– Lee Chaeky (OC)

– Kim Jong In aka Kai EXO

– Kim Joon Myeon aka Suho EXO

Other Cast :

– Park Chanyeol EXO

– Byun Baekhyun

Genre       : Romance

Bacot author :

Huahhh, mianhae lama soalnya benar-benar buntuh inspirasi. Lagi-lagi author mau ngucapin Big Thanks to admin yg udah bebaik hati mempublish FF gagal author. Thanks juga buat yang dengan setia nungguin #gakadayangnungguin

Please RCL, soalnya itu membangun banget untuk kelangsungan hidup author dimasa yang akan datang(?).  mian Typo, Mian alur kecepatan, Mian ceritanya gak nyambung T.T

Oke… Happy reading~~~

Dret Dret

“ mian”

Aku beranjak. Keluar ruangan meninggalkan Kai yang kebingungan, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Hanya saja aku takut Kai tahu kalau yang menelponku adalah Joon Myeon oppa. Kenapa aku merasa seperti berselingkuh?

Kai’s POV

“ mian”

Chaeky beranjak keluar, meninggalkan ruangan untuk mengangkat telepon. Sebelumnya, ia tidak pernah seperti ini. apa aku pantas curiga? Akhir-akhir ini, aku merasa dia menghindariku. Menjauh. Dan itu membuatku panik. Kuhela napasku saat Chaeky masuk kembali keruangan. Aura ini, aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini saat bersamaku. Benarkah ada orang lain? Benarkah mimpiku itu nyata?

“ eung, Kai-ah. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu minum kopi, omma menyuruhku pulang sekarang. maaf”

Aku menghela napas. Menggangguk pelan. Ekor mataku mengikutinya sampai menghilang di balik daun pintu.

Aku tahu akan jadi begini. Akhirnya terjadi. Ya! Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi. Chaeky-ku menyukai orang lain. Aku tidak menyalahkannya, sungguh. Aku tahu, gadisku bosan. Berpacaran selama hampir 3 tahun dan tidak ada hal spesial pasti membuatmu bosan. Dan aku tahu kalau suatu saat hal ini pasti terjadi.

Aku meneguk air mineral yang ia berikan kepadaku tadi, sampai tandas tak bersisa. Ini menyakitkan. Aku ingin melihat ekspresinya seperti itu untukku, hanya untukku.

Waktu itu, aku ingat betul ekspresi gadisku. Diantara tumpukan buku-buku, diantara puluhan murid yang tenggelam dalam dunia mereka, aku memberanikan diri menyerahkan secarik kertas usang itu kearahnya, kearahnya yang tengah fokus pada komik jepang yang ia baca.

Aku masih ingat, saat itu Chaeky menyerengit kearahku, seperti bertanya ‘apa ini?’ dan aku hanya tersenyum membalas pertanyaan itu lewat konteks mata dengannya. Chaeky meraihnya, membacanya dan seketika matanya melebar. Ekspresi kagetnya kala itu, benar-benar membuatku mati rasa. Aku panik! Tapi setelah sebuah emoticon datang bersama secarik kertas yang sama, aku mulai merasakan udara segar menghampiri relung paru-paruku.

Aku meraih tasku, mencari-cari dompet dan mengeluarkan kertas dari dalamnya. Kertas yang menjadi saksi bisu hubunganku dan Chaeky. Kertas yang benar-benar telah usang.

Want You Fill My Haert? ❤ ❤

(^3^)3^)

“ Kai-ah, kau disini?” aku menoleh ke ambang pintu dan menemukan Baekhyun berjalan mendekat kearahku. Kumasukkan kembali kertas itu ke tempat semula sebelum tersenyum sedikit getir dan membalas sapaan ketua osis itu.

“ ehm. Kenapa mencariku?” Baekhyun menepuk bahuku, seperti senang aku bisa langsung mengerti kalau dia mencariku dengan sebuah alasan yang pasti. Ia duduk tepat disampingku, kemudian meraih sebuah manga Jepang yang tak sengaja keluar dari dalam tasku.

“ mm, sebenarnya sekolah kita akan mengadakan festival pelepasan siswa/i  tingkat ketiga sebentar lagi. Jadi aku mau minta tolong sesuatu, kalau boleh sih?”

“ apa?”

“ aku mau kau tampil sebagai pengisi acara, untuk dance Kai”

Aku menimbang permintaanya. Tidak sesulit itu sih, hanya saja aku tidak terbiasa berada ditengah keramaian seperti itu.

“ kapan?”

“ tanggal 26 bulan depan”

^^^^^^^^

Aku menolehkan kepalaku keambang pintu saat seseorang memutar knop pintu itu dan masuk. Suho hyung. Ia tersenyum, kemudian berjalan kearahku sedikit cepat. Aku bangkit dari posisi tidurku untuk duduk tepat disampingnya.

“ kenapa kau tidak keluar? Semua keluarga sedang berkumpul dan kau hanya berdiam diri memandangi langit-langit kamar yang tidak menarik itu” ia tertawa kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Membuatku mau tidak mau menarik sedikit ujung bibirku.

“ aku sedang malas hyung”

“ ya ya ya, aku tahu. Kapan pernah sih kau rajin”

Aku mendorong sedikit pundaknya, membuat tawa namja yang lebih tua dua tahun dariku itu semakin keras. Aku menikmati cara Suho hyung tertawa.

Suho hyung, namja ini adalah anak dari kakak appaku. Ia baru saja menyelesaikan sekolahnya di Jepang beberapa bulan yang lalu dan langsung kembali ke Korea. Dia hyung yang paling mengerti aku dibanding semua sepupu yang ku punya. Namja ini, selalu bisa membuatku tertawa. Kurasa, semua wanita akan sangat senang berada disamping namja satu ini.

“ bagaimana sekolahmu?”

“ baik. Hmm, maksudku kau tahu lah hyung”

“ ne, yang kau maksud baik hanya kemampuan dancemu bukan?”

Aku tersenyum,dia benar-benar dapat memahamiku tanpa kata-kata. Namja itu merebahkan dirinya, memandang lurus kearah langit-langit kamarku. Ck, tadi dia yang mengatakan kalau aku melakukan perbuatan bodoh dengan memandangi langit-langit kamarku.

Kualihkan pandanganku lurus kearah tirai jendela tipis berwarna biru muda yang menutupi jendela kamarku. Diluar hujan terdengar turun rintik-rintik. Aku sedikit merapatkan baju hangat yang kukenakan.

“ hm, Kai-ah”

Aku bergumam tidak jelas. Akhirnya anak ini berbicara lagi. Apa dia telah bosan memandangi langit-langit kamarku? XD

“Chaeky emm maksudku pacarmu ternyata orang yang menarik”

“ eoh??”

———–

Aku melirik Chaeky yang sejak tadi tersipu-sipu memandangi phonselnya, entah sudah berapa lama. Ia mungkin tidak sadar kalau aku sudah duduk disampingnya sejak dua puluh menit yang lalu. Aku menghela napas. Rasanya sesak. Siapa namja itu? Apakah Suho hyung? Aku bahkan tidak ingat Chaeky pernah tersipu-sipu seperti ini disamipngku.

“ mau minum Ice Coffee Espresso??”

Kulihat Chaeky tersentak mendengar ucapanku. Ia menjepitkan beberapa helai rambutnya ke belekang telinga, berusaha menatapku dengan jelas.

“ hm, kau sudah selesai?” seperti yang kuduga. Chaeky tidak menyadari kehadiranku. Aku menarik napas, kali ini aku benar-benar sesak. Apa dia benar-benar menyukai namja lain?

“ hm, jadi?”

“ apanya?”

“ kau tidak mendengarkanku?”

Ia menggeleng perlahan. Entah mengapa, aku selalu melihat ekspresi takut dan tertekan diwajahnya saat bersamaku. Pantaskah aku menyebutnya kekasihku? Kutatap matanya yang bulat, mencoba mencari-cari cintanya untukku. Masih adakah?

“ aku mengajakmu minum kopi” Chaeky menundukkan kepala. Kesepuluh jarinya saling bertautan. Ia bingung, aku tahu itu. Kali ini aku ingin mendengar, apalagi alasan yang akan ia berikan kepadaku?

“ bagaimana?”

“ hm, aku…”

“ ibumu menyuruhmu cepat pulang lagi, atau kakak sepupumu memintamu menemaninya makan yakiniku atau…”

Aku menggantungkan kalimatku. Susah rasanya mengatakan ‘aku tahu sebenarnya ia pergi bersama hyungku’. Kulihat Chaeky yang menundukkan kepalanya semakin dalam. Entah mengapa itu membuatku sedih. Kutatap wajahnya yang bingung, kemudian kuulurkan tanganku dan menariknya kedalam pelukanku.

Chaeky terenyuh. Kurasakan tubuhnya menegang. Ini pelukan pertamaku untuknya, setelah hampir tiga tahun aku menyebut diriku sebagai kekasihnya. Kukencangkan pelukkanku saat kusadari Chaeky melingkari tangannya dipinggangku. Debaran ini. aku bersyukur masih merasakannya. Debaran aneh yang hanya kurasakan saat Chaeky didekatku, saat dengan manja ia memintaku menemaninya makan ataupun minum kopi, saat dengan senyum tulusnya ia menemaniku berlatih.

Pikiranku melayang-layang kekotak-kotak berbagai bentuk yang tersimpan manis dilemari pakaianku dirumah. 35 kotak yang isinya selalu kubeli setiap tanggal 24. Iya, kotak yang berisi hadiah2  anniversaryku dan gadisku. Aku menyimpannya, tak sanggup memberikan itu kepadanya. Begitu bodoh sampai aku tak menyadari telah begitu banyak kotak-kotak kecil didalam lemariku. Mungkin sebagian telah rusak didalam kotaknya.

Chaeky merengangkan pelukkan kami, mengangkat kepalanya untuk menatap wajahku. Aku balas menatapnya, lurus dan tajam seakan menjerit menggatakan kepadanya untuk tidak meninggalkanku. Tapi gadis itu malah menyentakkan tanganku pelan dan berdiri sedikit menjauhiku.

“ mianhae Kai-ah, aku tidak bisa. Lain kali saja” dan dia bergerak pergi, menjauh dengan langkah panjang. Dia, benar-benar meninggalkanku. Tak menatap kebelakang sama sekali, kearahku. Apakah semuanya sudah berakhir untukku?

Next Day~

Aku berjalan perlahan dengan sebuah earphone yang melingkari leherku. Kumasukkan tanganku ke dalam saku celana, membiarkan semua murid menatap aneh kearahku yang tumben berkeliaran dilobby. Yaaah, aku sangat jarang berkeliaran seperti ini saat jam kosong. Murid-murid hanya akan menemukanku dikelas, ditoilet, dilapangan basket ataupun diruang dance. Selain itu jarang!!

Aku melangkahkan kakiku semakin lebar saat mataku menangkap papan nama yang mengantung diatas kelas yang kutuju, kelas Chaeky. Seingatku aku jarang sekali mengunjunginya dikelas. Tiap kali pergi, aku akan pergi sendiri dan menunggunya ditempat dimana kami janjian.

Aku melirik kearah Chaeky melalui kaca jendela yang bersih. Gadis itu menekuk wajahnya, kebiasaannya kalau sedang kesal. Ia menatap sendu manga jepang diatas mejanya, sepertinya ia susah untuk berkonsentrasi ditengah kegaduhan kelasnya.

Kulangkahkan kakiku masuk,berusaha untuk tidak membuat gadis itu menoleh kearahku. Dan benar saja, ia langsung mendongak kaget saat kuletakkan earphoneku dikedua telinganya. Ia tersentak, menatapku yang tersenyum sebentar. Kuulurkan tanganku kemudian menepuk-nepuk puncak kepalanya pelan.

“ hanya perlu berkonsentrasi pada apa yang kau baca, jangan hiraukan hal lain”

Wajahnya memerah. Aku tidak pernah berpikir dapat melakukan hal seperti ini dan begitu juga dengan Chaeky. Kudapati gadisku itu hanya menatapku takjub tanpa berkata. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan setelah itu, aku melangkah pergi. Meninggalkannya yang masih memegang puncak kepalanya yang tadi kusentuh. Ya, seperti ini tidak buruk. Aku tidak ingin kehilangan gadis yang kucintai.

Chaeky’s POV

Aku memegang puncak kepalaku kikuk. Mataku tetap fokus pada bayangan Kai yang menghilang diujung lobby kelas. Suara musik mengalun lembut ditelingaku, lagu favoritku ‘What is Love’. Hangat tangan Kai masih terasa dihelaian rambutku. Ada apa dengannya?? Kemarin ia memelukku dan sekarang mendatangiku kekelas. Apa ada yang tidak beres? Atau,,, Kai tahu aku sering pergi dengan hyungnya?? Tapi tidak mungkin Kai marah dengan bersikap seperti ini.

“ Chaeky-ah” kuangkat kepalaku saat merasakan seseorang duduk disebelahku. Hyunhae. Didepan kami malah sudah berdiri Chanyeol. Keduanya menatapku kaget.

“ ada apa dengan Kai?”

“molla, aku juga bingung”

DRET DRET DRET

Kutatap layar phonselku yang berkelap-kelip. Warna biru, warna yang kupasang untuk Kai. Kutahan napasku saat membaca sebaris kalimat yang muncul dilayar phonsel. Menatapnya dengan pandangan takjub. Kai, benar-benar telah berubahkah?

“ wae?” Hyunhae mendekat, gadis itu membekap mulutnya saat membaca sebaris pesan yang Kai kirimkan.

“ Kai? Mengajakmu kekantin? Dia yang akan menjemputmu kekelas?” kutatap Hyunhae yang takjub tak percaya. Seperti baru saja membaca berita bahwa ditemukan sebuah dunia yang semua isinya adalah komik Jepang ^^

Aku masih terdiam, membiarkan Hyunhae yang mulai sibuk dengan khayalannya tentang perubahan Kai. Aku menatap Chanyeol yang telah menatapku lebih dulu, membiarkanku membaca apa yang ingin ia sampaikan lewat matanya. Tapi tetap saja aku tidak bisa mengerti.

“ mungkin sudah saatnya kau melupakan Kim Joon Myeonmu” ia menyampaikannya lebih dulu, membuat sesuatu didalam dadaku bergemuruh riuh. Aku bingung. Memoriku kembali kebeberapa waktu yang telah kuhabiskan bersama Joon Myeon oppa. Namja yang kusuka lewat mimpiku.

Aku ingat bagaimana rasa hangat tubuhnya mengalir ketika ia meraih jemariku. Aku ingat saat tangan besarnya mengacak-acak rambutku lembut. Aku juga ingat bagaimana ia memperlakukanku dengan begitu baik. Perlakuan yang tak pernah kudapat dari Kai. Dari namja yang sudah hampir tiga tahun menemani hidupku. Aku mengeluarkan phonselku kembali. Mengetik beberapa kata sebelum memilih tombol send dan menunggu berita bahwa pesan itu terkirim, tapi,,,,

Message not send

Aku membulatkan mataku, mencoba mengirim pesan itu berkali-kali namun hasilnya nihil. Kuputuskan untuk mengecek pulsaku sebelum mendesah tertahan. Sialan. Seingatku aku baru saja  mengisi pulsa beberapa hari yang lalu. Sepertinya aku terus berkirim pesan dengan Joon Myeon oppa sampai tidak sadar kalau pulsaku telah habis. Kutatap Hyunhae untuk meminjam phonsel ketika layar phonselku seketika menggelap. Ahhh,,, lowbatt!!!

“ eotteh?”

“ wae???”

—skip—

Bel istirahat mengalun kencang, sekencang gemuruh yang terdengar dijantungku. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menstabilkan detak jantungku yang menggila. Rasanya aku kembali ke 3 tahun yang lalu. Saat Kai mengajakku keperpustakaan untuk menemaninya membaca buku. Saat secarik kertas usang tiba-tiba tergeletak diatas manga jepang yang kubaca. Aku ingat ekspresi Kai saat itu. Ia panik, takut dan grogi. Eskpresi yang begitu lucu untuk digambarkan.

“ Chaeky-ah, kalau begitu kami akan kekantin lebih dulu” aku mengangguk, menatap Hyunhae-Chanyeol yang menghilang dibalik daun pintu yang terbuka lebar. Aku harus menunggu Kai menjemputku disini. Menunggunya dengan senyum merekah. Aku merasakan badanku memanas saat seseorang masuk. Tapi,,,, bukan Kai. Sejauh apa sih kelas namja itu??

Aku mulai tidak sabar menunggunya selama 5 menit tanpa melakukan apapun. Akhirnya kuputuskan beranjak dari dudukku dan berjalan kearah lorong kelas. Berharap dapat menjumpai Kai disana. Namun lagi-lagi nihil. Aku mendesah, aku tidak bisa menghubunginya dan dia tidak bisa menghubungiku. Kai pasti akan sangat marah kalau aku meninggalkannya. Lagipula, aku yakin tidak salah lihat. Kai menyuruhku menunggunya sampai ia menjemputku.

“ kau Chaeky” aku menoleh keambang pintu, menatap gadis didepanku dengan bingung. Perlahan kuanggukan kepalaku.

“ Kai bilang kau langsung kekantin saja. Dia menunggumu disitu”

Ck, sudah kuduga. Mana mungkin Kai mau menjemputku susah payah kekelas. Aku membungkuk terima kasih kearah gadis itu sebelum memacu kakiku menuju kantin. Apa Kai memaksa gadis itu kekelasku? Wajahnya seperti tidak suka melihatku!!

*************************

Aku baru sadar jarang kekantin, kurasakan suasana kantin yang begitu ramai. Kai tidak suka berada dikeramaian maka dari itu aku juga jarang berada ditempat ramai seperti ini. kupanjangkan kepalaku kesegala arah. Berusaha menemukan sosok kurus Kai, namun aku terlalu kecil untuk dapat menemukan Kai diantara beratus murid yang berdesakkan itu. Kulangkahkan kakiku, sedangkan mataku tetap fokus mencari sosoknya.

“ Chaeky-ah” aku menoleh. Mendapati Chanyeol-Hyunhae yang melambai dari meja disudut kantin. Aku mendekat, mungkin mereka tahu dimana Kai.

“ Kai eodieyo?” aku tersentak, mereka juga tidak tahu Kai ada dimana. Dimana sih namja itu??

“ tadi seseorang menyuruhku kekantin lebih dulu, katanya Kai sudah ada disini”

“ kau bercanda? Kai tidak ada disini sejak tadi” aku menatap Chanyeol yang melirikku kasihan. Kai mempermainkanku begitu? Jadi dia benar-benar marah padaku? Jadi dia membalasku dengan berbuat seperti ini? kurasakan Hyunhae menyodorkan segelas air mineral kearahku, membuatku tersentak dan terpaksa mengembangkan sedikit senyum kearahnya.

“ aku akan mencarinya kekelas” dan belum sempat mendengarkan persetujuan kedua temanku itu, aku sudah mengambil langkah lebar menuju kelasnya dilantai dua.

——

“ Kai ada?” seseorang gadis tersentak saat aku menanyainya tanpa menyapanya terlebih dahulu. Beberapa detik kulihat ia berusaha mengamatiku, melihatku dari atas kebawah. Dan setelah kukembangkan senyumku barulah gadis cantik itu membuka mulutnya.

“ ruang dance. Kudengar begitu”

“ ne?”

Aku merasakan darahku berdesir hebat. Geurae, ternyata dia memang mempermainkanku, membalas perbuatanku dengan berbuat begini. Aku membungkuk sembari berujar ‘gamsahamnida’ sebelum berlari menuju lantai tiga. Ruang dance.

Ruang dance begitu sesak saat kakiku masih berada dianak tangga terakhir lantai ketiga. Music jazz mengalun dengan volume cukup besar dari dalam dan beberapa murid yang berdesakan berteriak heboh beberapa kali sembari tetap fokus pada satu objek didalam ruangan. Kai. Ia masih meliuk kesana-kemari didalam ruangan, bersama beberapa orang dan salah satu diantaranya adalah Baekhyun.

Aku menggigit bibir bawahku. Jadi Kai memang benar-benar mempermainkanku? Jadi dia memang tidak sungguh-sungguh mengajakku kekantin tadi? Atau bukan dia yang mengirimkan pesan kepadaku? Atau jangan-jangan sms itu untuk gadis lain??

Kai berputar arah, menghadap kearah beberapa murid yang berdesakan dari jendela ruangan kecil itu termasuk aku. Dan disaat itulah pandangan kami bertemu. Aku memandangnya dengan ekspresi kecewa dan disaat itulah tiba-tiba Kai menghentikan gerakannya. Terdiam menatap mataku yang memerah. Sepertinya ia sadar aku marah kepadanya. Detik berikutnya, aku telah berlari meninggalkan lantai tiga.

************

Aku meluruskan kakiku dibangku taman tengah kota saat tiba-tiba pipiku terasa dingin. Kutolehkan pandanganku kearah kanan dan mendapati namja itu tersenyum hangat kearahku. Mencairkan es krim yang ia tempelkan kepipiku.

“ es krim? Tapi bukan rasa coffe espresso”

Aku tersenyum kecil, menatap Joon Myeon yang telah menposisikan dirinya disampingku. aku menyambut es krim yang disodorkannya, membukanya dan memakannya perlahan. Berusaha mendinginkan hatiku dengan es krim yang tanpa terasa sudah habis kulahap.

“ ada masalah?” aku terdiam tak menjawab. Kenapa Kai membuatku benar-benar kesal begini?? Rasanya begitu kesal karena dia membohongiku!!

“ Chaeky-ah”

“ hm” aku tersentak, membuat Joon Myeon oppa menatapku bingung. Beberapa saat namja itu hanya fokus kedalam mataku, tanpa berbicara. Membuat mataku tiba-tiba terasa panas dan aku menangis. Sesunggukan didepannya yang perlahan menarikku kedalam pelukkannya. Pelukkan hangat yang biasanya hanya kurasakan didalam mimpiku.

Joon Myeon oppa mengelus belakang kepalaku, membuatku semakin membenamkan wajahku didadanya berusaha meredam suara tangisku. Rasanya sesak!! Aku benci Kai membohongiku.

Joon Myeon oppa mengangkat kepalaku, berusaha membuatku menatap wajahnya lebih dekat. Kurasakan napasnya menyapu hangat wajahku. Kai. Nama itu terlintas begitu saja dikepalaku saat menatap wajah Joon Myeon oppa. Namja itu mendekatkan wajahnya dan mengecup dahiku lembut. Aku terenyuh.

BUKK

Aku mengalihkan pandanganku kearah namja dibelakang Joon Myeon oppa. Kedekati Joon yeon oppa yang tersungkur ditanah.

“ Kai apa yang,, Kyaaa” kutahan jeritanku saat kurasakan Kai menarikku kearahnya. Joon Myeon oppa yang melihat itu cepat-cepat bangkit berdiri dan melotot garang kearah Kai. Salah satu sisinya yang belum pernah kulihat.

“ Kai, berlaku lembutlah kepada perempuan, apalagi dia kekasihmu”

“ berlaku lembut maksudmu dengan menciumnya?? ahh kau tahu ternyata dia kekasihku hyung??” aku merasakan tangan Kai mencengkramku semakin kuat, meninggalkan bercak merah disekitar pergelangan tanganku.

“ ck, kau masih perduli padanya??”

“ apa maksudmu hyung??” Kai berujar geram, kutatap Joon Myeon oppa yang dengan sekali hentakan telah menarikku kebelakangnya, membuat mata sipit Kai membesar.

“ kau hanya menyakitinya. Masihkah kau pantas menyebut dirimu kekasihnya??”

“ oppa,,” aku merasakan Kai menatap tajam kearahku, seperti berkata ‘apa saja yang telah kau ceritakan padanya?’ sedangkan aku hanya menundukkan kepala dalam. Aku bingung!!

“ kau tidak ada hak untuk ikut campur hyung, berikan dia kepadaku!!”

“ berikan? Kau pikir dia barang?? Aku punya hak saat ini”

Kai melotot mendengar jawaban pedas Joon Myeon oppa membuatku perlahan menangis tanpa suara.

“Kumohon hentikan” Joon Myeon oppa melepaskan genggaman tangannya, kini ia malah merengkuhku kedalam pelukannya. Membuatku membeku, begitu juga dengan Kai. Hanya suara tangisku yang terdengar, perlahan Joon Myeon oppa mengeluarkan suaranya.

“ maaf Kai, aku… menyukainya” DEGGG

19.55

“ gwenchana?” aku menghambur kepelukan gadis yang baru saja masuk kedalam kamarku ini. mencengkramnya dengan erat dan aku kembali menangis dibahunya. Melepaskan semua beban yang kusimpan sendiri sejak tadi. Perlahan gadis itu mengelus punggungku dengan lembut. Membuatku nyaman. Aku mengangkat kepalaku.

“ Hyu,, aku..”

“ sudahlah, tidak usah cerita dulu padaku. Lupakanlah dulu masalahmu sejenak ” aku menatap Hyunhae yang tersenyum dengan matanya, dia benar-benar mengerti apa yang aku rasakan. Perlahan kurasakan seseorang memasukki kamarku, Chanyeol. Namja itu tersenyum sungkan. Aku membalas senyumnya dengan maklum. Mungkin dia agak kikuk masuk kekamar wanita.

“ kau,, sudah merasa baikkan?” Chanyeol berdiri disisi tepi ranjang. Menatap kearah kami yang duduk diatas kasur. Aku mengangguk sedikit ragu. Aku masih bingung dengan semua kejadian yang menimpaku hari ini.

“ sudahlah, tidak usah terlalu memikirkannya. Hmm, bagaimana kalau kita bermain,,”

“ Yah! Dia sedang sakit pabbo, kau malah mengajaknya bermain”

Aku tersenyum menikmati perseteruan kedua sahabat kecil ini. coba saja sejak dulu aku mengikuti apa yang Hyunhae katakan untuk meminta penjelasan hubunganku dengan Kai, mungkin sekarang tidak akan seperti ini. tanpa sadar aku memeluk tubuh ramping Hyunhae lagi, membuat gadis itu terlonjak. Tapi detik berikutnya ia malah membalas pelukanku dan tertawa pelan. Mungkin Chanyeol berkata lucu lewat konteks mata mereka.

“kau mau tahu apa yang Chanyeol katakan?” aku mengangguk. Ternyata benar mereka berbicara lewat mata.

“ dia iri kau hanya memelukku, tidak memeluknya juga”

“ ck, dasar yadong”

“ HHAHAHAHAHAHAHAHAHAAAA”

“ Yah! Song Hyunhae, kau senang hah Chaeky mengataiku yadong?”

 

— skip—-

Aku menatap layar phonsel yang diam diatas meja belajar Chanyeol. Oke, biasanya aku memang kesal karena hanya pesan singkat Kai yang mampir diphonsel hijau lumutku tapi itu masih mending daripada tidak ada yang menghubungiku sama sekali. Dan, apa Joon Myeon oppa marah??

Kutolehkan pandanganku saat Hyunhae masuk membawa beberapa minuman dingin dan makanan ringan untuk kami, meninggalkan Chanyeol yang berteriak berisik dari bawah.

“ apalagi yang kau lakukan padanya?” Hyunhae tersenyum. Ya ya ya, gadis ini memang selalu berbuat seperti ini kepada Chanyeol. Aku beranjak dari ranjang, berusaha menemui Chanyeol didapur namun gadis itu menahanku terlebih dahulu.

“ geurom, aku menguncinya ditoilet. Akan aku bukakan” Hyunhae masih sempat mengomel kecil saat beranjak meninggalkanku kebawah. Gadis ini! ada-ada saja!!

Dret Dret Dret

Kutatap phonsel yang tadi kuletakkan diatas meja belajar Chanyeol. Menyelidiknya sebelum menekan tombol hijau dan menempelkannya ketelingaku.

“ syukurlah kau masih mau mengangkat telponku” kurasakan suara hangat namja itu menyapu dinding hatiku. Ia sedang tersenyum, aku tahu itu. Kutekan dadaku saat kurasakan napasku tercekat.

“ Chae, mian aku tidak bermaksud menghancurkan hubunganmu dan,,, Kai. Tapi kau harus tahu kalau sejak pertama aku melihatmu aku…. aku merasakan sesuatu dihatiku. hangat”

Aku menghela napas, kenapa Joon Myeon oppa mengatakan hal seperti ini sekarang? Tidak sadarkah dia aku sudah cukup sport jantung dengan pertengkarannya beberapa hari yang lalu??

Aku merasakan Suho oppa mulai risih disebrang sana, ia menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya.

“ aku tahu kau sangat mencintai Kai”

“ oppa,,” Suho menahan kalimatnya, menyambutku yang mulai merespon perkataannya sejak beberapa detik yang lalu aku mengangkat telponnya. Aku merasakan hawa dingin melandaku, menyelimuti lubuk hatiku.

“ pernakah kita bertemu sebelum itu? Maksudku, sebelum aku menolongmu dicafe??” Joon Myeon oppa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab ‘annyia’. Aku terenyuh, benarkah hanya aku yang benar-benar merasakan kehadirannya? Benarkah selama ini hanya aku yang memimpikannya setiap malam? Benarkah hanya aku yang setiap hari berusaha mencari keberadaannya??

“ wae?”

“ pernahkah kau melihatku sebelumnya?” Joon Myeon terdiam lagi, kurasa ia mulai merasakan hal aneh sekarang.

“ ne”

“ oddiga?”

“ Kai!! Aku mengenalmu dari Kai, hanya saja kau tahu aku adalah orang yang pelupa” namja itu tertawa kecil disebrang sana. Jadi, dia pernah mengenalku sebelum ini? dari Kai? Kenapa? Bagaimana bisa?

“ kapan?”

“ tahun lalu! Saat ia liburan” tahun lalu?? Jadi maksud mimpi itu???

“ Chae?”

Aku terdiam lagi, masih berusaha menyingkirkan begitu banyak bayangan Joon Myeon oppa diotakku. Sejak mimpi2 itu. Saat pertama kali dia datang ke mimpiku, saat itu aku ingat betul pakaian yang dipakainya. Pakaian pangeran. Aku ingat dimana melihatnya pertama kali. Dibawah pohon sakura dimana namja itu tertidur pulas dan aku menciumnya. Dibibir. Dan setelah itu, dia terbangun. Seperti Sleeping prince. Dan sejak saat itu, ia mulai datang kemimpi2ku dan aku mulai menyimpan rasa padanya. Walaupun yaaa, aku tidak dapat melihat wajahnya sama sekali.

“ aku,,,, menyukaimu” PRANGG. Sesuatu didalam dadaku terdengar pecah. Kenapa? Bukannya aku seharusnya bahagia ia menyukaiku? Bukannya seharusnya aku senang dan mengatakan aku juga menyukainya? Tapi kenapa sesuatu serasa membuatku sulit bernapas.

“ oppa aku,”

“ aku tidak butuh jawabanmu saat ini. kau pacar adikku dan aku sangat menyayanginya Chae. Hanya saja aku akan harap kau benar-benar menentukan yang terbaik untukmu. Aku atau Kai”

Aku terdiam, semakin jatuh kedalam lubang hitam tak terjamah. Aku,, benar-benar bingung. Kutumpukan tanganku ditepi ranjang. Tubuhku serasa lumpuh!!

“ kalau kau memilihku, cegahlah kepergianku dibandara Incheon. Jam 15 tanggal 26 nanti”

 

Author’s POV

Kai menautkan kesepuluh jarinya bingung, didepannya telah duduk Hyunhae yang sejak lima menit yang lalu masih memandangnya tanpa bersuara.

“ kau, menyuruhku kesini hanya untuk melihatmu ketakutan?” Kai mengangkat kepalanya, menarik napas sebentar kemudian mendekat kearah Hyunhae. Berusaha untuk tidak luput menatap kejujuran dimata gadis itu.

“ aku,, mencintai Chaeky”

“ annyia”

Kai mengangkat kepalanya, melihat Hyunhae yang dengan cepat menyambung ucapannya. Gadis itu menatap matanya marah, dilihatnya Hyunhae yang beberapa detik terdiam.

“ Kau tidak mencintainya Kai. Kau hanya mempermainkannya. Kau tidak tahu betapa senangnya Chaeky saat kau mengiriminya pesan untuk makan bersama dikantin? Tapi dengan cepat juga kau menghancurkan hatinya. Jangan salahkan dia kalau dia mencampakkanmu suatu saat nanti” napas Hyunhae naik turun. Gadis itu berusaha untuk berada diposisi sahabatnya saat ini. berusaha menunjukkan pada namja didepannya tentang semuanya. Semua yang Chaeky simpan rapat2 didalam hatinya.

“ aku tidak bisa saat itu. Lagipula aku sudah meminta Sena mengatakan padanya kalau aku harus ikut gladi bersih festifal sekolah seminggu lagi”

“ hah?” Hyunhae terdiam, bingung dengan kalimat yang meluncur dari mulut namja didepannya.

“ maksudmu?” Hyunhae melanjutkan kata-katanya. Masih tidak mengerti dengan kalimat panjang yang Kai ucapkan barusan. Kai menghela napas, sebelum menceritakan semua masalahnya kepada Hyunhae. Kepada gadis pertama yang mendengarkan curhatannya. Gadis pertama yang ia percayakan mendengarkan keluh kesahnya.

“ aku, ingin kau membantuku”

“ eoh??”

______

“ Chaeky bisakah kau menolongku membawakan ini??” Chaeky, gadis itu cepat-cepat beranjak menuju Baekhyun yang tadi menyapanya. Membantu ketua osis itu membawa beberapa naskah pidato dan karangan bunga ke dalam aula tempat upacara pelepasan siswa-siswi tahun ketiga berlangsung. Gadis itu melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Jam 9, haruskah ia pergi saat ini? Atau membiarkan apa yang selama ini ia cari pergi? Apa ia benar-benar harus memilih diantara kedua pilihan sulit itu?

“ disini saja. gomawo” Chaeky tersenyum, menatap Baekhyun yang lebih dulu tersenyum lebar.

“ dimana Kai?” namja itu membuat Chaeky tersentak, ditatapnya Baekhyun yang malah membalas tatapannya dengan bingung.

“ bukannya dia bersamamu? Harusnya dia mengisi acarakan hari ini?”

“ annyia. Dia mengundurkan diri, padahal aku sangat berharap dia mau mengisi acara” Chaeky terdiam. Kenapa dengan Kai? Namja itu bahkan sudah meninggalkannya beberapa minggu yang lalu saat mereka berjanjian. Baekhyun menggamit lengan Chaeky, membawanya keluar aula dengan cepat. Disana mereka mendapati Hyunhae yang begitu manis dengan dress biru langit tali spaghetti selututnya. Tampaknya ia akan mengisi acara hari ini.

“ ahh Chaeky. Kau kemana saja? Aku mencarimu”

“ eoh, hanya sedikit membantu Baekhyun membawa karangan bunga” Hyunhae tersenyum, sebelum menarik sahabatnya menjauh dari Baekhyun. Ketua osis itu hanya tersenyum maklum sebelum Hyunhae-Chaeky benar-benar menghilang.

_____

“ jadi,siapa yang kau pilih??” Chaeky mengangkat kepalanya. Setelah sekian menit menunggui gadis itu yang telah menghilang entah kemana. Ditatapnya tangan Hyunhae yang terjulur memberikan minuman susu fermentasi kearahnya.

“ entahlah, aku bingung” gadis itu mendesah. Meneguk sedikit demi sedikit minuman yang Hyunhae berikan. Hyunhae menatapnya agak sedih.

“ bagaimana perasaanmu saat bertemu dengan Joon Myeon oppa. Pertama kali??” Chaeky terdiam, menimbang pertanyaan Hyunhae dengan jawaban yang ia rasa benar-benar ada didalam hatinya.

“ senang. Kau tahu bukan aku sudah menantinya begitu lama”

“ saat dia menyatakan cintanya kepadamu?”

“ Hyu,”

“ aku hanya ingin memastikan perasaanmu yang sebenarnya Chae~, aku hanya ingin kau memilih yang benar-benar kau butuhkan bukan yang benar-benar kau inginkan”

Chaeky terdiam. Memandang sahabatnya beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kearah depan, lurus dan lirih. Gadis itu menendang-nendang tanah dengan bingung.

“ sebenarnya, saat Joon Myeon oppa menyatakan cintanya padaku ada seseorang yang langsung melintas diotakku”

“ Kai??” Chaeky tersentak, tapi beberapa detik berikutnya ia telah mengangguk pelan. Digigitnya bibir bawahnya saat mengingat namja yang sudah tiga tahun menemani hidupnya itu.

“ seberapa besar cintamu pada Kai?” Chaeky menggeleng, ia meremas ujung bajunya bingung. Kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah Hyunhae, tepat kematanya.

“ entahlah, sesungguhnya aku sangat mencintai Kai. Tapi Joon Myeon oppa mengisi ruang kecil direlung hatiku” Hyunhae tertawa meledak, sesaat gadis itu membiarkan Chaeky menatapnya bingung. Berpikir ulang tentang perkataannya yang menurut Chaeky sama sekali tidak ada sisi lucunya.

“ kau sudah menjawabnya sendiri Chae-ah”

“ mwoya?”

“ siapa yang mengisi relung hatimu”

“ eoh??”

“ sudahlah, Kai menunggumu sekarang. Ditempat  yang dulu”

“ mwo??” Dan belum sempat menghilangkan keterkejutannya, Chaeky malah mendapati Hyunhae berjalan santai meninggalkannya. Masih dengan tawa renyah yang tadi ia pamerkan.

“ menjawab apa? Kai menunggu?? Ditempat yang dulu??”

 

 

^^^^^^^^^^^

Suho melirik arlojinya sekali lagi. Entah sudah berapa kali ia memandang benda hitam yang melingkari pergelangan tangannya itu sejak setengah jam yang lalu. Ia benar-benar berharap seseorang yang ia tunggu datang dan mencegah kepergiannya. Namja itu mendesah. Berpikir untuk membiarkan gadis yang dicintainya dengan namja lain membuat hatinya sakit, walaupun itu adikknya sendiri. Ia ikhlas sebenarnya. Hanya saja, jika Kai benar-benar mulai merubah sikapnya terhadap Chaeky. Gadis yang benar-benar membuat hubungannya dengan sepupunya berantakkan.

Ia ingat bagaimana ekspresi terkejut gadis itu saat melihatnya pertama kali. Ekspresi yang selalu ia temukan disetiap pertemuan mereka. Chaeky benar-benar membuatnya hilang akal saat ini.

 

Perhatian-perhatian, pesawat jurusan……

 

Suara nyaring dari pengeras suara itu mengalihkan perhatian namja itu dari lamunannya. Ia menggenggam pasportnya. Menarik kopernya dan beranjak.

“ oppa, Suho oppa”

Suho menoleh, sebelum tersenyum menatap gadis manis yang masih berusaha mengatur napasnya didepan pintu bandara. Joon Myeon melepaskan kopernya, memberikan tatapan leganya kearah gadis yang kian mendekat kearahnya.

“ kau datang?” Chaeky mengangguk, ada kesedihan didalam matanya. Ditatapnya mata Joon Myeon sebelum menarik tangan namja itu dan menyerahkan sebuah cincin bermatakan gelas kopi diatasnya. Joon Myeon tersentak.

“ apa, ini?”

“ aku hanya ingin kau selalu mengenangku dan Ice Coffee Espreso kita”

“ mwoya??”

“ oppa aku,,,,”

 

—-skip—

 

Kai memandang takjub ruangan pengap didepannya. Rasanya sudah sangat lama sejak namja ini meninggalkan bangku Junior High School. Ditariknya sebuah kursi yang saat itu ia dudukki berdua dengan Chaeky. Saat pertama kali ia menyerahkan secarik kertas yang sampai sekarang masih ia simpan. Diletakkannya kepalanya diatas meja sebelum akhirnya mendesah perlahan.

Jam 10.30.  Itu artinya Chaeky seharusnya sudah menahan Suho untuk pergi ke Jepang sekarang. Ia benar-benar berharap menemukan gadis itu diambang pintu dan berlari kearahnya. Memelukknya dan menciumnya. Seperti yang ia lakukan saat Junior High School. Kai sadar setiap kali bibir mungil gadis itu mendarat dikeningnya. Saat dengan pura-pura Kai tidak bergerak , padahal ia terbangun merasakan hangat bibir gadis itu dikeningnya.

Namja itu menghela naapas. Kalau Chaeky ke bandara, itu artinya semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi hal seperti yang ia bayangkan. Ia rela, kalau gadis itu meninggalkannya. Ia tahu pasti, Joon Myeon lebih darinya. Lebih disegala sisi. Dan ia benar-benar menginginkan Chaeky mendapatkan apa yang ia cari selama ini.

Namja itu melayangkan ingatannya kebeberapa bulan yang lalu. Saat ia bermimpi seseorang namja datang kepadanya dan memintanya melepaskan gadis itu. Ia ingat betapa takutnya dirinya tiap kali mimpi itu hinggap diingatannya. Ia, benar-benar membutuhkan Chaeky disisinya.

Namja itu mengeluarkan phonselnya, mengetikkan beberapa kalimat sebelum menekan tombol ‘send’ dan pesan terkirim. Membuatnya ingin mati saat itu juga. Namja itu kembali memejamkan matanya. Menikmati suasana tenang perpustakan yang sunyi.

**************

 

Chaeky menatap namja yang tertidur didepannya, tangan kirinya masih menggenggam phonsel  hijau mudanya yang beberapa menit yang lalu bergetar. Chaeky ingat bagaimana perasaan meluap-luapnya saat melihat warna biru yang berkelap-kelip diphonselnya. Gadis itu mendekat, tetap menjaga tidur namja kurus itu dengan bergerak perlahan . hal yang paling sering ia lakukan dulu, saat keduanya sama-sama masih memakai seragam sekolah yang sekarang mereka datangi. Chaeky menghapus air matanya, berusaha menahan kesedihannya. Apa yang Kai sampaikan lewat pesan singkatnya, benar-benar membuat gadis itu terguncang.

 

From : Kkamjong

Aku akan merelakanmu jika dia benar-benar mencintaimu dan menghargaimu ^^

 

Gadis itu menghapus air mata yang benar-benar telah meleleh dipipinya, berusah mendekat kearah namja yang benar-benar mengisi relung hatinya. Bukan ruang kecil seperti yang ia rasakan kepada Joon Myeon. Ia tahu, Kai selalu mengisi semua relung dihatinya sebelum Joon Myeon mulai datang kekehidupannya. Yeoja itu mendekat, menatap Kai benar-benar dari jarak dekat.

Jika memang semuanya telah berakhir untuknya dan Kai, ia ingin sekali ini saja melakukan hal yang dulu sering ia lakukan. Gadis itu mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya dikening Kai yang tertidur pulas.

“ kau sudah 8 kali melakukannya”

Chaeky tersentak, gadis itu cepat-cepat menarik dirinya. Kai mengangkat kepalanya kemudian menjulurkan tangannya, menggapai tangan kecil Chaeky. Menariknya hingga gadis itu jatuh kedalam pelukannya.

“ Kai, kau,,,”

Kai menatap gadis itu intens. Tatapan yang Chaeky ingat hanya Kai perlihatkan didalam mimpi2nya ketika ia harus memilih antara Kai dan Joon Myeon.

“kau mencintaiku?” Chaeky hanya membalas tatapan namja itu diam. Melihat dari jarak dekat namja yang benar-benar ia butuhkan untuk berada disisinya. Perlahan gadis itu menggangguk, memunculkan semburat kebahagian diwajah tegas Kai. Chaeky menekuk mukanya, tidak dapat menahan rasa malunya. Perlahan tangan Kai mengangkat kepala gadis itu, menariknya sedikit demi sedikit untuk mendekat kewajahnya. Membiarkan napasnya betul-betul menyapu lembut wajah mungil Chaeky.

Namja itu, merasakan jantungnya berdetak abnormal ketika bibirnya menyentuh bibir kecil gadis itu. Membiarkan Chaeky memejamkan mata dan melingkarkan tangannya dileher namja itu. Membiarkan jantung keduanya benar-benar membuncah. Membiarkan beberapa detik benar-benar berhenti untuk keduanya.

Chaeky menarik kepalanya sebelum tertawa renyah menatap wajah Kai yang memerah. Yeoja itu menempelkan kedua telapak tangannya dipipi namja yang memangkunya itu.

“ pipimu hangat” Kai mengangkat tangannya, meletakkan kedua telapak tangannya yang besar keatas tangan Chaeky yang memegang pipinya.

“ tanganmu dingin” keduanya tertawa. Chaeky beringsut dari dudukunya dan menarik kursi disebelah Kai. Membiarkan tangan namja itu tetap menggenggam kedua tangan kecilnya hangat.

“ kau tidak benar-benar tidur rupanya. Ck, dasar” Chaeky merasakan darahnya mengalir menghangatkan hatinya. Hal yang hanya pernah ia rasakan ketika berada dengan namja itu.

Iklan

112 pemikiran pada “Really Sleeping Prince (Chapter 2)

  1. huuufff!!! akhirnya yang aku takutkan tidak terjadi,,horeee!!!!
    kai sama chaeky tetap bersatu,,,,
    syukurlah!!!!
    waaah author hebat ff nya nyentuh bgt deh
    bikin perasaan reader campur aduk pas ngebacanya
    haaaaahhhh,,,di tunggu karya author yg lainnya!!! 🙂
    ada sequel nya gk thor???

    • horeeeee*sorakbareng
      selamat buat kai *eh?

      aduh aduh makasih, author jd tersentuh LOL
      gomawo, terima kasih jg sudah meninggalkan jejak *lemparmemberexo

      sequel ga ad kebetulan T.T

  2. Omooo….keren… heran deh ngeliat kai yg gk mampu buat ngasih hadiah ke chaeky eonni,, pdhl chaeky slalu mnantikan nyaaa… ahahaha … biarlah yg penting mreka ttep bersatuuu … yeaaahh !!! Ahaha…kasian buat suho oppa*kemari aja oppa sma aku… bwahahahaha*abaikan-_-“…
    -ditunggu yah thor karya brikut nyaaa…fighting nee♡

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s