Half of My Heart: Suho

Sub Title          : Deep in My Heart

Author             : Inhi_Park & Kim Mus2

Main Casts      : Kim Joonmyun a.k.a. Suho, Han Sohee

Genre              : Romance, School life

Rating             : PG-12

Summary         :“Asalkan mata hatimu bisa melihat ketulusan yang ku punya, aku sanggup menjadi apapun yang kau inginkan”

(Suho’s side)

Aku melihat dia berjalan kearahku. Gadis manis dengan rambut panjang yang ia biarkan terurai itu tampak sibuk dengan setumbuk buku tebal di tangannya. Saat kami berpapasan, aku sedikit kecewa karena ia sama sekali tidak menoleh padaku. Aku terus menancapkan pandanganku padanya meski ia sudah berjalan jauh di belakangku.

“Suho hyung…” suara Kai, sahabatku, menyadarkanku dari lamunan. Aku kembali berjalan saat menyadari kalau aku sudah tertinggal cukup jauh dari langkah kawan-kawanku.

Kami, aku dan kedua kawanku, berjalan menuju sebuah meja yang selalu kosong di salah satu sudut kantin sekolah. Ya, meja ini memang seperti memiliki lisensi khusus yang hanya boleh di duduki oleh kami bertiga. Terkesan exklusif kan? Memang, meja ini memang hanya milik kami.

Kami bertiga adalah salah satu atau mungkin satu-satunya kelompok siswa-siswa populer di sekolah ini. Masing-masing dari kami, katanya, memiliki kelebihan yang mungkin membuat orang lain segan terhadap kami. Biar ku sebutkan satu per satu.

Yang pertama adalah Park Chanyeol. Dia adalah putra tunggal dari Park Jungsoo. Kau pasti bertanya siapa itu Park Jungsoo? Beliau adalah ketua yayasan tempat kami bersekolah. Yups, dengan begitu alasannya juga sudah jelas bukan?

Selanjutnya ada Kim Jongin atau yang biasa disapa Kai. Dia yang paling muda diantara kami. Sikapnya yang terkesan cool juga wajahnya yang good looking menempatkan dia menjadi ulzzang yang secara otomatis membuat dia memiliki banyak fans. Dan mungkin itu alasan dia ada di dalam kelompok ini.

Dan yang terakhir dan yang menurutku paling biasa saja adalah Kim Joonmyun atau Suho, aku.Sampai sekarang aku tidak pernah tahu alasan kedua bocah itu memintaku bergabung dengan kelompok mereka. Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan.

“Hyung…” Chanyeol menegurku yang sedari tadi memang sedang tidak fokus.

“Ada apa?” tanyaku pada kedua orang yang kini sedang sibuk dengan secangkir minuman di tangannya masing-masing.

“Kau yang ada apa hyung? Ku perhatikan dari tadi kau melamun terus.” Kata Kai.

“Apa ini hobi barumu setelah kau pulang dari Jepang?” Sambung Chanyeol.

“Ah… Aniyo…”. Aku kembali terdiam.

Sebenarnya pikiranku sedang berada di tempat lain saat ini. Aku sedang memikirkan gadis yang sempat berpapasan denganku tadi. Namanya Han Sohee. Dia teman sekelas Kai di tingkat 2.Pertama kali aku bertemu dengannya adalah saat aku mendatangi Kai ke kelasnya sekitar satu tahun lalu. Dan pada saat itu juga, aku jatuh hati padanya.

Hari ini adalah kali pertama aku bisa melihatnya lagi setelah aku mengikuti students exchange ke Jepang selama 6 bulan. Ia tak banyak berubah. Ia masih tetap cantik dan malah semakin cantik. Perubahan itu jugatidak terjadi padaku. Aku masih mencintainya. Dan aku masih merasa sangat bersalah padanya atas apa yang kulakukan sesaat sebelum aku pergi 6 bulan yang lalu.

(Ket: yang bergarisbawah dan di cetak miring itu flashbacknya Suho yaa…)

Aku memang bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta. Sering kali aku menertawakan beberapa temanku yang mengaku sangat gugup ketika akan menyatakan cintanya. Mungkin aku seperti itu karena sejujurnya aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta apalagi tegangnya saat akan menyatakan cinta. Dan sekarang saat aku merasakannya, aku tahu bagaimana rasanya.

Hari itu, dengan berbekal segenap kekuatan yang sudah kukumpulkan sejak beberapa hari yang lalu. Aku memberanikan diri mengutarakan isi hatiku pada gadis yang beberapa bulan terakhir ini selalu membayangi hari-hariku. Han Sohee.

“Sohee-ssi… Aku.. emhh aku… aku menyukaimu. Emh… kau mau jadi pacarku?” Dengan terbata-bata, akhirnya aku berhasil meluapkan perasaan yang sudah cukup lama kupendam.

Ia tidak menjawab. Aku tidak tahu apa artinya ini. Kepalanya tertunduk, namun cukup jelas terlihat rona merah di wajahnya. Aku menunggu dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangan dan juga pelipisku.

Perlahan aku melihat kepalanya sedikit terangkat. Ia mengangguk. Kau tahu bagaimana perasaanku saat ini… whuaaa rasanya seperti memeluk dunia. Bahagiaaaa…

“Emh… baiklah. Kalau begitu aku… aku pergi dulu.” Aku meninggalkanya dengan perasaan bahagia yang meluap-luap di dalam dadaku.

Ya, Sohee adalah kekasihku. Tapi itu dulu, sebelum aku melakukan hal bodoh yang menyebabkan kesalahan yang sangat fatal.

Aku berjalan menyusuri lorong gedung kesenian yang cukup sepi. Kedatanganku kesini adalah untuk menemui gadisku yang selalu berhasil membuatku tergila-gila. Tadi Kris, teman sekelasku, mengatakan kalau seorang siswi datang ke kelas dan mencariku. Dan dengan sangat yakin aku tahu itu Sohee.

Aku melihatnya disana. Bersandar di dinding ruang musik sendirian. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku menghampirinya. Sontak ia langsung menegakkan kepalanya saat menyadari kedatanganku. Ia menatapku dengan matanya yang sedikit memerah

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ini pertama kalinya bagiku melihatnya dengan keadaan yang sangat kacau. Dia seperti habis menangis.

“Sohee-ssi, gwenchanayo?” tanyaku.

Siapa? Siapa yang berani membuat gadisku bersedih seperti ini? Aku berjanji tidak akan melepaskannya.

“Oppa.. Apa… Apa kau serius menyukaiku?”

Aku benar-benar tidak mengerti, jadi aku hanya terdiam menunggu dia melanjutkan kalimatnya.

“Aku tidak tahu Oppa. Aku merasa kalau kau tidak sungguh-sungguh menyukaiku. Bukan maksudku untuk menuntut banyak hal darimu, hanya saja, apa kau pernah memikirkan bagaimana sikapmu selama ini padaku? jangankan mengakuiku sebagai kekasihmu pada orang lain, sekedar menyapaku saat kita tidak sengaja bertemu saja kau tidak pernah Oppa.”

Kepalanya masih tertunduk, tapi aku bisa melihat butiran bening yang menetes dari mata indahnya. Sementara itu, aku masih diam membeku.

“Oppa…” Suaranya bergetar. Tapi aku masih tetap membisu sampai pada akhirnya dia melangkah meninggalkanku.

Kau lihatkan betapa bodohnya aku. Ku akui kalau selama ini aku memang tidak memperlakukannya dengan baik. Benar yang Sohee katakan, aku tidak pernah memperkenalkan dia sebagai kekasihku pada orang-orang. Dan dia juga benar saat dia bilang kalau aku bahkan tidak pernah menyapanya dan lebih parahnya adalah aku selalu menghindari pertemuan kami. Kau pasti berpikir kalau aku bukan hanya bodoh tapi juga jahat.

<><><>

Baiklah… aku harus meluruskan semuanya. Aku beranjak dari tempat dudukku.

“Mau kemana hyung?” Tanya Kai.

“Aku pergi dulu. Ada yang harus aku kerjakan.” Tanpa menunggu jawaban dari mereka, aku segera melangkahkan kaki ke keluar dari ruangan yang sudah lebih ramai dari saat kami datang kesini.

<><><>

“Sohee-ssi…” Wajahnya jelas terlihat kaget saat melihatku.

Ia tersenyum tipis. Tapi tunggu, apa itu di sudut matanya? Cairan bening? Apa dia habis menangis? “Oppa?”

“Sohee-ssi, apa kau… apa kau sedang sibuk?”Tanyaku hati-hati.

“Ne?”

“Aku… Ada yang ingin aku bicarakan. Bisa kau ikut denganku sebentar?”

Dia hanya menganggukan kepalanya pelan.

Aku berjalan dengan tangan kanan yang menempel di dada kiriku, merasakan debarannya yang sangat kencang. Sohee mengekor di belakangku. Saat melewati jendela yang cukup lebar aku bisa melihat bayangannya yang sedang berjalan sambil tertunduk.

Aku menghentikan langkahku yang sontak membuat Sohee juga berhenti melangkah. Kami tiba di lorong gedung musik. Tempat terakhir kali kami bicara berdua.

Setelah menghirupoksigen cukup banyak, aku membalikkan badan dan menemukan Sohee sedang berdiri tertunduk disana. “Aku… Aku ingin minta maaf padamu.” Ujarku pada akhirnya.

“Untuk apa Oppa?” Suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

“Untuk semua yang terjadi dulu. Untuk semua kebodohan yang belum sempat aku sesali.” Kau pasti menyumpahiku sebagai pria paling bodoh karena dulu aku memang hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Tidak ada penjelasan, pembelaan, atau sekedar permintaan maaf pun tidak. Baiklah, kalau ada kata yang memiliki arti lebih daripada bodoh, maka seperti itulah aku.

“Sudah Oppa. Sepertinya tidak perlu di bahas lagi.”

“Tidak. Aku tidak mau diam lagi. Aku tidak mau membiarkanmu bersedih karenaku lagi. Aku akan mengakui semuanya.”

Tanganku bergerak meraih dagunya dan mengangkatnya, memintanya untuk menatap lurus ke dalam mataku.

“Sohee-ah… Andai kau tahu berapa lama aku menyiapkan diriuntuk bisa mengatakan semua ini padamu. Kau tahu, aku membutuhkan waktu yang sangat banyak untuk bisa memberanikan diri mengungkapkan perasaanku padamu dulu. Kalau kau meragukannya, aku mohon jangan. Karena itu adalah hal paling jujur yang pernah aku katakan.”

“Jika selama ini sikapku menyakitimu, aku sungguh minta maaf. Semuanya di luar kendaliku. Kau tahu, setiap kali melihatmu, jantungku berdegup puluhan kali, ah tidak, ratusan kali lebih cepat dari biasanya. Itu yang membuatku seringkali menghindar bertemu denganmu.Aku tak berniat mengacuhkanmu. Sungguh. Aku hanya tidak ingin terlihat bodoh karena ketika saat berada di dekatmu otakku tidak bisa berpikir dengan jernih. Kau tahu kenapa? Karena aku terlalu senang bisa berada di dekatmu.”

“Kalau saja kau juga tahu kalau sekarang ini aku sedang sangat berusaha agar tetap berdiri tegap di hadapanmu. Karena melihat wajahmu, menatap matamu, sangat mampu melemahkan diriku. Otakku rasanya kosong seketika aku melihatmu. Aku selalu kebingungan dengan apa yang harus aku lalukan.”

Aku mengambil lengan kanannya lalu menempelkan telapak tangannya di dada kiriku. “Apa kau bisa merasakannya? Apa kau bisa merasakan kalau jantungku sedang berdegup dengan sangat cepat? Tutup matamu, lihat dengan hatimu dan rasakan perasaanku yang sangat tulus untukmu.”

“Saranghae… Jeongmal saranghae Sohee-ah…”

Cairan bening itu menganak sungai di pipinya yang putih. Tapi kali ini berbeda, tangisnya diikuti dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Senyum tipis yang jelas aku tahu artinya. Aku menariknya ke dalam pelukanku.

“Maaf telah membuatmu meneteskan air mata itu selama ini. Aku berjanji akan berubah. Aku akan menjadi apapun yang kau mau selama itu bisa membuatmu bahagia. Saranghae, Han Sohee…”

~END~

Finally…

Buat yang dari kemaren nanya2in Suho… nih aku kasih Suho nya buat kalian…

Semoga memuaskan yaa…

Lagi2… authors ga bosen buat bilang makasih buat yang masih setia nunggu series FF ini… jeongmal gomawoyo… n_n

Dan yang paling penting… di tunggu RCL-nya… Okey…

Salam Authors

99 pemikiran pada “Half of My Heart: Suho

  1. aduhh ho awal”nya agak pabo masa org pacaran malah kucing”an sih ~.~ tapi akhirnya suho berani mengakui perasaanya ke sohee dan itu SWEET ABISS!!! harusnya suho sambil main piano gitu biar kyk di drama Prime Minister and I (?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s