Metronome (Chapter 1)

Author: monggu

Genre: Angst. Yaoi

Rating: PG-13

Length: Multi Chapter; 1035w

Main Cast: Park Chanyeol. Byun Baekhyun

Summary: ‘Aku tidak mau Baekhyun yang begini. Tidak mau.’

 

 

A/N Selamat ulang tahun bekiiiiiiii~ maaf telat ❤ Ini birthday fic buat ulang tahun baekhyun yang udah lewat, hehe. Dan akhirnya author kesampean bikin yaoi angst B) Dijadiin 2 part biar gak panjang-panjang teuing. Happy reading aja deh~ HIDUP BAEKYEOL.

*

“Baekhyun, manager-hyung sudah menunggumu. Ayo.”

Sesosok pemuda bersurai coklat berdiri di ambang pintu kamar. Urat mukanya menegang, kedua alisnya bertautan—aku bahkan bisa membaca gurit khawatir dengan jelas dari wajahnya. Aku tahu ada apa-apa. Suho-hyung tidak pernah bisa menyembunyikan ekspresinya. Aku tahu pasti ada apa-apa.

Ranjang di sebelahku berderit. Baekhyun beranjak bergegas menuju pintu—jalannya sedikit terhuyung. Aku memperhatikan setiap geriknya. Bagaimana kepalanya bergerak saat dia melangkah, bagaimana punggungnya membungkuk beberapa senti, bagaimana jemarinya yang indah terjuntai lemas.

Seperti bunga yang layu.

“Kau mau kemana?” aku bertanya, nyaris berbisik.

Baekhyun menoleh padaku. Matanya sayu, kelam, walau menurutku masih terlihat indah. Aku melihat bibirnya yang pucat tersenyum hambar. Senyum lemah, yang membuatnya tampak tidak berdaya. Hanya itu, dan dia berbalik tanpa menjawab apapun.

Suho menggenggam tangan Baekhyun dan menariknya keluar. Sementara aku hanya terduduk diatas ranjang tidurku, memperhatikan pintu kamar yang perlahan menutup.

Aku benci Baekhyun yang seperti ini.

*

“Chanyeol-hyung”,

 

Sebuah suara memanggilku saat aku tiba di ruang tengah. Suara familiar itu—Jongin. Rambutnya berantakan, bajunya kusut. Tipikal Jongin yang biasa.

“Hm?” Aku bergumam kecil, membalas sahutannya.

“Baekhyun-hyung kenapa? Tadi dia pergi keluar dengan Suho dan manager-hyung.”

Aku bisa melihat Sehun dan Kyungsoo mengalihkan pandangannya padaku ketika Jongin menanyakan hal itu. Mereka berdua berbalik dari sofa tempat mereka duduk, mengabaikan acara TV yang tengah mereka tonton.

Aku tidak butuh waktu lebih dari lima detik untuk menjawab Jongin. Aku menggelengkan kepala sambil menyeringai—mencoba meyakinkan mereka bahwa aku benar-benar tidak tahu.

“Mungkin ke supermarket? Aku tidak tahu.”

Bohong.

Aku tahu.

Aku hanya pura-pura tidak tahu. Soalnya ini yang Baekhyun inginkan; dia tidak ingin ada yang tahu, termasuk aku.

*

Aku ingat betul, semuanya berawal dari beberapa bulan yang lalu. Baekhyun tiba-tiba terjatuh di atas panggung, tepat setelah kami menyelesaikan penampilan kami. Mukanya pucat, tangannya berkeringat dan dingin. Semua orang dibuat panik bukan main, termasuk aku.

Aku memang tidak menunjukkan wajah cemas. Aku hanya diam bersimpuh di sisi Baekhyun, mencengkram tangannya erat-erat, sambil mengusap peluh yang turun dari dahinya. Aku berdoa dalam hati—apapun yang terjadi pada Baekhyun saat itu, semoga bukan sesuatu yang buruk.

Tapi doaku… tidak didengar.

Entah selang berapa hari setelah insiden, aku mencuri dengar obrolan manager-hyung. Baekhyun terkena suatu penyakit. Mereka menggunakan bahasa rumit—aku tidak mengerti. Yang  bisa kusimpulkan, ada masalah dengan sistem pemompaan darahnya di jantung. Penyakit ini bukan bawaan lahir, tapi virus.

Katanya virus ini jarang sekali, hanya minoritas. Katanya Baekhyun tidak beruntung. Katanya sebentar lagi akan ada cairan menggenangi jantungnya.

Sejak hari itu, Baekhyun mulai sering terbatuk. Mulai dari batuk lemah sampai dengan batuk parah yang membuatnya terdengar seperti orang sekarat. Tiap seminggu sekali, dia akan pergi keluar dorm bersama manager-hyung, mungkin berobat. Aku tahu dia mengkonsumsi pil-pil obat dalam jumlah besar, secara diam-diam. Dan napasnya terdengar berat jika ia tengah tertidur—ranjang kami hanya berjarak beberapa petak, aku bisa dengan jelas memperhatikannya.

Biasanya aku akan bertanya, apa dia baik-baik saja. Dan Baekhyun hanya akan tersenyum lemah, seperti biasa.

*

Minggu-minggu sibuk terlewati seperti biasa, tidak ada yang berubah dari Baekhyun. Dia tetap si bocah cerewet yang hobi membuat orang tertawa. Dia tetap Byun Baekhyun yang orang lain kenal.

Hanya saja, sinar di matanya mulai pudar. Wajahnya yang manis tampak lesu. Seringkali dia tersedak karena mencoba menahan batuknya. Orang lain mungkin tidak akan menyadari hal ini, tapi aku pasti tahu. Aku selalu memperhatikan Baekhyun. Aku pasti tahu.

Malam itu hanya malam biasa. Aku terbaring menyamping di ranjangku, menghadap ranjang di seberang—milik teman sekamarku. Lampu ruangan padam, suasananya sepi, hanya terdengar tik-tok jam dinding dan suara napasku sendiri. Aku menatap kegelapan pekat, mencoba membuat mataku mengantuk—tapi gagal—pada akhirnya aku tetap terjaga.

Kira-kira sudah lewat tengah malam. Beberapa jam yang lalu Baekhyun pergi meninggalkan dorm, lagi, dan sampai kini belum kembali.

Baru saja aku berpikir begitu, tiba-tiba pintu kamar mendecit terbuka. Aku bergegas menutup mataku, pura-pura tidur.

Terdengar suara klik, lalu lampu kamar menyala. Aku membuka sebelah mataku beberapa senti untuk mencari tahu, ternyata yang masuk memang Baekhyun. Dia sudah pulang, di mukanya jelas tersirat lelah dan kantuk.

Baekhyun terbatuk kecil beberapa kali, lalu dia menghempaskan jaket putih yang membalut tubuhnya keatas kasur. Dalam beberapa langkah, dia maju berdiri didepan cermin. Diam, seperti patung.

Aku kini membuka kedua mataku lebar-lebar, memperhatikannya. Dia sedang apa? Apa yang dia lihat di cermin? Pantulan dirinya? Kenapa dia diam?

“Baekhyunnie.” ujarku sembari bangun terduduk diatas ranjang. Baekhyun tidak menyahut, hanya menatapku saja lewat pantulan cermin sambil mengulum senyum.

Senyum itu lagi.

“Kau sedang apa?” walau kesannya seperti bicara dengan tembok, aku berkeras membuka mulutku untuk bicara. Kali ini aku turun dari kasur, merajut langkah menuju kearahnya.

“Aku terlihat menyedihkan di cermin. Mukaku tirus.” Baekhyun akhirnya bicara. Suaranya lemah dan kecil, nyaris terdengar seperti cicitan.

Aku berdiri di belakangnya, menatap bayanganku sendiri di kaca. Baekhyun memandangku lewat cermin, aku balas memandangnya. Tepat seperti yang dia bilang barusan, mukanya terlihat tirus dan pucat.

“Kau—“ aku menelan ludah, dengan masih melekatkan mataku pada sosoknya di cermin. “—kau tidak menyedihkan, kau masih terlihat… sempurna.

Aku mengangkat tanganku masuk dalam sela-sela lengan Baekhyun, memeluknya dari belakang. Dia tidak melawan, malahan menggenggam tanganku yang merangkul perutnya. Maka dengan sedikit keberanian aku memeluknya lebih erat, dan membiarkan kepalaku jatuh diatas pundaknya.

Aku membenamkan wajahku ke lehernya. Wangi Baekhyun, dengan sedikit campuran bau rumah sakit. Lelaki kecil itu bergidik ketika bibirku menyentuh tengkuknya. Aku tahu disana daerah yang sensitif.

“Aku jadi mudah lelah akhir-akhir ini.”

Baekhyun tiba-tiba bicara. Aku mengangkat muka dan meletakkan dagu diatas pundaknya. Sekali lagi dia bergidik geli, kali ini sambil tersenyum.

“Kalau begitu Baekhyunnie diam saja, biar aku yang kerjakan semuanya”, jawabku.

“Kerjakan apa?”

“Aku akan lakukan apapun yang Baekhyunnie minta. Membelikan makanan, membawakan barang, apapun.

Sebelum Baekhyun sempat menjawab, tiba-tiba tubuhnya terguncang keras.

Dia terbatuk, berkali-kali. Tangannya menutupi mulut, sementara yang satunya lagi masih mencengkram keras lenganku. Aku masih belum melepas pelukanku sampai dia berhenti. Ini yang terbaik yang bisa kulakukan.

Tapi Baekhyun tidak berhenti, batuk terus menerjangnya hingga napasnya terdengar putus-putus. Mulai panik, aku melepas lenganku dan membalikkan badannya.

Dia sudah  berhenti, tapi bahunya masih naik-turun. Napasnya tersengal, mukanya merah, dan matanya berair—refleks, hatiku berdenyut, rasanya seperti dihujam panah dan dirobek-robek oleh gunting.

Aku tidak mau Baekhyun yang begini.

Tidak mau.

Tuhan, Chanyeol sayang Baekhyun.  Tolong jangan buat dia seperti ini..

 

–TBC–

Iklan

78 pemikiran pada “Metronome (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s