Regret

Title : Regret

Author : @MayLie_

Genre : Romance, Angst

Length : Oneshoot

Main Cast : Byun Baekhyun (EXO K) , Kim Ji Eun (OC)

Other Cast : Kim Joonmyun / Suho (EXO K)

Hanya sebuah kata sederhana…

ucapan yang seharusnya cukup mudah untuk dikeluarkan dari bibir ini…

tapi itu semua sangat sulit untuk kukatakan padanya…

mungkinkah ini semua akan menjadi penyesalan nantinya?

 

“Baekhyun-ah” bisik Ji Eun

Tapi Baekhyun tidak menanggapi panggilan Ji Eun sama sekali dia malah tetap tidur dengan nyenyaknya.

“Baekhyun-ah” bisik Ji Eun lagi tapi kini suaranya diiringi dengan kecemasan.

Baekhyun masih tidak bergeming dan masih tenggelam dalam mimpinya.

“YA! Byun Baekhyun!” teriak Lee Seosaengnim marah melihat salah satu muridnya tertidur di kelas saat dirinya sedang mengajar.

Tapi rupanya walaupun sudah diteriaki oleh Lee Seosaengnim Baekhyun tetap tertidur sepertinya dia sama sekali tidak mendengar panggilan temannya yaitu Ji Eun maupun Lee Seosaengnim.

PLETAK!

Akhirnya sebuah kapur melayang kearah Baekhyun dan tepat mengenai kepalanya.

“aaakkhh…”

Baekhyunpun akhirnya terbangun dari tidurnya, ia memegangi kepalanya yang terkena lemparan kapur yang mematikan dari Lee Seosaengnim. Baekhyun menyipitkan matanya dan menemukan seluruh penghuni kelasnya kini memusatkan perhatian padanya.

Lee Seosaengnim menatap Baekhyun dengan wajah yang menyeramkan dia paling tidak suka jika ada muridnya yang tidak memperhatikan pelajarannya apalagi tertidur dikelas seperti yang dilakukan Baekhyun.

Baekhyun membalas tatapan Lee Seosaengnim dengan senyumannya yang sangat manis.

“Byun Baekhyun Haksaeng apakah tidurmu nyenyak?” sindir Lee Seosaengnim.

“hehehe…” Baekhyun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“mian seosaengnim” baekhyun menunduk pada gurunya itu.

“kau keluar, jangan ikuti pelajaranku hari ini” usir Lee Seosaengnim.

“tapi…”

“cepat keluar!” usir Lee Seosaengnim lagi.

Baekhyun pun menyerah dan ia pun keluar dari kelas dan diikuti tatapan iba dari Ji Eun.

 

****

 

“apa sih yang sedang kau lakukan tiap malam sampai kau akhir-akhir ini tertidur terus dikelas?” tanya Ji Eun saat jam istirahat.

Baekhyun menoleh kearah Ji Eun yang sudah duduk disebelahnya.

“aku bermain games sampai larut malam” cengir Baekhyun.

Sebenarnya bukan itu alasan Baekhyun hingga ia lelah dan tertidur dikelas terus, dia bekerja paruh waktu hingga larut malam sehingga waktu tidurnya berkurang hingga ia tertidur di kelas.

Baekhyun bukanlah orang yang kurang mampu malah keluarganya sangat berkecukupan, tapi ia bekerja paruh waktu demi seseorang.

Flashback

Baekhyun dan Ji Eun menyusuri jalanan saat pulang sekolah, mereka memang selalu pulang sekolah bersama. Tiba-tiba Ji Eun berhenti di depan sebuah toko.

“uwaaa…” ucap Ji Eun takjub.

“wae?”

Baekhyun mengikuti arah pandangan Ji Eun, yang menatap sebuah kalung dari emas putih dengan bandul kecil , sederhana tapi elegan.

“yeppeuta” ucap Ji Eun.

“kenapa kau tidak membelinya?” tanya Baekhyun.

Ji Eun memang merupakan putri dari keluarga yang sangat berkecukupan sama seperti Baekhyun, semua yang mereka ingin kan pasti sangat mudah didapatkan.

Ji Eun menatap Baekhyun kesal “aku tidak ingin membelinya”

“waeyo?”

“benda seperti itu tidak bermakna jika dibeli sendiri, akan lebih menyenangkan jika diberikan dari seseorang” kata Ji Eun lalu berlenggang pergi dari Toko itu.

Baekhyun menatap kalung itu n tersenyum misterius lalu mengikuti Ji Eun pergi.

End Flashback

Karena ingin mendapatkan kalung itulah Baekhyun bekerja mati-matian agar bisa membelinya. Ji Eun merupakan sahabat Baekhyun sekaligus yeoja yang ia cintai. Baekhyun tidak berani mengutarakan perasaannya pada Ji Eun, ia takut jika Ji Eun menolaknya dan hubungan persahabatan yang mereka jalan sejak lama hancur dalam waktu sekejap akibat kecerobohan yang ia perbuat sendiri.

PLETAK!

Sebuah jitakan melayang dikepala Baekhyun ini kedua kalinya kepalanya terpukul dan kali ini Ji Eun lah yang menjitak kepalanya.

“aish…” desis Baekhyun “apa yang kau lakukan”

“seharusnya kau tidak bermain games sampai larut malam” omel Ji Eun.

Baekhyun ingin membalas omelan dari Ji Eun tapi dalam sekejap ia urungkan niatnya itu. Ada seseuatu yang berbeda dari wajah Ji Eun. Baekhyun merasa ada yang aneh, wajah Ji Eun yang cantik itu biasanya sangat cerah dan bersinar tapi hari ini wajah cantik itu terlihat pucat.

“kau sakit?” tanya Baekhyun.

“ne?”

“wajahmu pucat, kau sedang tidak sehat hari ini?” tanya Baekhyun khawatir.

Ji Eun memegang pipinya “hmmm… aku hanya sedikit pusing”

“sebaiknya aku antarkan kau ke ruang kesehatan” kata Baekhyun dan berdiri untuk mengantar Ji Eun keruang kesehatan.

“anni, nan gwenchanayo” cegah Ji Eun.

Baekhyun pun duduk kembali dan pada saat itu Han Seosaengnim memasuki kelas.

****

 

Keesokan harinya Ji Eun tidak masuk sekolah. Baekhyun menatap bangku tempat Ji Eun duduk di kelas, bangku itu kosong karena pemilik bangku itu tidak datang ke sekolah.

“hari ini Ji Eun tidak masuk sekolah karena sakit” ucap Lee Seosaengnim.

“nah sekarang, kita mulai pelajaran” ucap Lee Seongsaengnim dan memulai menerangkan pelajaran di depan kelas.

Diam-diam Baekhyun mengeluarkan ponselnya dari kolong mejanya, lalu mengetik sebuah pesan singkat.

To : Ji Eun

Apakah kau sudah baikan?

Setelah Baekhyun mengirim pesan itu, tidak terlalu lama sebuah balasan pesan singkat muncul di layar ponsel Baekhyun.

From : Ji Eun

Tentu saja, kau merindukanku?

Kekekeke…..

Baekhyun tersenyum membaca pesan singkat dari Ji Eun, ia segera mengetik pesan singkat balasan.

To : Ji Eun

Jangan berpikiran yang macam-macam pabo yeoja…

:p

Jangan membolos sekolah terlalu lama…

Baekhyun mengirim pesan itu dan balasan terakhir dari Ji Eun tiba.

From : Ji Eun

Arraseo Byun Seongsaengnim…

:p

****

Tetapi setelah seminggu Ji Eun tak kunjung masuk sekolah, Baekhyun merasa sangat khawatir dengan keadaan Ji Eun. Sudah berkali-kali Baekhyun mengirim pesan singkat pada Ji Eun tapi tidak ada balasan tidak hanya itu Baekhyun juga menelpon Ji eun tapi ponselnya dimatikan.

“Ji Eun-ah, kenapa kau tidak membalas pesan dan mengangkat telpon ku” gumam Baekhyun.

Baekhyun menatap layar ponselnya berharap Ji Eun segera menghubunginya. Baehyun menatap taman sekolah dari atas atap sekolah.

Sebuah ide terlintas di kepala Baekhyun.

“kenapa tidak pernah terpikirkan oleh ku” ucap Baekhyun.

Baekhyun segera mencari nama Joonmyun hyung di kontak ponselnya. Joonmyun merupakan oppa Ji Eun. Baekhyun menelpon Joonmyun, terdengar sambungan telpon tidak terlalu lama telpon pun diangkat.

“Yeoboseyo” ucap Joonmyun di seberang telpon.

“hyung, ini aku Baekhyun” kata Baekhyun.

“oh… Baekhyun-ah ada apa?”

“hyung, kau berada dimana?” tanya Baekhyun basa-basi.

“aku sedang dirumah sakit” jawab Joonmyun..

“ne? kenapa kau disana hyung?”

“kau tidak tahu? Ji Eun sedang dirawat dirumah sakit sekarang”

“mwo? Jinjayo?” tanya Baekhyun kaget “hyung bisa kau kirimi aku alamat rumah rumah sakitnya serta kamar Ji Eun dirawat?”

“ne, tentu saja” jawab Joonmyun.

“gomawo hyung”

Baekhyunpun mematikan sambungan telponnya, ia segera berlari untuk pergi kerumah sakit.

****

 

Baekhyun berdiri di depan pintu dimana Ji Eun saat ini dirawat, ia menghembuskan nafasnya sebelum membuka pintu kamar itu. Ia membuka pintu kamar itu.

Kamar rawat rumah sakit cukup besar, Baekhyun memasuki kamar itu di ranjang rawat ada seorang yeoja yang sangat dia kenali sedang terbaring di ranjang dengan selang infus yang terhubung dengan pembuluh darah di tangannya.

Di sofa kamar itu ada Joonmyun yang sedang membaca buku, saat Baekhyun memasuki kamar itu Joonmyun menoleh kearah Baekhyun. Baekhyun membungkukkan badannya pada Joonmyun.

“hyung annyeonghaseyo” kata Baekhyun memberikan salam.

“ne, annyeong Baekhyun-ah” balas Joonmyun tersenyum ramah.

“apakah dia tidur?” tanya Baekhyun melirik Ji Eun yang terbaring lemah.

Joonmyun mengangguk membenarkan pertanyaan Baekhyun.

“duduklah” ucap Joonmyun menyuruh Baekhyun duduk di sofa bersamanya.

Baekhyun berjalan mendekati Joonmyun dan duduk di sofa dekat Joonmyun duduk.

“sebenarnya Ji Eun sakit apa hyung?” tanya Baekhyun hati-hati.

Joonmyun menatap yeodongsaeng kesayangannya yang sedang tertidur itu lalu menatap Baekhyun, ia sedang berpikir apakah ia boleh memberitahu tentang penyakit Ji Eun pada Baekhyun.

Joonmyun menghela nafas “dia sakit anemia”

Baekhyun menghela nafasnya karena anemia merupakan penyakit yang masih bisa ditangani oleh para medis.

“anemia aplastic Baekhyun-ah” ucap Joonmyun lagi.

Baekhyun terkejut mendengarnya ia baru pertama kali mendengar jenis anemia ini. Baekhyun menatap Joonmyun meminta penjelasan.

“anemia ini tidak hanya kekurangan sel darah merah saja, tapi sel darah putih dan trombosit dan disfungsi sumsum tulang sehingga sel darah merah yang mati tidak terganti” jelas Joonmyun.

“ja.. jadi maksud hyung tubuh Ji Eun tidak bisa memproduksi Sel darah merah” ucap Baekhyun terbata-bata.

“benar” ucap Joonmyun tegar.

Joonmyun beranjak dari duduknya “Baekhyun-ah bisakah kau menemani Ji Eun? Sebentar lagi aku ada ujian”

“ne, aku akan menjaganya” ucap Baekhyun.

Joonmyun tersenyum kepada Baekhyun lalu menepuk bahu Baekhyun.

“gomawo”

Joonmyunpun pergi keluar dari kamar tempat Ji Eun dirawat. Baekhyun mendekati Ji Eun yang terbaring di ranjang rumah sakit. Ia duduk di kursi yang berada di samping ranjang Ji Eun.

Baekhyun mengamati wajah cantik Ji Eun yang pucat seputih kertas. Ji Eun yang Baekhyun kenal sebagai yeoja yang ceria dan periang kini terlihat sangat lemah.

Baekhyun mengulurkan tangannya ke wajah Ji Eun yang mulus, tangan Baekhyun mengelus pipi Ji Eun yang putih itu. Ji Eun merasakan sentuhan tangan Baekhyun sehingga membuatnya terbangun dan membuka matanya. Ji Eun sangat kaget melihat kehadiran Baekhyun disana.

“kau…” ucap Ji Eun terputus “kenapa kau bisa disini?”

Baekhyun tersenyum lembut pada Ji Eun lalu meraih tangan yeoja itu, digenggamnya tangan gadis itu.

“kau sudah mengetahuinya?” tanya Ji Eun menatap Baekhyun.

Baekhyun mengangguk “sudah berapa lama?”

Mata Ji Eun menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit itu “setahun yang lalu”

“dan kau tidak memberitakuku?” tuduh Baekhyun.

“mian, aku tidak ingin membebanimu” ucap Ji Eun sedih.

“kau pasti akan sembuh” ucap Baekhyun menatap Ji Eun.

“tidak, tidakkah kau tahu penyakit ini bisa membunuhku kapan saja” ucap Ji Eun getir.

Air mata mengalir dari pipi mulus Ji Eun. Baekhyun menatap Ji Eun, ia benci melihat Ji Eun yang rapuh seperti ini Ji Eun yang dia kenal selalu tegar dan bisa melewati apapun sendiri tapi sekarang Ji Eun yang merupakan yeoja yang ia cintai itu bertekuk lutut terhadap penyakit yang bersarang di tubuhnya.

“Jangan pernah mengatakan hal itu” ucap Baekhyun

Baekhyun mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Ji Eun lalu mencium tangan Ji Eun dengan lembut.

“kau akan sembuh”

****

 

Sudah 3 hari sejak Baekhyun mengetahui keadaan Ji eun di rumah sakit dan tentang penyakit yang di derita Ji Eun. Dan sejak saat itu Baekhyun selalu datang kerumah sakit untuk menemani Ji Eun dan meberinya semangat.

Hari ini sepulang sekolah Baekhyun kembali mengunjungi Ji Eun dirumah sakit. Seperti biasa Ji eun tetap berbaring di tempat tidur, Ji Eun terlalu lemas untuk bangun dari tempat tidurnya.

Baekhyun menatap wajah Ji Eun yang dulunya chubby kini terlihat semakin kurus begitu pula dengan tubuhnya. Kini tubuh Ji Eun semakin lemah dan tidak bisa menerima makanan dari mulutnya.

Baekhyun melihat kantong darah digantung dan jarum selang infus yang mengaliri darah itu tertanam di pembuluh darah Ji Eun. Dulunya Ji Eun hanya butuh cuci darah atau menambah darah tiap beberapa bulan sekali tapi kini ia harus menambah darah tiap hari karena kondisinya semakin memburuk.

Ji Eun menoleh dan melihat Baekhyun yang baru masuk kedalam kamarnya.

“oppa, ajak Baekhyun keluar” kata Ji Eun pada Joonmyun.

“tapi…” ucapan Baekhyun terputus saat ia melihat tatapan memohon dari Ji Eun.

Joomyunpun mengajak Baekhyun keluar dari kamar Ji Eun. Dari celah yang terbuka di jendela kamar Baekhyun bisa melihat Ji Eun tertidur. Baekhyun terus mengawasi keadaan Ji Eun di dalam kamar itu. Hingga sesuatu yang tidak pernah Baekhyun bayangkan terjadi.

Baekhyun melihat Ji Eun memuntahkan darah dari mulutnya, perawat segera melepaskan selang infus dari tangan Ji Eun. Baekhyun bisa melihat darah tidak hanya keluar dari mulut Ji eun tapi dari hidung dan telinga Ji Eun.

Baekhyun ingin memasuki kamar rawat Ji Eun tapi Joonmyun langsung menghalangi langkah Baekhyun. Joonmyun menggelengkan kepalanya melarang Baekhyun tapi Baekhyun ingin mengabaikan larangan Joonmyun.

“jangan lakukan itu, Ji Eun tidak ingin kau melihatnya dalam keadaan seperti itu” ucap Joonmyun.

Baekhyun merasa tubuhnya lemas ia sedih melihat Ji Eun yang sangat tersiksa. Baekhyun berpikir seandainya ia bisa menggantikan tempat Ji Eun sekarang.

“Baekhyun-ah” panggil Joonmyun “bisakah kau membantuku?”

Baekhyun menatap Joonmyun “membantu apa hyung?”

“tolong bujuk Ji Eun untuk mengikuti kemoterapi, itu akan bisa membantunya bertahan hidup tapi ia selalu menolak melakukannya” ucap Joonmyun memohon pada Baekhyun.

“baiklah, aku akan coba membujuknya” ucap Baekhyun.

Perawat yang merawat Ji Eun keluar dari kamar Ji Eun. Baekhyun memasuki kamar itu. Baekhyun melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Ji Eun.

Ji Eun tersenyum kearah Baekhyun yang sekarang duduk di samping tempat tidur Ji Eun. Baekhyun bisa melihat beberapa memar di tubuh Ji Eun, memar-memar itu merupakan salah satu efek dari penyakitnya.

“Ji Eun-ah”

“ne” Ji Eun menatap Baekhyun.

“ayo lakukan Kemoterapi” ucap Baekhyun.

Ji Eun menatap dingin kearah Baekhyun “tidak, itu tidak akan bisa menyembuhkanku”

“tapi itu bisa menghambat penyakitmu” bujuk Baekhyun.

“Kemoterapi tidak akan berarti apa-apa untukku, itu tidak akan membantuku sama sekali” tolak Ji Eun.

Baekhyun mengelus rambut Ji Eun dengan lembut “aku masih menginginkan kau bertahan hidup didunia ini Ji Eun-ah begitu pula Joonmyun hyung dan kedua orang tua mu”

Ji Eun menatap mata Baekhyun yang lembut itu lalu ia tersenyum lemah.

“baiklah”

****

 

Ji Eun mulai menjalani kemoterapi berkat bujukan dari Baekhyun dan kini Ji Eun sudah menjalani kemoterapi selama beberapa hari.

Tetapi tidak ada kemajuan pada kondisi Ji Eun, keadaan Ji Eun semakin parah rambutnya mulai rontok saat menjalani kemoterapi dan tubuhnya semakin kurus dan wajahnya sangat pucat.

Hari ini Baekhyun menunggu Ji Eun hingga selesai menjalani kemoterapi, saat Ji Eun menyelesaikan kemoterapinya Baekhyun menemuinya.

Baekhyun bisa melihat betapa menderitanya Ji Eun saat kemoterapi tadi. Wajahnya semakin pucat dan ia terlihat sangat lelah, nafas nya sangat cepat dan ia dibantu dengan masker oksigen.

Memar ditubuh Ji Eunpun bertambah banyak, mata Ji Eun yang sangat indah itu kini tidak dapat dilihat oleh Baekhyun karena mata yeoja itu terlihat bengkak. Baekhyun menatap sedih kondisi tubuh Ji Eun. Ji Eun tersenyum lemah kepada Baekhyun.

“tidurlah” kata Baekhyun lembut.

Ji Eun mengangguk dan mulai terlelap karena terlalu lelah menjalani kemoterapi yang sungguh menyakitkan dan mengurah tenaganya.

Ji Eun terbangun saat hari sudah sore, Ji Eun menatap Baekhyun yang masih duduk di samping tempat tidurnya.

“kau sudah bangun?” tanya Baekhyun yang menyadari bahwa Ji Eun telah bangun.

Ji eun tersenyum pada Baekhyun.

“kau membutuhkan sesuatu?” tanya Baekhyun lembut.

“temani…temani aku ke taman” ucap Ji Eun dengan susah payah.

“kau terlalu lemah, sebaiknya lain kali saja” ucap Baekhyun.

Ji Eun menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ucapan Baekhyun.

“se.. sekarang, jebal” mohon Ji Eun.

Baekhyun menatap Ji eun lalu menghela menghela nafasnya.

****

 

Baekhyun dan Ji Eun duduk di kursi taman rumah sakit. Ji eun menyandarkan kepalanya di pundak Baekhyun.

“sudah lama aku tidak melihat dunia luar” kata Ji Eun dengan suara lemahnya.

Baekhyun meraih tangan Ji Eun dan menggenggamnya, tangan Ji eun terasa sangat dingin di dalam genggaman Baekhyun.

“kau akan terus bisa melihat dunia luar, kau akan melihatnya lebih banyak setelah kau sembuh” kata Baekhyun lembut.

Ji Eun tersenyum mendengar ucapan Baekhyun. Di dalam hatinya ia tahu itu semua mustahil tubuhnya sudah sangat lemah dan ia sudah tidak kuat dengan penyakit yang semakin menggerogoti tubuhnya itu. Sudah lama ia ingin mengakhiri semua ini, tapi akhir-akhir ini ia merasa termotivasi berkat adanya Baekhyun disisinya.

“tubuhmu sangat dingin, kau ingin kembali?” tanya Baekhyun.

Ji Eun menggelengkan kepalanya “aku masih ingin disini lebih lama”

Baekhyun melepaskan jaket yang ia gunakan lalu ia pakalikan ditubuh Ji Eun yang kurus itu dengan hati-hati. Baekhyun merasa tubuh Ji eun kini sangat rapuh sehingga ia harus sangat berhati-hati ia tidak ingin Ji Eun merasa sakit.

“gomawo” gumam Ji Eun.

“”Baekhyun-ah” panggil Ji Eun

“hmmm…”

“apakah aku bisa hidup lebih lama?” tanya Ji Eun.

Baekhyun menatap wajah Ji Eun, wajah itu sangat kurus dan pucat tapi kecantikan yang dimiliki Ji Eun masih ada disana dan tidak pernah pudar dimata Baekhyun.

“tentu saja, kau akan sembuh” ucap Baekhyun.

Ji Eun mengangkat kepalanya dari bahu Baekhyun, ia menatap Baekhyun lalu tersenyum. Baekhyun mendekatkan wajahnya pada Ji Eun lalu mengecup kening Ji Eun.

“kau akan segera sembuh, Ji Eun-ah”

Ji Eun tersenyum dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun.

“Baekhyun-ah aku lelah, aku ingin tidur sebentar” ucap Ji Eun.

“tidurlah” ucap baekhyun lembut.

Ji Eun memejamkan matanya, ia sudah terlalu lelah dengan semua ini, ia sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang ia rasakan.

Baekhyun-ah mianhae aku tidak bisa sembuh seperti yang kau katakan, aku bukan yeoja yang kuat seperti yang selama ini kau bayangkan. Baekhyun-ah selamat tinggal batin Ji Eun. airmatanya keluar dari kedua sudut matanya.

Dan pada saat itu Baekhyun menyadari bahwa yeoja yang ia cintai sudah tidak berada disampingnya lagi.

Baekhyun mengambil benda dingin dari saku celananya, ia menggenggam kalung emas putih yang diinginkan Ji Eun. Baekhyun sebenarnya ingin memberikan kalung itu besok, tepat saat hari kelahiran Ji Eun.

Tapi kini Baekhyun sudah tidak bisa bisa memberikan kalung itu pada Ji Eun begitu pula dengan perasaan yang sudah lama ia pendam akan selamanya terpendam di hatinya.

Satu kata yang tidak akan pernah kukatakan padanya…

Sebuah kata yang selalu kupendam dihatiku, yang kupikir akan dapat kukatakan suatu hari nanti…

Kata yang sangat sederhana…

Tapi tidak akan pernah tersampaikan…

“saranghae”

 

END

Annyeong…

Gimana? Bagus atau jelek kah FF ini?

FF ini dibuat disela-sela penmuatan FF The Last Chance yang lagi buntu. Dan Inspirasi bikin FF ini muncul saat dengerin lagu Ballad yang ada di HP author.

Jadi “thanks to” nya tentu aja buat k.will dan sung shi kyung ajusshi…

Terutama lagu k.will ft Baek Ji Yeong – Day and Night…

Kamsahamnida buat yang udah baca dan menyempatkan diri buat comment..

*bow*

Jangan lupa baca ff  the last chance..

*wink*

Iklan

72 pemikiran pada “Regret

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s