The Last Chance (Chapter 2)

Judul               : The last Chance

Author             : @MayLie_

Genre              : Romance, mistery

Main Cast        : Lee Haneul (OC)

Kim Jongin / KAI (EXO K)

Kim Jaejoong (JYJ/TVXQ)

Other Cast       : you will found them

Annyeong…

Aku membawa kelanjutan kisah FF ku yang aneh ini…

Mian kalo cerita FF ini semakin hancur author sudah mencoba untuk tidak menghancurkannya…

Author juga sangat mengharapkan comment dari kalian semua yang sudah membaca FF ini, demi kelangsungan FF ini.

Langsung ajaaa..

Author mepersembahkan…

JENG… JENG… JENG… *sound effect gagal*

The Last Chance chapter 2 selamat menikmati..

^-^V

 

Haneul sangat kaget melihat sosok dirinya sendiri dengan baju yang berlumuran darah, Jongin berjalan mendekati Haneul yang membeku di depan cermin ia melihat Haneul yang pucat pasi.

“Haneul” panggil Jongin.

Haneul menoleh kearah Jongin yang berada tepat disampingnya.

“Lihat” Haneul menunjuk cermin yang berada di depannya.

Pandangan Jongin mengikuti arah yang ditunjuk oleh Haneul dan Jongin dapat melihat sosok Haneul yang ditemuinya saat dirumah sakit, sosok yeoja cantik yang sangat dikenalnya tetapi agak mengerikan.

“mengerikan” gumam Haneul masih menatap sosoknya didepan cermin.

“sebaikknya kau tidak berada disini”

Jongin beranjak pergi dan Haneul dengan lemas mengikuti Jongin hingga mereka sampai di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah duka. Mereka berdua duduk di kursi taman.

“kau tidak takut melihatku?” Tanya Haneul.

“awalnya aku sedikit kaget” ucap Jongin.

“kenapa kau tidak memberitahuku kalau sosokku ini sangat….” Haneul terdiam sejenak “mmm… mengerikan”

Jongin memandang Haneul sesaat, pandangan yang aneh dan Haneul tidak dapat mengartikan pandangan itu.

****

Aku mendongakkan kepalaku yang kubenamkan diantara tanganku yang kulipat dan kutumpukan pada lututku, aku melihat jam dinding di kamar ini sudah pukul 12 malam tepat berarti ini sudah tengah malam. Ku lihat Jongin sudah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Dia pasti sangat lelah seharian ini dia sangat sibuk mengurusi upacara kematian Jaejoong oppa.

Aku menoleh kearah sesuatu seperti bayangan hitam entah itu apa aku tidak bisa melihatnya karena lampu kamar ini dimatikan, bayangan hitam itu semakin mendekatiku dan sekarang didepanku bayangan itu menyerupai sesosok manusia dengan kerudung hitam yang menutupi kepala hingga wajahnya sehingga aku tidak bisa melihatnya, sebenarnya siapa dia? Pencuri?

“Lee Haneul” kata orang berkerudung itu dengan suara berat.

“ne?” aku sangat bingung kenapa bayangan berkerudung itu bisa mengetahui namaku.

“perkenalkan aku dewa kematian, namaku Tao”

Aku sungguh bingung sepertinya hari ini tiada hari tanpa kejutan tadi aku menemukan sosok ku yang berlumuran darah dicermin dan sekarang ada sesosok bayangan menyerupai manusia mengakui dirinya sendiri adalah dewa kematian. Mungkin dia sekarang akan menjemputku untuk pergi bersamanya.

“lalu, kau akan menjemputku sekarang?” tanyaku pada sosok dewa kematian itu.

“tidak”

Aku langsung mengernyit mendengar perkataannya, aku berdiri dari dudukku dan mendekati sosok bayangan gelap itu.

“lalu jika tidak menjemputku apa yang kau lakukan disini?”

“aku akan memberikan suatu kesempatan kepadamu Lee Haneul”

“kesempatan?” tanyaku bingung.

bayangan itu semakin mendekatiku sehingga sekarang aku bisa melihat rupa dari dewa kematian itu, sesosok namja muda dan terlihat tampan tapi sangat dingin dewa kematian itu mendekatkan wajahnya sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas dia tersenyum kecil lebih mirip seringaian daripada senyuman.

“kesempatan untukmu hidup”

“kenapa kau tidak langsung saja menjemputku? Kurasa tak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini dan dalam keadaan seperti ini”

Dewa kematian itu menarik tubuhnya sehingga menjauhiku.

“kau sungguh ingin pergi dari dunia ini? Kau tidak ingin mengucapkan terima kasihmu untuk orang yang telah membantumu beberapa hari ini?” dewa kematian yang bernama Tao itu melirik kearah Joongin yang tertidur.

Mataku pun ikut memandang Jongin, ya benar Jongin sangat baik padaku dia mau membantuku aku tidak bisa langsung meninggalkannya walaupun aku memang harus pergi dari dunia ini setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal padanya. Aku menatap Tao si dewa kematian.

“baiklah, dan apa syaratnya agar aku bisa hidup kembali?” tanyaku.

“tidak ada syarat” katanya datar.

“tidak ada?!”

“ya, kau hanya jalani hidupmu sebagai roh”

“semudah itukah?”

“temukan orang-orang yang menginginkanmu hidup didunia ini dan kebahagiaan mu yang masih tertinggal disini sehingga kau memiliki alasan untuk hidup kembali” dewa kematian itu menatapku.

“kau jangan bercanda, itu terlalu mudah”

Dewa kematian itu menatapku tajam “tidak semudah itu, kau akan mengetahuinya nanti, jika kau gagal aku akan menjemputmu”

Dewa kematian itu berbalik dan berjalan menjauhiku.

“bagaimana cara kau mengetahui jika aku sudah menemukan alasanku untuk hidup?” tanyaku.

“kau lupa kalau aku ini adalah dewa kamatian? Aku bisa mengetahui segala yang kau lakukan disini” dewa kematian itu tersenyum licik.

Aku menatap sosok dewa kematian itu yang semakin menjauhiku.

“ah… penampilanmu itu sungguh mengerikan” ucap Tao lalu ia menjentikkan jarinya “sampai bertemu lagi”

Bayangan dewa kematian itupun lenyap seketika dan ruangan ini kembali sunyi senyap.

 

****

 

“Jongin-ssi boleh aku ikut ke sekolah dengan mu?” Tanya Haneul saat Jongin keluar dari kamar mandi pada pagi hari.

“tidak”

“wae? Aku kan tidak mengganggu”

Jongin mengalihkan pandangannya kearah Haneul yang duduk di tepi ranjang dan dia terkejut dengan perubahan yang ada pada diri Haneul.

“kau…” ucapan Jongin terputus.

“wae?” Tanya Haneul.

“bajumu sekarang sudah bersih”

Haneul menunduk dan melihat gaun malamnya yang berwarna putih yang tadinya ternodai banyak darah kini sudah bersih, Haneul langsung berdiri dari duduknya lalu ia meloncat-loncat kegirangan setidaknya dia tidak terlihat mengerikan sebagai hantu. Jongin menatap Haneul yang meloncat-loncat kegieangan.

“Tao gomawo” gumam Haneul.

“mwo?” Tanya Jongin yang mendengar ucapan Haneul tadi.

“anniya, aku ikut ya?” bujuk Haneul lagi.

“andwe” tolak Joongin.

“wae?”

“pokoknya tidak” jawab Jongin.

“omo! Kau ini pelit sekali Jongin-ssi aku janji tidak akan mengganggumu, lagian aku bisa mati bosan berada di kamar ini” ucap Haneul.

“kau tidak akan ‘mati’ bosan” kata Jongin yang menekankan kata ‘mati’.

“Jongin-ssi jebal, aku rindu dengan keadaan sekolah” rengek Haneul.

Jongin menatap Haneul yang mengeluarkan jurus puppy eyes nya karena setahu Haneul Jongin dari dulu tidak bisa menolak Haneul setidaknya sebelum kejadian itu terjadi hingga mereka menjadi menjauh.

Jongin menghela napas berat “arraseo”

 

****

“uwaaa” teriak Haneul takjub melihat sekolahnya, ia sangat merindukan sekolahnya.

Jongin menatap tingkah laku roh teman semasa kecilnya itu, mereka memang satu sekolah tetapi berbeda kelas. Jongin tersenyum kecil melihat Haneul yang sangat antusiasi saat tiba di sekolahnya itu.

“aku sudah tidak sabar bertemu dengan Shinyoung” kata Haneul pada Jongin.

Park Shinyoung adalah sahabat Lee Haneul mereka sudah berteman baik sejak mereka masuk SMA.

Jongin memandang sekelilingnya memastikan tidak ada orang disekitarnya “Shinyoung tidak akan melihatmu” ucap Jongin pelan.

Haneul menoleh kebelakang dan menatap sinis Jongin yang berjalan dibelakangnya.

“setidaknya aku bisa melihatnya” timpal Haneul dengan ketus.

Mereka berdua berjalan dilorong koridor, Jongin berhenti di depan ruangan kelas yang sudah dipastikan itu adalah kelasnya yaitu kelas 3-1. Haneul menoleh kearah Jongin.

“aku akan ke kelas ku” ucap Haneul tapi disambut dengan pandangan tidak setuju dari Jongin.

“tenang saja, tidak akan ada yang bisa melihat ku selain kau”

Setelah mengatakan ucapan itu Haneul langsung berlenggang pergi menjauhi Jongin yang masih menatap Haneul yang semakin menjauhinya.

Haneul berjalan menuju ruang kelasnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruang kelas Jongin tadi. Saat Haneul masuk kedalam kelasnya kelas itu masih sangat sepi hanya beberapa murid saja yang sudah tiba. Haneul menuju bangkunya dan duduk disana.

Dan pada saat itu sesosok yeoja cantik dengan rambut panjang yang dicat berwarna coklat gelap masuk ke dalam ruang kelas, wajah Haneul langsung menjadi cerah dan bibirnya membentuk senyuman ceria. Yeoja itu duduk di samping bangku Haneul.

“Shinyoung-i” panggil Haneul ceria.

Haneul tau kalau Shinyoung tidak akan bisa mendengar suaranya maupun melihatnya tapi ia terlalu senang melihat sahabatnya setelah lama tidak bertemu sehingga ia melupakan kenyataan bahwa ia adalah roh yang tidak bisa dilihat boleh kebanyakan manusia.

“Shinyeong-ah bogoshipeoyo” ucap Haneul pada Shinyoung yang duduk disebelahnya yang mengutak ngatik ponselnya.

“yeoboseyo” sapa Shinyoung pada seseorang yang ia telpon.

“bisa kita bertemu saat istirahat nanti?” Tanya Shinyoung.

“ne, gomawo”

Shinyoung memutuskan percakapan pada ponselnya lalu mematikan ponselnya dan tersenyum bahagia. Haneul menatap Shinyoung bingung.

“siapa yang di telpon oleh Shinyoung” gumam Haneul.

 

****

Saat istirahat Haneul mengikuti Shinyoung yang keluar kelas dan menuju suatu tempat yang bisa ditebak oleh Haneul yaitu taman belakang sekolah. Taman sangat sepi memang jarang sekali ada murid yang mengunjungi taman belakang sekolah karena murid-murid lebih memilih menuju kantin saat jam istirahat tiba untuk mengisi perut mereka yang sudah sangat keroncongan.

Di taman itu Haneul bisa melihat sosok namja yang duduk dibangku taman itu, namja yang beberapa hari ini menolongnya.

“Jongin-ssi” panggi Shinyoung.

Jongin menoleh kearah Shinyoung dan tersenyum simpul kepada Shinyoung, lalu matanya menangkap sosok Haneul yang berada dibelakang Shinyoung. Shinyoung mendekati Jongin dan duduk disebelah Jongin.

“tadaaa…” Shinyoung mengeluarkan kotak makan dari tas kecil yang dibawanya ke taman.

“aku menyiapkan bekal ini pagi-pagi kuharap kau menyukainya” kata Shinyoung malu-malu.

Jongin menatap Shinyoung “gomawo” ucapnya.

Haneul yang melihat adegan itu langsung menjadi malas entah dia sedikit cemburu melihat tingkah pasangan kekasih ini.

Jongin dan Shinyoung memang sepasang kekasih mereka berpacaran berkat bantuan dan pengorbanan Haneul, Haneul mengorbankan hubungannya yang sangat dekat dengan Jongin menjadi hancur hanya untuk membantu sahabatnya Park Shinyoung.

Jongin pun menyantap bekal yang dibuat oleh Shinyoung dalam diam, Shinyoung menatap Jongin penuh dengan cinta sudah lama ia sangat menyukai Jongin dan 3 bulan yang lalu saat Shinyoung menyatakan cintanya pada Jongin tanpa diduga Jongin langsung menerima pernyataan cintanya itu.

“gomawo Shinyoung-ah” ucap Jongin setelah selesai menyantap bekal itu.

“maaf jika makanannya kurang enak, aku baru belajar” ucap Shinyoung malu-malu.

“anni, bekal mu enak kok” kata Jongin lembut.

Haneul mendengus mendengar percakapan mereka entah mengapa dia merasa sangat panas melihat adegan pasangan kekasih itu Jongin sudah lama mengacuhkannya dan sikap baiknya beralih ke sahabatnya yaitu Shinyoung.

Bel berakhirnya istirahat berbunyi Jongin dan Shinyoung pun berpisah Haneul mengikuti Shinyoung. Shinyoung menuju kelas diikuti oleh Haneul sesampainya dikelas Seongsaengnim belum datang kelas masih sangat gaduh.

Ketua kelas mereka yang bernama Suho maju ke depan kelas.

“perhatian! Sekarang guru-guru sedang rapat jadi Choi seosaengnim tidak bisa mengajar” ucap Suho didepan kelas yang disambut dengan sorakan bahagia oleh siswa kelas 3-3.

Seorang teman Haneul bernama Go Hara yang cukup dekat dengan Haneul dan Shinyoung duduk di depan meja Shinyoung walaupun Go Hara dekat dengan Haneul tetapi Hara lebih berteman baik dengan Shinyoung.

“ottae? Kau sudah memberikan bekal pada Jongin?” Tanya Hara.

“sudah” jawab Shinyoung senang.

“waah… senangnya bisa berpacaran dengan Jongin murid tertampan di sekolah ini” ucap Hara dengan penuh keirian.

Haneul mengangguk menyetujui perkataan Hara, memang Jongin merupakan murid tertampan disekolah ini, dia terkenal dengan ketampanannya selain itu dia juga pintar idaman seluruh siswi di sekolah ini setelah Jongin berpacaran dengan Shinyoung dan tersebar keseluruh penjuru sekolah banyak siswi yang patah hati.

“Shinyoung-ah kau tidak membesuk Haneul?” Tanya Hara.

Haneul langsung menatap kearah dua orang sahabatnya itu dan mulai menajamkan pendengarannya.

“tidak” jawab Shinyoung pendek.

Apakah Shinyoung tidak pernah sama sekali menjenguknya di rumah sakit? Pikir Haneul. Haneul semakin konsentrasi mendengar percakapan antara Hara dan Shinyoung.

“wae? Dia kan sahabatmu” Tanya Hara.

Haneul menatap Shinyoung penasaran ia menunggu jawaban yang diberikan oleh Shinyoung kepada Hara. Suatu perkataan yang tidak pernah terbayangkan oleh Haneul pun meluncur dari bibir manis Shinyoung.

“karena aku membencinya”

 

tbc

Iklan

36 pemikiran pada “The Last Chance (Chapter 2)

  1. Teganya shinyoung, sahabat macam apa itu, hanuel sudah berkorban demi dia, tapi apa balasannya,,,
    huh sebal,apa jika kita jadi roh kita dapat melihat siapa yang tulus dan siapa yang tidak dalam mencintai kita,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s