Son of The Sword (Chapter 2)

Author: sharfeena

Genre: Action/Martial Arts

Main Cast:

– EXO-M Tao

– MissA Jia

– NU’EST Ren

Note:  Halo halo, aku kembali dengan chapter 2. Semoga menghibur J

MYSTERY OF THE DEATHBLOW

Sosok bayangan hitam mengendap-endap di atap. Gerakannya begitu cepat. Tak ada satupun orang yang menyadari keberadaannya. Malam yang dingin dan sunyi, dimana segala kejahatan mungkin terjadi. Begitupun si bayangan hitam yang mungkin dapat dengan leluasa melancarkan aksinya.

Target si bayangan hitam bukanlah orang biasa. Dia adalah Jenderal Yi Xing. Bayangan hitam itu bergerak dari atap menuju lawang bangunan rumah sang jenderal. Lima orang prajurit tidak menyadari benar apa yang terjadi ketika badan mereka roboh dengan leher tergorok.

Si bayangan hitam masuk ke rumah Jenderal Yi Xing tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Setibanya di depan pintu kamar sang Jenderal, barulah terdengar suara deritan gesekan pintu dan lantai. Sang Jenderal sedang tertidur nyenyak, bersama sang istri di sebelahnya. Sosok misterius itu mengambil pedang dari sabuknya. Tepat di samping tempat tidur sang Jenderal ia mulai mengayunkan pedangnya.

Song Qian, istri sang Jenderal terbangun dan langsung berteriak keras melihat sosok yang ada di depannya. Ia berusaha untuk bangun namun pedang si sosok misterius itu jauh lebih cepat. Sekali hentak, pedangnya sudah tertancap tepat di jantung Song Qian.

Jenderal Yi Xing terbangun begitupun beberapa prajurit yang kemudian bersiaga di depan kamarnya akibat teriakan Song Qian yang telah terhenti untuk selamanya. Yi Xing berhasil menghunus pedangnya. Suara gesekan pedang terdengar di kamar itu, sementara para prajurit masih bersiaga.

Selain ditemani beberapa prajurit, Yi Xing juga ditemani dendam kepada si sosok misterius akan kematian istrinya yang tiba-tiba. Jenderal Yi Xing bukanlah orang sembarangan. Si sosok misterius mulai kewalahan menghadapi serangan-serangan darinya. Memaksa sosok misterius melepaskan pedangnya yang kini telah patah.

Namun sosok misterius itu bahkan lebih berbahaya dengan tangan kosong. Tubuhnya mulai mengalirkan tenaga dalam dengan hawa dingin dan sekali hentak, tubuh Yi Xing terdorong hingga mengenai tembok. Begitupun beberapa prajurit yang tadi bersiaga. Mereka terlempar jauh akibat pukulan yang cukup kuat itu.

Jenderal Yi Xing melemah. Napasnya tercekat. Hawa dingin mengaliri seluruh tubuhnya. Darahnya membeku. Perlahan-lahan nyawanya tercabut. Tidak salah lagi, itu adalah pukulan jurus Naga Es. Bermaksud meninggalkan jejak, pedang yang sempat dipakai oleh Yi Xing ditancapkannya ke dadanya. Di kala para prajurit lengah, sosok misterius itu pun menghilang di balik pekatnya malam.

***

Berita kematian Jenderal Yi Xing dan istrinya yang tragis itu menjadi bahan pembicaraan semua orang. Pembunuhan ini tentulah bukan pembunuhan biasa. Pastinya ada modus lain di balik pembunuhan ini.

“Kamu sudah mendengar tentang pembunuhan Jenderal Yi Xing, Tao?” tanya Guru.

“Sudah, Guru. Semua orang membicarakan hal itu…”

“Aku menemukan titik terang. Kuatkan hatimu. Dialah pengkhianat itu,”

“Guru, maaf. Saya tidak mengerti maksud guru…”

“Aku sempat melihat jenazah Jenderal Yi Xing. Dadanya terluka, dan lukanya jelas diakibatkan oleh pukulan jurus utama Naga Es. Sang pembunuh mungkin akan mengelabui orang-orang dengan tertancapnya pedang di dada Jenderal Yi Xing. Tapi, aku tidak akan tertipu…”

“Guru Yen! Tao! Guru Besar Hung sudah pulih!!!” teriakan Jia mengagetkan mereka berdua. Terlihat sosok yang berdiri di sebelah Jia kini sekarang telah segar bugar. Senyum terkembang melihat keadaan sekitarnya.

“Guru Besar Hung!!!” wajah Guru Yen ceria. Ia bergegas ke arah orang yang dituakannya. Mereka berpelukan dengan penuh rasa haru.

“Anda sudah pulih…”

“Berkat perawatanmu…”

Tao yang sedari tadi melihat kedua gurunya itu merapat. Ia merasa senang akhirnya satu guru telah pulih dan yang satunya lagi bisa ceria setelah galau akan keadaan di luar sana.

“Tao! Kamu semakin tampan saja. Bagaimana kemampuan Wushu-mu? Kamu tetap rajin berlatih kan?”

Tao terlihat menunduk pertanda segan. “Hormat saya, Guru Besar Hung. Terima kasih atas pujiannya…”

“Aku lihat suasana di sini sedang mendung. Selain itu semua orang membicarakan pembunuhan Jenderal Yi Xing. Apakah semuanya juga berhubungan dengan hilangnya Kitab Naga Es?” pertanyaan Guru Besar Hung mengagetkan mereka bertiga.

“Bagaimana anda bisa tahu?” tanya Guru Yen hati-hati.

“Jangan pikir aku tak tahu apa-apa, Guru Yen. Semuanya jelas…”

Mereka bertiga terdiam. Kemudian saling berpandangan. Guru Besar Hung bukan orang sembarangan. Ia pasti memiliki solusi bijaksana menghadapi hal ini.

“Hormat saya, Guru Besar Hung. Memang benar, kitab itu telah hilang. Guru Yen juga menduga pembunuhan Jenderal Yi Xing masih ada hubungannya dengan hilangnya Kitab Naga Es…” Tao mencoba menjelaskan.

Guru Besar Hung merapikan janggutnya. Sambil manggut-manggut, ia mencoba untuk mencerna kata-kata Tao dan menerka-nerka apa yang sebenarnya harus dilakukan.

“Hormat saya, Guru Yen. Guru Besar Hung! Anda sudah pulih?” tiba-tiba Ren muncul di tengah-tengah mereka.

“Ren! Dari mana saja kamu?” tanya Jia dengan nada yang seperti biasanya. Ketus namun penuh wibawa.

“Hari ini aku lelah sekali. Tidurku lebih lama dari biasanya…” ujar Ren yang memang terlihat begitu kelelahan.

“Duduklah, Ren. Aku sudah lama tidak bertemu kamu. Tetap berlatih dengan giat, kan?” Guru Besar Hung bertanya pada Ren.

“Iya guru. Saya berlatih dengan giat…”

“Ren, tertarikkah kamu akan pembicaraan kita sekarang?”

“Memangnya apa yang sedang Guru Besar bicarakan?”

“Soal pembunuhan Jenderal Yi Xing dan hilangnya kitab Naga Es. Tentunya kamu lebih tahu daripada aku. Selama ini aku berada di pembaringan terus…”

Ren tertegun. Matanya melirik ke arah kakak dan adik seperguruannya. Mereka berdua terlihat antusias.

“Orang-orang kini mulai menduga pembunuh Jenderal Yi Xing dan istrinya adalah orang dalam,” jelas Guru Yen.

“Tidak menutup kemungkinan itu adalah Jenderal Wu Fan, yang pangkatnya satu tingkat lebih rendah di bawah Jenderal Yi Xing…” Tao mencoba mengutarakan pendapatnya.

“Paman Wu…” tiba-tiba Ren berkata lirih, hampir tidak terdengar.

“Jenderal Wu? Apa modus dibalik semua ini?” Guru Besar Hung masih mencerna kalimat yang diutarakan Tao.

“Tao benar, Guru Besar. Bisa saja Jenderal Wu mengincar tahta Jenderal Yi Xing. Usia Jenderal Wu sedikit lebih tua dari Jenderal Yi Xing. Bisa saja masa jabatannya akan segera habis dan merebut tahta Jenderal Yi Xing adalah pilihan yang paling memungkinkan…” dengan cerdas Jia mengutarakan pendapatnya. Guru Yen mendelik, Guru Besar Hung manggut-manggut.

“Lalu, mengapa Guru mencurigai pencuri Kitab Naga Es adalah satu di antara kami bertiga? Guru Besar Hung, apakah anda percaya bahwa pencuri Kitab Naga Es adalah satu dari kami bertiga?” tanya Ren mewakili kakak dan adik seperguruannya.

“Tidak menutup kemungkinan. Pengkhianatan bisa dilakukan oleh siapa saja…” jawab Guru Besar Hung sambil meneguk tehnya, disusul anggukan dari Guru Yen.

“Kakak Ren, bukankah mungkin Jenderal Wu bersekongkol dengan orang dalam. Berbagai cara bisa dilakukan untuk melakukan pembunuhan ini. Tapi menurut saya, bukankah terlalu naïf jika Jenderal Wu sendiri yang melakukan pembunuhan ini?” Tao terlihat sangat antusias dengan hal ini.

“Betul juga, mungkin saja dia memang bersekongkol. Meskipun seandainya benar pelakunya adalah satu diantara kita bertiga, tidak mudah untuk mengakui hal ini. Penelusuran secara bertahap perlu dilakukan agar mendapatkan bukti yang kuat…” kini Ren mencoba mengutarakan pendapatnya.

“Aku rasa Ren betul. Logikanya, mana ada maling mau mengaku…”  ujar Jia.

“Rupanya kalian begitu antusias ya mengusut kasus ini. Memang kita harus menghentikan pengkhianat itu, sebelum berjatuhan korban yang lebih banyak. Hari sudah siang. Tao, tolong buatkan aku sup kentangmu yang enak itu. Aku rindu rasanya sudah beberapa abad tidak memakannya…” ujar Guru Besar Hung.

“Baik, Guru Besar Hung. Saya mohon diri… Permisi…” kemudian Tao pergi ke dapur, disusul kedua kakaknya yang turut membantu menyiapkan makan siang.

Pembunuhan Jenderal Yi Xing serta hubungannya dengan hilangnya Kitab Naga Es semakin mendekati terang pusat. Tapi sejauh ini, semuanya masih menjadi misteri yang belum terungkap…

[To Be Continued]

Iklan

8 pemikiran pada “Son of The Sword (Chapter 2)

  1. “Usia Jenderal Wu sedikit lebih tua dari Jenderal Yi Xing.” >>> ngakak guling-guling. bayangin Lay sama Kris jadi om-om…. #plakk *penghianatanbias*

    Bagus author, makin seruu ceritanyaa 😀

    walaupun ini genre yang agak berat, akan saya ikuti terus kok ceritanyaaa~~ XD

    Yosh, lanjutannya di tunggu yaahh~ 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s