Half of My Heart: Xiumin

Sub Title         : Our Little Dream

Author            : Kim_Mus2 & Inhi_Park

Main Casts      : Xiu Min a.k.a Kim Minseok & Kang Chin Sun

Length                        : Series

Genre              : Romance, Drama

Rating             : General

Summary        : Langit terasa dekat jika kau di sisiku.

<3<3<3

(Author’s Side)

Lapangan Basket

Udara sangat panas hari ini, matahari musim panas memang luar biasa. Seorang namja kini sedang berdiri di tengah lapangan Basket sambil memegang bola, siap untuk segera ia tembakkan ke arah ring. Sudah hampir 1 jam dia berdiri disana sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya. Sesekali dia menghembuskan nafas perlahan dan kini matanya menerawang jauh ke cakrawala sambil berkata dalam hati,

Terima kasih Tuhan, kau telah mempertemukanku dengan mimpi terindahku.”

Namja itu kini menoleh pada sesosok orang yang berdiri di pinggir lapangan. Orang itu mengembangkan senyuman terindahnya dengan tatapan yang tulus yang mampu membuat sang namja tak bisa menahan langkahnya untuk berlari dan meraihnya.

Flash Back

“Kau latihan basket lagi huh?! Benar-benar keterlaluan, pikirkan masa depanmu dan masa depan perusahaan kita, sebentar lagi kau akan lulus SMA, jangan main-main terus! Basket itu cuma kegiatan sampah, tak bisa menghasilkan uang. Apa kau tahu itu?!” bentak seorang lelaki paruh baya pada anaknya. Mendengar semua perkataan itu, sang anak hanya bisa tertunduk membisu sambil terus menahan rasa sakit dalam hatinya.

“Xiu Min, mau apa lagi kau datang ke lapangan ini? Kau hanya bikin susah saja, sekali gak bisa main Basket ya selamanya juga gak bakal bisa, badan pendek, ga ada bakat, cciih menyedihkan sekali.” Sang kapten Basket di sekolahnya menghina Xiu Min secara terang-terangan dan berarti pupus sudah harapan Xiu Min untuk masuk tim Basket sekolahnya itu.

Semua cemoohan dari ayah dan kawan-kawannya selalu Xiu Min tanggapi dengan diam. Tak pernah sekalipun ia mencoba menjawab ataupun memberontak, karena dia tahu semuanya akan sia-sia saja kalau dia tak bisa menunjukkan sesuatu yang bisa membuat mereka mengakui kemampuannya.

<<…>>

Dengan kemauannya yang keras untuk menjadi pemain Basket professional, setiap hari Xiu Min selalu mendownload video-video pertandingan Basket, video tutorial teknik-teknik Basket, membaca artikel di internet atau majalah olahraga, dan dengan rajinnya Xiu Min pun menulis setiap detil informasi yang ia dapatkan itu dalam sebuah buku agenda tebal dengan sampul berwarna biru tua.

Setiap malam, saat semua orang tertidur lelap, Xiu Min selalu datang ke lapangan basket di daerah kompleks rumahnya. Tujuannya tak lain adalah supaya dia bebas berlatih tanpa perlu mendengarkan ejekan orang lain. Setiap ada teknik baru yang ia catat dalam buku agendanya, Xiu Min selalu tak sabar untuk segera mempraktekannya.

Suatu malam, saat Xiu Min sedang asyik melatih teknik barunya, teknik naga terbang menjulang ke angkasa yang diciptakan seorang pemain Basket Cina, terdengar suara seorang yeoja sedang menangis di dekat lapangan. Yeoja itu berambut panjang. Dia terus menunduk sambil memegangi kedua lututnya. Dengan segenap keberaniannya, Xiu Min menghampiri yeoja itu dan duduk di sampingnya.

“Agasshi, gwencanhayo?” Xiu Min bertanya dengan hati-hati.

“Whuaaaa……. Hiks hiks hiks…..whuaaa……” tangisan yeoja ini semakin menjadi.

“Baiklah, kalau kau ingin menangis, menangislah sampai kau merasa lega” saran Xiu Min, mencoba bijak.

“Huh! Aku sudah lega sekarang!” ujar gadis itu penuh semangat sambil mengepalkan tangan kananya di udara.

Xiu Min langsung terperanjat melihat tingkah laku yeoja ini. Beberapa menit yang lalu dia masih menangis tapi hanya dalam hitungan detik dia langsung memasang wajah orang yang siap berperang.

“Agasshi… gwenchanayo?” lagi-lagi Xiu Min mengucapkan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, karena memang tak ada pertanyaan lain yang bisa mengkonfirmasi kejadian seperti ini. Pasti ada yang salah dengan yeoja ini, pasti semua berfikir seperti ini kan?

“Aiissh… aku lupa belum mencuci piring” ujar yeoja itu sambil menepuk dahinya.

“Agasshi!” panggil Xiu Min dengan sedikit meninggikan volume suaranya karena kesal terus tidak digubris.

“Ah ne… nuguya?” tanya yeoja itu dengan muka polosnya.

“Keurrae… Joneun, Xiu Min imnida” jawab Xiu Min sambil mengulurkan tangan kanannya.

“Annyeong Xiu Min! ada yang bisa aku bantu? Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya sang yeoja masih dengan tampang sok polosnya.

“Harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu agasshi… kenapa tadi kau menangis sendiri disini? Ini kan sudah malam.”

“Haah…tadi kau melihatku menangis? Mianhae…kau harus melihatku melakukan hal bodoh seperti itu, aku benar-benar malu, jeongmal mianhae” yeoja ini menjawab dengan panik.

“Hahaha…kau ini orangnya unik ya, sebentar menangis, tiba-tiba bersemangat, eh sekarang malah panik begitu. Ngomong-ngomong boleh aku tahu namamu?” tukas Xiu Min mencoba mencairkan suasana.

“Ah Ne… joneun Kang Chin Sun imnida, panggil saja Chin Sun biar lebih akrab” ujarnya sambil menunjukkan senyuman cerianya. “Oh ya Xiu Min sshi, apa yang kau lakukan di tempat ini?” lanjut Chin Sun penasaran.

“Panggil saja aku Xiu Min ya” pinta Xiu Min yang langsung disetujui Chin Sun dengan anggukannya. “Aku setiap malam datang ke lapangan ini untuk berlatih basket, karena aku sangat suka basket. Kau sendiri, kenapa menangis di tempat ini Chin Sun?” Xiu Min balik bertanya.

Chin Sun: “Hehe, aku jadi malu kalau ditanyai itu. Tapi kalau aku menceritakannya apa kau mau berjanji untuk merahasiakannya?”

Xiu Min: “Tentu, kau bisa mempercayaiku, sungguh!”

Chin Sun: “Hmm…baiklah, lagi pula entah kenapa meskipun baru bertemu denganmu, aku yakin kalau kau ini orang yang baik.”

Xiu Min: “Sekarang aku yang jadi malu, Chin Sun-aah.”

Chin Sun: “Sebenarnya begini, aku kan senang menulis cerita di laptopku. Tapi, tadi sore eoniku memakai laptopku dan sekarang semua datanya hilang. Saat ku tanyakan pada eoni apa yang dia lakukan dengan data-dataku, dia bilang dia benci dengan cerita-ceritaku dan langsung menghapusnya.”

Xiu Min: “Omona … kenapa eonimu jahat sekali seperti itu? Dia seperti kakak tiri saja.

Chin Sun: “Kau benar Xiu Min, dia memang kaka tiriku. Tapi sudahlah, aku kan calon penulis terkenal, jadi aku pasti bisa menulis cerita baru yang lebih keren, Fighting!!!” lagi-lagi Chin Sun menunjukkan semangat supernya yang sukses membuat Xiu Min terkekeh geli.

Xiu Min: “Hahahahahahahaha…… keren Chin Sun keren, jeongmal… kau ini mahluk langka. Kalau begitu, aku juga akan bersemangat jadi pemain basket professional, Fighting!!!

Chin Sun & Xiu Min : “Fighting!!!”

<<…>>

Sejak malam itu, Xiu Min dan Chin Sun lebih sering bertemu. Mereka semakin akrab dan asik membicarakan mimpi mereka masing-masing. Sampai pada suatu malam, Chin Sun datang menemui Xiu Min dengan wajah yang bisa dikatakan babak belur.

Xiu Min: “Chin Sun-aah, apa yang terjadi padamu? Kenapa wajah dan badanmu memar-memar begini? Gwenchanayo? Bagian mana saja yang sakit?” tanya Xiu Min panik.

Chin Sun: “Gwenchanayo Xiu Min-aah… aku sudah biasa seperti ini.”

Xiu Min: “Apa maksudmu, kau ini seorang yeoja, mana boleh seseorang melukaimu sampai seperti ini!” Bentak Xiu Min sambil memegang kedua bahu Chin Sun. “Katakan, siapa yang melakukan semua ini?” tampaknya Xiu Min semakin geram.

Chin Sun: “Kau tidak perlu tahu Xiu Min, ini masalahku.”

Xiu Min: “Aku ini sahabatmu kan? Cepat katakan!”

Chin Sun: “Ini semua perbuatan kakak dan ibu tiriku, mereka marah padaku karena terlambat memasak untuk makan malam.” Chin Sun menjawab pertanyaan Xiu Min itu sambil tersenyum.

Xiu Min: “Jangan pura-pura tersenyum! Di saat seperti ini lebih baik kau menangis Chin Sun, aku benar-benar membencimu yang sok tegar seperti ini!” Nada suara Xiu Min meninggi dan ia langsung menarik tubuh Chin Sun ke dalam pelukannya, dan Chin Sun pun kini tak bisa membendung air matanya lagi.

Xiu Min: “Menangislah sepuasmu sekarang, biarkan tetesan air matamu menyembuhkanmu. Kau harus bangkit lagi, dan tunjukkan pada orang-orang itu kalau kau bukan orang yang lemah!” ujar Xiu Min sambil mempererat pelukannya.

<<…>>

Setelah kejadian itu, Chin Sun dan Xiu Min semakin sering bertemu dan saling memberi support satu sama lain untuk meraih impiannya. Xiu Min lebih sering berlatih untuk masuk Timnas Bola Basket Korea dan bahkan kini dia tengah dilatih oleh seorang mantan anggota Timnas yang terkenal sebagai top scorer, Kris.

Sebenarnya, Kris ini masih seumuran dengan Xiu Min, tapi karena bakat basketnya yang luar biasa dia sudah berhasil menjadi bagian dari timnas sejak kelas 1 SMA tapi sekarang dia sudah keluar dari timnas karena alasan tertentu. Xiu Min mengenal Kris atas bantuan dari teman sebangkunya yang tak lain adalah Suho, yang notabene punya banyak koneksi dengan orang-orang hebat.

Sementara itu, setiap malam sambil menemani Xiu Min latihan, Chin Sun selalu membawa laptopnya dan dengan semangat menulis sebuah naskah novel untuk mengikuti lomba menulis Novel tingkat internasional yang kebetulan tahun ini diadakan di Korea.

<<…>>

Pagi ini, Chin Sun sudah mengirim naskah novelnya pada pihak panitia lomba. Kini, Chin Sun tinggal duduk manis di bangku penonton sambil menunggu Xiu Min bertanding di lapangan untuk seleksi memperebutkan title anggota Timnas Bola Basket Korea. Xiu Min yang melihat Chin Sun di bangku penonton, langsung melambaikan tangan sambil tersenyum pada gadis itu. Chin Sun pun membalas lambaian tangan Xiu Min dan memberikan senyuman terbaiknya yang tentu membuat Xiu Min mendapat energi luar biasa untuk bertanding.

Belum sempat Chin Sun menyaksikan babak akhir dari pertandingan Xiu Min, tiba-tiba handphonenya bergetar. Saat Chin Sun mengangkat panggilan itu, wajahnya berubah menjadi pucat dan tanpa pikir panjang Chin Sun pun langsung pergi meninggalkan bangku penonton menuju pintu keluar hall.

Selesai pertandingan, Xiu Min benar-benar senang karena dia terpilih menjadi anggota timnas. Tapi satu hal yang membuatnya merasa tak puas adalah bahwa sekarang Chin Sun tak menyaksikan keberhasilannya itu. Xiu Min benar-benar kecewa pada Chin Sun yang bahkan tak memberi kabar tentang keberadaannya sekarang.

<<…>>

Saat Xiu Min berjalan menuju rumahnya, dia melihat banyak orang datang berbondong-bondong menggunakan pakaian hitam menuju sebuah rumah megah dan itu adalah rumah Chin Sun. Tanpa pikir panjang, Xiu Min langsung memasuki kediaman Chin Sun. Disana Xiu Min mendapati Chin Sun yang sedang terduduk dengan wajah yang hampir tanpa ekspresi di samping tubuh ayahnya yang sudah terbujur kaku. Xiu Min menghampiri Chin Sun, dan kini Chin Sun menggenggam tangan Xiu Min dengan erat mencoba mengisyaratkan betapa sakitnya dia saat ini.

(Xiu Min’s Side)

Chi Sun-aah… apa yang harus aku lakukan sekarang? aku merasakan rasa sakit yang kau rasakan. Dia, ayahmu, satu-satunya keluargamu telah meninggalkanmu. Apa yang bisa kulakukan untuk melindungimu? Aku tak punya apa-apa.

“Chin Sun-aah… kau menahan tangisanmu lagi huh?” tanyaku sambil mengusap lembut puncak kepalanya.

Mendengar pertanyaan itu, Chin Sun hanya bisa menunduk dan semakin mempererat genggamannya pada tangan Xiu Min.

“Chin Sun, tenanglah kau tidak sendiri, selamanya aku akan melindungimu.”

<<…>>

Xiu Min: “Abeoji! Aku akan keluar dari timnas basket dan kuliah di luar negeri sampai aku bisa mengurus perusahaan dengan baik.”

Abeoji Xiu Min: “Jinjjayo? Baguslah akhirnya kau sadar juga.”

Xiu Min: “Tapi dengan satu syarat”

Abeoji: “Apa itu? katakanlah! Apapun akan appa turuti asal kau mau sungguh-sungguh mewarisi dan meneruskan kejayaan perusahaan kita.”

Xiu Min: “Jaga yeoja yang aku cintai selama aku pergi.”

Abeoji: “Baiklah, itu hal yang mudah. Kita sepakat?”

Xiu Min: “Ne… appa, aku harap kau memenuhi janjimu.”

Abeoji: “Ini janji antara lelaki, siapa yang melanggar, dia adalah pecundang!”

-Flashback End-

Present Time

(Xiu Min’s Side)

“Chin Sun-aah, kau sudah menunggu lama? Dimana Minhyun?” tanyaku sambil berlari ke arahnya.

“Dia sedang bersama kakeknya di taman” jawabnya lembut sambil mengelap peluh di wajahku dan menatapku penuh rasa sayang.

“Chagi… maukah kau membaca buku ini? Minggu depan buku ini akan segera diedarkan ke pasaran, kau orang pertama yang mendapatkannya.” Chin Sun menyodorkan sebuah buku berwarna biru langit. Aku benar-benar beruntung menjadi orang pertama yang mendapatkan buku langsung dari istriku, seorang penulis terkenal yang paling berbakat di Korea, karena kemampuannya membuat novel-novel romantis best seller yang bukan hanya disajikan dalam bahasa Korea, tapi juga bahasa Inggris.

Kini, aku tertegun membaca kata-kata di cover depan buku ini.

“HealingTears”

These tears have erased my pain and brought me to you and our little dream  

Dedicated to the best person in my life.

Buku ini sepertinya sudah merangkum semua kisah hidup dan cintaku dengannya, Kang Chin Sun, oh bukan kini dia sudah menjadi Kim Chin Sun. Dia yeoja paling berharga dalam hidupku, pendamping hidupku dan ibu dari buah hatiku yang akan kulindungi sampai akhir hayatku.

Chinsun: “Bagaimana chagi, kau suka judulnya tidak? Novel ini ceritanya tentang pertemuan kita berdua loh”

“Arasseo!” jawabku singkat.

Chin Sun: “Aahh, apa maksudmu? Kau kan belum membacanya!” rengeknya kesal.

“Aku sudah bisa menebaknya dari kata-kata di cover ini, kamu kan orangnya transparan, mudah sekali ditebak” jelasku dengan nada sedikit mengejek.

Chin Sun: “Nappeun namja!”

Tak tahan melihat wajahnya yang benar-benar manis ketika cemberut seperti itu, ku tarik tubuhnya mendekati tubuhku. Ku daratkan kecupan lembut di bibir manisnya dan ku peluk tubuh kecilnya dengan erat. Jika Tuhan mengizinkan, aku tak akan pernah melepaskan dirinya dari pelukanku, aku akan menjaga dan membahagiakannya seumur hidupku.

(Chin Sun’s Side)

Aku berada dalam pelukan hangat suamiku. Aku mencintainya lebih dari diriku sendiri. Pengorbanannya demi cinta ini tak akan pernah kulupakan, semuanya akan tetap terpahat kuat dalam hati dan pikiranku. Kupersembahkan buku ini untukmu suamiku, sebuah buku yang akan selalu mengabadikan betapa besarnya cintamu padaku.

“Chagiya… jeongmal saranghae”

“Nado saranghae Chin Sun-aah”

THE END

 Helooo……. Readers…… mana suaranya????

I can’t hear…you…# haha berasa mau nonton sponge bob.

Gimana pendapatnya nih buat versi Xiu Min oppa ini? Mian ya kalo romancenya kurang dapet hohoho# ah abaikan yang penting RCL please :D# plaaakk authornya pada maksa hehe ^^

82 pemikiran pada “Half of My Heart: Xiumin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s