That Yeoja is Mine! (Chapter 1)

Nama author : rimawm

Main cast : EXO-K, Kai, Tao, Park Mirae

Title : That yoeja is mine! Part 1

Rating : Pg 15

Genre : Romance

Disclaimer : nama diatas saya cantumkan karena mereka bias saya. Keep reading ya ^^… mianhe kau geje ceritanya, saya masih pemula 😀

_______________________

KRIIIING!

Jam weker yang sudah 1 tahun ini membangunkanku tak hentinya berbunyi. Sudah ku banting, kulempar pun sang jang weker masih tetap gagah berdiri tegap, hanya mengalami lecet ringan.

Jadi dengan semangat aku membanting jam weker sialan itu.

BRAK!

Hmmm, cukup keras. Bagus lah. Mudah-mudahan mati selama-lamanya!

“Mirae-naaa! Ayo bangun! Bukannya kau sekolah pagi ini?” Omma  pagi-pagi sudah berteriak nyaring. Ah! Aku tidak bisa meneruskan tidurku.

Dengan gontai aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar 30 menit, aku sudah siap untuk sarapan. Mengingat hari ini aku akan bertemu Kai, itu membuatku bersemangat.

“Pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri. Ada apa?” lho? Kok suara Kai sudah terdengar di sebelahku.

HAH?! Ternyata aku keluar kamar dengan keadaan melamun, dan ternyata Kai sudah berada di depan kamarku. Sialan! Seharusnya aku tanggap dari tadi.

“A-ani, nggak ada apa-apa kok, Oppa!” ucapku tergagap. Pagi-pagi sudah melihat Kai, merupakan anugerah yang ga di sangka-sangka!

Kai melipatkan tangannya, wajahnya terlihat berfikir, “Hmmm, padahal sudah dibela-belain kesini untuk menjemputmu. Tapi kau malah termenung begitu. Jangan-jangan selama Oppa sibuk latihan basket, kau punya cowok ya?”

Babo! Aku sedang memikirkanmu tahu! Dumalku dalam hati. Huh, dia selalu tidak tanggap deh ya kalau sudah menyangkut percintaan. Sebenarnya hubunganku dengan Kai ini adalah tetangga. Sewaktu aku SD, Kai pindah ke seberang rumahku, dan keluarganya pun langsung akrab dengan keluargaku. Waktu itu aku sedang di sekolah, lalu Kai masuk ke kelasku sebagai anak baru. Lalu tiba-tiba dia berjalan ke arahku dan mengulurkan tangan dengan berkata, “Halo! Namamu siapa?”

“Park Mirae, kalau kamu?” ucapku sambil menjabat tangannya.

“Kim Jongin, tapi aku lebih senang dipanggil Kai! Mulai hari ini kita berteman ya!” tampak jari kelingkingnya dihadapanku, aku pun dengan ragu-ragu mengalungkan kelingkingku padanya. Karena pada dasarnya aku adalah cewek pemalu, jadi aku mudah canggung dengan orang baru.

Pada sewaktu ketika Hyuk Jae dan teman berandalannya merampas bonekaku, aku menangis sejadi-jadinya, sampai teman sepermainanku, Jiyoung, kebingungan. Lalu tanpa aba-aba Kai langsung menolongku dan mengembalikan bonekaku padaku.

Guruku pun datang, langsung melerai pertengkaran Hyuk Jae dengan Kai. Lalu hari-hari berikutnya pun Kai selalu datang sebagai penyelamatku jika aku diganggu, dimanapun kapanpun! Pernah dia menyelamatkanku, maksudku sih masakanku, dari kegosongan. Waktu itu kami duduk di bangku SMP dan orangtuaku sedang keluar, Kai pun tiba-tiba datang lalu menyelamatkanku. Pokoknya dia selalu ada untukku, walau hanya sebatas teman dan tetangga. Tetapi setelah kami memasuki SMA, dan kami sekarang kelas 2, kami jadi sibuk sendiri-sendiri. Dia sibuk dengan kegiatan basketnya, sedangkan aku sibuk dengan kegiatan klub inggris-ku. Benar-benar deh padahal aku sangat suka padanya, tapi tidak punya kesempatan dan keberanian untuk memberitahunya. Lagi pula Kai tidak menampakkan dia suka padaku, hanya saja dia sering membuatku panas dingin tidak keruan dengan tatapannya, ucapannya, keberadaannya pun sering membuatku deg-degan, seperti saat ini.

“Ya! Melamun lagi… mau kukelitiki?” tiba-tiba sebentuk wajah mendekat ke wajahku. Astaga! Wajah Kai! Benar-benar membuatku panas dingin!

“Hwaaa!!!” aku refleks mendorongnya. Kai tertawa melihat reaksiku.

“Ayo sarapan. Bibi sudah membuatkan pancake blueberry yang enak, sayang kalau tidak dimakan kan?” Kai berbalik menuju dapur, sedangkan aku masih menenangkan diriku sendiri dari serangannya tadi.

***

“Mirae-aah!” panggil Jiyoung, sahabatku dari SD.

“Huhuhuu Jiyoung-aaah! Pagi-pagi Kai oppa membuatku deg-degan.” Aku langsung mengadu kepadanya. Hanya Jiyoung yang tahu kalau aku suka pada Kai. Kenapa? Karena Kai termasuk cowok popular di sekolahku, Kai beserta teman-teman cowoknya menjuluki mereka “EXO” karena Kai sekarang mempunyai band, dan lagi teman-temanku menganggap aku dan Kai adalah saudara. Hiks, ironis sekali…

Setelah menceritakan sedetail-detailnya, Jiyoung menepuk-nepuk pundakku dengan tatapan hangat, “Sudahlah, kalau waktunya, aku yakin kau bisa memberitahu dia kalau kau suka padanya, eh, cinta padanya.” Alis Jiyoung bergerak-gerak genit.

Aku memukul Jiyoung, “Sialan. Aku serius! Aku tidak bisa mengungkapkan rasa sukaku ini. Sepertinya dia hanya menganggapku adiknya. Dia dulu tuh over protective tahu! Kalau keluargaku dan keluarganya jalan bareng, dia selalu memberitahu aku ini-itu, jangan ini-itu, blablabla. Tapi kalau aku salah dia langsung membentak lalu tidak boleh melakukan itu lagi, Kai oppa langsung mengurusinya hingga selesai. Bagaimana aku bisa bertindak sebagai cewek idamannya?!” keluhku frustasi.

Jiyoung menggeleng, “Tidak perlu seperti itu pun aku yakin Kai bisa respek padamu sebagai cewek idamannya,” matanya menoleh kearah pintu kelas. “Daripada kau frustasi begini, mending kita lihat cowok-cowok bertanding basket sambil ngemil yuk? Aku yakin Kai oppa-mu dan Sehun-ku main. Lagi pula bulan depan kan mereka akan bertanding, jadi pasti latihannya intensif.”

“Ah kau benar! Babo Mirae! Sekarang kan Kai oppa sedang intensif latihan basket. Kenapa aku melupakannya…” ucapku lemas.

Jiyoung tersenyum simpul, “Ya sudah, sebaikya kita bergegas sebelum bel masuk berbunyi”

***

Setelah membeli air putih dan beberapa cemilan di kantin, kami pun bergegas menuju lapangan indoor sekolah. Karena cuaca sangat panas di luar, jadi latihan basket pun di pindahkan ke dalam indoor.

Sesuai dugaan kami, Kai oppa sedang latihan untuk pertandingan bulan depan. Tapi, yang menonton banyak sekali! Aku sampai harus berjinjit untuk melihat Kai oppa.

“Jiyoung-ah! Tidak mungkin kita melihat mereka dalam keadaan ramai begini…” kataku lemas.

Jiyoung melihat kearah bangku penonton, “Bagaimana kita kesitu saja? Disini hanya cewek-cewek yang ingin melihat anggota basket lebih dekat tahu!”

Aku pun mengangguk, dan langsung mengikuti Jiyoung. Untungnya tempat yang Jiyoung tunjuk ini lumayan sepi, karena berada di belakang tas dan baju-baju para anggota basket. Yang sudah dipastikan baunya seperti sapi tidak mandi sebulan!

“Hari ini baunya tidak ada. Syukurlah. Sepertinya cowok-cowok itu memakai deodorant yang ampuh,” ucap Jiyoung sambil merapikan roknya, lalu bersama-sama kami duduk dan mulai membuka cemilan dan meminum air putih yang kami beli di kantin.

Walaupun Jiyoung terus menerus mengajakku ngobrol, tetapi mataku dan pikiranku hanya focus kepada Kai oppa yang sedang konsentrasi berlatih. Mukanya sangat bersemangat dan penuh konsentrasi. Tapi walaupun begitu, tetap saja terlihat tampan. Aku yang menyadarinya, mukaku langsung berubah memerah walaupun hanya melihatnya dari jauh.

Jiyoung yang sadar tidak diperhatikan langsung menyerah mengajakku ngobrol langsung berteriak menyemangati gebetannya, Baekhyun.

Bersama-sama kami menyemangati mereka. Lalu bunyi peluit memberhentikan latihan mereka, lalu langsung menuju tas mereka masing-masing. Karena aku sudah hapal dengan baju Kai yang mana, aku langsung menghampiri bajunya dan menaruh air putihku untuknya sewaktu dia masih focus kearah teman-temannya. Lalu dengan cepat aku langsung lari ketempat asalku.

Jiyoung yang sedari tadi melihatku, langsung menyenggolku sewaktu aku sudah duduk lagi, “Kau ini! Kenapa tidak kau kasih langsung saja sih?” tanyanya sambil mengangkat satu alisnya.

Aku mehrong padanya, “Karena aku malu.”

Jiyoung hanya menggeleng-geleng kepalanya, lalu tiba-tiba saja mukanya penuh dengan keterkejutan setelah melihat kearah belakangku.

“Ada apa?” penasaran aku langsung menengok ke belakang. Lalu mataku terbelalak dan badanku langsung membeku.

Ternyata Kai sudah berdiri tegap di belakangku tanpa sepengetahuan kami. Dengan santai, Kai meminum air putih pemberianku, “Terima kasih air putihnya.” Ucapnya sambil mengacak rambutku.

“O-oh… Ne, Oppa,” ucapku terbata-bata.

Sambil mengusap mulutnya, dia berkata lagi, “Jangan duduk disini, sudah banyak yang kena bola makanya pada ogah duduk di sekitar sini.” Kai langsung meninggalkan kami yang beku.

Jiyoung yang pertama sadar langsung mengguncang-guncang tubuhku, “Kau dengar tadi? Kai memeperhatikanmu! Ayo kita segera menyingkir.”

Tetapi karena sifat keras kepalaku, aku menggeleng-geleng kepala, “Shiro! Kau saja yang pindah, aku akan tetap disini sampai Oppa selesai latihan.”

Jiyoung menatapku kesal, “Kau tidak dengar Kai oppa tadi? Dia mengkhawatirkanmu lho! Ayo segera pindah.”

“Jiyoung-ah,” ucapku merengek, “aku tidak mau…”

Dengan perasaan kesal, Jiyoung menuruti kata-kataku, mungkin karena tidak ada tempat lagi untuk melihat Baekyhun-nya dari dekat, “Baiklah,” ucapnya, “tetapi abis ini kita segera ke kelas oke? Sebentar lagi pelajaran matematika tahu!”

“Jiyoung benar-benar sahabatku yang paling setia deh!” ucapku sambil memeluk Jiyoung erat.

Lalu kami pun tertawa berbarengan. Tak kusadari pertandingan basket pun sudah dimulai. Ah Kai oppa langsung memegang kendali! Yak! Langsung di oper kearah Baekhyun. Wah, Jiyoung pasti bangga banget melihat gebetannya keren sekali. Kelihatan sekali dari komentarnya.

“Kyaaaa! Baekhyun keren banget tadi pas nangkep bola dari Kai! Wah, sekarang mau shooting, ayo Baekhyuuuuun!!!” jeritnya dengan semangat.

Lalu sampai saat ini sudah 12-10, 12 untuk tim Kai.

“Untunglah kita punya mereka berdua ya! Aku yakin bulan depan kita bisa memenangi pertandingan antar sekolah. Kau lihat kan kecekatan Baekhyun tadi pada saat memegang kendali? Omo, rasanya aku melting melihatnya. Kuharap nanti… KYAAA MIRAE AWAS!”

Aku yang sedari tadi mendengarkan komentarnya Jiyoung dengan semangat tetapi pandanganku tetap tertuju pada Kai oppa, langsung menatapnya heran, dia sekarang bergerak menjauh dariku, aku menoleh kearah yang dia tunjuk, lalu aku tahu alasannya.

Sebuah bola basket akan meluncur kearahku, segera aku langsung menutupi wajahku dengan tangan. Aku tidak sadar menjadi berteriak dan menunggu rasa sakit bola itu datang. Tetapi malah yang datang adalah rasa nyaman, seperti orang sedang memelukku.

DUK!!! Suara debuman itu ternyata tak mengenaiku, ternyata mengenai orang lain. Dengan takut aku mengangkat wajahku pelan-pelan, ternyata sebuah badan sedang memelukku dengan erat.

“Kau ini… Ya! Tidak bisakah kau menurutiku?” ucap suara yang familiar di kupingku.

“Ka-Kai oppa?” kataku tidak yakin. Ternyata yang sedang memelukku ini Kai oppa! Omo, sejak kapan dia ada disini? Dan juga kenapa dia langsung sigap menolongku sekian kalinya ini?

“Mirae-ah! Gwencana???” Jiyoung langsung gentian memelukku setelah Kai melepaskan pelukannya. Tapi aku masih antara sadar dan tidak sadar.

“Ya!!! Su Ho-ah! Tidak bisakah kau men-shoot yang benar?! Kalau kena dia bagaimana?!” Kai oppa terlihat marah sekarang.

“Mirae-ah, mianhe… jinja! Aku tidak sengaja!” Su Ho sekarang terlihat menyesal langsung meminta maaf padaku.

“A-Ani, Oppa. Aku nggak kenapa-napa kok… aduh!” setelah berkata begitu lututku rasanya perih sekali. Ah sial, lututku ternyata lecet karena tadi Kai oppa terlalu cepat memelukku sepertinya, jadi lututku tergesek dengan bangku kasar ini.

Dan Kai oppa pun menyadari lukaku ini, langsung menyambar tanganku. “Ikut aku.”

Aku yang masih terbengong-bengong langsung mengikuti Kai oppa, Jiyoung pun melihat kami yang meninggalkan lapangan dengan wajah bingung. Dan aku baru menyadari, tidak ada suara ingar-bingar yang memekakan telinga lagi, sekarang sepi sunyi seperti di kuburan. Insiden tadi sepertinya menyedot perhatian seluruh murid. Tak kusadari mukaku memerah malu.

“Sudah kubilang kan menyingkir dari tempat itu! Tapi kau sangat keras kepala tidak mau menurutiku. Duduk!” ternyata kami sudah  berada di dalam UKS. Aku langsung duduk di tempat Kai oppa sediakan.

“Mianhe, Oppa. Aku hanya ingin melihatmu dari dekat.” Ucapku sambil menundukkan kepala.

Kai oppa yang sedari tadi mencari obat untuk lukaku, langsung terhenti, “Kau ini, kita kan bertetanggaan. Kenapa juga ingin melihatku dari dekat seperti tadi? Dengan resiko disundul bola pula!”

Sudah cukup kesabaranku, sepertinya dia tidak sadar dengan keadaan kami sekarang, “Oh ya? Tetapi sekarang Oppa menjadi sibuk dan mulai mengacuhkanku! Makanya tadi pagi aku sangat kaget melihat Oppa ada di depan kamarku, karena sudah berbulan-bulan Oppa tidak pernah menginjak rumahku!”

Dengan obat luka ditangannya, dia terlihat kebingungan, “Benarkah? Aku tidak menyadarinya.”

Aku ingin sekali membalas perkataannya, tapi kututup mulutku rapat-rapat dengan menggigit mulutku. Kai oppa mulai mengobati lukaku, gigitan di mulutku langsung keras karena rasa perihnya.

Setelah selesai mengobati lukaku, Kai oppa langsung menatapku. Aku merasakan wajahku memerah lagi, “Mianhe, Mirae… Tapi aku memang sibuk akhir-akhir ini. Tapi bukankah kau juga sibuk dengan klub inggrismu? Setiap aku mencarimu, pasti kau sedang berada di ruang klubmu dan rapat.” Benarkah? Oppa mencariku saat aku tidak ada di dekatnya? Mukaku memerah lagi karena senang.

“Tapi bukan berarti aku mengacuhkanmu, Mirae. Ingat itu.” Lanjutnya.

Lalu dengan langkah gontai, dia mundur dan langsung berbalik badan meninggalkanku.

***

To be continued…

Iklan

36 pemikiran pada “That Yeoja is Mine! (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s