No Way~!

Author: Mita Permata. (@mitaaamitaaa)

Main cast: Oh Sehun, Xi Luhan, Byun Baekhyun.

Other cast: Exo’s member

Pairing: Hunhan, tapi mungkin Hunhan-nya tidak terlalu kelihatan. 😦

Genre:  Angst (tidak yakin._.) –  friendship –  dan mungkin ada sedikit yaoi.

PS: Ini ff pertama bikinanku. Pertama kali buat fanfic dan pertama kali  post disini. ^^ Maaf kalo banyak typo[s], maklumlah, baru pertama kali bikin fanfic. Dan, maaf kalo ceritanya sedikit gak jelas. 😀 Cekidott!

[Oh Sehun’s POV]

 

Pagi yang gelap  ini, yang dihiasi dengan suara petir, membuatku bosan. Suara yang berisik sekali ini rasanya ingin aku kecilkan volumenya. Aku termenung, tetapi aku tidak tau harus merenungkan apa.

 

Mungkin merenungkan eomma-ku yang sudah meninggalkanku sedar kecil?

Atau merenungkan appa-ku yang aku tidak tau sekarang dia berada dimana?

Ah, itu hanyalah suatu hal yang bodoh, buat apa aku merenungkan semua hal itu? Berpikir selama apapun, aku tetap tidak akan mendapati semua jawabannya. Setiap saat aku bertanya kepada hyung-ku-yang bernama Byun Baekhyun-, tetapi dia selalu saja menjawab, ‘sudahlah, kamu tidak perlu mengetahuinya’ atau ‘Sehun-ah, kamu masih terlalu kecil untuk mengetahuinya, hyung janji jika kamu sudah besar nanti, hyung akan menceritakan semuanya’ atau bla-bla-bla.

 

Dan, apa kalian semua sadar? Aku dan hyung-ku sendiri mempunya marga yang berbeda? Ah, ini sangat konyol. Aku bingung, apa yang ada di otak appa-eomma? Sudahlah, ini semua tidak perlu dibahas.

 

Aku ingat, saat aku masih berumur 5 tahun, appa dan eomma sedang berdebat merebutkan suatu hal, saat itu aku masih terlalu kecil, jadi aku sudah lupa apa yang mereka bicarakan. Semua kejadian itu membuatku merasa sedih, kenapa appa dan eomma selalu saja berdebat? Ah, dan aku masih ingat! Saat eomma member kunci rumah dan sedikit uang untuk aku dan Baekhyun-hyung.

 

Aku tidak tau masalah keluarga karna aku tidak boleh tau masalah keluarga. Apa aku tidak boleh tau masalah keluarga karna aku masih terlalu kecil?

Hyung, aku ini sudah kelas 1 SMA, apa kamu masih menganggap diriku ini anak kecil?

 

Semua hal ini, sangat membuatku kesal. Aku tau, kalau eomma mempunyai sebuah restauran kecil di Busan sana.

Aku selalu mendengar percakapan telepon antara Baekhyun-hyung dengan eomma.

Dan, beberapa kali juga, Baekhyun-hyung pergi mengunjungi restauran eomma.

Tetapi, setiap aku meminta untuk pergi bersamanya, dia selalu menolak dan menyuruhku untuk belajar.

Ah, memang hyung-ku ini sangat merahasiakan semua cerita tentang keluarga, aku ingin sekali bertemu eomma, hyung! Dia eomma-mu, dan eomma-ku juga!

 

Eomma, appa, apa kalian semua tau? Anakmu ini sangat membutuhkan kalian. Membutuhkan nafkah dari seorang appa. Membutuhkan makanan lezat dari eomma yang sudah melahirkan aku dan Baekhyun-hyung. Membutuhkan kasih sayang dari kalian. Apa kalian semua tega? Jika aku dan Baekhyun-hyung sudah lelah mencari uang sendiri, dan mati kelaparan, apa kalian semua tega? Aku tidak mau terlalu mengandalkan Baekhyung-hyung, karna aku tau, Baekhyun-hyung tidak hanya mengurusiku.

 

Tidak terasa, air mataku sudah menetes, menetes dan menetes.. Mengingat semua keluargaku yang sudah hancur seperti ini. Anggota keluarga yang masih ku punya dan yang bisa aku andalkan hanyalah Baekhyun-hyung. Satu satunya kakak-ku, kakak tercinta ku. Aku tidak mau dan tidak akan membuat Baekhyun-hyung menjadi setres. Dia sudah kuliah, dia banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku selalu mendengar suara tangisan Baekhyun-hyung, apakah dia lelah mengurusiku selama ini?

 

Apakah dia butuh bantuan dari eomma untuk mengurusiku? Apakah hyungku butuh bantuan dari appa untuk menafkahi aku selama ini? Aku tau perasaan Baekhyun-hyung selama ini.

 

 

Tok tok tok! Tiba tiba saja ada yang mengetu pintu kamarku dan tentunya mengagetkanku. Aku langsung mengusap air mataku. Baekhyun-hyung masuk ke dalam kamarku, sepertinya dia tau kalau aku baru saja menangis. “Sehun-ah…” panggilnya sambil menghampiriku, “ah, wae hyung?” tanyaku, “Kamu sedang ada masalah? Hyung lihat matamu sedikit lembab,” tanyanya balik.  “Ah.. Gwenchana. Hyung tadi memanggilku, wae?” jawabku-tentu saja sedikit berbohong-.  “Ini.. Hyung sudah siapkan ‘ddobokki’ dan susu coklat hangat di meja makan, kita sarapan dulu. Hari sudah menjelang siang,” ajaknya.

 

Akupun langsung menuju meja makan, Baekhyun-hyung mengikutiku dari belakang.

 

“Jal meogeosseumnida, hyung!” seruku sambil melahap ddobokki ala Baekhyun-hyung, “ne, nado” jawabnya sambil tersenyum melihat aku makan dengan lahapnya. “Uhmm, mashittda!” seruku lagi, kali ini ddobokki-nya memang sangat lezaaat!

 

Setelah aku menyantap ddobokki yang lezat itu, tiba tiba saja ada yang meneleponku. Aku lihat, ternyata Luhan-kekasihku- meneleponku. “Yeoboseyo?” tanyaku, “ah, chagi.. Apa kau sudah sarapan? Akhir akhir ini aku sangat mengkhawatirkanmu..” jawabnya. “Aku sudah sarapan, jangan terlalu mengkhawatirkanku lah, Luhannie. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” “okelah, kalau begitu.. Yasudah, anneyeong!” “Ne, anneyeong!” jawabku sambil mematikan telepon.

 

Kring ~  Bunyi bel istirahat akhirnya berbunyi. Murid murid Seoul Perfoming Art School berhamburan. Mungkin kali aku tidak akan pergi ke kantin untuk makan, karna akhir akhir ini badanku terasa lemas.

 

Tiba tiba saja Jongin-salah satu sahabatku- memanggilku. “Ya! Oh Sehun. Apakah kau tidak pergi ke kantin untuk makan bersama yang lainnya?” tanyanya dari depan pintu kelas, “ah… Jongin-ah, mungkin kali ini aku tidak akan pergi ke kantin bersama lainnya, hari ini badanku sangat lemas,” jawabku.

 

“Kau kenapa, Sehun? Apakah kau sakit?” tanya Jongin. Aish.. Anak ini, dia perhatian sekali. Saking perhatiannya dia, dia sangat membuatku kesal.. “Sudahlah Jongin. Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Sudah sana, kau makan dengan yang lainnya!” suruhku, “ne, Sehunnie” jawabnya dengan sedikit melakukan ‘aegyo’ “Ah, anak ini..” kataku sambil membuka pelajaran Fisika.

 

Aku sendirian di kelas, menatap buku pelajaran yang sangat sangat aku benci, yaitu Fisika. Aku sangat memaksakan untuk belajar di kelas, karena Yang songsaengnim memberiku tugas.

 

 

Jam pulang sekolah akhirnya tiba, dengan badan yang lemas dan malas aku jalan menuju stasiun subway terdekat. Pulang ke rumah sendiri dengan dibekali sedikit uang dari Baekhyun-hyung.

 

Sebenarnya aku iri dengan semua temanku, iri karena semua temanku dijemput oleh appa eommanya. Dipeluk cium oleh eommanya. Aku ingin sekali merasakan bagaimana aku mendapat kasih sayang dari appa dan eomma.

Walaupun aku mempunyai seorang kekasih, tetapi dia sangat sibuk dengan kerjaanya, jadi, dia tidak bisa menjemputku, dan, aku harus mengerti itu..

 

“Ah.. Subway sudah tiba,” kataku melihat satu subway di depanku. Aku jalan menuju pintu subway, dan aku mencari sebuah kursi yang belum diduduki orang. ‘Nah, itu dia’ seruku dalam hati, akupun berlari-lari kecil, dan… Ah, sebelum aku duduk, aku menginjak kaki seseorang. “Minhae..” kataku meminta maaf sambil membungkukkan badan 90 derajat. “Uhm, gwenchana” jawabnya sambil tersenyum.

 

“Kau salah satu murid dari School of Perfoming Art Seoul, kah?“ tanyanya. Aku duduk dan melihat wajahnya.

‘Sepertinya aku pernah melihat wajahnya, tetapi aku tidak ingat..’ batinku. “Hey, kenapa kau melihatku seperti itu? Ada yang aneh dari wajahku?” tanyanya sambil melambaikan tangan di depanku, “aniyo, tadi kau bertanya apa? Aku lupa”

 

“Kau salah satu murid dari sekolah School of Perfoming Art Seoul bukan? Lambang sekolah yang ada di baju seragam-mu sama seperti yang ada di baju seragam-ku, tetapi warna baju seragam mu berbeda denganku. Mungkin aku adalah sunbae-mu,” jelasnya. “Mungkin,” jawabku sambil menganggukkan kepala.

“Uhm.. Apa aku boleh tau, siapa namamu?” tanyanya,

“namaku Oh Sehun, sedangkan sunbae?” “Ah, jangan panggil aku sunbae, panggil aku ‘hyung’ saja,” ”ne, sun-eh-hyung” kataku sambil tersenyum.

“Namaku Wu Yi Fan, biasa di panggil Kris, aku lahir di Beijing, China, tetapi besar di Seoul. Bangapseumnida!” Jawabnya. Eh, siapa namanya? Wu Yi Fan? Nama yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dan.. anak  yang lahir di Beijing dan besar di Seoul? Sepertinya aku mengenalnya…

 

[Wu Yi Fan’s POV]

“Uhm.. Apa aku boleh tau, siapa namamu?” tanyaku kepada salah satu hobaenim-ku, “namaku Oh Sehun, sedangkan sunbae?”“Ah, jangan panggil aku sunbae, panggil aku ‘hyung’ saja,” jawabku.

 

Eh, tunggu, siapa namanya? Dia bernama Oh Sehun? Sepertinya aku mempunyai teman kecil yang bernama Oh Sehun. Tapi aku sudah lama tidak bertemu dengannya dan aku sudah lupa. Ah, sudahlah. Mungkin ini hanya suatu kebetulan saja.

 

“Namaku Wu Yi Fan, aku lahir di Beijing, China, tetapi besar di Seoul. Bangapseumnida!” jawabku sambil tersenyum.

 

“Mmm.. Dulu, sewaktu aku kecil, aku mempunyai teman yang namanya sama denganmu, Oh Sehun,” aku memberanikan diri untuk menceritakannya, bisa saja dia benar teman kecilku.

 

“Oh? Jinjja? Dulu aku juga mempunyai teman kecil yang bernama Wu Yi Fan, dan nama kesayangannya adalah Kris. Kenapa bisa sama sepertimu? Apakah kamu adalah teman kecilku?” tanyanya.

“Aish. Jinjjayo? Berarti kamu adalah teman kecilku. Oh Sehun. Bogoshipeoyo!” jawabku sambil memeluk Sehun, “nado..” jawabnya.

 

[Sehun’s POV]

Di subway, aku bercakap cakap dengan Kris-hyung. Aku bercerita tentang keluargaku, mungkin meminta beberapa saran kepada Kris-hyung agar aku tidak terlalu memikirkan masalah keluarga. Walaupun dulu dia adalah teman kecilku, tapi dia tidak tau bagamana keadaan keluargaku. Jadi, aku memutuskan untuk menceritakannya.

Aku menceritakan, cerita yang aku tau saja, aku tidak tau begitu detail tentang keluargaku.

 

Tak lama kemudian, subway berhenti. Ini saatnya aku untuk turun dari subway.

 

“Kris-hyung, ini saatnya aku untuk turun dari subway, aku duluan ya. Aku senang bertemu lagi denganmu, anneyeong!” kataku sambil berdiri dan berjalan menuju pintu subway, “ah.. ne. Anneyeong!” jawabnya sambil melambaikan tangan. Akupun membalasnya.

 

Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kulkas dan mengambil segelas air putih. Rasanya hari ini berasa begitu panas.

Tak lama kemudian, Baekhyun-hyung datang.

“Sehun-ah, ada yang mau aku bicarakan. Suatu hal yang sangat penting. Apa kau ada waktu?” tanyanya sambil meletakkan tasnya di atas sofa.

 

“Ah, hyung. Aku sedang banyak PR dan ujian. Sabtu besok saja bagaimana? Kita ke kedai kecil di pinggiran taman sana. Hyung tau kan? Mungkin Sabtu malam aku baru punya waktu. Bagaimana?”

“Ah, hyung tau! Hyung pernah kesana. Oke, Sabtu malam ya.” Jawabnya sambil pergi menuju kamarnya sendiri. Aku penasaran. Apa yang akan dibicarakan Baekhyun-hyung? Jarang sekali Baekhyun-hyung mau bicara suatu hal yang penting dengan ku. Uhmm.. Kira kira apa ya.

 

[Author’s POV]

Tok tok tok! “Sehun-ah, bangun! Ini sudah siang, kamu perlu berangkat sekolah. Bukankah hari ini kamu ada ujian? Palli. Ireona!” Luhan sedang membangunkan dongsaeng kesayangannya-Oh Sehun- sepertinya Sehun terlihat malas sekali pergi sekolah, kenapa? Karna hari ini adalah ujian mata pelajaran Fisika, pelajaran yang sangat dibencinya.

 

“Ah, iya hyung. Sebentar,” jawab Sehun sambil ‘mengulet’ dan Sehunpun keluar dari kamarnya.

 

“HYUNG, INI SUDAH JAM 7, KENAPA KAU BARU MEMBANGUNKAN KU?” tanya Sehun sambil berteriak.

 

“Ya! Kamu ini sudah hyung bangunkan dari jam 5 pagi tadi. Tapi kau tidak ada reaksi apapun. Yasudah, hyung bikinkan kamu sarapan dulu, baru membangunkan kamu lagi. Sudah sana, dari pada kamu telat, mending kamu langsung saja mandi,” jawab Luhan. Sehun-pun berlari menuju kamar mandi dan tidak lupa mengambil handuknya. Selesai mandi, Sehun langsung sarapan. “Hyung, aku tidak menghabiskan sarapan ku, ini sudah jam segini. Tidak apa apa kan? Yasudah, aku pergi dulu. Anneyeong!” seru Sehun sambil berlari menuju stasiun subway.

 

[Sehun’s POV]

Malam ini aku harus ke kedai kecil yang berada di taman. Baekhyun-hyung akan memberi tauku suatu hal yang penting. Apa ya? Aku tidak sabar.  Aku segera menyiapkan baju untuk pergi ke kedai kecil itu. Dan, lansung menuju kedai kecil..

 

 

Sesampainya di kedai..

Baekhyun-hyung belum datang. Aku memutuskan untuk membeli satu gelas hot coffe.

 

Tak lama setelah aku menunggu, Baekhyun-hyung datang.

“Sehun-ah..” panggilnya, “ah, Baekhyun-hyung, kau sudah datang..,” jawabku.

 

“Kau sudah menunggu lama?”

“Tidak, aku baru datang beberapa menit yang lalu. Jadi, apa yang akan di bicarakan, hyung?” tanyaku sambil mengatur posisi duduk yang enak.

“Jadi… kau belum tau kan, bagaimana cerita eomma dan appa meninggalkan kita?” Oh, ternyata Baekhyun-hyung akan membicarakan soal itu.

“Ne, mollayo. Dan aku sangat penasaran dengan cerita itu!” “Oke, hyung mulai ceritanya,”

 

Jadi….

 

“Beberapa bulan setelah eomma melahirkanmu, appa pergi dari rumah selama beberapa minggu. Eomma tidak tau bagaimana cara mengurus hyung dan kamu.. Ternyata, appa pergi dari rumah bukan hanya 1 minggu.. 2 minggu.. Ataupun 3 minggu.. Appa pergi selama bertahun tahun. Eomma semakin tidak bisa menafkahi kita. Dan, pastinya kau masih ingatkan, Sehun? Saat eomma memberi kita sedikit uang dan kunci rumah?”

“Heeuh” jawabku sambil menundukkan kepalaku, karena aku sangat rindu eomma.

“Nah, saat itu, eomma meninggalkan kita. Eomma membuka restauran di Busan sana untuk mencari uang.

Kata eomma, suatu saat nanti, jika eomma sudah punya banyak uang dan sudah mampu menafkahi kita, eomma akan balik lagi ke rumah kita, ke rumah kita yang sekarang.” Jelas Baekhyun-hyung, “jeongmalyo?” tanyaku tidak percaya. “Ne, eomma akan balik ke rumah kita, menafkahi kita. Pasti kamu tidak sabar, kan?” tanya Baekhyun-hyung.

“Iya, aku sangat tidak sabar! Tapi.. apakah eomma sudah punya keluarga baru?” tanyaku, aku takut.. Aku takut eomma sudah menikah dengan pria lain.

“Tidak, eomma tidak punya keluarga baru. Tapi, kalau appa sudah punya keluarga baru atau belum, hyung tidak tau. Hyung tidak pernah lagi berkomunikasi dengan appa.”

 

Aku semakin rindu dengan eomma dan appa. Aku sempat melihat wajah eomma, tetapi tidak untuk appa. Aku ingin melihat appaku, appa kandungku.

 

 

Aku melihat sosok seorang perempuan yang familiar di depan rumah.

 

Aku bertanya kepada Baekhyun-hyung, “hyung, ada orang kah di depan rumah?”

 

Baekhyun-hyung mencoba melihat perempuan tersebut. Dengan sangat penasaran, Baekhyun-hyung dan aku menuju depan rumah.

 

“EOMMA!” teriak Baekhyun-hyung,

‘eomma?’ tanyaku dalam hati.

Aku tidak yakin kalau itu adalah eomma, karena wajahnya sudah berubah, dan aku sudah bertahun tahun tidak bertemu dengannya. Baekhyun-hyung mengantar eomma masuk kedalam rumah. Aku hanya mengikuti mereka.

 

“Sehun-ah, ini eomma, eomma kita yang sudah melahiri kita. Kamu sudah lama tidak melihatnya lagi kan? Wajah eomma sudah berubah, tidak seperti yang kamu lihat terakhir kali,” jelas Baekhyun-hyung.

 

“Jeongmalyo? Tadi aku sempat tidak yakin kalau ini adalah eomma, jadi.. eomma, apakah eomma akan tinggal disini lagi?” tanyaku dengan gembira. “Ne, eomma akan tinggal disini lagi, Sehunnie,” jawab eomma  sambil tersenyum, melihat anaknya yang sudah sangat besar. “Wohooo, akhirnya eomma balik lagi!” seruku sambil berteriak karna terlalu senang. Baekhyun-hyung dan eomma hanya tersenyum melihat perlakuanku ini.

 

Aku langsung menelpon kekasihku-siapa lagi kalau bukan Luhan-dan menceritakan semuanya.

“Luhannie, eomma balik!” kataku setelah telponnya tersambung dengan Luhan, “eomma? Eomma-mu balik, Sehunnie? Bagaimana bisa? Whoa, chukkae!” Luhan-pun ikut senang mendengarnya. “Aku akan menceritakannya sekarang, ayo, kita bertemu di kedai biasa, chagiyaaa!” kataku sambil berteriak teriak tidak jelas. “Oke oke, malam ini, oke?”

 

Malampun tiba, aku dan Luhan bertemu di kedai-sama seperti aku dan Baekhyun-hyung bertemu-, aku sedikit terlambat karna harus mengantar eomma pergi ke supermarket, aku tidak bisa menolaknya, kenapa harus aku? Karena Baekhyun-hyung sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tidak apalah, aku harus membahagiakan eomma, dan tidak akan mengecewakan eomma.

 

“Ah, Luhannie, maaf aku telat,”

“Tidak apa apa, ayo, cepat ceritakan bagaimana eomma-mu bisa kembali.”

 

Aku menceritakan semua kejadian tadi siang, Luhan ikut gembira. Aku beruntung punya kekasih seperti dia. Sangat perhatian, mengerti kesibukkan ku, dan mengerti bagaimana perasaanku ditinggal oleh appa dan eomma.

 

Tiba tiba saja, handphoneku bergetar, ternyata ada pesan dari Baekhyun-hyung.

 

From: Baekhyun-hyung

Sehun-ah, appa berada di rumah. Cepatlah datang!

 

Appa? Datang? Jeongmalyo? Aku langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. “Luhannie, Baekhyun-hyung bilang appa datang ke rumah! Ini sepertinya hari keberuntunganku, jadi, aku akan pulang sekarang. Gwenchana?” kataku kepada Luhan,

“jeongmalyo? Ah, gwenchana.. Yasudah, anneyeong!”

“Anneyeong!” kataku sambil melambaikan tangan, dan Luhan membalasnya.

 

Sesampainya di rumah, aku menemukan seorang laki laki sedang duduk terdiam di sofa. Apakah itu appa? Lalu, dimana Baekhyun-hyung dan eomma? “Appa~!” aku langsung menghampirinya. Appa terlihat kaget melihatku. “Sehun?” Tanyanya tidak percaya “Appa.. Appa..” aku memeluk appa dengan erat. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Dan kini bertemu dengannya merupakan suatu hadiah bagiku.

 

“Appa.. Appa kapan sampai disini? Dimana Baekhyun-hyung dan eomma?” tanyaku dengan memasang muka yang sangat gembira.

“Eomma?” tanyanya lagi, mungkin saja appa tidak tau kalau eomma sudah berada disini. “Ne, eomma.” Jawabku.

“Ah, tadi mereka sedang pergi ke supermarket.” Jawab appa.

 

“Oh, jadi.. appa akan tinggal disini lagi? Bersama aku, Baekhyun-hyung, dan eomma?” tanyaku dengan bersemangat.

Raut wajah appa langsung berubah, “mianhae, Sehun.. Appa tidak bisa tinggal bersama kalian lagi. Appa sudah mempunyai keluarga baru..”

 

Aku langsung terhenyak mendengar appa berbicara seperti itu, “ke-keluarga baru? J-jadi, appa sudah menikah dengan perempuan lain?” Tanpa sadar air mataku meleleh. Bahkan rasanya tenggorokanku tercekat ketika mengucapkan kalimat itu.

 

Appa mengangguk.

 

“Ke.. kenapa.. appa?” Air mataku keluar sangat deras.

“Sebenarnya appa masih ingin tinggal bersama kalian.. tetapi Baekhyun melarangku.” Mataku melebar begitu mendengar nama itu…… Mwo? Baekhyun-hyung? Kenapa ia tidak membolehkan appa tinggal bersama kita? Apakah Baekhyun-hyung tidak rindu dengan appa?

 

 

Baekhyun-hyung datang sambil membawa beberapa makanan..

“Sehun-ah, bantu aku,” suruh Baekhyun-hyung.

 

“Aku tidak mau..” jawabku dengan sinis.

 

“Ah, aku tau kau sedang marah denganku, Sehun. Aku melarang appa karena ada alasannya..” jelasnya,

 

“memang kenapa? Apa hyung tidak merindukan appa? Kenapa appa tidak boleh tinggal disini lagi?” tanyaku sambil menangis, aku melihat, saat aku bertanya seperti itu ke Baekhyun-hyung, eomma langsung berlari menuju kamar.

‘Kenapa dengan eomma? Apa eomma sudah tau kalau appa sudah menikahi perempuan lain?’ tanyaku dalam hati.

 

“Tentu saja, sebagai anaknya aku merindukan appa… Appa sudah bercerita kepadaku, kamu taukan, kalau appa sudah menikah dengan perempuan lain? Dan, pastinya kamu sudah mengerti, jika appa, istri, dan anaknya itu tinggal bersama kita, eomma akan terus terusan menangis. Apa kamu tidak mengerti bagaimana perasaan eomma? Kasian eomma. Bagiku appa hanyalah appa kita. Tidak bisa digantikan keberadaanya dengan appa lainnya. Makanya aku menolak istri dan anaknya tinggal di sini. Tetapi, appa memutuskan untuk tinggal bersama istri dan anaknya. Aku juga sedih, Sehun-ah. Jadi kita juga harus mengerti bagaimana perasaan eomma. Bagaimanapun keadaannya, appa tetaplah appa kita. Percaya itu. Mianhae, kalau keputusanku tidak membuatmu puas.” Jelas Baekhyun-hyung sambil memelukku.

 

Aku sudah bisa mengerti bagaimana perasaan appa, eomma, dan Baekhyun-hyung. Aku harus merelakkan appa.

 

Aku langsung berlari menuju kamar, menelepon Luhan.

 

Sambil menangis, aku menelepon Luhan. “Luhannie, appa… appa..”

“Waeyo? Ada apa dengan appamu, chagi?” tanya Luhan.

“Appa.. hiks.. appa.. appa menikah dengan perempuan lain, hiks.. jadi.. appa tidak bisa satu rumah dengan aku.. hiks.” Jelasku sambil terus menangis.

 

“Sudahlah, Sehunnie. Mungkin itu adalah keputusan terbaik. Kalau appamu memutuskan untuk tinggal bersamamu, apa hidupmu akan baik baik saja? Pasti kamu akan risih dengan istri baru appamu. Jadi, appamu sudah mengambil jalan yang benar, jalan yang tidak akan merisihkanmu dan hyungmu. Percaya lah itu. Dia tetap appamu kok. Percaya. Jangan menangis terus ya chagi. Aku ada untukmu. Chu~” Luhan menutup telponnya.

 

Mungkin kata Luhan benar, appa memang sudah mengambil jalan yang benar.  Jalan dimana aku tidak akan risih dengan istri baru appa. Bukan hanya risih dengan istri baru appa, tetapi risih dengan anak baru appa. Aku beruntung sekali mempunyai kekasih seperti Luhan, sangat bijak jika aku mempunyai masalah. Sangat mengerti keadaan keluargaku. Terimakasih Luhannie, kau bisa mengertiku!

 

THE END

 

Setelah membaca fanfic ini, tolong di komen ya. ^^~

Kalau ada yang mau dikritik atau saran silahkan komen. 🙂

Iklan

24 pemikiran pada “No Way~!

  1. keren thor!!! Kasian sehun ditinggal ortunya, untung masi ada baekhyun 🙂 aku pertamanya nangis krna sedih thor!! Pas terakhirnya, nangis krna terharu…Krisnya cuma nongol sekali-_-…. Over all keren kok^^, fighting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s