A Reason To Stay (Chapter 2)

Author : ohyeahNP

Genre : Romance, Angst

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Main Cast : – Kim Jong In a.k.a Kai

– Jung Minhee (OC)

Support Cast find by yourself.

Disclaimer : The plot of this story is MINE, and the cast is belong to God and their parents.

Happy reading~~~

——————————————————————————-

“Minhee…”.

“Ya?”.

“Bagaimana kalau hari ini kau bolos saja?”.

“MWO?!”.

[Part 2]

~***~

“Yang penting kau harus makan dulu”, ujar Kai sambil menarik tangan Minhee. Mereka pun masuk ke restoran fastfood yang buka 24 jam, yang kini masih sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang yang makan di sana, mungkin mereka bernasib sama seperti Minhee. Tidak sempat sarapan di rumah.

“Kau yakin?”, tanya Minhee memastikan. Mereka pun duduk di meja dekat jendela.

“Tentu saja. Kalau tidak kenapa aku masuk ke sini”, ujar Kai.  “Kau tunggu disini saja, biar aku yang memesan”.

Minhee memandang ke luar jendela. Mendung. Langit terlihat gelap. Awan kelabu sekarang seakan berkuasa di langit. Salah satu hal yang disukainya adalah suasana seperti ini, antara gelap dan terang dengan suhu udara yang cukup dingin.

Ia pun melirik ke arah jam. Memastikan apa dia benar benar harus bolos atau tidak.

“Jam 7.50? Sigh, sepertinya aku memang harus bolos”, gumam Minhee sambil menyandarkan kepalanya ke jendela.

Tak lama kemudian, Kai datang sambil membawa nampan berisi makanan. Mata Minhee langsung berbinar binar melihat makanan yang tersaji di depannya. Rasa laparnya tidak bisa di tahan lagi.

“Gomawo, aku akan menggantinya—“

“Tidak usah. Makan saja”.

Minhee menatap piring berisi beef burger dan salad di hadapannya dengan tatapan kosong.

Aneh…kenapa dia selalu membantuku?

“Makanlah, atau aku yang akan memakannya”, ujar Kai menyadarkan Minhee. Tanpa ragu-ragu, Minhee langsung menyantap makanan di hadapannya, mengilangkan rasa laparnya.

“Kau juga bolos hari ini?”, tanya Minhee.

“Yeah”, jawab Kai. “Sekali-sekali kan tidak apa-apa. Bukannya tiap hari”.

Minhee mengangkat bahunya. “Kenapa?”.

“Aku malas ke sekolah hari ini. Pelajarannya membosankan”.

Minhee melirik ke arah badge yang terdapat di lengan seragam Kai.

Dia bersekolah di sekolah nomor dua terbaik di Seoul? Enteng sekali dia berbicara seperti itu! Mungkin dia termasuk golongan badboy di sekolahnya? Entahlah, kenapa aku harus memikirkannya, by the way~

“Umm…setelah ini ke mana kita akan pergi? Tidak mungkin kan kita pulang lagi? Apa yang akan orangtuaku katakan?”, tanya Minhee bertubi tubi.

“Makan lah dulu. Hal itu bisa dipikirkan nanti”, jawab Kai. “Kau sendiri mau kemana?”.

“Aku?”, ujar Minhee. “Aku..tidak tahu. Aku tidak bawa uang”.

Kai menunjukkan smirk nya lagi, dan melanjutkan makan. “Hari ini kita akan bersenang-senang, jangan khawatir masalah uang. Itu masalah kecil. Ikuti saja kata-kataku”.

Minhee menelan makanan yang ada dalam mulutnya dan menatap namja di hadapannya ini dengan aneh.

“Untuk hari ini saja, aku mau”.

~***~

Game center, department store, dan noraebang. Ketiga tempat itu berhasil membuat mereka berdua bersenang senang dengan melupakan status bolos mereka hari ini, sekaligus juga membuat keduanya kelelahan. Meski baru bertemu untuk kedua kalinya pada hari ini, namun semua yang mereka lakukan

sama layaknya sepasang sahabat yang sudah mengenal lama. Sebagai tempat beristirahat, mereka memilih pinggiran sungai Han, sekedar untuk merileks kan diri setelah jalan-jalan berjam-jam.

“Melelahkan”, komentar Kai saat baru duduk di atas rumput di pinggiran sungai Han. Minhee ikut duduk di sebelahnya.

“Ini pertama kalinya aku bolos”, ujar Minhee. “Dan, ternyata memang menyenangkan”.

“Uh, benar-benar anak rajin”, timpal Kai. Minhee hanya mengerutkan dahinya tanpa menoleh ke arah Kai.

“Tapi hari ini ada ulangan dan PR yang harus dikumpulkan hari ini juga”, kata Minhee sambil bertopang dagu. “Aish, jinjja. Nilai pelajaran bahasa ku akan dikurangi oleh guru ku yang mengerikan itu. Belum lagi PR nya adalah PR mengarang cerpen bebas. Aku tidak tahu karangan ku sudah benar atau belum. Kemarin malam aku membuatnya secepat kilat. Aigo~ Bagaimana ini? Bagaimana kalau si killer itu mengurangi nilaiku habis-habisan? Bagaimana kalau—“

“Kau hanya membuat diri mu sendiri semakin khawatir”, potong Kai sebelum Minhee menyelesaikan kalimatnya. “Lagipula, siapa suruh mengerjakan PR tepat SEMALAM sebelum PR itu dikumpulkan? Kalau kau sudah menyiapkannya jauh-jauh hari mungkin kau tidak akan se khawatir ini~”.

Minhee menyimpan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga nya ketika angin bertiup. “Sudah lah, jangan bahas itu lagi. Besok aku akan memohon mohon pada beliau agar menerima PR ku dan mau memberi ulangan susulan”.

Ia pun mencari cari sesuatu dalam tas putihnya dengan teliti, sampai ia menemukan lembaran kertas-kertas yang sudah di klip. Minhee menyerahkan kumpulan kertas itu pada Kai.

“Apa ini?”.

“Karanganku”, ujar Minhee. “Tidak penting alur ceritanya, yang penting kalimatnya sudah efektif atau belum, dan tanda bacanya juga”.

Kai menatap halaman pertama dari kumpulan kertas itu dan langsung menemukan kalau tulisan Minhee memiliki ciri khas yang lain dari pada tulisan hangul pada umumnya. Ia pun membaca kalimat-kalimat itu dari atas dengan teliti.

“Harapan”, gumam Kai ketika membaca judul karangan Minhee.

Minhee menunggu Kai menyelesaikan membaca karangannya sembari mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Tidak ada yang terlalu menarik perhatiannya.

Pandangannya tertuju pada jam berdiri di sekitar sungai Han. Sepuluh menit menuju jam lima sore namun orang orang masih ramai mengunjungi sungai Han. Beberapa di antaranya hanya berjalan-jalan biasa, ada juga yang berfoto bersama, dan ada pula yang hanya menyendiri.

Minhee melirik namja di sampingnya ini. Namja itu sedang serius membaca kalimat-kalimat yang ditulis Minhee di kertas itu, tidak ada tersirat rasa membosankan dalam pandangan mata Kai. Sebaliknya, Minhee malah mendapati Kai benar-benar serius dan antusias dalam membaca karangan Minhee yang bertemakan keluarga broken home itu.

Syukurlah kalau begitu. batin Minhee.

“Wow”, kata Kai setelah ia terdiam selama sepuluh menit karena membaca karangan Minhee. “Berapa lama kau membutuhkan waktu untuk menulis ini?”.

“Hmm, dari jam sembilan sampai jam dua belas”, ujar Minhee. “Kenapa? Alur cerita nya kacau ya?”.

“Tiga jam?”, ulang Kai lagi. “Tiga jam dengan tulisan serapi ini?”, kata Kai dengan penekanan. “Dan, masalah alur cerita, benar benar tidak pasaran seperti yang biasa ku baca, dan poin yang paling ku suka, cara pengungkapan kalimat nya bagus, unik lebih tepatnya”.

“Ke efektifan kalimatnya? Tanda baca nya?”.

“Semua sudah lebih daripada yang terbaik”, ujar Kai seraya menyerahkan kumpulan kertas itu kepada Minhee lagi. “Guru mu pasti akan memberi nilai lebih”.

“Mudah-mudahan begitu”, kata Minhee. Ia menyimpan lagi karangannya di dalam tas. “Gomawo, sudah mau capek-capek membaca karangan ku”.

“No problem”, balas Kai.

Mereka berdua kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Minhee yang merasa risih karena rambutnya yang ditiup angin terus menghalangi pandangannya, menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Dan ketika itu lah luka goresan di dekat telinganya terlihat oleh Kai. Luka yang cukup panjang itu terlihat baru. Minhee yang menyadari tatapan Kai ke arah luka di dekat telinganya langsung menyibakkan rambutnya ke depan lagi.

“Kau kenapa?”, tanya Kai. Ia menggeser helaian rambut yang menutupi luka di telinga Minhee dan menyentuh daerah di sekeliling luka itu dengan jemarinya. Minhee sedikit meringis karena merasa kesakitan dan ia menepis tangan Kai.

“Aish, ini hanya luka biasa”, jawab Minhee.

“Kenapa kau bisa terluka begini?”.  Ia menatap gadis di sebelahnya dan bertanya tanya dalam hati, kenapa Minhee bisa terluka di daerah dekat telinga, tempat yang biasanya jarang terluka.

“Hmmm…”, gumam Minhee. “Boleh aku bercerita sesuatu?”.

“Tentu saja”. Kai mengangguk, menyetujui kata Minhee. “Apa itu?”.

Minhee mengulas sedikit senyum di bibirnya sebelum memulai bercerita.

“Beginilah ceritanya….”.

 

#Flashback#

Minhee membuka pintu rumahnya dan memasuki rumahnya yang sepi tersebut. Tak ada tanda-tanda ada manusia di rumah ini. Ia sangat lelah, kegiatan di sekolah benar benar menguras tenaganya. Dengan langkah gontai Minhee berjalan ke arah dapur, berniat mengambil segelas air putih untuk meredakan hausnya.

Ia pun berjalan ke ruang makan dan mengambil gelas, kemudian menuangkan segelas air. Ketika Minhee berbalik, betapa terkejutnya ia saat mendapati sebuah piring mengenai perutnya tiba-tiba. Minhee pun menghindar dan…tak dapat di elakkan, piring tersebut jatuh ke lantai granit ruang makannya dan kini piring itu berubah jadi puluhan kepingan kecil.

Minhee menatap wanita yang membawa piring itu dan mengernyitkan dahi. “Nuguseyo?”, tanyanya. Ia tidak pernah melihat orang ini sebelumnya.

“Yak! Apa yang kau lakukan ! Semua makanan ini jadi berserakan ! Tidak tahu ya kalau memasak ini perlu waktu lama?!”, kata orang itu seraya mendorong pundak Minhee keras. Minhee yang merasa tak terima langsung tersulut emosinya, dan ia langsung buka suara.

“Harusnya aku yang bertanya begitu ! Ini rumahku ! Aku bisa melakukan apa saja yang ku mau !”, pekiknya. Minhee melemparkan tatapan tajam pada wanita yang memakai blus warna cokelat dan celana hitam itu, tidak peduli berapa usia wanita tersebut. Ia pun berjalan menjauhi wanita itu dan meneguk air dalam gelas, kemudian menghentakkan gelas kosong itu di atas meja makan.

“Jung Minhee !”.

Minhee menoleh ke sumber suara dan mengernyitkan dahi saat melihat Appanya menatap nya dengan emosi.

“Appa?”.

Appa Minhee langsung menarik tangan anaknya itu kasar dan sorot kemarahan itu masih terpancar di matanya. “Kau tidak tahu sopan santun atau bagaimana?! Anak macam apa kau ini?!”.

Minhee tidak merasa takut dengan Appa nya saat ini. Ia marah, seharusnya bukan dia yang di salahkan atas kejadian tadi. Minhee hanya diam, sudut sudut alisnya menaik tanda ia mulai emosi.

“DIA YANG AKAN MENGGANTIKAN IBUMU !!”.

Minhe menatap Appa nya tajam. “Aku sudah tahu kalau wanita jelek itu akan menggantikan ibuku”.

Ia berjalan melenggang melewati Appa nya dengan kasar. Appa nya yang tidak bisa menahan emosi, menarik tangan anak nya itu lebih kasar dari yang pertama hingga mau tak mau Minhee berbalik.

“Apa lagi?”, tanya Minhee.

PLAK

Sebuah tamparan dari Appa Minhee berhasil mendarat di pipi kiri Minhee dengan keras, hingga Minhee sedikit limbung karenanya. Pipinya langsung memerah dan di depan telinganya muncul setitik darah merah segar. Minhee mengelus pipinya dan mendapati sebercak darah di telapak tangannya. Ia masih kuat mempertahankan kata kata kasarnya agar tidak keluar dari mulutnya, meski rasanya emosi itu sudah memuncak.

“Jaga omonganmu Jung Minhee ! Umurmu masih 16 tahun! Kau belum tahu apa-apa!”, seru Appa nya. Matanya kini melotot, memandang Minhee dengan amarah yang meluap-luap.

“Aku malu menjadi seorang anak dari keluarga berantakan ! CAM KAN ITU !”, pekik Minhee tak kalah keras. Ia langsung berlari menuju tangga dengan amarah yang masih membanjiri tiap sudut tubuhnya.

“MELAWAN SAJA KERJAMU ! Anak durhaka !”.

Minhee tidak memperdulikan lagi kata-kata Appanya. Kali ini ia benar benar tidak tahan. Air mata itu menyembur keluar dari matanya saat ia membanting pintu kamarnya keras. Ia mengunci pintu kamarnya dan membiarkan dirinya menangis sejadi-jadinya sendirian. Darah yang mengalir dari sisi kiri wajahnya kini bercampur dengan air matanya. Ia tidak peduli dengan hal itu, yang ia pikirkan hanya satu: bagaimana caranya melanjutkan hidup setelah di terpa hal-hal mengenaskan seperti tadi.

#Flashback Off#

“Jadi…begitulah”, ujar Minhee seraya mengusap usap pipi kirinya. “Untung tidak banyak darah yang keluar, jadi aku tidak perlu pingsan karena ketakutan”. Minhee sedikit terkikik saat mengatakan hal itu.

Kai menatap gadis di sampingnya ini dengan raut muka aneh. Bisa bisa nya gadis itu tertawa setelah menceritakan hal itu.

“Tenanglah, Minhee”, kata Kai prihatin. “Jadi selama ini….keluargamu…”.

“Ya”, jawab Minhee sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya. “Kau ingat hari pertama kita bertemu? Saat itu aku sedang stress karena mereka bertengkar dan suara mereka membangunkanku”. Minhee mendengus kesal.  Ia sebenarnya tak ingin melawan orangtuanya seperti ini…namun entah kenapa perasaannya lebih menguasai daripada logikanya. Minhee menghela nafas dan menunduk dalam-dalam.

“Hey, jangan begitu”. Kai pun tersenyum. Ia menaikkan dagu Minhee dengan tangannya. “Pasti ada sesuatu yang lebih baik yang menunggu dibalik semua ini. Kau hanya punya dua pilihan, menunggu nya atau menghancurkan semuanya. Kalau kau sabar menunggu hal itu, ia akan datang menghampirimu. Tapi, kalau kau malah lari, ia tak akan datang kepada dirimu”.

“Lalu? Tujuanmu berkata seperti itu?”.

“Supaya kau sabar menunggu hikmah dari semua hal ini”, jawab Kai. “Siapa sih yang tahu apa yang akan terjadi besok? Karena itu, sebelum semuanya terlambat, lebih baik kau memulai bersabar duluan. Mungkin saat ini kedua orangtuamu bertengkar untuk menemukan jalan yang terbaik. Bukan bermaksud menggurui…itu hanya pendapatku”. Kai sendiri heran kenapa ia bisa mengeluarkan semua kata-kata itu, yang tak pernah melintas di pikirannya sebelumnya.

Begitukah? pikir Minhee. Ia memasukkan semua kata Kai dalam benaknya agar ketika ia mengalami hal semacam tadi ia bisa mengingatnya. Perlahan ia mengangguk-angguk dan sedikit tersenyum.

“Ya..ya. Akan kucoba”, balas Minhee. “Terimakasih atas sarannya”, katanya lagi. “Terimakasih untuk semuanya, Kai. Dan…maaf juga, kalau rasanya aku jadi ikut membebanimu dengan masalahku…”.

“Tidak, aku tidak terbebani. Aku justru senang bisa membantumu mengurangi beban masalahmu”.

Dalam hati Minhee benar benar bersyukur bisa bertemu dengan Kai. Hatinya memang benar benar baik dan tulus, meski dari luar ia terlihat cuek. Setidaknya, Minhee bisa membagi isi hatinya selain kepada Soorin. Bertambah lagi orang yang ia percaya.

“Aku berhutang banyak padamu”.

Kai menatap Minhee penuh arti, begitu pula Minhee. Kedua pandangan itu bersatu selama beberapa saat. Pandangan itu mengartikan berbagai makna yang mungkin tidak bisa diungkapkan dengan kata.

Senyuman tulus Kai mengakhiri aksi saling memandang itu.

“Ayo kita pulang”.

Minhee pun berdiri dan berjalan di samping Kai. Sinar matahari sore yang meredup menusuk matanya, seakan menyadarkan Minhee tentang waktu. Ya, sekarang sudah hampir setengah enam, namun ia tidak merasa waktu berjalan secepat itu.

Tanpa ragu-ragu Kai meraih tangan kanan Minhee dan menggenggamnya dengan erat. Seperti menguatkan dan menjaganya sekaligus.

~***~

Mereka pun tiba di depan rumah ber cat abu-abu muda dan bertingkat dua, rumah yang tergolong cukup mewah. Minhee menatap rumah yang sudah hampir 17 tahun ia tinggali itu dan menghela nafas berat.

“Oke, kita sudah sampai”, ujar Minhee. “Terima kasih banyak untuk hari ini, Kai”.

Kai hanya tersenyum. “Seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Hari ini aku menolongmu untuk yang kedua kalinya kan?”.

Minhee terdiam, menyadari bahwa namja di hadapannya ini berhati baik, jauh di atas baik malahan

“Baiklah”, kata Minhee pada akhirnya. “Sampai ketemu lagi”.

Kai melangkahkan kaki menjauh dari tempat Minhee berdiri. Ia sedikit membalikkan badannya dan melambai pada Minhee.

“Jangan lupakan aku”, ujarnya, kemudian melanjutkan langkahnya.

“Ne, jangan lupakan aku juga !”, Minhee melambaikan tangannya pada Kai, sambil tersenyum.

Kai tersenyum mendengar suara Minhee dari kejauhan. Meski Minhee tidak bisa melihat senyumnya, tapi ia yakin, Minhee pasti tidak akan lupa dengannya dan segala hal yang telah ia lakukan pada Minhee.

Yeoja itu sukses membuatku selalu memikirkannya selama sebulan ini…..

~***~

–Seoul, May 2010—

Minhee menguap dan melirik ke arah jam digital yang terletak di sudut meja belajarnya. 06:00. Sambil tersenyum Minhee menutup buku Fisika yang sudah hampir tiga jam ia pelajari itu dan berjalan menuju tempat tidur, berniat untuk tidur lagi selama satu jam.

Minggu ini adalah minggu ujian kenaikan kelas. Dan bagi seorang Minhee yang menganggap prestasi adalah hal nomor satu yang harus di capai di sekolah, ia belajar mati-matian untuk medapat hasil yang terbaik. Jam tiga pagi sampai jam tujuh pagi adalah jadwal belajar nya. Minhee merasa lebih baik bila ia belajar lewat jam 12 malam daripada sampai jam dua belas malam. Sudah kebiasaannya sejak SMP, ia akan tidur dulu dari jam 8 malam sampai jam 3, baru kemudian ia belajar.

Mata Minhee tertuju pada kalender yang tergantung manis di dekat pintu kamarnya. Sekarang tanggal 26 Mei. Ia pun menghitung hari menuju tanggal 24 Juni.

Sebulan lagi…kira kira aku akan mendapat kado atau tidak?

Minhee mengabaikan pertanyaan dalam kepalanya, kemudian ia memejamkan matanya, berusaha memanfaatkan waktu sampai jam tujuh untuk tidur. Tapi nyatanya sulit. Ia masih memikirkan ulang tahun ke tujuh belas nya tanggal 24 Juni mendatang. Biasanya remaja lain akan merayakan ulang tahun ke tujuh belas mereka dengan besar-besaran, tapi Minhee meragukan hal itu akan terjadi padanya.

Tidak ada yang ingat dengan ulangtahun ku, mungkin. Selain Soorin. Soorin pun sudah semakin sibuk sekarang.

Minhee menarik selimutnya dan membalikkan badan ke kiri, memejamkan matanya, dan berusaha menghilangkan segala pemikiran yang muncul dalam benaknya.

~***~

Pandangan mata Minhee tertuju pada sebuah bakery di pinggir jalan, tepatnya pada sebuah kue tart yang ada di etalase toko itu. Kue tart itu memang bentuknya simpel, berwarna putih, dan tidak terlalu banyak hiasan. Namun Minhee langsung tertarik dengan bentuknya yang sederhana itu. Ia pun memandangnya selama beberapa saat dari trotoar hingga Soorin menarik lengan Minhee dan mengajaknya berjalan lagi.

“Ayo”, kata Soorin. “Jangan membuang waktu, belanjaanku berat”, ujarnya sambil memperbaiki letak tas belanjaannya.

“Apanya yang berat, hanya makanan saja yang kau beli tadi~”, balas Minhee. Soorin memajukan bibirnya, tanda dia tidak setuju dengan pernyataan Minhee.

Mereka pun terus berjalan hingga tiba di halte bus. Soorin menghela nafas dan menaruh tas belanjaannya di kursi halte, sedangkan Minhee hanya melamun, memandang gedung SM Entertaiment yang terletak tak jauh dari halte yang mereka duduki sekarang. Gedung itu terletak di seberang jalan. Banyak orang keluar masuk dari gedung itu, mengingat sekarang sudah jam 4 sore Minhee berpikiran kalau orang orang tersebut baru pulang bekerja.

“Ah, gedung SM…”, ujar Soorin sebelum Minhee membuka mulutnya. Minhee tetap memperhatikan orang yang keluar masuk dari gedung itu.

“Ne, kenapa dengan gedung itu?”, tanya Minhee.

“Aku jadi ingat oppadeul ku yang ada disana..”.

Minhee mencibir dan menatap sahabatnya itu. “Yak, Soorin, rasaku tiap hari otakmu hanya dipenuhi oleh semua yang berbau Super Junior!”.

Soorin hanya terkikik. “Mau bagaimana lagi, aku terlalu nge fans dengan mereka semua”.

Minhee hanya menghela nafas. Ya, dia juga menyukai Super Junior, tapi tidak terlalu gila dan fanatik seperti Soorin.

“Kenapa belum ada bus ya daritadi?”, tanya Soorin. Ia pun membuka botol minumannya dan meneguk isinya separuh. Minhee hanya mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan temannya itu.

Dan, beberapa saat kemudian, seseorang berpostur tubuh tinggi yang familiar bagi Minhee baru saja keluar dari gedung SM dengan seorang lainnya yang tidak Minhee kenal. Dengan cermat Minhee memperhatikan orang yang rasanya ia ketahui itu dari jauh, dan setelah ia mengamatinya, Minhee menarik kesimpulan kalau itu benar benar dia.

Kai? Keluar dari gedung SM? Untuk apa?

Namja yang Minhee kira adalah Kai itu tertawa dengan namja lainnya yang tidak Minhee kenal, dan seketika Minhee benar benar yakin bahwa itu Kai, alias Kim Jong In.

Minhee mengeluarkan ponselnya dan segera mencari nomor Kai, kemudian menekan tombol call. Ia pun berdiri dan tetap menatap Kai. Soorin mengernyitkan dahinya heran, melihat perubahan tingkah laku sahabatnya itu.

“Siapa?”, tanya Soorin.

“Tunggu”, jawab Minhee tak kalah singkat. Minhee menatap dengan harap-harap cemas kepada Kai yang berada di seberang jalan dan….berhasil. Kai mencari cari sesuatu di dalam tas nya dan mengambil ponselnya, membuka flip ponsel itu, kemudian ia berhenti berjalan.

“Yeoboseyo?”, sapa Kai di sebrang telfon. “Ada apa Minhee?”.

“Coba lihat ke seberang jalan”, ujar Minhee. “Tepatnya di halte bus di seberang jalan kau berada sekarang”.

Kai tampak mencari cari apa yang dimaksud Minhee, dan ketika ia melihat ke seberang jalan, Minhee sedang melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Kai balas melambaikan tangan pada Minhee.

“Menyebranglah. Aku ingin bertanya”, kata Minhee kemudian memutuskan sambungan telfon.

“Nuguseyo?”, tanya Soorin lagi.

“Ah, dia Kai, temanku. Dia baru saja keluar dari gedung SM”, ujar Minhee.

“Mwo? Serius?”, kata Soorin antusias. “Apakah dia…seorang  trainee?”.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”.

“Kau tahu, tidak sembarang orang bisa masuk ke gedung SM”, ujar Soorin.

“Itu yang ingin ku tanyakan padanya”, kata Minhee sambil merapikan poni nya yang tertiup angin.

Kai dan namja yang tidak ia kenal itu berjalan ke arah Minhee dan Soorin, dan seketika Minhee seperti membeku saat mendapat eye contact dengan Kai.

“Hai!”, sapa Kai sambil tersenyum. “Kebetulan sekali, kau ada disini. Padahal aku barusan berniat ingin ke rumahmu”.

Minhee hanya balas tersenyum.

“Apa yang kau lakukan di sana?”, tanya Minhee to the point.

“Uhm..itu….”. Kai menaruh tangannya di tengkuknya dan menatap jalanan di bawah kakinya. Minhee melipat tangannya di depan dada, menunggu penjelasan Kai.

“Sepertinya kita tidak bisa berbicara disini”, ujar Kai. “Akan ku jelaskan, tapi jangan beri tahu orang lain”.

“Disini saja, aku tidak punya waktu lebih”, bantah Minhee.

“Minhee, apakah kita akan—“

“Ah, ya  Soorin”, ujar Minhee memotong perkataan Soorin. “Kenalkan, ini sahabatku, Soorin”.

Soorin berdiri di sebelah Minhee dan ia menatap Kai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Minhee menahan nafas, kebiasaan Soorin saat baru pertama kali bertemu seseorang tidak pernah berubah. Ia akan memperhatikan orang tersebut dengan detil untuk memperkirakan sifatnya.

“Kai imnida”, ujar Kai terlebih dahulu, sebelum Soorin mengatakan apa-apa. Ia cukup risih di perhatikan Soorin dari atas ke bawah seperti itu. “Dan ini temanku, Se Hun”.

“Se Hun imndia”, ujar namja di sebelah Kai dan ia membungkuk sedikit. Soorin hanya tersenyum, sedangkan Minhee hanya menatap Se Hun datar. Ia baru kenal dengan Se Hun, yang ternyata adalah teman Kai.

“Senang berkenalan dengan kalian, Kai, Se Hun”, kata Soorin.  “Sepertinya Minhee sudah kenal lama dengan kalian, benarkah?”.

“Hanya dengan Kai”, ujar Se Hun. “Aku juga baru kenal dengan Minhee secara langsung sekarang. Biasanya Kai terus-menerus membicarakan—“

Kai mencubit lengan Se Hun sebelum Se Hun menyelesaikan omongannya, dan Se Hun membalasnya dengan melemparkan death glarenya pada Kai.

“Oke, oke, sekarang jelaskan padaku, apa yang kalian  lakukan di gedung SM?”, kata Minhee mengulang  pertanyaannya yang belum terjawab.

“Kami adalah trainee di SM”, jawab Se Hun yang langsung dibalas oleh tatapan ‘sekarang-bukan-waktu-yang-tepat’ dari Kai. Se Hun hanya mencibir ke arah temannya itu dan mengalihkan pandangannya pada Minhee.

“T…trainee?”.

“MWO?!”, kata Soorin histeris. “Jinjja yo?”.

“Tidak bohong”, kali ini Kai yang menjawab. “Maaf, aku tidak memberi tahu hal ini padamu sebelumnya tapi….”. Kai menghela nafas.

“J..jadi..jadi..waktu hari rabu pertama kita bertemu itu….”.

“Aku baru selesai latihan saat itu”.

“Uhm, Se Hun, sebaiknya kita beri mereka privasi”, kata Soorin sambil melirik Minhee dengan tatapan jahil.

Se Hun hanya terkikik dan berjalan bersama Soorin, menjauhi Minhee dan Kai yang menatap mereka seakan akan mereka adalah bukan mahkluk bumi.

“Biarkan saja, Soorin memang seperti itu”, bisik Minhee saat dilihatnya Soorin dan Se Hun langsung akrab dan tertawa-tawa tanpa canggung. “Bisa kau lanjutkan?”.

“Yah…..”. Kai mengacak-acak rambut hitamnya dengan tangannya sendiri, merasa tidak fokus. “Aku baru pulang latihan dance waktu itu”.

“Mwo? Jam 1 pagi?”.

“Mhmm, SM memang tidak manusiawi kalau masalah jadwal training”, kata Kai.

“Se Hun juga trainee di SM?”. Kai mengangguk.

“Jadi kalian…kapan debut? Apa kau akan menjadi penyanyi nantinya? Atau dancer? Atau rapper?”, tanya Minhee bertubi tubi.

“Dancer. Kami berdua akan jadi main dancer di boyband yang direncanakan oleh SM dan—“

“Wah hebat!”, potong  Minhee. “Lalu?”.

“Yah…masalah debut belum pasti. SM hanya merencanakan debut dua buah boyband sejak 2009. Tapi tidak tahu kapan”.

“Oh begitu kah?”, ujar Minhee. “Dua boyband? Sekaligus?”.

“Ne”, jawab Kai singkat. “Dan ada beberapa orang trainee dari China. Entah apa yang direncanakan pihak SM…aku sendiri tidak tahu”.

“Wah”, gumam Minhee. “Aku tidak sabar melihatmu terkenal bersama boyband mu. Apalagi kau seorang main dancer nya”.

“Dan aku akan punya banyak fans yeoja dari seluruh dunia!”.

PLAK

Minhee memukul bahu Kai dengan keras hingga Kai merintih. “Yak! Kenapa, kau cemburu?”.

Dengan segera Minhee menggeleng dan mencibir ke arah Kai. “Buanglah rasa percaya dirimu yang berlebihan itu!”.

“Kalau aku terkenal nanti, jadilah fans ku”.

“Tidaaaak !”, jawab Minhee sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Aku tidak pernah membayangkan…..menjadi fans seorang Kai…”. Kemudian, Minhee melanjutkan, “Aku hanya takut kau akan jadi sombong bila terkenal nanti”.

Kai hanya mengacak acak rambut Minhee dan tertawa. “Aku bukan tipe orang seperti itu”.

Minhee memutar bola matanya, tanda ia tidak peduli.

“Yasudah, aku tinggal dulu ya? Aku dan Se Hun ada janji dengan orang lain”, kata Kai sambil menurunkan tangannya ke bahu Minhee.

“Se Hun sepertinya sedang asyik dengan Soorin”, ujar Minhee. Ia menatap Se Hun yang sedang tertawa geli dengan Soorin, tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Seperti sudah lama mengenal, padahal baru beberapa menit yang lalu.

“Mereka cocok sekali”, komentar Kai. “Sama-sama gila”.

“Kekekeke~ Soorin memang gila”, tambah Minhee lagi. “Oiya, omong-omong Se Hun seumuran dengan kita?”.

“Ne~ Dia tahun 94 juga. 12 April tepatnya”.

Minhee mengangguk-angguk. “Oke, sampai ketemu lagi Kai”. Ia melambaikan tangannya pada Kai dan tersenyum.

Kai hanya balas melambaikan tangan dan tersenyum tak kalah manisnya dengan Minhee, kemudian ia menghampiri Se Hun dan Soorin yang masih saja tertawa-tawa.

“Hey, sudah, sudah”, kata Kai saat tiba di belakang mereka. “Se Hun, kau lupa janji kita dengan mereka?”.

“Ah iya, aku ingat”, balas Se Hun. “Uhm, Soorin, kau sudah menyimpan nomor telfon ku kan?”.

“Pasti”, kata Soorin. “Telfon aku nanti, oke?”.

“Baiklah”. Se Hun pun menoleh kepada Kai. “Kajja, hyung”.

“Sampai nanti Se Hun !”. Soorin melambaikan tangannya pada Se Hun yang kini berjalan menjauh dari Soorin. Se Hun hanya tersenyum pada Soorin.

“Akrab sekali kalian”, kata Minhee saat Soorin sudah kembali ke halte bus.

“Se Hun orangnya humoris”, ujar Soorin sambil terkekeh. “Karena itu kami langsung cocok saat berbicara tadi”.

“Jinjja yo?”, ucap Minhee. “Apa kalian ada membicarakan sesuatu tentangku?”.

“Pastinya”, kata Soorin. “Tenang saja, bukan sesuatu yang buruk”.

“Apa?”.

Soorin berdehem sebelum ia membuka mulut untuk berbicara. “Umm…rahasia”.

Minhee mengernyitkan dahinya seraya menatap Soorin. “Kalau itu bukan hal buruk tidak mungkin kau merahasiakannya”, ujarnya.

“Sudahlah, jangan bahas itu lagi”, balas Soorin. “Percaya padaku, kami tidak membicarakan hal yang buruk tentangmu, karena kau bahkan tidak punya hal buruk untuk di bicarakan”.

Minhee hanya mengangkat bahunya dan menatap sahabatnya itu aneh. Yah, dalam hati ia benar benar penasaran dengan apa yang mereka bicarakan tentangnya, namun ia tidak menunjukkannya. Mungkin di saat yang tepat ia akan tahu.

~***~

–Seoul, June2010—

“Ms. Jung Minhee. 25 June 2010. Destination to Tokyo. 11.35 am?”, gumam Minhee. Setelah membeli makanan ringan di minimarket, ia mendapati kertas penuh tulisan dengan logo sebuah perusahaan penerbangan di meja belajarnya, dan seketika ia mengerutkan keningnya. Rasanya ia tidak pernah memesan tiket pesawat selama ini.

Kenapa di tiket ini tertulis namaku, dan kenapa harus ke Tokyo? Ada apa tanggal 25 Juni?

Minhee menaruh lagi tiket pesawat itu di meja belajarnya dengan pertanyaan yang masih menggantung di pikirannya.

Mungkin ajakan liburan ke Jepang? Siapa tahu? pikirnya.

Ia ingin bertanya pada Eomma atau Appa nya sekarang juga. Siapa tahu ia mendapat respon positif. Tapi kini mereka berdua sedang bekerja.

Sigh.

Berusaha untuk mengabaikan hal itu, Minhee mengambil ponselnya, berniat untuk surfing di dunia maya sejenak. Namun ketika ia membuka kunci tombol ponselnya, tertera tulisan “8 missed call” yang membuatnya langsung mengerutkan kening.

Eomma calling. 8 June on 16:23.

Minhee terpaku sejenak melihat tulisan itu. Terakhir kali Eomma nya menelfon bulan lalu, itupun hanya untuk memberi tahu Minhee dimana letak kunci rumah mereka karena Eomma nya berencana untuk pulang sampai malam. Tapi kini Eommanya menelfon 8 kali dan tak Minhee sadari.

Ia pun menekan tombol Call dan mendekatkan ponsel touch screen itu ke telinganya, menunggu sang pemilik telfon di ujung sana mengangkatnya.

“Yeobosseyo, ada apa Minhee?”.

“Kenapa Eomma menelfonku? Mian, tadi aku pergi ke minimarket sebentar, aku tidak bawa ponsel”.

Terjadi hening sejenak di telfon, membuat Minhee sedikit cemas. “Kau sudah lihat tiket pesawat itu? Di meja belajarmu?”.

“Ah, ne”.

“Eomma memesankan tiket itu untukmu”.

“Tunggu”. Minhee menyadari ada sesatu yang tidak biasa yang ia temukan pada Eomma nya sekarang. “Dalam rangka apa?”.

“Kita…..”.

Eomma nya menghela nafas berat, seakan sulit untuk membicarakan hal ini.

“Kita kenapa?”, tanya Minhee mulai tak sabar.

“Kita akan pindah ke Jepang”.

“MWO? P..p..pin..dah?”.

 

~TBC~

 

*Sigh* Hai readers! Masih ada kah yg nunggu ff aneh bin ajaib ini? .____.

Sebelumnya…author minta maaf karena lamaaaa banget gak update. author baru selesai UN dan (akan) sibuk dgn pendaftaran masuk SMA. Kekeke, harap maklum yaa~

Dan…gimana ceritanya? Kepanjangan ya? Pasti masih ada kekurangan kan?  karna itu, RCL are really222 appreciated 🙂 Kritik aja se pedes mungkin asal kritiknya membangun ya 😀

 

12 pemikiran pada “A Reason To Stay (Chapter 2)

  1. Minhee…kamu tetap di korea aja, temenin si Kai jadi Yeoja Chingunya~ *Ea* *Kai tersipu malu* *Towel2 Kai* XD Sehun Soorin Cocok seketika XD Di Tunggu Lanjutannya ya Thor ^^ 🙂 😀 =))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s