Ambrose

Author : Mrs.Byun
Genre : Romance
Rating : Teen
Tipe : One Shoot
Main Cast :

-Byun Baekhyun

-Tiffany Hwang

-Park Chanyeol

Other cast:

-Kris

-Jessica Jung

AMBROSE

It’s okay even if it’s a painful love
Even if I erase the last love in my life
You are someone that cannot be erased
Even if it’s a sad destiny, I can’t let you go
I love you because it’s you

 

-Byun Baekhyun-

“Noona, aku menyukaimu.” Kataku memberanikan diri.

Kulihat ia sedikit terkejut mendengar pernyataanku. Entahlah, tapi sepertinya aku terburu-buru. Aku begini karena dia sudah tumbuh semakin dewasa. Aku takut pria lain akan merebutnya dariku. Dia bukan wanita biasa. Bukan hanya dimataku ia sempurna, tapi dimata pria lain juga. Aku yakin itu.

“Kau bisa kan….,” Perlahan aku menggenggam tangannya. Semoga ini waktu yang tepat.

“Baekhyun ah, aku tidak memacari anak kecil.”

Ya, dia melepaskan genggamanku. Entahlah apa yang harus kulakukan sekarang. Aku benci kenapa harus lebih muda darinya. Aku benci kenapa orang-orang selalu mempermasalahkan umur. Umur hanyalah angka. Bukankah kedewasaan seseorang tidak lagi berpengaruh pada umur? Setauku begitu.

“Aku harus pergi.” Ujarnya yang segera membalikkan badan.

“T..tapi tunggu!” Aku pun menahannya. “Baiklah, aku tidak akan memintamu sekarang. Bagaimana kalau beri aku kesempatan sekitar.. em, 2 atau 3 tahun lagi? Saat itu aku pasti sudah dewasa.”

“Dengar. Suatu saat nanti kau pasti akan dewasa. Tapi tetap saja kau ini lebih muda dariku. Aku tidak suka lelaki yang lebih muda dariku. Kau mengerti? Dan aku masih menyukai mantanku. Jadi sudahlah~”

Tiffany POV

Aku pergi meninggalkannya. Masih menyukainya? Aku tidak tau, tapi bibirku berbicara begitu saja. Bukan berarti aku masih menyukainya, kan? Tiap harinya aku selalu memakinya dalam hati. Tidak mungkin kalau aku masih menyukainya.

“Noona!”

Langkahku berhenti begitu saja ketika Baekhyun kembali memanggilku. Dia berlari dan berdiri di hadapanku lagi.

“Beri aku kesempatan. Baiklah, ideku buntu. Aku tidak tau cara apa yang bisa meyakinkanmu. Beri tahu saja aku, apa yang dapat mengubah pikiranmu?”

Aku diam sejenak memperhatikannya. Aku mengenalnya 2 tahun yang lalu. Cukup lama. Aku cukup tau kepribadiannya yang sesungguhnya. Sebenarnya aku yang bermasalah. Aku terlalu takut untuk mengambil resiko.

“Kau tidak mengerti.” Kataku lirih.

“Jelaskan padaku agar aku mengerti.”

“…..”

“…..”

“Aku tidak mau menjelaskannya.”

“Haaah…” Kulihat Baekhyun kecewa dengan perkataanku. Dia terlihat sangat gelisah. Matanya sudah tidak fokus padaku.

“Baekhyun ah…, kau bisa bersikap dewasa untukku, kan?” Kataku perlahan.

“Ne? Maksudmu?”

“Kau tau, bukan orang dewasa, orang suka melarikan diri. Tidak menepati janji, tidak jujur, aku tidak mau mempunyai kekasih yang seperti itu.”

“Kau tau aku tidak seperti itu.”

Dia menggenggam tanganku untuk meyakinkanku. Kurasa sudah cukup. Memang seharusnya dia yang kusuka.

***

Sebulan kemudian….

“Ini sudah sebulan.” Keluhku pelan sambil melirik kesana-kemari, melihat seberapa banyak orang yang memperhatikanku. Dan ternyata cukup banyak. Rasanya sangat banyak.

“Lama-lama mereka akan bosan. Seharusnya mereka terbiasa karna kita sudah dekat cukup lama, kan?” Ujar Baekhyun. Bodoh. Tidak akan semudah membalikkan tangan. Baekhyun sangat popular dimata orang-orang seangkatannya yang sebaya. Ya, dia memang sangat lucu. Tampan sekali. Tapi tidak dimata noona seperti aku. Tau sikap anak tidak dewasa, kan? Yang menatapku sinis hanyalah anak-anak yang suka cengengesan di kampus. Aku tidak suka mereka menatapku sebagai ‘Unni menjijikkan yang merayu anak kecil’.

“Noona, kau akan memilihku dibanding pria-pria itu, kan?” Ujar Baekhyun yang tiba-tiba saja menggandeng tanganku. Aku celingak-celingukkan kebingungan.

“Fany!” Seseorang memanggilku dari kejauhan. Dia berlari ke arahku. “Tiffany!”

“Ah, ne?” Orang itu Kris, teman sekelasku.

“Waktumu sedang kosong, kan? Bagaimana kalau pergi ke cafe denganku?” Ajak Kris.

Berbeda dengan angkatan Baekhyun, angkatanku sepertinya tidak ada yang menganggap serius kalau sekarang Baekhyunlah pacarku. Jahat sekali. Dia mengajakku pergi didepan Baekhyun yang jelas-jelas sedang bersamaku.

“Hyung, aku sedang bersamanya.” Ujar Baekhyun tiba-tiba.

“Kau tau aku pergi bersamanya karena kami sekelas, kan?”Ujar Kris.

“Lalu?”

“Kita mempunyai tugas yang sama. Jadi kita membutuhkan banyak waktu untuk bersama.”

“Ah, sudahlah hyung, cepat pergi….” Baekhyun mendorong Kris pergi. Bahkan Kris bersikap begitu pada junior terdekatnya di klub hapkido.

“Fany!” Lagi-lagi ada yang memanggilku. Tapi syukurlah, Jessica yang memanggilku. Aku pun menoleh padanya. “Kau ini jahat sekali. Oppaku menelfonmu kenapa suaramu terdengar sangat mengesalkan sekali? Dia jadi memarahiku karena tidak bisa membuatmu menyukainya. Setidaknya bersikap ramahlah pada Oppaku. Lagipula dia tampan. Masa iya kau tidak tertarik?”

Lagi-lagi. Aku tidak mood menyela ocehan Sica.

“Sica, pergilah ambil handphone Oppamu dan hapus kontakku. Aku sibuk.” Jawabku, lalu pergi.

Baekhyun POV

Wajah Tiffany terlihat murung. Aku membuang muka dan menyembunyikan senyumku.

“Kenapa?” Tanyanya heran. Ternyata aku tidak dapat menyembunyikannya. Aku pun

tertawa kecil. “Ya! Tidak ada yang lucu di sini.”

“Banyak sekali yang menyukaimu.”

“Banyak? Coba bandingkan dengan perempuan-perempuan yang selalu mengelilingimu setiap hari itu.”

“Tapi sainganku lebih menakutkan. Bayangkan, aku harus menyaingi beberapa sunbae tampan. Kalau angkatanku, bukankah kau hanya menganggap mereka anak kecil?”

“Terkadang anak kecil itu menyeramkan.”

“Noona, apa kau tau?”

“Hmm?”

“Aku sangat bangga ketika sadar hanya aku yang bisa menggenggam tanganmu di depan umum seperti ini.”

***

Tiffany POV

6 May. Semoga hari itu di tahun ini akan menjadi tahun terbaiknya. Aku ingin memberikannya kado special. Kakiku melangkah menuju sebuah outlet. Semoga hari ini aku akan menemukan kado yang pas. Ya, Baekhyunlah yang akan berulangtahun. Kurasa ini saatnya aku menunjukkan bahwa aku tidak pernah terpaksa menjadi kekasihnya.

Aku pun membuka pintu outlet…..

“Baiklah, jika 20 menit lagi kau tidak datang, aku malas bertemu lagi denganmu. Aku akan kembali ke Kanada, haha…. Okay…”

“…..”

Aku tidak bisa berkata apapun dan tubuhku mendadak kaku, apalagi ketika orang yang baru saja mematikan telponnya itu tidak sengaja melihat padaku. Lama-lama pintu yang masih kutahan ini membuat tanganku berat. Hampir saja pintu itu kembali tertutup dan akan membuat tubuhku terdorong ke belakang, tapi orang itu menahan ganggang pintunya.

Noona?”

Aku tau jelas kalau ini bukanlah mimpi. Aku tau orang ini akan kembali. Tapi…, mengapa terlambat sekali datang?

***

                Mengingat kejadian 3 tahun yang lalu, itu sangat menyakitkan. Mengejarnya sampai kakiku terkena pecahan botol. Suaraku hampir saja habis karena berteriak memanggilnya. Tidak ada hasil. Dia tidak dengar karena headphone di kepalanya. Pergi seenaknya, lupa dengan semua janjinya, seharusnya aku tidak mau ketika dia mengajakku ke tempat ini. Seharusnya aku tidak sudi bicara dengannya lagi. Aku tidak sudi dipermainkan anak kecil.

“Baiklah, aku tidak punya waktu kalau hanya untuk jalan-jalan seperti ini.” Kataku pada akhirnya. Kakiku berhenti melangkah di bawah pohon besar di taman dekat sekolah lamaku. Ya, tidak jauh dari outlet tadi.

“Kau marah padaku?” Tanyanya. Cih, bisa-bisanya dia bertanya seperti itu?

“Seharusnya aku tidak marah. 3 tahun waktu yang cukup lama, kan? Aku sudah lupa.” Kataku.

“Kau tau, kan, aku dipaksa kuliah di sana. Aku tidak bisa menolak permintaan Appa. Apa kau tidak bisa mengerti?”

“Kau ini bicara seolah aku ini orang jahat. Kapan aku menghalangimu pergi? Bukankah kau pergi diam-diam tanpa sepengetahuanku?”

Dia hanya bisa menunduk. Dia Park Chanyeol, orang yang kusebut ‘mantanku’. Entahlah dia mantanku atau bukan. Dia pergi tiba-tiba dan tidak pernah menghubungiku lagi. Dia salah satu alasan mengapa aku membenci seseorang yang lebih muda dariku. Karenanya, aku mencap semua orang yang lebih muda dariku itu anak kecil yang hanya bisa main-main, tidak punya tanggung jawab, tidak pernah bersikap dewasa.

“Mianhae.” Ucapnya lirih. “Kupikir aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi.”

“….” Aku hanya bisa buang muka. Perasaanku acuh tak acuh.

“Saat itu…, mana bisa aku memikirkan kata-kata untuk bicara padamu. Aku kebingungan. Pergi tanpa memberitahumu, hanya itu yang bisa kulakukan. Aku minta maaf. Tapi perasaanku masih sama dengan 3 tahun yang lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Noona, kau juga, kan?”

Aku hanya menunduk. Tidak dapat kupungkiri, aku merindukan suaranya yang berat. Suara yang membuatku tertarik padanya untuk pertama kali. Meskipun lebih muda dariku, setidaknya fisiknya tidak berkata seperti itu. Dia tinggi, tampan, dan suaranya sangat berbeda dengan wajahnya yang lucu.

“Noona, kau masih mema….,”

Aku langsung menjauhkan tanganku dan tangannya yang mau memegang tanganku.

“Ini baru saja mau kubuang.” Kataku. Aku tidak sadar kalau aku masih memakai gelang pemberian darinya. Ambrose. Tulisan di gelang itu tidak ada artinya. Apanya yang abadi? Seharusnya aku membuangnya dari 3 tahun yang lalu. Aku pun mencoba untuk melepasnya.

“Apa kau tidak bisa memberiku kesempatan?” Chanyeol mencoba menahan tanganku yang mau melepaskan gelang itu.

“Ya! Singkirkan tanganmu!”

“Noona, aku mohon!” Tiba-tiba saja dia menarik tanganku dengan kedua tangannya dan menyimpannya di depan kepalanya yang menunduk. “Apa semudah itu kau melupakanku?”

“Apa semudah itu kau mengabaikanku?!” Bentakku kesal. Kedatangannya membuat perasaanku kembali.   Daguku bergetar. Mataku tidak kuat untuk membendung air mata. Tiba-tiba saja Chanyeol mendorongku ke pelukannya. Aku hanya bisa menangis di sana.

“Aku minta maaf. Dulu aku tidak bisa berpikir dengan baik. Noona, aku tidak akan meninggalkanmu lagi seenaknya seperti dulu. Aku janji.”

Drrrt….

Kudengar handphone nya bergetar. Aku pun menjauhkan diri darinya dan membiarkannya mengangkat telponnya. Dia pun mengangkat telponnya di depanku.

“Yeoboseyo? …., aku sudah di tempat. Jalanlah sedikit ke depan…” Chanyeol bicara sambil tangan kirinya menghapus air mataku. Aku hanya memperhatikan pembicaraannya.

“Kau ini mengajak beretemu di taman, apa tidak terlihat seperti orang berkenca…,” Aku dapat mendengar suara seseorang yang datang. Chanyeol melirik ke belakang. Dia?

Baekhyun POV

“Kau ini mengajak beretemu di taman, apa tidak terlihat seperti orang berkenca…,” Aku termangu melihat pemandangan di depanku. Aku tidak salah orang, kan? Lelaki yang menyentuh wajah Tiffany itu siapa? Park Chanyeol???

“A~ Baekhyun ah!”

“Ng? Eh!” Aku langsung tersenyum menaikkan tangan. Aku seperti orang bodoh. Chanyeol menarik Tiffany datang mendekatiku. Tiffany terlihat terkejut melihatku dan sekarang dia hanya bisa membuang muka. Dia terlihat gelisah. Mataku tidak boleh tertuju pada Tiffany. Aku tidak mengerti. Apa hubungannya Chanyeol dengan Tiffany? Orang yang disebut ‘mantannya’ itu Chanyeol? Apa aku tidak salah? Kami mempunyai umur yang sama!

Tiffany POV

“Kau telat 3 menit!” Ujar Chanyeol pada Baekhyun.

“Kau yang bilang kita bertemu di depan kolam! Aku sudah menunggu dari tadi!” Ujar Baekhyun. Apa yang mereka bicarakan? Aku tidak mengerti sama sekali. Mereka berteman? Sejak kapan? Aku tidak pernah tau! Baekhyun melirikku. Aku hanya bisa membuang muka.

“Oh iya, kenalkan,” Ini yang tidak kusuka. Chanyeol akan mengenalkanku padanya. “Dia…,”

“A~ sudahlah aku tau.” Ujar Baekhyun yang memotong perkataan Chanyeol. Baekhyun tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa dan seolah dia memang tidak mengenalku. Dia mengulurkan tangannya ke arahku. Haruskah aku menyambutnya? Chanyeol melirik padaku karena aku diam saja. Aku pun langsung menyambutnya. “Byun Baekhyun.” Katanya sambil tersenyum ramah.

“…, Tiffany Hwang.” Kataku tersenyum kecut.

“Dia ini sahabatku saat di Kanada. Hanya saja dia kembali ke Korea lebih dulu karena dia sudah dari kecil tinggal disana.” Jelas Chanyeol. Aku hanya mengangguk-angguk kikuk. “Oh ya, aku ada perlu dengannya. Tidak apa-apa, kan? Kuantar kau pulang. Ya~ Kau bisa menunggu di sini sebentar, kan?”

“Ah, baiklah.” Ujar Baekhyun.

“Tidak, tidak. Aku ada perlu di outlet. Nanti aku pulang sendiri saja.” Kataku.

“Apa tidak apa?” Tanya Chanyeol. Aku mengangguk meyakinkan. “Baiklah. Aku akan ke rumahmu nanti malam.” Chanyeol mengusap rambutku dan mulai menjauh.

“Annyeonghaseyo!” Saut Baekhyun yang juga menjauh. Dan sekarang, aku sangat takut.

***

                “Aaah, noona, kau mengusirku!” Perotes Chanyeol yang kudorong menuju pintu keluar.

“Ini sudah malam! Aku mengantuk!”

“Ya tidur saja!”

“Ya! Besok kan kau bisa kemari lagi.”

“Baiklah, baiklah. Berhenti mendorongku!” Akhirnya aku pun berhenti mendorongnya karena sekarang sudah ada di depan pintu. “Besok ulangtahun Baekhyun. Kau harus datang bersamaku.” Bodoh. Aku pasti datang merayakan ulangtahunnya. “Dan besoknya…..,”

“Pulanglah.”

“Ini tidak adil kalau hanya aku yang merindukanmu. Aku di sini hanya seminggu dan harus kembali menyelesaikan kuliahku setahun lagi.”

“Baiklah, mulai besok, kita akan bermain seharian penuh bagaimana?”

Chanyeol mulai tersenyum lebar. Salah satu yang kusuka. Senyuman anehnya seperti senyuman terpaksa.

“Kau pasti lelah. Maafkan aku. Ng….,”

“…..”

Mataku terbelalak. Tiba-tiba saja Chanyeol mencium sudut bibirku.

“Selamat malam!” Dia langsung berlari keluar.

Aku berlari terburu-buru menuju balkon dan kudapati Chanyeol pergi berlari pulang ke rumahnya. Apa yang baru saja kulakukan? Diam dan tidak berbuat apa-apa. Bodoh. Sekarang aku merasa menjadi orang yang tidak punya perasaan dan tidak bisa berpikir. Bisikan-bisikan mulai muncul di telingaku dan mulai mencaciku. Semua bisikan itu menyalahiku. Aku tidak bisa mengalah dan aku tidak mau mengorbankan perasaanku. Mungkin memang harus begini adanya. Chanyeol kembali karena memang dia harus kembali menjadi milikku. Sekali lagi, ini bukan salahku. Memang sudah jalannya harus begini.

Baekhyun…

Aku sudah bilang padanya kalau aku masih menyukai seseorang, kan? Sekarang dia harus menanggungnya sendiri. Tapi…, aku menerimanya bukan karena kasihan. Bukan juga karena ingin melupakan Chanyeol. Entahlah kenapa aku harus menerimanya. Sekarang pikiranku kacau. Apa yang harus kulakukan ketika bertemu Baekhyun nanti?

Tanpa kusadari telapak tanganku berkeringat. Tanganku bergetar. Aku cukup ketakutan ketika mengingat hari esok. Aku tidak mau bertemu keduanya. Aku tidak mau bersikap seolah aku tidak mengenal Baekhyun. Aku tidak mau jika….,

Pikiranku seketika terhenti ketika seseorang di belakangku ini mendekapku. Tangan kirinya menggenggam tangan kiriku dan satu tangannya lagi mendekapku. Dagunya berdandar di bahuku di sebelah kiri. Dia membuatku tidak bisa bergerak. Aku diam tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

“Kenapa kau terlihat sangat gelisah?” Tanyanya. Aku hanya geleng-geleng pelan tanpa berbalik untuk menatapnya. Aku tidak mau jika dia tau isi pikiranku yang terlalu keterlaluan menanggapi apapun tentangnya. “Noona, kau tidak perlu takut. Tugasmu hanya tinggal memilih. Kau mau, kan,  memberiku kesempatan sampai Chanyeol kembali ke Kanada? Sampai saat itu aku akan berpura-pura baru mengenalmu.”

Daguku bergetar. Nafasku mulai tidak bebas karena menahan tangis. Ingin sekali aku berusaha membuang udara lewat mulutku, tapi aku tidak bisa karena dia memelukku. Pada akhirnya aku terpaksa menangis dan mengeluarkan sedikit suara karena aku tidak dapat menahannya lagi.

Baekhyun maafkan aku. Seharusnya aku tidak begini.

***

                “Saengil chukahamnida!! Saengil chukahamnida!! Saranghae uri hyunnie, saengil chukahamniDAAAA!!!”

Ya, aku dapat mengetahui bagaimana Chanyeol menyayangi sahabatnya itu dari suara yang ia nyanyikan. Sangat riang, semangat, dan tulus. Sepertinya dia sangat menanti-nantikan hari ini. Disini aku seperti orang bodoh. Tertawa, bertepuk tangan, bernyanyi, bersikap seolah semua baik-baik saja di antara 2 orang di dekatku ini.

“Ya! Kau tidak lupa mempersiapkan ka….” Chanyeol langsung memasukkan potongan kue besar untuk menyumpal mulut Baekhyun.

“Berisik. Tidak usah banyak bicara. Aku sudah mempersiapkan kado tanpa kau ingatkan.” Ujar Chanyeol yang langsung mengambilkan kado specialnya. Dia membawa kado yang cukup besar. Baekhyun langsung semangat menerima kadonya. Dia membukanya dengan paras wajah bahagia. Sesekali dia melihat padaku. Pada saat itu tawaku memudar dan hanya bisa menunduk. Aku tidak bisa bersandiwara ketika dia menatapku.

***

                “Minumnya habis.” Gumam Chanyeol sambil mengaduk tempat minumannya dengan sedotan. Yang tersisa hanyalah es batu. Aku meliriknya sambil meminum menumanku. Ketika dia melirikku, cepat-cepat aku membuang wajahku dan sedikit menjauh darinya. Aku pun mempercepat langkahku. “Noona, kau pelit sekali!” Dia berlari menyusulku dan langsung mengambil minumanku. Dengan wajah innocent-nya, dia meminum minumanku dan berjalan di depanku.

“Yak!!”

Aku pun berusaha mengambilnya kembali. Ya, aku perlu berusaha. Dia sangat tinggi dan dia berusaha menjauhkan minumannya dariku. Dia tidak berhenti menggigit sedotannya.

“Apa yang kau bawa?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan. Dia melirik kantung bawaanku.

“Kembalikan!”

“Sedari tadi kau membawa kantung itu. Isinya apa? Untukku, ya?”

“Untuk apa aku memberimu?”

“Coba lihat,” Dia mengintip kantung bawaanku. Aku langsung menjauhkan kantung itu darinya.

“Jangan sentuh barangku!”

“Kalau tidak memberitahuku, aku akan mengambilnya!”

“Ini untuk Nona Yuri!” Aku pun menunjukkan isi dari kantung bawaanku. Kantung tempat makan.

“Nona Yuri? Siapa dia?”

“Apa harus aku memberitahumu? Yang pasti dia bukan pacarku.”

“Menyenangkan memiliki Noona galak sepertimu.” Tiba-tiba saja Chanyeol merangkulku erat. Seperti apa yang dia lakukan pada sahabatnya. “Kukembalikan minumanmu.” Dia mengembalikan minumanku dan aku pun kembali meminum minumanku. “Jadi, siapa nona Yuri itu?”

“Tidak akan kuberitahu.”

“Berani tidak memberitahuku?”

“Untuk apa takut padamu.”

“Jadi begitu?”

“Ya!” Tiba-tiba saja dia menggelitikku. Dia tau kelemahanku -,-

“Cepat beritahu aku.”

“Aaaaaaa!!!!!”

Aku langsung berlari menyelamatkan diri darinya.

Chanyeol. Bagiku dia orang yang cukup aneh. Aku menyukai wajahnya yang ekspresif. Jika tidak tersenyum, dia akan menjadi lelaki yang paling tampan dengan wajah coolnya. Jika tersenyum sedikit saja, ah tidak. Dia tidak bisa tersenyum ‘sedikit’. Dia hanya bisa tersenyum lebar. Sangat berbeda jauh dengan wajahnya yang kusebut ‘cool’. Salah besar. Wajahnya konyol. Selalu berubah setiap detiknya. Dan yang paling kusuka, ketika dia menatap seseorang. Matanya akan menyipit seolah melihat seseorang dari kejauhan. Aku tidak punya alasan untuk meninggalkannya begitu saja.

***

Ting! Tong!

Untuk kedua kalinya aku menekan bel. Tidak ada yang keluar. Haruskah aku menekan bel ketiga kalinya? Sepertinya tidak perlu. Seharusnya aku sadar kalau dia tidak mau menemuiku. Sebaiknya aku pergi. Kakiku pun dengan sedikit berat mulai mundur ke belakang perlahan. Mungkin akan lebih baik kalau aku tidak muncul di hadapannya untuk beberapa hari ini…

Cklek!

Dadaku berdegup kencang sekali dan terasa terhenti beberapa detik. Aku sangat kaget ketika Baekhyun muncul membukakan pintu. Wajahnya terlihat lelah dan rambutnya sedikit berantakan.

“Noona?” Ucapnya heran dengan kedatanganku. “Masuklah,” Baekhyun menarik tanganku untuk masuk. Aku pun menyerat kakiku untuk masuk ke dalam. Kulihat kasurnya berantakan. Sepertinya aku mengganggu tidurnya. “Noona, bukankah ini sudah malam? Kau akan mengkhawatirkannya kalau…,”

“Selamat ulangtahun.” Kataku memotong perkataannya. Aku hanya bisa mengulurkan kantung makanan yang kubawa sedari pagi. Baekhyun hanya bisa menghela nafas.

“Bukankah kita sudah merayakannya bersama?” Ujarnya dengan nada lebih datar.

“Aku hanya…,”

“Hm?”

Kepalaku geleng-geleng. Aku tidak mau mengatakannya. Aku hanya ingin melakukan apa yang sudah kurencanakan sebelum kedatangan Chanyeol. Aku hanya ingin merayakan ulangtahunnya berdua dan dia merasakan masakanku untuk pertama kalinya.

***

Baekhyun POV

Jika dia begini, dia akan mempersulitku. Baiklah, kuterima saja pemberiannya, tapi dia masih menunduk tidak mau menatapku.

“Gomawo.” Kataku. “Noona, maafkan perkataanku kemarin.”

“Ne?”

“Aku salah. Perkataanku kemarin terlalu egois. Kau tidak perlu khawatir. Sekarang aku akan melepaskanmu.” Aku pun diam sejenak. Mataku mulai tidak bisa konsentrasi menatapnya. Seharusnya aku yakin kalau ini keputusan yang benar. “Dari awal aku sudah salah terlalu memaksamu. Mm, kupastikan Chanyeol tidak akan tau apa-apa selamanya. Kau bisa menunggunya sampai 1 tahun lagi dia menetap di sini dan tidak akan pergi lagi.”

“Bodoh, apa yang kau bicarakan?”

“Aku pun dapat memastikan, kau tidak akan kehilangan Chanyeol. Meskipun dulu Chanyeol tidak pernah mengatakan apapun tentangmu, tapi dia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada wanita lain. Setauku, dia hanya menyukai 1 orang yang dia bilang orang di masa lalunya. Dia tidak pernah memberitahu namanya, tapi kuyakin itu kau. Percayalah, dia tidak akan mengecewakanmu lagi.” Kataku meyakinkan dengan menggenggam tangannya.

“Kau terlalu mudah membuatku untuk memilihnya.” Ujarnya yang perlahan melepas genggamanku. Dengan cepat dia berbalik dan pergi keluar dari apartemenku.

Blam!

Dengan sangat amat berat, kuperintahkan kakiku untuk tidak mengejarnya. Kakiku berjalan menuju sofa dan duduk. Tanganku mencoba membuka perlahan kantung makanan yang dia bawa. Setelah kubuka, ternyata dosirak yang sudah sedikit berantakan. Tawa kecil sedikit terulas di bibirku. Entahlah dosirak ini diriku atau bukan. Sama sekali tidak mirip. Aku pun memakannya perlahan. Sejujurnya dadaku sedikit sesak, tapi aku terus memakannya.

Terima kasih, noona. Entahlah caraku ini benar atau justru salah. Aku tidak dapat berpikir lagi. Aku tidak tau caranya melepaskanmu dengan baik dan bagaimana caranya tidak menyakiti sahabatku.

***

Tiffany POV

Byun Baekhyun bodoh. Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku? Aku memang mencintai Chanyeol, tapi apa harus dia begitu padaku? Dia membuatku merasa bersalah, sangat amat bersalah.

Aku pun mempercepat langkahku agar cepat sampai ke rumah. Pikiranku kacau karena ucapan Baekhyun barusan.

Drrrrt….

Handphoneku bergetar dan aku pun mengambil handphoneku di saku. Baekhyun. Untuk apa dia menelponku?

“Yeoboseyo?” Jawabku datar.

“Ne, noona. Aku lupa untuk membicarakan satu hal lagi. Kau harus tau, aku begini bukan karna aku tidak sungguh-sungguh menyukaimu dan mungkin aku sok tau kalau kau lebih menyukai Chanyeol dibanding aku. Tidak perlu merasa tidak enak padaku. Aku baik-baik saja dan akan lebih baik kalau kau kembali pada Chanyeol seutuhnya. Aku harap kau juga masih mau menjadi noona yang dekat denganku seperti dulu. Apa kau bisa melakukan itu untukku? Bukankah aku ini dongsaeng yang baik untukmu?”

“…..”

Mataku berkaca-kaca tapi bibirku tersenyum. Ini yang membuatku sempat menyukainya.

“Terima kasih.” Ucapku lirih.

Bruk!

“Maaf!”

Badanku langsung membalik ke belakang ketika seseorang menubrukku dari belakang. Aku terkejut dan orang itu sama –sama terkejut. Ternyata Chanyeol. Apa yang dia lakukan di depan rumahku???

Mataku kembali tertuju pada handphoneku. Tapi…, Baekhyun sudah memutuskan telponnya.

“Kau dari mana?” Tanyanya heran.

“Apa yang lakukan disini?” Tanyaku balik karena aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.

“Ngg…, aku tidak bisa tidur di rumah. Mau makan denganku?” Chanyeol menunjukkan sekantung makanan yang dibawanya.

“Apa itu alasanmu kemari?” Tanyaku karena tidak yakin. Pada akhirnya Chanyeol meringis.

“Aku merindukanmu.” Aku hanya geleng-geleng kepala. Aku pun berjalan masuk menuju rumah. Dia mengikutiku.

“Bukankah sejam yang lalu kita baru bertemu?”

“Hah, kau tidak mengerti bagaimana rasanya harus pergi dan tidak bertemu denganmu setahun lagi.”

“Memang aku tidak mengerti.” Kataku asal. Aku pun menutup pintu rumah setelah Chanyeol masuk ke dalam. Kulihat wajahnya, dia cemberut dan menatapku sinis, lalu kelama-lamaan, dia tersenyum jahil. “Apa?” Tanyaku heran.

“Apa harus aku membuatmu mengerti dan merasakan rasanya merindukanku?”

“Aku tidak mau dibuat begitu.” Chanyeol kembali cemberut. Aku sedikit menghela nafas. “Maafkan aku.”

“Ne?”

“Maafkan aku.”

“Untuk apa?”

“Aku berbuat kesalahan yang kau tidak tau. Maaf juga, aku belum bisa memberitahukannya padamu.” Kepalaku tertunduk. Bodoh. Bagaimana jika ia terus penasaran dengan perkataanku tadi?

“Noona, apa kau tau?” Aku diam. “Aku benar-benar ingin tau apa maksud yang kau katakan tadi. Tapi aku tidak berhak memaksamu untuk memberitahuku, kan?” Lagi-lagi aku diam. Chanyeol pun menggenggam tanganku.  “Hm, begini saja. Aku tidak perlu penjelasan apapun, aku hanya perlu jawabanmu. Kau bisa menungguku setahun lagi, kan?”

“Memangnya kau bisa tetap menyukaiku sampai tahun depan? Aku tidak yakin.”

“Hey, noona, kau meremehkanku?”

“Kita lihat saja nanti. Aku sendiri tidak berani janji kalau aku bisa menunggumu selama setahun.”

“Mm, begitu ya.” Wajah Chanyeol sedikit murung. Ya, aku tidak berani berjanji setelah kejadian ini.

“Tapi sampai saat ini aku masih yakin kalau aku bisa menunggumu. Bagaimana denganmu?”

“Benarkah? Tentu saja aku yakin sekali!” Aku pun hanya tertawa kecil melihat ekspresinya yang selalu berlebihan.

“Kalau begitu pulanglah. Ini sudah malam dan aku perlu tidur. Apa kau tidak mau menghabiskan waktu denganku besok?”

“Tentu saja aku mau! Ngg, aku harus pulang, ya? Baiklah. Tapi…..,” Kulihat Chanyeol sedikit bingung dengan gerak-gerik tubuhnya yang tidak jadi membalikkan badan berkali-kali.

“Tapi apa?”

“…..”
Chanyeol mendekatiku dan tiba-tiba saja dia memelukku. Aku diam tidak bisa berbuat apa-apa.

“Satu menit saja untuk pengganti satu tahun, bagaimana?” Ujarnya.

Aku tidak dapat menolak. Aku pun pasti merindukannya nanti. Semoga saja tahun depan, dia akan terus seperti ini. Ya, aku yakin dia tidak akan berubah karena dia adalah satu diantara dua orang yang memperlakukanku seperti putrid setiap harinya. Selain dia, Baekhyunlah orangnya. Mereka dua orang terbaik yang pernah kumiliki. Aku akan bersikap sebagai noona yang baik untuk Baekhyun untuk membalas rasa salahku dan aku pun akan menunggu Chanyeol. Aku tidak mau apa yang dilakukan Baekhyun menjadi sia-sia dan tentu saja aku tidak mau kehilangan Chanyeol lagi.

 

-END-

30 pemikiran pada “Ambrose

  1. kukira sama baekhyun…ternyata
    KEJAM T_T jadi pengen nangis nih,author tanggung jawab!(?)
    jadi dilema gini.-. seru sih thor tapi,jadi gregetan-_-sequel boleh?

  2. Woaaa keren bget thor ffnya ヽ(^。^)ノ sequelnya dong thor ^^ hehee.. aku suka chanfany tpi baekfany jga suka – hehee jdi bingung sendiri X﹏X

  3. aKU SUKAAAA!!!!! Daebakkk!!!!!!!!! tp Kasihan Baekie nyaaa Baekkie kan masih ada akuu sabar yaaaa,,, #Plakk Dipukulin Fansnya Baekhyun Oppa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s