Baby Don’t Cry

Author: minnieasmilkyway

Title: Baby Don’t Cry

Main Cast:

-Xi Lu Han (EXO-M’s Luhan)

-Jae In A (Other Cast)

Support Cast:

-Kim Jong In (EXO-K’s Kai)

-Kim Hyeri (Other Cast)

Genre: Romance

Lenght: Oneshot

=Luhan PoV=

Minggu pagi ini, aku berniat untuk jogging sekaligus mencari udara segar. Aku sudah siap dengan kaos putih polos, celana training dan jaket. Kini, aku bersiap untuk mengenakan sepatu kets.

 

“Eomma, aku berangkat” ucapku yang lalu keluar dari rumah.

 

Jalanan masih terlihat sepi. Hanya beberapa saja yang sudah berlalu lalang. Dan aku adalah salah satunya. Aku hanya jogging mengitari kompleks rumah dan berniat untuk mengunjungi taman kecil di dekat rumah setelahnya.

Langkahku terhenti saat aku mendengar isakan tangis seorang yeoja di tepi trotoar.

 

“Neo gwaenchaneyo?” tanyaku sembari mendaratkan tanganku di pundaknya.

“Pergilah dariku. Aku bisa hidup tanpamu, bodoh!” serunya dan membuatku bingung.

“Agasshi, neo gwaenchanayo?”
”Sudah kubilang pergilah! Kau hanya bisa membuatku menangis saja. Kau itu sungguh jahat padaku. Kau berkata bahwa…hiks..hiks”

“Yak!! Aku tak mengerti maksudmu, agasshi. Tenanglah kumohon” ujarku.

“Kau tega sekali ingin berselingkuh. Kau jahat, JAHAT!!!!” isakan yeoja itu membuat orang lain yang berjalan dihadapannya menatap iba ke arahnya. Namun, menatap tajam ke arahku. Omona! Aku kan tidak berbuat apa-apa terhadap yeoja ini.

 

“Tenanglah, uljimaaa. Jebalyo, kau mau semuanya menganggapku telah mengapa-apakanmu?” tanyaku panik dan ia menoleh ke arahku. Tatapannya memancarkan kesedihan yang mendalam. Tangisannya seketika terhenti.

“Kau siapa?” ucapnya sedikit terisak.

“Nah, kau terlihat cantik jika seperti itu” ucapku yang kemudian mengusap kedua pelupuk matanya.

“Xi Luhan imnida, neo?” lanjutku.

“Jae In A. Gamsahamnida, Luhan-ssi. Kau benar-benar membuatku tenang”

“Cheonmaneyo”

 

Kemudian, yeoja itu berdiri dari posisinya semula. Sontak aku juga mengikutinya untuk berdiri.

 

“Eodigayo?” tanyaku padanya.

“Aku mau pulang”

“Mau kuantar?”

“Tidak usah” balasnya disertai senyuman lembut.

 

Sayang sekali, yeoppo yeoja sepertinya seharusnya tidak menangis seperti itu. Ia juga harusnya mendapat namja yang pantas, bukan? Yang tidak akan membuatnya menangis seperti itu. Lho, kenapa aku malah memikirkannya? Segera kutepiskan pemikiran itu. Lalu, kembali melanjutkan aktivitas jogging-ku ke arah taman kecil tersebut. Kalau Tuhan menghendaki, aku ingin bertemu dengan yeoja itu lagi, batinku.

 

=Jae In PoV –Flashback=

Hyeri datang ke rumahku dan mengajakku menuju cafe langganan kami. Katanya, ia mau mentraktirku satu set cake dan kopi. Tentu saja aku tidak menolak ajakannya. Lalu, pergilah kami ke salah satu cafe di pusat kota Seoul. Seperti janjinya tadi, ia membelikanku sepiring cheese cake dengan secangkir vanilla latte. Aku cukup senang malam itu. Karena, Kai tidak bisa menemaniku malam ini. Jadi, tidak ada salahnya kan kalau aku menghabiskan malam ini dengan sahabatku, Hyeri?

 

“Hey kau” ucap seorang namja yang kini dagunya tengah menopang di bahuku. Nafasnya menyeruakkan bau soju.

“Yak!! Pergilah kau. Dasar pemabuk!” seruku yang kemudian mendorong namja tersebut. Dan membuatnya kembali berjalan terhuyung-huyung.

“Aissh… Saranghae..” ucap namja tersebut sesaat ia telah berhasil berada di sebelahku.

“Neo neomu yeoppo. Neo yeojachinguga doeejullae?” lanjutnya.

“Yak, kau ini siapa? Berani-beraninya!” sahutku yang kemudian melancarkan tinjuku ke arah pipinya dan membuat namja tersebut pingsan seketika.

 

Hyeri memanggil namaku. Ia menyuruhku untuk melihat wajah namja yang baru saja kuhajar. Namja yang kini sudah berada di lantai cafe tersebut.

 

“KAI?!” ucapku tak percaya melihat namja yang sudah tak berdaya tersebut.

“Mianhae, agasshi. Ia terlalu banyak minum soju” jelas namja yang baru datang itu.

 

Biarpun ia terlalu banyak meminum soju, tapi menggoda yeoja lain adalah hal yang salah bukan? Aku adalah yeojachingunya. Kenapa ia malah menggodaku. Seandainya ia normal sekalipun –tidak dalam keadaan mabuk– ia tidak akan melakukan hal itu. Aku tidak akan memaafkannya.

 

=Kai PoV –Flashback=

Malam itu, Kris dan Chanyeol mengajakku untuk pergi ke salah satu cafe yang sekaligus memiliki bar untuk minum soju. Mereka akan mentraktirku. Karena, aku menjadi pemenang dalam battle dance melawan mereka berdua. Sesampainya disana, kami langsung duduk di depan bar yang memanjang membentuk setengah lingkaran tersebut.

 

“Aku punya ide gila malam ini” ujar Chanyeol tiba-tiba.

“Apa itu?”

“Kau lihat yeoja di sana?” tanya Chanyeol sambil menunjuk ke arah dua yeoja yang sedang menikmati pesanan mereka.

“Ne” balasku yang lalu kembali meneguk secangkir soju dan membuat mataku tambah berkunang.

“Kalau kau bisa membuatnya menjadi pacarmu, aku akan memberimu emmm 200 ribu won, otte?”

“Haha, aku pasti bisa!”

 

Kris hanya menatap tingkah kami berdua dengan tatapan tak percaya. Kemudian, ia tersenyum misterius.

 

“Hey kau” sapaku kepada yeoja yang mengenakan dress putih selutut berbalut jaket hitam tipis.

“Yak!! Pergilah kau. Dasar pemabuk!” serunya dan kurasakan tubuhku didorong olehnya dan membuatku tehruyung-huyung tidak jelas.

“Aissh… Saranghae..”

“Neo neomu yeoppo. Neo yeojachinguga doeejullae?” ucapku kala itu.

“Yak, kau ini siapa? Berani-beraninya!” begitulah terakhir kali aku mendengar perkataannya. Setelah itu, semuanya gelap.

 

=Luhan PoV=

Malam ini, sosok yeoja yang kutemui tadi pagi kembali terngiang dipikiranku. Ia yang sedang menangis. Saat ia marah. Dan yang terkahir adalah saat ia tersenyum. Aku benar-benar bersyukur bisa melihatnya walau hanya tadi pagi.

 

Aku membuka jendela kamarku. Menyibakkan tirainya ke satu sisi, dan membuka kacanya perlahan. Kutopang wajahku dengan telapak tanganku. Kudaratkan tatapanku ke arah bulan yang bersinar indah. Sampai saat itu, aku melihat jendela di seberang jendela kamarku turut terbuka. Dan muncullah wajah yeoja yang sangat kukenal. Ya, itu wajah yeoja yang kutemui tadi pagi. Wajah seorang Jae In A.

 

“Annyeong” sahutku memberanikan diri. Dan yeoja itu membuyarkan lamunannya dan menatap ke arahku.

“Ah, annyeong Lu-Han-ssi?” tanyanya ragu.

“Ne” balasku singkat.

 

Aku tersenyum ke arahnya. Dan ia balas tersenyum ke arahku. Aku tersipu malu melihat tingkahnya yang membalas senyumku itu.

 

“Aku… mau tidur” ucapnya hendak menutup jendela kamarnya.

“Arasseo, Jae In-ssi. Annyeong”

 

Aku tidak menyangka bahwa yeoja itu ternyata adalah tetanggaku. Kenapa dunia ini begitu sempit?, batinku. Ya, itulah yang berada di pikiranku sekarang. Lantas, aku mengikutinya untuk segera tidur. Akupun menutup kembali jendelaku beserta tirainya dan kemudian berbaring di tempat tidur.

 

*skip –Keesokan Harinya*

 

Hari ini aku juga berniat untuk jogging lagi. Namun, kurasa aku telat satu jam dari hari kemarin.

 

“Annyeong…” sapa seorang yeoja.

“Eo? Ah, Jae In?” balasku yang lalu tersenyum ke arahnya.

“Ne, kau mau kemana?” tanyanya kemudian.

“Aku mau jogging sekitar kompleks ini” jelasku.

“Hmmm, bagaimana kalau kau ke rumahku saja? Aku sudah membuat brownies untuk sarapan. Otte? Hitung-hitung, ini balasan dariku atas usahamu kemarin”

“Tidak perlu”

“Kalau kau menolakku, aku akan marah padamu” jelasnya sambil mengerucutkan bibirnya.

“Ya, baiklah” jawabku pasrah.

 

Akupun memasuki rumahnya yang didesain dengan warna-warni yang serasi. Tidak terlalu feminim. Ya, membuatku jadi semakin menyukai yeoja itu.

 

“Duduklah dulu” ujarnya kemudian.

“Ne” balasku dengan diiringi senyuman simpul.

 

Aku memperhatikan ruangan sekitarku. Disana terdapat pigura yang dipasang rapi. Di dalam pigura itu terpampang foto keluarga yeoja tersebut.

 

Tok tok tok.

 

Terdengar pintu depan rumah yeoja itu terketuk. Aku mencoba menghampiri dan membuka pintu tersebut. Kudapati tubuh seorang namja tengah berdiri dan menatapku tidak suka.

 

“Siapa kau?” tanyanya sinis.

“Yak!! Kau yang siapa?!”

“Minggir kau! Aku ada urusan dengan Jae In” jelasnya.

“Berurusan dengannya, itu berarti berurusan denganku juga” ucapku.

“Kau berani, huh?” tantangnya yang sudah siap untuk melayangkan pukulannya. Namun, ia langsung memberhentikan gerakannya tersebut saat ia tahu yeoja bernama Jae In itu akan keluar.

 

“Ka-i?”

“Ne, Jae In” balasnya santai.

“Ada apa kau datang kesini?” tanya Jae In kemudian.

 

Situasi ini, membuatku merasakan aura yang tidak mengenakkan.

 

“Lebih baik aku melanjutkan joggingku saja” ucapku seketika ke arah mereka.

“Tapi, Luhan-ssi?”

“Gwaenchanayo, gamsahae Jae In-ssi. Mungkin lain kali” ujarku lalu melewati tubuh namja bernama Kai itu.

 

*skip*

 

Malam ini, aku berniat untuk melihat wajahnya lagi dari balik jendela kamarku. Dan benar saja, setelah aku membuka jendela kamarku, tak berapa lama kemudian, ia juga membuka jendela kamarnya.

 

“Hmmm…kau menangis lagi, huh?” tanyaku.

“Kau tidak perlu tahu”

“Uljima, Jae In-ssi. Sudah kubilang kau lebih cantik jika berhenti menangis. Arasseoyo, Jae In-ssi?”

“Hiburlah diriku jika ingin melihatku tersenyum” ujarnya.

“Baiklah, aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu. Tapi kau harus berjanji padaku. Jangan menangis lagi”

“Nde, Luhan-ssi”

 

Akupun mulai menyanyikan lagu berjudul Baby Don’t Cry di hadapannya. Ia termangu mendengarku menyanyi. Namun, saat lagu tersebut telah selesai kunyanyikan, ia tersenyum.

 

“Jeongmal gamsahae, Luhan-ssi. Kau membuatku tersenyum untuk yang kedua kalinya. Aku begitu berterimakasih padamu”

“Baiklah, kalau begitu. Sekarang, tidurlah” pintaku.

“Ne, Luhan-ssi. Annyeong” ucapnya. Wajahnya yang cantik tersebut, kini terbenam bersama ditutupnya jendela kamarnya tersebut.

 

*skip –Keesokan Harinya*

 

Sore ini, aku berniat mengajaknya untuk jalan ke taman kecil. Namun, saat kudatangi rumahnya, hening. Tidak ada yang menjawab ketukanku. Lalu, akupun menyusuri jalanan kota Seoul sendirian. Tidak tahu akan mengarah kemana diriku sekarang. Lagipula, kalau aku benar-benar berjodoh dengannya, Tuhan pasti menemukan kami kan?

 

Saat aku berjalan melewati sebuah cafe, aku mendengar sebuah ketukan ringan dari dalam gedung tersebut. Betapa kagetnya aku, saat yang kudapati adalah sosok Jae In. Ia duduk sendirian di kursi pojok bagian depan cafe tersebut.

 

Akupun memasuki cafe tersebut. Lalu, mendekati kursi yang ia duduki. Ia terlihat seperti yeoja yang depresi.

 

“Kau terlalu lama menangis semalam rupanya”

“Aniyo, Luhan-ssi”

“Aku tidak bisa melihatmu begini terus” ucapku.

“Maksudmu apa Luhan-ssi?”

“Aku ingin membuatmu merasa bahagia, bolehkan?” pintaku.

 

*Jae In PoV*

“Bagaimana caranya?” tanyaku penasaran

“Dengan mengucapkan sebuah mantra” jelasnya yang lalu terkekeh.

“Kau ini seperti anak kecil saja, Luhan-ssi” ucapku ikut terkekeh.

“Terserah kau, Jae In-ssi. Boleh tidak aku melakukannya?”

“Kalau itu benar-benar bisa membuatku bahagia, aku mau”

“Baiklah, dengar perkataanku baik-baik. Jangan menangisinya lagi, jangan. Kini, tataplah aku seorang. Aku, yang kini berada di hadapanmu. Kau tahu perasaanku saat pertama kali aku melihat dirimu yang menangisi dirinya? Kau tidak pantas menangis seperti itu. Kau hanya pantas tersenyum. Aku menyukaimu. Jadi, kau mau tidak melupakannya dan menjadi pacarku?”

 

Aku benar-benar tercekat mendengar pernyataannya. Namja semungil dan seimut dirinya bisa berkata seperti itu langsung di depan mataku.

 

“Maukah kau menerima mantra itu dariku. Kujanjikan kau akan bahagia”

“Ne, aku mau” balasku.

 

Tanganku merasakan genggaman yang sangat erat dari tangannya. Ia menarik kedua telapak tanganku lembut. Lalu mencium kedua punggung tanganku.

 

“Kau begitu lucu jika seperti itu. Tetaplah begitu”

“Ne, Luhan Oppa” balasku tersenyum. Aku sangatlah malu mendapat mantra cinta darinya. Kurasa wajahku memerah.

 

*Luhan PoV*

Ya, ternyata kisah cintaku berakhir seperti ini. Benar-benar membutuhkan usaha yang ekstra untuk mendapatkannya. Dan kini, aku harus memulihkannya dari rasa sakitnya karena seorang namja bernama Kai tersebut.

 

Baiklah, mungkin ia memang benarlah jodohku. Siapa yang sangka, bukan? Yeoja yang kutemui sedang menangis di tepi trotoar, yang ternyata adalah tetanggaku. Kini, menjadi bagian hidupku. Tidak bisa kupercaya begitu saja bahwa ini benar adanya. Aku benar-benar mulai menyukainya. Sejak pertama kali melihatnya, kini, dan selamanya.

 

=Baby Don’t Cry –SELESAI=

 

Okey, saya sangat merasakan banyaknya kekurangan dalam ff ini. Jadi, mohon bantuan readersdeul untuk RCLnya ya! Gomawo^^!!

 

52 pemikiran pada “Baby Don’t Cry

  1. cuma satu yang menjanggal *?* di hati saya #apadeh si kai nasibnya gimana? nah, yang part jae in ninju kai itu ninju beneran apa nampar? kok pas di pipinya kai? *banyakomong* udah segitu aja. makasih. semuanya bagus, saya gak ngeritik, tapi nambahin aja * -_- * #halah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s