Den (Chapter 1)

Title                 : Den

Author             : isanyeo

Main Cast        : Kim Hyosung [Author] ; Kim Jongin/ Kai  [EXO]; Byun Baekhyun [EXO]

Support Cast    : Kim Jongdae/Chen [EXO] ; find it.

Genre              : Drama, Romance, Family.

Length             : Chapter

Rating              : PG15

Fanfict             :

 

                Annyeong, readers! Ini ff saya, maaf ya kalau nggak memuaskan, agak gaje, dan banyak typo, maklum, saya  masih belajar ~ ^^ Judulnya saya ambil dari bahasa yunani, chingudul ^^

 

~Author’s Point Of View~

“Appa,” rintih seorang yeoja yang tengah menangis hebat di dalam pelukan Appanya.

“Uljimayo, Sungie. Appa baik-baik saja,” ucap lelaki yang sudah berkepala 4 itu sambil membelai rambut anaknya perempuannya, lembut.

Namun, yeoja yang dipanggil ‘Sungie’ oleh Appanya itu tidak bisa berhenti menangis. Kim Hyosung namanya, anak kedua dari keluarga Kim. Matanya tak henti-hentinya mengeluarkan buliran kristal bening yang membuat aliran sungai kecil di kedua pipinya.

Beberapa jam lalu, Hyosung mendapat kabar bahwa kondisi Appanya makin memburuk. Penyakit Appanya kambuh lagi, maag akut membuat Appanya harus menderita tertahan. Tuan Kim tidak mau melihat anak perempuan yang begitu disayanginya melihatnya kesakitan. Bagaimanapun Tuan Kim telah berusaha menutupinya semuanya dari Hyosung, Tuan Kim berusaha terlihat tegar di depan Hyosung. Namun semuanya terbongkar sekarang, Hyosung tahu kalau ternyata Appanya itu menderita penyakit maag akut, yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa Appanya.

“Sudahlah, Sungie. Appa akan segera sembuh, kau istirahatlah dulu,” ucap Tuan Kim lembut.

“Shireo. Aku akan menjaga Appa disini, siapa lagi yang akan menjaga Appa kalau bukan aku?” Hyosung menghapus air matanya dan menatap tajam ke arah Appanya.

Benar. Siapa yang akan menjaga Appanya selain Hyosung sendiri? Eommanya, Nyonya Kim. Ani! Eommanya sudah berganti marga menjadi Nyonya Byun, pasti sudah tidak peduli akan Appanya. Ya, kedua orangtuanya telah bercerai beberapa tahun lalu, sejak saat itu Hyosung tidak mau melihat Eommanya lagi. Eommanya sangat tega, meninggalkan Appanya ketika Appa sedang dalam keadaan terpuruk, saat perusahaan keluarga Kim sedang mengalami kebangkrutan. Namun tak habis pikir, Appanya yang sudah jelas sangat terluka itu masih mau membantu keluarga baru Eomma, keluarga Byun untuk mendirikan bisnis baru.

Hyosung memang benar-benar tidak ingin melihat Eommanya, ‘Eomma’ hanyalah sebuah kata baginya. Dia tidak pernah menemukan sosok figur ‘Eomma’ itu sendiri. Eommanya lebih sayang, lebih perhatian kepada Oppanya. Oppa yang secara tidak langsung juga ia benci.

“Appa, tidurlah, sudah malam.” Hyosung menarik selimut hingga menutupi leher Appanya.

“Kau juga sana, tidurlah,” sahut Tuan Kim.

Hyosung tersenyum manis dan keluar dari kamar Appanya. Dia melirik ke tempat tidur Appanya, dia tersenyum sekilas sebelum akhirnya menutup pintu kamar Appanya.

                Bruaakkk!!!

                Suara bantingan pintu rumah membuat Hyosung terbangundari tidurnya. Hyosung terdiam untuk sesaat, Hyosung mulai mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia sudah tahu pasti siapa orang yang menutup pintu dengan kasar malam-malam begini.

“Kapan orang itu pulang tepat waktu dan tidak membuat keributan!” Hyosung bangkit dari tempat tidurnya untuk segera turun kebawah.

Hyosung menuruni tangga rumahnya, dia bisa melihat dengan jelas seorang namja tengah tergeletak di sofa ruang tengah. Hyosung melirik namja itu penuh dengan kebencian. Hyosung bisa menengar namja itu meracau tak jelas sambil memjamkan mata, karena efek alkohol. Sesekali terdengar cegukan dari namja itu. Hyosung memutar matanya tanda ia tidak suka dengan kelakuan namja itu.

Dengan langkah cepat Hyosung membuka pintu rumahnya dan menatap sekeliling mencari mobil namja itu. Dia melihat sebuah mobil sport warna merah terparkir sembarangan di depan rumahnya. Kalau ia tak segera memarkirkan mobil itu dalam halaman rumahnya, pasti para tetangga akan mengomel padanya besok pagi. Hyosung  sudah membawa kunci mobil itu atau lebih tepatnya kunci cadangan yang ia ambil dari namja itu agar ia tidak kerepotan saat malam-malam seperti ini memakirkan mobilnya.

Beberapa saat kemudian, Hyosung sudah memakirkan mobil itu di halaman rumahnya. Dengan sedikit berlari dia memasuki rumahnya kembali karena merasa dingin yang sudah membuat saraf krausenya bekerja. Dengan gontai dia berjalan kembali menuju ke kamarnya. Saat menaiki tangga rumahnya, dia sempat mendengar racauan namja itu. Oppanya.

“Hyosung!!” panggil Oppanya yang kini tengah duduk lemas di sofa ruang tengah.

Hyosung tak menggubris panggilan Oppanya. Dia hanya meliriknya sekilas lalu menjutkan langkahnya yang sempat terhenti sejenak.

“Hyosung!! Kau tidak dengar, ha? Buatkan aku kopi!” bentak Oppanya dengan nada tinggi.

“Kau bisa membuatnya sendiri. Aku sudah lelah, aku ingin tidur, dan aku tidak ingin membuatkan kopi untukmu,” ucap Hyosung datar.

“Ya! Kau membantahku, ha? Kau yeodongsaengku! Kau harus menuruti aku! Layani aku!” teriak namja itu sambil melotot ke arah Hyosung.

“Ya! Kim Jongin, apakah kau tidak puas semalaman dilayani orang-orang di pesta yang selalu kau gelar tiap malam? Apakah kau tidak puas dilayani oleh yeoja-yeoja yang selalu bertengger di lintasan balap liarmu?” Kini Hyosung ikut menaikkan nada suaranya.

Tak ada balasan dari Jongin –oppanya. Hyosung mendesah berat dan kemudian mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke kamarnya. Dengan kasar, Hyosung menutup pintu kamarnya dengan sekali hentakan. Bisa didengarnya Oppanya itu meraung tak karuan mendengar bantingan pintu kamar Hyosung.

“Ya! Seperti itulah rasanya mendengar bantingan pintumu setiap malam yang menggangguku setiap malam!!” teriak Hyosung dengan penuh kemarahan dari dalam kamarnya.

Sungguh. Hyosung benar-benar membenci oppanya! Kakak laki-lakinya yang tidak bertanggung jawab. Kakaknya itu sungguh berbeda dengan Appanya. Bagaikan langit dan bumi, bagaikan setan dan malaikat. Mereka satu darah, namun tidak ada satupun sifat Appanya yang diwarisi oleh Kim Jongin –Oppanya.

Appanya begitu sabar, penyayang, pemaaf, sedangkan Oppanya, kebalikan dari Appanya. Kim Jongin adalah sosok yang jahat, pemarah, dan hanya bisa menghambur-hamburkan uang, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak perlu. Dia selalu menghabiskan malam dengan balapan liar bersama teman-temannya yang lain, taruhan, bermalam di diskotik. Membuang uang untuk hal-hal yang sangat tidak perlu. Keluar rumah pagi, pulang tengah malam. Sebagai seorang namja dia adalah namja yang paling buruk di dunia.

                Pagi datang. Hyosung yang merasa dirinya akan terlambat karena matahari sudah naik seper delapannya. Hyosung mengetuk pintu kamar Appanya sebelum dia masuk.

“Appa, Hyosung berangkat dulu. Appa istirahatlah,” ujar Hyosung sambil mengecup kening Appanya singkat.

“Ne. Jangan sampai pulang telat,” ucap Appa memperingati.

“Ne, Appa. Aku tahu itu,” ucap Hyosung sebelum menutup pintu.

Hari ini pasti dia akan dihukum lagi oleh Ms. Kimberly, guru yang paling disiplin yang menjabat sebagai humas kesiswaan di sekolah kepribadiannya. Ya, Hyosung tidak bersekolah di sekolah biasa, tidak di sekolah negeri atau swasta ataupun asrama, namun sekolah kepribadian. Sekolah yang didirikan untuk mendidik murid-muridnya terutama yeoja untuk membentuk kepribadian mereka. Sekolah yang menghasilkan yeoja yang pintar, indpenden, bebas berpikir dan baik hati.

Appanya memaksanya untuk masuk ke sekolah itu tahun lalu, yang dipikirkannya adalah Appanya sangat egois tidak mau mendengarkan usulan sekolah yang diinginkan Hyosung, Appanya memilih sekolah yang paling tidak disukai oleh Hyosung. Hyosung tidak mengeri kenapa Appanya memasukkan ke sekolah yang seperti itu. Yang bisa dilakukan Hyosung hanyalah menuruti kata-kata Appanya, demi kebahagiaan Appanya.

                Hyosung menghela nafas lega, karena sekolahnya hari ini sudah usai.Dia merapikan bukunya dengan cepat dan memasukkanya ke dalam tas, lalu ia keluar kelas mendahului teman-temannya. Hyosung memang tidak memiliki teman dekat, dia terlalu pendiam, dan juga, dia tidak terlalu peduli dengan adanya teman. Hyosung tidak menghindar, hanya saja jika ia sudah berada di suatu kerumunan, dia tidak banyak bicara dan memilih untuk diam.

Hyosung melangkahkan kakinya untuk berjalan ke halte terdekat, Appanya tidak mungkin menjempuntya. Dengan tatapan kosong dan sedang melamun, dia berjalan sangat pelan, hingga tak sadar sebuah mobil melaju kencang ketika ia sedang menyebrang jalan.

Tinnn!!!

                Seketika tubuh Hyosung kaku. Mobil itu tepat berhenti di depannya, hanya berjarak sejengkal tangannya. Matanya membulat sempurna diikuti getaran tangan dan kakinya. Tubuhnya terlihat pucat.

“Ya! Kau! Tidak bisa melihat sekitar kalau ada mobil, ha?” teriak pengemudi mobil itu.

Hyosung yang sadar pun segera minggir ke seberang jalan sambil menunduk. Dia melirik ke arah pengendara mobil yang hampir menabraknya tadi.

“Jongin?” lirih Hyosung sembari melihat pengemudi mobil itu yang tidak lain adalah Jongin, Oppanya.

“Kau sedang apa disini?! Mau cari mati jalan sambil melamu?!” bentak Jongin yang masih berada dalam mobil.

“Ani,” jawab Hyosung singkat

Jongin hanya mendecak ke arah Hyosung dan segera melajukan mobil sportnya. Dia tidak peduli terhadap Hyosung yang hampir ditabraknya tadi. Menunjukkan seberapa besar ketidak pedulian mereka satu sama lain. Hyosung hanya menatap mobil Jongin yang menjauh dengan tatapan kesal, sesekali diikuti hentakan kakinya ke tanah dengan penuh amarah.

 

 

“Sungie,” Tuan Kim membangunkan anak perempuannya itu pelan.

“Ne, Appa?” sahut Hyosung yang masih mengantuk.

Dia melirik ke arah jam dinding. Masih jam 2 pagi? Ada apa Appanya membangunkannya sepagi ini? Bukankan Appany butuh istirahat yang cukup?

“Jangan bangun kalau masih mengantuk, kau hanya perlu mendengarkan Appa. Ne?” ucap Tuan Kim seraya membelai kepala anaknya tersebut.

“Ne, Appa. Waeyo?” tanya Hyosung dengan mata terpejam.

“Appa rasa, Appa sudah tidak kuat,” lirih Tuan Kim, namun tidak terdengar oleh Hyosung.

“Appa, hanya ingin bilang pada uri Sungie. Kau seorang yeoja yang bisa diandalkan Sungie. Kau membuat Appa bangga memiliki dirimu, kau bisa tumbuh dengan baik dan di jalan yang benar walau tanpa adanya seorang Eomma di sisihmu. Maafkan Appa jika Appa ada salah padamu selama ini, seperti terlalu mementingkan pekerjaan daripada dirimu.” Tuan Kim menarik nafas dalam.

Hyosung menggeliat kecil, dan menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Tuan Kim tersenyum, mungkin Hyosung sudah tidur, namun ia harus melanjutkan kata-katanya.

“Appa bersyukur kau masih menyayangi Appa, masih mau berada di sisih Appa, ketika semuanya sudah mulai hilang dari dekapan Appa. Eommamu, adalah seseorang yang aku cintai hingga sekarang, meskipun dia sudah menghianatiku, aku tetap mencintainya. Oppamu, meskipun dia sering membentak Appa, Appa berusaha sabar dan tidak marah, Appa takut itu akan mebuat Oppamu semakin marah pada Appa. Oppamu adalah sebenarnya orang yang lemah, dia sangat terpuruk akan keadaan keluarga kita, Sungie.” Tuan Kim tersenyum getir mengingat apa yang terjadi di keluarganya saat ini.

“Appa sering mendengarmu bertengkar dengan Oppamu tiap malam, Appa berharap besok dan seterusnya tidak akan terjadi seperti itu lagi. Appa sangat berharap kalian bisa seperti dulu, adik-kakak yang saling melindungi dan menyayangi satu sama lain.” Tuan Kim mendesah berat.

“Sungie. Maafkan Appa. Kalau selama ini, Appa sering membuatmu marah. Membuatmu marah, ataupun menyesal memiliki Appa seperti ini. Maafkan Appa, yang terlalu melarangmu bergaul dengan teman-temanmu, maafkan Appa dulu yang sering marah kalau kau pulang telat dari jam pulang sekolahmu, maafkan Appa yang tidak menyutujui pendapatmu tentang memilih jalan hidupmu sendiri dan membuatmu terpaksa menuruti semua rencana hidup yang telah Appa susun untukmu, sekolahmu, teman, dan banyak lagi. Maafkan Appa untuk semuanya, itu semua Appa lakukan hanya untuk kebahagiaan anak perempuan Appa. Appa ingin melihatmu bahagia di masa depan, jangan sampai kau mengalami kisah pahit seperti Appa.  Jujur saja, Appa sangat khawatir kalau kau pulang terlambat, Appa takut sesuatu terjadi padamu, dan Appa salah menyampaikan itu dengan emosi. Appa juga minta maaf, kalau Appa sering tidak menuruti kemauanmu, karena Appa ingin kau mandiri dan tidak bergantung pada Appa ketika Appa sudah tidak ada di sampingmu lagi. Appa sering marah ketika kau dekat dengan seorang namja, Appa takut namja itu tidak akan bisa menjagamu dengan baik, dan Appa merasa bahwa Appa adalah satu-satunya namja yang bisa menjaga Sungie dengan baik untuk saat ini. Appa mencintaimu, Sungie. Sangat mencintaimu.” Tuan Kim menghapus airmatanya yang mengalir di pipinya yang sudah sedikit keriput itu.

“Masih ingatkah kau waktu kecil? Appa begitu menyayangimu, kau dikelilingi oleh keluarga yang bahagia. Namun, Appa tahu pasti kalau itu semuanya berubah semenjak perceraian Appa dan Eomma. Banyak hal yang berubah di keluarga kita. Anak perempuan Appa hidup dalam ketidak bahagiaan,” Tuan Kim mendesah berat.

“Maka dari itu, kalau mungkin Appa akan pergi untuk selamanya. Berjanjilah, kau akan bahagia, berjanjilah kau akan memiliki masa depan yang cerah, berjanjilah mencari namja yang bisa bertanggung jawab dan menjagamu. Appa menyayangimu,” Tuan Kim mengakhiri ucapannya dengan terisak.

Semuanya telah diutarakan kepada anak perempuannya. Tuan Kim mengecup puncak kepala Hyosung yang tidak tertutup selimut itu. Perlahan, dia meninggalkan kamar anak perempuannya itu.

Setelah pintu kamar tertutup terdengar. Tak lama kemudian, bahu Hyosung bergetar hebat. Perlahan suara isakannya terdengar. Hyosung sudah pasti mendengar semua yang dikatakan Appanya. Dia mendengar semuanya. Isakan Hyosung makin terdengar saat ia mengingat ucapan Appanya di dalam otaknya.

“Seharusnya aku yang minta maaf, Appa. Aku sering marah karena tidak tahu pasti alasan Appa melakukan semuanya. Appa hanya ingin aku bahagia, itu saja, iya kan? Aku yang terlalu egois. Aku tidak memikirkan alasan di balik semuanya. Appa selama ini sudah berusaha keras untuk menghidupiku, mengajariku dari kecil, menyayangiku dan mencintaiku dengan tulus. Seharusnya aku tahu, kau adalah satu-satunya namja yang aku tahu pasti cintamu padaku tidak akan pernah padam untukku,” ucap Hyosung seolah-olah membalas ucapan Appanya dalam tangisan.

Bahu Hyosung semakin bergetar, airmatanya mengalir deras. Meyadari kalau kondisi keluarganya memang benar-benar tidak baik.

                “Appa, bangunlah.” Hyosung menguncang tubuh Appanya lembut.

Tidak ada jawaban atau gerakan dari Appanya. Hyosung mencoba membangunkan Appanya lagi. Namun sama, tidak ada reaksi. Tidak biasanya Appanya seperti ini. Hyosung meletakkan telunjuknya di bawah hidung Appanya. Tidak ada hembusan nafas terasa. Seketika tubuhnya menjadi lemas dan pucat. Dia menguncang tubuh Appanya dengan sedikit kasar, namun tetap saja, tidak ada gerakan apapun dari Appanya.

“Appa,” rintihnya sambil menahan tubuhnya yang mulai limbung.

“Appa,” kini dia mulai sedikit berteriak.

“Appa!!” Hyosung sudah berteriak histeris diikuti airmata yang menjatuhi pipinya.

                Satu per satu orang yang dikenal Hyosung datang ke rumah duka. Hyosung tak hentinya mengeluarkan air mata di depan peti mati yang belum tertutup itu. Wajah pucat mayat Appanya terlihat jelas ditutupi sehelai kain transparan. Hyosung menangis namun dia tidak terisak, dia tidak mengeluarkan kata apapun sejak tadi pagi, sejak dia menemukan Appanya sudah tidak bernyawa. Airmatanya tidak bisa berhenti mengalir meskipun dia berusaha untuk menahannya, yang ada malah lehernya yang terasa sakit dan tercekat karena menahan airmatanya sendiri.

“Hyosung-ah,” seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan deraian airmata.

Siapa lagi? Wanita itu adalah Eommanya, wanita yang membuat Appa terluka, meskpiun Appa memaafakannya bahkan masih mencintainya. Wanita itu berusaha memeluk Hyosung, namun Hyosung menepis lengannya. Dia terlihat kaget atas perbuatan Hyosung, matanya berkata seperti itu. Hyosung hanya menatap datar ke arahnya.

“Dimana Jongin?” tanya Eommanya.

Hyosung hanya menatap lurus ke depan, ke peti mati Appanya. Kemudian menggelengkan kepalanya. Sedari tadi, dia memang tidak  melihat Oppanya itu. Dia juga tidak peduli. Dia berpikir bahwa Oppanya tidak tahu seberapa besar Appanya menyayanginya.

“Kalau begitu, tolong carikan dia. Kau bisa?” pintanya memohon.

Hyosung melirik ke arah Eommanya. Kemudian matanya tertuju kepada seorang namja yang berdiri di duduk di samping Eommanya. Namja yang kelihatannya lebih tua darinya beberapa tahun, namun terlihat lebih kecil tubuhnya untuk ukuran seorang namja.

“Dia siapa? Anakmu?” tanya Hyosung mengalihkan pembicaraan.

“Ani. Dia keponakanku, anakku masih berusia 15 tahun, perempuan,” ucap Eommanya.

“Kau pasti menyayangi anak perempuanmu, iya ‘kan?” tanya Hyosung menyindir.

Eommanya menghela nafas panjang dan menatap Hyosung dalam, “Aku juga menyayangimu, Hyosung-ah.”

Hyosung segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari hadapan Eommanya. Dia pergi ke taman belakang rumahnya untuk mencari Oppanya, mencarinya, seperti permintaan Eommanya. Sebenarnya dia tahu Oppanya sedang di taman belakang, hanya saja ia terlalu malas untuk menjawab pertanyaan Eommanya tadi.

“Jongin-ssi. Eomma mencarimu,” ucap Hyosung datar dan berdiri di depan Jongin yang kini tengah tertunduk.

Lihat saja, Hyosung masih dengan formal memanggil Jongin –Oppanya. Terlihat sekali kalau mereka sangat jauh, tidak seperti adik dan kakak. Mata Hyosung terhenti pada lengan kemeja hitam yang Jongin gunakan. Basah. Apakah mungkin Jongin menangis? Menangis untuk Appanya.

“Ne, dia di depan ‘kan?” tanya Jongin lembut, tidak seperti biasanya.

Hyosung hanya menganguk canggung. Ini pertama kalinya sejak beberapa tahun sejak perceraian kedua orangtua mereka, mereka berbicara tanpa ada umpatan atau pertengkaran. Jongin beranjak pergi dari taman belakang untuk menemui Eommanya, sedagkan Hyosung memilih duduk di tempat Jongin tadi daripada ke depan untuk menemui Eommanya.

                “Hyosung-ssi,” sebuah suara mengagetkan Hyosung yang melamun di taman belakang.

“Ne?” sahut Hyosung reflek.

Matanya tertuju pada seorang namja yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Namja itu adalah namja yang bersama Eommanya, keponakan Nyonya Byun.

“Byun Baekhyun imnida. Baekhyun. Aku disuruh Jongin-ssi untuk memanggilmu ke depan,” ucap namja tersenyum menatap ke arah Hyosung.

Hyosung tidak mengalihkan pandangannya dari namja bernama Baekhyun itu. Tersadar kalau Hyosung tak berhenti menatap dirinya, Baekhyun memberanikan diri untuk menepuk pundak Hyosung. Seakan tersadar, Hyosung yang menyadari tangan Baekhyun berada di pundak kirinya, cepat-cepat menepis tangan Baekhyun lalu menatap Baekhyun sinis.

Dengan langkah cepat, Hyosung segera kembali ke depan dan diiukuti Baekhyun yang berada di belakangkanya.

“Menarik,” lirih Baekhyun dan tidak terdengar oleh Hyosung.

                Pemakaman Appa Hyosung sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Namun Hyosung masih tidak mau beranjak dari pusara Appanya. Dia menatap gundukan tanah yang masih baru itu nanar. Masih tidak menyangka kalau orang yang terkubur oleh tanah tersebut adalah Appanya, seorang guardian yang selalu menjaganya.

“Appa, nado saranghaeyo,” ucap Hyosung mengingat Appanya mengatakan kalau Appanya sangat mencintainya.

“Appa, aku berjanji akan memenuhi apa yang kau minta dini hari tadi,tapi aku tidak berjanji akan menemukan namja yang bisa bertanggung jawab dan bisa menjagaku sepertimu, bagiku kaulah satu-satunya namja yang memperlakukanku demikian,” ucapnya terisak.

“Appa, jeongmal mianhae, jeongmal mianhae kalau aku pernah membuatmu kecewa,” ucap Hyosung lirih.

Hyosung merasa dia sudah terlalu lama berada di sana, dia harus segera pergi, dia harus segera membiarkan Appanya tenang melihatnya di sini. Hyosung bangkit dan segera meninggalkan temapt itu. Namun langkahnya terhenti ketika dirasakannya seseorang menghalangi jalannya, dia mendongakkan kepalanya.

“Jongin-ssi?” Hyosung mengerutkan keningnya. Kenapa namja ini masih disini?

“Ne? Kau sudah selesai, mari kita pulang,” ucapnya sambil berjalan mendahului Hyosung.

Hyosung yang melihat itu hanya terdiam di tempat dan masih bingung atas kelakukan Jongin hari ini.

“Kau tidak mau pulang?” tanya Jongin yang merasa Hyosung hanya diam dan tidak beranjak dari tempatnya.

Hyosung melanjutkan langkahnya yang terhenti  tadi dengan cepat menyusul Jongin yang melangkah cepat. Jongin membuka pintu mobilnya dan menyuruh Hyosung masuk juga. Hyosung kira awalnya dia akan  dibukakan pintu oleh Jongin, namun ia sadar kalau Jongin tidak akan pernah melakukan itu untuknya. Bisa berbicara tanpa pertengkaran seperti ini saja sudah sesuatu yang langka.

Hyosung duduk di bangku sebelah kanan depan, Hyosung menyadari sesuatu. Selama ini, dia tidak penah duduk di bangku ini, dia selalu duduk di tempat yang Jongin duduki. Ini terasa aneh, Hyosung sudah terbiasa setiap malam memakirkan mobil Jongin yang terpakir sembarangan karena dia tidak bisa mengendarai mobilnya dengn baik ketika malam, atau lebih tepatnya tidak bisa karena pengaruh alkhohol yang membuatnya pulang dalam keadaan pulang setiap malam.

Selama perjalanan pulang, mereka hanya diam. Tidak ada hal yang mereka bicarakan. Tidak ada satupun yang berusaha mengajak berbicara. Mereka sama-sama dingin. Hyosung turun dari mobil Jongin.

“Hyosung-ssi,” seorang namja tengah berdiri di depan pagar rumah Hyosung sambil tersenyum.

“B-Baek .. hyun?” sahut Hyosung sedikit mengingat nama namja itu.

“Ne,” ucap Baekhyun masih tetap tersenyum.

“Ada apa kemari?” tanya Hyosung sambil berjalan ke arah Baekhyun diikuti oleh Jongin.

“Aku hanya mengantarkan ini,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kantung plastik yang tertera sebuah nama perusahaan makanan besar di Korea.

Hyosung menatapnya heran dan bingung. Baekhyun memberinya makanan?

“Hyosung-ssi, begini, aku kira dari tadi pagi kau belum makan, jadi aku putuskan untuk membelikanmu makanan,” ucap Baekhyun.

Hyosung tercekat akan hal itu, padahal dia baru mengenal Baekhyun. Tidak seharusnya Baekhyun bersikap peduli seperti itu pada orang yang baru ia kenal.

“Apakah Ajhumma menyuruhmu?” tanya Hyosung menyelidik.

“Ani, ani. Ajhumma tidak tahu kalau aku kemari,” ucapnyan mengelak.

“Baiklah.” Hyosung menerima pemberian Baekhyun.

“Khamsahamnida,” ucap Hyosung kepada Baekhyun.

“Jangan terlalu formal padaku, kau bisa memanggilku dengan ‘Oppa’ kalau kau mau, aku lebih tua darimu bukan?” dengan pedenya Baekhyun menawarkan dirinya untuk dipanggil ‘Oppa’.

“Darimana kau tahu?” tanya Hyosung heran.

“Hmm, darimana itu tidak penting,” ucap Baekhyun.

“Geurae. Oppa,” ucap Hyosung menyetujui untuk memanggil Baekhyun dengan sebutan ‘Oppa’.

“Jongin-ssi, aku juga membawakanmu makanan, ada di dalam kantung itu juga,” ucap Baekhyun melirik ke arah Jongin yang sedari tadi diam hanya mendengar percakapan mereka berdua.

“Ah, ne. Gomawoyo,” ucap Jongin datar.

“Kalau begitu, aku pulang dulu. Annyeong,” pamit Baekhyun pada kakak-adik itu.

Hyosung hanya menganguk dan melihat punggung Baekhyun yang lama-kelamaan menghilang. Hyosung tersenyum kecil, rupanya masih ada orang yang perhatian padanya.

                Hyosung menggeliat kecil di atas tempat tidurnya. Hari ini ia memutuskan untuk libur. Dia tidak ingin sekolah dulu, dia ingin menenangkan dirinya dulu. Hyosung bangun dalam keadaan masih mengantuk, dia berjalan keluar kamarnya dan melangkah ke sebuah kamar yang tak jauh dari kamarnya.

Hyosung mengetuk kamar pintu itu perlahan. Tidak ada jawaban. Hyosung mencoba mengetuknya lebih keras. Tetap saja tidak ada jawaban.

“Appa. Ini sudah siang, sampai kapan Appa akan tidur?” ucap Hyosung masih setengah mengantuk.

“Appa. Cepatlah bangun,” teriaknya.

“Hyosung-ah!” bentak seseorang yang dari belakang Hyosung sambil menyentuh pundaknya.

“Jongin-ssi? Tumben kau pagi begini sudah ada di rumah,” ucapnya menyindir.

“Hyosung! Appa sudah tidak ada. Jangan seperti ini! Appa sudah tidak ada! Dia meninggal.” Kai menggucang tubuh Hyosung.

“Arraseo. Aku hanya melakukan kebiasaanku setiap pagi,” ucapnya sambil memandang Jongin remeh.

“Jangan begini! Kau seperti orang gila!” bentak Jongin.

“Nde? Kalau aku memang gila, kau mau apa, ha?” tanya Hyosung dengan nada marah.

“Jangan terpuruk terlalu dalam, kau harus bisa mengikhlaskannya.” Kali ini suara Jongin sedikit melemah.

Hyosung menatap Jongin remeh, “Ah, arra. Kau pasti senang ya ‘kan? Appa sudah tidak ada? Warisannya jatuh ke tanganmu, jadi kau bisa menghamburkan uang itu untuk pesta, taruhan, membayar wanita jalang, hanya untuk kesenanganmu. Jadi sudah pasti kau mengikhlaskannya, karena kau itu anak yang kur—”

Plakkk!

Sontak Hyosung memegang pipi kirinya. Gaya yang diberikan bersama tamparan keras dari Jongin membuat posisi kepalanya mengahadap ke arah kanan. Pipinya terasa panas. Namun, hatinya lebih panas daripada efek tamparan dari Jongin.

“Jongin-ssi. Kenapa menamparku? Kau marah karena aku mengucapkan kalimat fakta, ha?” ledek Hyosung.

Plakk!!

                “Bahkan, kau menamparku 2 kali. Benarkah kalau kata-kataku benar?”

Plakk!!!

                “Jongin-ssi. Cih! Bahkan aku tidak percaya kau masih satu darah denganku, masih menjadi anak Appa. Padahal kau berbeda sekali dengan Appa, kau seperti setan!” hardik Hyosung yang kini menatap mata Jongin tajam.

Plakk!!!

                “Appa bilang, kau sebenarnya adalah orang yang lemah, namun sepertinya tidak. Kau bahkan mampu menamparku 4 kali,” teriak Hyosung.

Jongin yang mendengar ucapan Hyosung yang kian menusuk hatinya itu melayangkan tangannya lagi untuk menampar Hyosung. Namun begitu telapak tangannya mendekati pipi Hyosung, tangannya terhenti. Bukan karena kehendaknya, namun sebuah tangan menghentikannya. Jongin melirik ke arah seseorang yang mengentikan aksi tangannya itu. Sebuah tatapan tajam diddapatkan oleh Jongin.

Seorang namja berdiri tegap memadang Jongin penuh amarah.“Hentikan, Jongin-ssi. Dia yeodongsaengmu, tidak seharusnya kau memperlakukannya seperti ini.”

                Den!! Jangan lupa comment.nya ya ^^

Iklan

41 pemikiran pada “Den (Chapter 1)

  1. wahh FF baru
    maaf thor baru baca skrg soalnya aku baru tau. hehe… 😀
    sabar ya hyosung…
    jongin jahat bgt sama adeknya sampe nampar 4x
    next deh and keep writing thor^^

  2. kasian bgt hyosung…
    kai kasar bgt sama adik sendiri tega bgt smpe nampar 4x…
    baekki pasti jd guardian angelnya deh…
    hehehe…
    keren bgt thor lgs capcus akh k chapt2… 😀 😀 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s